• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Kajian Pustaka

2.2.3 Unsur-unsur Sastra

Karya sastra adalah salah satu kekayaan di bidang seni yang dimiliki oleh setiap negara. Setiap negara memiliki karya sastra yang beranekaragam. Termasuk di Indonesia, karya sastra digemari oleh banyak orang. Prosa, merupakan salah satu genre dalam bidang sastra yang sangat digemari khususnya anak muda.

Karya sastra yang bersifat fiksi merupakan karya yang menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam berbagai interaksinya dengan lingkungan dan sesama interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Khayalan penulis merupakan suatu penghayatan dan perenungan terhadap hakikat hidup dan kehidupan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Karya fiksi dapat memberikan hiburan kepada pembaca dan daya tarik yang mungkin akan memotivasi pembaca untuk belajar, merasakan dan menghayati berbagai permasalahan dalam hidupnya (Nurgiyantoro, 2009: 3).

Unsur pembangun dalam karya fiksi tebagi menjadi dua yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri secara langsung, sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, namun secara tidak langsung

mempengaruhi bangunan atau system organisasi karya sastra (Nurgiyantoro, 2009:23).

Dalam menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Padang Bulan karya Andrea Hirata, tidak semua unsur diperlukan untuk dianalisis. Hal ini dikarenakan tidak semua unsur dapat menghasilkan nilai-nilai karakter yang relevan dengan pembelajaran sastra. Adapun unsur yang diperlukan untuk dianalisis adalah unsur intrinsik dari novel Padang Bulan karya Andrea Hirata yaitu alur, tokoh, penokohan dan tema.

2.2.3.1 Alur

Alur adalah jalan cerita yang disampaikan oleh suatu karya sastra. Alur juga bisa berarti tahapan-tahapan dalam perjalanan sebuah peristiwa yang terjadi. Alur merupakan cerita yang berisi urutan peristiwa, tetapi setiap peristiwa itu dihubungkan secara klausal. Dengan adanya sebuah alur, sebuah karya menjadi jelas tentang kaitannya dari peristiwa satu ke peristiwa lainnya dan memiliki hubungan yang erat antar peristiwa.

Alur sebuah cerita tidak selalu menyajikan urutan peristiwa secara kronologis. Peristiwa awal cerita tidak harus berada di bagian awal melainkan dapat terletak di bagian mana pun. Pengarang memiliki kebebasan kreativitas, ia dapat memanipulasi urutan waktu kejadian sekreatif mungkin, tidak harus bersifat linier kronologis. Dari sinilah kita dapat membedakan alur ke dalam dua kategori yaitu kronologis dan tak kronologis (Nurgiyantoro,2007).

Sudjiman (1992:30) memaparkan alur sebagai berikut: (1) Paparan/ exposition, (2) Rangsangan/ inciting moment, (3) Gawatan/ rising action,

(4) Tikaian/ conflict, (5) Rumitan/ complication, (6) Klimaks/ climax, (7) Leraian/

falling action, (8) Selesaian/ denouement.

Struktur awal yang meliputi paparan, rangsangan dan gawatan. Paparan merupakan fungsi utama sebuah cerita atau keterangan sekadarnya untuk mempermudah pembaca dalam mengikuti kisah selanjutnya. Rangsangan sering ditimbulkan dengan masuknya seorang tokoh baru yang berlaku sebagai katalisator misalnya dengan datangnya berita yang merusak keadaan yang semula selaras. Gawatan lebih merujuk pada tegangan yang dapat menyebabkan pembaca terpancing rasa keingintahuannya dengan kelanjutan cerita dan penyelesaian masalah yang dihadapi oleh tokoh tersebut.

Struktur tengah meliputi tikaian, rumitan, klimaks. Tikaian adalah perselisihan yang timbul sebagai akibat dari sebuah pertentangan yang terjadi. Tikaian merupakan pertentangan antara dirinya dengan kekuatan alam, dengan masyarakat atau tokoh lain. Rumitan mempersiapkan pembaca untuk menerima seluruh dampak dari klimaks. Klimaks adalah muslihat berwujud orang atau barang yang muncul tiba-tiba dan memberikan pemecahan atau jalan keluar atas semua kesulitan atau permasalahan.

Struktur akhir meliputi leraian dan selesaian. Leraian adalah peristiwa yang menunjukan perkembangan kearah selesaian. Sedangkan selesaian adalah bagian akhir dari penutup sebuah cerita. Dalam selesaian mengandung

penyelesaian masalah yang melegakan dan juga mengandung penyelesaian masalah yang menyedihkan.

2.2.3.2 Tokoh

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Individu rekaan itu dapat berupa manusia atau binatang (Sudjiman, 1990:79). Menurut Abrams (1981:20) tokoh adalah orang (-orang) yang ditampilkan dalam sebuah karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita, tokoh dibedakan menjadi tokoh utama (sentral) dan tokoh tambahan (periferal) (Nurgiyantoro, 2007:176).

a. Tokoh Utama (sentral)

Tokoh yang diutamakan dalam pencitraannya atau tokoh yang paling banyak di ceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Selain itu juga selalu berhubungan dengan tokoh lain, ia selalu hadir sebagai pelaku atau yang dikenai kejadian dan konflik.

b. Tokoh Tambahan (periferal)

Tokoh yang kemunculan dalam suatu cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya keterkaitan dengan tokoh utama secara langsung maupun tidak langsung. Tokoh tambahan dalam suatu cerita sangat diperlukan kehadirannya untuk mendukung tokoh utama.

Adapun teknik yang digunakan pengarang untuk menggambarkan sifat pada tokoh. Altenbernd & Lewis (Burhan, 2009:194) menyebutnya dengan teknik ekspositori dan teknik dramatik.

a. Teknik Ekspositori

Teknik ekspositori biasa juga disebut dengan teknik analitik adalah pelukisan tokoh cerita yang dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Pengarang menghadirkan tokoh secara langsung atau tidak berbelit-belit dengan disertai deskripsi berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku atau bahkan ciri-ciri fisiknya (Burhan, 2009:194).

b. Teknik Dramatik

Teknik dramatik ini dalam penggamabaran tokohnya, pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Akan tetapi pengarang membiarkan para tokoh cerita menunjukan kediriannya sendiri melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan baik secara verbal atau kata-kata maupun non verbal.atau tindakan dan tingkah laku (Burhan, 2009:198).

2.2.3.3 Penokohan

Sudjiman (1992:23) penokohan merupakan penyajian watak tokoh dan penciptaan cerita tokoh. Jones dalam Nurgiyantoro (2007:165) mengemukakan penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Waluyo (1994: 164-165) mengemukakan penokohan dan perwatakan mempunyai hubungan yang erat. Penokohan berhubungan dengan cara pengarang memilih dan menentukan tokok-tokohnya, perawatakan berhubungan dengan karakteristik/ watak dari tokoh-tokohnya dalam cerita.

Istilah penokohan lebih luas pengertiannya dari tokoh dan perwatakan sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2007:166).

Ada beberapa metode penokohan. Pertama menurut Hudson dalam Sugihastuti dan Suharto (2010:50), yaitu metode analitik atau metode langsung. Pengarang melalui narator memaparkan sifat-sifat, hasrat, pikiran dan perasaan tokoh. Kedua menurut Panuti Sudjiman dalam Sugihastuti dan Suharto (2010:51), yaitu metode tidak langsung yang disebut juga metode ragaan atau metode dramatik. Watak tokoh dapat disimpulkan pembaca dari pikiran, cakapan dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang narator. Ketiga menurut Kenney dalam Sugihastuti dan Suharto (2010:51), yaitu metode konstektual. Melalui

metode ini watak tokoh dapat disimpulkan dari bahasa yang digunakan narator mengacu pada tokoh cerita.

2.2.3.4 Tema

Tema adalah dasar atau gagasan umum dalam sebuah novel. Gagasan dasar umum yang ditentukan sebelumnnya oleh pengarang yang dipergunakan pengarang untuk mengembangkan sebuah cerita. Dengan kata lain cerita akan

“setia” mengikuti gagasan umum yang telah diterapkan sebelumnya sehingga

berbagai peristiwa, konflik, pelataran, dan penyudutpandangan diusahakan mencerminkan gagasan dasar umum tersebut (Nurgiyantoro, 2009:70).

Dokumen terkait