BAB II. LANDASAN TEORI
4. Remaja dan Penggunaan Instagram
Remaja menggunakan media sosial sebagai fasilitas untuk menjaga hubungan dengan teman, mengetahui apa yang sedang terjadi diantara hubungan pertemanan, mengikuti norma, dan membangun rasa kebersamaan (Boudreau, 2007 dalam Chua & Chang, 2016). Remaja biasanya menggunakan Instagram untuk ekspresi diri dan pengawasan terhadap teman sebaya (Sheldon & Bryant, 2016), selain itu melihat unggahan dari individu lain dianggap sebagai motivasi utama menggunakan Instagram sehingga perbandingan sosial menjadi hal yang biasa (Lee dkk., 2015).
Instagram sebagai salah satu media sosial juga memberikan tiga kelebihan yang memfasilitasi perbandingan sosial. Pertama, media sosial memberikan informasi sosial melalui presentasi dan promosi diri terutama melalui konten swafoto ketika individu ingin memberikan hasil yang terbaik (Van Dijck, 2013). Kedua, remaja menerima informasi sosial secara terus-menerus baik dari teman sebaya maupun selebriti. Remaja akan menerima informasi tersebut selama mereka memiliki gawai, laptop, atau komputer dan terhubung dengan internet. Ketiga, konten yang diunggah ke media sosial telah dipersonalisasi sesuai keinginan pengguna sehingga remaja menerima hal tersebut sebagai sesuatu yang lebih nyata (Perloff, 2014).
28
Hubungan Perbandingan Sosial di Instagram dengan Ketidakpuasan Tubuh Pada Remaja
Pada masa remaja, individu akan mengalami perkembangan fisik yang diawali dengan pubertas. Selama mengalami perkembangan tersebut, remaja akan mengalami kematangan fisik yang cepat dan perubahan hormonal (Santrock, 2011). Perubahan bentuk tubuh pada masa remaja membuat mereka semakin jauh dari tubuh ideal (Burgess, 2006). Perubahan penampilan akan membuat remaja berbeda dengan teman-temannya sehingga remaja lebih nyaman bersama dengan teman yang memiliki tahap perkembangan fisik yang sama (Stattin & Magnusson, 1990 dalam Berk, 2014).
Remaja memiliki kebutuhan untuk diakui dan diterima oleh teman sebaya, maka dari itu untuk memenuhi kebutuhan tersebut, mereka melakukan perbandingan sosial sehingga remaja tahu seberapa baik diri mereka (Santrock, 2013). Perbandingan yang dilakukan terhadap teman sebaya akan memberikan informasi yang lebih akurat karena standar yang lebih dapat dicapai (Festinger, 1954; Tatangelo & Ricciardelli, 2015). Remaja dapat melakukan perbandingan sosial di media sosial (Chua & Chang, 2016). Perbandingan sosial memiliki dua dimensi yaitu pendapat (opinion) dan kemampuan (ability).
Pada dimensi pendapat, individu fokus untuk mengumpulkan informasi agar dapat belajar tentang konteks dan diri sendiri (Suls, 2002 dalam Yang, 2018). Individu akan memperhatikan persamaan dan perbedaan sikap, keyakinan, dan nilai antara individu dengan target perbandingan (Festinger, 1954). Remaja yang melakukan perbandingan sosial di media sosial akan
melihat unggahan teman sebaya berupa foto atau video yang sudah disunting (editing) sehingga menampilan diri dalam versi terbaik sebagai bentuk presentasi diri (Al-Kandari dkk., 2016). Foto atau video yang diunggah di Instagram sering berhubungan dengan penampilan sehingga dapat menjadi standar ideal maupun target perbandingan (Hendrickse dkk., 2017), dalam hal ini remaja perempuan dan laki-laki memilih teman sebaya mereka sebagai target perbandingan (Jones, 2001). Melalui unggahan tersebut remaja akan menerima informasi sosial dari presentasi dan promosi diri dari teman sebaya (Van Dijck, 2013) sehingga remaja juga akan menerima internalisasi tubuh ideal (Grogan, 2017). Internalisasi mengacu pada sejauh mana individu dalam hal ini remaja menerima cita-cita daya tarik lalu memasukkan standar ini pada kepercayaannya (Thompson & Stice, 2001), karena dalam dimensi pendapat individu memandang target perbandingan sebagai informan, konsultan, dan panutan (Park & Baek, 2018). Remaja yang memiliki celah antara gambaran tubuh ideal dengan tubuhnya sendiri akan mengalami ketidakpuasan tubuh (Grogan, 2017).
Pada dimensi kemampuan, individu akan melihat apakah kemampuan atau pencapaiannya lebih baik atau lebih buruk sehingga individu melihat target sebagai kompetitor (Festinger, 1954), dapat dikatakan juga bahwa dimensi ini fokus pada penilaian. Salah satu bentuk penilaian ketika perbandingan sosial terjadi di media sosial adalah daya tarik fisik (Chua & Chang, 2016). Remaja yang telah menerima informasi sosial berupa internalisasi tubuh ideal dan cita-cita daya tarik akan berkomitmen untuk melakukan perilaku-perilaku untuk
30
mencapai cita-cita ideal tersebut (Thompson & Stice, 2001), seperti melakukan diet dan olahraga (Grogan, 2017) atau dalam hal ini remaja dapat menyunting (editing) foto agar remaja menjadi sama dengan tubuh ideal yang diinginkan (Chua & Chang, 2016). Remaja yang tidak dapat memenuhi cita-cita tubuh ideal tersebut akan mengalami ketidakpuasan tubuh karena terdapat celah antara diri sendiri dan tubuh ideal (Grogan, 2017).
Perbandingan sosial yang dilakukan terbukti dapat membentuk persepsi remaja tentang body image (Krayer dkk., 2008). Perbandingan sosial pada media sosial sangat menonjol bagi remaja karena terdapat gambar-gambar yang diunggah oleh teman sebaya (Ho dkk., 2016; Perloff, 2014) terutama Instagram sebagai media sosial yang mengedepankan fitur foto dan video. Perbandingan sosial yang dilakukan dapat memberikan beberapa dampak buruk seperti remaja akan merasa tidak berharga dan merasa dirinya lebih buruk dari teman sebaya (Chua & Chang, 2016). Pikiran serta perasaan negatif terhadap tubuhnya yang disebut sebagai ketidakpuasan tubuh (Grogan, 2017).
Berdasarkan pemaparan di atas remaja melakukan perbandingan sosial di Instagram karena Instagram memberikan sarana bagi internalisasi tubuh ideal.
Remaja dapat melihat unggahan dari teman sebaya selama mereka memiliki gawai dan terhubung dengan internet, remaja akan menerima informasi sosial dari presentasi diri dan promosi diri dari teman sebayanya (Van Dijck, 2013).
Remaja akan menerima informasi tersebut dan menganggap unggahan dari teman sebaya sebagai sesuatu yang nyata (Perloff, 2014). Remaja akan mulai membandingkan tubuhnya dengan teman sebaya yang dianggap memiliki tubuh
ideal. Jika terdapat celah antara keduanya maka perbandingan tersebut akan menyebabkan ketidakpuasan tubuh. Peneliti berasumsi bahwa semakin sering remaja melakukan perbandingan sosial di Instagram maka ketidakpuasan tubuh remaja akan semakin meningkat, sehingga peneliti tertarik mengukur kedua hubungan tersebut.
32
Hipotesis dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan positif dan signifikan antara perbandingan sosial di Instagram dan ketidakpuasan tubuh pada remaja. Semakin tinggi perbandingan sosial di Instagram maka semakin tinggi ketidakpuasan tubuh pada remaja.
Perbandingan Sosial di Instagram
• Remaja mendapatkan informasi dari unggahan teman sebaya sehingga mereka mengalami internalisasi tubuh ideal dan menentukannya sebagai target perbandingan (dimensi pendapat).
• Remaja berusaha mencapai cita-cita tubuh ideal agar menjadi sama dengan teman sebaya sebagai target perbandingan dengan cara-cara tertentu seperti diet, olahraga, bahkan melakukan editing pada foto mereka supaya terlihat lebih baik (dimensi kemampuan).
• Remaja tidak dapat mencapai cita-cita tubuh ideal.
• Remaja memiliki pikiran yang negatif terhadap tubuhnya.
• Remaja memiliki jarak antara tubuh ideal yang diinginkan dengan tubuh yang dimiliki saat ini.
• Remaja tidak puas dengan tubuhnya sendiri.
Ketidakpuasan Tubuh
33 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian mengenai hubungan perbandingan sosial dengan ketidakpuasan tubuh pada remaja termasuk dalam jenis penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah metode yang menguji teori secara objektif dengan cara meneliti hubungan antara variable-variabel (Supratiknya, 2015). Penelitian ini menggunakan desain survei yang menyediakan data berupa angka atau kuantitaif tentang tren, sikap, pendapat dari populasi melalui sampel populasi tersebut (Creswell, 2014).
Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas
Variabel bebas adalah karakteristik atau atribut individu atau kelompok yang menyebabkan atau memengaruhi hasil (Creswell, 2014). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah perbandingan sosial.
2. Variabel Tergantung
Variabel tergantung adalah karakteristik atau atribut individu atau kelompok sebagai dampak dari pengaruh variabel bebas (Creswell, 2014). Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah ketidakpuasan tubuh.
34
Definisi Operasional 1. Perbandingan Sosial
Perbandingan sosial adalah perilaku individu yang membandingkan dirinya dengan individu yang serupa agar memperoleh informasi yang akurat, perilaku tersebut terbentuk dari dorongan untuk mengevaluasi dan memahami dirinya dalam hal kemampuan dan pendapat. Individu melakukan perbandingan sosial untuk mendapat informasi tentang diri mereka. Perbandingan sosial terdiri dari dua dimensi yaitu kemampuan (ability) dan pendapat (opinion). Perbandingan sosial dalam penelitian ini diukur dengan skala Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure yang diadaptasi dari Gibbons dan Buunk (1999).
2. Ketidakpuasan tubuh
Ketidakpuasan tubuh merupakan pikiran negatif individu tentang tubuh mereka karena terdapat jarak antara tubuh ideal dengan tubuh mereka sendiri (Grogan, 2017). Ketidakpuasan tubuh juga didefinisikan sebagai perbedaan antara gambaran ideal dan persepsi atas tubuh yang disertai dengan perasaan gemuk. Ketidakpuasan tubuh terdiri dari empat dimensi yaitu persepsi diri tentang bentuk tubuh (self-perception of body shape), perbandingan persepsi tentang citra tubuh (comparative perception of body image), sikap tentang perubahan citra tubuh (attitude concerning body image alteration), dan perubahan dalam persepsi tubuh (severe alteration in body perception). Ketidakpuasan tubuh akan
diukur dengan skala Body Shape Questionnaire yang diadaptasi dari Cooper dkk. (1987).
Responden Penelitian
Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah non-probability sampling karena setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan yang sama sebagai sampel. Pemilihan responden dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik ini dilakukan dengan cara menentukan responden sebagai sampel penelitian berdasarkan kriteria-kriteria tertentu (Siregar, 2013). Responden penelitian ini adalah remaja laki-laki dan perempuan berumur 13 sampai 18 tahun yang memiliki dan menggunakan Instagram.
Metode dan Alat Pengumpulan Data 1. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyebaran skala yang disusun menggunakan Google Forms.
Skala yang telah disusun akan disebar secara online melalui link kepada partisipan melalui media sosial yaitu Line, Whatsapp, dan Instagram.
Jenis skala yang digunakan adalah skala Likert. Skala Likert adalah metode skala yang meminta responden untuk menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuannya dalam sebuah pilihan jawaban yang bersifat kontinum (Supratiknya, 2014).
36
2. Alat Pengumpulan Data
Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure
Variabel perbandingan sosial diukur menggunakan skala yang disusun oleh Gibbons dan Buunk (1999) yaitu Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure. Skala tersebut memiliki dua dimensi yaitu kemampuan (ability) dan pendapat (opinion).
Berdasarkan dua item tersebut, skala ini dikembangkan menjadi sebelas item yang terdiri dari sembilan item favorable dan dua item unfavorable. Distribusi item pada skala Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1
Distribusi Item Skala Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure Sebelum Uji Coba
Skala Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure memiliki lima alternatif jawaban pada setiap item yaitu Sangat Tidak Setuju, Tidak Setuju, Netral, Setuju, dan Sangat Setuju. Setiap alternatif jawaban memiliki skor yang akan dijumlahkan. Skor
jawaban pada skala Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure akan dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 2
Penskoran Jawaban Skala Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure
Jawaban
Skor
Favorable Unfavorable
Sangat Tidak Setuju 1 5
Tidak Setuju 2 4
Netral 3 3
Setuju 4 2
Sangat Setuju 5 1
Berdasarkan pemaparan skor jawaban di atas, skor tertinggi yang dapat diperoleh sebesar 55 maka semakin tinggi skor yang diperoleh individu semakin sering individu melakukan perbandingan sosial (Gibbons & Buunk, 1999). Pada penulisan skala di Google Forms peneliti menambahkan pengantar yang mengatakan bahwa item-item pada skala ini menggambarkan perilaku yang dilakukan selama menggunakan Instagram.
Body Shape Questionnaire
Variabel ketidapuasan tubuh diukur menggunakan skala yang disusun oleh Cooper dkk. (1987) yaitu Body Shape Questionnaire.
Skala ini memiliki empat dimensi yaitu persepsi diri tentang bentuk tubuh (self-perception of body shape), perbandingan persepsi tentang citra tubuh (comparative perception of body image), sikap
38
tentang perubahan citra tubuh (attitude concerning body image alteration), dan perubahan dalam persepsi tubuh (severe alteration in body perception). Berdasarkan empat item tersebut, skala ini dikembangkan menjadi 34 item favorable. Distribusi item pada skala Body Shape Questionnaire dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3
Distribusi Item Skala Body Shape Questionnaire Sebelum Uji Coba
Dimensi Sebaran Item Jumlah Item
Self-Perception
Skala Body Shape Questionnaire ini memiliki enam alternatif jawaban yaitu Tidak Pernah, Jarang, Kadang-kadang, Sering, Sangat Sering, dan Selalu. Setiap jawaban memiliki skor yang akan
dijumlahkan. Skor jawaban pada skala Body Shape Questionnaire akan dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 4
Penskoran Jawaban Skala Body Shape Questionnaire
Jawaban Skor
Tidak Pernah 1
Jarang 2
Kadang-kadang 3
Sering 4
Sangat Sering 5
Selalu 6
Berdasarkan pemaparan skor setiap jawaban, skor tertinggi yang dapat diperoleh sebesar 204 sehingga semakin tinggi skor yang diperoleh semakin menggambarkan bahwa partisipan merasa tidak puas dengan tubuhnya. Pada penyusunan skala di Google Forms, peneliti menambahkan pengantar yang meminta responden untuk menjawab item-item pada skala ini sesuai dengan perasaan responden terhadap tubuhnya selama empat minggu terakhir.
Validitas dan Reliabilitas Alat ukur 1. Validitas
Validitas merupakan taraf yang menunjukkan sejauh mana sebuah tes mampu mengukur atribut psikologis yang akan diukur (Supratiknya, 2014). Sugiyono (2018) juga menyatakan hal yang sama bahwa validitas berarti sebuah instrumen mengukur apa yang seharusnya diukur. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan validitas agar skala yang
40
digunakan melalui proses penerjemahan yang tepat melalui proses back-translation. Peneliti meminta izin untuk mengadaptasi skala Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure melalui surat elektronik sedangkan untuk skala Body Shape Questionnaire peneliti tidak dapat menghubungi penyusun skala karena tidak tertera alamat surat elektronik, akan tetapi Wade (2016) yang membahas mengenai skala tersebut mengatakan bahwa pada jurnal asli item-item sudah dicantumkan sehingga dapat digunakan secara bebas.
Kedua skala dalam penelitian ini melalui proses back-translation yang dilakukan oleh dua orang yang ahli di bidang Bahasa Inggris yaitu sarjana Sastra Inggris dan sarjana Pendidikan Bahasa Inggris.
Penerjemah pertama menerjemahkan skala dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia kemudian penerjemah kedua menerjemahkan kembali ke dalam Bahasa Inggris tanpa melihat skala asli. Langkah selanjutnya, peneliti bersama dosen pembimbing memeriksa kesesuaian item dengan memeriksa item asli dengan terjemahan Bahasa Indonesia yang telah diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris.
2. Kualitas Item
Kedua skala yang sudah melalui tahap adaptasi kemudian diujicobakan kepada 100 remaja pengguna Instagram yang berusia 13-18 tahun. Uji coba dilaksanakan pada tanggal 3 Maret 2020 hingga 6 Maret 2020. Pengukuran kualitas item pada kedua skala diolah dengan
menggunakan SPSS for Windows versi 23.0. Sebuah item yang baik memiliki nilai rit ≥ 0.20 (Supratiknya, 2015).
Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure
Pada skala Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure memiliki sebelas item dan seluruh item memiliki nilai rit ≥ 0.20 sehingga seluruh item dapat dikatakan sebagai item yang baik.
Body Shape Questionnaire
Pada Body Shape Questionnaire memiliki 34 item dan seluruh item memiliki nilai rit ≥ 0.20 maka dapat dikatakan sebagai item yang baik.
3. Daya Beda Skala
Pengukuran daya beda skala dilakukan menggunakan rumus perhitungan koefisien delta Ferguson (Klein, 1986 dalam Supratiknya, 2015). Skala yang memiliki daya diskriminasi yang baik memiliki koefisien delta Ferguson ≥ 0.90.
Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure Skala Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure memiliki nilai koefisien delta Ferguson sebesar 0.96.
Body Shape Questionnaire
Skala Body Shape Questionnaire memiliki nilai koefisien delta Ferguson sebesar 0.99.
42
4. Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui konsistensi hasil pengukuran ketika pengujian dilakukan beberapa kali dengan konteks dan alat ukur yang sama (Siregar, 2013). Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang memiliki skor reliabilitas tinggi (Supratiknya, 2014). Pada penelitian ini, reliabilitas dilihat menggunakan koefisien Alpha’s Cronbach. Koefisien minimum yang dipandang memuaskan sebesar 0.70, jika kurang dari 0.70 maka alat ukur dipandang kurang memadai atau inkonsisten sehingga interpretasi skor menjadi diragukan (Supratiknya, 2014).
Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure
Reliabilitas Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure pada sampel original sebesar 0.83 (Gibbons & Buunk, 1999). Setelah dilakukan uji coba dan dilakukan perhitungan menggunakan SPSS for Windows versi 23.0, skala Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure memiliki nilai Alpha’s Cronbach sebesar 0.717. Nilai reliabilitas tersebut menunjukkan bahwa skala ini reliabel dalam mengukur atribut perbandingan sosial.
Body Shape Questionnaire
Pada penelitian Conti dkk. (2009) yang menggunakan skala Body Shape Questionnaire pada remaja laki-laki dan perempuan memiliki nilai Alpha’s Cronbach sebesar 0.96. Berdasarkan
perhitungan menggunakan SPSS for Windows versi 23.0, pada skala Body Shape Questionnaire memiliki nilai Alpha’s Cronbach sebesar 0.970. Nilai reliabilitas tersebut menunjukkan bahwa skala ini reliabel dalam mengukur atribut ketidakpuasan tubuh.
Pengumpulan Data secara Online melalui Google Form
Pada penelitian ini melakukan uji coba serta pengambilan data secara online melalui Google Form. Google Form merupakan situs untuk melakukan survei milik Google. Pengambilan data dengan cara ini dipilih oleh peneliti karena memiliki keunggulan dan alasan tertentu. Kelebihan dari pengambilan data secara online menurut Evans dan Mathur (2018) antara lain kemudahan untuk mencapai responden untuk mengisi survei, fleksibel, kecepatan dalam mengumpulkan data, responden mudah mengisi survei karena terhubung dengan jaringan internet, peneliti mudah mengumpulkan data dan melakukan analisis. Selain kemudahan yang telah disebutkan, peneliti memiliki alasan lain yaitu pada periode pengambilan data sedang terjadi penyebaran virus Corona sehingga individu tidak disarankan untuk bertemu secara langsung. Maka dari itu, pengambilan data secara online adalah pilihan yang tepat.
Kraut dkk. (2004) mengatakan bahwa pengambilan data secara online memiliki beberapa kelemahan seperti validitas internal yang rendah, peneliti tidak dapat mengatur kondisi lingkungan saat partisipan mengisi survei, privasi partisipan, item dalam skala yang menyebabkan munculnya pengalaman tidak menyenangkan bagi partisipan. Peneliti mengupayakan
44
beberapa cara untuk mengantisipasi kelemahan tersebut. Pertama, peneliti membuat tampilan survei yang sederhana agar mudah untuk dipahami.
Kedua, peneliti menyediakan informed consent yang harus disetujui oleh partisipan sehingga dengan persetujuan tersebut partisipan telah memahami dan menyetujui untuk mengisi skala yang telah disediakan secara sadar dan tanpa tekanan. Selain itu, bagi partipisan yang merasa tertekan selama mengisi skala dipersilakan untuk tidak menyelesaikan skala. Pada informed consent juga dijelaskan bahwa data serta jawaban partisipan akan dirahasiakan. Ketiga, setelah menyetujui informed consent partisipan diminta untuk mengisi indentitas seperti nama, jenis kelamin, dan usia.
Peneliti juga mengadakan undian berupa saldo Go-pay bagi 10 partisipan yang beruntung bagi partisipan yang bersedia mengisi nomor handphone pada kolom yang tersedia. Keempat, dalam proses pengisian skala tersebut partisipan juga akan membaca manfaat atau pesan yang dapat diambil setelah mengisi skala tersebut sebagai bentuk debrief. Kelima, setelah partisipan selesai mengisi skala maka partisipan akan menekan tombol submit yang menyatakan bahwa partisipan mengirim hasil skala kepada peneliti. Keenam, identitas dan jawaban partisipan yang telah terkumpul akan diunduh dalam format yang telah disediakan oleh Google Form lalu disimpan dalam komputer pribadi peneliti.
Metode Analisis Data 1. Uji Asumsi
Uji Normalitas
Uji Normalitas digunakan untuk mengetahui apakah daya penelitian berasal dari populasi dengan sebaran yang normal (Santoso, 2010). Pada penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov yang terdapat pada SPSS for Windows versi 23.0. Data yang memiliki taraf signifikansi lebih dari 0.05 (p > 0.05) dapat dikatakan terdistribusi normal (Santoso, 2010).
Uji Linearitas
Uji Linearitas adalah uji asumsi untuk mengetahui hubungan antar variabel yang dianalisis berdasarkan sebuah garis lurus atau linear. Jika mengikuti garis lurus maka peningkatan atau penurunan sebuah variabel akan diikuti peningkatan atau penurunan variabel lain (Santoso, 2010). Pada penelitian ini uji linearitas dilakukan dengan menggunakan Test of Linearity pada SPSS 23. Data dengan nilai signifikansi kurang dari sama dengan 0.05 (≤ 0.05) dapat dikatakan memiliki hubungan yang linear.
2. Uji Hipotesis
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan perbandingan sosial di Instagram dan ketidakpuasan tubuh pada remaja, maka data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan metode
46
korelasi. Analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui kekuatan hubungan antara dua variabel, arah, dan signifikansi hubungan. Jika data memenuhi syarat uji normalitas dan lineartias, maka uji hipotesis yang digunakan adalah analisis korelasi Pearson akan tetapi, jika data tidak memenuhi syarat uji normalitas dan linearitas maka data akan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman’s Rho. Jika nilai signifikansi < 0.05 maka Ho ditolak dan Hi diterima yang berarti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel. Nilai koefisien korelasi mulai dari 0 hingga 1 atau 0 hingga -1. Jika nilai koefisien korelasi mendekati 1 maka hubungan antara kedua variabel semakin kuat (Gunawan, 2016).
Menurut Siregar (2013), tingkat kekuatan hubungan dua variabel dikategorikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 5
Tingkat Korelasi dan Kekuatan Hubungan
No. Nilai Korelasi (r) Tingkat Hubungan
1. 0.00 – 0.199 Sangat Lemah
2. 0.20 – 0.399 Lemah
3. 0.40 – 0.599 Cukup
4. 0.60 – 0.799 Kuat
5. 0.80 – 1.00 Sangat Kuat
47 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan Penelitian
Pengumpulan data pada penelitian ini dimulai sejak 21 Maret 2020 hingga 29 Maret 2020. Peneliti mengumpulkan data menggunakan Google Form dan menyebarkan dengan cara menyebarkan link Google Form tersebut melalui jejaring sosial dan media sosial. Terdapat 460 responden yang berpartisipasi pada penelitian ini.
Deskripsi Responden Penelitian
Responden dalam penelitian ini berjumlah 460 orang. Kriteria responden merupakan remaja usia 13-18 tahun yang mempunyai dan menggunakan Instagram. Berikut merupakan deskripsi responden yaitu persentase usia dan jenis kelamin responden penelitian.
Tabel 6
Persentase Responden Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Persentase
13 22 5%
14 37 8%
15 70 15%
16 80 17%
17 101 22%
18 150 33%
Total 460 100%
48
Tabel 7
Persentase Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Usia Jumlah Presentase
Perempuan 322 70%
Laki-laki 138 30%
Total 460 100%
Deskripsi Data Penelitian
Pada penelitian ini akan dilihat perbedaan mean teoretik dan mean empiris dari data yang telah diperoleh. Mean empiris merupakan nilai skor rata-rata dari skor yang dimiliki oleh responden penelitian sedangkan mean teoritik merupakan hasil perhitungan skor terendah dan tertinggi yang dari sebuah skala.
Cara menghitung mean teoretik sebagi berikut:
MT = (skor terendah × jumlah item) + (skor tertinggi × jumlah item) 2
Berdasarkan cara perhitungan tersebut, maka mean teoretik pada kedua skala adalah sebagai berikut:
Berdasarkan cara perhitungan tersebut, maka mean teoretik pada kedua skala adalah sebagai berikut: