• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

D. Remaja dan Tugas Perkembangannya

Manusia selalu mengalami perubahan, baik itu perubahan yang bersifat fisik (bentuk tubuh) maupun yang bersifat nonfisik (sifat dan tingkah laku). Masa remaja merupakan masa yang pasti dialami oleh setiap orang. Pada masa ini, pola pikir kita mengalami peralihan dari pola pikir yang masih bersifat kekanak-kanakan menjadi pola pikir yang lebih dewasa. Setelah melewati masa remaja maka setiap orang akan memasuki sebuah tahapan atau fase yag disebut dengan fase pendewasaan. Di dalam fase ini manusia mengalami perubahan pola pikir menjadi lebih matang secara bertahap.

Pada masa remaja biasanya setiap individu masih bingung dalam menentukan siapa sebenarnya dia (tahap pencarian jati diri) dalam artian masih mencari apa yang harus ia lakukan dalam kehidupannya. Pada masa inilah diperlukan penanaman nilai-nilai norma yang berlaku agar pada waktu menjalani fase pendewasaan tidak terjerumus kedalam jurang kesalahan yang dalam. Pada masa awal remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih sangat penting. Tetapi lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas menjadi sama dengan teman-temannya dalam segala hal. Salah satu cara untuk mencoba menunjukkan diri sebagai individu adalah dengan menggunakan simbol status dalam bentuk mobil, pakaian, dan pemilikan barang yang mudah terlihat. (Hurlock, 1980: 208)

34

Hurlock (1980: 206) menjelaskan bahwa adolescence (remaja) berasal dari kata Latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence seperti yang digunakan saat ini, mempunyai arti yang lebih luas mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini diungkakan oleh Piaget (dalam Hurlock 1980: 206) dengan mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah usia di mana individu berinteraksi dengan masyarakat dewasa, usia di mana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, lebih kurang berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.

Hurlock juga mengatakan bahwa konformitas atau penyesuaian terhadap standar budaya kawula muda mempunyai dua efek yang serius dan mendasar. Pertama, konformitas menyebaban alienasi (keterasingan) dan protes terhadap budaya dewasa dan kedua, konformitas merupakan persiapan yang buruk untuk memasuki masyarakat dewasa yang ditandai oleh nilai-nilai dewasa. Para remaja harus mengikuti standar kawula muda bila ingin diterima oleh kelompok sebayanya harus mempelajari standar perilaku dan nilai-nilai yang nantinya harus diubah sebelum mereka

35

diterima oleh budaya dewasa. Misalnya, gaya pakaian (distro) dan tata rambut yang tidak rapih, yang didukung standar budaya kawula muda saat ini tidak diterima oleh budaya dewasa dan harus dubah secara drastis kalau remaja, dalam menyongsong kematangan secara hukum, ingin menjadi bagian dari budaya orang dewasa.

Sepanjang usia remaja, penyesuaian diri dengan kelompok adalah jauh lebih penting bagi anak yang lebih besar daripada individualitas. Seperti telah ditunjukkan, dalam hal berpakaian (distro), berbicara dan berperilaku. Pada awal tahun masa remaja, penyesuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat laun mereka mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan keadaan mereka pada masa kanak-kanak yang lalu. Salah satu cara untuk mencoba mengangkat diri sendiri sebagai individu adalah dengan menggunakan simbol status seperti dalam pemakaian produk-produk

distro dan pemakaian barang-barang lain yang unik dan mudah terlihat.

Dengan cara ini remaja menarik perhatian pada orang lain agar dipandang sebagai individu yang berbeda.

2. Tugas Perkembangan Remaja a. Pengertian Tugas Perkembangan

Tugas perkembangan adalah berbagai ciri perkembangan yang diharapkan timbul dan dimiliki setiap individu pada setiap masa dalam periode perkembangan (Desmita, 2009: 25). Tugas perkembangan

36

diartikan sebagai suatu tantangan yang berupa aneka tugas yang dihadapi oleh individu pada masa tertentu dalam hidupnya (Winkel dan Hastuti, 2004: 226). Menurut Herdian dan Siska (1999: 60) tugas perkembangan adalah hal-hal yang harus dipenuhi dan dilakukan oleh individu sesuai dengan harapan sosial masyarakat.

Mubin dan Cahyadi (2006: 34) berpendapat bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang harus dilakukan, dipecahkan, dan diselesaikan oleh setiap individu dalam tahap-tahap perkembangannya agar individu tersebut menjadi bahagia. Sedangkan Havighurst (dalam Yusuf dan Juntika, 2010: 196) berpendapat bahwa tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam tentang kehidupan individu. Apabila berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas perkembangan berikutnya. Tugas perkembangan yang tidak dapat diselesaikan dengan baik akan menimbulkan dampak negatif. Menurut Ali dan Asrori (2005: 164) ada tiga macam dampak negatif yang menjadi penghambat penyelesaian perkembangan, yaitu:

1) Harapan-harapan yang kurang tepat. Individu maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku di luar kemampuan fisik maupun psikologinya.

2) Melangkahi tahap-tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat dari kegagalan menguasai tugas-tugas tersebut.

37

3) Adanya krisis yang dialami individu karena melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lainnya.

Yusuf dan Juntika (2010: 196) mengungkapkan apabila seorang individu gagal menuntaskan tugas perkembangannya, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas perkembangan berikutnya.

b. Tujuan Tugas Perkembangan

Hurlock (1980: 9) menjelaskan bahwa ada tiga tujuan tugas perkembangan, yaitu:

1) Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka ada usia-usia tertentu. Misalnya orang tua mengajari anak untuk bergabung dalam suatu kelompok belajar atau organisasi di sekitar tempat tinggalnya.

2) Memberi motivasi pada individu untuk melakukan apa yang diharapan dari mereka oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang hidup mereka.

3) Untuk menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapakn dari mereka pada tingkat perkembangan berikutnya.

38

c. Tugas-tugas Perkembangan Remaja

Havighurst mengemukakan sepuluh tugas perembangan remaja dalam bukunya yang berjudul “Human Development and Education”. Tugas-tugas perkembangan tersebut yaitu:

1) Mencapai hubungan yang baru dan lebih matang dengan teman sebaya dari dua enis elamin. Kegagalan dalam menyelesaikan tugas perkembangan ini akan menyebabkan remaja tidak bisa bekerja sama dengan orang lain dan remaja tersebut mengalami ketergantungan (Havighurst, 1953: 113).

2) Mencapai peran sosial sebagai laki-laki atau perempuan. Tujuan dari tugas perkembangan ini yaitu supaya menerima dan mempelajari peranan sosial sebagai laki-laki dan perempuan (Havighurst, 1953: 115).

3) Menerima tubuhnya sendiri dan menggunakannya secara efektif. Tujuan dari tugas perkembangan remaja ini yaitu supaya remaja menjadi bangga atau paling tidak menghargai tubuhnya. Selain itu agar ia menggunakan dan melindungi tubuhnya secara efektif (Havighurst, 1953: 120).

4) Mencapai kebebasan emosional dari orang tua atau orang dewasa lainnya. Tujuan dari tugas perkembangan ini yaitu supaya remaja bebas dari perasaan tergantung dari orang tua, mampu mengembangkan perasaan cinta kasih pada orang tua, dan mampu

39

mengembangkan rasa hormat terhadap orang dewasa lainnya (Havighurst, 1953: 123).

5) Memperoleh jaminan kebebasan ekonomi. Tujuan tugas perkembangan remaja ini yaitu membentuk kemauan pada diri remaja untuk bekerja atau mencari nafkah (Havighurst, 1953: 127).

6) Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan. Tujuan dari tugas perkembangan ini supaya remaja memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan mampu mempersiapkan pekerjaan tersebut (Havighurst, 1953: 128).

7) Mempersiapkan diri untuk perkawinan dan kehidupan berkeluarga. Tujuan dari tugas perkembangan ini adalah mengembangan sikap positif terhadap kehidupan berkeluarga dan memiliki anak. Tujuan yang kedua adalah supaya remaja memperoleh pengetahuan yang diperlukan untuk mengatur rumah tangga dan membesarkan anak (Havighurst, 1953: 133).

8) Mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep-onsep yang diperlukan sebagai seorang warga negara yang kompeten. Tujuan yang pertama supaya remaja mampu mengembangkan pengertian tentang hukum, pemerintahan, politik, ekonomi, ilmu bumi, hakikat manusia, dan lembaga-lembaga sosial yang diperlukan dalam dunia modern. Tujuan yang kedua supaya remaja mampu mengembangkan kecakapan bahasa dan kemampuan berpikir untuk

40

memecahkan masalah demorkrasi modern secara efektif (Havighurst, 1953: 136).

9) Menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab. Tujuan dari tugas perkembangan remaja ini supaya remaja berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat, daerah, dan bangsa. Selain itu supaya para remaja menghargai nilai-nilai masyarakat dalam bertingkah laku (Havighurst, 1953: 142).

10) Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etik sebagai pedoman dalam bertingkah laku. Tujuan dari tugas perkembangan ini yaitu (1) untuk membentuk seperangat nilai yang dapat dipraktekkan; (2) mengembangkan suatu tujuan untuk merealisasikan nilai-nilai; (3) mengembangkan kesadaran akan hubungannya dengan sesama manusia dan juga alam lingkungan tempat tingganya; (4) membentuk keseimbangan harmoni antara pandangan dunia dan nilai-nilai pada seseorang (Havighurst, 1953: 147).

41

Dokumen terkait