BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Reminiscence Therapy
Menurut Asosiasi Psikologi Amerika adalah suatu penggunaan riwayat hidup baik melalui tulisan, ucapan/lisan ataupun keduanya yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan. Reminiscence therapy pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikiatrik ternama yaitu Robert Butler pada tahun 1960. Reminiscence therapy digunakan dengan tepat seperti menggunakan photo, music atau benda-benda yang sangat familiar pada masa lalunya, untuk mendorong pasien untuk berbicara mengenai memori mereka sebelumnya. Terapi ini lebih disarankan kepada orang dewasa yang mempunyai masalah mood atau masalah memori atau kepada orang yang membutuhkan kesulitan seseorang dalam kesiapan memasuki usia tua.
Menurut Bluck dan Levine (1998, dalam Collings, 2006) reminiscence
adalah proses yang dikehendaki atau tidak dikehendaki untuk mengumpulkan kembali memori-memori seseorang pada masa lalu. Memori tersebut dapat merupakan suatu peristiwa yang mungkin tidak bisa dilupakan atau peristiwa yang sudah terlupakan yang dialami langsung oleh individu. Kemudian memori tersebut dapat sebagai kumpulan pengalaman pribadi atau “disharingkan” dengan orang lain. Johnson (2005) mendefenisikan reminiscence adalah proses mengingat kembali kejadian dan pengalaman masa lalu, dan telah dibentuk sebagai suatu topik utama baik dalam teori maupun aplikasi pada psikogerontologi. Menurut Fontaine dan Fletcher (2003) reminiscence atau kenangan adalah suatu kemampuan pada lansia yang dipandu untuk mengingat memori masa lalu dan “disharingkan” (disampaikan) memori tersebut dengan keluarga, kelompok atau staf. Meiner dan Lueckenotter (2006) menjelaskan bahwa therapy reminiscence
adalah suatu terapi pada orang yang didorong (dimotivasi) untuk mendiskusikan kejadian-kejadian masa lalu untuk mengidentifikasi keterampilan penyelesaian masa lalu yang telah dilakukan mereka pada masa lalu. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa terapi kelompok reminiscence
adalah suatu terapi yang dilakukan pada penderita secara berkelompok dengan cara memotivasi penderita untuk mengingat kembali kejadian dan pengalaman masa lalu serta kemampuan penyelesaian masalahnya kemudian disampaikan dengan keluarga, teman, kelompok atau staf.
Therapy reminiscence adalah suatu terapi yang ditujukan untuk memulihkan depresi perasaan stress pada pasien. Dalam kegiatan terapi ini, terapis akan membantu pasien yang mengalami stress pada gagal jantung untuk mengingat kembali aspek positif dan hal-hal yang berarti bagi penderita pada masa lalunya. Kemudian terapis juga membantu pasien untuk mengintegrasikan hal positif tersebut dalam kehidupan sehari-hari pada saat ini. Proses ini diharapkan dapat membantu penderita untuk menilai kehidupan yang telah dilaluinya sehingga penderita dapat merasakan kepuasan atas kehidupannya tersebut. Therapy reminiscence merupakan hasil langsung dari hipotesis teori life review (Butler, 1963). Terapi ini pada dasarnya menekankan individu untuk merefleksikan kehidupan mereka kembali atau mengulang kembali memori masa lalu. Melalui refleksi ini individu untuk menyelesaikan konflik, mengatasi pengalaman masa lalu yang menyakitkan sehingga individu tersebut mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi saat ini. Therapy reminiscence sangat membantu untuk pribadi individu dan keterampilan interpersonal seperti pada penderita Alzheimer’s.
Reminiscence melibatkan pertukaran memori antara orang tua dengan orang muda, teman dengan keluarga, caregivers dengan professional, melalui informasi, kebijaksanaan dan keterampilan. Pada intinya memberikan suatu nilai, kepentingan, kebersamaan, kekuatan dan damai kepada penderita Alzheimer’s. Aktivitas therapy reminiscence biasanya digunakan dalam kehidupan kita sehari- hari. Therapy reminiscence ini kita gunakan untuk mengatasi stress seperti dalam situasi berduka. Terapi ini membantu mengurangi gambaran diri yang buruk, menciptakan perasaan intim serta memberikan arti yang special ketika berinteraksi dengan orang lain.
Media yang dapat digunakan dalam therapy reminiscence adalah :
1. Secara visual; foto, lukisan yang mengingatkan kejadian masa lalu yang menyenangkan
2. Musik; menggunakan lagu-lagu yang familiar dari radio, CD, atau menciptakan musik menggunakan berbagai macam alat musik
3. Melalui indera pengecapan dan penghiduan; menggunakan parfum, makanan 4. Melalui indera peraba; memegang objek tertentu, merasakan tekstur, melukis
dan puisi.
Tipe terapi dan aktivitas reminiscence dapat digunakan oleh individu, kelompok dan keluarga. Kategori therapy reminiscence dibagi menjadi 3 kategori utama yaitu:
1. Simple reminiscence.
Terapi ini merupakan refleksi informasi masa lalu dengan cara yang menyenangkan.
2. Evaluative reminiscence adalah evaluasi masa lalu dan digunakan sebagai pendekatan pemecahan konflik
3. Offensive-defensive reminiscence merupakan kegiatan pengulangan informasi yang tidak menyenangkan dan meningkatkan stress. Keluarga dan teman terdekat dapat memberikan informasi dan subjek penting yang menyedihkan bagi lanjut usia sehingga membutuhkan dukungan yang penuh dari perawat. Berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti dinyatakan bahwa reminiscence therapy dapat memberikan kemudahan untuk memperbaiki perasaan depresi dan perasaan kesepian dan meningkatkan kenyamanan psikologi. Penelitian juga menyokong pandangan bahwa reminiscence therapy termasuk riwayat pekerjaan dapat meningkatkan hubungan antara orang yang mengalami dementia dan karir mereka dengan cara memberikan keuntungan pada keduanya. Keuntungan lain dilaporkan termasuk peningkatan kesempatan untuk memberikan perawatan secara personal dan individual dan membantu individu untuk bergerak antara perbedaan lingkungan perawatan seperti perawatan dirumah atau diantara perawatan dirumah.
Reminiscence therapy dapat diselenggarakan secara formal atau informal secara individu, keluarga atau group. Reminiscence therapy menyajikan perbedaan fungsi psikologi termasuk taxonomy yang diperkenalkan oleh Webster. Skala fungsi reminiscence yang dibuat Webster’s termasuk delapan alasan kenapa orang mengingat : penurunan rasa bosan, peningkatan kebencian, persiapan kematian, percakapan, identitas, mempertahankan keintiman, pemecahan masalah, dan ajaran/informasi. Psikologis memandang bahwa penggunaan therapy
reminiscence untuk meningkatkan efek dan kemampuan koping, walaupun keefektifan terapi ini masih diperdebatkan.
Therapy reminiscence merupakan salah satu terapi modalitas yang dapat menurunkan beberapa gangguan kesehatan yang dialami lansia, antara lain lupa ingatan, dimensia, depresi dan kecemasan (Winslow, 2009). Menurut Coaten (2001) therapy reminiscence atau mengenang suatu kejadian di masa lalu dapat memberikan rasa nyaman dan tenang tentang apa yang telah terjadi sebelumnya di masa lalu. Pasien diharapkan dapat terlibat aktif dalam berbagi cerita masa lalu pada suatu kelompok. Selain itu, therapy reminiscence dapat meningkatkan interaksi sosial penderita dengan orang lain yang menjadi lawan bicaranya.
Reminiscence therapy terdiri dari berbicara, komunikasi dan inklusi pada seorang pasien dengan pasangannya atau group. Terapi ini berguna dalam hubungannya antara 2 (dua) orang atau lebih untuk menstimulus memori manusia yang mempunyai dementia dengan menggunakan isi seperti gambar-gambar dan hal-hal fisik sebagai katalisator dalam merangsang memori. Hal tersebut akan mengirimkan sinyal kepusat informasi, pada pusat perawatan dirumah. Satu keuntungan utama dari reminiscence therapy adalah bahwa ini adalah merupakan proses yang informal yang memerlukan latihan yang panjang maupun kualifikasi untuk mengaturnya. Hal ini dapat digunakan pada hal dasar dan dapat juga dikombinasikan dengan terapi yang lain secara personal ataupun sesi grup. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan reminiscence therapy juga menciptakan ikatan yang lebih kuat antara karir dan tempat tinggal dengan keadaan perawatan dirumah dan memberikan level yang lebih besar dalam
memahami tentang individu dengan latar belakang demensia. Ini memberikan transisi yang lebih lembut dan lebih cepat dalam menseting perawatan dirumah dan dapat juga menolong provider dalam memberikan perawatan dirumah dengan pendekatan langsung pada pasien.
Reminiscence menunjukkan memori panjang pada masa lampau. Hal ini sangat familiar pada kita dan dapat dimanfaatkan untuk keuntungan yang lainnya. Untuk orang dengan penyakit alzheimer akan memberi harapan untuk melakukan
reminiscence yang sangat bermanfaat pada diri mereka sendiri dan kemampuan interpersonal. Reminiscence mempengaruhi perubahan memori pada orang tua dan muda, teman dan keluarga, dengan caregiver dan profesional, menyampaikan informasi, kebijaksanaan dan keahlian. Ini adalah suatu hal yang memberikan orang dengan penyakit alzheimer akan mempunyai nilai, kepentingan, kasih sayang, kekuatan dan kedamaian.
Kegiatan reminiscence therapy digunakan secara berkesinambungan pada kehidupan sehari-hari pada waktu stress seperti saat berkabung, ini juga dapat menurunkan kejadian kecelakaan pada gambaran diri dan dapat mengkreasikan perasaan yang intim dan memberikan arti spesial untuk bersosialisasi dengan orang lain. Inti kegiatan therapy reminiscence yang berfokus pada eksplorasi keberhasilan yang pernah dicapai penderita akan sangat mendukung pemulihan stress pada penderita gagal jantung. Dalam proses kegiatan terapi ini tentunya terapi dapat memotivasi dan memfasilitasi penderita untuk mengingat kembali pengalaman keberhasilan atau suka cita yang pernah dialami penderita sehingga menimbulkan perasaan bahagia, senang dan bangga pada saat proses terapi
berlangsung. Perasaan bahagia dan bangga ini kemudian diintegrasikan dengan kemampuan dan keberhasilan penderita saat ini. Dengan demikian melalui kegiatan therapy reminiscence ini penderita masih dapat memotivasi dirinya untuk menimbulkan perasaan bahagia dan bangga dengan diri sendiri sehingga perasaan- perasaan negatif dan kesedihan yang dirasakan dapat menjadi berkurang atau bahkan hilang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Chiang, et al., (2009) bahwa
therapy reminiscence dapat menurunkan stress dan perasaan-perasaan negatif pada penderita gagal jantung. Frazer, Christensen dan Griffiths (2005) dalam penelitian pada 23 orang lansia menyimpulkan therapy reminiscene efektif untuk menurunkan depresi. Timbulnya perasaan senang dan bangga merupakan upaya untuk meminimalkan tanda dan gejala stress dan depresi. Bohlmeijer (2003; Haight & Burnside, 1993, dalam Ebersole, et al., 2005) menyatakan bahwa
therapy reminiscence dapat menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala stress dan depresi. Menurut pernyataan Stuart (2009) bahwa therapy reminiscence
digunakan untuk membantu individu mencapai perasaan integritasi, meningkatkan harga diri dan menstimulasi individu untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan perawat mempunyai kesempatan untuk memfokuskan, memberikan refleksi dan penguatan atas perasaan individu terhadap nilai dirinya sendiri. Pada therapy reminiscence penderita mendapat kesempatan untuk menyampaikan kemampuan positif yang telah dialaminya. Kemampuan positif tersebut dapat berkaitan dengan kegiatan fisik seperti pengalaman bermain pada masa anak-anak, pengalaman rekreasi pada masa remaja dan pengalaman pekerjaan pada masa dewasa. Topik ini dapat mengingatkan kembali akan kemampuan yang pernah dimiliki penderita
dan barangkali masah ada sebagian kemampuan tersebut yang masih dimiliki penderita sampai saat ini. Selanjutnya dalam proses terapi, terapi dapat menerapkan konsep caring terhadap penderita. Terapi dapat membantu penderita untuk menemukan kembali kemampuan-kemampuan yang masih dimiliki oleh penderita. Hal ini dapat menjadikan therapy reminiscence dapat memulihkan perasaan ketidakberdayaan dan stress pada penderita gagal jantung. Sesuai dengan pernyataan Fontaine dan Fletcher (2003) diri dan memahami diri serta beradaptasi terhadap stress.
Frisch dan Frisch (2006) menegaskan bahwa therapy reminiscence dilakukan untuk meningkatkan fungsi kognitif. Peningkatan fungsi kognitif diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penderita untuk menilai kehidupan yang telah dilaluinya khususnya yang berkaitan dengan pengalaman positif sehingga penderita dapat mencapai kepuasan pada hidupnya. Stuart (2009) juga menegaskan bahwa therapy reminiscence berguna untuk membantu penderita menstimulasi pikirannya tentang diri sendiri. Dalam proses kegiatan therapy reminiscence terapi memberikan kesempatan pada penderita untuk melakukan hubungan dan komunikasi dengan orang lain sesama anggota kelompok. Kegiatan ini tentunya dapat memberikan dampak positif pada kemampuan penderita dalam menciptakan hubungan antara interaksi dengan orang lain. Boyd dan Nihart (1998) menyatakan bahwa therapy reminiscence bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sosialisasi dan hubungan dengan orang lain dan juga meningkatkan kemampuan komunikasi. Reminiscence adalah proses mengingat kembali kejadian dan pengalaman masa lalu (Johnson, 2005). Reminiscence therapy adalah suatu
terapi yang memberikan perhatian terhadap kenangan terapeutik pada manusia (Webster, 1999), dalam Collins 2006). Dalam kegiatan terapi ini, terapi akan memfasilitasi penderita untuk mengumpulkan kembali memori-memori masa lalu sejak masa anak, remaja dan dewasa serta hubungan penderita dengan keluarga kemudian dilakukan sharing dengan penderita lain. Melalui terapi ini diharapkan penderita akan mengenang kembali masa lalunya yang menyenangkan.
Eriskson (1963, dalam Johnson, 2005) mendefenisikan bahwa kenangan masa lalu akan meningkatkan integritias penerimaan diri dan siklus hidup sebagai sesuatu yang telah terjadi dan apa adanya oleh karena kebutuhan, dikehendaki tanpa ada penggantian. Therapy reminiscence ini memberikan manfaat untuk memelihara identitas individu karena penderita akan menggunakan pengalaman masa lalunya untuk mempertahankan pendapatnya dari kritik (Lewis, 1971, dalam Johnson, 2005). Berdasarkan yang telah dilakukan oleh Lewis ini, intervensi
therapy reminscence pada penderita gagal jantung dapat meningkatkan integritas dirinya yang tentunya juga akan meningkatkan harga diri. Peningkatan harga diri pada pasien berarti telah mengeliminasi perasaan tidak berharga dan tidak berguna yang dialaminya.
Life review menurut Butler (1963, dlam Wheeler, 2008) adalah suatu proses “melihat masa lalu” individu dan diobservasi nilai terapeutiknya yang direfleksikan dengan segera pada saat itu juga dan dijadikan sebagai cara penyelesaian masalah saat ini. Wheeler (2008) secara terperinci memberikan perbedaan therapy reminiscence dan life review yang disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 2.2. Perbedaan therapy reminiscence dan life riview
No Kriteria Reminiscence Life Review
1 Sifat Interaksi verbal antara 2
orang atau lebih yang menimbulkan memori
Melibatkan ingatan secara
cepat (kilat) dan interaksi yang spontan atau diksusi kelompok dengan tema yang telah difokuskan
Tidak ada evaluasi
kehidupan berfokus pada
memori yang menyenangkan
Berfokus pada kejadian-
kejadian atau pengalaman- pengalaman masa lalu buka kejadian-kejadian sekarang
Dilakukan antara terapi dan
penderita yaitu 1 : 1
Proses mengingat kembali
seluruh kejadian semasa hidup secara berurutan
Daya ingat (recall) harus berisi suatu evaluasi atau analisa komponen untuk persiapan waktu yang akan datang
Mengingat kembali kejadian-
kejadian dan pengalaman- pengalaman masa lalu atau sekarang
2 Kejadian yang diingat kembali
Kedua; waktu bahagia dan
sedih
Keduanya; waktu bahagia dan
sedih
3 Batasan waktu Tdak ada alokasi waktu
yang spesifik
Biasanya menggunakan 4-6
minggu
4 Tujuan Menurunkan isolasi
Meningkatakan sosialisasi,
hubungan dan persahabatan
Meningkatkan harga diri
Meningkatan kepuasan
hidup
Integritas
Meningkatkan harga diri
Menurunkan depresi
Meningkatkan kepuasan hidup
Kedamaian
5 Karakteristik pasien
Lansia dengan kognitif
yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan dan sedang
Dapat berfokus pada diri
sendiri dan pada orang lain dalam kelompok
Mungkin lebih sulit dalam
kelompok reminiscence jika pasien mempunyai banyak kejadian traumatik atau berhati-hati
Kognitif yang baik dan
kerusakan kognitif ringan
Berfokus pada diri sendiri
Biasanya pengalaman yang
mencetuskan kejadian dalam hidup
Dari perbedaan yang dikemukan Wheeler diatas, life review hanya dapat dilakukan secara individu, penderita harus mempunyai kemampuan untuk menilai atau menganalisa kejadian hidupnya dan tujuan yang dicapai adalah meningkatkan
harga diri dan menurunkan depresi dan stress. Secara khusus terapi ini belum memberikan kesempatan pada penderita untuk meningkatkan interaksi dengan orang lain, sehingga penyelesaian masalah isolasi sosial belum tentu dapat tercapai secara optimal. Untuk membedakan terapi ini dari reminiscence, Butler (1963, dalam Wheeler, 2008) juga mengatakan bahwa life review merupakan suatu tipe dari therapy reminiscence. Frazer, Christensen dan Griffiths (2005) menyatakan bahwa life review serupa dengan reminiscence. Reminiscence lebih mengarah pada kegiatan mengingat kembali kejadian spontan pada masa lalu yang menyenangkan sedangkan therapy life review lebih terstruktur dan melibatkan evaluasi tentang kehidupan individu.
Therapy reminiscence merupakan salah satu intervensi keperawatan spesialis yang dapat dilaksanakan secara individu maupun kelompok. Terapi ini lebih utama ditujukan pada penderita yang mengalami depresi. Therapy reminiscence
yang dilakukan secara kelompok akan lebih memberikan kesempatan kepada sesama pasien untuk saling berbagi pengalaman masa lalu untuk mencapai integritas diri.
2.2.2. Manfaat Therapy Reminiscence
Menurut Fontaine dan Fletcher (2003) therapy reminiscence bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan membantu individu mencapai kesadaran diri dan memahami diri, beradaptasi terhadap stress dan melihat bagian dirinya dalam konteks sejarah dan budaya. Sedangkan menurut Nussbaum, Pecchioni, Robinson dan Thompson (2000, dalam Fontaine & Fletcher, 2003) therapy reminiscence
bertujuan untuk menciptakan kebersamaan kelompok dan meningkatkan keintiman sosial.
Frisch dan Frisch (2006) juga menyatakan bahwa therapy reminiscence
bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan sosialisasi. Tujuan lain dilakukannya
therapy reminiscence adalah untuk meningkatkan fungsi kognitif, kemampuan berkomunikasi dan fungsi perilaku (RIPFA, 2006). Boyd dan Nihart (1998) dan Bohlmeijer (2003; Haight & Burnside, 1993, dalam Ebersole, et all., 2005) menyatakan bahwa therapy reminiscence bertujuan tidak hanya untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga meningkatkan sosialisasi dan hubungan dengan orang lain, memberikan stimulasi kognitif, meningkatkan komunikasi dan dapat menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala depresi. Terapi kelompok reminiscence
mempunyai potensi untuk menurunkan isolasi sosial, memperbaiki fungsi kognitif dan depresi dan meningkatkan harga diri, perasaan berharga, keterampilan sosial dan kepuasan hidup (Chao, et al., 2006; Lin, et al., 2003), dalam Parese, Simon & Ryan, 2008).
Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa therapy reminiscence yang diberikan pada penderita gagal jantung berguna untuk memotivasi diri penderita dan perasaan yang tidak mempunyai harapan, membantu penderita untuk mencapai kesadaran diri, meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap stress dengan mengadopsi keterampilan penyelesaian maalah dimasa lalu serta meningkatkan hubungan sosial penderita. Hal ini berarti therapy reminiscence
dan keputusasaan serta meningkatkan kemampuan sosial penderita dengan orang lain sehingga perasaan ketidakberdayaan, keputusasaan dan isolasi sosial pada penderita gagal jantung dengan stress diharapkan dapat teratasi.
2.2.3. Tipe Therapy Reminiscence
Kennard (2006) mengkategorikan ada 3 tipe utama therapy reminiscence, yaitu :
a. Simple atau Posittive Reminiscence
Tipe ini untuk merefleksikan informasi dan pengalaman serta perasaan yang menyenangkan pada masa lalu. Cara menggali pengalaman tersebut dengan menggunakan pertanyaan langsung yang tampak seperti interaksi sosial antara penderita dan terapi. Simple reminiscence ini bertujuan untuk membantu beradaptasi terhadap kehilangan dan memelihara harga diri
b. Evaluative Reminiscence
Tipe ini lebih tinggi dari tingkatan pertama, seperti pada therapy life review
atau pendekatan dalam menyelesaikan konflik
c. Offensive Defensive Reminiscence
Tipe ini dikatakan juga berkala, tidak menyenangkan dan informasi yang tidak menyenangkan. Pada tipe ini dapat menyebabkan atau menghasilkan perilaku dan emosi. Tipe ini juga dapat menimbulkan resolusi terhadap informasi yang penuh konflik dan tidak menyenangkan.
Ketiga tipe tersebut dapat diaplikasikan dalam proses kegiatan therapy reminiscence.
2.2.4. Media Dalam Therapy Reminiscence
Media yang digunakan dalam kegiatan therapy reminiscence adalah benda- benda yang berhubungan dengan masa lalu penderita. Menurut Collins (2006) media yang dapat digunakan dalam kegiatan therapy reminiscence adalah
reminiscence kit (kotak yang diisi dengan berbagai barang-barang pada masa lalu, majalah, alat untuk memasak, dan membersihkan), foto pribadi masing-masing anggota, alat untuk memutar musik dan video, video dan kaset, buku, pulpen, stimulus bau yang berbeda (seperti coffee, keju, cuka), rasa (seperti coklat, jeruk, kulit pie dan lain-lain), dan bahan-bahan lain untuk menstimulasi sensori sentuhan (seperti bulu binatang, wol dan flanel, pasir, lumpur dan lain-lain). Media ini dapat pula digunakan untuk kegiatan therapy reminiscence yang dilakukan secara berkelompok.
Benda-benda masa lalu ini digunakan sebagai media untuk membantu penderita mengingat kembali masa lalunya berkaitan dengan benda tersebut. Media ini diharapkan akan mempercepat daya ingat penderita untuk mengingat kembali pengalaman masa lalunya yang berkaitan dengan benda tersebut dan akan diceritakan pada orang lain sehingga proses dan tujuan terapi dapat tercapai.
2.2.5. Penatalaksanaan Therapy Reminiscence
Menurut Kennard (2006) dan Ebersole, et al., (2006) therapy reminiscence
dapat diberikan pada penderita secara individu, keluarga maupun kelompok. Pelaksanaan therapy reminiscence secara kelompok mempunyai hubungan yang lebih banyak dibandingkan dilaksanakan secara individu. Keuntungan yang
dicapai apabila terapi ini dilaksanakan secara kelompok adalah penderita akan mempunyai kesempatan untuk berbagi (sharing) pengalaman dengan anggota kelompok, meningkatkan kemampuan komunikasi dan sosialisasi penderita serta efisiensi biaya dan efektifitas waktu.
Selain media yang berkaitan dengan benda masa lalu penderita, perawat juga memerlukan item pertanyaan yang berkaitan dengan masa lalu penderita sesuai dengan topik pada setiap pelaksanaan terapi. Beberapa pertanyaan yang diajukan perawatan untuk review kehidupan dan pengalaman penderita menurut Haights (1989, dalam Collins, 2006) adalah sebagai berikut :
a. Masa anak-anak
1. Hal apa yang pertama kali yang paling diingat selama hidup saudara ? Coba ingat jauh kebelakang semampu saudara
2. Hal apa lagi yang dapat diingat tentang masa kecil saudara ? 3. Masa kecil yang seperti apa yang saudara alami ?
4. Seperti apakah orang tua Saudara ? Apakah mereka orang tua yang keras atau lemah ?
5. Apakah saudara mempunyai kakak atau adik ? ceritakan tentang mereka satu persatu
6. Apakah seseorang yang dekat dengan saudara meninggal ketika saudara sedang tumbuh ?
7. Apakah orang yang penting bagi saudara telah pergi ?
8. Apakah saudara ingat suatu peristiwa yang membuat saudara menderita ?
9. Apakah saudarah ingat pernah mendapat suatu kecelakaan ?
10.Apakah saudara ingat pernah berada pada situasi yang sangat berbahaya ?
11.Adakah sesuatu yang dulunya sangat penting tapi telah hilang, musnah atau rusak ?
12.Apakah tempat ibadah termasuk hal penting dalam hidup saudara ? 13.Apakah saudara senang sebagai laki-laki atau perempuan ?
b. Masa Remaja
1. Apa yang saudara pikirkan tentang diri dan hidup saudara sebagai remaja, apa yang saudara ingat pertama kali masa ini ?
2. Hal apa saja yang paling berkesan yang terekam dimemori saudara sebagai seorang remaja ?
3. Siapa orang yang penting bagi saudara saat ini ? Ceritakan pada saya tentang mereka
4. Apakah saudara menghadiri tempat ibadah dan bagaimana dengan grup saudara ?