• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5. Rencana Anggaran Biaya

Rekomendasi biaya untuk tenaga kerja pemeliharaan lanskap Kota Tigaraksa didasarkan pada Upah Minimum Kabupaten (UMK) Tangerang sebesar Rp2.424.000,00 per bulan dengan ketentuan 8 jam kerja (Surat Keputusan Gubernur Banten No 151/Kep.582-Huk/2013 tanggal 22 November tentang penetapan Upah minimum kabupaten/kota se-Provinsi Banten tahun 2014). Berdasarkan perhitungan upah untuk tenaga kerja pemeliharaan lanskap, maka didapat total biaya untuk tenaga kerja sebesar Rp2.145.240.000 per tahun.

UMK = Rp2.424.000,00 (untuk 8 jam kerja per hari) = 5/8 x Rp2.424.000,00

= Rp.1.515.000,00 (untuk 5 jam kerja per hari)

Total gaji tenaga kerja/tahun = UMK x KTK x Jumlah bulan dalam setahun = Rp.1.515.000,00 x 285 x 12

= Rp5.181.300.000,00 per tahun.

Dengan rekomendasi biaya tenaga kerja berdasarkan UMK, diharapkan upah tersebut dapat memotivasi para pekerja lapang agar dapat bekerja secara efektif dan bekerja secara penuh selama jam kerja yang telah ditentukan oleh DKPP yaitu 5 jam per hari dengan pengawasan yang ketat, sehingga kualitas lanskap Kota Tigaraksa semakin baik dan berkelanjutan.

48

Untuk alat dan bahan rekomendasi biaya yang disarankan adalah sebesar Rp119.880.000,00. Dana tersebut merupakan dana untuk peralatan sapu lidi, cangkul, gunting pangkas, kored, golok, masker, pengki, baju seragam, sarung tangan, sepatu boot, tangga bambu, tempat sampah, sprayer gendong, dan berbagai macam bahan pemeliharaan seperti pupuk urea (Tabel 26). Total anggaran biaya yang direkomendasikan selama satu tahun adalah sebesar Rp5.301.180.000,00.

Tabel 26 Anggaran biaya peralatan dan bahan pemeliharaan

No Alat dan

bahan Fungsi Jumlah

Masa efektif Satuan Harga satuan (Rp) Harga total Harga/ Tahun 1 Sapu lidi + gagang Pembersihan areal taman dan jalan

55 1

bulan

buah 15000 825000 9900000

2 Cangkul Penyiangan dan penggemburan tanaman 21 6 bulan buah 70000 1470000 2940000 3 Gunting pangkas Pemangkasan pohon dan semak 21 6 bulan buah 60000 1260000 2520000 4 Kored Penyiangan tanaman 21 6 bulan buah 50000 1050000 2100000 5 Golok Pemangkasan ranting dan dahan pohon 5 6 bulan buah 50000 250000 500000 6 Masker Penyemprotan pestisida 12 2 bulan buah 1500 18000 10800 7 Pengki+ gagang Pembersihan areal taman dan jalan 55 1 bulan buah 20000 1100000 13200000 8 Baju seragam Untuk keamanan 118 6 bulan buah 50000 5900000 11800000 9 Sarung tangan Untuk keamanan 118 2 bulan pasang 7500 885000 5310000 10 Sepatu boot Untuk keamanan 118 6 bulan pasang 90000 10620000 21240000 11 Tangga

bambu Alat bantu pemangkasan

1 3 bulan buah 20000 20000 80000 12 Tempat sampah Untuk kebersihan 55 6 bulan buah 45000 2475000 4950000 13 Sprayer gendong Pengendalian hama 2 3 tahun unit 1500000 3000000 12000000 14 Furadan Pengendalian hama 5 1 bulan pak 70000 350000 4200000 15 Decis Pengendalian hama 4 1 bulan botol 22000 88000 1056000 16 Dursban Pengendalian hama 4 1 bulan botol 22000 88000 1056000 17 Herbisida Pengendalian hama 10 1 bulan liter 75000 750000 9000000 18 Curacron Pengendalian hama 2 1 bulan botol 35000 70000 840000 19 Pupuk urea Pemupukan tanaman pohon 427 3 bulan kg 10000 4270000 17080000 TOTAL 119 880 000

49 Peraturan pemerintah (UU No. 26 Tahun 2007) tentang penataan ruang dan Peraturan bupati No. 11 Tahun 2006 tentang izin pemanfaatan ruang

Strategi ini merupakan strategi S-T, yang berarti memanfaatkan potensi yang ada untuk menghadapi tantangan. Lanskap Kota Tigaraksa memiliki lanskap yang ditata cukup baik, selain itu kawasan pusat pemerintaan dapat digunakan sebagai area rekreasi. Area ini adalah salah satu dari ruang terbuka hijau yang terdapat di Tigaraksa. UU No. 26 Tahun 2007 dan Peraturan Bupati No. 11 Tahun 2006 dapat dijadikan sebagai pedoman dan dasar hukum untuk melindungi RTH yang terdapat di Kota Tigaraksa agar tidak dengan mudah beralih fungsi menjadi lahan terbangun. Diharapkan peraturan tersebut tidak hanya menjadi pedoman, tetapi juga dapat dilaksanakan sebaik mungkin.

Meningkatkan kinerja dengan pemberian motivasi dan pelatihan kerja baik untuk pengawas maupun tenaga kerja di lapang

Strategi ini merupakan strategi S-O, yang berarti memanfaatkan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Untuk memperbaiki kinerja di lapangan, perlu dilakukan pemberian motivasi dan pelatihan kerja kepada pekerja di lapangan oleh tenaga ahli lanskap agar pekerja lebih terampil saat melakukan proses pengelolaan lanskap kawasan pusat pemerintahan. Tenaga ahli lanskap bisa didapat dari bekerja sama dengan pihak lain atau dengan perekrutan tenaga ahli di DKPP. Dukungan dari pemerintah juga sangat diperlukan dalam hal ini.

Optimalisasi area rekreasi

Strategi ini merupakan strategi S-T, yang berarti memanfaatkan potensi yang ada untuk menghadapi tantangan. Pengguna sebaiknya menggunakan taman rekreasi seoptimal mungkin agar lahan tersebut tidak di alih fungsikan, apabila masyarakat menggunakan area tersebut secara optimal untuk rekreasi, pemerintah akan tetap mengeluarkan dana untuk proses pengelolaan. Saat ini, masih ada masyarakat yang belum mengetahui keberadaan taman-taman yang berada di pawasan pusat pemerintahan, sehingga pemanfaatannya belum optimal. Mereka dapat memanfaatkan taman-taman yang berada di kawasan ini untuk menghilangkan kepenatan setelah aktivitas sehari-hari seperti menikmati pemandangan atau memancing di danau yang berada di hutan kota.

Menyediakan fasilitas yang memadai untuk mendukung kegiatan masyarakat

Strategi ini merupakan strategi W-O yang berarti meminimalisasi kelemahan untuk memanfaatkan peluang. Dalam upaya mengoptimalkan fungsi pertamanan kota, fasiltas yang memadai merupakan hal yang harus dilakukan agar masyarakat khususnya pengunjung taman-taman yang berada di Pusat Pemerintahan dapat merasakan kenyamanan saat berkunjung. Hal ini dapat dilakukan dengan penyediaan area bermain, wifi, toilet, dan juga tempat sampah yang tersedia di dekat area pertamanan.

50

Mengoptimalkan pemanfaatan kawasan pusat pemerintahan sebagai pusat interaksi antar masyarakat maupun antar masyarakat dengan pemerintah

Strategi ini merupakan strategi S-O. Kawasan pusat pemerintahan juga merupakan pusat pelayanan publik. Dengan letak kawasan yang berada di pusat kota, diharapkan masyarakat dapat menggunakan jasa pelayanan tersebut secara optimal. Dengan mengunjungi pelayanan publik yang ada disana, masyarakat dapat berinteraksi dengan petugas pemerintahan maupun masyarakat lainnya sehingga konsep pusat pemerintahan yang terbuka dapat terwujud.

Membuka peluang kerja sama bagi pihak lain untuk tenaga ahli lanskap Strategi ini merupakan strategi W-O. Tenaga ahli lanskap merupakan salah satu aspek penting dalam kegiatan pemeliharaan. Pihak DKPP Kabupaten Tangerang dapat melakukan kerjasama dengan pihak lain misalnya bekerjasama dengan pihak Universitas. Kerjasama yang dilakukan dapat berupa penerimaan magang mahasiswa arsitektur lanskap yang sedang melakukan penelitian sehingga pihak DKPP dan mahasiswa dapat saling diuntungkan. Hal lain yang dapat dilakukan adalah bekerjasama dengan pihak swasta

Adanya kebutuhan akan variasi taman rekreasi dan ada lahan kosong, pemerintah dapat membuat taman taman lain seperti taman kota dan taman lingkungan pada lahan kosong tersebut

Strategi ini masih merupakan strategi S-O. Pemerintah daerah Kota Tigaraksa masih memiliki lahan kosong yang belum jelas pemanfaatannya dengan luas ± 19.02 Ha. Hal ini dapat dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan jumlah RTH pada Kota Tigaraksa. Saat ini taman kota hanya terdapat pada kawasan pusat pemerintahan. Pemerintah dapat membuat lagi taman kota dan taman lingkungan di luar kawasan pusat pemerintahan. Hal ini juga sesuai dengan preferensi masyarakat sekitar yang menginginkan adanya taman-taman selain di kawasan pusat pemerintahan.

Meningkatkan manajemen keuangan

Strategi ini merupakan strategi W-T, yaitu yaitu meminimalisasi kelemahan dan menghindari ancaman. Dana kegiatan pemeliharaan lanskap yang dilakukan oleh DKPP merupakan dana yang didapat dari APBD pemerintah Kabupaten Tangerang. Dana yang diperoleh harus dikelola secara optimal. Menurut Sadyohutomo (2008) agar dana tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal langkah-langkah yang dapat dilakukan diantaranya sebagai berikut.

1. Menjalin kerjasama dengan perusahaan/instansi lain,

2. Perhatian lebih besar terhadap pemeliharaan yang lebih hemat , 3. Target pemeliharaan yang jelas dan terukur, dan

51

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan magang ini adalah bahwa sistem pengelolaan yang dilakukan oleh DKPP untuk pemeliharaan lanskap adalah dengan sistem swakelola dan dengan pihak ketiga. Dalam kegiatan magang, didapatkan pengalaman kerja di DKPP baik dikantor maupun di lapang. Pengalaman kerja yang didapatkan adalah kegiatan pembuatan laporan mengenai pemeliharaan, pembuatan RAB, survei lapang mengenai kegiatan pergantian tanaman, dan turut aktif dalam proses pengawasan tenaga kerja di lapang. Permasalahan utama yang dihadapi dalam kegiatan pemeliharaan adalah kurangnya kedisiplinan tenaga kerja di lapang dan kurangnya pengawasan pada saat kegiatan pemeliharaan dilakukan. Analisis pengelolaan dengan metode SWOT menghasilkan 9 alternatif strategi pengelolaan yang diharapkan dapat membantu pihak pengelola dalam meningkatkan kualitas pengelolaan lanskap Kota Tigaraksa khususnya kawasan yang dikelola oleh DKPP terutama kawasan pusat pemerintahan. Fokus dari kesembilan strategi tersebut adalah menjaga dan meningkatkan pengelolaan yang dilakukan saat ini yaitu dengan memperbaiki kelima aspek rencana pengelolaan dan upaya lain untuk mengoptimalkan penggunaan kawasan pusat pemerintahan.

Saran

Saran yang dapat diberikan untuk pengelolaan lanskap Kota Tigaraksa yang digunakan sebagai pusat pemerintahan, yaitu dalam kegiatan pengelolaan sebaiknya dilakukan oleh tenaga ahli lanskap terutama untuk kegiatan penataan taman sehingga dapat menciptakan kualitas lanskap yang bagus dan menarik untuk kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang yang berada di Kota Tigaraksa. Sebaiknya dilakukan pelatihan dan penyuluhan terlebih dahulu oleh tenaga ahli lanskap kepada para pekerja lapang ataupun pengawas lapangan agar nantinya lebih terampil saat melakukan kegiatan pemeliharaan. Pemberian motivasi kepada semua pekerja juga diperlukan agar mereka tidak bermalas-malasan dalam bekerja. Diperlukan adanya pendekatan antara atasan dengan para pekerja dalam proses komunikasi baik di kantor maupun di lapangan. Selain itu diperlukan juga peningkatan kinerja dengan memperbaiki kelima aspek rencana pegelolaan serta mengoptimalkan penggunaan kawasan pusat pemeritahan dalam berbagai aspek.

Dokumen terkait