• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA JARINGAN PRASARANA Bagian Kesatu

Umum Pasal 36

(1) Rencana jaringan prasarana meliputi rencana sistem jaringan pergerakan, rencana sistem jaringan utilitas, dan rencana sistem jaringan prasarana lainnya.

(2) Rencana sistem jaringan pergerakan sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi :

a.rencana pola pergerakan; b.rencana jaringan jalan;

c. rencana prasarana dan sarana perhubungan;

d.rencana penataan dan pengembangan rute angkutan umum; e. rencana ruang pejalan kaki;

f. rencana fasilitas perlengkapan jalan.

(3) Rencana sistem jaringan utilitas sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi :

a.rencana sistem jaringan listrik/energi; b.rencana sistem jaringan telekomunikasi; c. rencana sistem jaringan air minum; d.rencana sistem pengelolaan air limbah; e. rencana sistem pengelolaan persampahan; f. rencana sistem drainase.

(4) Rencana sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi :

a.rencana jalur evakuasi bencana;

24

Bagian Kedua

Rencana Sistem Jaringan Pergerakan Paragraf 1

Rencana Pola Pergerakan Pasal 37

(1) Rencana pola pergerakan orang dan barang sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (2) huruf a terbagi dalam 3 (tiga) pola, yaitu pergerakan internal – internal, internal – eksternal, dan pola pergerakan eksternal – eksternal.

(2) Pola pergerakan orang dan barang internal – internal, yaitu pergerakan didalam kawasan perkotaan baik asal maupun tujuannya, direncanakan dengan mengoptimalkan jalan lokal dan jalan lingkungan yang ada. (3) pola pergerakan internal – eksternal yaitu pergerakan dari kawasan

perkotaan ke luar atau sebaliknya, direncanakan dengan memanfaatkan jalan kolektor provinsi dan jalan kolektor kabupaten, yaitu ruas Jalan Cidaun – Kertajadi dan Jalan Cidaun – Pameungpeuk serta Jalan Kertajadi – Limbangan.

(4) pola pergerakan eksternal – eksternal yaitu pergerakan yang melewati kawasan perkotaan yang berasal dari luar dan menuju ke luar, berada pada ruas jalan direncanakan dengan memanfaatkan ruas jalan kolektor provinsi dan jalan kolektor kabupaten, yaitu ruas Jalan Cidaun – Kertajadi dan Jalan Cidaun – Pameungpeuk serta Jalan Kertajadi – Limbangan.

Paragraf 2

Rencana Jaringan Jalan Pasal 38

(1) Rencana jaringan jalan sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (2) huruf b meliputi penetapan fungsi jalan dan peningkatan serta pembangunan jaringan jalan.

(2) Rencana penetapan fungsi jalan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1), meliputi :

a.jalan kolektor primer yaitu Jalan Cidaun – Kertajadi dan Jalan Cidaun – Pameungpeuk;

b.jalan kolektor sekunder yaitu Jalan Kertajadi – Limbangan;

c. jalan lokal primer yaitu Jalan Cipandak, Jalan Pasirwalik, Jalan Mekarsari, Jalan Cikurutug, Jalan Jogjogan, dan Jalan Bayuning; d.jalan lokal sekunder yaitu Jalan Limbangan, Jalan Popojok, Jalan

Kaum, Jalan Cipakis, Jalan Cipakis Kulon, Jalan Cibeet dan Jalan Cipanglay;

e. jalan lingkungan yaitu Jalan Ciwidig, Jalan Arif, Jalan Ciangsana, Jalan Simpangsari, Jalan Leuwikalong, Jalan Padawaras, Jalan Citoe, Jalan Ciangsana, dan Jalan Bobojong.

25

(3) Rencana peningkatan dan pembangunan jalan sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi :

a.peningkatan jaringan jalan meliputi Jalan Cipandak, Jalan Ciwidig, Jalan Cikurutug, Jalan Arif, Jalan Ciangsana, Jalan Simpangsari, Jalan Leuwikalong, Jalan Padawaras, Jalan Citoe, Jalan Margasari, Jalan Popojok, Jalan Kaum, Jalan Cipanengah, Jalan Bayuning, Jalan Cipeundeuy, dan Jalan Cimindi;

b.pembangunan jalan baru meliputi ruas jalan yang menghubungkan Jalan Cipakis – Jalan Ciwidig, Jalan Leuwikalong – Jalan Cipatat, Jalan Citoe, Jalan Margasari – Jalan Mekarsari, Jalan Kp. Cidaun Peuntas – Jalan Kaum, Jalan Cidamar – Kp. Cipanglay, Jalan Jogjogan – Jalan provinsi, Jalan kaum – Jalan Cipakis – Bayuning, Jalan Cibeet – Jalan Cipeundeuy.

(4) Rencana peningkatan dan pembangunan jaringan jalan sebagaimana dimaksud ayat (1) tercantum dalam peta Lampiran XII yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 3

Rencana Prasarana dan Sarana Perhubungan Pasal 39

(1) Rencana prasarana dan sarana perhubungan sebagaimana dimaksud Pasal 36 huruf c meliputi :

a.penataan dan pengembangan terminal;

b.penataan dan pengembangan pelabuhan pariwisata; c.penataan dan pengembangan bandar udara perintis; d.penataan dan pengembangan sistem perparkiran.

(2) Rencana prasarana dan sarana perhubungan sebagaimana dimaksud ayat (1) tercantum dalam peta Lampiran XIII yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Pasal 40

Rencana penataan dan pengembangan terminal sebagaimana yang dimaksud Pasal 39 ayat (1) huruf a, meliputi :

a.pembangunan terminal tipe C beserta sarana dan prasarana pendukung terminal di Desa Kertajadi blok A.2;

b.meningkatkan dan mengembangkan akses jalan masuk dan keluar terminal.

Pasal 41

Rencana penataan dan pengembangan pelabuhan khusus pariwisata sebagaimana dimaksud Pasal 39 ayat (1) huruf b, meliputi :

a.menata lingkungan sekitar rencana pelabuhan khusus pariwisata untuk keperluan operasional pelabuhan di Desa Cidamar blok B.1;

b.pembangunan sarana dan prasarana pendukung pelabuhan khusus pariwisata;

26

c. meningkatkan dan mengembangkan akses jalan masuk menuju pelabuhan khusus pariwisata yang terintegrasi dengan jalan masuk pelabuhan.

Pasal 42

Rencana penataan dan pengembangan bandar udara umum perintis sebagaimana dimaksud Pasal 39 ayat (1) huruf c, meliputi :

a.pembangunan areal bandara perintis dan peningkatan sarana serta prasarana untuk kebutuhan operasional bandar udara di Desa Cidamar pada blok B.1;

b.mengamankan areal sekitar rencana bandar udara agar tidak mengganggu dan mengancam keselamatan operasional penerbangan; c. meningkatkan dan mengembangkan akses jalan masuk menuju bandar

udara.

Pasal 43

(1) Rencana penataan dan pengembangan sistem perparkiran sebagaimana dimaksud Pasal 39 ayat ( 1 ) huruf d meliputi parkir di luar badan jalan dan parkir yang memanfaatkan badan jalan.

(2) Rencana penataan dan pengembangan sistem parkir di luar badan jalan sebagaimana dimaksud ayat (1) yaitu :

a.pembangunan kantung-kantung parkir yang dapat digunakan untuk parkir bersama;

b.parkir di luar bangunan, dapat ditempatkan di ruang sempadan bangunan secara terbatas (satu lajur) dan dianjurkan untuk membentuk parkir di bagian belakang bangunan sehingga ruang depan bangunan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan lain dan tidak mengganggu kualitas visual kawasan;

c. pembangunan area parkir dalam persil bangunan diarahkan pada setiap zona perdagangan dan jasa, zona campuran, zona perkantoran, dan zona sarana pelayanan umum yaitu di blok A.1 Desa Kertajadi, blok B.1 dan B.2 Desa Cidamar;

d.penyediaan parkir tidak boleh mengurangi daerah daerah penghijauan, dan harus memperhatikan kelancaran sirkulasi keluar masuk kendaraan dan pejalan kaki, keamanan, keselamatan, kesehatan dan kenyamanan.

(3) Rencana penataan dan pengembangan parkir di daerah milik jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi :

a.diarahkan pada jalan lokal yang tidak mempunyai intensitas kegiatan yang tinggi seperti kegiatan untuk zona perdagangan dan jasa, zona campuran, zona perkantoran dan zona sarana sosial dan umum; b.Pengaturan lebih lanjut tentang pengelolaan parkir daerah milik jalan

27

Paragraf 4

Rencana Penataan dan Pengembangan Rute Angkutan Umum Pasal 44

Rencana penataan dan pengembangan sistem angkutan umum sebagaimana yang dimaksud Pasal 36 ayat (2) huruf d, meliputi :

a.pengadaan rute angkutan umum baik rute angkutan umum dalam kota maupun rute angkutan umum luar kota;

b.penambahan dan perubahan rute angkutan umum ditetapkan kembali sesuai dengan perkembangan kawasan;

c. peningkatan sarana angkutan umum dari dan menuju kawasan perkotaan.

Paragraf 5

Rencana Ruang Pejalan Kaki Pasal 45

(1) Rencana ruang pejalan kaki sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (2) huruf e yaitu ruang pejalan kaki di sisi jalan, ruang pejalan kaki di sisi bangunan, dan ruang pejalan kaki di RTH.

(2) Rencana penataan dan pengembangan ruang pejalan kaki di sisi jalan sebagaimana dimaksud ayat (1) diarahkan pada ruas jalan kolektor primer yaitu Jalan Cidaun – Kertajadi dan Jalan Cidaun – Pameungpeuk serta ruas jalan kolektor sekunder yaitu Jalan Kertajadi – Limbangan. (3)Rencana penataan dan pengembangan ruang pejalan kaki di sisi

bangunan sebagaimana dimaksud ayat (1) diarahkan pada pusat-pusat kegiatan strategis yaitu di kawasan komesil, pusat pemerintahan dan perkantoran, kawasan pendidikan, kesehatan, dan terminal, yaitu di blok A.1 Desa Kertajadi dan blok B.1 serta B.2 Desa Cidamar.

(4)Rencana penataan dan pengembangan jalur pejalan kaki di tepi jalan utama diarahkan memiliki lebar 1,5 – 3 (satu koma lima sampai tiga) meter berupa paving block dan jalur pejalan kaki di depan bangunan ruko dan pertokoan diarahkan memiliki lebar 1 – 2 (satu sampai dua) meter berupa paving block.

Paragraf 6

Rencana Fasilitas Perlengkapan Jalan Pasal 46

Rencana fasilitas perlengkapan jalan sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (2) huruf f, meliputi :

a.zebra cross atau tempat penyeberangan pejalan kaki, diarahkan pada pusat-pusat kegiatan seperti di zona perdagangan dan jasa, zona perkantoran, zona sarana pelayanan umum yang berada pada ruas-ruas jalan yang mempunyai arus lalu lintas cukup tinggi;

28

c. zona selamat sekolah atau ZOSS, diarahkan pada zona pendidikan yang berada di ruas jalan yang mempunyai arus lalu lintas cukup tinggi, yaitu di Jalan Cidaun – Kertajadi, Jalan Cidaun – Pemungpeuk dan Jalan Kertajadi – Limbangan;

d.alat pemberi isyarat lalu lintas atau ditempatkan pada titik-titik persimpangan jalan, yaitu persimpangan Jalan Cidaun – Kertajadi dengan Jalan Kertajadi - Limbangan, persimpangan Jalan Kaum – Pasirpanglay dan persimpangan Jalan Cidaun - Pameungpuk dengan jalan menuju obyek wisata Jayanti;

e. fasilitas penerangan jalan diarahkan di seluruh jaringan jalan.

Bagian Ketiga

Rencana Sistem Jaringan Utilitas Paragraf 1

Rencana Sistem Jaringan Energi/Listrik Pasal 47

(1) Rencana pengembangan sistem jaringan energi/listrik sebagaimana dimaksud Pasal 39 ayat (3) huruf a, meliputi :

a. sistem jaringan listrik dikembangkan dengan memperhatikan aspek terpenuhinya kebutuhan dan terjaminnya ketersediaan energi listrik; b. pengembangan jaringan listrik diarahkan pada lokasi-lokasi

pengembangan kegiatan/zona peruntukan baru, melalui

penyambungan jaringan yang ada dengan mengikuti jaringan listrik yang sudah ada;

c. membangun jaringan pemancang listrik dengan mengikuti koridor sistem jaringan Jalan yang terhierarki sesuai dengan klasifikasi Jalan serta mengarahkan pengembangan infrastruktur kelistrikan sesuai dengan pola pengembangan ruang aktifitas perkotaan;

d. pola jaringan kabel listrik direncanakan mengikuti pola jaringan Jalan yang ada kecuali untuk jaringan tegangan tinggi dapat melintasi daerah tertentu. Sementara untuk jaringan kabel listrik tegangan menengah dan rendah direncanakan disisi kiri jalan satu jalur dengan pipa air bersih di bawah tanah;

e. jaringan kabel tegangan tinggi (SUTET dan SUTT) hendaknya diatur pengamanannya terhadap lingkungan yaitu 25 (dua puluh lima) meter kesamping dan disisi jaringan tersebut harus bebas bangunan, dijadikan jalur hijau tanpa bangunan.

(2) Peta rencana pengembangan jaringan energi listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tercantum dalam peta Lampiran XIV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

29

Paragraf 2

Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi Pasal 48

(1) Rencana sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (3) huruf b direncanakan dengan memperhatikan aspek kemudahan dalam berkomunikasi dan keterjangkauan oleh semua lapisan masyarakat.

(2) Pengembangan sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud ayat (1), meliputi:

a. pembangunan Sentral Telepon Otomat (STO);

b. pembangunan jaringan telekomunikasi mengikuti jaringan jalan utama dan berhierarki sesuai dengan klasifikasi jalan dengan cakupan pelayanan ke seluruh pusat pelayanan dan wilayah pengembangannya;

c. pengembangan jaringan instalasi telekomunikasi diarahkan dibawah tanah dengan mengikiuti pola jaringan jalan sisi sebelah kanan, tidak satu jalur dengan jaringan pipa air bersih dan dengan jaringan kabel listrik;

d. kabel primer-sekunder bawah tanah tersebut hendaknya ditempatkan dalam satu box utilitas telepon khusus;

e. mengembangkan sistem telekomunikasi nirkabel (selular) sebagai alternatif pengganti telekomunikasi sistem kabel, melalui pembangunan Base Tranceiver Station (BTS);

f. pembangunan tower BTS dibatasi yaitu di lokasi yang sudah ada di sub blok A-2 Desa Kertajadi dengan menerapkan sistem penggunaan tower bersama, yaitu pada satu tower BTS untuk beberapa operator telepon seluler dengan pengelolaan secara bersama pula dan mengatur jarak antar tower berdasarkan skala pelayanan secara teratur dan tetap memperhatikan keindahan.

(3) Peta rencana pengembangan jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud ayat (1), tercantum dalam peta Lampiran XV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 3

Rencana Penyediaan Air Minum Pasal 49

(1) Rencana penyediaan air minum sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (3) huruf c, meliputi :

a. rencana penyediaan air minum sistem perpipaan; b. rencana penyediaan air minum sistem non perpipaan.

(2) Rencana penyediaan air minum sistem perpipaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, meliputi :

a. sesuai dengan target pelayanan air minum sebesar 80 % maka perlu adanya pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) dengan sumber air baku berupa air permukaan yaitu dengan memanfaatkan air Sungai Cidamar dengan debit 29 liter/detik dan ditingkatkan sampai akhir tahun perencanaan menjadi 63 liter/detik;

30

b. membangun jaringan transmisi dan jaringan pipa distribusi melalui jaringan pipa primer dan jaringan pipa sekunder dan jaringan pipa tersier yang merupakan jaringan perpipaan/saluran yang langsung ke konsumen;

c. pola pengembangan jaringan distribusi air minum diarahkan sesuai dengan pola kemiringan lahan, sehingga untuk memperkuat aliran air minum diperlukan instalasi penguat aliran air minum transmisi dan distribusi;

d. pengembangan jaringan distribusi air minum diprioritaskan pada penyediaan jaringan distribusi air minum bagi kawasan komersil, fasilitas umum dan pengembangan diarahkan pada lokasi-lokasi yang belum terlayani serta pada zona kegiatan baru yang akan di kembangkan di seluruh kawasan perkotaan;

e. membangun dan mengembangkan jaringan distribusi air minum dengan mengikuti koridor sistem jaringan jalan yang berhierarki sesuai dengan klasifikasi jalan dan mengarahkan pengembangan jaringan distribusi pipa air minum disisi kiri jalan serta diarahkan di bawah tanah;

f. Pembangunan Hidran Umum (HU) direkomendasikan pada daerah yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi yaitu di blok A.1 Desa Kertajadi dan blok B.1 serta blok B.2 Desa Cidamar serta diarahkan pada zona perumahan yang terpencar di blok A.2, A.3 dan A.4 Desa Kertajadi dan di blok B.3 Desa Cidamar.

(3) Rencana penyediaan air minum sistem non perpipaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, meliputi :

a. penyediaan air minum secara komunal melalui pembangunan Instalasi Pengolahan Air Sederhana (IPAS) dengan sumber air baku berasal dari air permukaan, air tanah dan air hujan;

b. penyediaan air minum secara individual melalui pembangunan sumur-sumur dangkal yang memenuhi persyaratan teknis maupun hygienis.

(4) Penyuluhan kepada masyarakat pemakai tentang penggunaan air tanah yang baik serta usaha melestarikan sumber air permukaan dan air tanah dengan peningkatan fungsi lindung terhadap tanah dan pembuatan sumur-sumur resapan.

(5) Peta rencana penyediaan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tercantum dalam peta Lampiran XVI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 4

Rencana Penanganan dan Pengelolaan Air Kotor/Limbah Pasal 50

(1) Rencana penanganan dan pengelolaan air kotor/limbah sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (3) huruf d, meliputi:

a. rencana penangan dan pengolahan limbah domestik; b. rencana penangan dan pengolahan limbah non domestik.

31

(2) Rencana penanganan dan pengelolaan air kotor/limbah domestik sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a meliputi:

a. rencana penanganan limbah domestik diarahkan pada penggunaan tangki septik konvensional baik secara individual maupun secara komunal;

b. selain itu penggunaan tangki septik konvensional diarahkan kepada penggunaan tangki septik biofil.

(3) Rencana penanganan dan pengelolaan air kotor/limbah non domestik sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b yaitu pengolahan limbah untuk kegiatan sarana umum, komersial, pemerintahan diarahkan untuk memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) tersendiri sesuai dengan jenis dan karakteristik limbah yang dihasilkan.

(4) Peta rencana pengolahan air limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tercantum dalam peta Lampiran XVII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 5

Rencana Sistem Persampahan Pasal 51

(1) Rencana pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (3) huruf e, meliputi pengelolaan sampah organik maupun sampah

anorganik dilakukan secara off – site, yaitu pewadahan sampah,

pengumpulan sampah, pemindahan sampah dan pengangkutan sampah untuk kemudian dibuang ke TPA sampah.

(2) Sampah yang berasal dari Puskesmas harus diolah terlebih dahulu dengan incinerator sebelum dibuang ke TPA sampah.

(3) Lokasi TPA Sampah direncanakan di luar kawasan perkotaan yaitu di Desa Karangwangi.

(4) Tempat pembuangan sampah sementara (TPS) untuk kawasan perdagangan, perkantoran, pendidikan, dan kawasan perumahan padat menggunakan container atau transfer dipo sedangkan untuk permukiman sedang dan rendah menggunakan TPS permanen yang ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau.

(5) Peta rencana pengolahan sistem persampahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tercantum dalam peta Lampiran XVIII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 6

Rencana Jaringan Sistem Drainase Pasal 52

(1) Rencana pengembangan jaringan drainase sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (3) huruf f, meliputi :

a.pembangunan jaringan drainase pada jalan-jalan yang belum terdapat saluran drainase dan juga pada kawasan-kawasan pengembangan baru

32

b.pembangunan saluran drainase tertutup diarahkan pada Jalan Cidaun – Kertajadi dan Jalan Cidaun – Pameungpeuk serta Jalan Kertajadi – Limbangan;

c. pemeliharaan saluran-saluran yang mengalami penyumbatan baik oleh sampah maupun endapan sedimentasi;

d.rehabilitasi saluran dilakukan dengan melakukan pelebaran saluran. (2) Pembangunan saluran drainase dilakukan secara terpadu dengan

pembangunan jalan dengan memperhatikan kondisi kemiringan lahan dan catchment area.

(3) Rencana sistem drainase sebagaimana dimaksud ayat (1) tercantum dalam peta Lampiran XIX yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Keempat

Rencana Sistem Jaringan Prasarana Lainnya Paragraf 1

Rencana Jalur Evakuasi Bencana Pasal 53

(1) Rencana jalur evakuasi bencana dimaksud Pasal 36 ayat (4) huruf a, meliputi:

a.Rencana pengembangan jalur evakuasi; b.Rencana melting point (titik pertemuan).

(2) Jalur evakuasi bencana harus dapat di akses dengan mudah sehingga jalur evakuasi akan diarahkan pada jalan-jalan yang menjauhi kawasan pantai yaitu Jalan Ciangsana, Jalan Mekarsari, Jalan Pasirwalik, Jalan Kertajadi - Limbangan, Jalan Cipeundeuy, dan Jalan Cidaun – Pameungpeuk.

(3) Rencana melting point (titik pertemuan) untuk evakuasi bencana akan diarahkan pada zona sarana umum seperti bangunan sekolah, bangunan pemerintahan, bangunan serbaguna, lapangan olah raga, gedung olahraga dan ruang terbuka hijau.

(4) Lokasi melting point (titik pertemuan) harus dapat diakses dengan mudah oleh kawasan atau blok di seluruh kawasan perkotaan.

(5) Peta rencana jalur evakuasi bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tercantum dalam peta Lampiran XX yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Paragraf 2

Rencana Sistem Penanggulangan Kebakaran Pasal 54

(1) Rencana sistem penanggulangan kebakaran sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat (4) huruf b, meliputi:

a.pos pemadam kebakaran akan diarahkan di sub pusat pelayanan kawasan yaitu di kantor Desa Kertajadi dan Desa Cidamar;

33

b.rencana pengembangan sistem penanggulangan kebakaran pada tahap pertama akan diarahkan pada kawasan-kawasan yang memiliki fungsi strategi seperti di pusat sekitar kawasan pusat pemerintahan kecamatan dan pusat pemerintahan desa dengan pembangun hidran-hidran kebakaran;

c. tahap selajutnya pembangunan hidran kebakaran akan diarahkan pada kawasan-kawasan yang memiliki intensitas kegiatan tinggi di sekuruh kawasan perkotaan.

(2) Peta rencana pembangunan sistem pemadam kebakaran sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat di lihat dalam peta Lampiran XXI yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

BAB V

BAGIAN WILAYAH PERENCANAAN

Dokumen terkait