SSWP V Desa Menanga sumber mata air:
PETA 5.3 RENCANA KAWASAN PERKOTAAN KABUPATEN FLORESTIMUR
Tabel 5.13
Rencana Distribusi Kepadatan Penduduk di SSWP II Kabupaten Flores Timur Tahun 2007-2027
Tahun Proyeksi (Jiwa/Ha) Wilayah yan dilayani 2007 - 2012 2013 - 2017 2018 - 2022 2023 - 2027 Wulanggitang 69 77 90 103 Ile Bura 55 59 64 69 Titehena 79 81 90 94 Rata-rata 68 72 81 89
Sumber : Hasil Analisa
Tabel 5.14
Rencana Distribusi Kepadatan Penduduk di SSWP III Kabupaten Flores Timur Tahun 2007-2027
Tahun Proyeksi (Jiwa/Ha) Wilayah yan dilayani 2007 - 2012 2013 - 2017 2018 - 2022 2023 - 2027 Adonara Timur 351 417 452 521 Ile Boleng 271 278 319 338 Adonara Tengah 261 281 308 333 Wotan Ulumado 92 96 115 125 Rata-rata 244 268 299 329
Sumber : Hasil Analisa
Tabel 5.15
Rencana Distribusi Kepadatan Penduduk di SSWP IV Kabupaten Flores Timur Tahun 2007-2027
Tahun Proyeksi (Jiwa/Ha) Wilayah yan dilayani 2007 - 2012 2013 - 2017 2018 - 2022 2023 - 2027 Witihama 206 211 242 257 Adonara 203 218 242 263 Klubagolit 200 205 235 249 Rata-rata 203 211 240 256
Sumber : Hasil Analisa
Tabel 5.16
Rencana Distribusi Kepadatan Penduduk di SSWP V Kabupaten Flores Timur Tahun 2007-2027
Tahun Proyeksi (Jiwa/Ha) Wilayah yan
dilayani 2007 - 2012 2013 - 2017 2018 - 2022 2023 - 2027
Solor Timur 202 207 239 255
Solor Barat 86 88 101 107
Rata-rata 144 148 170 181
Sumber : Hasil Analisa
5.2.3. Ketenagakerjaan
Ditinjau dari daya serap lapangan pekerjaan yang terdapat di Kabupaten Flores Timur, prosentase daya serap lapangan pekerjaan tertinggi hingga lapangan pekerjaan yang memiliki daya serap terkecil.
Dengan melihat tabel 5.17 menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat di Kabupaten Flores Timur sebesar 26,58 % adalah pengangguran atau belum bekerja. Hal ini membuktikan bahwa tingkat pengangguran di Kabupaten Flores Timur termasuk cukup besar atau tinggi. Sektor yang akan tetap mendominasi penyerapan tanaga kerja pada masa ke depan masih pada sektor primer baik pertanian, peternakan, perkebunan serta perikanan dan kelautan.
Tabel 5.17
Prosentase Daya Serap Lapangan Pekerjaan Kabupaten Flores Timur Tahun 2006
59.803 45.741 45.434 1.158 3.124 56 157 5.263 49.497 3.262 2.375 325 8.926 - 10.0 00 20.0 00 30.0 00 40.0 00 50.0 00 60.0 00 70.0 00 Belum/Tidak Bekerja
Pengurus Rumah tangga Pelajar/Mahasiswa Pensiun PNS TNI Polri Wiraswasta Petani Nelayan Guru/Dosen Dokter/Perawat Pekerjaan Lain-lain
Arahan ke depan yaitu peningkatan sumber daya manusia agar daya serap lapangan kerja di tiap bidang dapat lebih meningkat. Upaya peningkatan sumber daya manusia diantaranya diarahkan dengan cara:
1. Peningkatan lapangan kerja yang dapat menyerap pengangguran, meliputi:
a. Pengembangan proyek padat karya, yang merupakan kegiatan dengan lingkup kegiatan sampai tingkat desa yang sifatnya massal, bergantung pada jenis proyek yang akan dialokasikan pada suatu wilayah.
b. Membuka lapangan usaha baru, dengan jenis kegiatan antara lain yaitu di bidang jasa, perangkutan, usaha di bidang pariwisata dan sebagainya.
2. Penciptaan lapangan pekerjaan dengan pengolahan bidang-bidang unggulan. 3. Peningkatan ketrampilan penduduk dengan pemberian pelatihan dan penyuluhan. 4. Penyediaan sarana pendidikan dan tempat pelatihan baik formal dan informal.
5. Pengembangan pendidikan kejuruan seperti SMK perikanan dan kelautan, SMK teknologi lahan kering dan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan akan sumberdaya manusia di masing-masing bidang ekonomi yang potensial dalam memacu perkembangan wilayah dan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya.
5.2.4. Arahan Aspek Sosial-Budaya
Di wilayah Kabupaten Flores Timur yang sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan perdesaan, peran serta masyarakat dalam pembangunan umumnya tidak mengutamakan kepentingan pribadi atau bersifat pamrih. Aktifitas pembangunan lebih bersifat kebersamaan dan kegotongroyongan. Sedangkan kemampuan berinvestasi
masyarakat dalam wilayah ini lebih cenderung berorientasi pada bidang-bidang primer seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan sejenisnya, di mana bidang-bidang tersebut membutuhkan waktu relatif lama untuk menghasilkan produk yang dapat dirasakan hasilnya.
Peran masyarakat pada wilayah Kabupaten Flores Timur intensitasnya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial budaya. Jenis-jenis kegiatan masyarakat yang dapat mempengaruhi peran serta masyarakat dalam pembangunan adalah sebagai berikut :
• Masih banyaknya kegiatan yang bersifat gotong-royong.
• Faktor sosial budaya masyarakat memegang peranan penting dalam setiap pengambilan keputusan, baik dalam penentuan jenis bidang yang akan dibangun/dikembangkan maupun dalam penentuan lokasi pembangunan.
• Jenis kegiatan yang dilakukan tidak bersifat pamrih.
• Hubungan kekerabatan masih tinggi, yang ditandai oleh saling kenalnya satu sama lain, saling tegur dan sebagainya.
• Masih terjaganya jenis kegiatan seperti: kerja bakti, pembangunan rumah, pembangunan tempat ibadah, pembangunan fasilitas umum, peringatan hari besar agama, yang dilaksanakan secara bergotong royong.
• Adanya Tokoh masyarakat yang berpengaruh meliputi rohaniwan (misal pastor, suster), kepala pemerintahan setempat, guru, pemuka adat dan lainnya.
Arahan kedepan dengan tetap mempertahankan dan mengembangkan aspek budaya penduduk yang ada yaitu sistem kekeluargaan dan kekerabatan yang sangat tinggi di Kabupaten Flores Timur melalui:
1. Budaya “Kumpo kampo” diterjemahkan sebagai budaya saling tolong menolong
2. System adat “Lamahalot”, praktek kehidupan sehari-hari saling tolong menolong
3. Tradisi “gahing kenahing”, saling menghargai kehidupan dan saling toleransi. 4. Tradisi “gemohing”, saling tolong menolong.
5.3. RENCANA POLA RUANG
5.3.1. Rencana Penetapan Kawasan Lindung
Berdasarkan SK Mentan No : 837/ KPTS/um/ 11/1980 dan No: 887/KPTS/um/1980, dan Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.
Kriteria kawasan hutan lindung adalah:
a) Kawasan Hutan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis tanah, curah hujan yang melebihi nilai skor 175, dan/atau;
b) Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% atau lebih dan/atau
c) Kawasan Hutan yang mempunyai ketinggian diatas permukaan laut 2.000 meter atau lebih.
Kawasan lindung sebagaimana dimaksud diatas meliputi kawasan yang memberikan perlindungan Kawasan Bawahannya, Kawasan Perlindungan setempat, Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya, dan Kawasan Rawan Bencana Alam. Untuk jelasnya lihat peta 5.4, peta 5.5, peta 5.6, dan peta 5.7.
A. Kawasan Perlindungan Bawahannya
Kawasan perlindungan bawahannya adalah kawasan yang perlu dilindungi dan dilestarikan karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap sumber alam di bawahnya di mana sumber alam tersebut merupakan unsur penting sebagai penyangga kehidupan. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud diatas terdiri dari Kawasan Hutan Lindung, Kawasan Bergambut, Kawasan Resapan Air.
1. Kawasan Hutan Lindung
Kawasan lindung adalah suatu kawasan yang keadaan dan sifat fisiknya mempunyai fungsi lindung untuk kelestarian sumber daya alam, air, flora dan fauna. Kawasan lindung yang biasa disebut dengan kawasan preservasi menempatkan bagian
wilayah yang mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap gangguan dan mempunyai peranan yang besar bagi kelestarian lingkungan hidup.
Berdasarkan kriteria kawasan lindung diatas, arahan penyebaran lokasi kawasan lindung berada di 18 kecamatan Kabupaten Flores Timur dengan luas 27.996,56 Ha atau sekitar 15 % dari luas wilayah Kabupaten Flores Timur. Maka untuk rencana penetapan kawasan lindung di Kabupaten Flores Timur sebesar 28,027.21 Ha.
2. Kawasan Bergambut
Kawasan ini berfungsi untuk perlindungan mengendalikan hidrologi wilayah, yaitu sebagai penghambat air dan pencegah banjir serta melindunggi ekosistem yang khas di kawasan bergambut. Kriteria tanah bergambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai. Untuk jenis kawasan ini tidak terdapat di Kabupaten Flores Timur.
3. Kawasan Resapan Air
Kawasan resapan air pada dasarnya memiliki fungsi sebagai kawasan lindung terbatas atau sebagai kawasan lindung lainnya. Kawasan resapan air ini dapat berupa perkebunan tanaman tahunan ataupun hutan. Kawasan ini dapat dikembangkan sebagai areal perkebunan tanaman keras yang dimanfaatkan adalah hasil buah bukan kayunya seperti tanaman buah-buahan, sehingga masih tetap memiliki fungsi lindung.
Kawasan ini diarahkan pada wilayah yang memiliki kelerengan 25-40 %, dan diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai kawasan perlindungan bawahannya. Masing-masing wilayah diarahkan memiliki pengembangan sendiri sejauh sesuai dengan
karakter tanah dan potensi ekonomi masing–masing wilayah. Kawasan resapan air dapat dikembangkan di seluruh kecamatan sekaligus membantu supply dan meningkatkan volume air tanah.
Kawasan yang berfungsi untuk perlindungan memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air di Kabupaten Flores Timur tersebar di Kecamatan Ile Mandiri seluas 342.68 Ha, Kecamatan Adonara Barat seluas 216.69 Ha, Kecamatan Adonara seluas 792.66 Ha dan Kecamatan Klubagolit seluas 212.44 Ha.
B. Kawasan Perlindungan Setempat
Kawasan yang berfungsi untuk melindungi kelestarian suatu manfaat atau suatu fungsi tertentu, baik yang merupakan bentukkan alami maupun buatan. Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud di atas terdiri dari Sempadan Pantai, Sempadan Sungai, Kawasan Sekitar Danau/Waduk dan Kawasan Sekitar Mata Air.
1. Kawasan Sempadan Pantai
Sempadan pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Jenis kawasan perlindungan setempat sempadan pantai di Kabupaten Flores Timur terdapat di Kecamatan Wulanggitang, Kecamatan Ile Bura, Kecamatan Titehena, Kecamatan Lewolema, Kecamatan Demong Pagong, Kecamatan Tanjung Bunga, Kecamatan Larantuka, Kecamatan Ile Mandiri, Kecamatan Adonara Timur, Kecamatan Adonara Barat, Kecamatan Witihama, Kecamatan Ile Boleng, Kecamatan
Wotan Ulumado, Kecamatan Adonara, Kecamatan Solor Timur dan Kecamatan Solor Barat.
Dikarenakan di Kabupaten Flores Timur termasuk wilayah yang rawan bencana tsunami, maka penentuan sempadan pantai di Flores Timur diarahkan sesuai dengan bentuk morfologi pantai, yaitu minimal 100 meter sampai radius wilayah dengan tingkat keamanan bebas tsunami yang lebarnya proposional dengan bentuk dan kondisi fisik dari titik pasang tertinggi ke arah darat.