• Tidak ada hasil yang ditemukan

Intervensi Keperawatan

Dalam dokumen AWITA NUR FATIMAH NIM.P14066 (Halaman 70-0)

BAB III METODE STUDI KASUS

4.5 Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan

RENCANA/ INTERVENSI KEPERAWATAN

Tujuan Intervensi

KLIEN 1 Resiko perilaku

kekerasan

Tujuan Umum:

Setelah dilakukan tindakan keperatawan selama 5 x pertemuan di harapkan klien dapat mengontrol perilaku kekerasan.

Tujuan Khusus:

1. Klien dapat membina hubunagn saling percaya.

2. Klien dapat

mengidentifikasi

penyebab perilaku kekerasan.

3. Klien dapat menyebutkan tanda dan gejala perilaku kekerasan.

4. Klien dapat

mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

5. Klien dapat

mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

6. Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan.

7. Klien mampu

mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan nafas dalam, pukul bantal/

kasur, secara verbal, secara spiritual.

8. Klien mendapat dukungan

keluarga dalam

mengontrol perilaku kekerasan.

9. klien dapat menggunakan obat-obatan yang

diminum dan

kegunaannya (jenis, waktu, dosis dan efek).

SP 1:

1. Bina hubungan saling percaya.

2. Identifikasi penyebab marah.

3. Identifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan.

4. Identifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

5. Identifikasi akibat perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

6. Identifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.

7. Latih cara kontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 1 (nafas dalam).

8. Bimbing klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP 2:

1. Evaluasi kemampuan klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 1 (nafas dalam).

2. Latih cara kontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 2 (pukul bantal/ kasur).

3. Bimbing klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP 3:

1. Evaluasi kemampuan klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 1 (nafas dalam) dan fisik 2 (pukul bantal /kasur).

2. Latih cara kontrol perilaku kekerasan dengan cara verbal.

3. Bimbing klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP 4:

1. Evaluasi kemampuan klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 1 (nafas dalam), fisik 2 (pukul bantal /kasur), cara verbal.

2. Latih cara kontrol perilaku kekerasan dengan cara

spiritual.

3. Bimbing klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP 5:

1. Evaluasi kemampuan klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 1 (nafas dalam), fisik 2 (pukul bantal /kasur), cara verbal, cara spiritual.

2. Latih cara kontrol perilaku kekerasan dengan minum obat teratur.

3. Bimbing klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

KLIEN 2 Resiko perilaku

kekerasan

Tujuan Umum:

Setelah dilakukan tindakan keperatawan selama 5 x pertemuan di harapkan klien dapat mengontrol perilaku kekerasan.

Tujuan Khusus:

1. Klien dapat membina hubunagn saling percaya.

2. Klien dapat

mengidentifikasi

penyebab perilaku kekerasan.

3. Klien dapat menyebutkan tanda dan gejala perilaku kekerasan.

4. Klien dapat

mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

5. Klien dapat

mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

6. Klien dapat menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan.

7. Klien mampu

mempraktekkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan nafas dalam, pukul bantal/

kasur, secara verbal, secara spiritual.

8. Klien mendapat dukungan

keluarga dalam

mengontrol perilaku SP 1:

1. Bina hubungan saling percaya.

2. Identifikasi penyebab marah.

3. Identifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan.

4. Identifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

5. Identifikasi akibat perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

6. Identifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.

7. Latih cara kontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 1 (nafas dalam).

8. Bimbing klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP 2:

1. Evaluasi kemampuan klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 1 (nafas dalam).

2. Latih cara kontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 2 (pukul bantal/ kasur).

3. Bimbing klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP 3:

1. Evaluasi kemampuan klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 1 (nafas dalam) dan fisik 2 (pukul bantal /kasur).

kekerasan.

9. Klien dapat menggunakan obat-obatan yang

diminum dan

kegunaannya (jenis, waktu, dosis dan efek).

2. Latih cara kontrol perilaku kekerasan dengan cara verbal.

3. Bimbing klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP 4:

1. Evaluasi kemampuan klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 1 (nafas dalam), fisik 2 (pukul bantal /kasur), cara verbal.

2. Latih cara kontrol perilaku kekerasan dengan cara spiritual.

3. Bimbing klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

SP 5:

1. Evaluasi kemampuan klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 1 (nafas dalam), fisik 2 (pukul bantal /kasur), cara verbal, cara spiritual.

2. Latih cara kontrol perilaku kekerasan dengan minum obat teratur.

3. Bimbing klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

4.6 Penatalaksanaan

1. Mengevaluasi kemampuan

cara fisik 1 (nafas dalam).

8. Membim bing klien memasuk kan dalam jadwal kegiatan harian.

KLIEN2

2. Melatihcara kontrol

4.7 Evaluasi latihan tarik nafas latihan tarik nafas dalam

berbincang 15 menit.”

“saya sudah latihan tarik nafas dalam, berlatih cara mengontrol sebaiknya saya langsung istighfar.”

“saya harus lebih rajin solat agar tenang dan tidak mudah marah.”

“saya akan lakukan solat sesuai jadwal solat setiap

lanjutkan SP5P tanggal 27 Mei jam 08.30.

Klien: motivasi klien untuk solat 5 waktu, tepat waktu.

S:

“kita

berbincang 10 menit saja.”

“saya sudah latihan tarik nafas dalam, manfaat minum obat teratur yaitu agar tidak kambuh.” supaya pikiran saya tenang dan tidak marah-marah lagi.”

“yang warna putih namanya

THP dan sesuai jadwal dan teratur.”

“saya akan meminum obat setelah makan siang dan makan malam.”

O:

Klien tengang,

pagi. latihan tarik nafas dalam

evaluasi semua SP

Klien: motivasi klien untuk minum obat secara teratur dan tepat

berbincang 15 menit.”

“saya tadi sudah latihan tarik nafas berlatih cara mengontrol

berbincang 10 menit saja.”

“saya sudah latihan tarik nafas dalam, manfaat minum obat teratur yaitu agar tidak kambuh dan

marah dan latihan tarik nafas dalam latihan tarik nafas dalam

diajarkan cara berwudhu dan buatkan catatan bacaan solat agar saya bisa belajar solat.”

“saya mau dilatih tatacara solat yang benar.”

“sekarang saya sudah bisa

lanjutkan SP5P tanggal 27 Mei jam 09.00.

Klien: motivasi klien untuk supaya pikiran saya tenang dan tidak marah-marah lagi.”

“yang warna putih namanya THP, supaya saya rileks dan tidak tegang.”

“saya akan meminum obat sesuai jadwal dan teratur.”

“saya akan meminum obat setelah makan siang dan makan malam.”

O:

Klien tengang, kooperatif.

A:

SP5P tercapai P:

Perawat:

evaluasi semua SP

Klien: motivasi klien untuk minum obat secara teratur dan tepat waktu.

66

PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis akan membahas tentang perbandingan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus yang disajikan untuk menjawab tujuan khusus.

5.1 Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Direja, 2011). Format pengkajian meliputi aspek-aspek identitas klien, alasan masuk, faktor predisposisi, fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan dan aspek medik. Format pengkajian ini dibuat agar semua data relevan tentang semua masalah klien saat ini, lampau atau potensial didapatkan sehingga diperoleh suatu data dasar yang lengkap (Damaiyanti dan Iskandar, 2012).

Pengkajian yang dilakukan oleh penulis pada tanggal 23 Mei 2017 didapatkan data identitas 2 klien yaitu klien 1 bernama Sdr.R, usia 18 tahun, berjenis kelamin laki-laki, klien masuk rumah sakit pada tanggal 1 Mei 2017. Sedangkan klien 2 bernama Tn.SR, usia 40 tahun, berjenis kelamin laki-laki, klien masuk rumah sakit pada tanggal 14 Mei 2017, kedua klien di rawat di bangsal gatotkaca.

Alasan masuk Sdr.R yaitu sering marah-marah, merusak barang-barang rumah tangga, sering mengamuk. Sedangkan alasan Tn.SR dibawa ke rumah sakit jiwa karena marah-marah tanpa sebab, suka membanting barang, suka mengancam orang lain, sering mondar-mandir dan bingung.

Hal ini sesuai dengan tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan yaitu: suka marah, pandangan mata tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat, sering memaksakan kehendak, gelisah, mondar-mandir, tidak dapat duduk tenang, merusak lingkungan, mengamuk (Prabowo, 2014).

Faktor predisposisi perilaku kekerasan terdapat beberapa teori yang menjadi penyebab munculnya perilaku kekerasan, salah satunya dari segi psikologis (Prabowo, 2014). Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada anak dapat menimbulkan berbagai persoalan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek seperti: ancaman terhadap keselamatan hidup anak, merusak struktur keluarga, munculnya berbagai gangguan mental. Sedangkan dalam jangka panjang memunculkan potensi anak terlibat dalam perilaku kekerasan dan pelecehan dimasa depan, baik sebagai pelaku maupun korbannya (Margaretha et al. 2013). Berdasarkan teori yang telah disampaikan tersebut sama dengan data pengkajian faktor predisposisi yang ditemukan pada Sdr.R dimana klien pernah menjadi korban KDRT pada usia 12 tahun karena klien tidak mau melanjutkan sekolahnya dan klien pernah melakukan aniaya fisik terhadap bapaknya karena klien dilarang balapan motor. Menurut Direja (2011), faktor yang berhubungan dengan masalah perilaku kekerasan dapat terjadi karena stimulus lingkungan dan putus obat, hal ini sama dengan data pengkajian

faktor predisposisi yang ditemukan pada Tn.SR dimana klien pernah mengalami gangguan jiwa setahun yang lalu dan pengobatan sebelumnya kurang berhasil karena klien tidak rutin kontrol dan kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu untuk mencukupi biaya perawatan dan pengobatan klien.

Menurut Direja (2011), dalam pengkajian faktor presipitasi yaitu seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam, baik berupa injuri secara fisik, psikis atau ancaman konsep diri. Faktor pencetus perilaku kekerasan antara lain kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, masa lalu yang tidak menyenangkan, penghinaan, kehilangan orang yang berarti, kesulitan kondisi sosial ekonomi, permasalahan diri klien sendiri maupun faktor eksternal dari lingkungan. Dari pengkajian Sdr.R didapatkan datafaktor terjadinya gangguan jiwa yaitu pacar klien direbut oleh temannya sendiri. Sedangkan dari Tn.SR didapatkan data faktor terjadinya gangguan jiwa yaitu klien di PHK dari tempat kerjanya.

Konsep diri di definisikan sebagai semua pikiran, keyakinan, dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya yang mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan realitas dunia. Harga diri (self esteem) merupakan penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri.

Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berasal dari peneriman diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan, dan kegagalan, tetap merasa seseorang yang penting dan berharga. Harga diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap dirinya sendiri termasuk kehilangan percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, pesimis, tidak ada harapan dan putus asa (Stuart, 2006 dalam Gumilar, 2016).

Menurut Towsend (1998 dalam Nengsi, 2014), harga diri rendah adalah perilaku negatif terhadap diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif, yang dapat diekspresikan secara langsung maupun tak langsung. Harga diri klien yang rendah menyebabkan klien merasa malu, dianggap tidak berharga dan berguna. Klien kesal kemudian marah dan kemarahan tersebut diekspresikan secara tak konstruktif, seperti memukul orang lain, membanting-banting barang atau mencederai diri sendiri. Berdasarkan teori yang telah disampaikan tersebut sama dengan data pengkajian konsep diri harga diri yang ditemukan pada kasus klien Sdr.R yaitu klien merasa kurang diterima di masyarakat karena klien sering mengamuk. Sedangkan pada kasus Tn.SR yaitu selama dirumah klien merasa malu dan minder karena dianggap orang stress, klien lebih senang menyendiri dirumah, dan klien selalu merasa bahwa dirinya selalu merepotkan kedua orang tuanya.

Menurut Achlis (2011 dalam Fauziah & Latipun, 2016) keberfungsian sosial merupakan kemampuan individu melaksanakan tugas dan perannya dalam berinteraksi dengan situasi sosial tertentu yang bertujuan mewujudkan nilai diri untuk mencapai kebutuhan hidup. Terdapat

beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberfungsian sosial individu yaitu, adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi, individu mengalami frustasi dan kekecewaan, keberfungsian sosial juga dapat menurun akibat individu mengalami gangguan kesehatan, rasa duka yang berat, atau penderitaan lain yang disebabkan bencana alam (Ambari, 2010 dalam Fauziah & Latipun, 2016). Berdasarkan teori yang telah disampaikan tersebut sama dengan data pengkajian hubungan sosial yang ditemukan pada kasus kedua klien yaitu klien tidak mempunyai peran serta dalam kegiatan kelompok masyarakat karena klien malu jika dirinya dianggap orang stress sehingga klien tidak mau bergaul. Hambatan yang dialami kedua klien untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain yaitu masyarakat mengucilkan klien karena dirinya sering mengamuk dan klien merasa bahwa orang lain tidak suka dengannya.

Data yang didapat dari pengkajian spiritual, kedua klien mengatakan beragama islam, tetapi terdapat perbedaan pada kegiatan ibadah pada masing-masing klien yaitu Sdr.R rajin beribadah dengan solat 5 waktu, sedangkan Tn.SR tidak pernah beribadah. Penelitian psikiatrik membuktikan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara komitmen agama dan kesehatan. Orang yang sangat religius dan taat menjalankan ajaran agamanya relatif lebih sehat dan atau mampu mengatasi penderitaan penyakitnya sehingga proses penyembuhan penyakit lebih cepat (Zainul Z, 2007 dalam Sulistyowati & Prihantini, 2015).

Pada pengkajian status mental, data yang bermasalah pada kedua klien antara lain: penampilan, pembicaraan, aktifitas motorik, alam

perasaan, afek, interaksi selama wawancara, proses pikir, tingkat kesadaran dan disorientasi, memori. Penampilan kedua klien terlihat tidak rapi. Klien terlihat selalu menggunakan baju yang sama setiap hari, terkadang di dobel dengan baju dari rumah sakit. Adanya hubungan antara resiko perilaku kekerasan dengan penurunan kemampuan perawatan diri klien. Fungsi fisiologis pasien seperti halnya kemampuan melakukan perawatan diri sering kali terpengaruh akibat adanya masalah emosional. Akibat masalah emosional, seseorang menjadi malas makan, malas mandi, malas berganti baju/ berhias (Jalil, 2015).

Pembicaraan, cara bicara kedua klien keras dan nada suara tinggi.

Aktivitas motorik kedua klien sama yaitu terlihat tegang, gelisah, mondar-mandir, tidak dapat duduk tenang, sering berpindah tempat duduk. Alam perasaan, Sdr. R merasa sedih karena tidak mempunyai teman sedangkan Tn.SR merasa sedih karena tidak bisa bekerja. Afek kedua klien labil, emosi mereka berubah dengan cepat. Interaksi selama wawancara, saat berinteraaksi dengan kedua klien, mereka mudah tersinggung, curiga, pandangan mata tajam, dan memberi kata-kata ancaman ingin memukul dan melukai. Proses pikir, Sdr. R tidak mengalami sirkumtansial maupun tangensial, pembicaraan klien jelas, tidak terbelit-belit, sampai pada tujuan pembicaraan. Sedangkan Tn. SR mengalami sirkumtansial, saat wawancara, pembicaraan klien terbelit tetapi sampai pada tujuan pembicaraan.

Tingkat kesadaran dan disorientasi, tingkat kesadaran kedua klien yaitu sadar penuh, tetapi Tn. SR mengalami disorientasi tempat dan waktu, saat ditanya nama ruangan dan hari, tanggal klien tidak bisa menjawab.

Sedangkan Sdr.R tidak mengalami disorientasi, klien mampu mengingat dan dapat menyebutkan nama tempat dan waktu. Memori, Sdr.R tidak mengalami gangguan daya ingat, sedangkan Tn.SR mengalami gangguan daya ingat jangka panjang, saat di tanya tanggal masuk rumah sakit, siapa yang membawa ke rumah sakit jiwa, klien tidak bisa menjawab.

Perencanaan pulang merupakan bagian penting dari program pengobatan klien yang dimulai dari saat klien masuk rumah sakit. Hal ini merupakan proses yang menggambarkan usaha kerjasama antara tim kesehatan, keluarga, klien, dan orang yang penting bagi klien (Yosep, 2007). Pengkajian kebutuhan persiapan pulang, didapatkan data sebagai berikut: Makan, kedua klien makan 3x sehari dengan menu yang disediakan dari rumah sakit, klien mampu makan secara mandiri dan klien selalu mencuci piringnya setelah selesai makan.

BAB/ BAK, kedua klien mampu melakukan BAB/ BAK secara mandiri. Mandi, Sdr.R dapat mandi secara mandiri, sedangkan Tn.SR membutuhkan bantuan minimal untuk di motivasi, selesai mandi terkadang klien lupa dan malas untuk mengeringkan badannya dengan handuk.

Berpakaian/ berhias, kedua klien membutuhkan bantuan minimal dalam berpakaian karena klien harus di motivasi untuk ganti baju, dan memotivasi klien agar tidak menggunakan baju dobel-dobel, cukup menggunakan 1 baju yang bersih.

Istirahat dan tidur, kedua klien tidur siang selama 1-2 jam, tidur malam selama 7-8 jam, tidak ada aktivitas khusus sebelum atau sesudah tidur. Dalam penggunaan obat, kedua klien membutuhkan bantuan minimal

yaitu klien harus diingatkan untuk meminum obatnya, klien diberi obat 2x sehari. Pemeliharaan kesehatan dan sistem dukungan, kedua klien berusaha untuk rutin minum obat dan kontrol, klien mendapat dukungan penuh dari keluarga. Aktivitas didalam rumah, Sdr.R mampu menjaga kerapian ruangan dengan cara menyapu jika ada kotoran, klien juga selalu mencuci piring setelah selesai makan. Klien mengatakan nanti kalau sudah pulang ke rumah, dia akan membantu pekerjaan orang tuanya seperti mencuci baju, menyapu rumah ataupun lainnya. Tn.SR ,saat di rumah sakit, klien selalu mencuci piring setelah selesai makan. Aktivitas di luar rumah, Sdr.R saat di rumah sakit, klien rajin mengikuti rehabilitasi setiap pagi, klien mengatakan jika sudah pulang ke rumah nanti klien akan melanjutkan sekolahnya.

Tn.SR saat di rumah sakit, klien tidak mengikuti rehabilitasi karena belum di ijinkan dokter, klien mengatakan jika sudah pulang ke rumah nanti klien akan mencari pekerjaan.

Pengkajian mekanisme koping kedua klien yaitu maladapif, klien mengatakan jika mempunyai masalah klien langsung marah-marah, jika sudah tidak tahan lagi klien kemudian mengamuk atau merusak barang yang ada di sekitar nya. Perawat perlu mengidentifikasi mekanisme koping klien sehingga dapat membantu klien untuk mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif dalam mengekspresikan marahnya (Dermawan & Rusdi, 2013).

Pengkajian masalah psikososial dan lingkungan, Sdr.R mempunyai masalah dengan lingkungan, klien mengatakan semenjak dirinya marah-marah dan mengamuk, lingkungan masyarakat tidak mau menerima klien

dan hal ini membuat klien lebih senang menyendiri. Masalah dengan pendidikan, klien mengatakan pernah tidak mau melanjutkan sekolah.

Tn.SR mempunyai masalah dengan lingkungan, klien mengatakan setelah klien di PHK, klien jarang bergaul dengan tetangganya. Masalah dengan pekerjaan, klien mengatakan sudah di PHK dari tempat kerjanya dan sampai sekarang klien menjadi pengangguran. Masalah ekonomi, semenjak klien di PHK, klien dan keluarganya sangat kekurangan dalam hal ekonomi.

Masalah psikososial dan lingkungan pasien dapat mempengaruhi diagnosis, penanganan, serta prognosis gangguan mental. Masalah psikososial dan lingkungan dapat berupa pengalaman hidup yang tidak baik, kesulitan atau defisiensi lingkungan, stres interpersonal ataupun familial, kurangnya dukungan sosial atau penghasilan pribadi, ataupun masalah lain yang berkaitan dengan kesulitan seseorang untuk dapat berkembang (Lubis, dkk, 2016).

Pengkajian tentang pengetahuan, Sdr.R tidak mengetahui tentang penyakit jiwa. Tn.SR tidak mengetahui tentang penyakit jiwa, koping dan obat-obatan. Aspek medik, diagnosa medis kedua klien yaitu skizofrenia tak terinci F.20.3. Terapi medis yang di berikan kepada Sdr.R yaitu Risperidon 2x2mg, Trihexyphenidyl (THP) 2x2mg, Chlorpromazine (CPZ) 2x100mg.

Terapi medis yang di berikan kepada Tn.SR yaitu Trihexyphenidyl (THP) 2x2mg, Chlorpromazine (CPZ) 1x100mg.

Trihexyphenidyl (THP) merupakan jenis obat pada pengobatan segala bentuk parkinson karena pengaruh obat untuk susunan syaraf, efek

sampingnya adalah mulut kering, pusing, mual, muntah, bingung, takikardi (Elin, 2014).

Chlorpromazine (CPZ) adalah obat yang termasuk golongan antispikotik generasi pertama (tipikal), obat ini digunakan untuk menangani berbagai gangguan mental seperti skizofrenia dan gangguan psikosis yang lainnya, perilaku agresif yang membahayakan pasien atau orang lain, kecemasan, kegelisahan yang parah. Kebanyakan antipsikotik golongan tipikal mempunyai afinitas tinggi dalam menghambat reseptor dopamin 2, hal inilah yang diperkirakan menyebabkan reaksi ekstrapiramidal yang kuat.

Golongan antipsikotik tipikal umumnya hanya berespons untuk gejala positif. Selain itu antipsikotik tipikal juga memiliki tempat dalam manajemen psikosis, antara lain untuk pasien yang kurang mampu atau pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan antipsikotik tipikal tanpa efek samping yang berarti (Irwan, dkk, 2008).

Risperidon merupakan antispikotik generasi kedua (atipikal) yang diindikasikan untuk terapi skizofrenia baik untuk gejala negatif maupun positif. Obat golongan atipikal pada umumnya mempunyai afinitas yang lemah terhadap dopamin 2, selain itu juga memiliki afinitas terhadap reseptor dopamin 4, serotonin, histamin, reseptor muskarinik dan reseptor alfa adrenergik. Untuk efek samping ekstrapiramidal umumnya lebih ringan dibandingkan dengan antipsikosis tipikal atau antipsikotik generasi pertama (FKUI, 2007 dalam Yulia, dkk 2013). Antipsikotik golongan atipikal merupakan terapi pilihan untuk penderita skizofrenia serangan pertama

karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardivedyskinesia dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol lebih rendah (Irwan, dkk, 2008).

Penggunaan kombinasi antipsikotik generasi pertama (tipikal) dan antipsikotik generasi kedua (atipikal) merupakan kombinasi yang paling banyak diberikan, karena antipsikotik generasi pertama dapat memperbaiki gejala positif dari skizofrenia, namun umumnya tidak memperbaiki gejala negatif. Sedangkan antipsikotik generasi kedua dapat memperbaiki gejala positif dan negatif dari skizofrenia dan lebih efektif mengobati pada pasien yang resisten (upaya untuk melawan) (Yulianty, dkk, 2017).

Terdapat perbedaan dalam terapi medis. Pada Sdr.R diberi obat risperidon karena klien baru pertama kali di rawat di rumah sakit jiwa. Hal ini sesuai dengan teori bahwa antipsikotik golongan atipikal merupakan terapi pilihan untuk penderita skizofrenia serangan pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal, sedangkan Tn.SR tidak di beri obat risperidon karena klien sudah mengalami kemajuan yang pesat dengan menggunakan Chlorpromazine (antipsikotik tipikal) tanpa efek samping yang berarti.

Lama perawatan merupakan salah satu unsur yang digunakan untuk melihat dan mengukur seberapa efektif dan efisiennya pelayanan kesehatan jiwa yang telah diberikan kepada pasien (Mirza, dkk, 2015). Klien yang dirawat di rumah sakit jiwa mempunyai rata-rata lama hari rawat yang tinggi yaitu 54 hari dan klien yang paling lama dirawat adalah skizofrenia yaitu 65 hari (DepKes, 2000 dalam Budi, 2003). Menurut Boyd dan Nikart

(1998, dalamBudi, 2003) pembagian lama rawat klien dengan skizofrenia dibagi menjadi 4 (empat) yaitu brief short term (< 7 hari), very short term

(1998, dalamBudi, 2003) pembagian lama rawat klien dengan skizofrenia dibagi menjadi 4 (empat) yaitu brief short term (< 7 hari), very short term

Dalam dokumen AWITA NUR FATIMAH NIM.P14066 (Halaman 70-0)

Dokumen terkait