PEMBERIAN STRATEGI PELAKSANAAN 1 SAMPAI 5 DI RUANG GATOTKACA RUMAH SAKIT JIWA
DAERAH DR. ARIF ZAINUDIN SURAKARTA
DI SUSUN OLEH:
AWITA NUR FATIMAH NIM.P14066
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2017
i
PEMBERIAN STRATEGI PELAKSANAAN 1 SAMPAI 5 DI RUANG GATOTKACA RUMAH SAKIT JIWA
DAERAH DR. ARIF ZAINUDIN SURAKARTA
Karya Tulis Ilmiah
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Diploma Tiga Keperawatan
DI SUSUN OLEH :
AWITA NUR FATIMAH NIM.P14066
PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2017
ii
iii
Kesuksesan hanya dapat diraih dengan segala upaya dan usaha yang disertai dengan doa, karena sesungguhnya nasib seseorang manusia tidak akan berubah dengan sendirinya tanpa berusaha dan percayalah usaha tidak akan mengkhiyanati hasil.
iv
v
vi
vii
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Sdr. R dan Tn. SR yang Mengalami Resiko Perilaku Kekerasan Dengan Pemberian Strategi Pelaksanaan 1 Sampai 5 di Ruang Gatotkaca Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainudin Surakarta”
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:
1. Ns. Wahyu Rima Agustin M.Kep, selaku Ketua STIKes yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes Kusuma Husada Surakarta.
2. Ns. Meri Oktariani M.Kep, selaku Ketua Program Studi D3 Keperawatandan selaku penguji yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di Stikes Kusuma Husada Surakarta.
3. Ns. Erlina Windyastuti. M.Kep, selaku sekretaris Program Studi D3 Keperawatan yang telah memberikan kesempatan dan arahan untuk dapat menimba ilmu di Stikes Kusuma Husada Surakarta.
4. Ns. Joko Kismanto S.Kep, selaku dosen pembimbing sekaligus sebagai penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan- masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.
5. Semua dosen Program Studi D3 Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasannya serta ilmu yang bermanfaat.
6. Kedua orangtuaku yang selaku menjadi inspirasi dan memberikan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.
viii
satu-persatu, yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual.
Semoga laporan studi kasus ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu keperawatan dan kesehatan. Amin.
Surakarta, 20 Juli 2017
Penulis
ix
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN TIDAK PLAGIATISME ... ii
MOTTO ... iii
LEMBAR PERSETUJUAN ... iv
LEMBAR PENETAPAN DEWAN PENGUJI ... v
LEMBAR PENGESAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ... 1
1.2 Batasan Masalah ... 4
1.3 Rumusan Masalah ... 5
1.4 Tujuan ... 5
1.5 Manfaat ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Perilaku Kekerasan ... 8
2.1.1 Definisi ... 8
2.1.2 Rentang Respon Marah ... 9
2.1.3 Tanda dan Gejala ... 11
2.1.4 Faktor Risiko ... 12
2.1.5 Etiologi ... 13
2.1.6 Proses Terjadinya Amuk ... 15
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan ... 16
2.2.1 Pengkajian ... 16
2.2.2 Diagnosis ... 22
2.2.3 Rencana Keperawatan ... 22
2.2.4 Implementasi Keperawatan ... 37
2.2.5 Evaluasi ... 39
BAB III METODE STUDI KASUS 3.1 Desain Studi Kasus... 41
3.2 Batasan Istilah ... 41
3.3 Partisipan ... 42
3.4 Lokasi dan Waktu... 42
3.5 Pengumpulan Data ... 42
3.6 Uji Keabsahan Data ... 43
3.7 Analisa Data ... 44
3.8 Kesimpulan... 44
x
4.3 Analisa Data ... 54
4.4 Diagnosa Keperawatan ... 56
4.5 Intervensi Keperawatan ... 57
4.6 Implementasi ... 60
4.7 Evaluasi ... 63
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pengkajian ... 66
5.2 Diagnosa Keperawatan ... 77
5.3 Intervensi Keperawatan ... 78
5.4 Implementasi ... 80
5.5 Evaluasi ... 88
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan... 92
6.2 Saran ... 94 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xi
Halaman 1. Gambar 2.1 Rentang respon marah ... 9 2. Gambar 2.2 Pohon masalah ... 22 3. Gambar 2.3 Rangkaian Intervensi Manajemen Perilaku Kekerasan .. 35
xii Lampiran 1. Daftar riwayat hidup
Lampiran 2. Lembar konsultasi Lampiran 3. Lembar audience
Lampiran 4. Jurnal
1 1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan kondisi sehat baik secara fisik, mental, sosial maupun spiritual yang mengharuskan setiap orang hidup secara produktif baik secara sosial maupun ekonomis. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dikutip dalam Direja (2011:1). Kesehatan jiwa adalah berbagai karakteristik positif yang menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan kepribadiannya. Gangguan mental atau penyakit kejiwaan adalah pola psikologis atau perilaku yang pada umumnya terkait dengan stres atau kelainan mental yang tidak dianggap sebagai bagian dari perkembangan normal manusia. Gangguan tersebut didefinisikan sebagai kombinasi afektif, perilaku, komponen kognitif atau persepsi yang berhubungan dengan fungsi tertentu pada daerah otak atau sistem saraf yang menjalankan fungsi sosial manusia. Menurut data WHO tahun 2016 (dikutip dalam Kemenkes RI, 2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia.
Di Indonesia, dengan berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial dengan keanekaragaman penduduk, maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang. Dalam UU RI No. 3 Tahun 1966 Bab III Pasal 4 Tentang Kesehatan Jiwa telah dijelaskan bahwa perawatan, pengobatan dan tempat perawatan penderita penyakit jiwa diatur
oleh Menteri Kesehatan. Data Riskesdas 2013 memunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk. Berdasarkan jumlah tersebut, 14,3% di antaranya atau sekira 57.000 orang pernah atau sedang dipasung. Angka pemasungan di pedesaan adalah sebesar 18,2%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka di perkotaan, yaitu sebesar 10,7%. Gangguan jiwa berat terbanyak di DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah.
Provinsi dengan prevalensi ganguan mental emosional tertinggi adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur.
Prevalensi gangguan jiwa di Jawa Tengah mencapai 2,3 % dari seluruh populasi yang ada (Riskesdas, 2013). Berdasarkan jumlah kunjungan masyarakat yang mengalami gangguan jiwa ke pelayanan kesehataan baik puskesmas, rumah sakit, maupun sarana pelayanan kesehatan lainnya pada tahun 2015 sebanyak 317.504. orang yang melakukan kunjungan. (Profil Kesehatan Kab/ Kota Jawa tengah Tahun 2015). Pada tahun 2010 hingga tahun 2014, angka penderita gangguan jiwa di Kota Solo mencapai ribuan penderita. Kenaikan penderita gangguan jiwa tersebut tercatat dalam jumlah kunjungan pasien di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta pada tahun 2010 terhitung sebanyak 1.543 jiwa. Sedangkan pada tahun 2011 naik menjadi 1.828 jiwa, di tahun 2012 bertambah hingga 2.151 jiwa. Jumlah
tertinggi tercatat di tahun 2013 mencapai 2.186 jiwa, sementara pada tahun 2014 jumlah pasien gangguan jiwa tercatat 1.531 jiwa (Winaryani, 2014 dikutip dalam Saputri, 2016). Kepala Instalasi Rekam Medik RSJD solo mengungkapkan bahwa pasien gangguan jiwa meningkat setiap tahunnya untuk berkunjung ke RSJD. Pasien gangguan jiwa rata – rata berumur 25 – 45 tahun. Rata – rata penderita gangguan jiwa yang datang ke RSJD mengalami fase yang sudah akut.
Gangguan jiwa yang umumnya paling banyak diderita oleh seseorang adalah gangguan jiwa skizofrenia. Skizofrenia masih menjadi permasalahan kesehatan yang cukup banyak dijumpai dalam bidang kesehatan jiwa.
Skizofrenia merupakan gangguan mental dengan ciri utama gejala psikotik, dan gejala tersebut dapat menyebabkan penderita mengalami penurunan kualitas hidup (Marchira, dkk, 2008 dikutip dalam Aedil, 2013). Sedangkan menurut PPDGJ III gangguan jiwa adalah sindrom pola perilaku seseorang yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya (impairment) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia, yaitu fungsi psikologik, perilaku, biologik, dan gangguan itu tidak hanya terletak di dalam hubungan antara orang itu tetapi juga dengan masyarakat (Maslim, 2002; Maramis, 2010 dalam Yusuf et al. 2015:8).
Penggolongan gangguan jiwa antara lain: Skizofrenia, depresi, kecemasan, gangguan kepribadian, gangguan mental organik, gangguan psikosomatik, retardasi mental, gangguan perilaku masa anak dan remaja.
Sedangkan diagnosa keperawatan yang ditetapkan adalah sebagai berikut:
Gangguan konsep diri: harga diri rendah, isolasi sosial, gangguan persepsi
sensori: halusinasi, perubahan proses pikir: waham, resiko perilaku kekerasan, defisit perawatan diri (Prabowo, 2014).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan hilangnya kendali perilaku seseorang yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Perilaku kekerasan pada diri sendiri dapat berbentuk melukai diri untuk bunuh diri atau membiarkan diri dalam bentuk penelantaran diri. Perilaku kekerasan pada orang adalah tindakan agresif yang ditujukan untuk melukai atau membunuh orang lain. Perilaku kekerasan pada lingkungan dapat berupa perilaku merusak lingkungan, melempar kaca, genting, dan semua yang ada di lingkungan. Tanda dan gejala dari perilaku kekerasan adalah mata melotot atau pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, mengumpat dengan kata-kata kotor, mengamuk, dan merasa diri benar (Yosep, 2010).
Pasien yang dibawa ke rumah sakit jiwa sebagian besar akibat melakukan kekerasan di rumah. Perawat harus jeli dalam melakukan pengkajian untuk menggali penyebab perilaku kekerasan yang dilakukan selama di rumah dan melakukan tindakan keperawatan dalam bentuk strategi pelaksanaan yaitu SP I sampai SP V serta mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan (Yusuf et al. 2015:128 ).
1.2 Batasan Masalah
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan hilangnya kendali perilaku seseorang yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Tanda dan gejala dari perilaku kekerasan adalah mata melotot atau pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, mengumpat dengan kata-kata
kotor, mengamuk, dan merasa diri benar. Dampak dari perilaku kekerasan yang muncul dapat berbentuk melukai diri untuk bunuh diri, melukai atau membunuh orang lain, merusak lingkungan. Pasien yang dibawa ke rumah sakit jiwa sebagian besar akibat melakukan kekerasan di rumah. Berdasarkan dari latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk menyusun karya tulis ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Sdr.R dan Tn.SR dengan gangguan perilaku kekerasan Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainuddin Surakarta.
1.3 Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan pada Sdr.R dan Tn.SR dengan resiko perilaku kekerasan Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainudin Surakarta?
1.4 Tujuan
1.4.1 Tujuan Umum
Melakukan asuhan keperawatan pada Sdr. R dan Tn. SR dengan resiko perilaku kekerasan Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainudin Surakarta.
1.4.2 Tujuan khusus
1) Penulis mampu melakukan pengkajian pada Sdr.R dan Tn.SR dengan resiko perilaku kekerasan Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainudin Surakarta.
2) Penulis mampu merumuskan diagnosa pada Sdr. R dan Tn. SR dengan resiko perilaku kekerasan Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainudin Surakarta.
3) Penulis mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada Sdr.R dan Tn.SR dengan resiko perilaku kekerasan Rumah Sakit Jiwa Daerah dr.
Arif Zainudin Surakarta.
4) Penulis mampu melakukan implementasi pada Sdr.R dan Tn.SR dengan resiko perilaku kekerasan Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainudin Surakarta.
5) Penulis mampu melakukan evaluasi pada Sdr.R dan Tn.SR dengan resiko perilaku kekerasan Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainudin Surakarta.
1.5 Manfaat a. Bagi penulis
Penulis dapat menambah pengetahuan dan pengalaman serta meningkatkan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan perilaku kekerasan.
b. Bagi profesi
Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan lainnya dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan perilaku kekerasan sehingga klien mendapatkan penanganan tepat dan optimal.
c. Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan yang diperlukan dalam pelaksanaan praktek pelayanan keperawatan khususnya jiwa pada gangguan perilaku kekerasan.
d. Bagi pendidikan
Sebagai sumber bacaan atau referensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan khususnya pada klien dengan gangguan perilaku kekerasan dan dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca.
8
2.1 KONSEP DASAR PERILAKU KEKERASAN
2.1.1 Definisi
Kemarahan (anger) adalah suatu emosi yang terentang mulai dari iritabilitas sampai agresivitas yang dialami oleh semua orang. Biasanya, kemarahan adalah reaksi terhadap stimulus yang tidak menyenangkan atau mengancam (Yosep, 2007:113). Kemarahan diawali oleh adanya stressor yang berasal dari internal maupun eksternal. Stressor internal seperti penyakit, hormonal, dendam sedangkan stressor eksternal bisa berasal dari ledekan, cacian, makian, hilangnya benda berharga, tertipu, dan sebagainya.
Stressor tersebut akan mengakibatkan gangguan pada sistem individu. Hal terpenting adalah bagaimana individu memaknai setiap kejadian yang menyedihkan atau menjengkelkan tersebut.
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis. Berdasarkan definisi ini maka perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu saat sedang berlangsung atau riwayat perilaku kekerasan (Dermawan dan Rusdi, 2013:94).
Perilaku kekerasan merupakan bagian dari rentang respons marah yang paling maladaptif, yaitu amuk. Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap kecemasan (kebutuhan yang tidak
terpenuhi) yang dirasakan sebagai ancaman. (Stuart dan Sundeen, 1991 dalam Yusuf et al. 2015:128). Amuk merupakan respons kemarahan yang paling maladaptif yang ditandai dengan perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai hilangnya kontrol, yang individu dapat merusak diri sendiri, orang lain, atau lingkungan (Keliat, 1991 dalam Yusuf et al.
2015:131).
2.1.2 Rentang Respon Marah
Rentang respon kemarahan individu dimulai dari respon normal (asertif) sampai pada respon sangat tidak normal (maladaptif) (Yosep, 2010 dalam Damaiyanti dan Iskandar, 2012:95).
Respon Adaptif Respon Maladaptif
Asertif Frustasi Pasif Agresif Kekerasan
Klien mampu mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberikan kelegaan.
Klien gagal mencapai tujuan kepuasan/saat marah dan tidak dapat
menemukan alternatifnya.
Klien merasa tidak dapat mengungkapkan perasaannya, tidak berdaya dan menyerah.
Klien
mengekspresikan secara fisik, tetapi masih terkontrol, mendorong orang lain dengan ancaman.
Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat dari hilang kontrol, disertai amuk, merusak lingkungan.
Gambar 2.1 Rentang respon marah (Yosep, 2010 dalam Damaiyanti dan Iskandar, 2012:95)
a. Respon adaptif
Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma-norma sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain, individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah tersebut, respon adaptif meliputi :
1) Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan.
2) Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.
3) Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman ahli.
4) Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran.
5) Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan.
b. Respon maladaptif
Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan, respon maladaptif meliputi :
1) Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial.
2) Perilaku kekerasan merupakan status rentang emosi dan ungkapan kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik.
3) Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati.
4) Perilaku yang tidak terorganisir merupakan suatu yang tidak teratur.
Respon kemarahan menurut Yosep (2007:113)
a. Assertion adalah kemarahan atau rasa tidak setuju yang dinyatakan atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain akan memberi kelegaan pada individu dan tidak akan menimbulkan masalah.
b. Frustasi adalah respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena hambatan dalam proses pencapaian tujuan, dalam keadaan ini tidak ditemukan alternatif lain, kemudian individu merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan dan terlihat pasif.
c. Pasif adalah individu tidak mampu mengungkapkan perasaannya, klien tampak pemalu, pendiam, sulit diajak bicara karena rendah diri dan merasa kurang mampu.
d. Agresif adalah perilaku yang menyertai marah dan mengungkapkan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol
e. Amuk adalah individu kehilangan kontrol diri, dan dapat merusak diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
2.1.3 Tanda dan Gejala
Menurut Prabowo (2014,143) tanda dan gejala perilaku kekerasan yaitu suka marah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat, sering memaksakan kehendak, merampas makanan.
1) Motor agitation
Gelisah, mondar-mandir, tidak dapat duduk tenang, otot tegang, rahang mengencang, pernafasan meningkat, mata melotot, pandangan mata tajam.
2) Verbal
Memberi kata-kata ancaman melukai, disertai melukai pada tingkat ringan, bicara keras, nada suara tinggi, berdebat.
3) Efek
Marah, bermusuhan, kecemasan berat, efek labil, mudah tersinggung.
4) Tingkat kesadaran
Bingung, kacau, perubahan status mental, disorientasi dan daya ingat menurun.
2.1.4 Faktor Risiko
Menurut Damaiyanti dan Iskandar (2012:97) faktor risiko terbagi dua, yaitu:
a. Risiko Perilaku Kekerasan Terhadap Orang Lain
Definisi: Berisiko melakukan perilaku, yakni individu menunjukkan bahwa dirinya dapat membahayakan orang lain secara fisik, emosional, dan/atau seksual.
b. Risiko Perilaku Kekerasan Terhadap Diri Sendiri
Definisi: Berisiko melakukan perilaku, yakni individu menunjukkan bahwa dirinya dapat membahayakan dirinya sendiri secara fisik, emosional, dan/atau seksual.
2.1.5 Etiologi
Etiologi pada perilaku kekerasan yaitu:
a. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi pada perilaku kekerasan menurut Prabowo (2014:142) yaitu:
1) Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau sanksi penganiayaan.
2) Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan, sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan.
3) Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan yang diterima (permissive)
4) Bioneurologis, banyak bahwa kerusakan sistem limbik, lobus frontal, lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmitter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan.
b. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik
(penyakit fisik), keputus asaan, ketidak berdayaan, kurang percaya diri dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula dengan situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang dicintainya, kehilangan pekerjaan dan kekerasan merupakan faktor penyebab yang lain. Interaksi yang profokatif dan konflik dapat pula memicu perilaku kekerasan (Prabowo, 2014:143).
c. Penilaian terhadap stressor
Penilaian stressor melibatkan makna dan pemahaman dampak dari situasi stress bagi individu, itu mencakup kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan respon sosial. Penilaian adalah evaluasi tentang pentingnya sebuah peristiwa dalam kaitannya dengan kesejahteraan seseorang. Stressor mengasumsikan makna, intensitas, dan pentingnya sebagai konsekuensi dari interprestasi yang unik dan makna yang diberikan kepada orang yang berisiko (Stuart dan Laraia, 2001 dalam Damaiyanti dan Iskandar, 2012:102).
d. Sumber koping
Menurut Stuart dan Laraia (2001) dalam Damaiyanti dan Iskandar, (2012:102), sumber koping dapat berupa aset ekonomi kemampuan dan keterampilan, dukungan sosial, dan motivasi.
Hubungan antara individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sangat berperan penting pada saat ini. Sumber koping lainnya termasuk kesehatan, energi, dukungan spiritual, keyakinan positif, keterampilan
menyelesaikan masalah, sumber daya sosial dan material serta kesejahteraan fisik.
e. Mekanisme koping
Menurut Prabowo (2014:144) mekanisme koping yang digunakan pada klien marah untuk melindungi diri antara lain:
1) Sublimasi, yaitu menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal.
2) Proyeksi, yaitu menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik.
3) Represi, yaitu mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar.
4) Reaksi formasi, yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila di ekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan.
5) Displacement, yaitu melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada objek yang tidak begitu berbahaya seperti pada mulanya yang membangkitkan emosi itu.
2.1.6 Proses Terjadinya Amuk
Amuk adalah respons marah terhadap adanya stres, rasa cemas, harga diri rendah, rasa bersalah, putus asa, dan ketidakberdayaan. Respon marah dapat diekspresikan secara internal atau eksternal. Secara internal dapat berupa perilaku yang tidak asertif dan merusak diri, sedangkan secara eksternal dapat berupa perilaku destruktif agresif. Respon marah dapat
diungkapkan melalui tiga cara yaitu mengungkapkan secara verbal, menekan, dan menantang.
Mengekspresikan rasa marah dengan perilaku konstruktif dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti orang lain akan memberikan kelegaan pada individu. Apabila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku agresif dan menentang, biasanya dilakukan karena ia merasa kuat. Cara ini menimbulkan masalah yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku yang destruktif dan amuk (Yusuf et al, 2015:131)
2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 2.2.1 Pengkajian
Menurut Dermawan dan Rusdi (2013) pengkajian keperawatan pada klien resiko perilaku kekerasan meliputi:
a. Pengumpulan data
1) Identitas klien meliputi: nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, status merital, suku/bangsa, nomor rekam medik, tanggal masuk, ruang rawat, dan alamat.
2) Identitas penanggung jawab meliputi: nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, hubungan dengan klien, dan alamat.
b. Alasan masuk dan faktor presipitasi
Faktor pencetus resiko perilaku kekerasan meliputi: ancaman terhadap fisik, ancaman terhadap konsep diri, ancaman internal, ancaman eksternal.
c. Faktor predisposisi
Faktor pendukung terjadinya resiko perilaku kekerasan adalah biologis yaitu dalam sistem otak limbik berfungsi sebagai regulator/
pengatur perilaku. Adanya lesi pada hipotalamus dan amigdala dapat mengurangi atau meningkatkan perilaku agresif. Psikologis menjelaskan bahwa agresif adalah pembawaan individu sejak lahir sebagai respon terhadap stimulus yang diterima. Respon tersebut berupa pertengkaran atau permusuhan dan sosiokultural dimana norma-norma kultural dapat digunakan untuk membantu memahami ekspresi agresif individu.
d. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada klien dengan skizofrenia dilakukan pendekatan persistem meliputi:
1) Sistem integumen: terdapat gangguan kebersihan kulit, klien tampak kotor, terdapat bau badan, hal ini disebabkan kurangnya minat terhadap perawatan diri dari perilaku menarik diri.
2) Sistem saraf: kemungkinan terdapat gejala ekstra piramidal seperti tremor, kaku dan lambat. Hal ini akibat dari efek samping obat antipsikotik.
3) Sistem penginderaan: tidak adanya halusinasi dengar, penglihatan, penciuman, raba, pengecapan. Karena klien mengalami gangguan afektif dan kognitif sehingga tidak mampu untuk membedakan stimulus internal dan eksternal akibat kecemasan yang meningkat.
4) Pemeriksaan tanda vital klien, meliputi tekanan darah, denyut nadi, dan suhu klien.
e. Aspek psikologi, sosial dan spiritual 1) Aspek psikologis
Konsep diri:
a) Gambaran diri: meliputi bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai klien.
b) Identitas diri: meliputi status dan posisi klien di keluarga dan kepuasan klien sebagai laki-laki atau perempuan.
c) Peran diri: meliputi peran yang diemban oleh klien di keluarga dan lingkungannya.
d) Ideal diri: persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai standar pribadi.
e) Harga diri: penilaian diri terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri.
2) Aspek sosial
Klien dengan risiko perilaku kekerasan biasanya bersifat curiga dan bermusuhan, menarik diri, menghindar dari orang lain, mudah tersinggung sehingga klien mengalami kesukaran untuk berinteraksi dengan orang lain.
3) Aspek spiritual
Meliputi nilai dan keyakinan yaitu pandangan dan keyakinan klien terhadap gangguan jiwa, pandangan masyarakat tentang
gangguan jiwa, kegiatan ibadah individu dan keluarga di rumah dan pendapat klien tentang kegiatan ibadah.
4) Status mental a) Penampilan
Biasanya pakaian klien kusut atau eksentrik dengan sikap tubuh lemah dan kontak mata kurang.
b) Pembicaraan
Klien biasanya berbicara dengan cepat dan keras. Reaksi klien selama wawancara apatis dan mudah tersinggung.
c) Aktivitas motorik
Klien biasanya terlihat lesu, sering tiduran di tempat tidur, tegang, gelisah, dan biasanya terdapat tremor.
d) Alam perasaan
Apakah klien terlihat sedih, gembira berlebihan,putus asa, ketakutan, khawatir.
e) Afek
Apakah afek klien datar, tumpul labil atau tidak sesuai interaksi selama wawancara.
f) Interaksi selama wawancara
Apakah klien kooperatif, bermusuhan, kontak mata kurang.
g) Persepsi
Persepsi ini meliputi persepsi mengenai pendengaran, penglihatan, pengecapan, penghidung cenestik, maupun kinestik.
h) Isi pikir
Kadang-kadang ada ide yang tidak realistis seperti waham, fantasi, obsesi, dan phobia.
i) Proses pikir
Apakah pembicaraan klien mengalami sirkumtantial, tangensial, kehilangan asosiasi, flight of idea, dan blocking.
j) Tingkat kesadaran
Apakah klien mampu mengingat kejadian saat ini, kejadian yang baru saja terjadi, dan kejadian masa lalu.
k) Memori
Apakah klien mengalami gangguan memori jangka panjang dan jangka pendek atau tidak.
l) Tingkat konsentrasi dan berhitung
Menilai tingkat konsentrasi klien apakah mudah beralih, atau tidak mampu berkonsentrasi dan kemampuan berhitung klien.
m) Kemampuan penilaian
Klien mengalami kesulitan atau tidak dalam menyelesaikan masalah, klien masih mampu untuk mengambil keputusan dengan tepat atau tidak.
n) Daya tilik diri
Biasanya klien tidak mengetahui alasan masuk klien ke rumah sakit dan tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa.
f. Kebutuhan persiapan pulang
Meliputi dengan siapa klien tinggal sepulang di rumah sakit, rencana klien berkaitan dengan minum obat dan kontrol, pekerjaan yang dilakukan, aktivitas untuk mengisi waktu luang serta sumber biaya, adanya orang-orang yang menjadi support system bagi klien dan tempat rujukan perawatan atau pengobatan.
g. Mekanisme koping
Pada pasien dengan perilaku kekerasan perlu dikaji mekanisme koping yang digunakan klien sebelum pasien masuk rumah sakit maupun mekanisme koping selama menghadapi masalah di rumah sakit jiwa.
h. Masalah psikososial dan lingkungan
Perlu dikaji seperti apa masalah psikososial dan masalah klien di lingkungannya, apakah klien sering bermasalah dengan orang di sekitarnya.
i. Pengetahuan klien
Pengetahuan klien perlu dikaji untuk mengetahui seberapa jauh klien mengenal penyakitnya. Hal ini juga digunakan untuk merencanakan kegiatan atau tindakan selanjutnya.
j. Aspek medik
Pada klien dengan resiko perilaku kekerasan biasanya mendapatkan obat-obat anti psikosis seperti: Haloperidol, Clorpromazine, serta Electro Convulsive Therapy (ECT).
2.2.2 Diagnosis
Gambar 2.2 pohon masalah (Yusuf et al, 2015:133) Diagnosis Keperawatan
1. Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan 2. Perilaku kekerasan
3. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
2.2.3 Rencana Keperawatan
Menurut Damaiyanti dan Iskandar (2012:107) rencana keperawatan untuk pasien gangguan perilaku kekerasandan keluarga:
a. Tujuan:klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria evaluasi :
1) Klien bersedia membalas salam.
2) Klien bersedia berjabat tangan.
3) Klien bersedia menyebutkan nama.
4) Klien bersedia tersenyum.
Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
Gangguan konsep diri: harga diri rendah Perilaku kekerasan
5) Klien bersedia kontak mata.
6) Klien mengetahui nama perawat.
7) Menyediakan waktu untuk kontrak.
Intervensi :
1) Beri salam/ panggil nama klien.
2) Sebutkan nama perawat sambil jabat tangan.
3) Jelaskan maksud hubungan interaksi.
4) Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat.
5) Beri rasa aman dan sikap empati.
6) Lakukan kontak singkat tapi sering.
Rasional: hubungan saling percaya merupakan landasan utama untuk hubungan selanjutnya.
b. Tujuan: klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi :
1) Klien dapat mengungkapkan perasaan jengkel/rasa kesal.
2) Klien dapat mengungkapkan penyebab perasaan jengkel/rasa kesal.
Intervensi :
1) Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.
2) Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab jengkel/kesal.
Rasional: beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dapat membantu mengurangi stress dan penyebab perasaan jengkel/kesal dapat diketahui.
c. Tujuan: klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi :
1) Klien dapat mengungkapkan perasaan jengkel/marah.
2) Klien dapat menyimpulan tanda-tanda jengkel/kesal yang dialami.
Intervensi :
1) Anjurkan klien mengungkapkan apa yang dialami saat marah.
2) Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien.
3) Simpulkan bersama klien tanda-tanda kesal yang dialami klien.
Rasional :
1) Untuk mengetahui hal yang dialami dan dirasakan saat jengkel.
2) Untuk mengetahui tanda-tanda klien jengkel/kesal.
3) Menarik kesimpulan bersama klien supaya klien mengetahui secara garis besar tanda-tanda marah.
d. Tujuan: klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Kriteria evaluasi :
1) Klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan.
2) Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
3) Klien dapat mengetahui cara yang biasa menyelesaikan masalah atau tidak.
Intervensi :
1) Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien.
2) Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
3) Bicarakan dengan klien apakah cara yang klien lakukan dapat menyelesaikan masalah.
Rasional :
1) Mengeksplorasi perasaan klien terhadap perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
2) Untuk mengetahui perilaku kekerasan yang biasa dilakukan dan dengan bantuan perawat bisa membedakan perilaku konstruktif dan destruktif.
3) Dapat membantu klien menemukan cara yang dapat menyelesaikan masalah.
e. Tujuan: klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi: klien dapat menjelaskan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan klien.
Intervensi :
1) Bicarakan akibat/kerugian dari perilaku kekerasan yang dilakukan klien.
2) Bersama klien menyimpulkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan klien.
Rasional :
1) Membantu klien untuk menilai perilaku kekerasan yang dilakukannya.
2) Dengan mengetahui akibat perilaku kekerasan diharapkan klien dapat merubah perilaku destruktif yang dilakukannya menjadi perilaku yang konstruktif.
f. Tujuan: klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi: klien dapat melakukan cara berespon terhadap kemarahan secara konstruktif.
Intervensi :
1) Tanyakan pada klien apakah klien ingin mempelajari cara baru yang sehat.
2) Berikan pujian jika klien mengetahui cara lain yang sehat.
3) Diskusikan dengan klien cara yang sehat antara lain:
a) Secara fisik: tarik nafas dalam dan pukul bantal/kasur.
b) Secara verbal: katakan bahwa anda sedang marah.
c) Secara sosial: lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat.
d) Secara spiritual: anjurkan klien untuk ibadah.
Rasional :
1) Agar klien dapat mempelajari cara konstruktif.
2) Dapat membantu klien menemukan cara yang baik untuk mengurangi kejengkelannya.
3) Pujian dapat memotivasi klien dan meningkatkan harga dirinya.
4) Berdiskusi dengan klien untuk memilih caya yang lain sesuai dengan kemampuan klien.
g. Tujuan: klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi: klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
1) Fisik: tarik nafas dalam, olahraga.
2) Verbal: mengatakan secara langsung tanpa menyakiti perasaan.
3) Spiritual: ibadah, berdoa.
Intervensi :
1) Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien.
2) Bantu klien mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih.
3) Latih klien cara yang dipilih.
4) Beri pujian.
5) Anjurkan klien menggunakan cara yang telah dipelajari.
Rasional :
1) Memberikan simulasi kepada klien untuk menilai respon perilaku kekeraan secara tepat.
2) Membantu klien dalam membuat keputusan terhadap cara yang telah dipilihnya dengan melihat manfaatnya.
3) Agar klien mengetahui cara marah yang konstruktif.
4) Pujian dapat meningkatkan motivasi.
5) Agar klien dapat melaksanakan cara yang telah dipilihnya.
h. Tujuan: klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi:
1) Keluarga klien dapat menyebutkan cara merawat klien yang berperilaku kekerasan.
2) Mengungkapkan rasa puas dalam merawat klien.
Intervensi :
1) Identifiksi kemampuan keluarga dalam merawat klien dari sikap yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini.
2) Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
3) Jelaskan cara merawat klien.
4) Terkait dengan cara mengontrol perilaku marah secara konstruktif, sikap tenang, bicara tenang dan jelas, membantu klien mengenal penyebab ia marah.
5) Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien.
6) Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi.
Rasional :
1) Kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi akan memungkinkan keluarga untuk melakukan penilaian terhadap perilaku kekerasan.
2) Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien sehingga keluarga terlibat dalam perawatan klien.
3) Agar keluarga dapat merawat klien dengan perilaku kekerasan.
4) Agar keluarga mengetahui cara merawat klien melalui demonstrasi yang dilihat keluarga secara langsung.
5) Mengeksplorasi perasaan keluarga setelah melakukan demonstrasi.
i. Tujuan: klien dapat menggunakan obat-obatan yang diminum dan kegunaannya (jenis, waktu, dosis dan efek).
Kriteria evaluasi :
1) Klien dapat menyebutkan obat-obatan yang diminum dan kegunaannya.
2) Klien dapat minum obat sesuai program pengobatan.
Intervensi :
1) Jelaskan jenis-jenis obat yang diminum klien dan keluarga.
2) Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin dokter.
3) Jelaskan prinsip benar minum obat.
4) Ajarkan klien minta obat dan minum obat tepat waktu.
5) Anjurkan klien melaporkan pada perawat/dokter jika merasakan efek yang tidak menyenangkan.
6) Beri pujian jika klien minum obat dengan benar.
Rasional :
1) Klien dan keluarga dapat mengetahui nama-nama obat yang diminum oleh klien.
2) Klien dan keluarga dapat mengetahui kegunaan obat yang dikonsumsi klien.
3) Klien dan keluarga mengetahui prinsip benar agar tidak terjadi kesalahan dalam mengkonsumsi obat.
4) Klien dapat memiliki kesadaran pentingnya minum obat dan bersedia minum obat dengan kesadaran sendiri.
5) Mengetahui efek samping sedini mungkin sehingga tindakan dapat dilakukan sesegera mungkin untuk menghindari komplikasi.
6) Reinforcement positif dapat memotivasi klien dan keluarga serta dapat meningkatkan harga diri.
Menurut Direja (2011:149) rencana tindakan keperawatan klien dengan gangguan konsep diri : Harga diri rendah.
a. Tujuan: klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria Evaluasi :
1) Klien dapat mengungkapkan perasaannya.
2) Ekspresi wajah bersahabat.
3) Ada kontak mata.
4) Menunjukkan rasa senang.
5) Mau berjabat tangan.
6) Mau menjawab salam.
7) Klien mau duduk berdampingan.
8) Klien mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
Intervensi :
1) Bina hubungan saling percaya.
a) Sapa klien dengan ramah, baik verbal maupun nonverbal.
b) Perkenalkan diri dengan sopan.
c) Tanya nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
d) Jelaskan tujuan pertemuan, jujur, dan menepati janji.
e) Tunjukan sikap empati dan menerima pasien apa adanya.
f) Beri perhatian pada klien.
2) Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan tentang penyakit yang dideritanya.
3) Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
4) Katakan pada klien bahwa ia adalah seorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu mendorong dirinya sendiri.
Rasional: hubungan saling percaya merupakan landasan utama untuk hubungan selanjutnya.
b. Tujuan: klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Kriteria Evaluasi: klien mampu mempertahankan aspek yang positif.
Intervensi :
1) Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien dan diberi pujian atas kemampuan mengungkapkan perasaannya.
2) Saat bertemuklien, hindarkan memberi penilaian negatif.
3) Utamakan memberi pujian yang realitis.
Rasional:
1) Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti menilai realitas, kontrol diri atau integritas ego sebagai dasar asuhan keperawatan.
2) Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri.
3) Pujian yang realistis tidak menyebabkan melakukan kegiatan hanya karna ingin mendapatkan pujian.
c. Tujuan: klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Kriteria Evaluasi :
1) Kebutuhan klien terpenuhi.
2) Klien dapat melakukan aktivitas terarah.
Intervensi :
1) Diskusikan kemampuan klien yang masih dapat digunakan selama sakit.
2) Diskusikan juga kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaan di rumah sakit dan di rumah nanti.
Rasional:
1) Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan yang dimiliki adalah prasarat untuk berubah.
2) Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri motivasi untuk tetap mempertahankan penggunaannya.
d. Tujuan: klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Kriteria Evaluasi :
1) klien mampu beraktivitas sesuai kemampuan.
2) klien mengikuti terapi aktivitas kelompok.
Intervensi :
1) Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari setiap hari sesuai kemampuan : kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan minimal, kegiatan dengan bantuan total.
2) Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
3) Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
Rasional:
1) Klien adalah individu yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
2) Klien perlu bertindak secara realiatis dalam kehidupannya.
3) Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi klien untuk melaksanakan kegiatan.
e. Tujuan: klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
Kriteria Evaluasi: klien mampu beraktivitas sesuai kemampuan.
Intervensi :
1) Beri kesempatan klien untuk mncoba kegiatan yang direncanakan.
2) Beri pujian atas keberhasilan klien.
3) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.
Rasional:
1) Memberikan kesempatan klien mandiri dirumah.
2) Reinforcement positif dapat memotivasi klien dan keluarga serta dapat meningkatkan harga diri.
3) Memberi kesempatan kepada klien untuk tetap melakukan kegiatan yang biasa dilakukan.
f. Tujuan: klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
Kriteria Evaluasi: klien mampu melakukan apa yang diajarkan.
Intervensi :
1) Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah.
2) Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
3) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
Rasional:
1) Mendorong keluarga untuk mampu untuk merawat klien dirumah.
2) Support system keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat proses penyembuhan.
3) Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien dirumah.
Strategi Penahanan
Stategi Preventif Strategi Antisipasi Strategi Penahanan
• Kesadaran diri
•Pendidikan pasien
• Latihan asertif
• Komunikasi
•Perubahan lingkungan
• Perilaku
• Psikofarmakologi
• Manajemen krisis
• Pengasingan
•Pengendalian/pengek angan
Gambar 2.3 Rangkaian Intervensi Keperawatan dalam Manajemen Perilaku Kekerasan
1. Manajemen Krisis:
a. Identifikasi pemimpin tim krisis.
b. Susun atau kumpulkan tim krisis.
c. Beritahu petugas keamanan yang diperlukan.
d. Pindahkan semua pasien dari area tersebut.
e. Siapkan atau dapatkan alat pengekang (restrains).
f. Susun strategi dan beritahu anggota lain.
g. Tugas penanganan pasien secara fisik.
h. Jelaskan semua tindakan pada pasien, “Kami harus mengontrol Tono, karena perilaku Tono berbahaya pada Tono dan orang lain. Jika Tono sudah dapat mengontrol perilakunya, kami akan lepaskan”.
i. Ikat/kekang pasien sesuai instruksi pemimpin (posisi yang nyaman).
j. Berikan obat psikofarmaka sesuai instruksi.
k. Jaga tetap kalem dan konsisten.
l. Evaluasi tindakan dengan tim.
m. Jelaskan kejadian pada pasien lain dan staf seperlunya.
n. Secara bertahap integrasikan pasien pada lingkungan.
2. Pengasingan
Pengasingan dilakukan untuk memisahkan pasien dari orang lain di tempat yang aman dan cocok untuk tindakan keperawatan. Tujuannya adalah melindungi pasien, orang lain, dan staf dari bahaya. Hal ini legal jika dilakukan secara terapeutik dan etis. Prinsip pengasingan antara lain sebagai berikut:
a. Pembatasan gerak
1) Aman dari mencederai diri.
2) Lingkungan aman dari perilaku pasien.
b. Isolasi
1) Pasien butuh untuk jauh dari orang lain, contohnya paranoid.
2) Area terbatas untuk adaptasi, ditingkatkan secara bertahap.
c. Pembatasan input sensoris
Ruangan yang sepi akan mengurangi stimulus.
3. Pengekangan
Tujuan dari pengekangan adalah mengurangi gerakan fisik pasien, serta melindungi pasien dan orang lain dari cedera. Indikasi antara lain sebagai berikut:
a. Ketidakmampuan mengontrol perilaku.
b. Perilaku tidak dapat dikontrol oleh obat atau teknik psikososial.
c. Hiperaktif dan agitasi.
Prosedur pelaksanaan pengekangan adalah sebagai berikut:
a. Jelaskan pada pasien alasan pengekangan.
b. Lakukan dengan hati-hati dan tidak melukai.
c. Ada perawat yang ditugaskan untuk mengontrol tanda vital, sirkulasi, dan membuka ikatan untuk latihan gerak.
d. Penuhi kebutuhan fisik, yaitu makan, minum, eliminasi, dan perawatan diri.
2.2.4 Implementasi Keperawatan
a. Tindakan keperawatan pada klien:
1) Melakukan SP1P perilaku kekerasan.
a) Mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
b) Mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan.
c) Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan.
d) Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
e) Menyebutkan cara mengontrol perilaku kekerasan.
f) Membantu klien mempraktikkan latihan cara mengontrol perilaku kekerasan cara fisik 1: latihan nafas dalam.
g) Menganjurkan klien memasukkan ke dalam kegiatan harian.
2) Melakukan SP2P perilaku kekerasan.
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
b) Melatih klien mempraktikkan latihan cara mengontrol perilaku kekerasan cara fisik 2: pukul kasur dan bantal.
c) Menganjurkan klien memasukkan ke dalam kegiatan harian.
3) Melakukan SP3P perilaku kekerasan.
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
b) Melatih klien mempraktikkan latihan cara mengontrol perilaku kekerasan cara sosial/ verbal.
c) Menganjurkan klien memasukkan ke dalam kegiatan harian.
4) Melakukan SP4P perilaku kekerasan.
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
b) Melatih klien mempraktikkan latihan cara mengontrol perilaku kekerasan cara spiritual.
c) Menganjurkan klien memasukkan ke dalam kegiatan harian.
5) Melakukan SP5P perilaku kekerasan.
a) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
b) Melatih klien mempraktikkan latihan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan minum obat.
c) Menganjurkan klien memasukkan ke dalam kegiatan harian.
b. Tindakan keperawatan pada keluarga.
1) Melakukan SP1K perilaku kekerasan.
a) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien.
b) Menjelaskan pengertian perilaku kekerasan, tanda dan gejala perilaku kekerasan, serta proses terjadinya perilaku kekerasan.
2) Melakukan SP2K perilaku kekerasan.
a) Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat klien dengan perilaku kekerasan.
b) Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada klien perilaku kekerasan.
3) Melakukan SP3K perilaku kekerasan.
a) Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat (discharge planning).
b) Menjelaskan follow up klien setelah pulang.
2.2.5 Evaluasi
a. Evaluasi pada pasien
1) Pasien mampu menyebutkan penyebab, tanda dan gejala perilaku kekerasan, perilaku kekerasan yang biasa dilakukan, serta akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan.
2) Pasien mampu menggunakan cara mengontrol perilaku kekerasan secara teratur sesuai jadwal, yang meliputi:
a) secara fisik,
b) secara sosial/verbal, c) secara spiritual, d) terapi psikofarmaka.
b. Evaluasi pada keluarga
1) Keluarga mampu mencegah terjadinya perilaku kekerasan.
2) Keluarga mampu menunjukkan sikap yang mendukung dan menghargai pasien.
3) Keluarga mampu memotivasi pasien dalam melakukan cara mengontrol perilaku kekerasan.
4) Keluarga mampu mengidentifikasi perilaku pasien yang harus dilaporkan pada perawat.
41 3.1 Desain Studi Kasus
Studi kasus merupakan metode pengumpulan data secara komprehensif yang meliputi aspek fisik dan psikologis individu, dengan tujuan memperoleh pemahaman secara mendalam. Studi kasus ini adalah studi untuk mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami resiko perilaku kekerasan.
3.2 Batasan Istilah
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis. Berdasarkan definisi ini maka perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu saat sedang berlangsung atau riwayat perilaku kekerasan.
Strategi pelaksanaan perilaku kekerasan pertama melatih cara mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik pertama yaitu nafas dalam. Strategi pelaksanaan kedua melatih cara mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik kedua yaitu dengan cara pikul bantal/ kasur. Strategi pelaksanaan ketiga membantu klien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara verbal. Strategi pelaksanaan keempat membantu klien latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara spiritual. Strategi pelaksanaan kelima membantu klien latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan minum obat.
3.3 Partisipan
Subyek studi dalam kasus ini adalah Sdr.R dan Tn.SR yang mengalami resiko perilaku kekerasan di Rumah Sakit dr. Arif Zainudin Surakarta.
3.4 Lokasi dan Waktu
Pada kasus ini tempat pengambilan kasus dilakukan di Rumah Sakit dr. Arif Zainudin Surakarta dan waktu pelaksanaan 2 minggu dari tanggal 22 Mei 2017 – 3 Juni 2017.
3.5 Pengumpulan Data
Sehubungan dengan pendekatan studi kasus diatas, teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam studi kasus ini adalah penelitian lapangan (field research), dilakukan dengan cara mengunjungi langsung ke objek studi kasusyaitu Rumah Sakit dr. Arif Zainuddin. Menurut Sujarweni (2014) metode pengumpulan data yang digunakan adalah :
1. Teknik pengumpulan data primer
Pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi studi kasus atau objek yang diteliti. Dalam hal ini data diperoleh dengan cara- cara sebagai berikut:
a. Observasi adalah melakukan pengamatan secara langsung pada objek studi kasus terhadap pasien yang mengalami masalah perilaku kekerasan.
b. Wawancara adalah melakukan tanya-jawab dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan masalah studi kasuswawancara
dinyatakan sebagai suatu percakapan dengan bertujuan untuk memperoleh kontruksi yang terjadi sekarang tentang orang, kejadian, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, pengakuan, kerisauan dan sebagainya. Penulis melakukan pengkajian terhadap pasien (hasil pengkajian berisi tentang identitas klien, alasan masuk, faktor predisposisi dan lain-lain) sumber data dari klien, keluarga dan perawat lainnya.
2. Teknik pengumpulan data sekunder merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui studi bahan-bahan kepustakaan yang perlu untuk mendukung data primer (data lain yang relevan). Pengumpulan data sekunder dapat dilakukan dengan instrumen sebagai berikut:
a. Studi Kepustakaan (Library research) adalah pengumpulan data yang dilakukan dari buku-buku, karya ilmiah, pendapat ahli yang memiliki relevansi dengan masalah yang diteliti.
b. Studi Dokumentasi (Documentary) adalah pengumpulan data yang diperoleh dengan menggunakan catatan-catatan tertulis yang ada di lokasi penelitian serta sumber-sumber lain yang menyangkut masalah diteliti dengan instansi yang terkait.
3.6 Uji Keabsahan Data
Uji keabsahan data dimaksud dengan mengambil data baru (here and now) dengan menggunakan instrumen pengkajian yang sesuai sehingga menghasilkan data dengan validitas tinggi. Pengkajian menggunakan klien, perawat dan keluarga klien sebagai sumber informasi dan sumber dokumentasi. Menegakkan diagnosa NANDA keperawatan intervensi NIC
NOC, implementasi strategi pelaksanaan (SP), evaluasi dengan menggunakan evaluasi formatif dan evaluasi surmatif (Sujarweni, 2014).
3.7 Analisa Data
Setelah melakukan asuhan keperawatan akan dilakukan analisa data dengan metode membandingkan antara tindakan yang dilakukan dengan jurnal penelitian dan teori didalam buku.
1. Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi.
Hasil ditulis dalam bentuk transkip (catatan terstruktur).
2. Mereduksi Data
Data hasil wawancara yang terkumpul dalam bentuk catatan lapangan dijadikan satu dalam bentuk transkip dan dikelompokkan menjadi data subjektif dan objektif dianalisis berdasarkan hasil pemeriksaan diagnostik kemudian dibandingkan nilai normal.
3. Penyajian Data
Penyajian data dapat dilakukan dengan tabel, gambar, bagan maupun teks naratif. Kerahasiaan dari klien dijamin dengan jalan mengaburkan identitas dari klien.
3.8 Kesimpulan
Dari data yang disajikan kemudian data dibahas dan dibandingkan dengan perilaku kesehatan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan metode induksi. Data yang dikumpulkan terkait dengan data pengkajian, diagnosis, perencanaan, tindakan dan evaluasi.
45 HASIL
4.1 Gambaran lokasi pengambilan data
Pengambilan data dilakukan di rumah sakit dr. Arif Zainudin Surakarta, di bangsal Gatotkaca. Di dalam bangsal Gatotkaca terdapat 4 ruang perawatan diantaranya: 2 untuk dewasa, 2 untuk anak dan remaja. Bangsal ini khusus untuk perawatan klien yang berjenis kelamin laki-laki.
4.2 Pengkajian
1. Identitas Klien
IDENTITAS KLIEN KLIEN 1 KLIEN 2
Inisial Umur Jenis Kelamin No. RM Ruang Rawat Tanggal Dirawat Tanggal Pengkajian Informan
Sdr. R 18 tahun Laki-laki 0607xx Gatotkaca 1 mei 2017 23 mei 2017 Klien
Tn. SR 40 tahun Laki-laki 0199xx Gatotkaca 14 mei 2017 23 mei 2017 Klien dan keluarga
2. Alasan Masuk
KLIEN 1 KLIEN 2
ALASAN MASUK Klien dibawa ke rumah sakit jiwa karena klien sering marah-marah, merusak barang-barang rumah tangga, sering mengamuk Klien pernah memukuli temannya karena telah merebut pacarnya.
Keluarga klien mengatakan alasan klien dibawa ke rumah sakit jiwa karena klien marah-marah tanpa sebab, suka membanting barang, suka mengancam orang lain, sering mondar-mandir dan binggung. Klien mengalami perubahan perilaku sejak di PHK dari tempat kerjanya.
3. Faktor Predisposisi dan Faktor Presipitasi
KLIEN 1 KLIEN 2
Faktor predisposisi Saat usia 12 tahun klien pernah menjadi korban KDRT, dipukul bapaknya karena klien tidak mau melanjutkan sekolah.
Setelah kejadian itu klien bersedia melanjutkan sekolah. Saat usia 15 tahun klien pernah memukul bapaknya karena klien dilarang balapan motor.
Klien belum pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu dan belum
pernah menjalani
pengobatan. Tidak ada anggota keluarga klien yang mengalami gangguan jiwa.
Klien sudah 2 kali ini dirawat di rumah sakit jiwa, disebabkan karena klien frustasi sebab dirinya sudah terlalu lama menjadi pengangguran kurang lebih 1 tahun. Pengobatan klien sebelumnya kurang berhasil karena klien tidak rutin minum obat dan kontrol.
Kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu untuk mencukupi biaya perawatan dan pengobatan klien.
Sekarang gangguan jiwa klien kambuh disebabkan karena putus obat. Tidak ada anggota keluarga klien yang mengalami gangguan jiwa.
Faktor presipitasi Faktor pancetus terjadinya gangguan jiwa yaitu pacar klien direbut oleh temannya sendiri.
Faktor pancetus terjadinya gangguan jiwa yaitu klien di PHK dari tempat kerjanya.
4. Fisik
FISIK KLIEN 1 KLIEN 2
1. TTV Nadi
Tekanan darah RR
Suhu 2. Ukur
Tinggi badan Berat badan 3. Keluhan Fisik
Masalah keperawatan
90x/ menit 110/70 mmhg 16x/ menit 36,5o C 160 cm 50 kg Tidak ada Tidak ada
80x/ menit 130/80 mmhg 18x/ menit 36,7o C 175 cm 65 kg Tidak ada Tidak ada
5. Psikososial
PSIKOSOSIAL KLIEN 1 KLIEN 2
1. Genogram
Penjelasan
Masalah keperawatan 2. Konsep diri
a. Gambaran diri
b. Identitas
c. Peran
d. Ideal diri
e. Harga diri
Masalah keperawatan
Klien mengatakan tinggal serumah dengan kedua orang tua dan kedua adiknya. Klien merupakan anak pertama dari 3 bersaudara.
Tidak ada
Klien mengatakan klien suka dengan seluruh anggota tubuhnya karena klien bersyukur atas apa yang sudah diberikan oleh Tuhan.
Klien adalah seorang laki- laki yang berusia 18 tahun, pendidikan terakhir SMP, asal dari Wonogiri.
Klien mengatakan klien berperan sebagai anak di dalam keluarganya, sebagai kakak dari kedua adiknya, dan sebagai anggota karang taruna di dalam masyarakat.
Klien berharap agar cepat sembuh dan cepat pulang, klien ingin melanjutkan sekolah karena klien bercita- cita ingin menjadi pilot.
Klien mengatakan klien kurang diterima di masyarakat karena klien sering mengamuk.
Harga diri rendah.
klien merupakan anak ke-2 dari 2 bersaudara, klien tinggal serumah dengan kedua orang tuanya.
Tidak ada
Klien mengatakan menyukai semua bagian tubuhnya.
Klien bernama SR, usia 40 tahun, beragama islam, jenis kelamin laki-laki, asal dari Kartosuro.
Klien mengatakan di dalam rumah klien sebagai anak dan sebagai tulang punggung keluarga, di masyarakat klien sebagai anggota masyarakat.
Klien berharap agar cepat sembuh dan cepat pulang karena klien ingin segera mencari pekerjaan dan dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.
Selama dirumah klien merasa malu dan minder karena dianggap orang stress, klien lebih senang menyendiri dirumah, dan klien selalu merasa bahwa dirinya selalu merepotkan kedua orang tuanya.
Harga diri rendah.