• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN

Dalam dokumen UKL UPL SPPBE (Halaman 53-63)

Rencana pemantauan lingkungan ini merupakan rencana upaya-upaya untuk mengumpulkan berbagai data dan informasi sebagai bahan masukan untuk

mengevaluasi tingkat keberhasilan system pengelolaan yang dilakukan serta untuk mendeteksi setiap penyimpangan-penyimpangan dari tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan yang direncanakan.

Rencana Pemantauan Lingkungan mencakup

Jenis dampak yang dipantau

Lokasi pemantauan

Cara pemantauan dampak

Methode pemantauan lingkungan

Metode pengumpulan analisis

Lokasi pemantauan

Jangka waktu dan frekwensi pemantauan

Instansi pemantau lingkungan

Pelaksana pemantau

Pengawas pemantau

Pelaporan hasil pemantauan lingkungan Jenis Dampak yang dipantau

1. Dampak kuali tas air 

Pemantauan kualitas air akan meliputi parameter:

Water Storage meliputi: suhu, minyak dan lemak, pH dan air pendingin.

Saluran drainase meliputi: suhu air, pH, minyak dan lemak dan zat-zat organic dalam air limbah ( sebagai buangan air bekas kamar mandi) seperti BOD, COD, amoniak,  phenol serta kuman pathogen dari feses dan air seni manusia.

Kondisi septic tank dan sumur resapan parameter yang dipantau adalah bau yang mungkin timbul, kapasitas, kebocoran dan efektivitas septic tank.

Kualitas air bersih yang dipantau adalah seluruh parameter yang ada pada syarat kualitas air bersih berdasar Permenkes No. 416 tahun 1990

Untuk keberadaan sampah yang dapat mempengaruhi kualitas air tanah yang dipantau adalah karakteristik sampah, jumlah dan penanganan yang dilakukan.

Dilakukan pada water storage, saluran drainase dan septic tank serta resapannya. Jangka Waktu :

Pada water storage setiap bulan sekali

Pada saluran drainase dilakukan setiap 6 bulan sekali, pada septic tank dilakukan  pemantauan setiap kali dilakukan pengurasan.

Untuk kualitas air bersih dilakukan pemantauan tiap bulan sekali dan sampah dilakukan setiap hari.

Methode dan cara pemantauan :

Pengukuran suhu dengan metode pengukuran biasa dan alat yang digunakan adalah thermometer

Pengukuran minyak dan lemak dengan metode spektrofotometrik/gravimetric dan alat yang digunakan spektrofometer

Pengukuran pH dengan method elektromatrik dan alat yang digunakan pH meter Tolok Ukur :

SK Gubernur jatim No. 45 tahun 2002 Pelaksana :

PT. Suminar Mitragas Selaras Pengawas :

Ditjen Migas, PT SMS dan Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ngawi Pelaporan :

2. Dampak ku ali tas udara yang dipantau 

Parameter :

Utama. Kualitas udara yang meliputi SO2, NO2, debu dan higrokarbon dan tingkat kebisingan disekitar areal kerja

Lokasi :

Dilakukan pada filling hall (khusus hidrokarbon)

Dilakukan pada pintu keluaar masuk SPPBE(gas, partikel dan kebisingan)

Dilakukan pada fillingskid( skid tank) Jangka waktu :

Gas hidrokarbon pada lokasi filling hall dan filling skid dilakukan setiap minggu sekali

Untuk gas kendaraan bermoto maupun partikel di pintu masuk kendaraan truk dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali.

Metode dan cara pemantauan :

Cara pemantauan yaitu dilakukan pemeriksaan sample kualitas udara yang terdiri dari  pengukuran jkandungan debu dan gas-gas polutan di udara serta kebisingan yang ada

disekitar kegiatan. Peralatan yang digunakan untuk pengambilan sample adalah : debu dengan High volume sampler, Sox dengan menggunakan spektrofotometer, CO

dengan NIDR Analyzeer, Pb dengan alat AAS, NOx, dengan menggunakan alat spektrofotometer NH3 menggunakan spektrofotometer, H2S menggunakan alat spektrofotometer dan kebisingan alat sound level meter.

Metode analisis untuk parameter kualitas udara dan kebisingan adalah :

Analisa debu dengan metode gravimetric

Analisa Sox dengan metode pararosanilin

Analisa Pb. Dengan metoede gravimetric/pengabuan

Analisa NH3 dengan metode Nessler

Analisa NOx dengan metode Saltman

Analisa H2S dengan metode Merkuritiosionat

Dari analisa yang dibuat maka selanjutnya dibandingkn dengan baku mutu udara ambient untuk mengetahui kondisi kualitas udara awal di sekitar kegiatan

SPPBE.

Tolok Ukur :

Untuk kualitas udara disesuaikan dengan SK Gubernur KDH Tk. I jatim N0. 129 tahun 1996 mengenai baku mutu kualitas udara

Untuk kebisingan disesuaikan dengan keputusan Menteri kesehatan No.

718/MENKES/Per/1987, tentang kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan

Pelaksana:

PT. Suminar Mitragas Selaras Pengawas :

Ditjen Migas, PT SMS dan Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ngawi Pelaporan :

Ditjen Migas, Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ngawi.

3. Dampak adanya kesempatan ker ja yang dipantau 

Jumlah tenaga kerja setempat yang digunakan

Lokasi :

PT. SMS dan bagian administrasi Jangka Waktu :

Pemantauan dilakukan setiap 3 (tiga )bulan sekali Metode dan cara pemantauan :

Cara pemantauan dilakukan dengan wawancara pada tenaga kerja dan pendapatan mereka saat ini. Pendataan terhadap asal tenaga kerja dan pendapatan mereka saat ini. Pendataan terhadap asal tenaga kerja perlu dilakukan untuk meminimalkan

tumbuhnya pemukiman kumuh disekitar proyek. Selain itu juga dilakukan pendataan atau registrasi pegawai dan hubungan mitra kerja PT. SMS. Untuk kesehatan

karyawan metode yang dilakukan adalah secara rutin mengevaluasi hasil chec up karyawan dan wawancara secara langsung mengenai K3 yang diberikan oleh  perusahaan.

Tolok Ukur :

Tolok ukur kesempatan kerja adalah jumlah tenaga kerja, asal tenaga kerja,pendapatan (sesuai UMR)

Pelaksana :

PT. SMS Pengawas :

Pelaporan :

Ditjen Migas, Dinas Hutbunling kab. Ngawi

4. Dampak adanya Keresahan masyarakat yang dipantau 

Parameter :

Ada tidaknya protes atau keluhan masyarakat sekitar pro yek terhadap kegiatan operasional SPPBE

Lokasi :

Masyarakat sekitar kegiatan PT. SMS Jangka Waktu :

Tiap 3 bulan sekali

Metode dan cara pemantauan :

Cara pemantauan dilakukan dengan wawancara secara langsung pada masyarakat sekitar proyek mengenai keberadaan proyek selama ini. Jika ternyata ter dapat

keresahan masyarakat akibat beroperasinya SPPBE tersebut maka pihak pemrakarsa harus melakukan pendekatan kepada masyarakat sekitar.

Tolok ukur :

Tolok ukur ada keresahan masyarakat adalah ada tidaknya keluhan dan protes masyarakat sekitar.

Pelaksana :

PT. SMS

Ditjen Migas, PT. SMS, Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ngawi

5. Dampak ter hadap aspek Bi ologi 

Parameter :

Parameter utama lingkungan yang dipantau adalah keanekaragaman flora yang ada disekitar proyek (dipantau secara visual)

Lokasi :

Dilakukan pada areal taman SPPBE

Jangka waktu :

Sesuai waktu pemeliharaan

Metode dan cara pemantauan :

Cara pemantauan yaitu dilakukan pengamatan secara langsung

Tolak ukur :

Pelaksana :

PT.Suminar Mitragas Selaras  pengawasan

PT.Suminar Mitragas Selaras

6. Dampak ter jadinya peni ngkatan lalu li ntas 

Parameter :

Yang dipantau adalah frekwensi keluar masuknya kendaraan truk pengangkut setiap harinya serta kapasitas parker SPPBE yang ada

Lokasi :

PT. SMS

Jangka Waktu :

Kepadatan lalu lintas setiap 1 tahun sekali, pemantauan 6 bulan sekali Metode dan cara pemantauan :

Dilakukan pendataan dan perhitungan jumlah kendaraan yang melewati jalan raya  Ngawi solo serta kendaraan truk pengangkut tabung yang keluar masuk pabrik.

Tolok ukur :

Jumlah kendaraan yang keluar masuk pabrik Pelaksana :

PT. SMS

PT. SMS

BAB V

PELAPORAN

1. Mekanisme Pelaporan Pelaksanaan UKL dan UPL

Kegiatan pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sepenuhnya harus dilaksanakan oleh pihak pengelola, dalam hal ini PT. SUMINAR MITRAGAS

SELARAS sebagai komitmennya dalam melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Oleh karena dalam kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan selalu melibatkan  pihak instansi pengawas maupun instansi terkait, maka pemrakarsa berkewajiban

memberikan laporan tentang hasil-hasil pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Pelaporan ini dimaksudkanagar instansi pengawas atau instansi terkait

dapat melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan UKL/UPL PT.Suminar Mitragas Selaras, sehingga dapat dipakai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan selanjutnya.

Apabila terjadi keadaan darurat, maka hasil pengelolaan dan pemantauan lingkungan dapat dipakai sebagai acuan untuk mencari sebab-sebab terjadinya keadaan darurat.

Dalam kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan, maka unit pengelolaan lingkungan dalam perusahaan yang berperan sebagai pelaksana harian dan kegiatan tersebut. Unit tersebut selalu memperhatikan program-program pengelolaan dan  pemantauan biasanya menyangkut masalah waktu, lokasi, peralatan dan pengarahan

operator yang melaksankannya. Hasil pemantauan akan selalu dicatat oleh

 petugas/operator pelaksana dalam agenda harian dimana pada setiap petugas pada unit tersebut akan melaporkan hasli pemantauannya kepada pimpinan perusahaan setelah ditanda tangani oleh Plat Manager. Laporan dari unit pengelolaan lingkungan tersebut akan dijadikan sebagai bahan untuk menyusun laporan pelaksanaan UKL dan UPL tahunan oleh perusahaan yang selanjutnya akan dilaporkan kepada Ditjen Migas c/q Direktorak tehnik Pertambangan Migas serta tembusannya kepada Bupati Ngawi cq Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ngawi.

2. Bentuk-bentuk laporan yang akan disusun adalah sebagai berikut:

1. Catatan Perusahaan Terjadinya Pencemaran

Dari catatan harian yang dibuat oleh petugas pemantauan lingkungan di perusahaan akan terlihat adanya fluktuasi tingkat pencemaran yang ditimbulkkan sehingga  petugas tersebut akan menandai pada buku laporan harian mengenai waktu

terjadiyapeningkatan pencemaran yang dianggap baku mutu yang ditentukan.

2. Pelaporan terjadinya Pencemaran

Pelaporan terjadinya kecelakaan atau gangguan lingkungan dalam skala besar wajib dilaporkan 2x24 jam kepada Ditjen Migas dan Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi.

Dalam dokumen UKL UPL SPPBE (Halaman 53-63)

Dokumen terkait