a. Kawasan Peruntukan Hutan Rakyat; b. Kawasan Peruntukan Pertanian, meliputi :
Kawasan Budidaya tanaman pangan; Kawasan Budidaya hortikultura; Kawasan Budidaya perkebunan; dan Kawasan Budidaya peternakan.
c. Kawasan Peruntukan Kegiatan Perikanan, meliputi : Kawasan minapolitan;
Kegiatan Perikanan tangkap; Kegiatan Perikanan budidaya; dan kegiatan pengolahan hasil perikanan. d. Kawasan Peruntukan Pariwisata
Kawasan Pariwisata;
Kawasan Daya Tarik Wisata Khusus promosi (KDTWKp); dan Daya Tarik Wisata (DTW).;
e. Kawasan Peruntukan Kegiatan Pertambangan;
sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok Masyarakat secara adil dan terpadu.Pemanfaatan sumber daya air untuk pemenuhan kebutuhan pokok Masyarakat diarahkan melalui: pengembangan jaringan prasarana air minum; dan pengembangan jaringan prasarana irigasi.
Pengembangan jaringan prasarana air minum dilaksanakan, melalui: a. pemanfaatan air permukaan, mata air dan air tanah sebagai sumber
airbaku melalui keterpaduan pengelolaan antara kebutuhan sektoral danWilayah;
b. pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) perdesaan danperkotaan yang diutamakan melalui sistem perpipaan terlindungi,meliputi :
SPAM Unit Petang; SPAM Unit Abiansemal; SPAM Unit Mengwi; dan SPAM Unit Badung Selatan.
c. perluasan dan pemerataan jaringan perpipaan untuk Wilayah yang belumterlayani jaringan air minum;
d. pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas (up e. rating) air baku pada estuary dam di Kelurahan Kuta sesuai standar
bakumutu yang ditetapkan untuk melayani Wilayah Badung Selatan; f. pengembangan Bendung dan IPA Penet di Desa Cemagi yang
merupakansub sistem dari SPAM Sarbagitaku (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanandan Klungkung);
g. pengembangan kerjasama dengan Perusahaan Daerah Air Minum(PDAM) Tabanan, PDAM Denpasar, PDAM Gianyar dan/atau pihakswasta untuk melayani Kawasan-Kawasan yang tidak terjangkau jaringandistribusi PDAM Badung; dan
h. pemanfaatan air laut untuk pemenuhan kebutuhan air minum di BadungSelatan setelah melalui kajian dan izin dari instansi yang berwenang.
Sistem prasarana lingkungan,terdiri atas :sistem pengelolaan sampah; dan sistem pengelolaan air limbah.
____________________________________________________________ III - 61
ARAHAN POLA RUANG ARAHAN STRUKTUR RUANG
(1) (2)
f. Kawasan Peruntukan Kegiatan Industri; g. Kawasan Peruntukan Permukiman, meliputi :
Kawasan permukiman perkotaan; dan Kawasan permukiman perdesaan.
h. Kawasan Peruntukan Perdagangan dan Jasa, meliputi :
Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa skala Wilayah diarahkansepanjang koridor utama menuju Kawasan Pariwisata Nusa Dua, Kuta danTuban, Kawasan Perkotaan Kuta, Kawasan Perkotaan Jimbaran danKawasan Perkotaan Mangupura;
Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa skala Kawasan diarahkan padakoridor utama menuju pusat pelayanan kecamatan; dan
Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa skala lingkungan diarahkanpada koridor utama menuju pusat permukiman perdesaan dan perkotaan.
i. Kawasan peruntukan perkantoran pemerintahan, meliputi :
perkantoran perwakilan pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan negarasahabat;
perkantoran Pemerintahan Kabupaten; dan
perkantoran pemerintah kecamatan, kelurahan dan desa; j. Kawasan peruntukan pendidikan tinggi;
k. Kawasan peruntukan prasarana transportasi, meliputi : Kawasan Bandar Udara Ngurah Rai;
Kawasan terminal penumpang Tipe A Mengwi; Kawasan sentral parkir Kuta;
rencana pengembangan Kawasan terminal barang; dan rencana pengembangan kantong parkir.;
l. Kawasan Peruntukan Pertahanan dan Keamanan; dan m. Kawasan peruntukan RTH.
Rencana pola ruang yang terkait dengan bidang cipta karya, meliputi kawasan peruntukan permukiman, mencakup kawasan permukiman perkotaan, dan kawasan permukiman perdesaan; serta kawasan peruntukan ruang terbuka hijau (RTH).
Sistem pengelolaan sampah meliputi pengelolaan sampah dan penanganan sampah
Pengelolaan sampah, meliputi:
a. sampah rumah tangga, yaitu sampah yang berasal dari kegiatan sehari-haridalam rumah tangga khususnya pada Kawasan Perkotaan, tidak termasuktinja dan sampah spesifik, pengelolaannya dilaksanakan oleh PemerintahKabupaten;
b. sampah sejenis sampah rumah tangga, yaitu sampah yang berasal dariKawasan komersial, Kawasan Pariwisata, fasilitas sosial dan fasilitasumum yang terdapat pada Kawasan Perkotaan, pengelolaannyadilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten; dan
c. sampah spesifik, yaitu sampah yang sifat dan jenisnya memerlukan d. penanganan khusus, pengelolaannya dilaksanakan sendiri oleh
pemiliksampah, meliputi:
sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun; sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun; sampah yang timbul akibat bencana;
puing bongkaran bangunan;
sampah yang secara teknologi belum dapat diolah; dan sampah yang timbul secara tidak periodik.
Pengelolaan sampah dilaksanakan melalui :
a. pengurangan sampah, yaitu untuk sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga meliputi pembatasan timbulan sampah (reduce) dari sumbernya, pendauran ulang sampah (recycle); dan/atau pemanfaatan kembali sampah (reuse);
b. penanganan sampah, yaitu dikembangkan dengan teknologi ramah lingkungan dan harus memenuhi standar pelayanan optimal dilakukan melalui:
pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah darisumbernya sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;
____________________________________________________________ III - 62
ARAHAN POLA RUANG ARAHAN STRUKTUR RUANG
(1) (2)
Kawasan Peruntukan Permukiman, mencakup kawasan permukiman perkotaan, dan kawasan permukiman perdesaan tersebar di seluruh Wilayah Kabupaten dengan luas kurang lebih 10.299,75 ha (sepuluh ribu dua ratus sembilan puluh Sembilan koma tujuh lima hektar) atau 24,61% (dua puluh empat koma enam satu persen) dari luas Wilayah Kabupaten Badung.
Kawasan peruntukan RTH dikembangkan dengan tujuan :
a. menjaga keserasian dan keseimbangan antara lahan terbangun dan ruangterbuka yang berfungsi sebagai resapan air;
b. mewujudkan kesimbangan antara lingkungan alam dan lingkunganbuatan; dan
c. meningkatkan kualitas dan estetika lingkungan.
Jenis-jenis RTH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Kawasan jalur hijau;
b. Kawasan pertanian dan perkebunan;
c. taman kota yang terdapat di Kawasan Perkotaan;
d. taman lingkungan yang terdapat di Kawasan permukiman; e. taman pada Kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung; f. setra yang terdapat diseluruh Desa Adat;
g. karang bengang di Kawasan Perdesaan; h. kuburan umum;
i. lapangan olah raga; j. lapangan upacara; k. parkir terbuka;
l. jalur di bawah jaringan listrik tegangan tinggi dan ekstra tinggi; m. jalur pengaman jalan, median jalan dan pedestrian; dan n. sempadan perbatasan Wilayah Kabupaten.
pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampahdari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempatpengolahan sampah terpadu;
pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/ataudari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempatpengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhirdengan alat angkut yang terpisah menurut jenis dan sifat sampah;
pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, danjumlah sampah;
pemrosesan akhir sampah dengan mengoptimalkan pengelolaan sampah pada Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) Sarbagita(Denpasar, Badung, Gianyar,Tabanan) yang terletak di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung (Wilayah Kota Denpasar); dan
metode pengolahan sampah di TPA Suwung dilakukan melaluisanitary landfill.
c. Penanganan sampah ditunjang olehsarana dan prasarana persampahan, meliputi:
sarana dan prasarana sampah lingkungan dan Kawasan, dikembangkanuntuk menampung dan memilah sampah kegiatan Masyarakat padaKawasan permukiman, Kawasan pusat perkantoran, perdagangan danjasa, fasilitas umum, fasilitas sosial, fasilitas lainnya dan KawasanLindung;
sarana dan prasarana Tempat Penampungan Sementara (TPS),dikembangkan sebagai tempat penampungan sementara sebelum sampahdiangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan dan/atau tempatpengolahan sampah terpadu;
sarana dan prasarana Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST),dikembangkan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan pengumpulan,pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan danpemrosesan akhir sampah, terbagi dalam beberapa daerah pelayanansehingga dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayananpengelolaan sampah serta mengurangi
____________________________________________________________ III - 63
ARAHAN POLA RUANG ARAHAN STRUKTUR RUANG
(1) (2)
volume sampah yang harus dikirimke TPA;
sarana dan prasarana TPA dikembangkan sebagai tempat untuk memproses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secaraaman bagi manusia dan lingkungan;
sarana dan prasarana pengelolaan sampah drainase/sungai, dikembangkanuntuk membersihkan sampah dari badan-badan air dan mencegah sampahmenumpuk di aliran sungai, estuary dam atau Kawasan Teluk Benoa; dan
sarana dan prasarana sampah spesifik dikembangkan untuk mencegah pencemaran udara, tanah, dan air serta meningkatkan kualitas lingkungan
Sistem pengelolaan air limbah meliputi:saluran air limbah; pengolahan air limbah; danpengembangan sistem pengolahan air limbah terpusat.
Saluran air limbah meliputi:
a. penyaluran air limbah di Kawasan Perkotaan dikembangkan dengansistem terpisah antara saluran pembuangan air limbah dengan saluran airhujan;
b. dalam hal belum tersedia sistem saluran terpisah maka penyaluran airlimbah yang bergabung dengan saluran air hujan harus melaluipengolahan sebelum dibuang ke badan lingkungan; dan
c. menggunakan sistem saluran air limbah kedap air sehingga tidak terjadiperembesan air limbah ke media lingkungan.
Pengolahan air limbah,meliputi:
a. pengolahan air limbah dapat dilakukan dengan sistem setempat (on site)atau sistem terpusat (off site);
b. sistem pengolahan air limbah setempat dilakukan secara individualdengan penyediaan bak pengolahan air limbah atau tangki septik;
c. sistem saluran air limbah terpusat dilakukan secara kolektif atau komunalmelalui saluran pengumpul air limbah kemudian diolah pada InstalasiPengolahan Air Limbah (IPAL) terpusat di Suwung (Wilayah Kota Denpasar);
____________________________________________________________ III - 64
ARAHAN POLA RUANG ARAHAN STRUKTUR RUANG
(1) (2)
d. sistem pembuangan terpusat skala kecil pada Kawasan permukiman padatperkotaan yang tidak terlayani sistem jaringan air limbah terpusatdan/atau komunal perkotaan diarahkan menggunakan sistem SanitasiMasyarakat (Sanimas) atau teknologi lainnya yang ramah lingkungan (biofilter).
Pengembangan sistem pengolahan air limbah terpusat, meliputi:
a. pendayagunaan dan pemeliharaan sistem prasarana pembuangan air limbah perpipaan terpusat Denpasar Sewerage Development Project (DSDP) Tahap I, yang telah terbangun di Kelurahan Seminyak dan Legianyang dilayani IPAL Suwung dan sebagian Kawasan Pariwisata Nusa Duayang dilayani IPAL Benoa (IPAL BTDC);
b. pengembangan jaringan perpipaan terpusat DSDP Tahap II yangmenjangkau Kelurahan Kuta; dan
c. rencana pengembangan jaringan perpipaan terpusat yang menjangkau Kawasan Perkotaan Mangupura, Kawasan Pusat Pemerintahan KabupatenBadung, Kawasan Perkotaan Jimbaran, Kawasan Perkotaan Nusa Dua,dan pusat-pusat kegiatan pariwisata lainnya.
____________________________________________________________ III - 65
____________________________________________________________ III - 66
____________________________________________________________ III - 67
Tabel 3.10 Penetapan Kawasan Strategis di Kabupaten Badung
KAWASAN STRATEGIS KAB/KOTA SUDUT KEPENTINGAN LOKASI/BATAS KAWASAN
(1) (2) (3)
KABUPATEN BADUNG
1. Kawasan Pertahanan dan Keamanan Batalyon Raider 741
Pertahanan dan keamanan Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta 2. Kawasan Bandar Udara Ngurah Rai Pertumbuhan ekonomi Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta 3. Kawasan Pariwisata Nusa Dua, Tuban
dan Kuta
Pertumbuhan ekonomi Benoa, Tanjung Benoa, Jimbaran, Ungasan, Pecatu, Kutuh di Kec Kuta Selatan; Kedonganan,Tuban, Kuta, Legian,Seminyak di Kec Kuta; Kerobokan Kelod, Kerobokan, Canggu, Tibubeneng, di Kec Kuta Utara; Pererenan, Munggu, Cemagi di Kec.Mengwi
4. Kawasan terminal penumpang tipe A Mengwi;
Pertumbuhan ekonomi Mengwitani kec Mengwi
5. Kawasan sepanjang jalan arteri primer; Pertumbuhan ekonomi a. batas Kota Tabanan - Mengwitani; b. Mengwitani – batas Kota Denpasar; c. simpang Kuta – Tugu Ngurah Rai;
d. tugu Ngurah Rai – simpang Bandar Udara Ngurah Rai; dan e. simpang Kuta – simpang Pesanggaran.
6. Kawasan Perkotaan Kuta Pertumbuhan ekonomi Kuta,Kec Kuta
7. Kawasan Perkotaan Mangupura Pertumbuhan ekonomi Mengwitani, Mengwi, Gulingan, Werdibhuana kecamatan Mengwi 8. Kawasan Perkotaan Jimbaran Pertumbuhan ekonomi Tuban kec Kuta; Jimbaran Kuta Selatan
9. KDTWKp Pelaga dan KDTWKp Belok Sidan
Pertumbuhan ekonomi Pelaga, Belok sidan Kecamatan Petang
10. DTW Kabupaten Pertumbuhan ekonomi Tersebar
11. Kawasan Pura Uluwatu Sosial dan budaya Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan; 12. Kawasan Pura Pucak Mangu Sosial dan budaya Desa Pelaga, Kecamatan Petang; 13. Kawasan Pura Gunung Payung Sosial dan budaya Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan;
14. Kawasan Pura Goa Gong Sosial dan budaya Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan 15. Kawasan Pura Petitenget Sosial dan budaya Kelurahan Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara 16. Kawasan Pura Sada Sosial dan budaya Kelurahan Kapal, Kecamatan Mengwi;
17. Kawasan Pura Tamansari Sosial dan budaya Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi; 18. Kawasan Pura Pucak Tedung Sosial dan budaya Desa Petang, Kecamatan Petang; dan 19. Kawasan warisan budaya Taman Ayun Sosial dan budaya Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi 20. Kawasan Taman Hutan Raya Prapat
Benoa (Tahura Ngurah Rai);
fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
Kelurahan Kuta, Kelurahan Tuban, Kelurahan Kedonganan, Kelurahan Jimbaran, Kelurahan Benoa dan kelurahan Tanjung Benoa
____________________________________________________________ III - 68
KAWASAN STRATEGIS KAB/KOTA SUDUT KEPENTINGAN LOKASI/BATAS KAWASAN
(1) (2) (3)
21. Kawasan Taman Wisata Alam Sangeh fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal 22. Kawasan Hutan Lindung Gunung
Batukaru
fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
Desa Pelaga, Kecamatan Petang 23. Kawasan pesisir pantai dan laut
Kabupaten;
fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
Kawasan pesisir pantai dan laut Kabupaten; 24. DAS Tukad Mati, DAS Tukad Ayung,
DAS Tukad Penet, dan DAS Tukad Badung;
fungsi dan daya dukung lingkungan hidup 25. potensi cekungan air bawah tanah di
Kawasan Nusa Dua
fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
Kecamatan Kuta Selatan; 26. potensi cekungan air bawah tanah lintas
kabupaten/kota;
fungsi dan daya dukung lingkungan hidup 27. Kawasan estuary dam fungsi dan daya dukung
lingkungan hidup
III - 69
Gambar 3.9 Peta Kawasan Strategis Kabupaten Badung (sudut kepentingan ekonomi)
III - 70
Gambar 3.10 Peta Kawasan Strategis Kabupaten Badung (sudut kepentingan sosial budaya)
III - 71
Gambar 3.11 Peta Kawasan Strategis Kabupaten Badung (sudut kepentingan lingkungan hidup)
III - 72
3.2. ARAHAN STRATEGIS NASIONAL
3.2.1. Kawasan Strategis Nasional (KSN)
Sesuai dengan arahan pada Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kawasan Strategis Nasional (KSN) adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia. Penetapan Kawasan Strategis Nasional dilakukan berdasarkan beberapa kepentingan, yaitu: a. pertahanan dan keamanan; b. pertumbuhan ekonomi; c. sosial dan budaya; d. pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi; e. fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.
Berdasarkan kriteria penetapan kawasan strategis nasional (KSN) seperti tersebut di atas, maka dalam RTRWN telah ditetapkan kawasan strategis nasional (KSN) di Provinsi Bali berdasarkan kepentingan pertumbuhan ekonomi, meliputi kawasan perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Kawasan Perkotaan Sarbagita).
3.2.2. Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN)
Sesuai dengan arahan pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan Strategis Nasional atau PKSN adalah kawasan perkotaan yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara. Penetapan PKSN dilakukan berdasarkan beberapa kriteria yang terdapat pada pasal 15, yaitu sebagai berikut:
a. pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan negara tetangga
b. pusat perkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang internasional yang menghubungkan dengan negara tetangga
c. pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang menghubungkan wilayah sekitarnya
d. pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya.
Berdasarkan kriteria penetapan pusat kegiatan strategis nasional (PKSN) seperti tersebut di atas, maka dalam RTRWN belum ada ditetapkan pusat kegiatan strategis nasional (PKSN) di Provinsi Bali.
3.2.3. Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
Sesuai dengan arahan pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan Nasional atau PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi. Penetapan PKN dilakukan berdasarkan beberapa kriteria yang terdapat pada pasal 14, yaitu sebagai berikut:
a. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional
b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi
c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi
PKN suatu wilayah dapat berupa kawasan megapolitan, kawasan metropolitan, kawasan perkotaan besar, kawasan perkotaan sedang,atau kawasan perkotaan kecil.
III - 73 Berdasarkan kriteria tersebut, telah ditetapkan pusat kegiatan nasional (PKN) di Provinsi Bali, meliputi kawasan perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan (Kawasan Perkotaan Sarbagita).
3.2.4. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
Berdasarkan arahan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 dan melengkapi dokumen perencanaan.
Pengembangan MP3EI difokuskan pada Kawasan Perhatian Investasi (KPI) yang diidentifikasikan sebagai satu atau lebih kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat atau terhubung dengan satu atau lebih faktor konektivitas dan SDM IPTEK. Pendekatan KPI dilakukan untuk mempermudah identifikasi, pemantauan, dan evaluasi atas kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat dengan faktor konektivitas dan SDM IPTEK yang sama.
KPI dapat menjadi KPI prioritas dengan kriteria sebagai berikut: a. Total nilai investasi pada setiap KPI yang bernilai signifikan
b. Keterwakilan Kegiatan Ekonomi Utama yang berlokasi pada setiap KPI
c. Dukungan Pemerintah dan Pemerintah Daerah terhadap sentrasentra produksi di masing-masing KPI
d. Kesesuaian terhadap beberapa kepentingan strategis (dampak sosial, dampak ekonomi, dan politik) dan arahan Pemerintah (Presiden RI)
Penetapan lokasi Kawasan Perhatian Investasi (KPI) berdasarkan arahan Perpres Nomor 32 Tahun 2011, khususnya yang terkait dengan Wilayah Provinsi Bali, meliputi: Koridor Ekonomi (KE) Bali – Nusa Tenggara,dengan Kawasan Perhatian Investasi (KPI): Badung, Buleleng, Lombok Tengah, Kupang, Sumbawa Barat, Aegela, Nusa Penida.
3.2.5. Kawasan Ekonomi Khusus
Sesuai dengan arahan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. KEK terdiri atas satu atau beberapa zona, antara lain pengolahan ekspor, logistik, industri, pengembangan teknologi, pariwisata, energi, dan ekonomi lainnya. Pembentukan KEK tersebut dapat melalui usulan dari Badan Usaha yang didirikan di Indonesia, pemerintah kabupaten/kota, dan pemerintah provinsi, yang ditujukan kepada Dewan Nasional. Selain itu, Pemerintah Pusat juga dapat menetapkan suatu wilayah sebagai KEK yang dilakukan berdasarkan usulan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian. Sedangkan lokasi KEK yang diusulkan dapat merupakan area baru maupun perluasan dari KEK yang sudah ada.
Usulan lokasi KEK harus memenuhi beberapa kriteria antara lain :
a. sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung;
b. adanya dukungan dari pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan;
III - 74 c. terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional atau dekat dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau terletak pada wilayah potensi sumber daya unggulan;
d. mempunyai batas yang jelas.
Berdasarkan arahan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus, bahwa di Provinsi Bali belum ada kawasan yang ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).