SUBSIDI PERUMAHAN BAGI MBR
5.4 Arahan Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM)
5.4.2 Rencana Pengembangan SPAM .1 Rencana umum
5.4.2 Rencana Pengembangan SPAM 5.4.2.1 Rencana umum
Berdasarkan tuntunan pada kebijakan pelayanan dengan kualitas air minum sesuai PP No. 16 Tahun 2005, maka perlu dilakukan peningkatan kualitas air minum yang didistribusikan kepada pelanggan disamping perlu menjaga kulitas air dalam jaringan transmisi dan distribusi sehingga jaringan pipa lama yang tidak memadai perlu diganti. Untuk itu penggunaan pipa untuk mengganti jaringan pipa lama dan jaringan pipa baru perlu memperhatikan jenis pipa tahan tekanan, tahan korosif dan memiliki tingkat kebocoran rendah dan umur pipa cukup lama.
Kondisi jaringan distribusi eksisiting tidak menunjang untuk pembagian zonasi pelayanan dalam rangka menunjang program penurunan kebocoran (NRW). Untuk itu perencanaan RIP SPAM ini akan dilengkapi dengan kebutuhan pembagian Zona Pelayanan untuk menunjang pelaksanaan program NRW tersebut. Penentuan rencana wilayah pengembangan SPAM di Kota Batam mempertimbangkan beberapa faktor seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan RDTR, penyebaran permukiman, kondisi fisik kota (topografi), rencana strategis/prioritas (skala nasional, provisi dan kota), kondisi system SPAM eksisting dan ketersediaan sumber air baku.
Sistem pelayanan jaringan tansmisi dan distribusi yang akan dikembangkan diharapkan akan memperoleh sistem yang efektif dan efisien yaitu semaksimal mungkin memanfaatkan sistem pengaliran gravitasi (gravitation system) dengan memanfaatkan kondisi topografi di wilayah pelayanan sehingga pada akhirnya diharapkan akan diperoleh system yang paling murah. Melihat kondisi wilayah pelayanan dengan kontur yang bervariasi maka sepenuhnya system pelayanan tidak dapat memanfaatkan system gravitasi melainkan dengan pemompaan.
RPIJM KOTA BATAM 2015 – 2019 BAB V -55
Peningkatan pelayanan air minum diwilayah eksisting akan meliputi: Peningkatan pelayanan bagi penduduk yang belum berlangganan air
minum namun berada diwilayah yang telah memiliki jaringan.
Peningkatan air minum bagi penduduk yang belum terjangkau oleh pelayanan air minum saat ini.
Sedangkan pengembangan pelayanan air minum bagi kawasan baru akan meliputi :
Pelayanan air minum di Pulau Galang dan Rempang sebagai kawasan yang saat ini diproyeksikan menjadi kawasan bebas / FTZ perlu diantisipasi kebutuhan airnya.
Pelayanan air minum untuk Rencana Kawasan CBD (central bussiness district) dimasa mendatang yang telah dicanangkan sebagai kawasan Strategis Nasional.
Pelayanan air minum untuk Kawasan Industri sebagai kawasan Strategis Kota.
Pelayanan air minum untuk Kawasan Industri dan Pelabuhan Bebas yang merupakan Kawasan Strategis Nasional di wilayah Galang Rempang.
5.4.2.2 Rencana Pentahapan Pengembangan
Sasaran wilayah penyusunan Rencana Induk Pengembangan SPAM ini adalah untuk pelayanan air minum 15 tahun kedepan yaitu tahun 2011-2025, dengan strategi waktu perencanaan ini secara garis besar terbagi dalam tiga tahap, yaitu :
Tahap I (Jangka Pendek 3 Tahun) : Tahun 2013 – 2015 Tahap II (Jangka Menengah 5 Tahun) : Tahun 2016 – 2020 Tahap III (Jangka Panjang 12 Tahun) : Tahun 2021 – 2032
RPIJM KOTA BATAM 2015 – 2019 BAB V -56
Fase – 1 : Tahun 2021 – 2025. Fase – 2 : Tahun 2026 – 2032.
Arahan pelaksanaan setiap tahapan disusun sebagai berikut: I. Mainland (Pulau Batam)
Program Tahap I (Jangka Pendek : 2013 - 2015), diarahkan untuk Optimalisasi Sistem Eksisting, yaitu :
Optimalisasi jaringan pipa transmisi air bersih. Peningkatan kualitas air dan kontinuitas pelayanan Pengembangan jaringan pipa distribusi.
Optimalisasi Sistem IPA yang ada
Program Tahap II (Jangka Menengah: 2016 - 2020), diarahkan untuk :
Pembangunan IPA baru
Pengembangan jaring pipa distribusi Pembangunan sumber air baku baru Pembangunan pipa transmisi air baku
Program Tahap III (Jangka Panjang 2021-2032) Pembangunan jaringan pipa distribusi.
II. Hinterland (Luar Pulau Batam)
Program Tahap I (Jangka Pendek : 2013 - 2015), diarahkan untuk Optimalisasi Sistem Eksisting, yaitu :
Optimalisasi jaringan pipa transmisi air bersih. Peningkatan kualitas air dan kontinuitas pelayanan Pengembangan jaringan pipa distribusi.
RPIJM KOTA BATAM 2015 – 2019 BAB V -57
Optimalisasi Sistem IPA yang ada
Pembangunan SPAM pedesaan dengan system perpipaan
Program Tahap II (Jangka Menengah: 2016 - 2020), diarahkan untuk :
Pembangunan IPA baru
Pengembangan jaring pipa distribusi Pembangunan sumber air baku baru Pembangunan pipa transmisi air baku
Program Tahap III (Jangka Panjang 2021-2032) Pembangunan pipa distribusi
5.4.2.3 Daerah Pelayanan
Berdasarkan hasil analisa kondisi topografi, kondisi system pelayanan eksisting dan rencana pelayanan dimasa mendatang, maka daerah pelayanan khusus Pulau Batam/mainland akan dibagi menjadi beberapa zona/sistem pelayanan untuk pelayanan domestic) dan 3 (tiga) system pelayanan untuk industry dan CBD. Setiap system pelayanan dibagi menadi beberapa zona pelayanan yang bervariasi mulai dari 1 hingga 9 zona pelayanan sehingga total zona pelayanan sebesar 34 zona. Zona pelayanan ini juga dirancang dalam rangka menunjang program penurunan kebocoran (NRW).
5.4.2.4 Proyeksi Kebutuhan Air Tiap Zona Pelayanan
Pembagian Sistem Pelayanan mempertimbangkan beberapa faktor seperti : kemungkinan penyebaran penduduk di masa mendatang, pelayanan yang efektif dan efisien, batas administrasi, batas alam dll. Pembagian kebutuhan air tiap zona pelayanan dikelompokan menjadi
RPIJM KOTA BATAM 2015 – 2019 BAB V -58
beberapa zona pelayanan berdasarkan system pelayanan pada reservoir yang ada dan akan dikembangkan.
5.4.2.5 Rencana Sumber Air Baku
Terdapat beberapa sumber air baku yang ada di sekitar wilayah Kota Batam yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku air minum.
5.4.2.6 Rencana kebutuhan IPA
Rencana pentahapan kebutuhan Instalasi Pengolahan Air (IPA) sesuai dengan tahapan pengembangan sistem dengan asumsi bahwa debit danau yang ada hanya akan mapu mensuplay sampai dengan tahun 2020.
5.4.2.7 Rencana Kebutuhan Reservoir
Rencana pentahapan kebutuhan reservoir sesuai dengan tahapan pengembangan sistem sampai dengan akhir Tahap III Fase-2 tahun 2032
5.4.2.8 Rencana kebutuhan pipa tranmisi air bersih
Rencana pentahapan kebutuhan pipa transmisi air bersih sesuai dengan tahapan pengembangan sistem sampai dengan akhir Tahap III Fase-2 tahun 2032 meliputi pipa transmisi yang mensuplai air dari masing-masing IPAng ada.
5.4.2.9 Rencana Kebutuhan Pipa Distribudi Air Bersih
Dengan kondisi daerah pelayanan air minum di Kota Batam yang menyebar dan kondisi topografi daerah pelayanannya relative datar dengan sumber air yang tersebar dibeberapa tempat, oleh karena tuntutan kondisi tersebut, maka sistem pelayanan dibagi kedalam beberapa sistem
RPIJM KOTA BATAM 2015 – 2019 BAB V -59
pelayanan reservoir, sehingga diharapkan tekanan pada sistem distribusi dapat memenuhi persyaratan tekanan minimum. Sedangkan untuk mengatasi tekanan berlebih pada daerah pelayanan tertentu dapat dilakukan dengan membuat/memasang Pressure Reducing Valve (PRV).
5.4.2.10 Pompa penguat (booster pump)
Booster pump diperlukan untuk menaikkan tekanan dengan pertimbangan teknis bahwa :
Jalur pipa terlalu jauh
Beda elevasi antara IPA dan reservoir distribusi terlalu tinggi Menghindari penggunaan pompa dan pipa bertekanan tinggi.
Sistem Booster Pump yang dipilih adalah Sistem Tidak Langsung atau Non Direct Booster yang dilengkapi Tangki Hisap (reservoir) dengan kapasitas penampungan 1-2 jam dengan asumsi debit pengisian dan pemompaan berfluktuasi.
Lokasi Booster Pump dirancang sedemikian rupa pada lokasi yang strategis sehingga dapat menjangkau seluruh daerah pelayanan.
5.4.2.11 Keterpaduan Dengan Sarana dan Prasarana Sanitasi Seperti dijelaskan pada Bab 2, bahwa Kota Batam sebagai Ibukota Provinsi Kepulauan Riau hingga saat ini belum memiliki sarana dan prasarana sanitasi yang baik. Misalnya Instalasi pengolahan limbah rumah tangga (IPAL) secara terpusat atau Sewerage System baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta belum tersedia. Sehingga pada umumnya mayarakat mengolah air limbah cair domestik secara konvensional yaitu menggunakan tangki septik individual, bahkan masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir mereka membuang limbahnya langsung ke laut tanpa ada tangki septik atau cubluk.
RPIJM KOTA BATAM 2015 – 2019 BAB V -60
Pengelolaan persampahan di Kota Batam sudah cukup baik, hal ini terlihat dimana beberapa aspek teknis telah memenuhi standar kriteria, misalnya cakupan pelayanan sudah lebih dari 80% dari keseluruhan luas wilayah Kota Batam.
Secara umum, sistem drainase di Kota Batam kondisinya masih belum memadai.Sistem drainase di Kota Batam sebagian besar terdapat di pusat – pusat kegiatan dan di sepanjang jaringan jalan utama. Sedangkan di luar pusat kotayang tidak dilalui jalan utama umumnya masih menggunakan jaringan drainase alami yang sebagian besar masih berupa tanah serta dalam keadaan dangkal.
Kondisi sanitasi tersebut akan sangat terkait dengan sistem penyediaan air minum di Kota Batam. Apabila kondisi sanitasi seperti ini tidak tidak segera diantisipasi maka berdampak pada terjadinya pencemaran air tanah yang dikonsumsi oleh masyarakat oleh limbah domestik padahal di sisi lain sumber air tanah ini masih menjadi alternative sumber air yang dimanfaatkan oleh sebagian besar warga masyarakat.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, terdapat dua alternative sistem pelayanan air minum yang dapat ditempuh yaitu:
1) System Pelayanan Komunal (Perpipaan).
Hingga saat ini hanya Institusi PDAM-lah yang dapat
mengembangkan Sistem pelayanan pelayanan air minum kepada masyarakat melalui sistem perpipaan baik berupa pelayanan sambungan rumah (SR) maupun hidran umum (HU). Bagi masyarakat yang tidak mampu berlangganan air bersih melalui SR dapat dilayani dengan sistem Hidran Umum (HU).
2) Sistem Pelayanan Individual (Non Perpiaan)
Bagi masyarakat yang pelayanannya belum terjangkau oleh sistem perpipaan dari PDAM, maka apabila akan memanfaatkan sumber air tanah untuk dikonsumsi maka harus memperhatikan jarak minimal antara tangki septik dengan sumber (sumur gali, sumur pompa
RPIJM KOTA BATAM 2015 – 2019 BAB V -61
dangkal) sepanjang 15 meter atau letak sumur berada pada elevasi yang lebih tinggi dari pada tangki septik dan melakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala.
5.4.3 Rencana penurunan Kebocoran Air Minum