PRAKTIK INOVASI PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DI DAERAH
Skema 2 Proses KBM SMKN 4 Malang
E. Rencana Pengembangan Usaha
Pengembangan usaha akan dilakukan setelah usaha jasa boga menunjukan kemajuan yang berarti. Pengembangan bisa diarahkan pada variasi jenis makanan yang dikelola, pembukaan cafe, pelayanan terhadap tamu sekolah dan jasa catering untuk pelatihan yang diadakan di sekolah.
No Bagian Besar Presentasi (%)
Sub Bagian Presentasi
(%)
1 Sekolah 60
Kesejahteraan karyawan sekolah 30
Pemeliharaan 20
Pengembangan usaha/penambahan modal 30
Pengelola 10
2 Program
Keahlian 40
Pengelola Program Keahlian Kesra Program Keahlian
40
30 30
Rencana selanjutnya yang ingin dikembangkan adalah dengan membagi hasil perolehan personal untuk diberikan/dibayarkan dan disimpan sebagai tabungan yang akan diputarkan sebagai modal usaha besarnya direncanakan 75 % diberikan : 25 % disimpan. Sehingga pada akhirnya personal yang terkait dalam pengelolaan jasa boga akan mendapatkan hasil usaha berupa persentase ke- untungan dari modal yang diputarkannya dan pembagiannya akan diberikan secara periodik.
Setelah simpanan yang menjadi hak personal pengelola akan diberikan pada saat personal tersebut keluar, berhenti, meninggal dunia dan atau yang bersangkutan menginginkan pengembalian modal tersebut. Diharapkan tahun berikutnya, honor karyawan minimal dapat setara dengan gaji golongan III Pegawai Negeri Sipil.
Usaha untuk mencapai target ini terus dilakukan dengan meningkatkan kerja sama dengan industri lainnya agar menanam investasi di sekolah dan sekolah menyediakan tenaga kerja terdidik sesuai dengan kebutuhan industri.
3.3.4 Kapabilitas Inovasi
a. Strategi yang Dilakukan
SMKN 2 Subang pernah mengalami masa-masa sulit, untuk bertahan dan akhirnya bangkit dari keterpurukan bukanlah hal yang mudah. Berikut adalah strategi yang dilakukan SMKN 2 Subang untuk bangkit dari keterpurukannya.
a) Kemampuan mendengarkan keinginan stakehlders
Kesadaran SMKN 2 Subang untuk mendengarkan kebutuhan dan keinginan stakeholders nya mendorong untuk bangkit dari keterpurukan dengan melakukan perubahan-perubahan sebagai berikut :
• Re-engineering Mind Set, dengan menata ulang cara berpikir, bersikap, dan bertindak para pendidik dan tenaga kependidikan bahwa mereka diberi amanah untuk mengelola dan menyelenggara- kan SMK agar tamatannya bisa bekerja sesuai bidangnya dengan tingkat pendapatan yang layak serta mampu mengembangkan dirinya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Secara keseluruhan kegiatannya meliputi :
1. memahami kondisi sekolah dan kebijakan pendidikan menengah kejuruan
3. menumbuhkembangkan kapabilitas individu dan tim kerja 4. menumbuhkembangkan akuntabilitas individu dan tim kerja 5. memahami kebutuhan pelanggan
6. memuaskan kebutuhan pelanggan
7. memberi akses dan kepuasan kepada semua
8. meningkatkan kompetensi dan pelayanan secara terus menerus
• Re-engineering Program Keahlian, upaya ini dilakukan untuk memperbaiki citra SMKN 2 Subang dan untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
1. mengalih-fungsikan Program Keahlian Mekanisasi Pertanian menjadi Teknik Mekanik Otomotif (TMO);
2. membuka Program Keahlian Nautika Perikanan Laut (NPL), Teknika Perikanan Laut (TPL), Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Laut (TPHPL) pada tahun pelajaran 2001/2002 3. membuka Program Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak,
Elektronika Industri, Tata Boga, Tata Busana, Usaha Jasa Pariwisata pada tahun pelajaran 2007/2008
4. mengembangkan SMK berbasis program keahlian 2006/2007 5. mengembangkan program keahlian berbasis pelanggan
2007/2008
6. mengembangkan program keahlian berbasis bisnis/wirausaha 2009/2010
b) Kemampuan untuk merespon dan menjawab dengan tepat keinginan stakeholders
Keputusan SMKN 2 untuk menerpakan program ketarunaan salah satunya adalah sebagai bentuk jawaban atas kebutuhan stakeholders
(institusi pasangan, DU/DI, orang tua siswa, masyarakat) yang meng- harapkan calon tenaga kerjanya/anaknya/warganya yang sehat, kuat, disiplin dan berbudaya (komunikasi/bahasa, tata krama/etika, kemampuan komputer dan mengakses informasi, serta kemampuan mengembangkan diri. Tidak berhenti sampai disitu, kemampuan menjawab dengan tepat keinginan stakeholders juga harus diikuti dengan pengendalian terhadap proses dan produk yang dihasilkan.
c) Kemampuan untuk membangun jejaring dan hubungan dengan mitra industri
Keberhasilan SMKN 2 Subang tidak terlepas dari kemampuannya untuk membangun jejaring operasional maupun strategisnya. Dengan ber- modal jejaring ini sekolah mampu mewujudkan sesuatu yang mungkin bagi sekolah lain mengharuskan adanya dukungan finansial yang cukup
besar. Keberhasilan program kelas jarak jauh misalnya tidak terlepas dari bagaimana sekolah mampu meyakinkan siswa dan orang tua siswa un- tuk tetap sekolah dengan kondisi darurat, meyakinkan bagaimana warga masyarakat bersedia mendukung pelaksanaan program dengan mendonorkan semua sumber daya. Begitupun dengan program pengembangan plasma industri di sekolah adalah bukti dari kemampuan sekolah dalam membangun jejaring dan hubungan dengan mitra industrinya. Dan stakeholders inilah yang pada akhirnya menuntun dan mengarahkan sekolah pada arah pengembangan sekolah kedepan- nya.
b. Proses
Implementasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001-2000
Untuk penguatan tata kelola SMKN 2 Subang juga menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001-2000. Proses penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2000 di SMK Negeri 2 Subang di awali dengan pembentukan Steering Commite sekitar bulan Agustus 2007 dengan jumlah anggota 25 orang, terdiri dari Kepala Sekolah, Wakil Manajemen Mutu, para Wakil Kepala Sekolah, para Ketua Program Keahlian dan staf perwakilan dari setiap program keahlian.
Dokumen mutu yang telah disusun terdiri dari Pedoman Mutu, Standar Prosedur Operasional ( 7 SPO), Instruksi Kerja ( ada 24 IK ) dan Formulir (ada 4 Form). Terdapat 14 unit kerja yang disertifikasi antara lain : unit kerja Kepala Sekolah,TU, Waka Sekolah ,dan Program Keahlian. Untuk program keahlian terdapat 18 program keahlian akan tetapi yang masuk lingkup SMM ISO 9001:2000 baru 7 Program Keahlian yaitu : Budidaya Tanaman, Budidaya Ternak, Budidaya Ikan Air Tawar, PPHP, NPL,TPL dan TMO. Penerapan SMM ISO 9001 : 2000 dimulai tanggal 11 September 2007 dan sertifikasi diperoleh tanggal 22 Pebruari 2008.
Tidak jauh berbeda dengan SMKN 4 Malang dan SMKN 8 Makassar, bahwa penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2000 memungkinkan sekolah untuk melakukan pemantauan pengukuran terhadap kepuasan pelanggan (stakeholders sekolah), pemantauan terhadap proses dan produk, pemantauan terhadap produk atau keluaran yang bermasalah dan pelaksanaan audit internal. Jika tata kelola yang baik dipahami se- bagai kepengelolaan atau kepengarahan yang baik, sebenarnya mem- punyai kesamaaan dengan fungsi manajemen dan sistem operasi prosedur. Kesamaannya adalah sama-sama sebagai strategi, cara atau metode berkenaan dengan pencapain tujuan bersama bukan orang perorangan.
Beberapa karakteristik yang melekat dalam praktik tata kelola yang baik muncul dalam penerapan SMM di SMKN 2 seperti :
1. Tersedianya ruang kepada pihak di luar pemerintah yaitu masyarakat untuk berperan secara optimal sehingga memungkinkan adanya sinergi diantara mereka dalam hal ini pelanggaran atau stake holder
lembaga pendidikan. Program kelas jarak jauh, pengembangan plas- ma industri bukti nyata dari sinergi semua stakeholders.
2. Hadirnya nilai-nilai yang membuat pemerintah maupun lembaga pendidikan dapat lebih efektif bekerja, seperti efisiensi, keadilan, dan daya tanggap menjadi nilai yang penting disini. Program kelas jarak jauh dan kelas wirausaha/mandiri menjadi satu contoh dari pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien.
3. Praktik tata kelola yang baik adalah praktik pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi serta berorientasi pada kepentingan publik yaitu kepentingan pelanggaan pendidikan. Sistem akuntabilitas dari pengelolaan unit usaha yang berjenjang bentuk pratik pengelolaan kegiatan sekolah yang bersih serta berorientasi kepada kepentingan stakeholders sekolah.
c. Sumber Daya Manusia
Kemampuan SMKN 2 Subang dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif telah membawa SMKN 2 Subang bangkit dari keterpurukan. Penciptaan budaya dan iklim yang kondusif di SMKN 2 didukung adanya kepemimpinan yang mampu menetapkan visi dan misi serta menyatukan semua komponen sekolah tetap pada visi dan misinya. Berikut adalah upaya yang dilakukan oleh SMKN 2 Subang da- lam mengoptimalkan peran dari setiap komponen dalam pencapaian visi dan misi sekolah.
• Menumbuhkembangkan Akseptabilitas
a) Menganggap Semua Pendidik dan Tenaga Kependidikan Baik Langkah awal menumbuhkembangkan akseptabilitas adalah dengan menganggap semua guru dan tenaga kependidikan baik. Semuanya adalah warga sekolah yang memiliki tugas pokok dan fungsi masing-masing. Tidak ada orangnya kepala sekolah atau bukan orangnya kepala sekolah, yang ada adalah tim manajemen dan tim kerja program keahlian.
b) Menetapkan Kriteria Kinerja
Langkah kedua adalah menetapkan kriteria kinerja umum, yaitu sebagai pembangun sekolah atau sebagai penghancur/perusak sekolah. Hal ini sangat penting agar setiap individu tidak semaunya sendiri, tetapi selalu bertanya pada diri sendiri apakah yang
dilakukan itu membangun sekolah atau menghancurkan sekolah. Dengan demikian diharapkan tidak ada individu yang menjadi beban sekolah tetapi semuanya menjadi aset sekolah.
c) Memilih Tim Manajemen
Langkah ketiga adalah mengembalikan semua proses pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah kepada seluruh warga sekolah sesuai tugas pokok dan fungsinya. Hal ini dimulai dengan pemilihan wali kelas oleh anggota tim, kemudian dilanjutkan dengan memilih ketua program keahlian. Setelah itu baru mengusulkan calon wakil kepala sekolah untuk dipilih oleh forum (wakasek kesiswaan dari guru normatif, wakasek kurikulum dari guru adaptif, serta wakasek fasilitas dan kerja sama industri dari guru produktif ).
Pada awalnya banyak individu yang memilih temannya untuk me- lepas tanggung jawab, tetapi dalam perjalanannya terjadi proses internalisasi tanggung jawab tim. Dalam proses ini akan diketa- hui tingkat kondusivitas tim kerja, apakah apatis-motivatif-atau destruktif. Pada tahap ini peran kepala sekolah sangat penting dan menentukan.
d) Pengembangan Profesi
Langkah keempat adalah mengusulkan peserta seleksi calon kepala sekolah atau peserta yang akan mengikuti pendidikan lanjutan. Setiap tim kerja mengusulkan kepada forum dan dipilih oleh forum. Kepala sekolah berperan sebagai pengendali mutu, penjamin mutu, dan penanggung jawab kegiatan tersebut. e) Memilih dan Mengusulkan Guru Mata Pelajaran
Setelah berlangsung selama 4 tahun (2 periode ketua program keahlian) dilakukan pelimpahan wewenang penentuan guru mata pelajaran dari kepala sekolah kepada ketua program keahlian. Sejak Tahun Pelajaran 2006/2007 Ketua program keahlian memilih guru mata pelajaran berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan selama ini. Proses ini memberi gambaran adanya guru mata pelajaran yang dipilih oleh beberapa program keahlian dan adanya guru yang tidak dipilih oleh program keahlian manapun. Selanjutnya kepala sekolah menindaklanjuti hasil tersebut untuk pembinaan dan penghargaan staf.
Selain itu proses tersebut juga memotivasi setiap individu untuk memenuhi standar kinerja minimalnya (sasaran mutu program keahlian, sasaran mutu sekolah, kesepakatan dengan institusi pasangan). Dengan demikian diharapkan kondisi ini akan mengokohkan proses demokratisasi yang bertanggung jawab sebagai pertanggungjawaban yang memilih dan yang dipilih.
• Menumbuhkembangkan Kapabilitas
a) In House Training dan Workshop
Selama proses akseptabilitas berlangsung sekolah secara bertahap juga meningkatkan kapabilitas seluruh pendidik dan tenaga kependidikan terhadap kebijakan pemerintah, filosofi dan konsep dasar kurikulum berbasis kompetensi (KBK), penyusunan kurikulum implementasi standar industri/profesi/nasional/internasional, implementasi kurikulum di sekolah dan di industri, pengembangan KBK, sistem pelayanan administrasi pendidikan KBK, motivation training, dan team building. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan dalam in house training (IHT) setiap akhir tahun pelajaran selama enam hari efektif.
Hasil IHT ditindaklanjuti dengan workshop di setiap program keahlian selama enam hari. Materinya adalah mendeskripsikan berbagai kesepakatan IHT dalam sasaran mutu dan action plan
program keahlian, serta menyusun program kerja guru mata pelajaran secara terpadu. Dengan demikian selama dua minggu setiap program keahlian telah memiliki program kerja dan KTSP sesuai kesepakatan dengan institusi pasangannya masing - masing. b) Rapat Tim Manajemen
Rapat Tim Manajemen dilaksanakan setiap hari senin yang diikuti oleh para wakasek dan para Ketua Program Keahlian. Rapat dipimpin oleh kepala sekolah atau wakasek sesuai bidangnya. Setiap hari Senin minggu pertama dilaksanakan bersama Komite Sekolah dan Koordinator BP/BK serta dipimpin langsung oleh kepala sekolah. Rapat ini merupakan wahana monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan di masing-masing program keahlian serta penyampaian informasi terkini yang hasilnya digunakan sebagai bahan rapat di tingkat program keahlian.
c) Rapat Kerja Program Keahlian
Rapat kerja di program keahlian dilaksanakan minimal sebulan dua kali dengan materi hasil rapat kerja tim manajemen, hasil monitoring dan evaluasi mata pelajaran, laporan perkembangan taruna, serta tindaklanjut yang akan dilakukan oleh masing- masing anggota tim. Rapat dipimpin oleh ketua program keahlian atau anggota lainnya sesuai masalah yang dibahas. d) Peningkatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Pendidikan
Magang, sertifikasi, dan studi lanjutan bagi guru/teknisi/staf administrasi adalah merupakan penghargaan bagi kinerja yang bersangkutan. Proses seleksi dilakukan di tingkat program keahlian dan hasilnya dibahas dalam rapat tim manajemen.
Hasilnya ditetapkan dan diusulkan oleh kepala sekolah sedangkan proses monitoring dan evaluasinya dilakukan oleh ketua program keahlian masing-masing kecuali studi lanjutan oleh kepala sekolah.
• Mengembangkan Akuntabilitas Individu dan Tim Kerja
a) Akuntabilitas Kebijakan dan Program
Proses menumbuhkembangkan akseptabilitas dan kapabilitas individu dan tim kerja telah menggambarkan : i) bagaimana peran dan tanggung jawab individu, ii) bagaimana ketua pro- gram keahlian mengelola aspirasi, kebijakan, dan keputusan, iii) bagaimana wakil kepala sekolah memfasilitasi kebutuhan sekolah dan program keahlian, bagaimana kepala sekolah meyakinkan seluruh komponen dan stake holder tentang sistem pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah, bagaimana kepala sekolah memfasilitasi setiap kebijakan dan program yang telah ditetapkan, serta bagaimana kepala sekolah mencari peluang pasar bagi pengembangan sekolah. Semuanya menunjukkan akuntabilitas kebijakan dan program yang dilakukan sekolah.
b) Akuntabilitas Pendayagunaan Sumber Daya
Akuntablitias dalam pendayagunaan sumber daya tidak hanya memerlukan kebenaran administrasi akan tetapi juga niat baik untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan pendayagunaan sumber daya tersebut. Untuk itu diperlukan sistem monitoring dan evaluasi serta sistem pertanggungjawaban secara berjenjang. Pelaksanaan kegiatan di program keahlian tanggung jawab ting- kat pertamanya berada di pelaksananya sedangkan monitoring dan evaluasi tingkat pertama menjadi tanggung jawab ketua pro- gram keahlian. Secara internal mekanisme tersebut harus efektif dan terukur. Kegiatan di program keahlian akan dipertanggung- jawabkan ditingkat sekolah dan kepada stakeholders melalui komite sekolah.
c) Akuntabilitas Spiritual
Pada akhirnya semuanya kembali kepada individu dan tim kerja terhadap pertanggungjawabannya kepada Allah SWT. Pada tahap ini kecerdasan spritual individu dan tim kerja sangat menentukan. Untuk itu diperlukan ESQ Training secara berkala bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan agar dapat menjadi teladan dalam pengelolaan dan penyelengaraan sekolah. Tahun Diklat 2007/2008 sekolah mulai menyelenggarakan achievement motivation training (AMT) dan diharapkan terus berlanjut dengan kualitas penyelenggaraan yang terus ditingkatkan.
d. Teknologi
Pengembangan sistem menajemen mutu di SMKN 2 Subang, membu- tuhkan dukungan dari pengembangan sistem berbasis IT dan website. Saat ini sekolah sedang mengembangkan sebuah sistem informasi manajemen yang dirancang khusus sebagai alat bantu pengelolaan manajemen sekolah baik manajemen administrasi, pembelajaran, dan keuangan. Sistem informasi manajemen tersebut meliputi :
1. EMIS (Education Management Information System) atau Sistem Infor- masi Manajemen Pendidikan/sekolah, yang terdiri dari :
a) SAS (Sistem Administrasi Sekolah) digunakan untuk pengelolaan administrasi siswa (data pokok, kehadiran, nilai, prestasi), pendidik (data pokok, pangkat golongan, pendidikan, keahlian, tugas mengajar) dan tenaga kependidikan (data pokok, pangkat golongan, pendidikan, dan tugas).
b) SFS (Sistem Fasilitas Sekolah) digunakan untuk pengelolaan fasilitas sekolah (bangunan, peralataan, dan infrastruktur)
c) SPS (Sistem Pembelajaran Sekolah) untuk pengelolaan pembelajaran (inventory, modul, dan multimedia).
d) Pembelajaran jarak jauh antara sekolah induk dan kelas termediasi (multi kampus).
e) Sistem informasi perpustakaan sebagai pendukung sistem pembelajaran sekolah.
2. FMIS (Financial Management Information System) atau Sistem Informasi Keuangan Sekolah) yang terdiri dari :
a) SKR (Sistim Keuangan Rutin) untuk pengelolaan anggaran rutin (APBD, SPP, UP).
b) SKP (Sistim Keuangan Pengembangan) untuk pengelolaan anggaran pengembangan SMK SBI-INVEST (ADB dan Pemerin- tah).
3. PMIS (Project Management Information System) atau Sistem Informasi Manajemen Proyek.
Sistem PMIS ini digunakan sebagai alat bantu pengelolaan pengem- bangan SMK SBI-INVEST. PMIS berbasis website juga merupakan muara dan kompilasi dari EMIS dan FMIS yang dirancang untuk me- mudahkan pengguna mengakses data dan informasi SMK SDB-IN- VEST secara online dan memanfaatkannya sesuai dengan tugas dan fungsi penggunanya. PMIS diharapkan sebagai media koordinasi dan komunikasi antara institusi yang terkait dengan pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi pengembangan SMK ADB-INVEST. Dengan pengembangan sistem berbasis IT diharapkan akan sangat memban- tu pelaksanaan sistem manajemen mutu sekolah, disamping tentunya seni diharapkan bisa membantu sekolah dalam mewujudkan visi dan misinya di samping
e. Pengukuran (Measurement)
Dengan adanya program-program inovasi yang dilakukan SMKN2 Subang, telah memberikan dampak manfaat nyata bagi siswa dan masyarakat pada umumnya. Program kelas termediasi dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Ini berarti permasalahan askes terh- adap pendidikan khususnya pendidikan menengah telah mendapatkan solusinya.
Tabel.16
Perkembangan Kelas Termediasi – SMKN 2 Subang
Tahun Ajaran Nama Kelas Jauh Lokasi-Kecamatan Junmlah
2004/2005 Miftahul Ridwan Al Falah Al Hidayah Ukil Ardli
Kelapa Bueruem -Cisalak Kasomalang- Cisalak Muncul-Pagaden Kumpai - Cijambe 1 1 1 1 Jumlah 4 2005/2006 Miftahul Ridwan Al Falah Al Hidayah Ukil Ardli
Kelapa Bueruem -Cisalak Kasomalang- Cisalak Muncul-Pagaden Kumpai - Cijambe 1 1 1 1 Jumlah 4 2006/2007 Miftahul Ridwan Al Falah Al Hidayah Ukil Ardl Caracas
Kelapa Bueruem -Cisalak Kasomalang- Cisalak Muncul-Pagaden Kumpai – Cijambe Caracas - Cipeunduey 1 1 1 1 1 Jumlah 5 2008/2009 1. Miftahul Ridwan 2. Al-Fallah 3. Alhidayah 4. Ukir Ardi 5. Caracas 6. Binong 7. Legon kulon 8. Cibogo 9. Cisampih 10. Cikaum 11. Ciasem 12. Tanjung Siang.
Kelapa Bueruem -Cisalak Muncul-Pagaden Kasomalang-Cisalak Kumpai- Cijambe Caracas – Cipeunduey Binong Legon kulon Cibogo Cisampih Cikaum Ciasem Pasanggarahan-Tanjung Siang 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jumlah 12
Sumber : SMKN 2 Subang
Tabel . 17
Data Keterserapan Lulusan SMKN 2 Subang
Sumber : SMKN 2 Subang No Tahun Akademik Jumlah Lulusan Keterserapan Jumlah Bekerja Wiraswasta TNI/Polri ke PT Tidak ada Info
1 2005/2006 114 93 16 - 5 - 114
2 2006/2007 214 90 65 7 15 36 213
3 2007/2008 278 134 86 10 13 35 278
4 2008/2009 301 167 77 9 11 37 301
Tahun Ajaran Nama Kelas Jauh Lokasi-Kecamatan Junmlah
2008/2009 1. SMK Cisalak 2. SMK Cikaum 3. SMK Patok Beusi 4. SMK Binong 5. SMK Legon kulon 6. SMK Cibogo 7. SMK Cisampih 8. SMK Cikaum 9. SMK Ciasem 10. SMK Kasomalang 11. SMK Cijambe
Kelapa Bueruem -Cisalak Muncul-Pagaden Patok Beusi– Patok Beusi Binong Legon kulon Cibogo Cisampih Cikaum Ciasem Tanjung Siang Cijambe 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jumlah 4 2006/2007 1. SMK Cisalak 2. SMK Cikaum 3. SMK Patok Beusi 4. SMK Binong 5. SMK Legon kulon 6. SMK Cibogo 7. SMK Cisampih 8. SMK Ciasem 9. SMK Kasomalang 10. SMK Cijambe 11. SMK Pagaden Timur 12. SMK Pagaden
Kelapa Bueruem -Cisalak Cikaum-Cikaum Patok Beusi– Patok Beusi Binong Legon kulon Cibogo Cisampih Ciasem Tanjung Siang Cijambe Pagaden Pagaden 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jumlah 12
Dari tabel keterserapan lulusan SMKN 2 Subang di atas, mulai tahun ajaran 2006/2007 sampai tahun ajaran 2008/2009 lulusan yang terserap dalam dunia kerja mempunyai kecenderungan terus menaik. Dan yang menarik adalah persentase lulusan yang berwirausaha relatif cukup besar, hal ini menunjukkan bahwa SMKN 2 mampu mengatasi tan- tangan besar yang di hadapainya. Program kelas jarak jauh, kelas wirau- saha/mandiri meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya akan tetapi mampu menghasilkan output yang dapat terserap dalam pasar kerja dan juga mampu menciptakan peluang kerja sendiri.
Sementara itu dengan pengembangan pembelajaran berbasis wirausaha juga telah mengahasilkan nilai usaha yang cukup mem- banggakan seperti terlihat dalam tabel di bawah.
Tabel .18
Jenis Usaha dan Nilai Usaha di Tiap Unit Kerja – SMKN 2 Subang
Sumber : SMKN 2 Subang
3.3.5 Kesinambungan Program
Keberlanjutan inovasi membutuhkan komitmen yang tinggi dari pihak SMKN 2 Subang untuk tetap istiqomah pada visi dan misi awal. Konsistensi dalam memastikan jalannya proses sesuai dengan rencana atau bagaimana SMK meningkatkan kualitas layanan dan tingkat produknya sangat dibutuhkan. Untuk itu perlu mekanisme dalam hal memantau, mengavaluasi dan melakukan langkah perbaikan secara berkelanjutan. Pelaksanaan mekanisme ISO untuk menjamin kualitas menuntut profesionalisme dari
No Program Keahlian Jenis Usaha Volume Usaha Nilai Usaha
1 BIAT Pembenihan ikan 12000 m2 25 juta/periode
2 Budidaya Tanaman Tanaman Sayuran Tan Hias dan Buah
1 ha
100 tan/periode
48 juta/periode 2 juta/periode 3 Budidaya Ternak Pembibitan Ternak
sapi
9 ekor 18 juta/periode
4 Budidaya Ternak Bd. Ternak unggas 2500 ekor 35 juta/periode 5 Pengolahan Hasil
Pertanian Pangan
Sari Buah Nenas 3600 cup 3,6 juta/bln
6 Tata Boga Katering 7800 porsi 35 juta/bln
7 Teknik Mekanik Otomotif
sumber daya manusia yang ada. Tingkat aktivitas pekerjaan yang semakin tinggi yang harus dihadapi oleh manajemen SMK dalam menghadapi pekerjaan seperti rutinitas sekolah (kewajiban mengajar), memastikan mekanisme ISO berjalan dan pengelolaan aktivitas unit pelayanan jasa menyebabkan waktu menjadi sumber daya yang langka dan tekanan yang tinggi bagi pihak pengelola. Peningkatan pada aktivitas diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan manfaat dari semua pihak yang terlibat sehingga keberlanjutan program dapat terjamin.