Bab 3. Metode Penelitian
3.11. Rencana Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisis statistik dari data yang diperoleh dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan alat bantu program Statistical Package for Social Sciences (SPSS). Untuk mengetahui faktor-faktor (usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan status perkawinan) yang berhubungan dengan simtom insomnia yang dilakukan analisis dengan menggunakan Chi Square. Kriteria untuk signifikansi ada tidaknya hubungan adalah dengan menggunakan nilai P < 0,05. Hasil nilai yang bermakna selanjutnya akan dilakukan analisis dengan menggunakan analisis multivariat regresi logistik untuk mengetahui kekuatan hubungan.22
BAB 4. HASIL PENELITIAN
Delapan puluh pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang datang berobat ke poliklinik psikiatri BLUD RSJ Provinsi Sumatera Utara, poliklinik psikiatri RSUP Haji Adam Malik Medan, poliklinik psikiatri RSU dr. Pirngadi Medan, dan poliklinik psikiatri Rumkit Putri Hijau telah terpilih untuk ikut serta dalam penelitian ini. Pemilihan sampel dalam penelitian ini ditetapkan secara non probability sampling jenis consecutive sampling dalam periode waktu 11 Januari 2012 sampai dengan 30 September 2012.
Tabel 4.1. Karakteristik demografik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan status perkawinan.
Karakteristik demografik responden Jumlah % Usia 20–29
Status Perkawinan Kawin Tidak kawin
Tabel 4.1. memperlihatkan karakteristik demografik dari pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang terbanyak pada kelompok usia 40–50 tahun sebanyak 50 orang yaitu 62,5%, jenis kelamin perempuan sebanyak 46 orang yaitu 57,5%, tidak bekerja 45 orang yaitu 56,2%, tingkat pendidikan SMU sebanyak 49 orang yaitu 61,2%, dan kawin sebanyak 46 orang yaitu 57,5%.
Tabel 4.2. Simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Simtom Insomnia Jumlah %
Ada 68 85,0
Tidak ada 12 15,0
Total 80 100,0
Tabel 4.2. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia sebesar 68 orang yaitu 85,0% dan yang ada simtom insomnia sebesar 12 orang yaitu 15,0%.
Tabel 4.3. Rerata, range, dan standar deviasi HAM-D pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
HAM-D Rerata Range Standar Deviasi (SD)
27,65 17 5,166
Tabel 4.3. memperlihatkan bahwa pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik berdasarkan nilai rerata, range dan standar deviasi HAM-D diperoleh nilai rerata sebesar 27,65, range sebesar 17, dan SD sebesar 5,166.
Tabel 4.4. Hubungan kelompok usia dengan simtom isomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Usia
Tabel 4.4. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok usia 40–
50 tahun sebesar 45 orang yaitu 66,2% dan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang tidak ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok umur 40–50 tahun sebesar 5 orang yaitu 41,7%. Selanjutnya dengan menggunakan analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan kelompok usia dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik didapatkan hasil p = 0,053. Hal ini secara statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara kelompok usia dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Tabel 4.5. Hubungan jenis kelamin dengan simtom isomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Jenis
Tabel 4.5. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok jenis kelamin perempuan sebesar 43 orang yaitu 63,2% dan pasien gangguan
depresif mayor tanpa ciri psikotik yang tidak ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok jenis kelamin laki-laki sebesar 9 orang yaitu 75,0% . Selanjutnya dengan menggunakan analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan kelompok jenis kelamin dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik didapatkan hasil p = 0,014. Hal ini secara statistik menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kelompok jenis kelamin dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Tabel 4.6. Hubungan pekerjaan dengan simtom isomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Pekerjaan Simtom insomnia
Ada Tidak ada p
n % n %
Bekerja 26 38,2 9 75,0
Tidak bekerja 42 61,8 3 25,0 0,018 Total 68 100,0 12 100,0
Tabel 4.6. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok tidak bekerja sebesar 42 orang yaitu 61,8% dan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang tidak ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok bekerja sebesar 9 orang yaitu 75,0%. Selanjutnya dengan menggunakan analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan kelompok pekerjaan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik didapatkan hasil p = 0,018. Hal ini secara statistik menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kelompok pekerjaan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Tabel 4.7. Hubungan tingkat pendidikan dengan simtom isomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Tingkat pendidikan
Tabel 4.7. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok tingkat pendidikan SMU sebesar 40 orang yaitu 58,8% dan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang tidak ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok tingkat pendidikan SMU sebesar 8 orang yaitu 66,7%. Selanjutnya dengan menggunakan analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan kelompok tingkat pendidikan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik didapatkan hasil p = 0,963. Hal ini secara statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara kelompok tingkat pendidikan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Tabel 4.8. Hubungan status perkawinan dengan simtom isomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Status
Tabel 4.8. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok kawin
sebesar 43 orang yaitu 63,2% dan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang tidak ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok tidak kawin sebesar 9 orang yaitu 75,0%. Selanjutnya dengan menggunakan analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan kelompok status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik didapatkan hasil p = 0,014. Hal ini secara statistik menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kelompok status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Tabel 4.9. Analisa prevalensi rasio usia dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
P PR IK 95%
Usia 20 – 29
30 – 39 0,139 3,778 0,648 22,017 40 – 50 0,025 6,000 1,253 28,742 Pada tabel 4.9. memperlihatkan analisis regresi logistik sederhana dimana nilai prevalensi rasio (PR) kelompok usia 30 – 39 yaitu sebesar 3,788 dengan IK (Interval Kepercayaan) 95% antara 0,648 sampai dengan 22,017 yang berarti kelompok usia 30–39 mempunyai kemungkinan 3,788 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok usia 20–29 pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Nilai PR kelompok usia 40–50 yaitu sebesar 6,000 dengan IK 95% antara 1,253 sampai dengan 28,742 yang berarti kelompok usia 40–
50 mempunyai kemungkinan 6 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok usia 20–29 pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Tabel 4.10. Analisa prevalensi rasio jenis kelamin dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
p PR IK 95%
Jenis kelamin Laki-laki
Perempuan 0,021 5,160 1,277 20,852 Pada tabel 4.10. memperlihatkan analisis regresi logistik sederhana dimana nilai PR kelompok jenis kelamin perempuan yaitu sebesar 5,160 dengan IK 95% antara 1,277 sampai dengan 20,852 yang berarti kelompok jenis kelamin perempuan mempunyai kemungkinan 5,160 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok jenis kelamin laki-laki pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Tabel 4.11. Analisa prevalensi rasio pekerjaan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
p PR IK 95%
Pekerjaan Bekerja
Tidak bekerja 0,027 4,846 1,201 19,558 Pada tabel 4.11. memperlihatkan analisis regresi logistik sederhana dimana nilai PR kelompok tidak bekerja yaitu sebesar 4,846 dengan IK 95% antara 1,201 sampai dengan 19,558 yang berarti kelompok tidak bekerja mempunyai kemungkinan 4,846 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok bekerja pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Tabel 4.12. Analisa prevalensi rasio tingkat pendidikan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
p PR IK 95%
Tingkat pendidikan SD
SMP 0,919 0,857 0,044 12,851 SMU 0,958 1,071 0,083 13,896 Diploma/Perguruan tinggi 0,767 0,714 0,077 6,633
Pada tabel 4.12. memperlihatkan analisis regresi logistik sederhana dimana nilai PR kelompok SMP yaitu sebesar 0,857 dengan IK 95% antara 0,044 sampai dengan 12,851 yang berarti kelompok SMP mempunyai kemungkinan 0,857 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok SD pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Nilai PR kelompok SMU yaitu sebesar 1,071 dengan IK 95% antara 0,083 sampai dengan 13,896 yang berarti kelompok SMU mempunyai kemungkinan 1,071 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok SD pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Nilai PR kelompok Diploma/Perguruan tinggi yaitu sebesar 0,714 dengan IK 95% antara 0,077 sampai dengan 6,633 yang berarti kelompok Diploma/Perguruan tinggi mempunyai kemungkinan 0,714 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok SD pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Tabel 4.13. Analisa prevalensi rasio status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
p PR IK 95%
Status perkawinan Tidak kawin
Kawin 0,021 5,160 1,277 20,852 Pada tabel 4.13. memperlihatkan analisis regresi logistik sederhana dimana nilai PR kelompok kawin yaitu sebesar 5,160 dengan IK 95% antara 1,277 sampai dengan 20,852 yang berarti kelompok kawin mempunyai kemungkinan 5,160 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok tidak kawin pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Tabel 4.14. Analisis prevalensi rasio usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
p PR IK 95%
Usia 20 – 29 30 – 39 0,112 5,682 0,667 48,405 40 – 50 0,254 3,193 0,434 23,487 Jenis kelamin Laki-laki
Perempuan 0,174 0,326 0,065 1,640 Pekerjaan Bekerja
Tidak bekerja 0,076 4,758 0,850 26,036 Status perkawinan Tidak kawin
Kawin 0,081 4,446 0,833 23,719 Pada tabel 4.14. memperlihatkan variabel yang masuk dalam calon model atau kandidat model untuk analisis regresi logistik berganda adalah variabel yang memiliki nilai p < 0,25. Selanjutnya dilakukan analisis regresi logistik berganda pada variabel yang memenuhi syarat yaitu
kelompok usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan status perkawinan. Pada analisis regresi logistik berganda terhadap keempat variabel yang memenuhi syarat ini, variabel yang memiliki nilai p paling besar akan dikeluarkan. Analisis regresi logistik berganda selanjutnya dengan mengeluarkan satu per satu variabel yang memiliki nilai p paling besar.
Tabel 4.15. Analisis prevalensi rasio pekerjaan dan status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
p PR IK 95%
Pekerjaan Bekerja
Tidak bekerja 0,022 5,520 1,282 23,771 Status perkawinan Tidak kawin
Kawin 0,018 5,852 1,362 25,147 Pada tabel 4.15. memperlihatkan variabel yang masuk dalam model atau kandidat analisis regresi logistik berganda adalah variabel yang memiliki nilai p < 0,05. Selanjutnya dilakukan analisis regresi logistik berganda pada variabel yang memenuhi syarat yaitu kelompok pekerjaan, dan status perkawinan. Pada analisis regresi logistik berganda ini kelompok yang berpengaruh terhadap simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik adalah kelompok pekerjaan dan status perkawinan dengan kekuatan hubungan dari yang terbesar ke yang terkecil adalah status perkawinan yang memiliki nilai PR = 5,852 yang berarti faktor kawin mempunyai kemungkinan 5,852 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan yang tidak kawin pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik dan pekejaan yang memiliki nilai PR = 5,520 yang berarti faktor tidak bekerja mempunyai kemungkinan 5,520 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan yang bekerja pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
BAB 5. PEMBAHASAN
Penelitian ”Hubungan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien ganggguan depresif mayor tanpa ciri psikotik” ini merupakan penelitian analitik dengan studi cross sectional. Tujuan umum penelitian ini untuk mengetahui proporsi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan status perkawinan dengan melakukan wawancarai untuk mengisi 3 butir simtom insomnia yang ada dari HAM-D. Tujuan khusus penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Berdasarkan karakteristik demografik dari pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang terbanyak pada kelompok usia 40–50 tahun sebanyak 50 orang yaitu 62,5%, jenis kelamin perempuan sebanyak 46 orang yaitu 57,5%, tidak bekerja 45 orang yaitu 56,2%, tingkat pendidikan SMU sebanyak 49 orang yaitu 61,2%, dan kawin sebanyak 46 orang yaitu 57,5%. Berdasarkan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik memperlihatkan yang ada simtom insomnia sebesar 68 orang yaitu 85,0% dan yang tidak ada simtom insomnia sebesar 12 orang yaitu 15,0%. Hal ini sesuai dengan laporan Thase yang menyebutkan bahwa simtom insomnia merupakan gangguan tidur yang sering dilaporkan oleh lebih dari 90% dari pasien depresi.3 Sesuai juga dengan yang dilaporkan Nutt dan kawan-kawan bahwa sekitar tiga perempat dari pasien depresi memiliki simtom insomnia.5 Dan laporan McCall yang menyebutkan bahwa paling sedikit 80% pasien dengan gangguan depresif mayor memiliki masalah simtom insomnia.4
Tabel 4.4. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok usia 40–50 tahun sebesar 45 orang yaitu 66,2% dan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang tidak ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok usia 40–50 tahun sebesar 5 orang yaitu 41,7%. Selanjutnya dengan menggunakan analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan kelompok usia dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik didapatkan hasil p = 0,053. Hal ini secara statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara kelompok usia dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Hal ini sesuai dengan yang ditunjukkan dalam sebuah penelitian oleh Lugaresi dan kawan-kawan yang menyebutkan prevalensi simtom insomnia secara bertahap meningkat dengan pertambahan usia dari 8-9%
pada orang dewasa muda sekitar 20-30 tahun sampai dengan 25-35% di kalangan orang tua sekitar 80-89 tahun.7 Penelitian sebelumnya pada sosiodemografi dari simtom insomnia dilaporkan memiliki konsisten peningkatan prevalensi simtom insomnia pada orang tua.1,6,7 Simtom insomnia terdapat pada mereka yang lebih tua dibandingkan mereka yang tidak dengan simtom insomnia.6
Tabel 4.5. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok jenis kelamin perempuan sebesar 43 orang yaitu 63,2% dan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang tidak ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok jenis kelamin laki-laki sebesar 9 orang yaitu 75,0%. Selanjutnya dengan menggunakan analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan kelompok jenis kelamin dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik didapatkan hasil p = 0,014. Hal ini secara statistik menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kelompok jenis kelamin dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya pada sosiodemografi dari simtom insomnia yang
melaporkan memiliki konsisten peningkatan prevalensi simtom insomnia pada perempuan. 1,6,7 Simtom insomnia ditemukan prevalensinya lebih banyak pada perempuan dibandingkan pada pria.1,7
Tabel 4.6. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok tidak bekerja sebesar 42 orang yaitu 61,8% dan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang tidak ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok bekerja sebesar 9 orang yaitu 75,0%. Selanjutnya dengan menggunakan analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan kelompok pekerjaan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik didapatkan hasil p = 0,018. Hal ini secara statistik menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kelompok pekerjaan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya pada sosiodemografi dari simtom insomnia yang melaporkan memiliki konsisten peningkatan prevalensi simtom insomnia pada pengangguran.1,6,7
Tabel 4.7. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok tingkat pendidikan SMU sebesar 40 orang yaitu 58,8% dan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang tidak ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok tingkat pendidikan SMU sebesar 8 orang yaitu 66,7%. Selanjutnya dengan menggunakan analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan kelompok tingkat pendidikan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik didapatkan hasil p = 0,963. Hal ini secara statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara kelompok tingkat pendidikan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya pada sosiodemografi dari simtom insomnia yang melaporkan memiliki konsisten peningkatan prevalensi simtom insomnia pada individu dengan pendidikan rendah.1,6,7
Tabel 4.8. memperlihatkan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok kawin sebesar 43 orang yaitu 63,2% dan pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang tidak ada simtom insomnia terbanyak pada kelompok tidak kawin sebesar 9 orang yaitu 75,0%. Selanjutnya dengan menggunakan analisis Chi-Square untuk mengetahui hubungan kelompok status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik didapatkan hasil p = 0,014. Hal ini secara statistik menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kelompok status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya pada sosiodemografi dari simtom insomnia yang melaporkan memiliki konsisten peningkatan prevalensi simtom insomnia pada individu yang berpisah, bercerai, janda/duda.1,6,7
Pada tabel 4.9. memperlihatkan analisis regresi logistik sederhana dimana nilai prevalensi rasio (PR) kelompok usia 30–39 tahun yaitu sebesar 3,788 dengan IK (Interval Kepercayaan) 95% antara 0,648 sampai dengan 22,017 yang berarti kelompok usia 30–39 tahun mempunyai kemungkinan 3,788 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok usia 20–29 tahun pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Nilai PR kelompok usia 40–
50 tahun yaitu sebesar 6,000 dengan IK 95% antara 1,253 sampai dengan 28,742 yang berarti kelompok usia 40–50 tahun mempunyai kemungkinan 6 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok usia 20–29 tahun pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Hal ini sesuai dengan penelitian Grewal dan kawan-kawan yang memiliki hasil PR sebesar 1,3 dalam sebuah penelitian.1
Pada tabel 4.10. memperlihatkan analisis regresi logistik sederhana dimana nilai PR kelompok jenis kelamin perempuan yaitu sebesar 5,160 dengan IK 95% antara 1,277 sampai dengan 20,852 yang berarti kelompok jenis kelamin perempuan mempunyai kemungkinan 5,160 kali
lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok jenis kelamin laki-laki pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Hal ini sesuai dengan penelitian Sivertsen dan kawan-kawan melaporkan perempuan mempunyai kemungkinan 1,18 kali lebih tinggi untuk mengalami insomnia dibandingkan dengan laki-laki.7 Semua penelitian epidemiologi yang ada yang membandingkan prevalensi insomnia antara jenis kelamin melaporkan prevalensi lebih tinggi pada perempuan. Rasio perempuan dan laki-laki kira-kira 1,5 berbanding 1.1
Pada tabel 4.11. memperlihatkan analisis regresi logistik sederhana dimana nilai PR kelompok tidak bekerja yaitu sebesar 4,846 dengan IK 95% antara 1,201 sampai dengan 19,558 yang berarti kelompok tidak bekerja mempunyai kemungkinan 4,846 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok bekerja pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Pada tabel 4.12. memperlihatkan analisis regresi logistik sederhana dimana nilai PR kelompok SMP yaitu sebesar 0,857 dengan IK 95%
antara 0,044 sampai dengan 12,851 yang berarti kelompok SMP mempunyai kemungkinan 0,857 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok SD pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Nilai PR kelompok SMU yaitu sebesar 1,071 dengan IK 95% antara 0,083 sampai dengan 13,896 yang berarti kelompok SMU mempunyai kemungkinan 1,071 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok SD pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Nilai PR kelompok Diploma/Perguruan tinggi yaitu sebesar 0,714 dengan IK 95% antara 0,077 sampai dengan 6,633 yang berarti kelompok Diploma/Perguruan tinggi mempunyai kemungkinan 0,714 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok SD pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. Hal ini berbeda dengan penelitian Sivertsen dan kawan-kawan yang melaporkan bahwa
pendidikan yang rendah mempunyai kemungkinan 2,27 kali lebih tinggi untuk mengalami insomnia dibandingkan dengan pendidikan tinggi.7
Pada tabel 4.13. memperlihatkan analisis regresi logistik sederhana dimana nilai PR kelompok kawin yaitu sebesar 5,160 dengan IK 95%
antara 1,277 sampai dengan 20,852 yang berarti kelompok kawin mempunyai kemungkinan 5,160 kali lebih tinggi untuk mengalami simtom insomnia dibandingkan dengan kelompok tidak kawin pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Pada tabel 4.14. memperlihatkan variabel yang masuk dalam calon model atau kandidat model untuk analisis regresi logistik berganda adalah variabel yang memiliki nilai p < 0,25. Selanjutnya dilakukan analisis regresi logistik berganda pada variabel yang memenuhi syarat yaitu kelompok usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan status perkawinan. Pada analisis regresi logistik berganda terhadap keempat variabel yang memenuhi syarat ini, variabel yang memiliki nilai p paling besar akan dikeluarkan.
Analisis regresi logistik berganda selanjutnya dengan mengeluarkan satu per satu variabel yang memiliki nilai p paling besar.
Pada tabel 4.15. memperlihatkan variabel yang masuk dalam model atau kandidat analisis regresi logistik berganda adalah variabel yang memiliki nilai p < 0,05. Selanjutnya dilakukan analisis regresi logistik berganda pada variabel yang memenuhi syarat yaitu kelompok pekerjaan, dan status perkawinan. Pada analisis regresi logistik berganda ini kelompok yang berpengaruh terhadap simtom insomnia pada pasien
Pada tabel 4.15. memperlihatkan variabel yang masuk dalam model atau kandidat analisis regresi logistik berganda adalah variabel yang memiliki nilai p < 0,05. Selanjutnya dilakukan analisis regresi logistik berganda pada variabel yang memenuhi syarat yaitu kelompok pekerjaan, dan status perkawinan. Pada analisis regresi logistik berganda ini kelompok yang berpengaruh terhadap simtom insomnia pada pasien