HUBUNGAN ANTARA USIA, JENIS KELAMIN, PEKERJAAN, TINGKAT PENDIDIKAN, DAN STATUS PERKAWINAN
DENGAN SIMTOM INSOMNIA PADA PASIEN GANGGUAN DEPRESIF MAYOR
TANPA CIRI PSIKOTIK
T E S I S
RICKY WIJAYA TARIGAN Nomor Registrasi CHS: 19668
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2012
HUBUNGAN ANTARA USIA, JENIS KELAMIN, PEKERJAAN, TINGKAT PENDIDIKAN, DAN STATUS PERKAWINAN
DENGAN SIMTOM INSOMNIA PADA PASIEN GANGGUAN DEPRESIF MAYOR
TANPA CIRI PSIKOTIK
T E S I S
Diajukan untuk melengkapi persyaratan untuk mencapai keahlian dalam bidang Ilmu Kedokteran Jiwa pada Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
RICKY WIJAYA TARIGAN Nomor Registrasi CHS: 19668
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2012
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
Judul Tesis : Hubungan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien ganggguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
Nama Mahasiswa : Ricky Wijaya Tarigan Nomor Registrasi CHS : 19668
Program : Spesialisasi
Konsentrasi : Ilmu Kedokteran Jiwa
Menyetujui Komisi Pembimbing
dr. Elmeida Effendy, M.Ked(KJ), Sp.KJ
Ketua Program Studi Ketua TKP PPDS-I
dr. Elmeida Effendy, M.Ked(KJ), Sp.KJ dr. H. Zainuddin Amir, Sp.P(K)
NIP. 19720501 199903 2 004 NIP. 19540620 198011 1 001
Telah diuji pada Tanggal:
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. dr. M. Syamsulhadi, Sp.KJ(K) ...
Sekretaris : dr. Cecep Sugeng Kristanto, Sp.KJ(K) ...
Anggota : Prof. dr. Bahagia Loebis, Sp.KJ(K) ...
PERNYATAAN
HUBUNGAN ANTARA USIA, JENIS KELAMIN, PEKERJAAN, TINGKAT PENDIDIKAN, DAN STATUS PERKAWINAN
DENGAN SIMTOM INSOMNIA PADA PASIEN GANGGUAN DEPRESIF MAYOR
TANPA CIRI PSIKOTIK
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah dituliskan atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis mengacu dalam naskah ini dan disebutkan di dalam daftar pustaka. Bila terbukti ada maka saya rela gelar saya dicabut.
Medan, 20 Oktober 2012
Ricky Wijaya Tarigan
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta telah memberikan kesempatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Tesis ini disusun untuk melengkapi tugas-tugas yang ada sebelumnya dan memenuhi salah satu syarat untuk melengkapi keahlian dalam bidang Ilmu Kedokteran Jiwa. Saya menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangannya dan masih jauh dari sempurna namun demikian besar harapan saya kiranya tulisan ini dapat bermanfaat dalam menambah perbendaharaan bacaan khususnya tentang:
HUBUNGAN ANTARA USIA, JENIS KELAMIN, PEKERJAAN, TINGKAT PENDIDIKAN, DAN STATUS PERKAWINAN
DENGAN SIMTOM INSOMNIA PADA PASIEN GANGGUAN DEPRESIF MAYOR
TANPA CIRI PSIKOTIK
Dengan selesainya tesis ini, perkenankanlah saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:
1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, dan Ketua TKP PPDS-I Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan kepada saya kesempatan untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Mustafa Mahmud Amin, M.Ked(KJ), Sp.KJ selaku Ketua
Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK USU dan guru penulis yang
dengan penuh kesabaran dan perhatian telah membimbing,
memberikan pengarahan, masukan-masukan berharga kepada penulis
sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
3. dr. Elmeida Effendy, M.Ked(KJ), Sp.KJ selaku Ketua Program Studi PPDS-I Ilmu Kedokteran Jiwa FK USU, guru penulis, dan pembimbing tesis yang dengan penuh kesabaran dan ketelitian membimbing, mengoreksi, dan memberikan masukan-masukan berharga kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
4. Prof. dr. Bahagia Loebis, Sp.KJ(K) sebagai guru penulis yang dengan penuh kesabaran dan ketelitian membimbing, memberikan dorongan, pengarahan, masukan-masukan dan memberikan literatur-literatur dan pengetahuan yang sangat berharga kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
5. dr. H. Harun T. Parinduri, Sp.KJ(K) selaku guru penulis yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah banyak memberikan dukungan, arahan, bimbingan, dan pengetahuan yang sangat berharga kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
6. Prof. dr. H. M. Joesoef Simbolon, Sp.KJ(K) selaku guru penulis yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah banyak memberikan dukungan, arahan, bimbingan, dan pengetahuan yang sangat berharga kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
7. Alm. Prof. dr. H. Syamsir BS, Sp.KJ(K) selaku guru penulis yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah banyak memberikan dukungan, arahan, bimbingan, dan pengetahuan yang sangat berharga selama penulis mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
8. Dr. dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes, selaku staf pengajar Ilmu
Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Komunitas/Ilmu Kedokteran
Pencegahan FK USU dan konsultan metodologi penelitian dan statistik
penulis dalam penelitian ini, yang banyak meluangkan waktu untuk
membimbing dan berdiskusi dengan penulis dalam penelitian ini.
9. dr. Vita Camelia, M.Ked(KJ), SpKJ selaku Sekretaris Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK USU dan guru penulis yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah banyak memberikan dukungan, arahan, bimbingan, dan pengetahuan yang sangat berharga selama penulis mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
10. dr. Muhammad Surya Husada, M.Ked(KJ), Sp.KJ sebagai Sekretaris Program Studi PPDS-I Ilmu Kedokteran Jiwa FK USU dan guru penulis yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah banyak memberikan dukungan, arahan, bimbingan, dan pengetahuan yang sangat berharga selama penulis mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
11. dr. Raharjo Suparto, Sp.KJ, Alm. dr. H. Marhanuddin Umar, Sp.KJ(K), selaku guru, yang banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan yang sangat berharga selama penulis mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
12. dr. Dapot Parulian Gultom, Sp.KJ, M.Kes., sebagai guru penulis yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah banyak memberikan dukungan, arahan, bimbingan, dan pengetahuan yang sangat berharga selama penulis mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
13. dr. Juskitar, Sp.KJ, sebagai guru penulis yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah banyak memberikan dukungan, arahan, bimbingan, dan pengetahuan yang sangat berharga selama penulis mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
14. dr. Herlina Ginting, Sp.KJ, sebagai guru penulis yang dengan penuh
kesabaran dan perhatian telah banyak memberikan dukungan, arahan,
bimbingan, dan pengetahuan yang sangat berharga selama penulis
mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran
Jiwa.
15. dr. Mawar Gloria Tarigan, Sp.KJ, sebagai guru penulis yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah banyak memberikan dukungan, arahan, bimbingan, dan pengetahuan yang sangat berharga selama penulis mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
16. dr. Freddy S. Nainggolan, Sp.KJ, sebagai guru penulis yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah banyak memberikan dukungan, arahan, bimbingan, dan pengetahuan yang sangat berharga selama penulis mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
17. dr. Donald F. Sitompul, Sp.KJ, Almh. dr. Hj. Sulastri Effendi, Sp.KJ, dr. Evawaty Siahaan, Sp.KJ, dr. Artina Roga Ginting, Sp.KJ, dr. Rosminta Girsang, Sp.KJ, dr. Imat S. Depari, Sp.KJ, dr. Mariati,
Sp.KJ, dr. Paskawani Siregar, Sp.KJ, dr. Citra Julita Tarigan, SpKJ, dr. Vera R. B. Marpaung, Sp.KJ, dr. Yusak P. Simanjuntak, Sp.KJ, dr. Adhayani Lubis, Sp.KJ, dr. Juwita Saragih, Sp.KJ, dr. Friedrich Lupini, Sp.KJ, dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.KJ, dr. Laila Sylvia Sari, Sp.KJ, dr. Evalina Perangin-angin, Sp.KJ, dr. Victor Eliezer Perangin- angin, Sp.KJ, dr. Siti Nurul Hidayati, Sp.KJ, dr. Lailan Sapinah, Sp.KJ, dr. Silvy Agustina Hasibuan, Sp.KJ, dr. Ira Dania, M.Ked(KJ), Sp.KJ sebagai senior, yang banyak memberikan bimbingan, dorongan dan semangat kepada penulis selama mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
18. Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, Direktur
Rumah Sakit Tembakau Deli Medan, Direktur Rumah Sakit Umum
Daerah dr. Pirngadi Medan, Direktur RS Brimob Poldasu, Kepala
Rumkit Putri Hijau Medan, Puskesmas Medan Sunggal atas izin,
kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk belajar
dan bekerja selama penulis mengikuti Program Pendidikan Dokter
Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
19. dr. Candra Syafei, Sp.OG, selaku Kepala Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara atas izin, kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk belajar dan bekerja selama penulis mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
20. dr. Rusli Dhanu, Sp.S(K), sebagai Ketua Departemen Neurologi FK USU, dr. Dina Listyaningrum, Sp.S, MSi. Med, dan dr. Aida Fitri, Sp.S sebagai pembimbing selama penulis menjalani stase di Departemen Neurologi FK USU.
21. Prof. dr. Habibah Hanum Nasution, Sp.PD-KPsi, sebagai Kepala Divisi Psikosomatik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU, yang telah menerima dan membimbing penulis selama belajar di stase Divisi Psikosomatik Ilmu Penyakit Dalam FK USU.
22. dr. Dharma Lindarto, Sp.PD-KEMD, sebagai Kepala Divisi Geriatri Ilmu Penyakit Dalam FK USU dan dr. Pirma Siburian, Sp.PD-KGer, yang telah menerima dan membimbing penulis selama belajar di stase Divisi Geriatri Ilmu Penyakit Dalam FK USU.
23. dr. Suzie Lesmana, sebagai Kepala Puskesmas Medan Sunggal yang telah memberI izin, kesempatan, dan fasilitas kepada penulis untuk belajar dan bekerja selama di stase psikiatri komunitas.
24. Rekan-rekan sejawat peserta PPDS-I Psikiatri FK USU: dr. Herny T.
Tambunan, M.Ked.(KJ), dr. Mila Astari Harahap, M.Ked.(KJ), dr. Muhammad Yusuf, M.Ked.(KJ), dr. Baginda Harahap, M.Ked.(KJ),
dr. Ferdinan Leo Sianturi, M.Ked.(KJ), dr. Superida Ginting, M.Ked.(KJ), dr. Lenni C. Sihite, dr. Saulina D. Simanjuntak, M.Ked.(KJ), dr. Hanip Fahri, MM, M.Ked.(KJ), dr. Andreas Xaverio Bangun, M.Ked.(KJ), dr. Duma M. Ratnawati, M.Ked.(KJ), dr. Tiodoris
Siregar, M.Ked.(KJ), dr. Dian Budianti Amalina, M.Ked.(KJ), dr. Endang Sutry Rahayu, dr. Nauli Aulia Lubis, M.Ked.(KJ), dr. Nanda
Sari Nuralita, M.Ked.(KJ), dr. Wijaya Taufik Tiji, M.Ked.(KJ), dr. Alfi
Syahri Rangkuti, M.Ked.(KJ), dr. Agussyah Putra, M.Ked(KJ), dr. Rini
Gusya Liza, M.Ked.(KJ), dr. Gusri Girsang, M.Ked(KJ) dr. Dessi Wahyuni, dr. Ritha Mariati Sembiring, dr. Susiati, dr. Reny Fransiska Barus, dr. Annisa Fransiska, dr. Dessy Mawar Zalia, M.Ked(KJ), dr. Nazli Mahdinasari Nasution, dr. Andi Syahputra Siregar, dr. Nining Gilang Sari, M.Ked(KJ), dr. Rosa Yunilda, dr. Arsusy Widyastuty, dan dr. Poltak J. Sirait, dr. Muhammad Affandy, dr. Manahap Pardosi, dr. Novi Prasanti, dr. Endah Tri Lestari, dr. Deasy Hendriati, dan dr. Rona Hanani Simamora yang banyak memberikan masukan berharga kepada penulis melalui diskusi-diskusi kritis dalam berbagai pertemuan formal maupun informal, serta selalu memberikan dorongan yang membangkitkan semangat penulis dalam menyelesaikan Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
25. Para perawat dan pegawai di RSUP Haji Adam Malik, RSUD dr.
Pirngadi Medan, RS Tembakau Deli Medan, BLUD RSJ Provinsi Sumatera Utara, RS Brimob Poldasu, Rumkit Putri Hijau Medan, Puskesmas Medan Sunggal, yang telah membantu penulis selama mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
26. Teman-teman di layanan digital perpustakaan USU: Evi Yulifimar, S.Sos, Yuli Handayani, S.Sos, Diani Hartati, S.Sos, M. Salim, A.Md, yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tugas selama mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
27. Kedua orang tua yang sangat penulis hormati dan sayangi alm.
Persadaan Tarigan dan almh. Sehmalem br Ginting yang telah bersusah payah membesarkan, memberikan rasa aman, cinta dan doa kepada penulis sejak lahir hingga saat ini.
28. Kedua mertua, Syarikat Sembiring dan Genap br Tarigan, yang banyak
memberikan semangat dan doa kepada penulis selama menjalani
Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
29. Seluruh saudara kandung saya, dr. Eston Iskandar Tarigan, Sp.B, Hendra Tarigan, S.Si, Apt., Irwan Tarigan, ST, Daniel Tarigan, S.E, dr. Pulung Suryanta Tarigan, yang banyak memberikan semangat dan doa kepada penulis selama menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
30. Seluruh ipar saya Yos Gerhan Maha, ST, Aprilda Sari Maha, S.Psi, Febri Alfon Maha, S.Ked yang banyak memberikan semangat dan doa kepada penulis selama menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
31. Akhirnya kepada istri dan anak-anakku tercinta, dr. Maria Onna Maha, Ryando Yotama Tarigan, Ryeno Fehaganta Tarigan terima kasih atas segala doa dan dukungan, kesabaran dan pengertian yang mendalam serta pengorbanan atas segala waktu dan kesempatan selama penulis menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa dan dalam menyelesaikan tesis ini.
32. Semua pihak diberbagai tempat dimana penulis pernah bertugas selama menjalani pendidikan spesialisasi ini, serta berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu penulis dalam menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis-I Ilmu Kedokteran Jiwa.
Akhirnya penulis hanya mampu berdoa dan memohon semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberikan rahmat- Nya kepada mereka yang telah membantu penulis selama pendidikan spesialisasi dan dalam menyelesaikan tesis ini.
Medan, 20 Oktober 2012 Penulis
Ricky Wijaya Tarigan
DAFTAR ISI
Lembar Persetujuan Pembimbing……… i
Lembar Pengesahan ……… ii
Lembar Pernyataan ……… iii
Ucapan Terima Kasih ……… Iv Daftar Isi ………... xi
Daftar Singkatan dan Lambang ..……….. xiii
Daftar Tabel ………. xiv
Bab 1. Pendahuluan……… 1
1.1. Latar Belakang ……….. 1
1.2. Perumusan Masalah ………. 3
1.3. Hipotesis ………. 3
1.4. Tujuan Penelitian ……….. 4
1.4.1. Tujuan umum ……….. 4
1.4.2. Tujuan khusus ………. 4
1.5. Manfaat Penelitian ……… 5
Bab 2. Tinjauan Pustaka ……… 6
2.1. Simtom Insomnia ……….. 6
2.2. Gangguan Depresif Mayor ……….. 7
2.3. Simtom Insomnia dan Gangguan Depresif Mayor ………….. 14
2.4. Hamilton Rating Scale for Depression ……….. 17
2.5. Kerangka Konsep ………. 19
Bab 3. Metode Penelitian ……….. 20
3.1. Desain Penelitian ……….. 20
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ………. 20
3.2.1. Tempat penelitian ………... 20
3.2.2. Waktu penelitian ………. 20
3.3. Populasi Penelitian ……… 20
3.3.1. Populasi target ..……….. 20
3.3.2. Populasi terjangkau ……… 20
3.3.3. Sampel penelitian ……….. 20
3.3.4. Cara pengambilan sampel ……… 21
3.4. Besar Sampel ……… 21
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ……… 25
3.5.1. Kriteria inklusi ……….. 25
3.5.2. Kriteria eksklusi ……. ... 25
3.6. Persetujuan Setelah Penjelasan ………. 25
3.7. Etika Penelitian ……….. 25
3.8. Cara Kerja ……….. 25
3.9. Identifikasi Variabel ………... 26
3.9.1. Variabel bebas ……… 26
3.9.2. Variabel tergantung ……… 26
3.10. Definisi Operasional ……… 26
3.11. Rencana Pengolahan dan Analisis Data ……… 27
Bab. 4. Hasil Penelitian ………. 28
Bab. 5. Pembahasan ………. 38
Bab. 6. Kesimpulan dan Saran ……… 45
Bab. 7. Ringkasan ……….. 47
Daftar Rujukan ……… 49
Lampiran ……….. 52
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
BLUD : Badan Layanan Umum Daerah
DSM-IV-TR : Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth Edition Text Revision
HAM-D : Hamilton Rating Scale for Depression RSJ : Rumah Sakit Jiwa
RSU : Rumah Sakit Umum RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat
SPSS : Statistical Package for Social Sciences WHO : World Health Organization
d : tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki (ditetapkan)
I : insidensi
n : jumlah sampel
P : perkiraan proporsi paparan pada populasi Vi : jumlah variabel bebas
Z α : nilai batas bawah dari nilai Z yang besarnya tergantung pada nilai α yang ditentukan
Zβ : nilai batas bawah dari nilai Z yang besarnya tergantung pada nilai β yang ditentukan
> : lebih besar dari
< : lebih kecil dari
DAFTAR TABEL
Tabel 2.2.1. Kriteria DSM-IV-TR untuk episode depresif mayor .. 11 Tabel 2.2.2. Kriteria diagnostik DSM-IV-TR untuk gangguan
depresif mayor ...
13 Tabel 3.4. Perhitungan jumlah sampel ... 24 Tabel 4.1. Karakteristik demografik responden berdasarkan
usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan status perkawinan ...
28
Tabel 4.2. Simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ... 29 Tabel 4.3. Rerata, range, dan standar deviasi HAM-D pada
pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.. 29 Tabel 4.4. Hubungan kelompok usia dengan simtom isomnia
pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ... 30 Tabel 4.5. Hubungan jenis kelamin dengan simtom isomnia
pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ... 30 Tabel 4.6. Hubungan pekerjaan dengan simtom isomnia pada
pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik . 31 Tabel 4.7. Hubungan tingkat pendidikan dengan simtom
isomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ... 32 Tabel 4.8. Hubungan status perkawinan dengan simtom
isomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ... 32 Tabel 4.9. Analisa prevalensi rasio usia dan simtom insomnia
pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri
psikotik ... 33
Tabel 4.10. Analisa prevalensi rasio jenis kelamin dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ... 34 Tabel 4.11. Analisa prevalensi rasio pekerjaan dengan simtom
insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ... 34 Tabel 4.12 Analisa prevalensi rasio tingkat pendidikan dengan
simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ... 35 Tabel 4.13. Analisa prevalensi rasio status perkawinan dengan
simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ... 36 Tabel 4.14. Analisis prevalensi rasio usia, jenis kelamin,
pekerjaan, dan status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ...
36
Tabel 4.15. Analisis prevalensi rasio pekerjaan dan status
perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien
gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik ... 37
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Simtom insomnia merupakan sebuah keluhan yang umum dan sering dihadapi oleh praktisi kesehatan.
1Simtom insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tidur pada waktu tidur atau terjaga setelah pertengahan tidur atau kecenderungan mengalami efisiensi tidur yang buruk.
2Simtom insomnia sering ditemukan bersamaan dengan gangguan mood dan khususnya dengan depresi. Simtom insomnia lebih sering ditemukan bersamaan dengan gangguan depresif.
2-4Simtom insomnia merupakan gangguan tidur yang sering dilaporkan oleh lebih dari 90% dari pasien depresi.
3Sekitar tiga perempat dari pasien depresi memiliki simtom insomnia.
5Paling sedikit 80% pasien dengan gangguan depresif mayor memiliki masalah simtom insomnia.
4Individu-individu dengan depresi biasanya hadir dengan simtom
insomnia awal (initial insomnia), simtom insomnia pertengahan (middle
insomnia), atau simtom insomnia akhir (late insomnia) dimana terjaga
pada tahap awal, tahap pertengahan, dan tahap akhir dari waktu tidur
malam dan rasa mengantuk di siang hari sebagai akibat dari kurang tidur
atau kualitas tidur yang kurang. Di antara pasien rawat jalan dengan
gangguan depresif mayor dan simtom insomnia, sekitar sepertiganya
mengalami simtom insomnia awal, sepertiganya mengalami simtom
insomnia pertengahan, dan sepertiganya mengalami simtom insomnia
akhir walaupun beberapa pasien mengalami kombinasi dari ketiganya.
2Dari ketiga tipe simtom insomnia, simtom insomnia pertengahan adalah
yang paling sering ditemukan. Tipe ini adalah yang paling umum
dilaporkan sendiri (tidak dalam kombinasi dengan tipe lain) yaitu sekitar
13,5% serta yang paling umum secara keseluruhan menjadi bagian dari
82,3% dari kehadiran simtom insomnia (termasuk sendirian dan dalam
kombinasi dengan satu atau kedua tipe lainnya). Kehadiran yang paling
umum sejauh ini, di antara semua kombinasi yang mungkin adalah memiliki semua tiga tipe simtom insomnia yaitu sekitar 27,1%.
6Penelitian sebelumnya pada sosiodemografi dari simtom insomnia dilaporkan memiliki konsisten peningkatan prevalensi simtom insomnia pada perempuan, orang tua, dan individu yang berpisah, bercerai, janda/duda, atau pengangguran. Prevalensi yang lebih tinggi telah ditemukan pada individu dengan pendidikan rendah.
1,6,7Penelitian terhadap depresi dan tidur biasanya menilai beratnya simtom insomnia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa butir simtom insomnia awal, simtom insomnia pertengahan, dan simtom insomnia akhir dari Hamilton Rating Scale for Depression (HAM-D) sangat berkorelasi dengan nilai rata-rata mingguan untuk waktu onset tidur, terjaga setelah onset tidur, dan waktu terjaga sebelum direncanakan bangun. Hasil didapatkan dari nilai skala simtom insomnia dari HAM-D yang berarti nilai pada tiga butir simtom insomnia dari pengukuran depresi. Nilai HAM-D untuk simtom insomnia awal, simtom insomnia pertengahan dan simtom insomnia akhir dikaitkan dengan peningkatan yang signifikan dalam terjaga yang tidak diinginkan untuk waktu yang sesuai pada tidur harian. Penelitian ini mendukung validitas dari butir tidur dan subskala tidur dari HAM-D sebagai penilaian secara umum dari keparahan simtom insomnia pada depresi.
8Simtom insomnia mungkin menjadi keluhan utama dari beberapa pasien depresi atau simtom yang mendorong mereka untuk mencari pengobatan. Simtom insomnia disertai dengan rasa mengantuk di siang hari merupakan salah satu manifestasi yang paling umum dari depresi.
Karena simtom insomnia dan rasa mengantuk di siang hari yang menyertainya adalah masalah umum pada pasien depresi sehingga gangguan tidur ini harus menjadi perhatian untuk dokter.
2Atas dasar latar belakang tersebut dimana banyaknya faktor-faktor
yang mempengaruhi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif
mayor, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan
antara usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, status perkawinan dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
1.2. Perumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.2.1. Apakah terdapat simtom insomnia pada pasien depresif mayor tanpa ciri psikotik?
1.2.2. Apakah terdapat hubungan antara usia dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik?
1.2.3. Apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik?
1.2.4. Apakah terdapat hubungan antara pekerjaan dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik?
1.2.5. Apakah terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik?
1.2.6. Apakah terdapat hubungan antara status perkawinan dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik?
1.3. Hipotesis
1.3.1. Terdapat hubungan antara usia dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
1.3.2. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
1.3.3. Terdapat hubungan antara pekerjaan dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
1.3.4. Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
1.3.5. Terdapat hubungan antara status perkawinan dan simtom insomnia
pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
1.4. Tujuan Penelitian 1.4.1. Tujuan umum:
1. Untuk mengetahui proporsi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
2. Untuk mengetahui proporsi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik berdasarkan usia.
3. Untuk mengetahui proporsi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik berdasarkan jenis kelamin.
4. Untuk mengetahui proporsi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik berdasarkan pekerjaan.
5. Untuk mengetahui proporsi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik berdasarkan tingkat pendidikan.
6. Untuk mengetahui proporsi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik berdasarkan status perkawinan.
1.4.2. Tujuan khusus:
1. Untuk mengetahui hubungan antara usia dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
2. Untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
3. Untuk mengetahui hubungan antara pekerjaan dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
4. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
5. Untuk mengetahui hubungan antara status perkawinan dan simtom
insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
1.5. Manfaat Penelitian
1. Dapat mengetahui proporsi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
2. Dapat mengetahui proporsi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan status perkawinan.
3. Dapat mengetahui hubungan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan status perkawinan dengan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik.
4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berlanjut untuk penelitian
selanjutnya atau sejenis atau penelitian lain yang memakai penelitian
ini sebagai bahan acuannya.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Simtom Insomnia
Jumlah waktu tidur sekitar sepertiga dari kehidupan manusia dan simtom insomnia adalah keluhan paling umum yang berhubungan dengan tidur dan keluhan kedua dari keseluruhan yang paling umum yang dilaporkan dalam perawatan primer.
1Simtom insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tidur pada waktu tidur atau terjaga setelah pertengahan tidur atau kecenderungan mengalami efisiensi tidur yang buruk. Pasien-pasien ini juga mengalami penurunan efisiensi tidur, ketidakmampuan untuk kembali tidur setelah terbangun di malam hari, dan penurunan waktu tidur total.
2Simtom insomnia ditemukan sekitar 13,5% dari populasi dan prevalensinya lebih banyak pada wanita dibandingkan pada pria, orang dewasa, dan pada individu dengan pendidikan rendah.
1,7Faktor risiko lainnya termasuk pengangguran dan tidak memiliki pasangan hidup.
1Ditunjukkan dalam sebuah penelitian oleh Lugaresi dan kawan- kawan, prevalensi simtom insomnia secara bertahap meningkat dengan pertambahan usia dari 8-9% pada orang dewasa muda sekitar 20-30 tahun sampai dengan 25-35% di kalangan orang tua sekitar 80-89 tahun.
7Wanita dan orang tua cenderung menderita simtom insomnia lebih banyak dari kelompok lainnya dari populasi. Usia lanjut diperkirakan menjadi faktor risiko untuk simtom insomnia. Penelitian lain melaporkan adanya peningkatan prevalensi simtom insomnia dengan penuaan. Simtom insomnia dilaporkan oleh lebih dari sepertiga penduduk yang berusia 65 dan lebih tua.
1Simtom insomnia terdapat pada mereka yang lebih tua
dibandingkan mereka yang tidak dengan simtom insomnia. Selanjutnya,
mereka dengan simtom insomnia secara bermakna lebih mungkin untuk
dilihat dalam sebuah perawatan primer dan lebih mungkin pada orang
Amerika Afrika yang bercerai dan menganggur.
6Pada penelitian sebelumnya, orang yang tidak pernah menikah secara signifikan berbeda dari orang yang menikah dan orang yang menikah secara signifikan berbeda dari orang yang bercerai. Orang yang bekerja secara signifikan berbeda dari orang yang tidak bekerja.
6Semua penelitian epidemiologi yang ada yang membandingkan prevalensi insomnia antara jenis kelamin melaporkan prevalensi lebih tinggi pada perempuan. Rasio perempuan dan laki-laki kira-kira 1,5 berbanding 1. Peningkatan prevalensi insomnia pada perempuan dari segala usia saat dibandingkan dengan laki-laki tampaknya menjadi fenomena yang menyeluruh. Sebuah penelitian yang dilakukan di Hong Kong, Jerman, Kanada, Amerika Serikat, Norwegia, Skotlandia, dan negara-negara lain melaporkan peningkatan prevalensi pada perempuan bila dibandingkan dengan laki-laki.
12.2. Gangguan Depresif Mayor
Depresi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan keempat penyakit di dunia. Depresi mengenai sekitar 20% dan 12% laki-laki pada suatu waktu dalam kehidupan.
9Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders
Fourth Edition Text Revision (DSM-IV-TR), gangguan depresif mayor
didefinisikan sebagai satu atau lebih episode depresif mayor tanpa
adanya riwayat episode manik, campuran, atau hipomanik. Suatu episode
depresif mayor harus ada dialami sekurang-kurangnya selama dua
minggu dan secara tipikal seorang penderita mengalami depresi dan atau
kehilangan minat dalam kebanyakan aktifitas. Seseorang dengan
diagnosis suatu episode depresif mayor harus juga mengalami paling
sedikit empat simtom dari kriteria yang mana termasuk perubahan nafsu
makan dan berat badan, perubahan dalam tidur dan aktifitas psikomotor,
penurunan energi, perasaan bersalah dan tidak berguna, kesulitan
berpikir, kesulitan konsentrasi dan membuat keputusan, atau pikiran yang berulang tentang kematian atau bunuh diri.
10Gangguan depresif mayor merupakan gangguan yang sering berulang dan kronis yang dihubungkan dengan mortalitas dan morbiditas yang signifikan.
6Prevalensi seumur hidup dari gangguan depresif mayor adalah tinggi (hampir 17%) dari beberapa gangguan psikiatri.
9,11,12Insidensi tahunan dari gangguan depresi mayor adalah 1,59%
(perempuan 1,89% dan pria 1,1%).
11,12Suatu pengamatan yang hampir menyeluruh, tergantung dari negara atau budaya, prevalensi gangguan depresif 2 kali lebih besar pada perempuan daripada laki-laki. Alasan untuk perbedaan tersebut telah dihipotesiskan untuk memasukkan perbedaan hormonal, efek kelahiran anak, perbedaan stresor untuk perempuan dan untuk laki-laki, dan model perilaku dari pembelajaran ketidakberdayaan.
9,11,12Usia rata-rata onset gangguan depresif adalah sekitar 40 tahun, dengan 50% dari semua pasien depresif dengan onset usia diantara 20 dan 50. Data epidemiologis belakangan ini memperlihatkan bahwa insidensi gangguan depresif mayor bisa meningkat di antara orang-orang yang berusia kurang dari 20 tahun. Hal ini bisa berhubungan dengan meningkatnya penggunaan alkohol dan penyalahgunaan obat pada kelompok umur ini.
9,11,12Gangguan depresif mayor paling sering timbul pada orang-orang tanpa hubungan interpersonal, telah bercerai atau berpisah.
9,11Tidak ada hubungan yang ditemukan antara status sosioekonomi dan gangguan depresif mayor. Depresi lebih umum dijumpai pada daerah pedesaan daripada di daerah perkotaan.
11Tanda utama dari episode depresif mayor adalah mood depresi
atau hilang minat atau kesenangan yang menonjol selama sedikitnya 2
minggu dan menyebabkan distres atau hambatan yang bermakna dalam
fungsi sosial, pekerjaan, dan fungsi penting lainnya pada seorang individu.
Selama masa ini seseorang juga menampilkan sedikitnya 4 gejala tambahan dari di bawah ini.
10,13,14A. Mood depresi
Mood depresi adalah gejala yang paling khas terjadi pada lebih dari 90% pasien. Pasien melaporkan sendiri sebagai perasaan sedih, murung, hampa, putus asa, muram atau tenggelam dalam kesedihan.
Kualitas mood sebaiknya dilukiskan berbeda dari perasaan kesedihan yang normal atau duka cita.
B. Anhedonia
Tidak mampu menikmati aktifitas yang biasa dilakukan adalah yang paling umum dialami pasien depresi. Pasien atau keluarganya melaporkan dengan jelas adanya penurunan minat pada semua atau hampir semua aktifitas yang sebelumnya dinikmati seperti seks, hobi dan kegiatan rutinitas sehari-hari.
C. Perubahan nafsu makan
Sekitar 70% pasien depresi yang diamati terdapat penurunan nafsu makan bersamaan dengan kehilangan berat badan (BB). Hanya sedikit pasien yang mengalami peningkatan nafsu makan, sering dikaitkan dengan makanan khusus seperti permen.
D. Perubahan pola tidur
Sekitar 80% pasien depresi mengeluhkan beberapa tipe gangguan tidur, yang paling sering adalah insomnia. Insomnia biasanya dibagi menjadi insomnia biasa (masalah pada susah mengantuk), pertengahan (tidur tetapi sering terbangun sepanjang malam) atau lambat (pasien bangun terlalu pagi).
E. Perubahan pada aktifitas tubuh
Sekitar setengah dari pasien depresi berkembang dengan terjadinya
kemunduran dan perlambatan gerakan atau aktifitas. Mereka
menunjukkan lambat berpikir, berbicara, pergerakan tubuh atau
menurunnya isi pembicaraan dengan jeda yang panjang sebelum
menjawab.
F. Kehilangan tenaga
Hampir semua pasien depresi melaporkan kehilangan energi (tenaga). Malas dan kelelahan yang tidak biasanya dan terhambatnya efisiensi pada pekerjaan kecil atau sedang.
G. Perasaan tak berharga dan rasa bersalah yang berlebihan dan tak wajar. Pasien depresi dapat mengalami penurunan harga diri yang nyata (dan sering tidak realistik). Pada kebudayaan Eropa, lebih dari setengah pasien depresi menunjukkan rasa bersalah, rentang dari perasaan yang tidak jelas/samar-samar, yang mana kondisi mereka saat ini hasil dari sesuatu yang telah mereka lakukan di masa lalu, sampai kepada waham Frank dan kemiskinan atau memiliki dosa yang tidak dapat diampuni. Kultur lain mengalami rasa malu atau penghinaan.
H. Perasaan bimbang dan kurang konsentrasi
Sekitar setengah dari pasien depresi mengeluh atau memperlihatkan kelambatan berpikir. Mereka dapat merasakan bahwa mereka tidak mampu berpikir sebaik dahulu dan mereka sukar berkonsentrasi atau mereka mudah bingung. Seringkali ragu-ragu terhadap kemampuan untuk menilai sesuatu dan menemukan kalau mereka kesulitan dalam mengambil keputusan kecil. Pada ujian formal psikologis akurasi pasien berkurang dan kecepatan serta pelaksanaan yang lambat.
I. Ide bunuh diri
Banyak pasien depresi mengalami pikiran yang berulang-ulang untuk
mati, perasaan singkat bahwa orang lain akan lebih baik dengan
kematiannya, juga merencanakan untuk melakukan bunuh diri. Lebih
dari 15% pasien depresif berat yang parah menyukai kematian
dengan bunuh diri. Resiko bunuh diri pasien timbul pada episode
depresif tetapi kemungkinan tinggi setelah permulaan terapi dan
selama 6-9 bulan setelah pemulihan.
Daftar kriteria dari DSM-IV-TR untuk suatu episode depresif mayor terpisah dari kriteria diagnostik untuk diagnosis sehubungan dengan depresi dan juga dari deskripsi keparahan pada suatu episode depresif mayor. Ciri-ciri penting dari suatu episode depresif mayor adalah suatu periode waktu sekurang-kurangnya dalam 2 minggu dimana terdapat mood depresi, atau hilangnya minat dan kesenangan pada hampir seluruh aktifitas. Pada anak-anak dan remaja, mood-nya mungkin lebih sering iritabel dan sedih. Individu tersebut juga harus memperlihatkan sekurang- kurangnya 4 gejala tambahan yang mencakup perubahan dalam selera makan dan berat badan, tidur, serta aktifitas psikomotor, penurunan energi, perasaan tidak berharga atau bersalah, kesulitan dalam berpikir, konsentrasi, dan membuat keputusan, atau pikiran berulang tentang kematian dan ide bunuh diri, rencana atau usaha ke arah tersebut. Untuk diperhitungkan sebagai episode depresif mayor, suatu gejala haruslah baru terlihat atau jelas terlihat lebih buruk dari pada status sebelum episode berlangsung saat ini. Gejala-gejala tersebut haruslah bertahan hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, selama 2 minggu berturut-turut.
Harus disertai pula dengan distress yang signifikan secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
10Tabel 2.2.1. Kriteria DSM-IV-TR untuk episode depresif mayor
A. Lima (atau lebih) gejala berikut telah ditemukan selama periode dua minggu yang sama dan mewakili perubahan dari fungsi sebelumnya;
minimal satu dari gejala adalah salah satu dari (1) mood depresi, atau (2) hilangnya minat atau kesenangan.
Catatan: Jangan memasukkan gejala yang jelas karena suatu kondisi
medik umum atau waham atau halusinasi yang tidak sesuai dengan
mood.
(1). Mood depresi hampir sepanjang hari atau setiap hari yang ditunjukkan oleh pasien secara subjektif (misalnya merasa sedih) atau pengamatan yang dilakukan orang lain (misalnya tampak sedih). Catatan: pada anak-anak dan remaja, dapat berupa mood yang mudah tersinggung.
(2). Hilangnya minat atau kesenangan secara jelas dalam semua aktivitas sepanjang hari (seperti yang ditunjukkan oleh keterangan subjektif atau pengamatan yang dilakukan orang lain).
(3). Penurunan berat badan yang bermakna jika tidak melakukan diet atau penambahan berat badan (misalnya, perubahan berat badan lebih dari 5% dalam satu bulan) atau penurunan atau peningkatan nafsu makan hampir setiap hari. Catatan: pada anak-anak pertimbangkan kegagalan untuk mencapai pertambahan berat badan yang diharapkan.
(4). Insomnia atau hipersomnia
(5). Agitasi atau retardasi psikomotor (dapat dilihat orang lain, tidak semata mata perasaan subjektif adanya kegelisahan atau menjadi lamban)
(6). Kelelahan atau hilangnya energi hampir setiap hari
(7). Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat (mungkin bersifat waham) menyalahkan diri sendiri karena merasa berdosa atau karena penyakitnya.
(8). Hilangnya kemampuan untuk berpikir atau memusatkan perhatian, atau tidak dapat mengambil keputusan (baik oleh keterangan subjektif atau seperti yang dilihat oleh orang lain)
(9). Pikiran akan kematian yang berulang (bukan hanya takut mati), ide bunuh diri tanpa rencana yang spesifik, atau usaha bunuh diri atau rencana khusus untuk melakukan bunuh diri.
B. Gejala tidak memenuhi kriteria untuk episode campuran.
C. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
D. Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medik umum (misalnya, hipotiroidisme)
E. Gejala tidak lebih baik diterangkan oleh dukacita, yaitu setelah kematian orang yang dicintai, gejala menetap lebih dari 2 bulan atau ditandai oleh gangguan fungsional yang jelas, preokupasi morbid dengan rasa tidak berguna, ide bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi psikomotor.
Dikutip: American Psychiatric Association. Diagnostic and statistical manual of mental disorders. Fourth edition. Text revision.
Washington DC. 2000: p.356.
10Tabel 2.2.2. Kriteria diagnostik DSM-IV-TR untuk gangguan depresif mayor
A. Adanya suatu episode depresif mayor tunggal
B. Episode depresif mayor tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan waham atau gangguan psikotik yang tak tergolongkan.
C. Tidak pernah terdapat suatu episode manik, episode campuran atau
episode hipomanik. Catatan: penyingkiran ini tidak berlaku jika semua
episode mirip manik, mirip campuran atau mirip hipomanik adalah
diinduksi oleh zat atau pengobatan atau oleh efek fisiologis langsung
dari suatu kondisi medis umum.
Jika kriteria lengkap memenuhi suatu Episode Depresif Mayor, tentukan status klinis dan atau gambaran sekarang:
Ringan, sedang, berat tanpa ciri psikotik, berat dengan ciri psikotik Kronis
Dengan ciri katatonik Dengan ciri melankolik Dengan ciri atipikal
Dengan awitan pasca persalinan
Jika kriteria lengkap tidak memenuhi suatu Episode Depresif Mayor, tentukan status klinis dari Gangguan Depresif Mayor sekarang atau gambaran dari episode paling akhir:
Dalam remisi parsial, dalam remisi penuh Kronis
Dengan ciri katatonik Dengan melankolik Dengan ciri atipikal
Dengan awitan pasca persalinan.
Dikutip: American Psychiatric Association. Diagnostic and statistical manual of mental disorders. Fourth edition. Text revision.
Washington DC. 2000: p.375.
102.3. Simtom Insomnia dan Gangguan Depresif Mayor
Perubahan pola tidur pertama sekali dihubungkan dengan depresi lebih dari 30 tahun yang lalu.
15Pada penelitian The National Institute of Mental Health Epidemiologic Catchment Area sekitar 20 tahun yang lalu merupakan penelitan yang pertama menyoroti hubungan yang kuat antara gangguan tidur dan depresi.
5Ada hubungan yang sangat kuat antara gangguan tidur dan
depresi.
5,16Gangguan tidur adalah salah satu gejala utama dari gangguan
depresif mayor dan mungkin menjadi alasan pertama pasien depresi
mencari pengobatan.
5Gangguan tidur merupakan gambaran umum dari
gangguan depresi. Gangguan tidur juga merupakan sebuah kriteria diagnostik untuk depresi mayor dan gambaran di semua simtom yang umum digunakan berdasarkan skala pengukuran untuk depresi.
3Gangguan tidur merupakan bagian integral dari gangguan depresi.
Dengan demikian, gangguan tidur merupakan bagian dari semua kelompok kriteria diagnostik untuk depresi mayor dan semua simtom utama berdasarkan skala pengukuran untuk depresi.
2Gangguan tidur hampir selalu hadir pada pasien depresi.
17Abnormalitas tidur dialami oleh 40% hingga 60% pada pasien rawat jalan dengan gangguan depresif mayor.
2Dalam sampel epidemiologis, simtom tidur terjadi pada 50% sampai 60% dalam sampel orang dewasa muda berusia 21-30 tahun.
5Gangguan tidur pada depresi yang paling umum berupa simtom insomnia. Simtom insomnia dihubungkan dengan depresi secara umum dijelaskan oleh tiga bentuk yaitu kesulitan untuk tidur, kesulitan mempertahankan tidur, dan bangun terlalu pagi.
17Dalam sampel klinis, kesulitan dalam memulai atau mempertahankan tidur (termasuk bangun terlalu pagi) atau keduanya telah dilaporkan sekitar tiga perempat dari semua pasien depresi. Dalam sampel populasi di Inggris, kejadian simtom insomnia dalam berbagai macam usia pasien dengan depresi meningkat dengan usia. Secara keseluruhan, 83% dari pasien depresi memiliki setidaknya satu simtom insomnia dibandingkan dengan 36% yang tidak memiliki depresi. Variasi ini dari 77% pada kelompok usia 16 hingga 24 tahun sampai 90% pada kelompok usia 55 hingga 64 tahun. Ketika penulis melihat nilai simtom tidur sebagai bantuan skrining untuk depresi, proporsi pasien depresi yang melaporkan simtom insomnia yang cukup untuk menjamin diagnosis insomnia (DSM-IV) sebesar 41% dan proporsi tanpa depresi dan tanpa diagnosis adalah 96%.
5Antara 50% hingga 90%
dari pasien depresi mengeluh gangguan tidur terutama simtom insomnia
dini, simtom insomnia pertengahan, dan simtom insomnia akhir.
15Simtom insomnia merupakan simtom yang umum dalam depresi yang memiliki dampak yang signifikan pada fungsi dan kualitas hidup.
Namun, sedikit yang diketahui tentang prevalensi dan gambaran dalam mencari pengobatan yang terkait dengan simtom insomnia pada pasien dengan depresi. Meskipun pentingnya klinis dari simtom insomnia, sedikit yang diketahui tentang prevalensi dan gambaran yang berhubungan dengan simtom insomnia pada pasien dengan gangguan depresif mayor yang mencari pengobatan di klinik (misalnya, klinik primer atau klinik psikiatri swasta atau negeri).
6Simtom insomnia dihubungkan dengan beberapa indikator dari depresi yang lebih parah.
6Gangguan tidur adalah gejala yang sangat menyedihkan yang berdampak besar pada kualitas hidup pasien. Dalam sebuah penelitian, 2800 anggota Depression Alliance, sebuah badan amal yang berbasis di Inggris untuk orang dengan depresi, dikirim kuesioner pos. Responden ditanya apakah, ketika mereka depresi, mereka menderita kesulitan tidur. Sembilan puluh tujuh persen melaporkan kesulitan tidur selama depresi dan 59% mengindikasikan bahwa tidur yang buruk secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup mereka.
Sebagian besar percaya bahwa kesulitan tidur mereka dimulai bersamaan dengan depresi mereka. Sekitar dua pertiga telah mencari pengobatan seperti peresepan pil tidur dan kunjungan tambahan ke dokter untuk mereka dengan masalah tidur.
5Pada pasien rawat jalan yang mencari pengobatan untuk gangguan
depresif mayor tanpa ciri psikotik, simtom insomnia sangat umum, tanpa
pengobatan, dan indikasi dari depresi mayor. Sekitar delapan puluh
persen dari pasien rawat inap psikiatri dan 70% dari pasien rawat jalan
psikiatri dengan gangguan depresif mayor melaporkan masalah memulai
atau mempertahankan tidur.
6Dari sebuah penelitian menunjukkan bahwa
sekitar 20% pasien depresi mengalami insomnia.
18Simtom insomnia terjadi pada sekitar sepertiga dari individu dengan gangguan mental dan mungkin menjadi kontributor utama terhadap kecacatan yang dihubungkan dengan depresi. Insomnia merupakan salah satu simtom paling umum dari depresi dan hal ini merupakan diagnostik penting simtom depresi. Selanjutnya, dampak klinis dari insomnia merupakan substansial sejak simtom insomnia dihubungkan dengan peningkatan risiko rekurensi depresi, kegagalan untuk merespons obat antidepresan, kualitas hidup yang buruk pada pasien depresi, peningkatan risiko bunuh diri, keinginan bunuh diri yang aktif, rencana untuk bunuh diri, dan percobaan bunuh diri sebelumnya. Simtom insomnia yang dimiliki pada dewasa muda telah ditemukan berhubungan dengan depresi pada paruh baya.
6Penelitian insomnia dalam depresi menyediakan jembatan metodologis antara bidang depresi dan penelitian tidur untuk penilaian insomnia. Penelitian ini menunjukkan validitas antara pengukuran gangguan tidur retrospektif yang digunakan dalam penelitian depresi dan pengukuran gangguan tidur yang berasal dari seminggu harian tidur dan umum digunakan dalam penelitian tidur. Hasil menunjukkan korelasi yang sedang sampai sangat signifikan dan menyediakan penilaian kesulitan tidur secara umum yang ada pada butir tidur HAM-D.
82.4. Hamilton Rating Scale for Depression
Hamilton Rating Scale for Depression (HAM-D) dikembangkan
pada awal tahun 1960-an untuk memonitor depresi mayor, dengan fokus
pada simtomatologi somatik. Versi ini umumnya kebanyakan
menggunakan 17 pertanyaan, walaupun versi dengan jumlah pertanyaan
yang berbeda, meliputi 24 versi pertanyaan telah digunakan pada
beberapa penelitian.
19Hamilton rating scale for depression versi 17 butir
lebih banyak digunakan dalam standar penelitian-penelitian klinikal
selama beberapa tahun terakhir dan paling banyak digunakan untuk
penelitian-penelitian klinikal pada depresi.
20Pertanyaan dalam HAM-D
dinilai 0 hingga 2 atau 0 hingga 4, dengan total nilai pada 17 pertanyaan dengan range dari 0 hingga 50; nilai ≤ 7 adalah normal, 8-13 adalah depresi ringan; 14-18 adalah depresi sedang; 19-22 adalah depresi berat;
dan ≥ 23 adalah depresi sangat berat.
19HAM-D merupakan suatu pengukuran observasi untuk menilai keparahan depresi termasuk tiga butir untuk menilai simtom insomnia.
Masing-masing dari tiga butir simtom insomnia dari HAM-D (simtom insomnia dini, simtom insomnia pertengahan, dan simtom insomnia akhir) dinilai oleh pewawancara pada skala mulai dari 0 (tidak ada kesulitan) hingga 2 (parah).
8Penelitian yang dilakukan oleh Thase dan kawan-kawan dengan
menggunakan butir simtom insomnia dari HAM-D untuk menilai
perubahan dalam tingkat keparahan simtom insomnia selama pengobatan
depresi. Penelitian ini adalah penelitian yang pertama untuk mengevaluasi
kesepakatan antara penilaian retrospektif butir simtom insomnia dari HAM-
D. Dalam penelitian ini dipresentasikan temuannya tentang hubungan
antara nilai rata-rata mingguan waktu untuk onset tidur, waktu terjaga
setelah onset tidur, dan waktu terjaga sebelum waktu bangun yang
direncanakan, dan butir simtom insomnia yang sesuai dari HAM-D yaitu
simtom insomnia dini, simtom insomnia pertengahan, dan simtom
insomnia akhir.
82.5. Kerangka Konsep
Pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
(DSM-IV-TR).
Usia
Jenis kelamin
Tingkat pendidikan
HAM-D
(3 butir simtom insomnia)
Simtom insomnia
Status perkawinan
Pekerjaan Kriteria
Inklusi
Kriteria
Eksklusi
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan studi cross sectional.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
3.2.1. Tempat penelitian: Poliklinik psikiatri Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Sumatera Utara, poliklinik psikiatri Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan, poliklinik psikiatri Rumah Sakit Umum (RSU) dr. Pirngadi Medan, dan poliklinik psikiatri Rumkit Putri Hijau.
3.2.2. Waktu penelitian : 11 Januari 2012 sampai dengan 30 September 2012
3.3. Populasi Penelitian
3.3.1. Populasi target : Pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang datang berobat ke poliklinik psikiatri BLUD RSJ Provinsi Sumatera Utara, poliklinik psikiatri RSUP Haji Adam Malik Medan, poliklinik psikiatri RSU dr. Pirngadi Medan, dan poliklinik psikiatri Rumkit Putri Hijau.
3.3.2. Populasi terjangkau: Pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik yang datang berobat ke poliklinik psikiatri BLUD RSJ Provinsi Sumatera Utara, poliklinik psikiatri RSUP Haji Adam Malik Medan, poliklinik psikiatri RSU dr. Pirngadi Medan, dan poliklinik psikiatri Rumkit Putri Hijau selama periode 11 Januari 2012 sampai dengan 30 September 2012.
3.3.3. Sampel penelitian : Pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri
psikotik yang memenuhi kriteria inklusi.
3.3.4. pengambilan sampel dengan non probability sampling jenis consecutive sampling yaitu semua subyek yang datang dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi.
3.4. Besar Sampel
213.4.1. Simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik digunakan rumus:
Z α
2PQ n = ---
d
2(1,96)
2x 0,8 x 0,2 = ---
(0,1)
2= 61,5 ≈ 62
Z α = nilai batas bawah dari nilai Z yang besarnya tergantung pada nilai α yang ditentukan. Untuk nilai α = 0,05 → Zα = 1,96
P = proporsi simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik. P = 0,8
Q = 1 – P. Q = 1 – 0,8 = 0,2
d = tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki (ditetapkan) = 0,1
3.4.2. Untuk melihat hubungan tiap variabel babas yang diteliti (usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, status perkawinan) dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik digunakan rumus:
2 Z α√2PQ + Zβ√P1Q1 + P2Q2 n1=n2= ---
P1 - P2
2 1,96 √2x0,65x0,35 + 0,84√0,5x0,5 + 0,8x0,2 n1=n2= ---
0,3 n1=n2= 38,43 ≈ 39
Total = 78
Z α = nilai batas bawah dari nilai Z yang besarnya tergantung pada nilai α yang ditentukan. Untuk nilai α = 0,05 → Zα = 1,96
Zβ = nilai batas bawah dari nilai Z yang besarnya tergantung pada nilai β yang ditentukan. Untuk nilai β = 0,20 → Zβ = 0,84
P1 = proporsi pada kelompok yang nilainya merupakan judgement peneliti. P1= 0,5
Q1 = 1 – P1. Q1 = 1 – 0,5 = 0,5
P2 = proporsi pada kelompok yang nilainya sudah diketahui. P2 = 0,8 Q2 = 1 – P2. Q2 = 1 – 0,8 = 0,2
P = proporsi total. P = (P1 + P2)/2 = (0,5 + 0,8)/2 = 0,65 Q = 1 – P. Q = 1 – 0,65 = 0,35
3.4.3. Untuk melihat hubungan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, status perkawinan dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik digunakan rumus:
10 x Vi n = ---
I 10 x 5 = --- 0,8 = 62,5 ≈ 63
Vi = jumlah variabel bebas yang diteliti = 5
I = insidensi = 0,8
3.4.4. Untuk melihat hubungan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, status perkawinan dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik digunakan rumus:
{Z α√P0(1- P0) + Zβ√Pa(1 – Pa)}
2n = ---
(P0 – Pa)
2{1,96 √0,8(1- 0,8) + 0,84√0,65(1 – 0,65)}
2n = --- (0,8-0,65)
2n = 62,37 ≈ 63
Z α = nilai batas bawah dari nilai Z yang besarnya tergantung pada nilai α yang
ditentukan. Untuk nilai α = 0,05 → Zα = 1,96
Zβ = nilai batas bawah dari nilai Z yang besarnya tergantung pada nilai β yang ditentukan. Untuk nilai β = 0,20 → Zβ = 0,84
P0 = proporsi simtom insomnia pada populasi. P0 = 0,8
Pa = perkiraan proporsi simtom insomnia pada populasi. Pa = 0,65
Kesimpulan:
Perhitungan besar sampel yang memberikan jumlah terbanyak adalah
sebesar 78. Dengan demikian besar sampel untuk penelitian ini adalah 80
sampel.
Tabel 3.4. Perhitungan jumlah sampel
Hubungan Jenis
pertanyaan
Rumus besar sampel Besar sampel
Simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor
tanpa ciri psikotik
Deskriptif kategorik Zα2PQ n = ---
d2 n = 62
Hubungan usia dan simtom insomnia pada pasien gangguan depresif mayor
tanpa ciri psikotik
Analitik komparatif kategorik tidak
berpasangan
2 Zα√2PQ+Zβ√P1Q1+P2Q2 n1=n2= ---
P1-P2
n1=n2= 39 Total = 78
Hubungan jenis kelamin dan simtom insomnia pada pasien
gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Analitik komparatif kategorik tidak
berpasangan
2 Zα√2PQ+Zβ√P1Q1+P2Q2 n1=n2= ---
P1-P2
n1=n2= 39 Total = 78
Hubungan pekerjaan dan simtom insomnia pada pasien
gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Analitik komparatif kategorik tidak
berpasangan
2 Zα√2PQ+Zβ√P1Q1+P2Q2 n1=n2= ---
P1-P2
n1=n2= 39 Total = 78
Hubungan tingkat pendidikan dan simtom insomnia pada
pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Analitik komparatif kategorik tidak
berpasangan
2 Zα√2PQ+Zβ√P1Q1+P2Q2 n1=n2= ---
P1-P2
n1=n2= 39 Total = 78
Hubungan status perkawinan dan simtom insomnia pada
pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Analitik komparatif kategorik tidak
berpasangan
2 Zα√2PQ+Zβ√P1Q1+P2Q2 n1=n2= ---
P1-P2
n1=n2= 39 Total = 78
Hubungan usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan,
dan status perkawinan dengan simtom insomnia
pada pasien gangguan depresif mayor tanpa ciri
psikotik
Rule of thumb dengan koreksi:
10 x Vi n = --- I
n = 63
Hubungan usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan,
dan status perkawinan dengan simtom insomnia
pada gangguan depresif mayor tanpa ciri psikotik
Rumus regresi logistik:
{Zα√P0(1-P0)+Zβ√Pa(1–Pa)}2 n = ---
(P0 – Pa)2
n = 63