BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Sejarah dan Kaitan Norma Sosial dengan Gelandangan
Dari hasil wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat terungkap, bahwa sejak dahulu tidak ada norma – norma sosial yang mengatur dan mengharuskan masyarakat kota Makassar untuk berperilaku gelandangan. Hal ini merupakan sesuatu yang spesifik dari fenomena perilaku gelandangan dari daerah ini, bila dibandingkan dengan sejarah gelandangan di daerah lain. Jikalau norma – norma sosial itu dapat dianggap sebagai suatu konsep yang menyangkut semua keteraturan sosial yang berhubungan dengan evaluasi dari semua objek, individu, tindakan, gagasan, maka gelandangan bukanlah wujud keteraturan sosial yang diidamkan oleh masyarakat di kota Makassar.
Pada umumnya mereka yang melakukan kegiatan bergelandangan ini keadaan rumahnya lebih baik, terbuat dari tembok, punya kendaraan bermotor. Efek demonstrasi keberhasilan tersebut sangat cepat mempengaruhi warga terdekat, sehingga mereka turut berimbas dan ikut menggepeng ke daerah tujuan yang
i
sama. Dalam ilmu sosiologi dikenal suatu teori “Resionansi Sosial”, yang mengatakan bahwa kecepatan perubahan sosial sangatlah di tentukan oleh jauh atau dekatnya pusat perubahan sosial. Teori tersebut sangat relevan dengan realitas perubahan masyarakat kota Makassar. Karena berdekatan dengan pusat atau asal dari anak gelandangan maka mereka cepat terimbas turut melakukan kegiatan seperti menggepeng. Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Kota Makassar, sejak tahun 1990 sampai 2013 banyak keluarga yang telah ikut menjadi gelandangan. Sampai saat ini ada kecenderungan bertambah banyak jumlah yang menjadi gelandangan , walaupun tidak drastis. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya gelandangan yang kena razia adalah gelandangan yang itu-itu saja. Berikut jumlah anak gelandangan di kecamatan Kota Makassar.
i
Table 4. Jumlah Gelandangan menurut Kecamatan di Kota Makassar
KODE
WIL KECAMATAN GELANDANGAN
(1) (2) (3)
010 020 030 031 040 050 060 070 080 090 100 101 110 111
MARISO MAMAJANG TAMALATE RAPPOCINI MAKASSAR
UJUNG PANDANG WAJO
BONTOALA UJUNG TANAH TALLO
PANAKKUKANG MANGGALA BIRINGKANAYA TAMALANREA
27 13 23 15 32 12 9 15 11 14 39 15 13 37
JUMLAH 275
TAHUN TAHUN TAHUN TAHUN TAHUN TAHUN TAHUN
2013 2012 2011 2010 2009 2008 2007
275 269 204 186 144 340 280
Jumlah 1.698
Sumber : Dinas Sosial Kota Makassar
C. Karakeristik Kepala Keluarga dan Tetangga Gelandangan
Karakteristik kepala keluarga gelandangan dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Cirri-ciri yang dimaksud berupa sosial, demografis dan ekonomi. Ciri demografis seperti umur, jumlah anggota rumah tangga, dan jenis kelamin. Ciri sosial seperti pendidikan dan ststus kawin. Ciri ekonomis seperti kegiatan yang dilakukan, pendapatan, tempat pekerjaan.
i
Karakteristik kepala keluarga gelandangan dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri yang dimaksud berupa sosial, demografis dan ekonomi. Ciri demografis seperti umur, jumlah anggota rumah tangga, dan jenis kelamin. Ciri sosial seperti pendidikan dan status kawin. Ciri ekonomis seperti kegiatan yang dilakukan, pendapatan, tempat pekerjaan. Karakteristik kepala keluarga gelandangan sangat penting diuraikan karena dapat memberikan gambaran dasar mengenai keadaan gelandangan serta keluarganya. Dalam kaitanya dengan mutu persediaan sumber daya manusia, karakteristik yang relatif penting untuk diketahui lebih lanjut adalah karekteristik kegiatan ekonomi. Karakteristik pendidikan erat kaitannya dengan mutu pekerja dari segi kemampuan dan keterampilan. Selain itu, tingkat pendidikan yang dicapai seseorang akan menentukan jenis dan status pekerjaan yang dimiliki, yang pada gilirannya akan menentukan tingkat upah dan pendapatannya.
Karakteristik ekonomi kepala keluarga gelandangan akan dapat menggambarkan tingkat pendapatan dan produktivitas pada berbagai kegiatan ekonomi yang dilakukan.
Permasalahan sosial tidak bias dihindari keberadaannya dalam kehidupan masyarakat, terutama yang berada di daerah perkotaan yakni masalah gelandangan. Permasalahan sosial gelandangan merupakan akumulasi dari berbagai permasalahan yang terjadi. Mulai dari kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, minimnya
i
keterampilan kerja yang dimiliki, lingkungan, sosial budaya, kesehatan dan lain sebagainya. Adapun gambaran permasalahan penyebab munculnya masalah sosial seperti gelandangan dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Masalah kemiskinan
Kemiskinan merupakan faktor dominan yang menyebabkan banyaknya gelandangan. Kemiskinan dapat memaksa seorang menjadi gelandangan karena tidak memiliki tempat tinggal yang layak, serta menjadikan mengemis sebagai pekerjaan. Selain anak dari keluarga miskin menghadapi resiko yang lebih besar untuk menjadi anak jalanan karena kondisi kemiskinan yang menyebabkan mereka kerap kali kurang terlindungi.
2. Masalah pendidikan
Pada umumnya tingkat pendidikan gelandangan relative rendah sehingga menjadi kendala bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
3. Masalah keterampilan kerja
pada umumnya gelandangan tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan tuntuan pasar kerja.
4. Masalah sosial budaya
Ada beberapa faktor sosial budaya yang mengakibatkan seseorang menjadi gelandangan, antara lain :
i a. Rendahnya harga diri
Rendahnya harga diri kepada sekelompok orang mengakibatkan mereka tidak memiliki rasa malu untuk meminta-minta.
b. Sikap pasrah pada nasib
Mereka menganggap bahwa kemiskinan adalah kondisi mereka sebagai gelandangan adalah nasib, sehingga tidak ada kemauan untuk melakukan perubahan.
c. Kebebasan hidup menggelandang
Kebiasaan seperti ini hanya makin memperburuk keadaan seseorang yang menjadi gelandangan. Kebiasaan buruk ini merupakan sikap penyimpangan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya gelandangan menurut Departemen Sosial (2001: 25-26) ada 3 macam, yakni faktor pada tingkat mikro (immediate causes), faktor pada tingkat messo (underlying causes), dan faktor pada tingkat makro (basic causes).
1. Tingkat mikro (Immediate Causes)
Faktor pada tingkat mikro ini yaitu faktor yang berhubungan dengan anak dan keluarganya. Departemen Sosial (2001: 25-26) menjelaskan pula bahwa pada tingkat mikro sebab yang bisa diidentifikasikan dari anak dan keluarga yang berkaitan tetapi juga
i
berdiri sendiri. Selain itu, Odi Shalahuddin (2004: 71) menyebutkan juga faktor-faktor yang disebabkan oleh keluarga yakni sebagai berikut :
a. Ekonomi
kurangnya lapangan pekerjaan mengakibatkan banyaknya orang tua dan anak tidak dapat memiliki rumah tangga yang mereka harapkan dan tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
b. Perceraian dan kehilangan orang tua
Mereka yang telah kehilangan orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan tidak memiliki kesempatan untuk belajar mencari nafkah bagi dirinya sendiri.
c. Kekerasan keluarga
Kekerasan yang sering terjadi di dalam rumah tangga dapat menimbulkan hal negative seperti adanya perceraian yang membuat anak terpisah dari orang tuanya hingga mereka tidak tau harus kemana untuk melanjutkan hidup mereka.
d. Keterbatasan ruang dalam rumah
Keterbatasan di dalm rumah sering menimbulkan seseorang utuk jarang tinggal di rumah dikarenakan kurangnya wadah atau tempat beristirahat atau menuangkan imajinasi mereka hingga akhirnya mereka mencari tempat (seperti kolom
i
jembatan) yang bisa digunakan sebagai sarana atau tempat beristirahat.
e. Eksploitasi ekonomi
Banyak anggota keluarga gelandangan yang mengikut sertakan anaknya ke jalanan dengan niat agar masyarakat yang berada disekelilingnya merasa iba dan kasihan hingga mereka memberinya sedekah. Namun hal ini menimbulkan dampak buruk kepada anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak namun terpaksa harus menerima kenyataan pahit itu. Bahkan di masa sekarang ini ada pula yang rela menjual tubuhnya demi mendapatkan uang demi memenuhi kelangsungan hidupnya.
2. Tingkat Messo (Underlying Causes)
Faktor-faktor penyebab munculnya anak gelandangan pada tingkat messo ini yaitu faktor yang ada di masyarakat. Menurut Departemen Sosial RI (2001: 25-26), pada tingkat messo (masyarakat), sebab yang dapat diidentifikasikan meliputi :
a. Pada masyarakat miskin, anak-anak adalah asset untuk membantu peningkatan pendapatan keluarga, anak-anak diajarkan bekerja yang menyebabkan drop out dari sekolah.
b. Pada masyarakat lain, urbanisasi menjadi kebiasaan dan anak-anak mengikuti kebiasaan itu.
i
c. Penolakan masyarakat dan anggapan anak gelandangan sebagai calon criminal.
Selain itu, Odi Shalahuddin (2004: 71) juga memaparkan faktor lingkungan munculnya anak gelandangan yang bisa dikategorikan dalam faktor pada tingkat messo, yakni sebagai berikut :
1. Ikut-ikutan teman
2. Bermasalah dengan tetangga atau komunitas
3. Ketidakpedulian atau toleransi lingkungan terhadap keberadaan anak gelandangan.
3. Tingkat Makro (Basic Causes)
Faktor-faktor penyebab munculnya anak gelandangan pada tingkat makro yaitu faktor yang berhubungan dengan struktur makro.
Departemen Sosial RI (2001: 25-26) menjelaskan bahwa pada tingkat makro (struktur masyarakat), sebab yang dapat diidentifikasikan adalah :
a. Ekonomi, adalah adanya peluang pekerjaan sektor informal yang tidak terlalu membutuhkan modal keahlian, mereka harus lama dijalani dan meninggalkan bangku sekolah, ketimpangan desa dan kota yang mendorong urbanisasi. Migrasi dari desa ke kota mencari kerja, yang diakibatkan kesenjangan pembangunan desa kota, kemudahan transportasi dan ajakan kerabat, membuat banyak keluarga dari desa pindah ke kota
i
dan sebagian dari mereka terlantar, hal ini mengakibatkan anak-anak mereka terlempar ke jalanan.
b. Penggusuran dan pengusiran keluarga miskin dari tanah atau rumah mereka dengan alasan “demi pembangunan”, mereka semakin tidak berdaya dengan kebijakan ekonomi makro pemerintah yang lebih menguntungkan segelintir orang.
c. Pendidikan, adalah biaya sekolah yang tinggi, perilaku guru yang diskriminatif, dan ketentuan-ketentuan teknis dan birokratis yang mengalahkan kesempatan belajar.
Meningkatnya angka anak putus sekolahkarena alasan ekonomi, telah mendorong sebagian anak untuk menjadi pencari kerja dan jalanan mereka jadikan salah satu tempat untuk mendapatkan uang.
d. Belum beragamnya unsur-unsur pemerintah memandang anak jalanan antara sebagai kelompok yang memerlukan perawatan (pendapatan kesejahteraan) dan pendekatan yang menganggap anak jalanan sebagai trouble maker atau pembuat masalah (security approach / pendekatan keamanan).
e. Adanya kesenjangan sistem jaring pengamanan sosial sehingga jarring pengamanan sosial tidak ada ketika keluarga dan anak menghadapi kesulitan.
f. Pembangunan telah mengorbankan ruang bermain bagi anak (lapangan, taman, dan lahan-lahan kosong). Dampaknya
i
sangat terasa pada daerah-daerah kumuh perkotaan, dimana anak-anak menjadikan jalanan sebagai ajang bermain dan bekerja.
D. Dampak Sosial dengan Adanya Anak Gelandangan
Dengan adanya para gelandangan yang berada di tempat-tempat umum akan menimbulkan banyak sekali masalah sosial di tengah kehidupan bermasyarakat diantaranya :
1. Masalah Lingkungan (Tata Ruang)
Gelandangan pada umumnya tidak memiliki tempat tinggal di wilayah yang sebenarnya dilarang tinggal tetap, tinggal di wilayah yang sebenarnya dilarang dijadikan tempat tinggal, seperti : taman-taman, bawah jembatan dan pinggiran kali. Oleh karena itu, keberadaan mereka di kota-kota besar sangat menggangu ketertiban umum, ketenangan masyarakat dan kebersihan serta keindahan kota.
2. Masalah Kependudukan
Gelandangan yang hidupnya berkeliaran di jalan dan tempat umum pada umumnya tidak memiliki kartu identitas (KTP/ KK) yang tercatat di kelurahan (RT/ RW) setempat. Selain itu, sebagian besar dari mereka hidup bersama suami istri tanpa ikatan perkawinan yang sah sehingga menyulitkan pemerintah dalam melakukan pendataan kependudukan.
i
3. Masalah Keamanan dan Ketertiban
Maraknya gelandangan di suatu wilayah dapat menimbulkan kerawanan sosial serta dapat mengganggu keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut.
4. Masalah Kriminalitas
Keberadaan gelandangan yang sebagian besar memiliki tingkat ekonomi yang rendah dapat menjadi faktor yang menyebabkan mereka menghalalkan segala cara untuk dapat memenuhi segala kebutuhannya. Mulai dari pencurian, kekerasan, pelecehan seksual, dan lain sebagainya.
i
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan oleh penulis tentang faktor yang mempengaruhi meningkatnya jumlah penduduk gelandangan di Kota Makassar dengan menggunakan analisis deskriptif dan pendekatan kualitatif, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. meningkatnya jumlah anak gelandangan di Kota Makassar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi faktor ekonomi, faktor sosial, lingkungan, pendidikan dan lainnya. Semua faktor tersebut dapat mempengaruhi setiap individu yang berada di dalamnya.
Selain itu, kurangnya lapangan kerja yang sesuai dengan anak gelandangan tersebut membuat kondisi perekonomian yang semakin melemah.
2. Adapun beberapa kesimpulan mengenai upaya pemerintah dalam menanggulangi anak gelandangan yaitu :
a. Preventif, yaitu usaha secara terorganisir yang meliputi penyuluhan, bimbingan, latihan dan pendidikan, pemberian bantuan, pengawasan, serta pembinaan lanjutan kepada para pemangku kepentingan.
i
d. Represif, Yaitu menghilangkan gelandangan dan pengemis, serta meluasnya keberadaan mereka di masyarakat. Upayanya meliputi razia, penampungan sementara untuk diseleksi, dan pelimpahan. Seleksi tersebut untuk menetapkan kualifikasi gelandangan untuk menentukan langkah selanjutnya,
e. Rehabilitatif, meliputi penyantunan, pemberian diklat, pemulihan kemampuan dan penyaluran kembali ke daerah transmigran atau ke tengah masyarakat dalam rangka pembinaan lebih lanjut agar mereka mempunyai kemampuan untuk hidup secara layak.
B. Saran
Langkah pertama yang dapat disarankan adalah dengan tetap mengadakan razia dan hasil razia dipakai untuk memilah-milah pelaku gelandangan, terutama dipisahkan pelaku gelandangan yang memupunyai motivasi untuk beralih pekerjaan. Pembinaan tetap dilakukan dengan berusaha menyentuh keserasian pemenuhan kebutuhan material dan spiritual serta keserasian pemenuhan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang.
Langkah selanjutnya adalah mengembangkan usaha-usaha yang telah menampakkan hasil di desa asal, terutama mengembangkan peternakan sapi serta menggali usaha - usaha lain yang tampaknya cukup potensial, antara lain usaha industri dan kerajinan rumah
i
tangga. Semua langkah ini dibarengi dengan langkah pemenuhan kebutuhan spiritual untuk memelihara sikap idealis yang telah ada di masyarakat.
i
DAFTAR PUSTAKA
Ali Marpuji, dkk., 1990. Gelandangan di Kertasura, dalam Monografi 3 Lembaga Penelian Universitas Muhammadiyah.
Dirkes Tuna Sosial, Pedoman Rehabilitasi Sosial Gelandangan. Jakarta : Depsos RI. 2008.
Odi Salahaddin, 2004. Faktor Lingkungan Munculnya Anak Gelandangan Pada Tingkat Messo. Jakarta.
Rahayu., Ida Agustini, 1990. Sosialisasi Pada Anak-anak Gelandangan.
Skripsi. Surabaya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair.
Remi Soemitro Sutyastie, Prijono Tjiptoherijanti, 2002. Kemiskinan dan Ketidak Merataan di Indonesia, Jakarta.
Rizki, Hertanty Aji, 2009. kebijakan sosial dalam menanggulangi masalah kemiskinan.
Saparinah Sadli, 1984. Perilaku Gelandangan dan Penanggulangannya, dalam Paulus Widiyanto Gelandangan Pandangan I'lauvan Sosial, Jakarta, LP3ES.
Sudibia I Ketut, 1992. Pola Urbanisasi, Migrasi dan Pemukiman Penduduk di Propinsi Bali Selama Repelita I – IV serta Prospek dan Implikasinya dalam Majalah Universitas Udayana, Tahun I, No 1, Denpasar.
Suryani, Anis, 1986. Sosialisasi Pada Keluarga Gelandangan, dalam Bulletin Antropologi. Yogyakarta, Perpustakaan Jurusan Antropologi Fakultas.Sastra - UGM .
Usman Sunyoto, 2004. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Wignjosoebroto, Soetandyo, 1986. Tertib Masyarakat Manusia. Surabaya : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.
Departemen Sosial 2001. Kota Makassar
Makassar Dalam Angka 2013. BPS. Kota Makassar
Makassar Dalam Angka 2013. Dinas Sosial. Kota Makassar