Bagian Kesatu Umum
Pasal 7
(1) Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Dompu meliputi : a. pusat-pusat kegiatan;
b. sistem jaringan prasarana utama; dan c. sistem jaringan prasarana lainnya.
(2) Rencana struktur ruang wilayah digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua Pusat-pusat Kegiatan
Pasal 8
(1) Pusat-pusat kegiatan yang ada di Kabupaten Dompu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a, terdiri atas :
a. PKWp di Kota Dompu;
b. PKL Pekat, Kempo, Hu’u dan Kilo; c. PKLp Pajo, Manggelewa dan Woja; dan
d. PPK meliputi Hu’u, Sawe, O’o, Kadindi, Doropeti, Soriutu, Kwangko, Soro, Dorokobo, Malaju, Mbuju, Jambu dan Ranggo.
e. PPL meliputi Nangasia, Madawa, Mangge Asi, Nangamiro, Sorinomo, Riwo, Nowa, Lanci Jaya, Banggo, Napa, kesi, Ta’a, Karamat, Lasi, Lepadi, dan Soro Adu.
(2) PKWp sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, berfungsi sebagai: a. pusat pelayanan pemerintahan skala kabupaten;
b. pusat perdagangan, bisnis, keuangan, dan jasa skala kabupaten dan hinterlandnya;
c. simpul transportasi skala wilayah;
d. pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan; dan e. pusat pelayanan umum dan sosial skala regional.
25 (3) PKL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, berfungsi sebagai:
a. pusat perdagangan, bisnis, keuangan, dan jasa skala lokal dan/atau regional;
b. simpul transportasi skala lokal; dan
c. pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan skala lokal dan/atau regional.
(4) PKLp sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, berfungsi sebagai: a. pusat perdagangan, bisnis, keuangan, dan jasa skala lokal dan/atau
regional;
b. simpul transportasi skala lokal; dan
c. pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan skala lokal dan/atau regional.
(5) PPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, berfungsi sebagai : a. pusat pelayanan umum dan sosial skala kawasan;
b. simpul transportasi skala kawasan;
c. pusat perdagangan, bisnis, keuangan, dan jasa skala kawasan dan atau lokal;
d. pusat pelayanan dan pengembangan sektor unggulan; dan e. pusat pendidikan dan jasa skala kawasan.
(6) PPL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, berfungsi sebagai: a. simpul transportasi skala lingkungan;
b. pusat perdagangan, bisnis, keuangan, dan jasa skala lingkungan dan atau kawasan; dan
c. pusat pelayanan umum dan sosial skala lingkungan.
Bagian Ketiga
Sistem Jaringan Prasarana Utama
Pasal 9
(1) Sistem jaringan prasarana utama yang ada di Kabupaten Dompu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. sistem jaringan transportasi darat; b. sistem jaringan transportasi laut; dan c. sistem jaringan transportasi udara.
(2) Sistem jaringan transportasi dan pusat-pusat kegiatan digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:50.000 sebagaimana tercantum
26 dalam Lampiran IV, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 1
Sistem Jaringan Transportasi Darat
Pasal 10
(1) Sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a. jaringan jalan;
b. jaringan prasarana lalu lintas; c. jaringan layanan lalu lintas; dan d. jaringan penyeberangan.
(2) Sistem jaringan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, tercantum dalam lampiran I.1 yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.
(3) Jaringan prasarana lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas:
a. pengembangan terminal penumpang tipe B di kecamatan Woja; dan b. pengembangan terminal penumpang tipe C di kecamatan Manggelewa,
Calabai, Kempo, Rasabou dan Kilo.
(4) Jaringan layanan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri atas :
a. jaringan layanan lalulintas angkutan barang; dan
b. jaringan layanan lalulintas trayek angkutan penumpang.
(5) Jaringan lalulintas angkutan barang dan trayek penumpang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
(6) Jaringan penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, terdiri atas:
a. pelabuhan Calabai-P. Moyo (Kab. Sumbawa) b. pelabuhan Soro- Calabai ; dan
27
Paragraf 2
Sistem Jaringan Transportasi Laut
Pasal 11
(1) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf b, meliputi :
a. tatanan kepelabuhanan; dan b. alur pelayaran.
(2) Tatanan kepelabuhanan di Kabupaten Dompu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a. pelabuhan pengumpan regional Calabai Kecamatan Pekat; b. pelabuhan pengumpan regional Teluk Cempi;
c. pelabuhan pengumpan lokal Kempo Kecamatan Kempo; dan d. pelabuhan pengumpan regional Kilo Kecamatan Kilo.
(3) Rencana pengembangan alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. alur pelayaran Cempi-Labangka ( Kab. Sumbawa); b. alur pelayaran Calabai- Bima (Kota Bima);
c. alur pelayaran Cempi-Waworada (Kab. Bima);
d. alur pelayaran Kempo-Labuan Badas (Kab. Sumbawa); dan e. alur pelayaran Kempo-Calabai.
Paragraf 3
Sistem Jaringan Transportasi Udara
Pasal 12
(1) Sistem jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, terdiri atas:
a. tatanan kebandarudaraan; dan b. ruang udara untuk penerbangan.
(2) Tatanan kebandarudaraan di Kabupaten Dompu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yakni rencana pembangunan bandar udara khusus.
(3) Rencana pembangunan bandar udara khusus sebagaimana dimaksud ayat (2), dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
28 (4) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, adalah kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP) yang meliputi:
a. Kawasan ancangan pendaratan dan lepas landas; b. Kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan;
c. Kawasan dibawah permukaan transisi;
d. Kawasan dibawah permukaan horizontal dalam; e. Kawasan dibawah permukaan kerucut; dan f. Kawasan dibawah permukaan horizontal luar.
(5) Ruang udara untuk penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b di atur lebih lanjut dalam rencana induk bandar udara.
Bagian Keempat
Sistem Jaringan Prasarana Lainnya
Pasal 13
(1) Sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf c, terdiri atas :
a. sistem jaringan energi dan Kelistrikan; b. sistem jaringan telekomunikasi;
c. sistem jaringan sumber daya air; dan d. sistem prasarana pengelolaan lingkungan.
(2) Sistem jaringan prasarana lainnya digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 1
Sistem Jaringan Energi dan Kelistrikan
Pasal 14
(1) Sistem jaringan energi dan kelistrikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf a meliputi:
a. pembangkit tenaga listrik; dan b. jaringan prasarana energi.
29 (2) Rencana pengembangan pembangkit tenaga listrik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Dompu, Kempo, Kwangko, dan Pekat;
b. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Doropeti, P. Bajo dan Soriutu;
c. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Dompu, Woja, Hu’u dan Pekat;
d. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kilo, Pekat, Hu’u dan Woja; e. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di Hu’u;
f. Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di Ria Woja; dan
g. Pembangkit Listrik Tenaga Bio Energi (PLTBE) diseluruh Kecamatan.
(3) Jaringan prasarana energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas:
a. jaringan pipa minyak dan gas bumi; dan b. jaringan transmisi tenaga listrik.
(4) Jaringan pipa minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, terdiri atas:
a. depo minyak dan gas di Kabupaten Dompu di Kempo, Pekat, Manggelewa dan Woja;
b. depo gas terdapat di Kecamatan Kempo, Pekat, Manggelewa dan Woja; c. pengembangan pengolahan migas (kilang) terdapat di Kecamatan
Kempo, Kilo dan Pekat; dan
d. wilayah penunjang migas terdapat di Kecamatan Kempo dan Pekat.
(5) Jaringan transmisi tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, terdiri atas:
a. gardu induk terdapat di Kecamatan Dompu;
b. jaringan distribusi diarahkan pada seluruh Wilayah Kabupaten Dompu; dan
c. jaringan transmisi tegangan tinggi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) Dompu- Labuan dan Saluran Tegangan Tinggi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (SUTT PLTP) Hu’u di Dompu.
(6) Rencana pengembangan sistem jaringan energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk Peta Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Energi dan Tabel Sistem Jaringan Energi sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV dan Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
30
Paragraf 2
Sistem Jaringan Telekomunikasi
Pasal 15
(1) Rencana sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf b, terdiri atas:
a. sistem jaringan terestrial; dan b. sistem jaringan Satelit.
(2) Sistem jaringan terestrial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, teraplikasi dalam bentuk jaringan teknologi selular yang tersebar diseluruh kecamatan terdiri atas :
a. pengembangan Sentra Telpon Otomat (STO) tersebar diseluruh kecamatan;
b. rencana Rencana Pengembangan sistem Jaringan Telekomunikasi berupa Microdigital dan Serat Optik dilakukan dalam rangka memperlancar arus komunikasi dan mendukung kelancaran kegiatan ekonomi di Kabupaten Dompu meliputi:
1. Dompu-Ambalawi ( 40 km); 2. Kempo-Kesi ( 24 km);
3. Kempo-So Nggaja ( 38 km); dan 4. Kempo-Tolokalo ( 29 km). 5. Kilo-Karama ( 21 km); 6. Kilo-Kiwu ( 28 km); 7. Kilo-Manggelewa-Nangatumpu ( 30 km); 8. Pajo-UPT Woko ( 20 km); 9. Pekat-Pancasila ( 15 km); dan 10. Pekat-Tambora ( 20 km).
c. rencana pembangunan stasiun-stasiun komunikasi nirkabel di wilayah-wilayah tertinggal/terisolasi.
d. penambahan jaringan telepon rumah di wilayah yang termasuk kawasan perkotaan.
(3) Sistem jaringan satelit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, teraplikasi dalam bentuk pengembangan jaringan internet yang ada di Kabupaten Dompu.
(4) Rencana pengembangan sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diwujudkan dalam bentuk Peta Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Telekomunikasi sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
31
Paragraf 3
Sistem Jaringan Sumber Daya Air
Pasal 16
(1) Sistem jaringan sumberdaya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf c, terdiri atas :
a. Wilayah Sungai (WS);
b. Cekungan Air Tanah (CAT); c. Daerah Irigasi (DI);
d. prasarana air baku untuk air bersih;
e. jaringan air bersih ke kelompok pengguna; dan f. sistem pengendalian banjir.
(2) Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi aspek konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air secara terpadu (integrated) dengan memperhatikan arahan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air WS Sumbawa.
(3) WS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yaitu WS strategis nasional Sumbawa serta daerah aliran sungai yang tercantum dalam lampiran I.5 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(4) CAT yang berada pada Kabupaten Dompu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah CAT Dompu seluas kurang lebih 375 km2 dan CAT Pekat seluas kurang lebih 977 km2.
(5) DI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas: a. DI kewenangan Pemerintah Provinsi, meliputi:
1. D.I. Baka seluas 1.810 Ha; 2. D.I. DaHa I, II seluas 1.273 Ha; 3. D.I. Kadindi seluas 1.200 Ha; 4. D.I. Katua seluas 1.403 Ha; 5. D.I. Laju seluas 1.050 Ha; dan 6. D.I Latonda Pekat seluas 1.217 Ha.
b. DI kewenangan Pemerintah Kabupaten, meliputi: 1. DI E. Jambu seluas 700 Ha;
2. DI. E. Tonda Selatan seluas 460 Ha; 3. DI. E. Kempo seluas 200 Ha;
4. D.I. E. Kesi seluas 318 Ha; 5. D.I. E. Lanangga seluas 705 Ha;
32 6. D.I. E. Soncolopi seluas 600 Ha;
7. D.I. E. Soneo seluas 300 Ha; 8. D.I. Kwangko seluas 400 Ha; 9. D.I. lae Ranggo seluas 600 Ha, 10. D.I., Monggolenggo seluas 800 Ha; 11. D.I. Nae Kempo seluas 510 Ha; 12. D.I. Patula seluas 356 Ha; 13. D.I. RaHalayu seluas 441 Ha; 14. D.I Roju seluas 70 Ha;
15. D.I. Sakolo seluas 330 Ha; 16. D.I. Sambana 441 Ha;
17. D.I. Songgo Pasante seluas 400 Ha; dan 18. D.I Ta’a seluas 125 Ha.
c. Rencana pengembangan jaringan saluran irigasi di kabupaten Dompu meliputi:
1. saluran induk sepanjang 850.645 m1; 2. saluran sekunder sepanjang 1.557.917 m1; 3. saluran pembuangan sepanjang 132.072 m1; 4. suplesi sepanjang 98.360 m1; dan
5. bendung seluas 46.852 m2.
d. Rehabilitasi, pemeliharaan, dan peningkatan jaringan irigasi yang ada; e. Pengembangan Daerah Irigasi (DI) pada seluruh daerah potensial yang memiliki lahan pertanian yang ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan dan pengelolaan lahan pertanian berkelanjutan; dan
f. Membatasi konversi alih fungsi lahan sawah irigasi teknis dan setengah teknis menjadi kegiatan budidaya.
(6) Rencana pengembangan prasarana air baku untuk air bersih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d terdiri atas :
a. Rencana pengembangan sumber air baku meliputi : 1. bendung Rababaka; dan
2. sungai Hoddo di kecamatan Kempo dan Sungai Banggo di Kecamatan Manggelewa
b. Rencana pengembangan jaringan sumber air baku mengutamakan air permukaan dengan prinsip keterpaduan air tanah;
c. SPAM di Kabupaten di padukan dengan sistem jaringan sumberdaya air untuk menjamin ketersediaan air.
d. Pengembangan jaringan perpipaan air baku dan air minum diseluruh kecamatan; dan
33 e. Instalasi air minum terdapat diseluruh lokasi kecamatan yang
memiliki sumber air baku.
(7) Rencana jaringan air bersih ke kelompok pengguna sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, yaitu pengembangan sistem instalasi pengolahan air bersih (IPA) diseluruh kecamatan yang mempunyai potensi air baku untuk sumber air.
(8) Rencana sistem pengendalian banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, meliputi:
a. penetapan batas luasan genangan banjir;
b. ketersediaan lokasi dan jalur evakuasi dari pemukiman penduduk; c. pengaturan daerah sempadan sungai, danau dan waduk;
d. kesesuaian struktur bangunan dengan kondisi fisik wilayah; dan
e. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bagi permukiman dan fasilitas lainnya.
Paragraf 4
Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan
Pasal 17
(1) Sistem prasarana pengelolaan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf d, terdiri atas :
a. sistem jaringan persampahan; b. sistem jaringan drainase; c. Sistem jaringan air minum;
d. sistem jaringan pengolahan air limbah dan limbah B3; dan e. jalur evakuasi bencana.
(2) Rencana pengembangan sistem jaringan persampahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:
a. TPST direncanakan di kecamatan Hu’u, Pajo, Manggelewa, Calabai, dan Pekat
b. pengelolaan persampahan meliputi penempatan sementara atau disebut TPS yang berlokasi diseluruh kecamatan dan beberapa sub kegiatan kawasan perkotaan dan pemrosesan akhir atau disebut TPA berlokasi di Kecamatan Woja;
c. meningkatkan jumlah sarana pengangkutan sampah dan pendistribusian secara proporsional disetiap wilayah;
d. mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu pada wilayah permukiman, khususnya kawasan permukiman kawasan perkotaan;
34 e. mengembangkan sistem pengolahan sampah dengan prinsip 3R yaitu
ReDuce, ReUse dan ReCycle;
f. penentuan sebaran lokasi dan kriteria TPS, TPST dan /atau TPA sebagaimana dimaksud pada huruf a ditetapkan dengan Peraturan Bupati; dan
g. penyelenggaraan pengelolaan sampah lebih lanjut diatur dalam Peraturan Bupati.
(3) Rencana pengembangan sistem jaringan drainase sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi:
a. normalisasi aliran sungai-sungai yang berada pada wilayah permukiman penduduk antara lain sungai Bou, sungai Talatoi, sungai Donggo, sungai Labunae, sungai Doro dan sungai Kempo;
b. peningkatan peran serta masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan drainase;
c. penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas bagi aparat pengelola;
d. peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas sistem pelayanan; e. pengembangan alternatif pembiayaan;
f. drainase primer adalah pengumpul dari drainase sekunder dan dapat dialirkan ke sungai;
g. drainase sekunder dilakukan pembangunan sistem drainase pada wilayah permukiman perkotaan dan perdesaan yang rawan bencana banjir dan genangan air limbah menuju drainase primer; dan
h. drainase tersier dilakukan pembangunan sistem drainase pada lingkungan permukiman perkotaan dan perdesaan menuju drainase sekunder.
(4) Rencana pengembangan sistem jaringan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. meningkatkan usaha pelestarian sumber-sumber air baku untuk air minum di seluruh wilayah kabupaten;
b. penyediaan sistem air minum perpipaan dan non perpipaan untuk memenuhi kebutuhan air minum;
c. peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan pengembangan sistem air minum;
d. peningkatan kapasitas dan kualitas pengelolaan air minum;
e. penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas bagi aparat pengelola air minum;
f. pengembangan alternatif pembiayaan;
35 h. pengembangan jaringan perpipaan air baku dan air minum terdapat di beberapa kecamatan antara lain kecamatan Dompu, Calabai, Kempo, Hu’u dan Kilo; dan
i. instalasi air minum terdapat diseluruh lokasi kecamatan yang memiliki sumber air baku.
(5) Rencana pengembangan sistem jaringan pengolahan air limbah dan Limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, meliputi:
a. sistem pengolahan air limbah dan Limbah B3 terpusat dilakukan secara kolektif melalui jaringan pengumpul dan diolah secara terpusat pada kawasan pusat pemerintahan, kawasan pariwisata, kawasan industri, kawasan pertambangan, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan perumahan dan kawasan permukiman padat di Kabupaten; b. pengelolaan limbah B3 dilakukan dengan terpadu baik on site
maupun off site yang memungkinkan adanya pengurangan, pengolahan dan pemanfaatan limbah;
c. mengelola limbah buangan rumah tangga secara terpadu dengan sistem riol (tertutup) pada kawasan padat penduduk, sedangkan pada permukiman perdesaan menggalakkan program pemanfaatan septic tank;
d. penyediaan sarana pendukung yakni truk tinja untuk membantu masyarakat mengatasi masalah limbah rumah tangga;
e. sistem pembuangan air limbah setempat dilakukan secara individual melalui pengolahan dan pembuangan air limbah setempat pada kawasan-kawasan yang belum memiliki sistem terpusat di Kabupaten; f. lokasi instalasi pengolahan air limbah dan Limbah B3 harus
memperhatikan aspek teknis, lingkungan, sosial budaya masyarakat setempat, serta dilengkapi dengan zona penyangga, berlokasi di kecamatan Dompu; dan
g. pengelolaan Limbah B3 harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(6) Jalur evakuasi bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi:
a. jalur evakuasi bencana tanah longsor meliputi desa Kadindi kecamatan Pekat, desa Jambu kecamatan Pajo, kelurahan Dorotangga Kecamatan Dompu, desa Mangge Asi Kecamatan Dompu dan desa Soriutu Kecamatan Manggelewa;
b. jalur evakuasi bencana banjir meliputi kelurahan Potu kecamatan Dompu, kelurahan Simpasai kecamatan Woja, desa Serakapi kecamatan Dompu dan desa Nowa kecamatan Woja;
36 c. jalur evakuasi bencana gelombang pasang meliputi desa Pekat kecamatan Pekat, desa Malaju dan Lasi kecamatan Kilo, desa Kempo kecamatan Kempo, desa Rasabou dan Daha kecamatan Hu’u;
d. jalur evakuasi bencana gunung berapi meliputi desa Tolokalo kecamatan Kempo; dan
e. jalur evakuasi bencana tsunami meliputi desa Pekat dan Kadindi kecamatan Pekat, Desa Malaju dan Salasi Kecamatan Kilo, desa Daha kecamatan Hu’u.
BAB V