JAWA BARAT SELATAN(PASAL 47)
Pasal 24 Rencana di wilayah
strategis di kawasan
metropolitan
Pembangunan dan peningkatan infrastruktur tranportasi jalan terutama pada ruas jalan tertentu: 1. Jalan horinzontal poros Tengah Purwakarta (Jatiluhur)- Jonggol (Cariu)-Simpang Sukamakmur; 2. Jalan lintas jalur pantai utara
Subang-Karawang-Bekasi-Tanjung Priok;
3. Jalan lintas cepat Karawang; 4. Jalan lintas cepat Leuwiliang
Kabupaten Bogor;dan Dampak Positif • meningkatkan perekonomian • Mengurangi kemacetan lalulintas Dampak negatif
• Perubahan lahan pertanian berpengaruh terhadap ketahanan pangan
• Penurunan kualitas udara
• Pembangunan dan peningkatan infrastruktur transportasi jalan hendaknya tidak mengganggu lahan pertanian produktif/beririgasi, untuk menjaga ketahanan pangan nasional
Pt. eCOterra MuLtIPLan VII - 48 Pembangunan Infrastruktur
transportasi perhubungan , antara lain:
a. Pelabuhan Laut Cilamaya di Kabupaten Karawang;
b. Pelabuhan Muara Gembong dan Tarumajaya di Kabupaten Bekasi;dan
Dampak Positif
• meningkatkan perekonomian • Mengurangi kemacetan
lalulintas
• Dampak negatif berpengaruh terhadap perubahan mangrove pesisir Dampak negatif • Konversi tambak/pertanian mempengaruhi ketahanan pangan nasional • Terganggunya zona konservasi persisir berupa mangrove dan biota lainnya.
• Pelabuhan laut Cilamaya akan mengganggu keberadaan mangrove dan keseimbangan ekosistem di sekitarnya, sehingga perlu peningkatan mangrove pengganti.
• Pelabuhan perlu diberi zona pembatas terhadap kawasan lindung/ mangrove agar dampak,
• Pengendalian lahan terbangun sekitar kawasan pelabuhanagar tambak dan pertanian sekitarnya tidak terkonversi
II METROPOLITAN BANDUNG RAYA
Kebijakan Pasal 21 Metropolitan
Bandung Raya sebagai
metropolitan Modern berbasis wisata perkotaan, indudtri kreatif dan ilmu pengetahuan, teknologi dan (IPTEKS)
Pasal 24 Rencana di wilayah
strategis di kawasan
Metropolitan Bandung Raya
Rencana Pembangunan dan Peningkatan infrastruktur wilayah strategis di Kawasan Metropolitan Bandung Raya.
1. Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (CISUMDAWU)
2. Jalan Tol Soreang-Pasirkoja (SOROJA)
3. Jalan Tol Ruas Cileunyi-Nagreg, yang merupakan bagian Jalan Tol Cilenyi-Tasikmalaya-Banjar;
4. Jalan Tol Gedebage-Majalaya
Dampak Positif:
• meningkatkan perekonomian • Mengurangi kemacetan
lalulintas
Dampak negatif
• Konversi lahan pertanian, berpengaruh terhadap ketahanan pangan nasional • Penurunan kualitas udara • Terganggunya sistem
drainase
• Pembangunannya tidak mengganggu lahan pertanian pangan produktif/beririgasi. • Pembangunan jalur hijau
sekitar jalan
• Jalan tol tidak boleh membendung limpasan air permukaan atau merusak sistem drainase, untuk antisipasi banjir
Pembangunan Infrastruktur permukiman antara lain:
a. Hunian vertikal,dan
b. Pembangunan infrastruktur permukiman strategis lainnya atas dasar kesepakatan pemerintah Daerah dengan Pemerintah dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota yang diatur dengan Peraturan Gubernur
Dampak Positif:
• meningkatkan kebutuhan permukiman
Dampak negatif
• Konversi lahan pertanian. • Bencana longsor pada
daerah rawan gerakan tanah/rawan longsor
• Kemacetan lalulintas
• Berkurangnya daya serap air hujan
• Pembangunannya tidak mengganggu lahan pertanian pangan produktif atau beririgasi, untuk menjaga ketahanan pangan nasional • Pembangunan jalur hijau
sekitar jalan
• Pengendalian hunian vertikal pada lahan yang memiliki kondisi lahan kritis atau gerakan tanah. (contoh seperti Kawasan Bandung Utara dan Kawasan Bandung Selatan)
• Pembangunan sumur resapan dan biopori.
Pt. eCOterra MuLtIPLan VII - 49 membangun hunian pada daerah rawan banjir dan lahan kritis terutama di daerah Cekungan Bandung/Bandung Selatan
III METROPOLITAN CIREBON RAYA
Kebijakan Pasal 21
:Metropolitan Cirebon Raya sebagai metropolitan budaya dan sejarah berbasis pariwisata, industri dan kerajinan
Pasal 24 Rencana di wilayah
strategis di kawasan
Metropolitan Bandung Raya
Pembangunan dan peningkatan infrastruktur perhubungan antara lain:
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB)dan Kertajati Dampak Positif: • meningkatkan perekonomian • Mengurangi kemacetan lalulintas Dampak negatif
• Konversi lahan pertanian, mempengaruhi ketahanan pangan nasional
• Penurunan kualitas udara • Terganggunya sistem
drainase dan irigasi sebagai aset
• Pembangunan Bandara Kertajatiakan mengganggu pertanian produktif sehingga perlu peningkatan pertanian pengganti sebagai kompensasi atas berkurangnya lahan pertanian yang ada, untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
• Pengawasan dan pengendalian lahan terbangun di sekitar Bandara Kertajati atau koridor jalan menuju Bandara, agar lahan pertanian sekitarnya tidak terkonversi
Hunian vertikal Dampak Positif:
• Memenuhi kebutuhan hunian
Dampak negatif
• Konversi lahan pertanian • Kemacetan lalulintas
• Berkurangnya daya serap air
• Pembangunannya tidak mengganggu lahan pertanian pangan produktif atau beririgasi.
• Pengendalian hunian vertikal pada lahan yang memiliki kondisi lahan kritis atau gerakan tanah.
• Pembangunan ruang parkir yang memadai
• Pembangunan sumur resapan dan biopori
IV WILAYAH PUSAT PERTUMBUHAN PANGANDARAN
Kebijakan Pasal 21: Pusat
pertumbuhan Pangandaran
sebagai pusat pertumbuhan berbasis sektor pariwisata dan perikanan;
Rencana Pasal 24 Pusat
pertumbuhan Pangandaran
Pembangunan dan peningkatan infrastruktur transportasi perhubungan Dampak Positif: • meningkatkan perekonomian • Mengurangi kemacetan • Pembangunannya tidak mengganggu lahan pertanian pangan produktif/beririgasi.
Pt. eCOterra MuLtIPLan VII - 50 1. Jalan Tol
Cileunyi-Nagreg-Tasikamalaya-Ciamis-Banjar; 2. Jalan Tol Banjar – Pangandaran; 3. Jalan poros timur di jalur
Pangandaran-Ciamis-Cikijing-Cirebon
4. Jalan horizontal di Jawa Barat Bagian Selatan;
5. Jalan horizontal Tengah Selatan-Selatan Jawa Barat;dan
6. Pembangunan infrastruktur perhubungan strategis lainnya atas dasar kesepakatan Pemerintah dengan Pemerintah Daerah yang diatur Peraturan Gubernur.
lalulintas
Dampak negatif
• Konversi lahan pertanian • Penurunan kualitas udara • Terganggunya sistem
drainase dan irigasi sebagai aset
• perlu peningkatan pertanian pengganti sebagai kompensasi atas berkurangnya lahan pertanian yang ada, untuk menjaga ketahanan pangan nasional
• Pembangunan jalur hijau sekitar jalan.
• Jalan tol tidak boleh membendung limpasan air permukaan atau merusak sistem drainase yang ada, untuk antisipasi banjir
V WILAYAH PUSAT PERTUMBUHAN PELABUHANRATU
Kebijakan Pasal 21:Pusat
pertumbuhan palabuhanrantu sebagai pusat pertumbuhan berbasis sektor pariwisata dan perikanan;dan Pusat petumbuhan rancabuaya sebagai pusat pertumbuhan berbasis sektor pariwisata dan perkebunan.
Pasal 24 Rencana Pusat
pertumbuhan palabuhanrantu
Pembangunan dan peningkatan infrastruktur transportasi jalan,diantaranya:
1. Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi; 2. Jalan vertikal
Pelabuhanratu- Cikidang-Cibadak-Bogor-Depok-Jakarta;
3. Jalan pendukung Pelabuhanratu sebagai PKNp
4. Jalan horizontal Tengah Selatan- Selatan Jawa Barat;dan
5. Pembangunan jalan strategis lainnya atas dasar kesepakatan pemerintah Daerah dengan Pemerintah dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota yang diatur dengan Peraturan Gubernur.
Dampak Positif:
• meningkatkan perekonomian • Mengurangi kemacetan
lalulintas
Dampak negatif
• Konversi lahan pertanian • Penurunan kualitas udara • Terganggunya sistem
drainase dan irigasi sebagai aset
• Pembangunannya tidak mengganggu lahan pertanian pangan produktif/beririgasi. • perlu peningkatan pertanian
pengganti sebagai kompensasi atas berkurangnya lahan pertanian yang ada, untuk menjaga ketahanan pangan nasional
• Pembangunan jalur hijau sekitar jalan.
• Jalan tol tidak boleh membendung limpasan air permukaan atau merusak sistem drainase yang ada, untuk antisipasi banjir
Pembangunan dan peningkatan Infrastruktur permukiman,antara lain:
1. Kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun;
2. Pembangunan infrastruktur permukiman strategis lainnya atas dasar kesepakatan pemerintah Daerah dengan Pemerintah dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota yang diatur
Dampak Positif:
• Memenuhi kebutuhan hunian
Dampak negatif
• Konversi lahan pertanian • Kemacetan lalu-lintas
• Pembangunannya tidak mengganggu lahan pertanian pangan produktif atau beririgasi.
• Pembangunan disertai dengan sumur resapan, biopori. • Ruang parkir yang memadai
Pt. eCOterra MuLtIPLan VII - 51 dengan Peraturan Gubernur.
VI WILAYAH PUSAT PERTUMBUHAN RANCABUAYA
Pasal 24: Rencana
Pemabangunan dan peningkatan infrastruktur wilayah strategis di Kawasan Pusat Pertumbuhan Rancabuaya, antara lain
Pembangunan dan peningkatan infrastruktur transportasi jalan, antara lain:
1. Jalan vertikal Bandung- Pangalengan-Cukul-Cisewu-Rancabuaya
2. Jalan horizontal Jawa Barat bagian selatan;
3. Jalan horizontal Tengah Selatan- Selatan Jawa Barat;dan
4. Pembangunan jalan strategis lainnya atas dasar kesepakatan pemerintah Daerah dengan Pemerintah dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota yang diatur dengan Peraturan Gubernur.
Dampak Positif:
• meningkatkan perekonomian • Mengurangi kemacetan
lalulintas
Dampak negatif
• Konversi lahan pertanian • Penurunan kualitas udara • Terganggunya sistem
drainase dan irigasi sebagai aset
• Pembangunannya tidak mengganggu lahan pertanian pangan produktif/beririgasi. • perlu peningkatan pertanian
pengganti sebagai kompensasi atas berkurangnya lahan pertanian yang ada, untuk menjaga ketahanan pangan nasional
• Pembangunan jalur hijau sekitar jalan.
• Jalan boleh membendung limpasan air permukaan atau merusak sistem drainase yang ada, untuk antisipasi banjir
Pembangunan dan peningkatan infrastruktur permukiman
1. Kawasan siap bangun dan lingkungan siap bangun;
2. Pembangunan pusat kebudayaan dan rekreasi skala nasionaldan intersional;
3. Pembangunan infrastruktur permukiman strategis lainnya atas dasar kesepakatan pemerintah Daerah dengan Pemerintah dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota yang diatur dengan Peraturan Gubernur.
Dampak Positif:
• Memenuhi kebutuhan hunian • Meningkatkan perekonomian
Dampak negatif
• Konversi lahan pertanian • Kemacetan lalu-lintas
• Pembangunannya tidak mengganggu lahan pertanian pangan produktif atau beririgasi.
• Pembangunan disertai dengan sumur resapan, biopori. • Ruang parkir yang memadai. • Pada area rekreasi yang
berada pada kawasan lindung perlu dikendalikan dan pengawasan sarana penunjang wisata, berupa hotel/hunian lainnya.