BAB IV REPRESENTASI JATI DIRI PEREMPUAN TOKOH JINGGA PADA
4.2 Rendah Hati
Rendah hati adalah sikap yang tahu membatasi diri dan peduli dengan lingkungannya. Dalam novel Diary Pramugari, Seks, Cinta dan Kehidupan terdapat jati diri yang rendah hati dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Aku dan Alvin turun dari Puncak sekitar pukul tiga sore. Sebuah percakapan yang bagiku sangat membekas. Sebuah percakapan dengan laki-laki yang tidak mempertontonkan ke-egoisan-nya.
Bahkan itulah percakapan awal tentang kehidupan dan misterinya.
Kalau ada Anya pasti lebuh menarik lagi. Ya, ada apa antara aku, Anya dan Alvin? Inikah sebuah pengalaman de ja vu? Sebuah pengalaman masa lalu yang terulang? Masa lalu yang mana? Dan aku yakin bahwa setiap orang pernah mengalaminya. Tatkala seseorang mengalami sebuah kejadian, ia merasakan bahwa rasanya ia sudah pernah mengalami kejadian itu. Kalau seseorang mengalami hal seperti itu, apa namanya? Apakah ia akan menolak pengalaman itu padahal ia merasakannya dengan sangat? Rumit memang….”
(Webe, 2011: 114)
Kutipan di atas menunjukkan tokoh yang tetap menjalin hubungan baik dengan laki-laki walaupun tokoh masih membenci laki-laki, namun ia melawan perasaanya dengan membuka obrolan dengan Alvin.
“Selamat jalan Ibu, selamat jalan guruku yang selalu membimbingku dalam kehidupan ini. Selamat jalan….. Teruskan perjalananmu. Aku akan selalu ingat apa yang selalu engkau ajarkan, apa yang selalu engkau teladankan. Tentang rendah hati, saling menghargai dan menghormati, tentang kasih yang tiada tara, juga tentang sebuah jalan yang harus aku temukan untuk jalan pulang nanti.”
(Webe, 2011: 177) Kutipan di atas menunjukkan sifat tokoh yang meneladani sikap ibunya, tentang apa-apa saja yang membuat tokoh semakin mengerti apa jawaban dibalik peristiwa yang dialaminya.
“Ya, Seto dan Bimo merekalah adik adikku yang masih harus kubantu sampai nanti mereka sudah bisa bekerja sendiri. Mereka harus menyelesaikan sekolahnya. Walaupun aku tahu, sekolah sekarang hanyalah mengejar status, mencari gelar sarjana untuk bekal bekerja.
Sekolah tinggi yang seharusnya mencetak orang-orang yang nantinya punya keahlian untuk menciptakan lapangan kerja, kini hanyalah mesin pencetak pekerja. Sekolah tinggi hanya untuk jadi karyawan.”
“Mudah-mudahan Seto dan Bimo mengerti akan hal seperti ini.
Mudah-mudahan mereka sadar bahwa sekolah itu adalah ajang untuk memberdayakan diri, mengolah diri, dan ajang untuk belajar menghadapi kehidupan. Bukan ajang untuk mencari gelar dan mengejar gengsi. Mudah-mudahan dengan kesadaran seperti itu mereka tidaklah menjadi orang-orang karbitan yang kerjanya hanya bisa mengelabuhi, membuat mark-up laporan,sepanjang hidup hanya ingin memperkaya diri sendiri, dan juga jangan menjadi penipu dengan kedok sarjananya.”
(Webe, 2011: 233) Kutipan di atas menunjukkan kerendahan hati tokoh dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, dikeadaan yang sangat menyakitkan pun tokoh tetap
berpikir apa saja tugas dan tanggung jawabnya dalam keluarganya. Walaupun tokoh membenci bapaknya tapi tokoh masih peduli terhadap keluarganya.
“Mungkinkah Anya berusaha menyampaikan sesuatu kepadaku?”
Alvin menganggukkan kepalanya.
“Aku mulai sedikit paham tentang apa yang kualami. Dan aku juga mulai bisa menerima kejadian dengan apa adanya. ya, mungkin aku telah siap kau tinggal Anya sehingga engkaupun pergi melanjutkan perjalananmu. Aku berdiri.
“Bisa kita melihat Anya Mas?”
Alvin berdiri dan mengajak aku melihat dari jendela. Aku melakukan persis seperti Anya menasihatiku waktu Ibu kritis.
“Anya, jangan kau khawatirkan aku. Aku akan tetap berjalan sekuat tenagaku. Terima kasih atas apa yang kau ajarkan kepadaku selama ini. Aku yakin, kehidupan itu adalah abadi. Kematian hanyalah jembatan untuk sebuah kehidupan yang baru,” kataku sambil melihat Anya.
Anya terlihat tersenyum kepadaku. Setelah itu para suster lari berdatangan di kamar gawat darurat itu. Jendela kamar itu kemudian ditutup.
Beberapa saat kemudian seorang Polisi mendatangi mas Alvin.
“Mas tahu keluarganya?” Tanya Polisi itu.
“Ya Pak, kami tahu.”
“Tolong hubungi secepatnya karena dia baru saja meninggal.”
Walaupun aku berkata telah siap, aku tersentak juga mendengar itu.
Tak sengaja aku memeluk Alvin dan menangis.
(Webe, 2011: 274) Kutipan di atas menunjukkan sikap tokoh terhadap apa yang dialaminya secara langsung, keikhlasan hati tokoh terhadap kepergian temannya Anya menjadi
tantangan tersendiri bagi tokoh ketika nanti menjalani kehidupannya tanpa teman dekatnya Anya.
“Aku masih terpikir apa maksud Puri pergi ke Australia? Apakah untuk tinggal di sana atau sementara saja sambil menunggu anaknya lahir? Sayangnya tidak ada yang bisa kumintai keterangan tentang hal ini.”
“Sejauh ini aku dan Alvin jalan begitu saja. Aku sendiri tidak mau sesuatu yang mengada-ada. Biarlah semua berjalan apa adanya dengan kejujuran masing-masing. Walaupun aku sudah tidak benci kepada laki-laki karena latihan katarsis yang diberikan oleh Mas Gede, aku masih ingin memahami tentang kehidupan lebih jauh.
Tentang sebuah rahasia kalung pemberian Ibu yang aku yakin akan mengantarkanku kepada pemahaman rasa benci kepada Bapak.”
“Ibu apa maksudmu memberikan kalung ini? Apa yang ingin engkau sampaikan padaku? Dulu engkau selalu berkata tentang sebuah jalan.
Ya, sebuah jalan yang kutemukan untuk memahami hidup ini ternyata membawaku kepada jalan selanjutnya. Kemudian aku harus menemukan jalan lagi untuk memahami hidup dalam tingkat berikutnya. Demikian seterusnya. Menurut Mas Gede, pemahaman itu bertingkat-tingkat. Pemahaman kita untuk sesuatu akan menghantarkan kita kepada pertanyaan baru yang harus kita pahami lagi.”
(Webe, 2011: 312) Kutipan di atas menunjukkan kerendahan hati tokoh yang tetap memperdulikan sekelilingnya dan teman-temannya di keadaan yang menyedihkan sekalipun.