• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reparasi sekunder

Dalam dokumen SARAF PERIFER Masalah dan Penanganannya. (Halaman 38-41)

Biasanya terjadi dalam beberapa minggu atau bulan, diindikasikan

ka-rena adanya:

- Fraktur tertutup namun tidak tampak adanya perbaikan. - Diagnosis awal keliru sehingga pasien datang pada fease lambat - Repair primer yang gagal.

Kebanyakan cedera tertutup pada saraf diakibatkan regangan atau kontusi. Saraf tidak terputus dan terdapat berbagai derajat kerusakan intraneural. Ia bisa berupa campuran aksonotmesis, neurotemesis dan neuropraksia, atau bisa karena neurotemesis lengkap. Jadi penundaan beberapa bulan diperlukan, karena akan memungkinkan

(1) Semua elemen neuropraksia untuk pulih, (2) Cedera yang menyertai untuk sembuh, dan

(3) Terpenting, penilaian fi siologis atas cedera di meja operasi.

Bila regenerasi adekuat terjadi, aktivitas spontan dapat dilacak dengan

tehnik perekaman NAP intrabedah 8-10 minggu pascacedera (Osbourne,

2007; Rochkind, 2009; Friedman dkk, 2009).

Tabel 6.1 Klasifikasi cedera saraf tepi (Sumber dari Seddon, 1943; Osbourne, 2007).

Neuropraksia Aksonotmesis Neurotmesis

Kehilangan motorik Komplet Komplet Komplet

Kehilangan sensorik Separuh Komplet Komplet

Waktu saat operasi perbaikan saraf sangatlah penting untuk penyembuhan yang optimal. Pada setiap kasus cedera akut, ahli bedah saraf harus memutuskan apakah primary repair atau early secondary repair yang menjadi pilihan pengobatan. Waktu dapat dibagi menjadi

immediate, early (1 bulan), delayed (3-6 bulan), dan late (1-2 tahun atau

lebih). Immediate repair dianjurkan saat saraf terpotong. Ujung saraf harus intact jika terjadi cedera mengelilingi saraf, operasi harus ditunda (delayed) sampai proses peradangan sekitarnya berkurang (Osbourne, 2007).

Early reconstruction dianjurkan untuk cedera yang disebabkan oleh trauma tumpul atau robekan terbuka, dimana dapat menyebabkan destruksi saraf komplet. Tindakan operasi yang dilakukan adalah neu-rolysis (internal/eksternal), nerve repair yaitu end to end repair (epi neural dan fasikuler) dan autologus nerve grat . Nerve grat biasanya

diindikasi-kan karena ujung saraf biasanya berkontraksi dan /atau jaringan parut ingin direseksi. Autologous nerve grat memberikan regenerasi akson,

Gambar 6.1. Autologous nerve graft (Sumber dari Osbourne, 2007). Gambar 6.2. Ilustrasi Epineural repair (Sumber dari Osbourne, 2007).

Neuropraksia Aksonotmesis Neurotmesis

Konduksi saraf distal terhadap cedera

Ada Tidak ada Tidak ada

Fibrilasi pada EMG Tidak ada Ada Ada

Penyembuhan Cepat,komplet 1mm per hari,

bagus

1mm per hari, biasanya tidak

komplet

Tabel 6.1 (lanjutan) di mana dikumpulkan dengan sel-sel Schwann yang dikelilingi oleh

la mina basalis. Banyaknya nerve grat menyebabkan co-morbiditi meli-puti pembentukan jaringan parut, kehilangan sensasi, dan

kemungkin-an pembentukkemungkin-an neuroma ykemungkin-ang skemungkin-angat nyeri. Grat yang digunakan biasanya dari sural nerve (Osbourne, 2007).

Suatu nervus grat jenis autogenous bisa digunakan untuk

me-nyambung suatu celah hingga suatu jarak. Nervus suralis adalah jenis

yang sering digunakan, hingga sepanjang 40 cm dan bisa digunakan pa-da kedua kaki. Karena diameter saraf tersebut kecil maka perlu

diguna-kan beberapa lapis (sering disebut cable grat ). Grat yang digunakan

ha-rus panjang agar bisa diletakkan tanpa tekanan, dan haha-rus berada pada daerah dengan vaskularisasi yang baik. Sangat penting setiap fasikulus

motorik dan sensorik dihubungkan secara tepat pada grat . Sedangkan

vascularized grat hanya digunakan pada situasi tertentu, misal pada saat

kedua nervus ulnaris dan medianus terkena kerusakan (Vollkasmasn

iskemia), suatu pedicle grat digunakan untuk menyambung celah di median, selain itu juga mungkin digunakan pada Cedera Pleksus brachial (Osbourne, 2007).

Delayed reconstruction dianjurkan saat tingkat cedera belum dapat diketahui. Sebagai contoh, jika perluasan aksonotmesis tidak diketahui, kemudian akan direkomendasikan untuk menunda operasi, karena penyembuhan alami lebih baik dibandingkan dengan perbaikan melalui operasi. Bagaimanapun, kualitas dari penyembuhan motorik menurun setelah 6 bulan keterlambatan perbaikan. Late reconstruction umumnya

58

Saraf Perifer Tatalaksana Cedera Saraf Tepi

59

hanya digunakan untuk pengontrolan nyeri, seperti reseksi neuroma.

Standar operasi baru-baru ini adalah perbaikan epineural dengan jahitan

nilon (Osbourne, 2007).

Keberhasilan dari operasi sangat bervariasi dan luas. Penyem buh-an sensori terlihat sama pada semua saraf. Bagaimbuh-anapun, fungsi mo

to-rik bervariasi berdasarkan saraf individu itu sendiri. Pada sebuah stu di,

penyembuhan motorik pada saraf ulnar 71% lebih rendah

dibanding-kan dengan saraf median. Umur (umur yang lebih muda lebih baik),

tem pat, cedera saraf, dan keterlambatan mempengaruhi prognosis

se-Gambar 6.3. lustrasi Fascicular repair (Sumber dari Osbourne, 2007).

cara bermakna setelah perbaikan operasi kecil. Setelah operasi, area yang terkena tidak boleh bergerak selama 6 minggu. Setelah ini, pergerak an

dianjurkan dan fi sioterapi sebagian besar digunakan. Pergerakan

me-regang kemungkinan dilakukan saat menggunakan electro-stimulating device. Setelah beberapa minggu, otot hipertropi serabut otot akan

me-ningkatkan kekuatan. Pasien harus di follow-up secara teratur setalah periode operasi untuk mengukur tingkat penyembuhan. Dimana ini

harus meliputi pemeriksaan fi sik dan electromyography (EMG) (Osbourne, 2007; Roganovic dan Pavlicevic; 2006).

Rehabilitasi

Semenjak terjadinya Cedera, ekstrimitas dij aga dalam posisi fungsio-nal dan dinamik. Jaringan fi brotik di kencangkan dan di mobilisasi. Prinsip pergerakan aktif tidak bisa ditinggalkan dan aktivitas

sehari-hari harus bisa dilakukan. Aspek yang paling penting dari terapi adalah penggunaan splint dinamik yang harus di fabrikasi untuk setiap pasien dan berubah kapan pun ada indikasi. Pada ekstrimitas atas, fungsi akan di tingkatkan dengan program reedukasi motorik dan sensibilitas.

Reedukasi motorik berfungsi untuk mencegah kebiasaan motorik

ab-normal yang terdiri dari dua fase, yaitu monitoring visual dari pola aktivitas serta transfer tendon yang awal. Prinsip dari transfer tendon awal adalah menggunakan hanya satu tendon dan menggunakan

transfer yang tidak menyebabkan deformitas, terjadi pernyembuhan

sa-raf secara spontan. Reedukasi sensibilitas terdiri dari kesadaran dalam memegang objek ketika membuka mata kemudian menutup mata. Tujuan dari reedukasi ini adalah agar hal tersebut dapat dipergunakan dalam pekerjaan pasien. Reedikasi sensibilitas tidak akan efektif bila pasien tidak dapat mengenal sensasi vibratori di atas zona autonomi dari saraf yang terlibat. Tes picking up timed akan meningkat secara kuanti tatif pada pasien dengan palsy median atau ulna (Osbourne, 2007; Roganovic dan Pavlicevic; 2006).

Prognosis

Pada kerusakan aksonotmesis dan neurotmesis, regenerasi akson

ber-langsung dengan kecepatan 1 cm per bulan sampai 1 mm per hari,

tergantung pada letak kerusakannya. Oleh karena itu biasanya

per-baikan tidak akan terlihat sampai beberapa bulan. Faktor yang dapat

memperlambat proses penyembuhan adalah terlibatnya saraf

61

rik dan sensorik sekaligus, usia lanjut, cedera yang terletak proksimal, besarnya serabut saraf yang cedera, dan adanya kerusakan jaringan sekitar (Robinson, 2005; Roganovic dan Pavlicevic; 2006).

���

Bab 7

Dalam dokumen SARAF PERIFER Masalah dan Penanganannya. (Halaman 38-41)

Dokumen terkait