• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TELAAH PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.3 Rerangka Teoritis dan Pengembangan Hipotesis

Dalam penelitian ini, Audit Delay diduga memiliki memiliki faktor-faktor yang dapat mempengaruhi lamanya proses audit yakni Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Solvabilitas dan Ukuran Kantor Akuntan Publik.

1. Pengaruh Profitabilitas terhadap Audit Delay

Profitabilitas menggambarkan tingkat efisiensi perusahaan dalam

memanfaatkan asetnya. (Ross dkk., 2015:72). Dalam teori sinyal, sinyal diartikan sebagai isyarat untuk pihak eksternal (investor) dari manajemen perusahaan dengan harapan pasar akan melakukan perubahan penilaian atas perusahaan (Gumati,2009). Perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi cenderung akan segera menginformasikan kabar baik yang terjadi pada perusahaan pada investor dan juga kepada masyarakat agar mendapatkan respon positif (Kartika, 2011). Dengan demikian manajemen akan cenderung memperpendek penundaan pelaporan laporan keuangan perusahaan. Oleh karena itu, profitabilitas akan memiliki pengaruh negative terhadap Audit Delay. Selain itu, proses audit yang

33

dilakukan pada perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi cenderung akan lebih cepat dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki operasi gagal atau mengalami kerugian (Estrini dan Laksito, 2013). Rasio Return

on Asset (ROA) yang terdiri dari perbandingan antara total asset dengan laba

bersih sebelum pajak dapat menggambarkan tingkat profitabilitas perusahaan. Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Wardan dan Mushawir (2016), menunjukkan bahwa profitabilitas yang dinillai ROA memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Audit Delay. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Estrini dan Laksito (2013), menunjukkan bahwa profitabilitas yang dinilai dengan rasio ROA memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap Audit Delay. Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi tingkat profitabilitas maka akan mengurangi penundaan laporan keuangan atau memperpendek audit delay. Berbeda dengan penelitian oleh Sari dan Ghazali (2014), Kartika (2011), dan Kurniawan dan Laksito (2015) yang menunjukkan hasil bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap audit delay.

Berdasarkan hasil dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa semakin besar profitabilitas yang diproksikan denga ROA, maka manajemen akan cenderung segera memberikan sinyal berupa goodnews kepada pihak eksternal atau dengan kata lain manajemen akan mengurangi penundaan atas laporan keuangan. Namun, tedapat hasil yang inkonsistensi pada penelitian-penelitian terdahulu sehingga pada penelitian ini peneliti memiliki tujuan untuk menguji kembali pengaruh profitabilitas terhadap audit delay pada Sektor Infrastruktur,

Utilitas, dan Transportasi pada periode lima tahun terkahir yaitu tahun 2013-2017. Sehingga hipotesis yang dibuat adalah:

H1 = Profitabilitas memiliki pengaruh negatif terhadap Audit Delay 2. Pengaruh Solvabilitas terhadap Audit Delay

Kemampuan perusahaan dalam memenuhi segala bentuk kewajibannya merupakan makna dari solvabilitas. Dalam teori sinyal, sinyal diartikan sebagai isyarat untuk pihak eksternal (investor) dari manajemen perusahaan dengan harapan pasar akan melakukan perubahan penilaian atas perusahaan (Gumati,2009). Insolvency in bankrupty merupakan kondisi dimana nilai buku hutang perusahaan telah melebihi nilai pasar asset perusahaan pada saat ini, yang mana hal tersebut dapat menujukkan adanya financial distress pada perusahaan tersebut (Dewi,2018). Adanya kondisi kesulitan keuangan dapat menjadi berita buruk bagi pihak eksternal yang akan mempengaruhi penilaian pihak eksternal terhadap kondisi perusahaan, sehingga manajemen akan cenderung untuk menunda mempublikasikan berita buruk yang ada pada laporan keuangan (Ukago, 2005 yang dikutip oleh Kartika, 2011). Menurut Carslaw & Kaplan (1991) yang dikutip oleh Haidar (2018), proporsi hutang terhadap total asset dapat menggambarkan kesehatan keuangan dari perusahaan dimana semakin tinggi poporsi hutang akan menggambarkan tingginya resiko kegagalan pengembalian kewajiban-kewajiban. Proposi hutang terhadap total asset tergambar dalam rumus

Total Debt to Assets Ratio, sehingga dalam penelitian ini solvabilitas akan dinilai

35

Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Hastuti dan Santoso (2017), menyatakan bahwa solvabilitas yang dinilai dengan DAR memiliki pengaruh positif signifikan terhadap Audit Delay. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi solvabilitas, maka audit delay yang terjadi akan semakin panjang. Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2011) yang menyatakan bahwa solvabilitas yang dinilai dengan DAR memiliki pengaruh positif signifikan terhadap Audit Delay. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan dan Laksito (2015), Ramadhany, dkk. (2018), dan Sari dan Ghazali (2014) menunjukkan hasil sebaliknya, yaitu solvabilitas tidak berpengaruh terhadap audit delay.

Berdasarkan hasil dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa semakin besar solvabilitas yang diproksikan denga DAR, maka auditor akan semakin berhati-hati dalam melakukan proses audit yang akan berdampak pada lebih panjangnya audit delay. Namun, tedapat hasil yang inkonsistensi pada penelitian-penelitian terdahulu sehingga dalam penelitian-penelitian ini peneliti memiliki tujuan untuk menguji kembali pengaruh solvabilitas terhadap audit delay pada Sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi pada periode lima tahun terkahir yaitu tahun 2013-2017. Sehingga hipotesis yang dibuat adalah:

H2 = Solvabilitas memiliki pengaruh positif terhadap Audit Delay 3. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Audit Delay

Teori agensi menggambarkan hubungan agensi sebagai sebuah kontrak dimana principals (pemegang saham) melibatkan agent (manajemen perusahaan)

untuk menjalankan layanan atas nama mereka sehingga mengakibatkan adanya pendelegasian otoritas pengambilan keputusan kepada agent. (Deegan dan Unerman,2006). Perusahaan dengan skala yang besar memiliki tekanan eksternal yang lebih tinggi untuk melaporkan laporan keuangan auditan lebih awal karena perusahaan dengan skala besar dimonitor atau diawasi dengan ketat oleh investor, pengawas permodalan dan pemerintah (Kartika, 2011). Total asset atau total kekayaan suatu perusahaan dapat menggambarkan ukuran perusahaan. Selain itu, ukuran perusahaan yang diukur dengan total aktiva merupakan salah satu informasi fundamental yang direspons oleh investor (Harmono, 2014:113). Oleh karna itu, semakin besar ukuran perusahaan, maka akan semakin pendek waktu

Audit Delay. Hal tersebut menunjukkan bahwa ukuran perusahaan memiliki

pengaruh negatif terhadap Audit Delay.

Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Sari dan Ghazali (2014), dijelaskan bahwa ukuran perusahaan yang dinilai dari total asset atau kekayaan perusahaan memiliki pengaruh negative signifikan terhadap lamanya Audit Delay. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2011) yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan yang dinilai dengan total asset memiliki pengaruh negative signifikan terhadap Audit Delay. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin besar ukuran perusahaan akan semakin pendek audit delay. Berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Estrini dan Laksito (2013) dan Ramadhani, dkk (2018) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap audit delay.

37

Berdasarkan hasil dari penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa semakin besar ukuran perusahaan yang diproksikan dengan total asset, maka manajemen akan cenderung segera melaporkan laporan keuangannya atau dengan kata lain manajemen akan mengurangi penundaan atas laporan keuangan. Namun, tedapat hasil yang inkonsistensi pada penelitian-penelitian terdahulu sehingga pada penelitian ini peneliti memiliki tujuan untuk menguji kembali pengaruh ukuran perusahaan terhadap audit delay pada Sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi pada periode lima tahun terkahir yaitu tahun 2013-2017. Sehingga hipotesis yang dibuat adalah:

H3 = Ukuran Perusahaan Memiliki Pengaruh Negatif terhadap Audit Delay

4. Pengaruh Ukuran Kantor Akuntan Publik terhadap Audit Delay

Teori agensi menggambarkan hubungan antara principals (pemegang saham) dana agen (manajemen) yang pada kondisi tertentu memungkinkan adanya perbedaan tujuan antara manajemen dan pemegang saham. Pada kondisi tersebut, dibutuhkan adanya penengah sehingga principals memiliki keyakinan terhadap kinerja agen, yang dalam konteks ini adalah auditor independen (Harmono, 2014:3). Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 Pasal 1 disebutkan jika yang dimaksud dengan Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah sebuah badan usaha yang dalam pemberian jasa-jasanya telah mendapatkan izin dari Menteri Keuangan. Menurut Mulyono (2003:17), auditor yang berpengalaman umumnya memiliki intuisi yang lebih baik dalam mendeteksi

suatu ketidakwajaran. Kantor Akuntan Publik besar pada umumnya dipercaya dapat menyelesaikan pekerjaan audit dengan efektif karena didukung oleh kompetensi, keahlian dan kemampuan dari auditor jika dibandingkan dengan Kantor Akuntan Publik kecil. Dengan deimikian, semakin besar ukuran kantor akuntan publik, maka akan mempercepat proses dari audit atau memperpendek

audit delay.

Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Estrini dan Laksito (2013), menyatakan bahwa ukuran KAP atau reputasi KAP yang diproksikan dengan Big

Four dan non-Big Four memiliki pengaruh negative signifikan terhadap Audit Delay. Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan dan

Laksito (2015) yang menyatakan bahwa ukuran KAP atau reputasi KAP yang diproksikan dengan Big Four dan non-Big Four memiliki pengaruh positif signifikan terhadap Audit Delay. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi ukuran kantor akuntan publik, maka jangka waktu yang dibutuhkan oleh auditor untuk melakukan proses audit semakin singkat atau dengan kata lain akan memprependek audit delay. Sebaliknya, hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Ghazali (2014), Wardan dan Mushawir (2016), dan Hastuti dan Santoso (2017) menunjukkan bahwa ukuran KAP tidak memiliki pengaruh terhadap audit

delay.

Berdasarkan hasil dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa semakin besar ukuran KAP maka audit delay akan semakin pendek dikarenakan KAP dengan ukuran besar dipercaya dapat menyelesaikan pekerjaan audit dengan

39 (-) (+) (-) (-) (-)

efektif karena didukung oleh kompetensi, keahlian dan kemampuan dari auditor. Ukuran KAP dibedakan dengan KAP yang berafiliasi dengan big four dan KAP yang tidak berfiliasi dengan big four. Namun, tedapat hasil yang inkonsistensi pada penelitian-penelitian terdahulu sehingga pada penelitian ini peneliti memiliki tujuan untuk menguji kembali pengaruh ukuran Kantor Akuntan Publik terhadap audit delay pada Sektor Infrastruktur, Utilitas, dan Transportasi pada periode lima tahun terkahir yaitu tahun 2013-2017. Sehingga hipotesis yang dibuat adalah:

H4 = Ukuran Kantor Akuntan Publik memiliki pengaruh negatif terhadap Audit Delay

Dokumen terkait