Resorpsi internal ini melibatkan dentin akar dan sementum dari dalam saluran akar. Bisa apikal atau intraradikular. Secara radiologis, area radiolusen kecil terlihat di sekitar ruang pulpa. Resorpsi internal biasanya terjadi pada gigi seri dan molar mandibular. Pemeriksaan radiografi merupakan hal yang wajib dilakukan untuk untuk mendiagnosis resorpsi internal. Namun, kadang-kadang dapat bermanifestasi secara klinis sebagai “pink spot” ketika resorpsi berlangsung sampai jaringan pulpa vaskular terlihat melalui jaringan keras gigi yang menipis di atasnya. Selain itu, selama ekstirpasi pulpa jika terjadi pendarahan berlebihan secara klinis, Resorpsi internal harus dipantau. Resorpsi internal juga dapat terjadi karena perubahan vaskular pada pulpa setelah trauma, pergerakan gigi ortodontik, pulpitis kronis, direct dan indirect pulp capping serta pulpotomi (Sikri, 2019). Secara klinis, Resorpsi internal dikategorikan menjadi Resorpsi inflamasi internal, Resorpsi permukaan internal, Resorpsi
pengganti internal, Kerusakan apikal sementara internal (Ingle, et al., 2019).
a. Internal inflammatory resorption
Internal inflammatory resorption atau dikenal juga sebagai radial pulp enlargement resorption ditandai dengan pembesaran saluran akar berbentuk bulat telur atau fusiform; ekspansi lebih sering pada sisi lateral. Pulpa mengalami inflamasi kronis (bakteri dapat memasuki jaringan pulpa melalui tubulus dentin atau retakan pada akar servikal). Resorpsi inflamasi internal biasanya asimtomatik dan ditemukan melalui pemeriksaan radiografi rutin.
Dalam kasus yang jarang terjadi, resorpsi dapat melubangi permukaan akar lateral dan tampak mirip dengan resorpsi eksternal. Proses ini analog dengan resorpsi inflamasi eksternal (Sikri, 2019).
Gambar 4. 11 Internal Resorption (Sikri, 2019) b. Internal surface resorption
Internal surface resorption dapat ditemukan di daerah di mana revaskularisasi terjadi, seperti pada garis fraktur fraktur akar, dan di bagian apikal saluran akar gigi yang mengalami luksasi yang menjalani revaskularisasi. Secara radiografis, tampak ada pelebaran sementara saluran akar. Tidak ada pengobatan yang direkomendasikan kecuali untuk memantau perubahan radiografi (Ingle, et al., 2019).
Gambar 4. 12 Internal Surface Resorption (Ingle, et al., 2019).
c. Internal replacement resorption
Internal replacement resorption merupakan kasus yang jarang terjadi. Namun ia dapat terjadi bersamaan dengan external replacement resorption (Sikri, 2019). Ketika jaringan pulpa yang rusak diganti sebagai bagian dari proses penyembuhan, metaplasia jaringan dapat terjadi yang mengarah pada pembentukan jaringan tulang di saluran pulpa. Kerusakan pada jaringan pulpa biasanya berhubungan dengan trauma dan jaringan pulpa yang rusak digantikan dengan pertumbuhan jaringan baru, yang meliputi sel-sel yang berasal dari tulang.
Secara bertahap akar akan diganti dengan tulang. Dalam beberapa kasus, penggantian tulang akan berhenti secara spontan. Gigi tidak menunjukkan gejala tetapi gigi secara bertahap akan berkembang menjadi infraoklusi pada pasien muda jika terjadi ankilosis (Ingle, et al., 2019).
d. Internal transient apical breakdown
Proses kerusakan transien internal sejalan dengan kerusakan transien eksternal. Resorpsi apikal disebabkan oleh gaya ortodonti dan belum ada perawatan yang direkomendasikan, karena resorpsi akan sembuh setelah tekanan dari ortodontik dihilangkan (Sikri, 2019).
Gambar 4. 13 Transient apical breakdown (Sikri, 2019) 4.5 Pathogenesis Resorpsi Akar
Sementum dan jaringan ligamen periodontal melindungi permukaan akar eksterna, sementara itu permukaan akar internal dilindungi oleh predentin.
Kerusakan yang terjadi pada permukaan osteoklas untuk menempel pada permukaan akar, dan respon inflamasi dapat merangsang terjadinya proses resorpsi. Rangsangan atau stimulus yang terjadi secara terus-menerus dapat mengakibatkan resorpsi klinis. Sementum tidak memiliki protein seperti yang ditemukan pada tulang yang dapat merangsang proses osteoklastik. Hal ini menjadi faktor penghambat terjadinya proses osteoklastik. Komponen non kolagen yang terdapat dalam predentin dapat memperlambat terjadinya resorpsi akar internal. Proses resorptif dipengaruhi oleh adanya osteoklas (sel dengan inti yang banyak yang ditemukan dalam kriptus pada jaringan keras).
Mekanisme penghancuran jaringan keras oleh osteoklas dapat berlangsung melibatkan beberapa tahap, yakni: (Sikri, 2019)
a. Pelarutan hidroksiapatit anorganik oleh asam dari ruffled border (batas yang berkerut) dari osteoklas dan enzim karbonat anhidrase II dan asam fosfatase.
b. Pelepasan matriks yang mengandung kolagen tipe 1 yang dilakukan oleh enzim, seperti kolagenase dan sistein proteinase,
Stimulus yang terjadi juga dipengaruhi oleh bakteri. Adanya adanya bakteri lipopolisakarida, mengakibatkan leukosit berdiferensiasi menjadi osteoklas.
Bakteri golongan gram positif memiliki peran untuk merangsang aktivitas osteoklastik melalui faktor diferensiasi osteoklas. Secara morfologi
odontoblas mirip dengan osteoklas, yakni memiliki kemampuan untuk menyerap jaringan. Kedua sel ini (odontoblas dan osteoklas) memiliki enzim yang serupa yang berperan dalam resorpsi permukaan jaringan termineralisasi. Resorpsi akar tergantung pada stimulus bakteri dan sel-sel klastik yang terlibat dalam proses resorpsi. Jaringan pulpa apikal harus memiliki suplai darah yang adekuat untuk menyediakan sel-sel klastik dan nutrisi yang cukup untuk memberikan daya tahan pada permukaan akar gigi.
(Sikri, 2019)
Mekanisme resorpsi akar terjadi melalui 2 tahap, yakni a. Degradasi struktur kristal anorganik
Degradasi struktur kristal anorganik diawali dari Ph asam dengan nilai 3-4,5 pada lokasi resorpsi. Hal ini dilakukan oleh pompa proton terpolarisasi.
Apabila PH berada dibawah 5, maka akan terjadi pelarutan dari kalsium hidroksiapatit. Kondisi lingkungan yang asam pada daerah resorpsi dipertahankan oleh enzim karbonat anhidrase II yang mengkatalisis dan mengkonversi CO2 dan H2 CO3 intraseluler dengan bantuan ion H+.
Selain itu enzim yang berperan dalam resorpsi akar, adalah enzim asam fosfatase. (Garg N., Garg A, 2014)
b. Degradasi Matriks Organik
Tiga enzim utama yang terlibat dalam proses ini adalah kolagenase, matriks metalloproteinase (MMP) dan proteinase sistein. Kolagenase dan MMP bertindak pada pH netral (pH—7.4). Enzim kolagenase dan MMP ditemukan pada area permukaan tulang, akibat adanya kapasitas buffer.
MMP terlibat dalam proses odontoblastik. proteinase sistein disekresikan langsung ke dalam osteoklas ke dalam zona bening. Enzim karbonat anhidrase II yang mengkatalisis konversi CO2 dan H2 CO3 intraseluler juga berperan dalam mempertahankan lingkungan asam di tempat resorpsi dengan bantuan ion H+. (Garg N., Garg A, 2014)