TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Linggir Alveolar .1 Definisi .1 Definisi
2.5.2 Resorpsi Linggir Alveolar .1 Definisi .1 Definisi
Resorpsi linggir alveoalar adalah pengurangan ukuran linggir alveolar di bawah periosteum.9 Resorpsi tulang alveolar merupakan proses morfologi yang kompleks yang berhubungan dengan adanya erosi pada permukan tulang dan sel osteoklas. Proses ini terlokalisir pada struktur tulang alveolar dan menunjukkan aktifitas osteoklas lebih besar daripada osteoblas sehingga terjadi kehilangan tulang.41
2.5.2.2 Perkembangan Bentuk
Atwood klasifikasikan perkembangan bentuk resorpsi linggir alveolar sebagai berikut (Gambar 5):33
1. Order 1: Sebelum ekstraksi 2. Order 2: Setelah ektraksi 3. Order 3: High, well- rounded 4. Order 4: Knife-edge
5. Order 5: Low, well-rounded 6. Order 6: Depressed
Gambar 5. Perkembangan bentuk resorpsi linggir alveolar.31
2.5.2.3 Proses
Proses resorpsi berlangsung paling besar pada enam bulan pasca pencabutan sampai dua tahun dan terus akan berlangsung dalam porsi yang lebih sedikit.6,33 Resorpsi tulang alveolar terjadi lebih besar pada arah horizontal (29-63%; 3,79mm) dibandingkan arah vertikal (11-22%; 1,24 mm pada bukal, 0,84 mm pada mesial dan 0,80 mm pada distal) pada enam bulan pasca pencabutan. Ashman menyatakan tinggi tulang alveolar berkurang 40-60% pada 2-3 tahun pasca pencabutan (Gambar 6). Pada rahang bawah resorpsi terjadi empat kali lebih besar dibandingkan rahang atas. Awood dan Co menyatakan rata-rata mengalami resorpsi sebesar 0,4 mm pada rahang bawah dan dan 0,1 mm pada rahang atas.
Gambar 6. Perubahan tinggi tulang alveolar: a. tinggi tulang alveolar pasca pencabutan; b. tinggi tulang alveolar beberapa tahun kemudian.6
2.5.2.4 Etiologi
Penyebab utama terjadinya resorpsi masih belum diketahui tetapi disebabkan multifaktorial.8,12
2.5.2.5 Faktor-Faktor yang Memengaruhi
Antara faktor-faktor terjadinya resorpsi adalah, faktor anatomi, sistemik, jenis kelamin, prostetik dan lama edentulus.6,7,10,40
a. Faktor Anatomi
Faktor anatomi berpengaruh terhadap resorpsi linggir alveolar yaitu kuantitas dan kualitas tulang dari linggir alveolar. Dengan demikian ada kemungkinan bahwa jika volume tulang lebih besar, maka resorpsi yang terjadi akan terlihat. Faktor anatomis lain yang sangat penting untuk peningkatan resorpsi adalah kepadatan tulang.
Semakin padat tulang, semakin lambat tingkat resorpsi karena ada lebih banyak tulang yang akan diresorpsi.6, 40
b. Faktor Sistemik
Proses metabolisme tubuh terdiri atas anabolisme dan katabolisme. Pada proses pembentukan tulang yang normal terjadi keseimbangan aktivitas diantara sel osteoblas yaitu sel pembentuk tulang dan sel osteoklas yaitu sel penghancur tulang. Penyakit yang memengaruhi proses pembentukan tulang seperti osteoporosis, defisiensi vitamin D, dan kelainan metabolisme fosfat/kalsium. Pada osteoporosis terjadi gangguan pada osteoklas sehingga ketidakseimbangan antara kerja osteoklas dengan osteoblast.
Aktivitas sel osteoklas lebih besar daripada osteoblast. Kalsium dan fosfat berfungsi dalam pertumbuhan dan pemeliharaan tulang. Terjadinya gangguan metabolisme kalsium dan fosfat akan memengaruhi pembentukan tulang. vitamin D berfungsi terhadap penyerapan kalsium di usus dan asam sitrat di dalam tulang. Defisiensi vitamin D akan memengaruhi penyerapan kalsium sehingga memengaruhi pembentukan tulang.7,40
c. Jenis Kelamin
Jagadeesh dkk (2013) menyebutkan bahwa perempuan memiliki resiko yang lebih besar dibandingkan laki-laki dan lebih signifikan pada perempuan yang sudah mengalami menopause.6 Pada perempuan terjadi fase menopause yang menyebabkan penurunan kadar estrogen sehingga terjadi peningkatan resorpsi tulang alveolar.23
d. Faktor Prostetik
Faktor prostetik dapat memengaruhi terjadinya resorpsi linggir alveolar. Faktor prostetik ini termasuk penggunaan gigi tiruan secara intensif, keadaan oklusi yang tidak stabil dan penggunaan gigi tiruan imediat.6,40
e. Lama edentulus
Lama edentulus merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan tingkat keparahan resorpsi linggir alveolar. Resorpsi linggir alveolar berkembang paling cepat enam bulan pertama dan berlangsung selama dua tahun setelah pencabutan gigi dan terus akan berlangsung dalam porsi yang sedikit.6
2.5.2.6 Dampak
Beberapa dampak dari resorpsi linggir alveolar: 33,40 1. Kehilangan lebar dan kedalaman sulkus
2. Pemindahan perlekatan otot lebih dekat pada puncak linggir 3. Kehilangan vertikal dimensi oklusi
4. Penurunan tinggi wajah bawah 5. Terjadinya prognastisme
6. Foramen mentalis berada dekat dengan batas atas mandibula 7. Perataan palatal vault
8. Pengurangan tinggi kedua lengkung edentulus maksila dan mandibula. Pada maksila terjadi resorpsi pada bukal dan labial dan pada mandibula terjadi resorpsi pada labial dan lingual (Gambar 7).
Gambar 7. Pola resorpsi pada maksila dan mandibula: A; resorpsi pada labial dan bukal pada maksila, B; resorpsi pada labial dan lingual pada mandibula.33
2.5.2.7 Klasifikasi Resorpsi Linggir Alveolar Mandibula
Klasifikasi resorpsi linggir alveolar mandibula dapat diliat dengan menggunakan radiografi panoramik. Pengukuran dilakukan berdasarkan pengukuran tinggi tulang mandibula yang dilakukan oleh Xie dan dimodifikasi serta diklasifikasikan oleh Hummonen:11
1. Resorpsi linggir alveolar yang ringan: puncak linggir di atas foramen mentalis dan kanalis mandibularis pada kedua sisi mandibula.
2. Resorpsi linggir alveolar yang berat: puncak linggir berada pada foramen mentalis atau pada kanalis mandibula atau terjadi resorpsi pada foramen mentalis dan kanalis mandibularis pada satu atau kedua sisi.
2.6 Mastikasi
Mastikasi adalah suatu kompleksitas dari neuromuskular dengan bantuan seluruh rahang atas, rahang bawah, bersama-sama dengan temporomandibular joint (TMJ), lidah, otot-otot yang mendukung pengunyahan baik secara langsung maupun tidak langsung serta pembuluh darah dan saraf yang mendukung seluruh jaringan pendukung. Otot-otot utama adalah muskulus masseter, muskulus temporalis, muskulus pterygoideus lateralis dan muskulus pterygoideus medialis.42 Peranan otot- otot ini dalam pergerakan membuka dan menutup mulut sangat penting untuk mengkordinasi pergerakan mandibula sehingga gigi dapat berfungsi optimal.42 Mastikasi merupakan proses memecahkan makanan menjadi beberapa bagian terpisah yang bertujuan untuk memudahkan proses penelanan dan merupakan langkah pertama pada proses pencernaan.15
2.6.1 Proses
Proses mastikasi merupakan suatu proses gabungan gerak mandibula dan maksila termasuk proses biofisik dan biokimia dari penggunaan bibir, gigi, pipi, lidah, palatum mulut serta seluruh struktur pembentuk oral, untuk mengunyah makanan dengan bantuan menyiapkan makanan agar dapat ditelan. Lidah berfungsi mencegah
tergelincirnya makanan, mendorong makanan kepermukaan kunyah, membantu mencampurkan makanan dengan saliva, memilih makanan yang halus untuk ditelan, membersihkan sisa makanan, membantu proses bicara dan proses menelan. Saliva berfungsi mencerna polisakarida, melumatkan makanan, menetralkan asam makanan, melarutkan makanan, melembabkan rongga mulut dan antibakteri.43 Pada proses mastikasi terjadi beberapa stadium antara lain: stadium volunteer dimana makanan di letakkan di atas lidah kemudian didorong ke atas dan belakang pada palatum lalu masuk ke faring. Selajutnya pada stadium faringeal bolus pada mulut masuk ke faring dan merangsang reseptor sehingga timbul refleks antara lain terjadi gelombang peristaltik dari otot konstriktor faring. Kemudian pada stadium eosophageal terjadi gelombang peristaltik primer merupakan lanjutan dari gelombang peristaltik faring dan gelombang peristaltik sekunder yang berasal dari dinding oesophagus sendiri. Proses ini sekitar 0,5-1 detik. Setelah melalui proses ini makanan siap untuk ditelan.43
2.6.2 Fungsi
Adapun fungsi utama mastikasi adalah untuk memecahkan makanan yang ada di dalam mulut sehingga menjadi partikel yang lebih kecil untuk ditelan. Pemakaian kata fungsi mastikasi kurang dipakai dalam literatur bahkan kata “fungsi mastikasi”
sering diganti dengan kata “kemampuan mastikasi”, “efisiensi mastikasi”, atau
“performa mastikasi”. Ketiga kalimat ini mempunyai maksud yang berbeda.43
2.6.3 Performa Mastikasi