• Tidak ada hasil yang ditemukan

Trafficking in persons merupakan transnational organized crime seperti yang tercantum dalam dalam United Nation Convention against Transnational Organized Crime, dimana tindak kejahatan ini melibatkan lebih dari satu negara dalam proses terjadinya. Trafficking in persons telah menjadi salah satu ancaman keamanan yang krusial dari aspek non militer, karena kejahatan lintas batas ini erat kaitannya dengan kelompok kejahatan yang telah terorganisir antar negara. Trafficking in persons yang terjadi dari Indonesia ke Malaysia merupakan salah satu contoh dimana tindak kejahatan ini melibatkan dua negara dan terjadi melintasi batas-batas negara. Ketika trafficking in persons telah menjadi fenomena transnational organized crime, maka tindak kejahatan ini tidak dapat dicegah ataupun diselesaikan oleh salah satu pihak saja. Seluruh pihak harus bekerja sama untuk mencegah dan melawan terjadinya tindak kejahatan ini, baik pemerintah kedua negara, organisasi domestik maupun internasional dan masyarakat itu sendiri.

Pemerintah kedua negara harus bekerjasama untuk mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking in persons yang terjadi. Sebagai sebuah transnational organized crimes yang telah diorganisir dengan baik oleh

121

trafficker yang terlibat, baik yang berada di Indonesia maupun di Malaysia maka diperlukannya pendekatan regional yang lebih komprehensif untuk dapat mencegah dan melawan trafficking in persons yang terjadi. Hal ini disebabkan karena dampak yang ditimbulkan dari kejahatan ini bukan hanya bagi negara yang terlibat saja, namun dapat berdampak luas dan berpengaruh pada negara-negara di kawasannya. Untuk melakukan pendekatan regional yang lebih komprehensif, maka diperlukannya peran serta organisasi internasional dalam upaya pencegahan dan perlawanan terhadap kasus trafficking in persons.

Organisasi internasional layaknya Association of South East Asian Nations (ASEAN) sebagai organisasi regional bagi Indonesia dan Malaysia harus berperan aktif untuk menjembatani kedua negara dalam upaya mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking in persons yang terjadi. Tindak kejahatan trafficking in persons sendiri telah tercantum dalam ASEAN political-security community blueprint, dimana trafficking in persons tergolong dalam isu keamanan non tradisional. Dalam blueprint tersebut disebutkan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kerjasama terkait isu keamanan non tradisional khususnya melawan transnational organized crimes. Beberapa upaya yang dapat dilakukan ialah meningkatkan kerjasama terkait isu trafficking yang terjadi, memperberat hukuman bagi trafficker, dan memahami pentingnya perlindungan terhadap korban trafficking in persons sesuai dengan ASEAN declaration against trafficking in Person particularly women and children.

122

Sebagai upaya untuk mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking in persons yang terjadi di negara-negara ASEAN, maka adanya deklarasi-deklarasi ASEAN yang dibuat sesuai dengan ASEAN political-security community blueprint. Salah satu deklarasinya ialah ASEAN declaration against trafficking in Person particularly women and children, deklarasi ini telah disetujui oleh seluruh kepala pemerintahan negara-negara anggota ASEAN pada tanggal 29 November 2004 di Vientiane, Lao People’s Democratic Republic.40 Deklarasi ini merupakan instrumen utama dalam pemberantasan trafficking in persons, dibuat atas dasar pentingnya pendekatan regional yang lebih komprehensif untuk mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking in persons. Dengan mengetahui bahwa keadaan sosial, ekonomi dan berbagai faktor lainnya telah menjadi penyebab terjadinya trafficking in persons, maka dalam deklarasi ini dicantumkan beberapa bentuk-bentuk kerja sama di tingkat regional yang dapat dilakukan untuk mencegah dan melawan trafficking in persons.

Membuat jaringan kerjasama regional di ASEAN untuk mencegah dan melawan trafficking in persons, serta meningkatkan kerjasama regional dan internasional merupakan contoh upaya untuk melawan trafficking in person yang tercantum dalam ASEAN declaration against trafficking in Person particularly women and children. Berdasarkan isi dari upaya yang tercantum dalam deklarasi tersebut, maka diketahui bahwa kerjasama regional dalam upaya mencegah dan melawan trafficking in persons sangatlah penting ketika trafficking in persons telah termasuk dalam transnational organized crimes.

123

Sehingga dapat diketahui bahwa ASEAN sebagai organisasi regional di kawasan Asia Tenggara memiliki peran yang penting dalam upaya mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking in person yang terjadi di kawasan ini.

Deklarasi lain yang dikeluarkan ASEAN dan terkait dengan kasus trafficking in persons adalah ASEAN declaration on the protection and promotion of the rights of migrant workers yang dideklarasikan pada ASEAN Summit ke 12 pada tanggal 13 Januari 2007 di Cebu, Philippines.41 Deklarasi ini berisi tentang prinsip dasar yang harus dilakukan untuk memastikan keamanan dan terpenuhnya hak-hak yang dimiliki oleh pekerja migran, dan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh negara pengirim dan penerima pun dipaparkan dalam deklarasi ini.

Prinsip dasar dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara pengirim dan penerima ini dipaparkan dalam deklarasi ini sebagai upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap pekerja migran. Hal ini dilakukan mengingat diperlukannya upaya untuk mengatasi kasus perlakuan kasar ataupun kekerasan terhadap pekerja migran kapan pun kasus tersebut terjadi. Deklarasi ini berisi komitmen ASEAN untuk melindungi dan menjamin pemenuhan hak pekerja migran, sehingga negara anggota ASEAN akan melakukan berbagai kerjasama yang sesuai dengan hukum dan kebijakan negara masing-masing. Komitmen ASEAN untuk memfasilitasi pertukaran informasi terkait pekerja migran, dan menugaskan badan ASEAN yang relevan dengan kasus trafficking in persons untuk menindaklanjuti ASEAN

124

declaration on the protection and promotion of the rights of migrant workers secara nyata yang tercantum dalam deklarasi ini telah menunjukkan bahwa ASEAN memiliki peran besar untuk menjembatani upaya pencegahan dan perlawanan terhadap tindak kejahatan trafficking in persons yang terjadi di kawasan ASEAN.

Deklarasi ketiga yang masih berkaitan dengan trafficking in persons adalah ASEAN human rights declaration yang dideklarasikan pada ASEAN Summit ke 21 tanggal 18 November 2012 di Phnom Penh, Cambodia.42 Deklarasi ini berisi prinsip umum dari hak asasi manusia, hak sipil dan politik, serta hak ekonomi, sosial dan kebudayaan yang dimiliki manusia dan hak untuk berkembang. Pada hak ekonomi, sosial dan kebudayaan disebutkan bahwa manusia memiliki hak untuk memperoleh pekerjaan, hak untuk memenuhi kebutuhan hidup berupa makanan, pakaian, air bersih dan tempat tinggal yang layak, dan hak mendapatkan akses sarana kesehatan. Ketika hak tersebut tidak terpenuhi, maka human security pun akan terancam dan ketika seseorang merasa human security nya terancam maka akan berusaha untuk mencari penyelesaian. Mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain dianggap sebagai salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk dapat memperbaiki keadaan, namun pengetahuan yang rendah telah membuat mereka menjadi rentan sebagai korban dari trafficking in persons.

Deklarasi ini menjelaskan bahwa eksploitasi merupakan sesuatu yang dilarang, baik eksploitasi ekonomi maupun sosial bagi siapapun. Sehingga

125

dapat diketahui bahwa eksploitasi yang dialami oleh korban trafficking in persons merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, padahal hak-hak tersebut sudah jelas tercantum dalam ASEAN human rights declaration.

Kemudian dalam upaya untuk menindaklanjuti deklarasi-deklarasi yang telah ada dan dalam upaya mencegah dan melawan kasus trafficking in persons, maka sesuai dengan ASEAN declaration on the protection and promotion of the rights of migrant workers dikerahkannya badan HAM ASEAN yang relevan dengan kasus trafficking in persons. Badan HAM tersebut adalah ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) dan ASEAN Commission on the Promotion and Protection of the Rights of Women and Children (ACWC). Dengan adanya eksistensi dari kedua badan ini, maka diharapkan dapat mendorong penerapan standar hak asasi manusia internasional ke dalam sistem hukum tiap negara ASEAN termasuk dengan yang berkaitan dengan pemberantasan trafficking in persons.

ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) adalah badan intergovernmental yang dibentuk dengan tujuan untuk menjamin dan melindungi hak asasi manusia dan asas kebebasan. AICHR berkontribusi untuk merealisasikan tujuan dari ASEAN yang tercantum dalam ASEAN Charter yaitu menjaga stabilitas dan harmoni di kawasan ASEAN. Sebagai upaya menciptakan kawasan regional ASEAN yang stabil dan harmonis, maka isu keamanan tradisional maupun non tradisional harus dicegah dan dilawan. Isu keamanan tersebut termasuk fenomena trafficking in persons, maka ASEAN

126

Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) menjadi salah satu badan HAM ASEAN yang memiliki tugas untuk dapat merealisasikan deklarasi-deklarasi terkait trafficking in persons.

Badan HAM ASEAN kedua yang relevan untuk menangani kasus trafficking in persons adalah ASEAN Commission on the Promotion and Protection of the Rights of Women and Children (ACWC). Badan ini dibentuk dengan tujuan untuk melindungi dan memenuhi hak-hak perempuan dan anak-anak di ASEAN untuk dapat hidup dalam perdamaian, keadilan, persamaan, martabat dan kemakmuran. Sebagai salah satu badan HAM ASEAN yang relevan dalam menangani kasus trafficking in persons, ACWC telah mencantumkan trafficking in persons sebagai salah satu thematic area dalam The ACWA Work Plan tahun 2012 sampai 2016. Lao PDR menjadi sebagai negara pemimpin dalam work plan khusus hak-hak anak, sedangkan Brunei Darussalam dan Indonesia khusus untuk hak-hak perempuan.

Berbagai deklarasi-deklarasi yang telah dibuat ASEAN dan badan-badan HAM ASEAN terkait trafficking in persons telah menunjukkan bahwa ASEAN memiliki peran besar untuk menjembatani negara-negara dikawasan Asia Tenggara dalam mencegah dan melawan kasus trafficking in persons yang terjadi. Namun sikap non intervensi ASEAN telah menyebabkan ASEAN tidak dapat memaksa negara-negara anggotanya untuk menerapkan ketentuan mengenai pemberian perlindungan terhadap korban trafficking in persons dan pengambilan tindakan preventif terhadap kasus trafficking in persons.

127

Dokumen terkait