• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMBAHASAN. A. Fenomena Trafficking in persons di Kalimantan Barat. Trafficking in persons menjadi suatu fenomena yang banyak dibicarakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III PEMBAHASAN. A. Fenomena Trafficking in persons di Kalimantan Barat. Trafficking in persons menjadi suatu fenomena yang banyak dibicarakan"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

79 BAB III PEMBAHASAN

A. Fenomena Trafficking in persons di Kalimantan Barat

Trafficking in persons menjadi suatu fenomena yang banyak dibicarakan dengan fakta bahwa adanya eksploitasi terhadap manusia yang diperdagangkan dan peningkatan jumlah kasus yang terus terjadi. Tindak kejahatan trafficking in persons memiliki keuntungan yang sangat menguntungkan dengan tingkat kemungkinan untuk tertangkap yang sangat kecil. Trafficking in persons dilakukan oleh jaringan kejahatan yang terorganisir dengan melibatkan calo atau agen di perdalaman hingga kelompok internasional yang memiliki kekuasaan yang besar.

Modus kejahatan trafficking in persons dilakukan secara rapih dan terorganisir, hal tersebut menyebabkan sulitnya mengungkap tindak kejahatan ini. Perkembangan pun terjadi pada tindak kejahatan trafficking in persons, awalnya tindak kejahatan ini dilakukan di dalam suatu negara dalam lingkup domestik dan kemudian mengalami perkembangan menjadi suatu tindak kejahatan lintas batas negara atau yang dikenal sebagai transnational crime. Perkembangan ini terjadi seiring dengan fenomena globalisasi dan berbagai faktor pendukung yang ada.

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang banyak dan memiliki bentuk negara dengan banyak pulau menjadi salah satu negara

(2)

80

supplier korban trafficking in persons, bukan hanya di dalam negara (domestik) namun juga lintas batas negara (transnational). Berdasarkan data Bareskrim diketahui bahwa pada tahun 2005 hingga 2010 tercatat data korban trafficking in persons berjumlah 2.221 korban.1 Sedangkan sejak tahun 2005 sampai 2014, korban trafficking in persons di Indonesia yang telah terdata dan mendapatkan bantuan dari International Organization on Migration (IOM) adalah sebanyak 7.193 korban.2 Jumlah kasus trafficking in persons yang terjadi dapat melebihi jumlah kasus yang terdata, sebab trafficking in persons merupakan kejahatan yang sulit untuk diungkap dan banyaknya korban yang tidak melapor ke pihak berwenang karena berbagai alasan, layaknya ketakutan karena ancaman, rasa malu, dan karena alasan keluarga.

Fenomena trafficking in persons yang terjadi di berbagai negara memiliki bentuk yang berbeda-beda, hal tersebut juga terjadi di Indonesia dimana bentuk-bentuk trafficking yang terjadi di setiap daerah berbeda-beda. Bentuk-bentuk trafficking in persons di Indonesia adalah pelacuran, dipekerjakan di jermal (penangkapan ikan di tengah laut), sebagai pengemis, pembantu rumah tangga dengan jam kerja panjang dan tanpa digaji, adopsi, pernikahan dengan laki-laki asing dengan tujuan eksploitasi, pornografi, pengedar obat-obatan terlarang, pengemis dan menjadi korban pedofilia.3

Kasus trafficking in persons yang dialami warga Negara Indonesia sebanyak 81,55% ditujukan untuk crossborder ke negara lain, mayoritas dari korban dikirim ke Malaysia sebanyak 92,84% dari total korban yang dikirim ke

(3)

81

negara lain.4 Sehingga dapat disimpulkan bahwa Malaysia masih menjadi destination country utama dari kasus trafficking in persons dari Indonesia, terutama Kalimantan Barat yang memiliki satu-satunya pos lintas batas darat resmi.

Banyaknya jumlah kasus trafficking in persons disebabkan karena Indonesia berbatasan langsung dengan berbagai negara tetangga, baik melalui jalur laut maupun jalur darat. Salah satu negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia adalah Malaysia, kedua negara ini berbatasan secara langsung pada jalur darat yaitu di Pulau Borneo. Kalimantan Barat (Indonesia) berbatasan darat langsung dengan Sarawak (Malaysia Timur). Jalur perbatasan darat antara Indonesia dan Malaysia sangat rawan terhadap tindak kejahatan transnasional, layaknya kasus penyelundupan dan trafficking in persons. Diketahui bahwa Kalimantan Barat menjadi provinsi kedua di Indonesia dengan jumlah mencapai 19,33%, setelah Jawa Barat sebagai provinsi yang paling rawan terhadap tindak kejahatan trafficking in persons dengan jumlah mencapai 22,76%.5

Kalimantan Barat menjadi daerah rekrut, transit dan penampungan bagi korban dari trafficking in persons dengan melibatkan berbagai daerah di Kalimantan Barat itu sendiri. Kota Pontianak dan Entikong merupakan rute trafficking in persons untuk rute internasional dari Indonesia ke Malaysia, baik sebagai tempat rekrut, transit, penampungan dan tempat pembuatan surat-surat perizinan. Kota Pontianak menjadi daerah rekrutmen dan transit bagi

(4)

82

korban sebelum pada akhirnya dibawa ke Entikong untuk kemudian dikirim ke Malaysia.6 Selain Kota Pontianak, ada juga Kecamatan Entikong yang menjadi daerah rekrut, transit, penampungan dan pembuatan surat izin untuk dapat masuk ke Malaysia.7

Kasus tindak kejahatan trafficking in persons merupakan tindak kejahatan yang sangat sulit untuk diungkap karena bersifat terorganisir dengan melibatkan banyak aktor di dalamnya. Hal tersebut menyebabkan sulitnya mendapatkan data jumlah korban dari trafficking in persons, karena banyaknya korban yang tidak melaporkan ke pihak berwenang karena berbagai alasan yang ada. Berdasarkan data dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) diketahui bahwa kasus trafficking in persons di Kalimantan Barat dari tahun 2008 sampai Agustus 2010 sebanyak 131 korban8, dengan rincian 37 kasus pada tahun 2008, 60 kasus pada tahun 2009 dan 4o kasus pada januari-agustus 2010.9 Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan jumlah kasus trafficking in persons di Kalimantan Barat, dimana sebelumnya pada tahun 2007 sebanyak 39 kasus.10

Kalimantan Barat merupakan rute darat yang sangat popular bagi pelaku perdagangan, dimana sebagai gudang trafficking kedua di Indonesia dan letak geografis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia yang merupakan tujuan utama rute internasional trafficking in persons dari Indonesia. Menurut Kantor Imigrasi Entikong pada tahun 2014,

(5)

83

1996 orang penduduk Indonesia yang menyeberang melalui jalur Entikong-Tebedu,11 dimana untuk melintasi Entikong di Kalimantan Barat menuju Sarawak dan Sabah di Malaysia dapat dilakukan dengan menggunakan bus umum atau kendaraan lainnya dengan waktu yang singkat.

Bentuk-bentuk trafficking in persons di Kalimantan Barat terbagi menjadi beberapa tipe, yaitu buruh migran sebagai pembantu rumah tangga dan perkebunan di Malaysia, pekerja seks komersial, pengantin pesanan dengan tujuan eksploitasi, perdagangan bayi dan ibu hamil , dan pengungsi

internal.12 Dimana mayoritas dari korban merupakan perempuan yang berada

diposisi rentan untuk menjadi korban dari trafficking in persons.

Trafficking in persons merupakan suatu tindak kejahatan yang terorganisir dan tidak terjadi dalam waktu yang singkat, sehingga adanya beberapa tahap dalam alur terjadinya trafficking in persons dari Kalimantan Barat ke Malaysia.

(6)

84

Bagan 1.

Alur Kasus Trafficking in persons dari Kalimantan Barat ke Malaysia

Sumber: Analisis dari Berbagai Sumber

Berdasarkan bagan 1, diketahui alur kasus trafficking in persons dari Kalimantan Barat ke Malaysia terjadi dalam tiga tahap dan melibatkan berbagai pihak dalam proses terjadinya. Dalam kasus trafficking in persons dari Kalimantan Barat ke Malaysia, terlibatnya trafficker sebagai aktor dalam tindak kejahatan ini. Tindak kejahatan trafficking in persons melibatkan trafficker yang berada di Indonesia dan trafficker yang berada di Malaysia, dimana hal tersebut menunjukkan bahwa trafficking in persons merupakan suatu transnational crime yang melibatkan dua negara dalam proses terjadinya. Alur kasus trafficking in persons dari Kalimantan Barat ke Malaysia

(7)

85

terbagi dalam tiga tahap, yaitu tahap rekrutmen, transport and entry, dan penerimaan di negara tujuan.

Tahap pertama adalah tahap rekrutmen. Pada tahap ini, trafficker akan berusaha untuk merekrut korban dengan berbagai cara yang ada dengan memanfaatkan kondisi rentan dari korban. Untuk rute Kalimantan Barat ke Malaysia Timur, korban banyak berasal dari daerah Jawa Barat layaknya Sukabumi, Cianjur, Subang, Indramayu, dan Cirebon, kemudian Jakarta, Lampung, Pontianak, Sangau, Sambas, Madura, Sulawesi dan Sumbawa. Korban banyak berasal dari daerah di Jawa Barat karena Jawa Barat menjadi daerah pemasok korban trafficking in persons terbesar di Indonesia. Pontianak dan Sangau (Entikong) juga menjadi wilayah rekrut korban trafficking yang akan dikirim ke Malaysia.

Rekrutmen dilakukan oleh calo ataupun agen dari PJTKI ilegal dengan berbagai modus operasi dalam upaya untuk merekrut korban. Modus operasi dilakukan dengan cara memberikan berbagai janji kepada korban untuk dapat bekerja di Malaysia sebagai pegawai restoran, pembantu rumah tangga dan sebagainya dengan memberikan iming-iming gaji yang besar dan kehidupan yang lebih baik di Malaysia. Perekrutan ini sendiri banyak dilakukan oleh orang yang telah dikenal dan dipercaya oleh korban, layaknya keluarga ataupun tetangga.13 Korban pun ditipu dengan berbagai janji-janji, sebelum pada akhirnya dikirim ke agen yang telah menanti korban. Walaupun modus operasi ini berdasarkan izin ataupun permintaan dari korban pada awalnya, namun

(8)

86

akhirnya membuat munculnya korban karena kejadian tidak sesuai dengan harapan.

Walaupun sebagian besar rekrutmen dilakukan dengan menggunakan janji-janji dan bujukan dari trafficker, namun pergeseran cara rekrutmen mulai terjadi. Dimana tidak adanya janji-janji yang diberikan, namun korban diculik oleh trafficker dan kemudian diserahkan kepada agen untuk kemudian dikirimkan ke Pontianak dan Entikong, sebelum pada akhirnya dikirim ke Malaysia untuk masuk ke dunia pelacuran ataupun perbudakan. Selama tahap rekrutmen ini, korban telah mengalami berbagai bentuk eksploitasi yaitu pembohongan jenis pekerjaan, penjeratan utang dengan meminta biaya perjalanan, penipuan, kekerasan melalui penculikkan dan sebagainya.

Rekrutmen yang berbeda pun dapat ditemukan di Entikong, sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia Timur) dan sebagai salah satu perbatasan resmi Indonesia, praktek rekrutmen masih dapat terjadi. Agen atau calo akan menunggu calon buruh migran di kantor imigrasi atau bea cukai Entikong untuk dapat memanipulasi calon buruh migran dengan janji untuk membantu calon buruh migran menyeberangi perbatasan dan memberikan pekerjaan bagi mereka di Malaysia. Agen atau calo tersebut dengan kekuasaan yang dimilikinya akan berusaha untuk memanfaatkan keadaan rentan dari calon buruh migran tersebut, calon buruh migran berada dalam kondisi putus asa tanpa pekerjaan, kebingungan, ketakutan dan tanpa arah tujuan. Kondisi rentan tersebut menjadi keuntungan

(9)

87

bagi agen atau calo untuk memaksa calon migran ikut bersama mereka ke penampungan.

Calon buruh migran biasanya adalah warga Indonesia yang dideportasi dari Malaysia, baik karena tidak memiliki surat izin atau yang biasa dikenal dengan sebutan Pendatang Asing Tanpa Izin (PATI), maupun dengan surat izin yang sudah mati ataupun pekerja bermasalah lainnya. Perbatasan darat Entikong sendiri menjadi satu-satunya entry point jalan darat pemulangan TKI bermasalah dari Malaysia, dimana pada tahun 2014 sendiri Kantor Imigrasi

Entikong mendeportasi 1996 orangTKI bermasalah yang terbagi menjadi 1690

laki-laki dan 356 perempuan dari Malaysia.14 Banyak dari TKI bermasalah yang yang dideportasi tersebut merupakan korban dari praktek-praktek trafficking in persons, dimana kondisi di Negara Malaysia tidak sesuai dengan janji-janji yang diberikan.15

Tahap kedua adalah transport dan entry, pada tahap ini korban akan dikirimkan menuju negara destination hingga sampai di negara destination dan diserahkan kepada trafficker yang berada di negara destination. Pada kasus trafficking in persons dari Kalimantan Barat menuju Malaysia, diketahui bahwa dalam proses transport korban dikirim dari berbagai daerah asal rekrutmen untuk menuju Jakarta. Korban membuat surat izin layaknya paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Timur, namun mayoritas korban membuat kartu tanda pengenal dan paspor di Entikong. Kemudian dari Jakarta, korban dibawa

(10)

88

dengan menggunakan kapal dari Pelabuhan Tanjung Priok ataupun dengan menggunakan pesawat dari Jakarta menuju Pontianak.

Pontianak dijadikan sebagai tempat transit bagi korban setelah dari Jakarta karena Bandara Supadio di Pontianak merupakan bandara terbesar dengan adanya penerbangan harian antara Pontianak dan Jakarta, serta adanya Pelabuhan Pontianak yang menjadikan posisi Pontianak sangat strategis. Pontianak pun menjadi kota yang strategis untuk transit sebelum menuju Entikong, sebab Pontianak merupakan kota terbesar yang dekat dari Entikong yang memiliki bandara dan pelabuhan serta adanya jalan Pontianak-Entikong-Tebedu yang dapat diakses dengan menggunakan mobil dan bus.

Selama di Pontianak, korban akan ditempatkan di penampungan sementara untuk menunggu kondisi aman sebelum korban dikirim ke Entikong. Setelah kondisi aman, korban dikirimkan ke Entikong dengan menggunakan mobil atau bus dengan menempuh jarak 317 km seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada tabel II.5. Selama proses perjalanan menuju penampungan di Entikong, korban akan mengalami berbagai tindakan eksploitasi layaknya kendaraan yang berdesak-desakkan, makanan yang tidak memadai selama perjalanan, atau bahkan kekerasan selama perjalanan.

Sesampainya di Entikong, korban akan ditempatkan di penampungan yang jauh dari kata layak. Korban akan ditempatkan di penampungan hingga surat-surat perizinan yang diperlukan untuk dapat melintasi batas negara Indonesia dan masuk ke Malaysia didapatkan. Selama berada di Entikong,

(11)

89

agen atau calo tersebut akan membuatkan KTP setempat dan paspor bagi korban dengan memanfaatkan surat kelahiran yang aspal (asli tapi palsu). Kemudahan untuk dapat memalsukan dokumen tersebut membuat Entikong menjadi rute pilihan bagi trafficker dalam menjalankan proses trafficker in persons. Ekploitasi yang terjadi selama penampungan ini dapat berupa pembohongan bahwa paspor dan KTP akan diberikan setelah sampai di Malaysia, makanan yang tidak memadai, tempat penampungan yang tidak layak dan bahkan pelecehan seksual.

Kemudian calon migran akan dikirimkan menuju Malaysia dengan berbagai cara yang ada, salah satunya dengan menggunakan bus atau mobil dan menggunakan paspor perjalanan ke Malaysia selama 30 hari. Agen atau calo memanfaatkan kebijakan bebas visa kunjungan atau wisata antar negara ASEAN untuk dapat menyeberang dari Indonesia ke Malaysia. Banyak juga Warga Negara Indonesia (WNI) yang masuk ke Malaysia dengan cara ilegal, bersembunyi-bunyi dan tanpa dokumen melalui jalan tikus yang tersebar disepanjang jalan darat perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia. Setelah pembuatan surat-surat yang diperlukan selesai maka setelah keadaan aman, korban pun dikirim untuk melintasi batas Negara Indonesia dan masuk ke Malaysia melalui jalan darat Pontianak-Entikong-Tebedu.

Tahap ketiga adalah penerimaan di negara tujuan, dimana setelah berhasil melintasi batas Negara Indonesia dan masuk ke Malaysia maka akan adanya agen Malaysia yang akan membawa korban ke majikan (user), baik di

(12)

90

Kuching atau pun Kuala Lumpur dengan menggunakan bus atau mobil. Setelah itu, agen Malaysia tersebut akan memberikan paspor korban kepada majikan untuk dapat disimpan langsung agar majikan (user) dapat memastikan bahwa korban tidak dapat pulang atau pun pergi tanpa seizin majikan. Pada akhirnya korban akan mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan janji-janji yang diberikan dan berakhir sebagai korban tindak kejahatan trafficking in person sebagai bentuk perbudakan dalam era kontemporer dengan tujuan eksploitasi.

Bentuk-bentuk eksploitasi yang dialami pada proses penerimaan di negara tujuan adalah penggelembungan harga jasa atas biaya transport yang pada akhirnya menyebabkan jeratan utang bagi korban, pemalsuan dokumen untuk mendapatkan izin masuk ke Malaysia yang pada akhirnya surat tersebut disimpan oleh majikan (user) dan membuat korban terikat tanpa memiliki surat identitas, pembohongan jenis pekerjaan, pembayaran gaji yang rendah karena korban yang tidak memiliki nilai tawar, jam kerja yang tidak sesuai, pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh trafficker sehingga tidak jarang banyak korban trafficking in persons yang hamil atau pun terkena HIV.

Alur tersebutlah yang digunakan oleh trafficker dalam menjalankan tindak kejahatan trafficking in persons dari Kalimantan Barat ke Malaysia, jalur tersebut diambil karena menjadi jalur darat yang aman untuk menjalankan tindak kejahatan tersebut. Melihat berbagai eksploitasi yang dapat terjadi dalam kasus trafficking in persons tersebut, maka dapat diketahui bahwa kasus

(13)

91

trafficking in persons merupakan bentuk perbudakan di era kontemporer ini. Perbudakan ini mengancam stabilitas suatu negara dengan menyentuh dan mengancam hak asasi sesorang, bahkan bukan hanya berdampak pada satu negara namun pada semua negara yang terlibat. Hal ini disebabkan karena trafficking in persons merupakan sebuah tindak kejahatan lintas negara (transnational organized crimes) yang akan berdampak bagi keamanan dan stabilitas kedua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia.

B. Faktor Penyebab Trafficking in persons di Kalimantan Barat

Trafficking in persons merupakan suatu tindak kejahatan lintas batas yang terorganisir dengan rapih dan sulit untuk diungkapkan. Adanya beberapa faktor yang mempengaruhi masih terus terjadinya tindak kejahatan trafficking in persons di Kalimantan Barat. Faktor-faktor tersebut menyebabkan seseorang berada pada posisi rentan dan pada akhirnya dimanfaatkan oleh trafficker untuk memperkaya diri. Faktor-faktor tersebut adalah faktor ekonomi, faktor sosial budaya dan faktor politik yang menyebabkan munculnya konflik kelas antara trafficker dan korban yang dieksploitasi. Ketiga faktor tersebut memiliki pengaruh terhadap peningkatan kasus trafficking in persons dari Kalimantan Barat ke Malaysia.

1. Faktor Ekonomi

Keadaan perekonomian memiliki pengaruh yang besar terhadap sektor lainnya, permasalahan ekonomi telah menjadi penyebab utama dari kasus trafficking in persons. Tanggung jawab untuk dapat memenuhi kebutuhan

(14)

92

hidup keluarga telah menyebabkan rentannya seseorang menjadi korban perdagangan manusia. Faktor ekonomi menjadi penyebab terjadinya perdagangan manusia yang dilatarbelakangi karena adanya kemiskinan, kesempatan kerja yang rendah dan upah tinggi yang ditawarkan di Malaysia. Ketiga hal tersebut lah yang menyebabkan seseorang memilih untuk mencari pekerjaan di negara lain dan keluar dari negara asalnya.

1) Kemiskinan

Kemiskinan merupakan faktor yang paling utama dari terjadinya trafficking in persons, dimana himpitan keadaan ekonomi keluarga menjadi dorongan yang kuat bagi seseorang untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Himpitan keadaan ekonomi inilah yang menjadikan seseorang berada pada posisi rentan dan pasrah pada keadaan yang akhirnya mendorong seseorang untuk mengambil kesempatan yang ada dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Keinginan untuk mencari penghasilan lebih ke Negara Malaysia terjadi karena mereka merasa bahwa keadaan perekonomian keluarga mereka terancam dan jauh dari kata berkecukupan.

Ketika seseorang mengalami kemiskinan, maka adanya hak-hak manusia yang terancam layaknya hak-hak atas kebutuhan dasar dan hak-hak ekonomi. Alasan tersebut membuat sebagian orang berusaha untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negara destination layaknya Malaysia. Kondisi finansial tersebut pada akhirnya membuat

(15)

93

mereka tergiur untuk bekerja di Malaysia tanpa mengetahui dengan jelas keadaan pekerjaan yang dijanjikan.

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen per tahun dirasa masih belum cukup untuk menciptakan pembangunan inklusif yang membutuhkan laju pertumbuhan ekonomi diatas 6,5 persen.16 Keadaan perekonomian daerah asal korban trafficking in persons menjadi faktor yang menyebabkan seseorang rentan menjadi korban trafficking. Hal ini dapat dilihat pada kasus Provinsi Jawa Barat, provinsi ini menjadi daerah pengirim utama korban trafficking in persons ke Malaysia yang melalui jalur perbatasan Kalimantan Barat. Jumlah penduduk miskin di Jawa Barat pada bulan Maret 2015 sebanyak 4.435.699 orang atau sekitar 9,53%, jumlah tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.17 Garis kemiskinan di Jawa Barat, Indeks Kedalaman Kemiskinan, dan Indeks Keparahan Kemiskinan pun mengalami peningkatan pada tahun 2015, hal ini menunjukkan bahwa pengeluaran penduduk miskin di Jawa Barat semakin di bawah garis kemiskinan dan menyebabkan penduduk miskin semakin meningkat. Keadaan perekonomian di Jawa Barat dan kesempatan kerja yang rendah telah menyebabkan banyaknya masyarakat Jawa Barat mencari pekerjaan di negara lain, salah satunya Malaysia.

(16)

94

Keadaan perekonomian di Provinsi Kalimantan Barat sebagai daerah asal dan jalur trafficking ke Malaysia juga menjadi faktor utama terjadinya trafficking in persons. Pada tahun 2010, Kalimantan Barat masih memiliki laju pertumbuhan ekonomi sebesar 5,23 persen dengan persebaran yang tidak merata.18 Keadaan perekonomian tersebut pada akhirnya menyebabkan masyarakat mengalami kemiskinan, sehingga menyebabkan masyarakat tidak dapat mengenyam pendidikan yang tinggi dan pada akhirnya tidak mendapatkan pekerjaan yang layak untuk memperbaiki keadaan finansial keluarga.

Tingkat kemiskinan di Kalimantan Barat pada tahun 2014 masih tergolong tinggi yaitu sebanyak 381.920 jiwa atau sekitar 8,07 persen,19 dimana mayoritas penduduk miskin berada di desa dengan persentase 79,4 persen penduduk miskin tinggal di desa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan perekonomian di Kalimantan Barat tidak terjadi secara merata.

Mayoritas penduduk miskin di Kalimantan Barat berada di desa-desa, salah satunya di Kecamatan Entikong yang memiliki jumlah penduduk miskin yang tinggi. Berdasarkan tabel II.6 diketahui bahwa jumlah total keluarga di Kecamatan Entikong adalah sebanyak 3.388 kepala keluarga, dimana 1.260 kepala keluarga merupakan keluarga miskin yang hidup dibawah rata-rata. Sehingga dapat diketahui bahwa 37,2% penduduk Kecamatan Entikong merupakan keluarga miskin.

(17)

95

Kemiskinan yang terjadi di Entikong pun telah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Entikong menjadi tempat rekrutmen, transit, dan penampungan korban trafficking in persons.

Sebagai upaya mendapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan finansial keluarga, maka adanya penduduk yang berupaya mencari pekerja di Malaysia dan pada akhirnya menjadi korban trafficking in persons, sedangkan ada juga penduduk yang menjadi agen, calo dan pihak yang memalsukan surat demi mendapatkan penghasilan bagi kebutuhan finansial. Baik secara sadar maupun tidak sadar, pihak-pihak tersebut pada akhirnya menjadi trafficker yang terlibat dalam kasus trafficking in persons yang terjadi di Kalimantan Barat. Hal ini disebabkan karena kondisi sosial ekonomi masyarakat yang rendah telah membuat mereka mudah tergiur untuk melakukan kejahatan tersebut.

Keadaan perekonomian yang menyebabkan kemiskinan, serta lapangan pekerjaan dan faktor lainnya yang saling mempengaruhi pun telah menjadi faktor pendorong bagi masyarakat Indonesia untuk mencari cara agar dapat bekerja menghidupi keluarga dan memperbaiki keadaan perekonomian. Namun pada akhirnya mereka menjadi korban dari tindak kejahatan trafficking in persons di Kalimantan Barat, sehingga kemiskinan menjadi salah satu faktor pendorongyang menyebabkan terjadinya trafficking in persons.

(18)

96 2) Kesempatan Kerja

Lapangan pekerjaan yang terbatas di Indonesia telah membuat masih banyaknya penduduk Indonesia yang tidak memiliki pekerjaan. Sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia pun membuat penduduk Indonesia berusahaa untuk mencari pekerjaan di negara lain terutama negara tetangga, seperti Malaysia. Kedekatan geografis, kesamaan kultur, dan syarat pekerjaan yang tidak menyulitkan pun mempengaruhi pilihan masyarakat untuk bekerja di Malaysia. Beberapa orang memilih bekerja di Malaysia karena masih adanya keluarga di Malaysia, hal ini disebabkan karena di Malaysia Timur yaitu Sarawak dan Sabah berada di pulau yang sama yaitu Borneo. Pembagian wilayah masa penjajahan telah menyebabkan banyaknya masyarakat yang terpisah dengan keluarganya, sehingga banyaknya ikatan keluarga antara Malaysia Timur dan Indonesia terutama Kalimantan Barat.

Sulitnya mendapatkan pekerjaan di Indonesia menyebabkan banyaknya penduduk Indonesia terutama yang berpendidikan rendah berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan bekerja di Malaysia. Keberhasilan orang terdekat yang telah bekerja terlebih dahulu di Malaysia pun menjadi salah satu pendorong untuk melakukan hal yang sama. Namun pada akhirnya banyak yang menjadi korban trafficking in persons karena tidak mengerti jalur legal untuk

(19)

97

menjadi TKI dan bujuk rayu dari agen atau calo pun menjadi suatu harapan ketika mereka berada diposisi rentan.

Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia sering menggalami kenaikan dan penurunan, sejak tahun 2002 hingga 2005 terus mengalami peningkatan dari 9.130.000 menjadi 11.900.000 orang.20 Setelah itu jumlah pengangguran di Indonesia terus mengalami penurunan hingga 8.960.000 orang pada tahun 2009, namun penurunan jumlah pengangguran ini masih tidak merata di setiap daerahnya.21 Diketahui bahwa kesempatan kerja yang rendah di daerah asal menjadi alasan seseorang untuk bekerja di negara lain, sebagai contohnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran yang dialami masyarakat Jawa Barat pada tahun 2001 telah menyebabkan Jawa Barat menjadi provinsi asal utama korban trafficking in persons dari Indonesia.

Sedangkan Malaysia sebagai sebuah negara yang sedang mengalami kemajuan dalam sektor industri dan didukung dengan wilayah yang kaya sumber daya alam sehingga cocok untuk sektor pertanian. Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat pun menjadi salah satu wilayah yang memberikan sumbangan ekspor terbesar bagi Malaysia terutama untuk komoditas kayu. Perkembangan sektor industri Malaysia telah membuat pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tingkat kesejahteraan yang cukup baik.

(20)

98

Kesejahteraan Malaysia pun pada akhirnya telah menjadi faktor penarik bagi penduduk negara lain untuk mencari pekerjaan di Malaysia. Malaysia dalam upaya peningkatan perekonomiannya pun membutuhkan tenaga kerja sebagai aktor utama berjalannya roda perekonomian, namun hampir tidak adanya penduduk Melayu Malaysia yang bekerja di sektor non formal yang menggunakan fisik. Hal ini disebabkan karena etnis melayu mendapatkan hak istimewa, negara memberikan perlindungan dan jaminan kesejahteraan sehingga mereka memiliki pekerjaan yang baik. Sehingga tidak adanya etnis Melayu yang bekerja di sektor non formal dengan menggunakan fisik, dan menyebabkan dibutuhkannya pekerja dari negara lain.

Kebutuhan akan pekerja pada sektor non-formal di Malaysia menyebabkan kesempatan kerja di Malaysia menjadi tinggi terutama untuk pekerjaan kasar dan kerja rendahan seperti pembantu rumah tangga, pekerja kapal, buruh kelapa sawit dan buruh kontruksi. Dengan adanya kesempatan kerja dan sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia dengan pendidikan yang rendah, maka banyak penduduk Indonesia yang memilih untuk mencari pekerjaan di Malaysia walaupun hanya di sektor non-formal karena TKI tidak memiliki nilai jual.

Malaysia masih menjadi negara pilihan bagi penduduk Indonesia untuk bekerja mencari kehidupan yang lebih baik, dimana diketahui bahwa komposisi pekerja luar negeri di Malaysia berasal dari Indonesia

(21)

99

yaitu sebanyak 1.935.000 jiwa pada tahun 2014,22 jumlah tersebut tentunya belum ditambah dengan jumlah TKI yang bekerja di Malaysia secara ilegal. Tenaga Kerja Indonesia pun berlomba-lomba mencari peluang untuk dapat bekerja di Malaysia dalam sektor 3D (dirty, difficult, and dangerous) terutama setelah mendengar cerita tentang TKI yang sukses di Malaysia.

Kesempatan kerja di Malaysia dan tidak adanya kesempatan di negara host telah menyebabkan calon migran mudah terpengaruh pada bujuk rayu dari agen atau calo, dan pada akhirnya mereka menjadi korban trafficking in persons. Permintaan dan kesempatan kerja yang ada di Malaysia telah menjadai salah satu faktor penarik (pull factors) terjadinya trafficking in persons. Dengan adanya permintaan tersebut maka adanya kesempatan kerja bagi para migran dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhannya.

3) Upah dan Kurs Mata Uang

Tujuan utama seseorang untuk bekerja adalah mendapatkan penghidupan yang lebih baik dengan upah yang besar. Upah merupakan salah satu faktor dan tujuan utama seseorang untuk mencari pekerjaan. Rayuan gaji besar yang diberikan oleh agen atau calo dalam proses merekrut korban menjadi salah satu faktor penarik yang menyebabkan terjadinya trafficking in persons yang terjadi.

(22)

100

Pemerintah Malaysia telah menetapkan upah minimum untuk sektor asisten rumah tangga, security guard, dan buruh untuk perusahaan kecil di Sabah dan Sarawak sebesar RM800.23 Sedangkan upah minimum di Jakarta sebagai Ibukota Indonesia hanya sebesar Rp. 2.400.000 atau sebesar RM758.24 Upah minimum ini sendiri ditetapkan karena ketiga sektor ini memiliki upah yang sangat rendah, sehingga menyebabkan masyarakat Malaysia memilih untuk bekerja di pusat Kota Malaysia dengan upah yang lebih besar. Hal ini pun menyebabkan beberapa perusahaan berusaha mencari pegawai dari negara lain yang mau bekerja di daerah Sabah dan Sarawak dengan upah yang rendah. Sebagai akibat dari peraturan yang dikeluarkan Pemerintah Malaysia terkait upah minimum di Sabah dan Sarawak, maka banyaknya perusahaan yang mempekerjakan pekerja ilegal tanpa dokumen.

Alasan utama mempekerjakan pekerja tanpa dokumen ialah jumlah upah yang dibayarkan lebih murah dibawah upah minimum

yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Malaysia. Dengan

mempekerjakan pekerja tanpa dokumen, maka majikan tidak perlu membayar biaya asuransi, upah yang tinggi, biaya lembur, dan bahkan hingga tidak membayar upah pekerja. Hal ini dapat terjadi karena pekerja tidak memiliki posisi tawar, tidak adanya surat kontrak kerja, bahkan dokumen yang diperlukan. Namun iming-iming gaji yang tinggi telah membuat banyaknya penduduk Indonesia yang berlomba untuk

(23)

101

dapat bekerja di Malaysia, walaupun mereka tidak mengerti bagaimana cara menjadi TKI di Malaysia dan bahaya yang ditimbulkan jika menjadi TKI ilegal dan menjadi korban trafficking in persons.

Stabilitas politik dan ekonomi suatu daerah atau negara berpengaruh pada pemilihan negara tujuan karena para korban ingin mendapatkan rasa keamanan yang tidak didapatkan di negara asal. Malaysia merupakan salah satu negara dengan keadaan negara yang sudah cukup baik dengan keadaan perekonomian yang cukup stabil, hal ini dapat dilihat dari kurs mata uang Malaysia yang cukup stabil. Kurs mata uang Ringgit Malaysia saat ini sebesar RM4,4187 terhadap 1 USD, sedangkan kurs rupiah terhadap dollar sebesar Rp 13.955 terhadap 1 USD. Kurs mata uang tersebut menunjukkan bahwa nilai mata uang Ringgit Malaysia lebih tinggi dan lebih stabil dibanding dengan nilai mata uang Rupiah Indonesia.

Kurs mata uang Malaysia yang tinggi telah menjadi faktor penarik sendiri bagi seseorang untuk memilih bekerja di Malaysia, dimana kurs mata uang yang tinggi akan sangat berpengaruh ketika gaji dibawa ke negara asal yaitu Indonesia karena akan memberikan jumlah rupiah yang lebih banyak. Sehingga kurs mata uang yang tinggi menjadi faktor penarik tersendiri untuk mencari pekerjaan ke Malaysia.

(24)

102 2. Faktor Sosial Budaya

Keadaan sosial budaya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya trafficking in persons. Keragaman budaya yang terdapat di Indonesia telah menyebabkan Indonesia menjadi negara yang heterogen, yaitu terdiri dari berbagai suku dan budaya. Kondisi sosial budaya keluarga dan masyarakat Indonesia sebagian besar masih bersifat patriarki, dimana perempuan dan anak-anak masih ditempatkan pada posisi dibawah kekuasaan laki-laki. Hal ini menyebabkan perempuan dan anak-anak menjadi sasaran rentan korban perdagangan manusia.

Dalam kehidupan di masyarakat, hubungan patriarki juga dirasakan oleh setiap orang yang memiliki keadaan perekonomian yang rendah. Kemiskinan telah menyebabkan seseorang terkucilkan dan tersisihkan dari masyarakat, karena adanya tekanan yang berasal dari struktur sosial dalam masyarakat yaitu adanya derajat tinggi dan rendah. Ketika seseorang tersisihkan dari masyarakat telah menyebabkan mereka memegang kekuasaan sosial yang lebih kecil. Sebagai upaya untuk mencapai kepentingannya yaitu memenuhi hak-hak yang dimilikinya, maka munculnya dorongan untuk mencari pekerjaan di negera Malaysia.

Keberhasilan orang sekitar dalam mencari kehidupan yang lebih baik di Malaysia telah menjadi faktor pendorong dalam upaya mendapatkan hak-hak yang tidak terpenuhi. Ketika adanya orang

(25)

103

terdekat yang berhasil memperbaiki keadaan perekonomiannya dengan cara bekerja di Malaysia, maka akan menjadi dorongan bagi korban untuk ikut bekerja di Malaysia sebagai upaya memperbaiki keadaan perekonomian dan strata sosial dalam masyarakat.

Faktor sosial budaya lainnya ialah kebudayaan dan kebiasaan di daerah asal, sebagai contohnya Jawa Barat. Adanya stereotip di Indramayu bahwa orang tua memiliki kebanggaan jika anak perempuan asal Indramayu dapat menjadi pekerja seks komersial yang berhasil. Stereotip ini disebabkan karena praktik ini telah berlangsung sejak masa kesultanan dulu, ketika orang tua dapat mengirimkan anak perempuan untuk menjadi anggota harem milik sultan merupakan suatu kehormatan bagi orang tua.25 Praktik tersebut akhirnya menjadi suatu kebiasaan dan kebudayaan di Indramayu, sehingga orang tua akan lebih menjaga keadaan fisik anaknya sejak kecil karena anggapan bahwa keadaan fisik lebih penting dibanding pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan tingkat melek huruf perempuan dan tingkat bersekolah di Indramayu terendah dari seluruh kabupaten di Indonesia.26 Faktor sosial budaya tersebutlah yang menyebabkan banyak ditemui pekerja seks yang berasal dari Indramayu.

Salah satu sektor yang sangat berpengaruh terhadap keadaan sosial budaya ialah pendidikan. Keadaan pendidikan seseorang sangat berpengaruh kepada keadaan sosial maupun keadaan perekonomian seseorang, dan pada akhirnya akan berpengaruh pada kesempatan

(26)

104

bekerja yang ada. Pendidikan sendiri memiliki kaitan yang erat dengan sektor ekonomi, dimana kesulitan untuk membayar biaya pendidikan menyebabkan seseorang tidak bisa mengenyam pendidikan yang tinggi dan pada akhirnya menyebabkan sedikitnya kesempatan kerja yang dimiliki. Kesempatan kerja yang kecil di daerah asal pada akhirnya mendorong seseorang untuk dapat bekerja di negara tujuan yang membutuhkan keterampilan yang tidak banyak untuk bekerja. Namun calon migran yang tidak memiliki pendidikan tinggi dan tingkat melek huruf yang rendah menyebabkan rentannya calon migran menjadi korban trafficking in persons.

Keadaan pendidikan di Indonesia telah mengalami

pertumbuhan yang sangat pesat, namun permasalahan yang dihadapi adalah persebaran yang tidak merata dari pendidikan tersebut. Diketahui bahwa mayoritas korban trafficking in persons hanya mengenyam pendidikan hingga Sekolah Dasar, yaitu sebanyak 29,40% dari total korban trafficking in persons.27

Kalimantan Barat sendiri mayoritas penduduk masih

berpendidikan rendah, dimana hal ini menyebabkan Kalimantan barat masih didominasi pekerja dengan pendidikan rendah yaitu sebanyak 79,67% yang dominan bekerja di sektor pertanian.28 Hingga saat ini pun tingkat melek huruf Kalimantan Barat adalah yang terkecil jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Pulau Kalimantan yaitu hanya sebesar 90,46%, sedangkan Kalimantan Tengah sebesar 96,81%,

(27)

105

Kalimantan Selatan 96,74% dan Kalimantan Timur sebesar 96,74%.29 Sehingga diketahui bahwa Kalimantan Barat belum menunjukkan kinerja yang bagus dalam sektor pendidikan. Pendidikan yang randah ini lah yang pada akhirnya menyebabkan mayoritas penduduk Malaysia bekerja di sektor pertanian.

Kota Pontianak sendiri memiliki tingkat pendidikan paling baik dibanding dengan daerah lainnya di Kalimantan Barat, dengan mayoritas penduduk mengenyam pendidikan hingga tingkat SLTA sebanyak 32,4% seperti dalam tabel II.3. Namun jumlah penduduk yang tidak tamat Sekolah Dasar pun masih tergolong tinggi pada peringkat kedua. Sedangkan di Kecamatan Entikong, tingkat pendidikan mayoritas penduduk masih tamat Sekolah Dasar seperti yang telah diuraikan pada tabel II.8. Perbedaan keadaan pendidikan dan sarana prasarana pendidikan di Kota Pontianak dan Kecamatan Entikong sendiri telah menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di Kalimantan Barat tidak merata, adanya perbedaan antara di kota dan desa. Hal ini disebabkan karena penduduk perbatasan masih mengalami kesulitan untuk mengakses fasilitas pendidikan akibat dari persebaran penduduk di perbatasan dan tingkat kepadatan yang masih sangat jarang.

Pendidikan yang rendah tersebut membuat sedikitnya kesempatan bekerja yang dimiliki di negara asal, hal tersebut pun menyebabkan keputusan untuk mencari pekerjaan di negara lain layaknya Malaysia. Banyaknya kesempatan bekerja di Malaysia

(28)

106

terutama pada sektor informal yang hanya membutuhkan sedikit keterampilan. Hal ini sesuai dengan ungkapan dari Rika Rante Randan, seorang TKI yang bekerja di perkebunan Malayasia, “Kalau di Indonesia susah cari kerja sebab dicari ijazah kalau di sini hanya dicari paspornya”. Kemudahan tersebutlah yang pada akhirnya membuat banyaknya penduduk Indonesia yang memilih untuk bekerja di Malaysia.

Pendidikan yang rendah, tingkat melek huruf yang rendah dan keterampilan yang rendah pun pada akhirnya menyebabkan seseorang semakin rentan menjadi korban dari trafficking in persons. Pada tahap rekrutmen, calon migran biasanya mendapatkan janji-janji untuk bekerja di Malaysia secara lisan oleh agen dan calo, kontrak kerja yang ditanda tangani pun kadang kala tidak dimengerti atau bahkan tidak dibaca oleh calon migran yang tidak dapat membaca. Hal tersebut membuat agen atau calo dapat menuliskan ketentuan-ketentuan serta kompensasi yang berbeda dengan janji-janji yang diberikan sebelumnya. Calon migran ini pun pada akhirnya menjadi korban dari ekploitasi yang terjadi, calon migran yang tidak memiliki nilai tawar ini pun pada akhirnya menghadapi kasus eksploitasi layaknya pekerjaan yang tidak sesuai dan gaji yang tidak pernah dibayar.

Bahkan ketika korban berusaha untuk melarikan diri, pendidikan tetap menjadi kendala yang dihadapi. Dimana korban tidak bisa membaca iklan, brosur atau tulisan apapun yang dapat membantu korban untuk mencari bantuan. Sehingga dapat diketahui bahwa

(29)

107

pendidikan menjadi salah satu faktor pendorong yang menyebabkan masih terjadinya trafficking in persons, dimana pendidikan yang rendah menyebabkan korban mudah ditipu, tidak mengetahui hak-haknya, tidak memiliki nilai tawar, dan bahkan tidak dapat mencari bantuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Faktor sosial budaya lainnya ialah kebiasaan aktivitas lintas batas di Kalimantan Barat. Keadaan perbatasan Kalimantan Barat yang sangat berbeda dari keadaan di Malaysia telah membuat masyarakat perbatasan khususnya masyarakat Entikong lebih memusatkan orientasi kegiatan sosial ekonomi ke Sarawak Malaysia. Ketersediaan infrastruktur di daerah perbatasan layaknya jalan yang masih minim telah menyebabkan aksesbilitas masyarakat perbatasan menjadi semakin terbatas. Hal ini semakin dipersulit dengan jarak tempuh Entikong ke Kota Pontianak yang memerlukan waktu tempuh selama sekitar 7,5 jam, sedangkan dari Kecamatan Entikong ke Kuching dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam dengan infrastruktur jalan yang lebih baik. Pada akhirnya, masyarakat perbatasan memusatkan kegiatan sosial ekonomi di Malaysia dan hal ini membuat aktivitas lintas batas menuju Sarawak pun menjadi kegiatan sehari-hari.

Terbiasanya aktivitas lintas batas di Entikong setiap harinya telah membuat penjagaan dan pemeriksaan terhadap pelintas pun menjadi tidak ketat, namun korupsi pun dapat menjadi salah satu penyebab dari tidak ketatnya penjagaan di Pos Lintas Batas Entikong.

(30)

108

Salah satu faktor yang turut mengancam keamanan perbatasan Entikong ialah banyaknya calo atau agen yang berkeliaran di sekitar pos perbatasan, dimana para calo tersebut akan berusaha untuk menawarkan jasanya dan menarik TKI yang dideportasi untuk kembali bekerja di Malaysia dengan janji-janji dan paksaan yang diberikan.

Keamanan perbatasan di Kalimantan barat, khususnya Entikong sendiri belum mendapatkan perhatian dan penjagaan yang cukup. Hal ini dapat disebabkan karena kurang ketatnya penjagaan Pos Lintas Batas, aktivitas lalu lintas batas yang dilakukan oleh masyarakat, korupsi yang terjadi dan keadaan perbatasan yang sangat timpang dengan negara tetangga Malaysia

3. Faktor Politik

Fenomena trafficking in persons dapat terjadi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor politik. Faktor politik yang berpengaruh terhadap fenomena trafficking in persons dapat berasal dari dalam Negara Indonesia, maupun dari Negara Malaysia. Faktor politik yang berasal dari dalam Negara Indonesia adalah korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum di lembaga pemerintah.

Sebagai upaya untuk mengirim calon migran melewati Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong menuju Sarawak Malaysia, dibutuhkannya surat-surat perizinan yaitu KTP dan paspor. Namun

(31)

109

mayoritas calon migran tidak memiliki miliki surat-surat, sehingga banyaknya calo atau agen yang membuatkan surat-surat yang diperlukan di Entikong karena kemudahan proses pembuatan surat tersebut. Korupsi telah menjadi salah satu faktor yang membuka jalan bagi agen atau calo perekrut tenaga kerja untuk memalsukan dokumen, identitas, paspor dan visa.

Korupsi dapat diartikan sebagai penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi. Tindak pidana korupsi dapat dibagi menjadi 7 kelompok yaitu kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi.30 Tindak pidana korupsi yang terlibat dalam kasus trafficking in persons adalah suap31, dimana untuk dapat memalsukan dokumen, identitas, paspor dan visa dilakukan dengan cara membayar sejumlah uang secara ilegal agar mendapatkan dokumen dalam waktu yang singkat dan dapat membuat surat aspal (asli tapi palsu).

Mayoritas dari calon migran membuat dokumen-dokumen yang diperlukan di Entikong karena agen atau calo yang akan mengurus keperluan mereka, Entikong menjadi tempat yang mudah untuk membuat dokumen aspal. Untuk membuat sebuah KTP dan paspor dalam waktu yang relatif singkat yaitu tidak sampai seminggu dapat dilakukan dengan membayar sejumlah uang sekitar Rp 750.000 hingga

(32)

110

Rp 1.000.000.32 Padahal untuk membuat paspor sebenarnya hanya membutuhkan biaya sebesar Rp 100.000 untuk 24 lembar dan Rp 300.000 untuk 48 lembar.

Biaya pembuatan dokumen aspal tersebut pun akan dibagi-bagi kepada petugas yang terlibat dalam pembuatan dokumen-dokumen aspal tersebut yaitu petugas dari kepala desa, kantor kabupaten dan kantor imigrasi. Agen atau calo akan memanfaatkan Kantor Imigrasi Entikong untuk dapat memalsukan paspor bagi calon migran yang masih berada dibawah umur. Pemalsuan dokumen ini sendiri melibatkan berbagai pihak, mulai dari stakeholder di bawah hingga ke stakeholder di level atas.

Agen atau calo biasanya akan membuatkan dokumen di Entikong karena kemudahan untuk memalsukan surat. Agen atau calo akan memalsukan dokumen-dokumen aspal bagi calon migran terutama untuk yang masih berada di bawah umur. Pada awalnya agen akan membuatkan akta kelahiran dengan tanggal kelahiran palsu agar membantu calon migran untuk bermigrasi. Pembuatan akta kelahiran ini diakibatkan karena masih banyaknya penduduk yang tidak memiliki akta kelahiran karena masyarakat masih belum mengerti pentingnya akta kelahiran dan biaya pembuatan akta yang dianggap mahal bagi sebagian masyarakat.

(33)

111

Setelah melakukan pembuatan akta kelahiran palsu, kemudian agen akan membuatkan KTP untuk calon migran di kantor kabupaten sebagai salah satu syarat untuk membuat paspor. Kantor kabupaten akan mengeluarkan KTP jika calon migran tersebut telah memiliki akta kelahiran dari kepala desa, walaupun penampilan calon migran tidak tampak sesuai dengan umur yang tertera di akta kelahiran namun kantor kabupaten tidak dapat menolak pembuatan KTP jika orang tersebut dapat menunjukkan akta kelahirannya.

Setelah agen atau calo berhasil mendapatkan KTP, maka agen akan membuatkan paspor untuk calon migran agar dapat bermigrasi melintasi batas Negara Indonesia dan menuju Negara Malaysia. Pembuatan berbagai dokumen tersebut melibatkan berbagai aktor yang terlibat dalam pembuatan akta kelahiran, KTP, dan Paspor dalam waktu yang singkat dengan birokrasi yang mudah. Baik disadari maupun tidak disadari, aktor-aktor tersebut pada akhirnya terlibat dan menjadi trafficker dalam kasus trafficking in persons.

Kantor imigrasi menjadi salah satu institusi publik yang rentan dengan aktivitas suap menyuap, dimana imigrasi menempati peringkat ketiga sebagai institusi publik yang memiliki indeks suap yang tinggi yaitu sebesar 34% setelah polisi dan bea cukai pada urutan pertama dan

kedua.33 Praktek pembuatan dokumen-dokumen aspal ini termasuk ke

(34)

112

termasuk dalam akta-akta otentik yang tergolong dalam pemalsuan surat yang diperberat. Sesuai dengan pasal 266 ayat 1 yang berbunyi:

“Barangsiapa menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran, dipidana, jika pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, dengan pidana penjara paling lama 7 tahun”.34

Sehingga berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan, diketahui bahwa menerima suap untuk memalsukan dokumen merupakan kejahatan mengenai pemalsuan dan korupsi. Kejahatan inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu push factors yang menyebabkan masih terjadinya trafficking in persons di Kalimantan Barat. Pemalsuan dokumen ini pun berkaitan dengan faktor lainnya yaitu keadaan ekonomi, dimana keadaan perekonomian di Entikong yang masih banyaknya warga miskin telah menyebabkan banyaknya pihak yang mencari penghasilan tambahan sebagai agen atau calo dan juga membantu mengurus KTP dan paspor dengan bantuan sejumlah biaya.

Korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum lembaga

pemerintahan tersebut telah menunjukkan bahwa masih adanya moral pemerintah yang korup, sehingga dapat diketahui bahwa politik di dalam negeri masih belum stabil. Sebagai upaya untuk mencegah dan

(35)

113

melawan kasus trafficking in persons dibutuhkannya dukungan dan kerjasama dari pemerintahan yang stabil dan kondisi politik yang kondusif.

Faktor politik lainnya adalah kebijakan upah minimum Negara Malaysia yang dikeluarkan pada tahun 2012. Pemerintah Malaysia telah menetapkan kebijakan upah minimum untuk sektor asisten rumah tangga, security guard, dan buruh untuk perusahaan kecil di Sabah dan Sarawak sebesar RM800.35 Kebijakan upah minimum tersebut telah menjadi faktor politik yang mendorong terjadinya fenomena trafficking in person dari Indonesia ke Malaysia. Fenomena trafficking in persons telah dimanfaatkan oleh traffickers sebagai kebijakan harga murah, yaitu sebagai upaya untuk mendapatkan pekerja dengan harga yang murah dan tidak sesuai dengan kebijakan upah minimum yang telah ditetapkan Pemerintah Malaysia. Dengan mempekerjakan korban trafficking, maka user tidak harus memenuhi hak-hak yang seharusnya dimiliki oleh seorang pekerja, seperti asuransi, upah minimal, biaya lembur, dan membayar gaji tepat waktu.

Berdasarkan penjelasan yang telah dipamparkan, maka peneliti berusaha membuat bagan untuk menyederhanakan penjelasan dari teori-teori yang digunakan agar dapat memberikan pemahaman terkait penelitian ini. Bagan tersebut digambarkan seperti berikut ini:

(36)

114 Bagan 2.

Penyebab Trafficking in Persons

Sumber: Analisis Pribadi

C. Respon Pemerintah Indonesia Terhadap Fenomena Trafficking in persons

Sebagai upaya untuk mencegah terus bertambahnya korban dari trafficking in persons, maka peran serta seluruh instansi yang terlibat sangat diperlukan. Salah satunya Pemerintah Indonesia sebagai negara host dari fenomena trafficking in persons yang terjadi. Pemerintah sendiri memiliki peran dan kewajiban yang harus dilakukan untuk dapat mencegah peningkatan fenomena trafficking in persons yang terjadi. Peran pemerintah

(37)

115

ialah membuat kebijakan, program dan mengalokasikan dana, pemerintah juga harus membentuk gugus tugas dengan anggota yang berasal dari pemerintahan, dan pemerintah pun harus melaksanakan kerjasama internasional sebagai upaya mencegah trafficking in persons terjadi karena telah menjadi sebuah tindak kejahatan lintas batas. Berdasarkan peran dan kewajiban yang dimiliki Pemerintah Indonesia untuk mencegah peningkatan kasus trafficking in persons, maka adanya beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah dan telah dilaksanakan.

Sebagai upaya untuk menjalankan tugasnya yang pertama yaitu membuat kebijakan terkait trafficking in persons, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Undang-Undang ini terbagi dalam 9 bab dan 67 pasal yang mengatur perlindungan saksi dan korban sebagai aspek penting dalam penegakan hukum untuk memberikan perlindungan bagi korban dan saksi. Penyusunan Undang-Undang ini merupakan perwujudan komitmen Indonesia untuk melaksanakan Protokol PBB tahun 2000 tentang Mencegah, Memberantas, dan Menghukum Tindak Pidana Perdagangan Orang, khususnya Perempuan dan Anak (Protokol Palermo) yang sebelumnya telah ditandatangani Pemerintah Indonesia. Larangan perdagangan orang juga dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 297 dan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 pasal 83.

(38)

116

Sebagai upaya mencegah peningkatan dari tindak kejahatan trafficking in persons, Pemerintah Indonesia membentuk gugus tugas dengan anggota dari pemerintahan. Gugus tugas tersebut adalah Gugus Tugas RAN yang dikenal dengan sebutan tim kecil. Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak (RAN) menjadi landasan dan pedoman bagi pemerintah dan masyarakat dalam melaksanakan penghapusan perdagangan perempuan dan anak yang disusun dibawah pimpinan Kementerian Pemberdayan Perempuan (KPP) dan gugus tugas (Tim Kecil).36 Dalam RAN sendiri tercantum daftar kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah dalam upaya menghapuskan trafficking in persons baik ditingkat nasional, provinsi, hingga lokal daerah.

Kerjasama Internasional pun menjadi salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia untuk dapat mengatasi masalah trafficking in persons yang terjadi di Indonesia. Pemerintah Indonesia menandatangani dan meratifikasi Protokol PBB tahun 2000 tentang Mencegah, Memberantas, dan Menghukum Tindak Pidana Perdagangan Orang, khususnya Perempuan dan Anak (Protokol Palermo) sebagai upaya untuk menyatukan diri dengan PBB sebagai salah satu negara yang menolak dengan keras dan berupaya untuk menyelesaikan masalah trafficking in persons. Pemerintah Indonesia melakukan kerjasama dengan beberapa negara dalam upaya penanganan kasus ini, salah satunya dengan Amerika Serikat yang memberikan bantuan dana sebesar US$ 9 juta dalam rangka memerangi perdagangan lintas batas

(39)

117

dari dan ke Indonesia.37 Selain bersama Amerika Serikat, Pemerintah Indonesia juga melakukan kerjasama dengan berbagai negara layaknya Australia, Hongkong, serta negara-negara tetangga Singapura, dan Malaysia.

Selain bekerja sama dengan negara-negara tetangga dan negara lainnya, Pemerintah Indonesia juga melakukan kerjasama dengan Non Government Organizations (NGO) dalam upaya penyelesaikan masalah trafficking in persons. Beberapa Non Government Organizations (NGO) yang bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia adalah Save the Children, American Center for International Labor Solidarity (ACILS), International Catholic Migration Commision (ICMC), dan International Organization for Migration (IOM). Berbagai program dilakukan pemerintah dengan bekerja sama dengan lembaga-lembaga tersebut, salah satu contohnya adalah pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemulangan Korban Perdagangan Manusia, menyusun modul pendidikan dan mengadakan pelatihan bagi pengelola program dengan bekerja sama dengan International Catholic Migration Commision (ICMC).38

Kemudian untuk mencegah peningkatan kasus trafficking in persons dari Indonesia ke Malaysia khususnya yang terjadi di Kalimantan Barat, maka Pemerintah Indonesia melakukan beberapa upaya untuk dapat mencegah peningkatan kasus yang terjadi. Salah satunya ialah dengan mengadakan Konferensi Penegakan Hukum Internasional tentang trafficking in persons di Batam pada tahun 2004 sebagai bentuk komitmen bersama Malaysia untuk

(40)

118

mengatasi trafficking in persons.39 Pemerintah Malaysia dan Indonesia pun melakukan kerjasama untuk meningkatkan keamanan perbatasan dengan pengawasan lalu lintas penduduk lintas batas dengan membuat lembaga pelayanan satu atap yang terdapat di Entikong-Tebedu. Lembaga ini diharapkan dapat memantau penduduk yang keluar dari Kalimantan Barat untuk masuk ke Sarawak Malaysia.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengeluarkan berbagai kebijakan dalam upaya penanganan kasus trafficking in persons yang terjadi di Kalimantan Barat, yaitu Peraturan Daerah No.3 dan No.7 tahun 2007, Peraturan Gubernur Kalimantan Barat No. 86 tahun 2006, Keputusan Gubernur Kalimantan Barat No. 370 tahun 2009, Keputusan Gubernur Kalimantan Barat No. 289 tahun 2006, dan Keputusan Gubernur Kalimantan Barat No. 178 tahun 2008.

Upaya lainnya yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menyelesaikan kasus trafficking in persons di Kalimantan Barat ialah membentuk jejaring dalam penanganan trafficking in persons, memberikan sosialisi secara terpadu dan berjenjang dilingkup Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Desa dan Masayarakat, pelatihan keterampilan kepada calon TKI dan korban trafficking, serta menindak dengan tegas trafficker pelaku kejahatan. Pemerintah pun berusaha untuk meningkatkan pembangunan di daerah perbatasan dan pengentasan kemiskinan, pemerintah berusaha membangun kawasan strategis yang memiliki potensi untuk pemusatan kegiatan ekonomi baru yang

(41)

119

mengarah pada sektor industri dan perdagangan bebas yang dikenal dengan Border Development Centre (BDC). Berbagai sarana perekonomian, olahraga, industri, dan transportasi akan dibangun dalam wilayah ini sebagai upaya untuk memperbaiki keadaan perbatasan serta memperbaiki standar hidup masyarakat perbatasan.

Saat ini sendiri Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia sedang berupaya untuk mewujudkan program bersama untuk membuat pengiriman Tenaga Kerja Indonesia ke Malaysia hanya melalui satu pintu, dimana Pemerintah Indonesia menunjuk PJTKI yang akan diberi hak untuk merekrut calon TKI dan kemudian Pemerintah Malaysia pun akan mendata perusahaan penyalur yang dapat menyalurkan TKI tersebut. Program ini diharapkan dapat mengurangi bahaya yang dihadapi oleh calon TKI terutama dari bahaya eksploitasi dan trafficking in persons.

Berbagai kebijakan dan program-program yang dibuat pemerintah Indonesia sudahlah tepat, namun praktik yang dilakukan di lapangan lah yang masih belum maksimal dan terlaksana dengan baik. Keberadaan aktor-aktor yang mengambil keuntungan dari berbagai kesempatan yang ada dan pengawasan yang kurang dari berbagai program yang ada, pada akhirnya menyebabkan tindak kejahatan trafficking in persons masih terus terjadi di Kalimantan Barat.

Hingga saat ini Pemerintah Indonesia masih terpaku pada push factors yang menyebabkan terjadinya trafficking in persons, namun pull factors yang

(42)

120

menjadi faktor penarik pun luput dari fokus pemerintah. Pemerintah Indonesia harus memberikan perhatian lebih untuk dapat memutuskan pull factors yang ada, bagaimana pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan dan upah yang tinggi bagi masyarakat di Indonesia.

D. Respon ASEAN Terhadap Fenomena Trafficking in Persons

Trafficking in persons merupakan transnational organized crime seperti yang tercantum dalam dalam United Nation Convention against Transnational Organized Crime, dimana tindak kejahatan ini melibatkan lebih dari satu negara dalam proses terjadinya. Trafficking in persons telah menjadi salah satu ancaman keamanan yang krusial dari aspek non militer, karena kejahatan lintas batas ini erat kaitannya dengan kelompok kejahatan yang telah terorganisir antar negara. Trafficking in persons yang terjadi dari Indonesia ke Malaysia merupakan salah satu contoh dimana tindak kejahatan ini melibatkan dua negara dan terjadi melintasi batas-batas negara. Ketika trafficking in persons telah menjadi fenomena transnational organized crime, maka tindak kejahatan ini tidak dapat dicegah ataupun diselesaikan oleh salah satu pihak saja. Seluruh pihak harus bekerja sama untuk mencegah dan melawan terjadinya tindak kejahatan ini, baik pemerintah kedua negara, organisasi domestik maupun internasional dan masyarakat itu sendiri.

Pemerintah kedua negara harus bekerjasama untuk mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking in persons yang terjadi. Sebagai sebuah transnational organized crimes yang telah diorganisir dengan baik oleh

(43)

121

trafficker yang terlibat, baik yang berada di Indonesia maupun di Malaysia maka diperlukannya pendekatan regional yang lebih komprehensif untuk dapat mencegah dan melawan trafficking in persons yang terjadi. Hal ini disebabkan karena dampak yang ditimbulkan dari kejahatan ini bukan hanya bagi negara yang terlibat saja, namun dapat berdampak luas dan berpengaruh pada negara-negara di kawasannya. Untuk melakukan pendekatan regional yang lebih komprehensif, maka diperlukannya peran serta organisasi internasional dalam upaya pencegahan dan perlawanan terhadap kasus trafficking in persons.

Organisasi internasional layaknya Association of South East Asian Nations (ASEAN) sebagai organisasi regional bagi Indonesia dan Malaysia harus berperan aktif untuk menjembatani kedua negara dalam upaya mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking in persons yang terjadi. Tindak kejahatan trafficking in persons sendiri telah tercantum dalam ASEAN political-security community blueprint, dimana trafficking in persons tergolong dalam isu keamanan non tradisional. Dalam blueprint tersebut disebutkan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kerjasama terkait isu keamanan non tradisional khususnya melawan transnational organized crimes. Beberapa upaya yang dapat dilakukan ialah meningkatkan kerjasama terkait isu trafficking yang terjadi, memperberat hukuman bagi trafficker, dan memahami pentingnya perlindungan terhadap korban trafficking in persons sesuai dengan ASEAN declaration against trafficking in Person particularly women and children.

(44)

122

Sebagai upaya untuk mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking in persons yang terjadi di negara-negara ASEAN, maka adanya deklarasi-deklarasi ASEAN yang dibuat sesuai dengan ASEAN political-security community blueprint. Salah satu deklarasinya ialah ASEAN declaration against trafficking in Person particularly women and children, deklarasi ini telah disetujui oleh seluruh kepala pemerintahan negara-negara anggota ASEAN pada tanggal 29 November 2004 di Vientiane, Lao People’s Democratic Republic.40 Deklarasi ini merupakan instrumen utama dalam pemberantasan trafficking in persons, dibuat atas dasar pentingnya pendekatan regional yang lebih komprehensif untuk mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking in persons. Dengan mengetahui bahwa keadaan sosial, ekonomi dan berbagai faktor lainnya telah menjadi penyebab terjadinya trafficking in persons, maka dalam deklarasi ini dicantumkan beberapa bentuk-bentuk kerja sama di tingkat regional yang dapat dilakukan untuk mencegah dan melawan trafficking in persons.

Membuat jaringan kerjasama regional di ASEAN untuk mencegah dan melawan trafficking in persons, serta meningkatkan kerjasama regional dan internasional merupakan contoh upaya untuk melawan trafficking in person yang tercantum dalam ASEAN declaration against trafficking in Person particularly women and children. Berdasarkan isi dari upaya yang tercantum dalam deklarasi tersebut, maka diketahui bahwa kerjasama regional dalam upaya mencegah dan melawan trafficking in persons sangatlah penting ketika trafficking in persons telah termasuk dalam transnational organized crimes.

(45)

123

Sehingga dapat diketahui bahwa ASEAN sebagai organisasi regional di kawasan Asia Tenggara memiliki peran yang penting dalam upaya mencegah dan melawan tindak kejahatan trafficking in person yang terjadi di kawasan ini.

Deklarasi lain yang dikeluarkan ASEAN dan terkait dengan kasus trafficking in persons adalah ASEAN declaration on the protection and promotion of the rights of migrant workers yang dideklarasikan pada ASEAN Summit ke 12 pada tanggal 13 Januari 2007 di Cebu, Philippines.41 Deklarasi ini berisi tentang prinsip dasar yang harus dilakukan untuk memastikan keamanan dan terpenuhnya hak-hak yang dimiliki oleh pekerja migran, dan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh negara pengirim dan penerima pun dipaparkan dalam deklarasi ini.

Prinsip dasar dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh negara pengirim dan penerima ini dipaparkan dalam deklarasi ini sebagai upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap pekerja migran. Hal ini dilakukan mengingat diperlukannya upaya untuk mengatasi kasus perlakuan kasar ataupun kekerasan terhadap pekerja migran kapan pun kasus tersebut terjadi. Deklarasi ini berisi komitmen ASEAN untuk melindungi dan menjamin pemenuhan hak pekerja migran, sehingga negara anggota ASEAN akan melakukan berbagai kerjasama yang sesuai dengan hukum dan kebijakan negara masing-masing. Komitmen ASEAN untuk memfasilitasi pertukaran informasi terkait pekerja migran, dan menugaskan badan ASEAN yang relevan dengan kasus trafficking in persons untuk menindaklanjuti ASEAN

(46)

124

declaration on the protection and promotion of the rights of migrant workers secara nyata yang tercantum dalam deklarasi ini telah menunjukkan bahwa ASEAN memiliki peran besar untuk menjembatani upaya pencegahan dan perlawanan terhadap tindak kejahatan trafficking in persons yang terjadi di kawasan ASEAN.

Deklarasi ketiga yang masih berkaitan dengan trafficking in persons adalah ASEAN human rights declaration yang dideklarasikan pada ASEAN Summit ke 21 tanggal 18 November 2012 di Phnom Penh, Cambodia.42 Deklarasi ini berisi prinsip umum dari hak asasi manusia, hak sipil dan politik, serta hak ekonomi, sosial dan kebudayaan yang dimiliki manusia dan hak untuk berkembang. Pada hak ekonomi, sosial dan kebudayaan disebutkan bahwa manusia memiliki hak untuk memperoleh pekerjaan, hak untuk memenuhi kebutuhan hidup berupa makanan, pakaian, air bersih dan tempat tinggal yang layak, dan hak mendapatkan akses sarana kesehatan. Ketika hak tersebut tidak terpenuhi, maka human security pun akan terancam dan ketika seseorang merasa human security nya terancam maka akan berusaha untuk mencari penyelesaian. Mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain dianggap sebagai salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk dapat memperbaiki keadaan, namun pengetahuan yang rendah telah membuat mereka menjadi rentan sebagai korban dari trafficking in persons.

Deklarasi ini menjelaskan bahwa eksploitasi merupakan sesuatu yang dilarang, baik eksploitasi ekonomi maupun sosial bagi siapapun. Sehingga

(47)

125

dapat diketahui bahwa eksploitasi yang dialami oleh korban trafficking in persons merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, padahal hak-hak tersebut sudah jelas tercantum dalam ASEAN human rights declaration.

Kemudian dalam upaya untuk menindaklanjuti deklarasi-deklarasi yang telah ada dan dalam upaya mencegah dan melawan kasus trafficking in persons, maka sesuai dengan ASEAN declaration on the protection and promotion of the rights of migrant workers dikerahkannya badan HAM ASEAN yang relevan dengan kasus trafficking in persons. Badan HAM tersebut adalah ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) dan ASEAN Commission on the Promotion and Protection of the Rights of Women and Children (ACWC). Dengan adanya eksistensi dari kedua badan ini, maka diharapkan dapat mendorong penerapan standar hak asasi manusia internasional ke dalam sistem hukum tiap negara ASEAN termasuk dengan yang berkaitan dengan pemberantasan trafficking in persons.

ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) adalah badan intergovernmental yang dibentuk dengan tujuan untuk menjamin dan melindungi hak asasi manusia dan asas kebebasan. AICHR berkontribusi untuk merealisasikan tujuan dari ASEAN yang tercantum dalam ASEAN Charter yaitu menjaga stabilitas dan harmoni di kawasan ASEAN. Sebagai upaya menciptakan kawasan regional ASEAN yang stabil dan harmonis, maka isu keamanan tradisional maupun non tradisional harus dicegah dan dilawan. Isu keamanan tersebut termasuk fenomena trafficking in persons, maka ASEAN

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat dua metode yang digunakan dalam pemeriksaan hitung leukosit, yaitu cara automatik menggunakan mesin penghitung sel darah ( hematology analyzer ) dan cara manual dengan

mempunyai  tujuan  untuk  mengakomodasi  kebutuhan PKL yang ada sehingga diharapkan  mampu  mengoptimalkan  potensi  PKL  tanpa  mengabaikan  kepentingan 

Hasil : dari penelitian didapatkan partisipan mengatakan mengkonsumsi jajanan dengan frekuensi >2 kali sehari, jajanan manis dan kebiasaan menyikat gigi

Dalam penelitian ini penulis akan melaksanakan suatu pembelajaran yang berkaitan dengan kondisi yang telah penulis amati selama melakukan penelitian atau observasi

Mandi balimau kasai tersebut bukanlah termasuk sunnah roslullah, melainkan hanya sebagai tradisi semata yang memiliki nilai filosopis yang tinggi bagi masyarakat

Arminius dengan jelas menekankan bahwa mustahil bagi Calvinisme untuk menyela- matkan diri dari konsep kedaulatan Allah yang deterministik yang menjadikan Allah sebagai

“Bagaimana perasaan Tina setelah mandi dan mengganti pakaian ? Coba Tina sebutkan lagi apa saja cara-cara mandi yang baik yang sudah Tina. lakukan tadi ?” ”Mari kita

Table 4.25 Translating Fixed Expressions and Idioms by Using Similar Meaning but Dissimilar Form