• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

1. Responden A

a. Identitas diri

Nama : Fina (bukan nama sebenarnya)

Usia : 35 tahun

Suku : Batak Mandailing

Agama : Islam

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Buruh Tekstil

b. Jadwal pelaksanaan wawancara

Tabel 1. Jadwal wawancara responden A

No Tanggal Wawancara Waktu Wawancara Tempat Wawancara 1 04 Maret 2012 12.15 WIB – 13.10 WIB Perbaungan 2 18 Maret 2012 13.00 WIB – 13.40 WIB Perbaungan 3 25 Maret 2012 12.30 WIB – 13.30 WIB Perbaungan

c. Data observasi

Wawancara pertama dilakukan di rumah responden yaitu di daerah Perbaungan. Ruangan tempat berlangsungnya wawancara tersebut adalah ruang tamu yang berukuran sekitar 6x8 meter, di dalam ruang tamu tersebut tidak terdapat sofa ataupun kursi untuk duduk. Peneliti dan responden duduk di atas tikar yang dikembangkan di lantai. Cuaca pada hari itu cukup terik dan angin sekali-kali masuk ke dalam rumah responden karena pintu rumah tidak di tutup. Saat wawancara berlangsung, tidak hanya terdapat responden dan peneliti, tetapi

juga ada anak pertama responden yang sedang menonton TV yang letaknya tidak jauh dari lokasi wawancara berlangsung. Siang itu tidak terlihat suami responden. Sesuai perjanjian wawancara ini nantinya dilakukan secara bergantian antara istri (kak F) dan suami (bang I). Namun karena bang I belum kelihatan, diputuskan bahwa kak F yang akan terlebih dahulu diwawancarai.

Wawancara dimulai pada pukul 12.15 WIB. Keadaan saat memulai wawancara pada hari itu masih sedikit canggung karena ini adalah wawancara pertama yang dilakukan. Pertama sekali peneliti bertanya mengenai kabar responden, kemudian peneliti meminta waktu untuk melakukan wawancara kepada responden dan sedikit mengulang penjelasan dari tujuan peneliti melakukan wawancara sambil meminta izin untuk menggunakan tape recorder. Setelah itu wawancara pun dimulai. Saat peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, tampak responden dengan terbuka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sambil sekali-sekali mencoba berfikir mengingat kembali kejadian-kejadian yang telah lalu. Sebelumnya, di lima menit pertama saat wawancara anak kak F datang dan berbicara kepada kak F, akibatnya wawancara terhenti sebentar, tidak lama itu anak kak F duduk di depan TV dan memulai menghidupkan TV untuk menonton. Saat itu kak F mencoba menyuruh anaknya mengecilkan suara TV karena sedang wawancara. Sang anak pun mengecilkan suara TV tersebut dan wawancara kembali dilanjutkan dan tanpa merasa terganggu dengan suara TV.

Kak F merupakan seorang perempuan pekerja keras. Ia membantu suaminya bekerja memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ciri khas yang dapat ditangkap oleh peneliti saat itu adalah suaranya yang nyaring kuat saat dirinya menjawab

setiap pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Saat itu kak F terlihat seperti baru menyelesaikan pekerjaan rumah. Beliau terlihat sedikit berantakan dengan baju kaos lengan pendek warna coklat dan celana pendek cream. Duduknya juga terlihat seperti wanita tomboy, dengan menyila kaki kanannya dan menekuk kaki kirinya. Diperkirakan oleh peneliti, kak F memiliki postur tubuh setinggi 163 cm dan berat sekitar 50 kg.

Sosok kak F yang terbuka tampak dari setiap jawaban yang ia berikan. Kak F selalu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dan sesekali ia melirik ke atas untuk mengingat kembali tentang jawaban yang akan diberikan. Suaranya nyaring dan ia sangat antusias menceritakan perjalanan kehidupan pernikahannya. Terkadang, kak F menunujukkan paras kekesalan di wajahnya seperti mengertukan keningnya dan volume suaranya yang meninggi saat bercerita hal-hal yang jelek sambil sesekali mengelus dada. Saat di pertengahan wawancara, tetangga kak F datang ke rumah tetapi tidak mengajak ngobrol kak F. Ia hanya melihat sebentar ke dalam rumah dan lalu pergi. Kak F selalu mengekspresikan setiap jawaban yang diutarakannya kepada peneliti, ketika jawaban tersebut bercerita tentang kemarahannya maka ia akan menceritakannya dengan nada suara yang tinggi dan ketika jawaban tersebut dirasa memalukan, dia cenderung menceritakannya dengan nada suara yang merendah. Duduk kak F pun selalu berganti, terkadang ia duduk bersila dan terkadang menopang kedua tangannya ke belakang untuk mengambil posisi duduk yang nyaman. Wawancara pada hari itu berlangsung sekitar 45 menit.

Wawancara kedua kembali dilakukan di rumah responden yaitu di Perbaungan. Saat itu cuaca di sana tidak begitu mendukung. Hujan turun, sehingga sedikit mengganggu jalannya wawancara karena kak F harus mengurus rumah terlebih dahulu. Hari itu sama seperti hari sebelumnya, wawancara pertama sekali dilakukan kepada kak F kemudian dilanjutkan dengan bang I, karena saat itu bang I sedang ada pekerjaan tambahan yaitu membangun dapur di rumah bibinya.

Seperti hari yang sebelumnya, kak F terlihat terbuka dan ia tersenyum saat melihat peneliti datang. Saat itu ia sedang berada di rumah bibinya yang letaknya di sebelah rumah responden. Ketika mengetahui peneliti datang, ia pun segera kembali ke rumah dan mempersilahkan peneliti untuk masuk. Ruangan di dalam rumah juga masih tampak sama, tidak ada yang berubah dari hari yang sebelumnya. Kak F terlihat mengenakan kaos lengan panjang dan celana jeans ¾ suku, membuat kak F telihat kurus. Kami duduk di atas tikar yang sama seperti hari sebelumnya dan saat itu hanya ada peneliti dan responden saja di dalam rumah. Wawancara pada hari itu berjalan sangat cepat dan lancar. Kak F sangat bersemangat menceritakan berbagai kehidupan pernikahannya kepada peneliti. Sesekali ia meyakinkan peneliti dengan mengulang kisah yang diceritakannya saat wawancara pertama. Wawancara pun selesai sesaat setelah hujan reda.

Wawancara ketiga dilakukan pada pukul 12.30 WIB dan masih di rumah responden di Perbaungan. Suasana di rumah tersebut saat itu sangat teduh. Terlihat anak kedua kak F masuk ke rumah sambil membawa layangan dan memainkannya di dalam rumah. Karena merasa terganggu, kak F menyuruh

anaknya untuk tidak memainkannya di dalam rumah. Hubungan yang terjalin antara peneliti dan responden semakin terlihat akrab. Kak F juga tidak segan-segan menceritakan kehidupan masa kecilnya kepada peneliti.

Wawancara pada hari itu berjalan lama, sekitar 60 menit. Namun sesi tersebut terganggu saat di menit ke 28 dimana adik ipar kak F datang ke rumah dan mengajak ngobrol kak F. Cukup lama ia berada di sana, sehingga wawancara terhenti selama kurang lebih 15 menit. Terlihat ekspresi kak F yang merasa bersalah karena sesi wawancara terganggu. Setelah adik iparnya pergi kak F meminta maaf karena wawancaranya terganggu. Ia juga mengatakan tidak enak jika terus melanjutkan wawancara sementara ada orang lain. Sikap kak F pada wawancara ketiga ini pun tidak berbeda jauh dengan wawancara pertama dan kedua. Proses wawancara yang dilakukan selama ini berjalan dengan lancar.

2. Responden B (suami)

a. Identitas diri

Nama : Indra (bukan nama sebenarnya) Usia : 48 tahun

Suku : Jawa

Agama : Islam Pendidikan : SMA Pekerjaan : Buruh

b. Jadwal pelaksanaan wawancara

Tabel 2. Jadwal wawancara responden B

No Tanggal Wawancara Waktu Wawancara Tempat Wawancara 1 04 Maret 2012 13.15 WIB – 14.10 WIB Perbaungan 2 18 Maret 2012 14.00 WIB – 14.45 WIB Perbaungan 3 25 Maret 2012 13.45 WIB – 14.30 WIB Perbaungan

c. Data observasi

Bang I adalah responden selanjutnya setelah peneliti melakukan wawancara kepada kak F. Pada hari yang sama wawancara dilakukan kepada bang I yang juga berlokasi sama yaitu di ruang tamu rumah responden. Hari itu bang I mengenakan kaos berwarna orange dan celana pendek selutut. Ia tampak baru saja melakukan aktivitas yang cukup berat di luar karena terlihat dari kondisi fisiknya yang berkeringatan dan cukup kotor. Saat ditanya, bang I ternyata baru selesai makan siang setelah ia berladang di belakang. Sikap yang ditunjukkan bang I di awal pertemuan wawancara ini ternyata tidak seperti yang diduga oleh peneliti, dimana awalnya peneliti beranggapan responden akan kaku dan tertutup. Bang I cukup menunjukkan keterbukaannya dan bersahabat dalam menjalani wawancara pada siang itu.

Bang I adalah seorang suami dari kak F. Paras wajahnya menunjukkan ia jauh lebih tua dari istrinya. Hal ini terbukti dari garis-garis keriputan di wajah sekitar mata dan pipinya yang menunjukkan ia seperti seseorang yang sudah berusia 45 tahun ke atas. Postur tubuh bang I juga lebih pendek dari kak F. dapat diperkirakan oleh peneliti, bang I memiliki tinggi sekitar 160 cm dan berat 53 kg.

Awal dilakukannya wawancara sama seperti yang sebelumnya dilakukan peneliti kepada kak F. Peneliti menjelaskan ulang mengenai tujuan dari wawancara yang akan dilakukan dan meminta izin kepada responden untuk menggunakan handphone sebagai alat perekam. Bang I tampak santai dengan posisi duduk menyandar ke dinding dekat pintu. Saat itu posisi duduk bang I dekat dengan pintu luar, sehingga agak sedikit terdengan suara orang-orang yang sedang berkumpul di halaman rumahnya ditambah lagi dengan adanya suara TV yang dihidupkan oleh anak responden. Dalam hal ini, peneliti mencoba untuk memahami setiap perkataan yang diucapkan oleh bang I. Bang I terlihat tidak keberatan untuk menceritakan seputar kehidupan pernikahannya, walaupun sebenarnya di hari itu masih banyak hal-hal yang belum terungkap dari bang I karena pembangunan rapport yang masih kurang baik dilakukan oleh peneliti sehingga dirinya masih sedikit menutupi seputar kehidupan rumah tangganya bersama sang istri.

Wawancara kedua kembali dilakukan dua minggu kemudian di rumah responden. Hari itu juga sama seperti sebelumnya, bang I mendapat giliran wawancara kedua setelah istrinya. Karena pada waktu itu bang I masih ada pekerjaan di rumah bibinya yaitu membangun dapur rumah sang bibi. Setelah menunggu sekitar 10 menit akhirnya bang I mendatangi peneliti. Bang I terlihat tidak bersih dan berkeringat, dengan kaos lengan panjangnya yang sedikit terkena olahan semen bangunan. Namun hal itu tidak menurunkan semangat bang I melakukan wawancara. Hari itu baru selesai hujan, sehingga kondisi di dalam rumah sedikit lebih teduh. Bang I menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang

diajukan dengan cara menjawabnya yang masih terbata-bata. Saat peneliti bertanya mengenai hal-hal yang terjadi 2 minggu belakangan ini dengan antusias bang I menjawab dan menceritakan peristiwa yang terjadi kepada peneliti. Sesekali bang I diam saat ditanya dan mencoba untuk mengingat kembali masa-masa yang telah lalu yang ia jalankan dalam kehidupan rumah tangganya. Hari itu wawancara berjalan selama kurang lebih 45 menit.

Wawancara ketiga dilakukan ditempat yang sama juga yaitu rumah responden, tepatnya di ruang tamu. Kali ini sedikit berbeda dari hari-hari yang sebelumnya, karena tanpa diduga sang istri (kak F) tiba-tiba ikut bergabung dalam wawancara itu. Sebelumnya, bang I masih terlihat baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya membangun dapur rumah sang bibi. Namun kondisi fisik bang I tampak terlihat lebih bersih dari minggu sebelumnya.

Saat wawancara berlangsung bang I menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti, tanpa canggung ataupun terganggu karena adanya sang istri di sebelahnya. Sesekali kak F menggoda bang I saat ia hendak menjawab pertanyaannya. Dengan posisi duduk bersender di atas lantai tanpa tikar, bang I dengan santai dan masih sedikit terbata-bata menceritakan kembali kisah kehidupan pernikahannya, bahkan ia juga mengulang beberapa jawaban yang dilontarkannya pada wawancara sebelumnya. Wawancara tersebut berlangsung selama 55 menit dan pada pertengahan sesi tersebut kak F pun menyerah dari tempat duduknya dan berjalan ke luar rumah meninggalkan peneliti dan responden. Hari itu wawancara berakhir dengan lancar.

Secara umum, bang I memiliki kekhasan dalam menjawab pertanyaan dari penelitii. Ia terkesan gugup ketika sesi wawancara dimulai sehingga memperlihatkan gaya berbicara yang agak sedikit terbata-bata. Hal ini terlihat jelas ketika dalam keadaan santai ia terlihat lancar berbicara, namun berbeda saat sesi wawancara dilakukan. Akan tetapi, seiring perjalanan waktu rasa gugup bang I berkurang. Hal ini terlihat saat sesi wawancara kedua dan ketiga dimana ia sudah terlihat lebih santai dalam menjawab setiap pertanyaan dari peneliti, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa kesan gugup yang ditunjukkan bang I masih sedikit terlihat.

d. Data wawancara pasangan I (Kak F dan Bang I)

1) Latar belakang kehidupan pernikahan dan konflik-konflik yang terjadi pada pasangan I

Sekitar 16 tahun yang lalu, bersatulah sepasang kekasih dalam sebuah ikatan pernikahan yang sakral di Perbaungan, Serdang Bedagai. Sang suami bernama Bang Indra (bang I) dan sang istri bernama Kak Fina (kak F). Saat itu bang I sudah menginjak usia yang cukup matang untuk menikah, yaitu usia 33 tahun saat ia mempersunting kak F yang baru memasuki tahap perkembangan dewasa awal yaitu berusia 21 tahun. Bang I merupakan anak ke 3 dari 9 bersaudara yang berasal dari suku Jawa. Ia lahir dan dibesarkan di Perbaungan dengan keluarga yang berkecukupan, dimana untuk makan dan sekolah tidak perlu dikhawatirkan oleh bang I karena sang ayah mampu untuk membiayai semua kebutuhan anak-anaknya. Berbeda dengan kak F yang merupakan anak ke 3 dari 6 bersaudara

yang berasal dari suku Batak Mandailing. Ia adalah anak perempuan yang paling besar di keluarganya. Ia hidup hanya dengan dibesarkan oleh sang ibu. Saat masih kecil, ayah kak F meninggal dunia karena suatu penyakit. Kehidupannya pun sangat memprihatinkan, ibunya hanya bisa mencukupi kehidupan untuk makan mereka sehari-hari. Namun untuk sekolah, kak F harus mencari uang sendiri untuk membiayai sekolahnya. Oleh karena itu, tidak heran jika ia hanya bisa bersekolah sampai sebatas tingkat SMP.

Sebelum menikah, baik bang I maupun kak F sama-sama sudah bekerja. Bang I bekerja di showroom mobil Capella Medan dan kak F bekerja di pabrik Kompeksi Tekstil di Perbaungan. Saat itu keduanya memiliki penghasilan tetap sehingga tidak membuat ibu kak F ragu untuk menerima pinangan bang I menikahi putrinya, kak F.

“…….saat pertama nikah bang I memang uda kerja. Kerjanya di showroom

mobil Kapela, jual-jual mobil baru gitu kan”

(RA.W3/b.1184-1188/hal 23-24)

“…….sebelum kawin itu kakak uda kerja…..”

(RA.W3/b.1213-1214/ hal 24)

Sebenarnya bang I tidak mengizinkan kak F bekerja ketika mereka sudah menikah. Karena ia merasa bahwa setelah menikah suami lah yang bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya. Terlebih lagi saat itu bang I sudah memiliki pekerjaan tetap. Akan tetapi kak F tetap ingin melanjutkan pekerjaannya sebagai buruh pabrik tekstil, mengingat mereka belum memiliki anak pada saat itu.

“…..cuma dia itu kan nyuruh kakak kalau nanti setelah kawin kakak disuruh berhenti kerja. Waktu itu kan dia masih kerja. Jadi kakak bilang nanti lah kalau uda punya anak. Kalau sekarang ini kan awak masih sendiri, jadi

(RA.W3/b.1214-1222/hal 24)

Awal kehidupan pernikahan, keduanya tampak mesra dan mengaku tidak ada keributan yang terjadi. Saat itu pasangan ini masih tinggal bersama ibu kak F. Setiap pagi keduanya sibuk untuk bersiap-siap berangkat kerja. Sore hari keduanya bertemu kembali di rumah, namun terkadang bang I pulang kerja hingga malam hari sehingga intensitas bertemu keduanya tidaklah sesering pasangan lain pada umumnya. Akan tetapi hal ini tidak menjadikan masalah pada keduanya saat itu.

“Kalau abang fikir ya biasa-biasa aja saat awal menikah. Ya gimana ya

masih romantisnya…..lantaran gini, pagi kerja ya kan waktu itu. Sore kak F

pulang kerja dan abang waktu kerja di medan itu pulang malam. Ya malam uda pulang dia ya uda tidur kadangnya kan. Nanti bangun ya nyediakan makanan kan, makan lah abang kan. Ya uda gitu ya ngobrol-ngobrol aja gitu. Makanya saat itu ya biasa-biasa aja abang bilang”

(RB.W3/b.782-794/hal 15-16)

Setelah kurang lebih 7 bulan menikah, kabar gembira muncul dalam kehidupan pernikahan mereka. Kak F dikabarkan hamil dan saat itu mereka masih tinggal bersama ibu kak F. Setelah mencapai usia kandungan 7 bulan, akhirnya pasangan ini memutuskan untuk pindah ke rumah bibi bang I yang sebenarnya masih di daerah yang sama yaitu Gg.Manggis, Perbaungan. Alasan pasangan ini pindah adalah karena dekat dengan keluarga dari bang I, dimana di wilayah tersebut para tetangganya adalah keluarga besar dari bang I sendiri. Pertimbangan lainnya adalah lebih mempermudah untuk persalinan kak F kelak.

“…..uda 7 bulan kakak hamil barulah kakak pindah ke rumah bibi bang I di

sebelah rumah kakak ini…”

Tetapi kebahagian menanti kelahiran anak pertama ini diiringi dengan kesedihan dari kak F, karena beberapa bulan setelah dirinya dikabarkan hamil pasangan ini harus menerima kenyataan bahwa bang I tidak bekerja lagi di showroom mobil tempat ia bekerja sebelumnya. Ia di PHK karena saat itu terjadi krisis moneter sehingga mobil-mobil yang hendak diproduksi tidak masuk ke kantor mereka dan terjadi pengurangan karyawan. Saat itu juga bang I tidak memiliki pekerjaan tetap dan hanya bekerja serabutan. Tugas untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga pun telah diambil alih oleh kak F. Walaupun hamil, ia masih tetap bekerja mengumpulkan uang untuk biaya hidup dan melahirkan meskipun saat itu mereka tinggal bersama sang bibi. Saat-saat inilah mulai muncul berbagai masalah dalam kehidupan rumah tangga kak F dan bang I.

“waktu itu dia gak kerja loh….”

(RA.W3/b.1170-1171/hal 23)

“kakak saat itu ya biasa aja, mau gimana lagi coba. Maksudnya kalau

dibilang marah atau kesal ada tapi gak sampai kakak marah kali ke dia atau gimana gitu. Karena rasanya saat itu kakak kan kerja lagian kebutuhan saat

itu kan gak banyak kali”

(RA.W3/b.1173-1180/hal 23)

“Iya, jadi sebenarnya gini, karena saat itu lagi krisis susah lah mobil masuk kan. Otomatis gak ada penjualan itu kan. Ya kalau gak ada penjualan gak begaji lah abang. Saat-saat kak F hamil lah krisis itu terjadi. Jadi istilahnya selama itu abang gak nentu di sana. Makanya abang uda sedikit penghasilan dari sana. Uda rasanya berhenti kerja gitu. Tapi abang masih datang-datang kesana lihat-lihat mana tau ada kerjaan kan”

(RB.W3/b.995-1007/hal 20)

Kabar bahwa bang I sudah tidak memiliki pekerjaan juga sampai di telinga ibu kak F. Saat itu ibu kak F tidak bisa mengatakan apa-apa selain merasakan kekesalan kepada bang I. Ibu merasa kesal karena sebelum menikahi anaknya,

bang I masih memiliki pekerjaan dan yakin bisa memenuhi kebutuhan hidup anaknya. Sebagai orang Batak, ibu kak F begitu mengharapkan anaknya dapat hidup layak dalam berumah tangga. Tidak ingin melihat anaknya susah, sang ibu pun membantu bang I mencari pekerjaan agar bisa membiayai kehidupan mereka.

“Kalau mamak kakak ya cemana lah ya. Kecewa pasti lah. Mau gimana ya,

dicarikan kerja pun dimana. Terus juga mamak kakak itu jadinya kalau misalnya kami bertengkar ya mamak kakak gak bisa bilang apa-apa….”

(RA.W3/b.1290-1296/hal 26)

Setelah kelahiran anak pertama, kak F terus melanjutkan pekerjaannya sebagai buruh di pabrik tekstil sementara bang I masih belum mendapatkan pekerjaan tetap. Muncul rasa enggan pada sang bibi karena sering membantu menjaga anak mereka, sehingga kak F pun turut serta meringankan beban sang bibi dengan membantu menyediakan keperluan-keperluan dapur dan pribadi serta membantu sang bibi saat ia sedang berada di rumah. Berbeda dengan yang dilakukan bang I, ia tidak mau mencoba membantu meringankan pekerjaan sang bibi saat berada di rumah. Bang I memiliki prinsip bahwa hidup adalah takdir dan jika itu sudah takdirnya maka apapun yang kita lakukan tidak akan merubah takdir tersebut, disamping itu juga bang I menganggap dirinya adalah kepala rumah tangga dan tidak seharusnya melakukan pekerjaan rumah tangga. Prinsip yang berbeda ini terkadang membuat kak F merasa kesal kepadanya. Sayangnya kekesalan tersebut terpaksa dipendam karena enggan dengan sosok sang bibi.

“Sementara di rumah kan dia gak bisa momong anak kakak kan. Jadi bibi

lah yang momong. Setidaknya kalau uda bibi yang jaga ya setidaknya kita kasih uang kayak sabun mandi, perlengkapan-perlengkapan dasar itu lah. Nah sementara dia gak ngerti itu, karena tinggal di tempat bibinya sendiri dan bibi juga gak minta. Kalau kakak gak kayak gitu dah, kalau bisa kan

pengertian kita sendiri. Jadi kakak dua anak kakak di momongin sama bibi gak ada lah muncul konflik antara kakak sama bibi. Karena kita juga ngertilah, kita dibantu dan setidaknya juga membantu. Kayak awak di rumah misalnya lagi gak kerja, ada nampak kerjaan di rumah yang belum beres ya awak kerjai, awak bantu-bantu juga kan. Kalau kakak kayak gitu. Kalau bang I gak, pagi pun dia bukannya mau ngerti bantu malah tidur aja. Sementara anaknya nanti bibi juga yang jaga. Padahal dia kan gak kerja. Ya setidaknya ya bantu jaga lah, jangan bibi juga yang jaga, kan gak enak ya

kan…..”

(RA.W3/b.1381-1410/hal 27-28)

Menurut kak F sikap bang I yang seperti itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena latar belakang dirinya sebagai orang Jawa yang selalu pasrah terhadap takdir Tuhan. Setelah kelahiran anak pertama, ternyata kehidupan pasangan ini tidak mulus begitu saja. Kira-kira 1 tahun usia anak pertama, pasangan ini mendapat ujian besar. Bagaikan telur diujung tanduk, perceraian hampir saja terjadi pada pasangan ini. Masalah yang terjadi berawal dari hal yang sederhana yaitu kak F tidak diizinkan sang suami untuk nginap di rumah orang tuanya saat setelah acara pernikahan abangnya di Siantar. Namun begitu kak F merasa bahwa sang suami tidak sewajarnya bersikap demikian lantaran sang ibu masih membutuhkan bantuannya untuk membenah rumah yang masih berantakan.

Dokumen terkait