BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
4. Responden IV
Nama : Ridho (bukan nama sebenarnya)
Usia : 23 tahun
Agama : Kristen
Pendidikan : S1
Urutan dalam keluarga : anak ke 2 dari 3 bersaudara
Status : belum menikah
b. Jadwal Pelaksanaan Wawancara
No Tanggal Wawancara Waktu Wawancara Tempat Wawancara
1 29 Oktober 2010 15.20 WIB – 16.23 WIB Kantin 2 6 Desember 2010 15.45 WIB – 16.30 WIB Kantin c. Data Observasi
Sebelum melakukan wawancara pertama, beberapa kali peneliti dan Ridho sudah sering membuat janji untuk ketemu. Tetapi, dikarenakan kesibukan Ridho yang sedang menyelesaikan program D3-nya, pertemuan ini sering sekali batal. Akhirnya, setelah sempat tertunda selama kurang lebih 3 minggu, wawancara pun dapat dilakukan.
Wawancara dilakukan di kantin yang sama dengan tempat perjumpaan peneliti dengan adiknya, Rizky. Sore hari itu, Ridho datang bersama seorang temannya. Setelah duduk, Ridho mengeluarkan barang-barang dari kantongnya seperti hp, rokok dan mancis. Dengan menggunakan kaos oblong berwarna hitam, celana jeans berwarna biru serta sandal jepit, Ridho terlihat
sangat santai. Diperkirakan oleh peneliti, Ridho memiliki tinggi sekitar 168 cm dengan berat sekitar 60 kg. Sama seperti Rizky, Ridho juga mempunyai nada bicara yang khas, dikarenakan kurang bisa melafalkan huruf “R”.
Selama proses wawancara, Ridho bersikap sangat santai. Setiap jawabannya selalu diselingi dengan canda dan tawa. Suara tawanya yang menggelegar cukup memeriahkan suasana yang cukup sunyi di kantin itu. Selama proses wawancara, rokok tidak pernah lepas dari tangannya. Kepulan-kepulan asap ikut menemani selama proses wawancara terjadi. Ridho selalu tampak bersemangat dalam menceritakan pengalaman-pengalaman yang ia rasakan bersama kembarannya.
Wawancara kedua terjadi sekitar satu setengah bulan kemudian. Hal ini dikarenakan kesibukan dari Ridho yang sedang menyiapkan tugas akhir untuk menyelesaikan program D3 nya. Proses wawancara pada sore hari itu masih dilakukan di tempat yang sama. Suasana hari itu masih sama sunyinya dengan suasana pada wawancara pertama. Hal ini mungkin dikarenakan hari yang sudah sore.
Sikap Ridho pada hari itu sama seperti sikap yang ia tunjukkan pada saat wawancara pertama. Suara tawanya masih sering memeriahkan suasana sore hari itu. Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab peneliti selalu dijawab dengan panjang lebar. Terkadang, ia menyelipkan candaan dalam setiap jawabannya. Kepulan-kepulan asap masih ikut menemani suasana wawancara saat itu. Sesekali, ia mengetukkan tangannya ke atas meja sembari menjawab pertanyaan. Proses wawancara pada sore hari itu berjalan dengan lancar.
d. Data Wawancara
(1) Latar Belakang Keluarga
Kelahiran Ridho dan Rizky di Medan sekitar 23 tahun yang lalu, bisa dibilang merupakan suatu ketidak sengajaan. Pada hari itu, seharusnya orang tua mereka berdua masih berada di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tapi ternyata, orang tua mereka berdua mendapat kabar bahwa sang kakek dalam keadaan kritis. Kabar buruk itu yang membuat kedua orang tuanya harus terbang ke Medan, walau sang ibu dalam keadaan hamil tua. Siapa yang sangka kalau ternyata setelah sampai di Medan, sang ibu masuk rumah sakit dan harus melakukan proses kelahiran. Tak lama setelah kelahiran Ridho dan Rizky, kira-kira sekitar dua hari kemudian, sang kakek pun meninggal.
Ridho dan Rizky hidup dan tumbuh di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ayahnya adalah seorang PNS, sedangkan sang ibu merupakan seorang ibu rumah tangga biasa. Selayaknya anak-anak kecil pada umumnya, mereka selalu saja bermain bersama teman-teman sebayanya. Keduanya selalu pergi dan pulang bermain bersama. Ridho dan Rizky kecil mempunyai hubungan yang sangat akrab.
Ridho dan Rizky adalah sepasang anak kembar. Tak jarang, banyak perlakuan yang sama yang diberikan oleh orang tua dan keluarga dekat lainnya. Tak hanya perlakuan yang sama yang diberikan kepada mereka berdua. Kedua abang adik ini pun sering mendapatkan barang-barang yang sama. Ketika mereka berdua masih kecil, tentu saja hal ini tidak pernah menjadi masalah.
”.. Baju, kadang-kadang sama kalo kayak di beli baju sama orang tua sama..”
(R3. W1 / b. 19-21 / hal 1)
“..apapun disamakan, mulai dari pakaian, perlakuan, ee.. itu aja si kayakanya.. cuma untuk pakaian kan masih kecil.. Kita ngomongin dari kecil dulu, fokusnya sama mau pakaian, mau perlakuan sama..”
(R4. W1 / b. 14-21 / hal 1)
Perlakuan sama yang diberikan oleh orang tua dan keluarga dekatnya, sering sekali membuat keduanya merasa tidak nyaman. Rasa malas pun mulai timbul karena mereka berdua selalu saja disamakan oleh keluarga-keluarga dekatnya. Rizky sendiri dalam hal ini mengakui bahwa dia tidak merasa senang kalau harus selalu disamakan dengan Ridho. Masih berasal dari pengakuan Rizky, Ridho juga kurang menyukai persamaan-persamaan yang diberikan keluarganya kepada mereka berdua.
”..kalo aku sih sebenarnya malas kalo harus sama.. tapi ya karena keadaan aku sering disama-samain.. tapi rata-rata emang males sih.. si Ridho juga males..”
(R3. W1 / b. 32-27 / hal 1-2)
Sewaktu kecil, Ridho dan Rizky mempunyai hubungan yang sangat akrab. Saat SD mereka selalu bermain dan berkumpul bersama-sama. Kedekatannya sewaktu kecil ini membuat mereka merasakan pengalaman yang unik. Pengalaman-pengalaman yang mereka rasakan ini adalah pengalaman yang biasanya khas ditemui pada anak kembar. Orang awam umumnya mengatakan hal itu sebagai fenomena anak kembar. Salah satu fenomena kembar yang dirasakan oleh Rizky adalah ketika mereka berdua berbicara dengan bahasa
yang kurang bisa dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. Komunikasi yang dilakukan keduanya hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua dan ibunya. Di lain pihak, Ridho menceritakan pengalaman lain yang dirasakannya sebagai anak kembar. Ridho selalu bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Rizky. Apabila Rizky menangis, secara otomatis Ridho juga bisa menangis, walau mereka sedang berada di tempat yang berbeda.
“..Misalnya dia nangis dimana gitukan, aku juga ngerasain..nah.. itu pas SD.. itu sampe SMP lah aku rasain, pokoknya semenjak SMA udah gak lagi ngerasain kayak gitu..”
(R4. W1 / b. 193-198 / hal. 5)
“dulu waktu masih kecil banget, mama sering, bisa gini.. misal aku ma Ridho pas belum bisa ngomong ya.. sering cakap ntah bahasa apa gak tau.. tapi yang ngerti cuma aku, Ridho sama mamak ku.. naah.. gitu aja sih.. kalo yang lain gak sih..”
(R3. W1 / b. 61-68 / hal. 2)
Keduanya tumbuh dan besar di Kupang, NTT. Tetapi saat memasuki masa SMA, orang tua Ridho dan Rizky diharuskan pindah tugas ke Medan. Karena alasan itulah akhirnya mereka berdua tinggal di Medan sampai sekarang. Setelah pindah ke Medan, hubungan keduanya pun mulai berubah. Ridho dan Rizky tidak lagi seakrab dulu. Mereka berdua mulai pergi dan jalan sendiri-sendiri. Keakraban mereka di saat kecil sudah mulai berkurang. Untuk bertemu saja, terkadang mereka tidak bisa. Keduanya sekarang lebih sering menghabiskan waktu untuk ngumpul bersama teman-temannya.
”..jarang ketemu iya.. kayak itulah kalo bukan aku pasti Ridho yang pagi-pagi udah cabut, pulangnya selalu malam.. jadi kan paling-paling ketemunya ya kalo gak pagi ya malem-malem itu..”
“..dulu kenapa akrab kan, karna kan teman sepermainana.. jadi mau kemana-mana, kan kawan dia sama kawan ku sama tuh.. jadi mau kemana, main tuh sama dengan dia.. tapi semenjak.. SMA lah, kan kami pindah SMA kesini, dulu kami kan di Kupang.. pas udah SMA, ya kawannya udah laen, kawanku juga laen..”
(R4. W1 / b. 37-46 / hal. 2)
Hubungan keduanya pun mulai merenggang. Tidak pernah ada lagi waktu duduk bersama-sama dan saling bercerita. Mereka berdua juga jarang berada di rumah. Keduanya lebih memilih untuk berada diluar rumah, apabila mempunyai waktu luang. Hubungan yang mulai diantara keduanya mulai menimbulkan rasa segan. Menurut Rizky, rasa segan itu timbul karena sejak kecil mereka sering sekali berantem. Hal ini yang kemudian terbawa hingga sekarang, dan membuat hubungan keduanya menjadi renggang.
“..Iya, kayak yang tadi aku cerita juga.. dulu waktu kecil itu kan kami deket kali..jadi apa yang aku rasain sama dia ya ku rasain juga.. tapi mulai besar kayak gini emang udah agak renggang gitu lah..”
(R4. W1/ b. 181-186 /hal. 5)
“..karna kebawa waktu masih kecil gitu sering berantem kan jadi agak agak segan gitu.. Segen gimana ya.. hanya gak bisa curhat aja..sama abang tentang sesuatu yang mendalam atau apa gak pernah.. mungkin ya karena sering berantem waktu kecil itu jadi kerekam sampe sekarang.. kalo sekarang misal ketemu di jalan pun paling cuma nanya mau kemana aja..” (R3. W3 / b.1591-1603/ hal. 35)
(2) Faktor yang Mempengaruhi Proses Pemilihan Pasangan pada Kembar
Usia Ridho dan Rizky sudah berada pada tahap dimana mereka mulai dituntut untuk mencari pasangan hidup. Dipilih dan memilih yang terbaik,
bukan hanya sekedar mencari pasangan. Pemilihan pasangan adalah hal yang penting untuk dilakukan. Rizky sendiri menganggap ketika memilih pasangan, bukan hanya sekedar ada yang sesuai dengannya lantas bisa langsung bisa dijadikan pasangan. Memilih seseorang dan menjalin hubungan agar bisa berlanjut ke tahap serius itulah yang penting. Biasanya yang sekedar asal-asalan saja dalam memilih pasangan adalah orang yang hanya mau senang-senang saja. Di lain pihak Ridho, mengatakan bahwa memilih pasangan harus sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukannya. Kesesuaian kriteria itu perlu dilakukan agar hubungan terjalin dengan langgeng. Bukan putus nyambung, putus dan nyambung lagi.
“.. wajib sih kalo orang milih pasangan.. kan kita memilih kan sesuai dengan yang cocok ma kita, bukan ada cewek langsung jadi pacar kita, padahal kita, gaya hidupnya ma dia belum tentu cocok ma kita kan.. apa gak cocok kan gitu, makanya kenapa kita harus milih supaya hubungannya nanti gak.. emm.. apa langgeng lah, gak asal pacaran aja.. Kalo mungkin ada orang yang bilang gak terlalu penting memilih, hanya memilih berdasarkan fisik aja wajah cantik, ganteng mungkin hanya… seneng-seneng aja.. Jika kepengen hubungan yang panjang, ya terpakasa mesti milih yang betul-betul buat kita merasa nyaman, cocok.. gitu aja..”
(R3. W2 / b. 565-582 / hal. 13-14)
“..milih pasangan..penting sih..emang kalo dibilang penting..penting,, kan nyari kan maksudnya bukan asal dapat gitu..ntar kalo udah gak enak putus.. itu kan nyari nyari gampang kali.. ini maksudanya gimana ya, agak.. supaya gak terlalu ribet lah.. maksudnya ntar kalo udah jadian rupanya gak cocok, gak cocok nanti ujungnya putus lagi, gitu kan.. jadi bagusan kan, nyari yang sesuai dengan kriteria, jadi kan bisa.. maksudnya udah ada persiapan lah, kan udah gitu mau ku jadi ya aku dah bisa bayangin lah, nantinya gimana, kayak gitu..”
a) Latar Belakang Keluarga
Latar belakang keluarga dari pasangan sering sekali menjadi pertimbangan bagi setiap orang sebelum memilih pasangan. Ridho sendiri menganggap latar belakang dari keluarga pasangan adalah prioritas utama yang harus diperhatikan. Menurutnya, sebagai seorang pacar, sudah seharusnya ia mengenal seluruh anggota keluarganya. Dimulai dari orang tua, saudara bahkan hingga ke hobi dari pasangannya. Mengetahui dan mengenal silsilah dari keluarga pasangannya ditujukan agar Ridho bisa menjelaskan kepada orang tuanya.
“..masa aku jadian ma dia aku saudara-saudaranya gak ada yang ku kenal gitu kan.. hobinya dulu kayak gimana aku gak tau.. kan.. maksudnya gak mungkin juga nanti orang tua aku tuh nanyanya sama dia, pasti kan sama aku juga.. jadi kalo misalnya orang tua nanya aku jawab gak tau, kan nanti pasti bos aku juga ngerasa kalo ini gak jelas gitu kan.. pastinya ceweknya kayak gini-gini.. kan udah membangun persepsi lain jadinya untuk mereka.. jadinya kenapa aku harus tau.. biar aku bisa jelasin juga lah sama orang tua aku gimana..”
(R4. W2 / b. 753-770 / hal. 18-19)
Berbeda dengan abangnya, Rizky mengatakan bahwa latar belakang keluarga bukanlah prioritas utama untuknya. Lebih tepatnya diperhatikan, tapi tidak terlalu menjadi masalah untuknya. Bagi Rizky, yang paling penting adalah bagaimana sifat pasangannya nanti. Biasanya apabila ia sudah menyukai seseorang, ia tidak lagi memikirkan bagaimana latar belakang dari keluarga pasangannya. Baginya, ketika ia sudah menyukai seorang wanita, dan wanita itu juga menyukainya itu sudah cukup. Orang tuanya mungkin akan memperhatikan bagaimana latar belakang keluarga dari pasangannya, tetapi hal itu tidak menjadi prioritas utama bagi Rizky sendiri. Segala sesuatu
yang berhubungan dengan latar belakang keluarga pasangannya masih bisa dibicarakan dengan keluarga.
“..gak ada liat itu.. tapi kalo setelah, bukan memilih tapi ya.. cuma sekedar tau aja, iya.. Kalo sebelum sih cari tau latar belakang tapi bukan sebagai patokan utama sih..”
(R3. W1 / b. 208-212 / hal. 5)
“..Kalo biasanya kita udah suka sama cewek atau seseorang, kadang-kadang emang udah gak kita pikirkan bagaimana.. kecuali kalo misalnya latar belakang keluarganya udah kayak romeo dan Juliet yang udah berantem, ya udahlah (tertawa) itu emang gak mungkin.. trus kalo misal latar belakang orang tuanya yang kena masalah hukum misalnya.. kalo bagi aku sendiri sih gak terlalu ku pikirkan.. beda lah mungkin kalo orang tua aku ada pemikiran kesitu.. tapi kalo aku gak ada..”
(R3.W3/b.1136-1150/hal. 25)
1) Status Sosioekonomi
Status sosioekonomi sering sekali dikatakan sebagai pendukung dari terjalinnya hubungan ke arah yang lebih baik. Bagi Ridho dan Rizky, status sosioekonomi bukanlah jaminan hubungan akan berjalan lebih lama. Lebih lanjut Ridho mengatakan bahwa mau bagaimanapun status sosioekonomi pasangannya, kalau mereka sudah menikah, kehidupan sosioekonomi akan berada di tanganya. Menurut Ridho, masalah status sosioekonomi ini juga dikembalikan lagi kepada sikap keluarga masing-masing dalam menghadapinya. Kalau keluarga menuntut adanya persamaan status dengan pasangan, hal ini pun akan dipertimbangkannya kembali. Namun, bagi Ridho sendiri, status sosioekonomi dari pasangannya bukan masalah sama sekali.
“..Kalo ekonomi sih gak, karna ujung-ujungnya pun kalo aku nikah ma dia, aku yang bayarin (tertawa) ya kan? (tertawa) jadi kalo ekonomi sih gak terlalu..
(R4. W1 / b. 278-287 / hal. 7)
“..kalo yang itu sih.. semuanya tergantung orangnya tergantung keadaannya juga.. kalo pun misal kelas sosialnya sama tapi ada lah banyak pertentangan.. maksudnya kalo ada yang bilang kayak gitu itu terlalu pukul rata karna itu semua tergantung keadaan dan kembali kepada keluarga juga.. kalo misalnya kelas sosialnya berbeda tapi keluarganya menerima gapapa, tapi kalo misalnya kelas sosialnya sama tapi masih banyak pertentangan, kayaknya misalnya agama beda, suku beda, itu kan tergantung orang tua juga, kalo emang gak bisa ya tetap gak bisa juga..” (R4. W2 / b. 844-861 / hal. 20-21)
Rizky pun mengatakan hal yang sama. Menurutnya, status sosioekonomi dari pasangan bukanlah hal yang penting. Tidak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya untuk mencari pasangan yang status sosioekonominya lebih tinggi. Masalah ekonomi ini nantinya berhubungan dengan gengsi yang dimiliki oleh para pria dan bagaimana pandangan lingkungan terhadapnya. Ada kalanya juga, lingkungan akan memandang negatif apabila pihak perempuan memiliki status sosioekonomi yang lebih tinggi daripada pria. Namun, walaupun begitu ada sedikit terbersit keinginan dari Rizky untuk memilih pasangan yang mempunyai status sosioekonomi yang sama untuk mencegah pandangan negatif dari lingkungan di sekitarnya.
“..minimal itu bisa sama ato cowoknya yang lebih tinggi.. karena itu masalah gengsi cowok.. gengsi cowok sama memang pandangan masyarakat kita seperti itu..”
(R3.W3/b.13260-1331/hal. 29)
“..Kalo si istri lebih tinggi penghasilannya, em.. emang pandangan masyarakat Indonesia juga yang negatif.. kalo misalnya ceweknya yang lebih tinggi, pasti ada yang berpikiran ni cowok pake guna-guna ya kan.. cowok kok bisa.. pokoknya hal-hal negatif yang bisa mempengaruhi si cewek.. gitu aja.. makanya kalo.. makanya kalo terpaksa.. karena faktor lingkungannya juga sih yang buat kayak gitu.. kalo cowok yang harus lebih tinggi, minimal sama..”
(R3.W3/b. 1334-1348/ hal. 29-30)
2) Pendidikan dan Inteligensi
Mempunyai pasangan dengan latar belakang pendidikan yang sama adalah tuntutan dari orang tuanya. Untuk hal ini, Ridho dan Rizky menyanggupi permintaan orang tuanya tersebut. Bagi Ridho sendiri, pendidikan juga merupakan hal yang sangat ia pertimbangkan sebelum memilih pasangan hidup. Dengan mempunyai pasangan yang latar belakang pendidikan sama, Ridho percaya bahwa ia dan pasangan lebih mempunyai pemikiran yang sama dalam menghadapi suatu permasalahan. Ada kekhawatiran sendiri dari dirinya, apabila pasangannya nanti hanya tamatan SMA, atau lebih rendah daripada itu. Ridho takut kalau nantinya ia dan pasangannya mendapat masalah dan mengakibatkan hubungannya berakhir. Alasan itulah yang membuat Ridho lebih memilih pasangan dengan minimal pendidikan D3, sama seperti dirinya.
“..karna gini, kalo menurut aku kan kalo yang tamatan SMA, kuliah gitu pemikirannya pasti beda gitu kan.. kalo pendidikan yang SMA gitu kan, bukannya aku bilang bodoh atau gimana kan, tapi takutnya gak sejalan, gak nyambung gitu.. jadi bagusnya ada kuliah, ada titelnya, jadi lebih sejalan lah..”
(R4. W2 / b. 1203-1211 / hal. 28)
Rizky pun memiliki pandangan yang sama mengenai pendidikan. Pendidikan adalah hal penting untuknya ketika akan memilih pasangan. Ada perasaan gengsi di dalam dirinya apabila pasangannya tidak berlatar belakang pendidikan yang sama dengannya. Selain karena gengsi dan tuntutan dari
orang tua, pendidikan menjadi hal yang penting karena semakin tinggi jenjang pendidikan yang dimiliki seseorang, pemikirannya pun akan semakin luas. Hal ini pun berlaku sebaliknya, apabila pendidikannya rendah, maka pemikirannya pun akan lebih sempit.
“..Bisa dibilang gengsi juga kali ya (tertawa)” (R3.W3/b. 1175-1176/hal. 26)
“..Loh? Gengsi kenapa?..” (peneliti)
“..Kita udah kuliah S1.. apalagi kalo cewek wajib lah minimal pacarnya setara atau lebih tinggi kan kalo cewek.. kalo aku ya gitu juga pemikirannya..”
(R3.W3/b. 1178-1182/hal.26)
“..Kalo itu emang udah dari dulu.. bos cewek la yang bilang.. ya karena aku udah kuliah, minimal cari cewek itu ya yang D3 atau S1 dan memang ku iyakan.. karena pemikiran kita kan semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang kan semakin luas, semakin terbuka pikirannya.. kalo pendidikannya yang dibawahnya.. ya pemikirannya ya agak.. apa.. ya gak mau kebuka eh terbuka lebar gitu pemikirannya..”
(R3.W3/b. 1184-1196/ hal. 26)
3) Usia
Usia dari pasangan juga menjadi pertimbangan setiap orang dalam memilih pasangan. Kebanyakan pria akan lebih memilih pasangan yang mempunyai usai lebih muda daripadanya. Sama halnya dengan apa yang diharapkan oleh Rizky dan Ridho. Keduanya lebih memilih pasangan yang usianya lebih muda, atau maksimal seumuran dengannya. Tetapi, kalau nanti pasangannya berusia lebih tua, mereka berharap perbedaan usia itu hanya berselisih dua tahun saja. Walau sebenarnya, usia pasangannya nanti tidak terlalu menjadi masalah bagi mereka berdua. Untuk Rizky sendiri, dia
menganggap berapapun usia pasangannya nanti, yang paling penting pasangannya tidak bersikap kekanak-kanakan.
“...maksimal seumuran lah.. kalo harus yang lebih tua, maksimal 2 tahun diatas, tapi lebih bagus kalo dapat yang lebih muda..”
(R4. W2 / b. 1221-1224 / hal. 29)
“..Em.. kalo usia usia mungkin.. kalo dia lebih tinggi.. kalo sebenarnya sampe sekarang aku gak mau kalo lebih tinggi, tapi kalo alasannya kenapa aku sendiri gak tau kenapa.. tunggu ya berpikir dulu (tertawa) kalo aku sendiri sih jujur gak terlalu masalah kali.. kalo dianya lebih tua 1 atau 2 tahun sih gak masalah, tapi kalo sampe 5, 7 tahun akunya yang gak mau (tertawa) gapapa sih kalo lebih tua tapi itu aja.. asal beda 1, 2 tahun aja.. yang paling penting cara berpikir dia sih.. cara berpikir pasangannya.. jangan kekanak-kanakan..”
(R3.W3/b.1379-1395/ hal. 30-31) 4) Agama
Agama juga merupakan salah satu pertimbangan yang paling penting sebelum memilih pasangan. Orang tua mereka berdua juga menginginkan anaknya mempunyai pasangan dengan latar belakang agama yang sama. Rizky sependapat dengan hal ini. Alasan lainnya, orang tua Rizky, khususnya sang ibu, adalah orang yang sangat taat dalam beribadah. Dalam beberapa hal mungkin Rizky sering mengecewakan ibunya, karena itulah ia berusaha untuk tidak mengecewakan ibunya dalam untuk masalah ini. Selain karena tuntutan orang tua, Rizky pun menganggap bahwa agama memang faktor yang penting sebelum memilih pasangan.
“..Kalo agama ini pertama ke orang tuaku dulu aja.. karena memang apalagi khususnya bos cewek betul-betul taat jadi agak ini.. apa namanya.. gak mau.. ada mungkin beberapa bagian yang gak papa ku kecewain bos cewek.. tapi untuk yang ini jangan..”
Sedikit berbeda dengan apa yang diinginkan oleh adiknya, Ridho menganggap bahwa agama tidak menjadi permasalahan bagi dirinya. Selama mereka berdua saling menyukai, agama dari pasangannya tidak terlalu menjadi masalah. Agama ini kemudian baru akan menjadi pertimbangan bagi dirinya, apabila orang tua menginginkannya mempunyai pasangan dengan agama yang sama. Dibalik itu semua, Ridho tetap menganggap agama tidak menjadi permasalahan yang penting untuknya.
“..Kalo agama sendiri, jujur sih gak terlalu masalah, kalo aku pribadi.. tapi kalo untuk dibawa ke orang tua nanti kurang tau.. apa pendapat orang tua nanti kalo beda agama, tapi kalo aku pribadi gak masalah.. yang penting