BAB 1 PENDAHULUAN
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.2. Bagi Responden
1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran USU yang mengalami GERD, namun belum didiagnosa.
2. Hasil penelitian ini juga diharapkan, dapat menambah pengetahuan dan wawasan ilmiah bagi mahasiswa tentang GERD.
3. Dapat digunakan sebagai panduan dan infomasi kepada penelitian-penelitian selanjutnya tentang profil gejalaGERD di Indonesia, khususnya Sumatera Utara.
BAB 2
TINJAUAN PUTAKA
2.1 Definisi
GERD (Gastroesofageal Reflux Disease) adalah refluks gastroesofageal mengacu pada aliran mundur asamdari lambung naik ke kerongkongan. Orang-orang akan mengalami mulas, juga dikenal sebagai gangguan pencernaan asam, bila berlebihan jumlah asam refluks ke kerongkongan. Kebanyakan orang menggambarkan mulas sebagai perasaan terbakar nyeri dada, terlokalisasi di belakang dada yang bergerak ke arah leher dan tenggorokan.Beberapa bahkan mengalami rasa pahit atau asam asam di belakang tenggorokan. Pembakaran dan tekanan gejala sakit maagdapat berlangsung selama dua jam dan sering menjadi parah dengan makan-makanan. (American College of Gastroenterology,2013) 2.2 Epidemiologi
Sudah sejak lama prevalensi GERD di Asia dilaporkan lebih rendah dibandingkan dengan di negara-negara Barat. Namun, banyak penelitian pada populasi umum yang baru-baru ini dipublikasikan menunjukkan kecenderungan peningkatan prevalensi GERD di Asia. Prevalensi di Asia Timur 5,2%-8,5%
(tahun 2005-2010), sementara sebelum 2005 2,5%-4,8%; Asia Tengah dan Asia Selatan 6,3%-18,3%, Asia Barat yang diwakili Turki menempati posisi puncak di seluruh Asia dengan 20%. Asia Tenggara juga mengalami fenomena yang sama di Singapura prevalensinya adalah 10,5%, di Malaysia insiden GERD meningkat dari 2,7% (1991-1992) menjadi 9% (2000-2001), sementara belum ada data epidemiologi di Indonesia (Jung, 2009), (Goh dan Wong, 2006). Di Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI-RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta didapatkan kasus esofagitis sebanyak 22,8% dari semua pasien yang menjalani endoskopi atas indikasi dispepsia (Makmun, 2009).
2.3 Penyebab-penyebab GERD
Menurut American College of Gastroenterology asam diproduksi di perut setiap hari.Biasanya, sejumlah kecil asam masuk ke dalam kerongkongan melalui katup antara kerongkongan dan perut yang disebut lower esophageal
sphincter.Ketika frekuensi atau jumlah asam dalam kontak dengan peningkatan kerongkongan anda, gejala dan kerusakan anda esofagus dapat terjadi.
Penyebab umum atau pemicu mulas : 1. Kehamilan
2. Makanan lemak
3. Aus tomat (spaghetti & pizza) 4. Berbaring setelah makan 5. Coklat, peppermint 6. Kopi dan teh 7. Merokok
8. Alkohol dan minuman berkarbonasi
9. Beberapa obat-obat tenang otot dan tekanan darah 10. Kelebihan berat badan
2.4 Manifestasi Klinik
Gejala klinik yang khas dari GERD adalah nyeri/rasa tidak enak di epigastrium atau retrosternal bagian bawah.Rasa nyeri biasanya dideskripsikan sebagai rasa terbakar (heartburn), kadang-kadang bercampur dengan gejala kesulitan menelan makanan, mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah.Walau demikian derajat berat ringannya keluhan heartburn ternyata tidak berkolerasi dengan temuan endoskopik.Kadang-kadang timbul rasa tidak enak retrosternal yang mirip dengan keluhan pada serangan angina pectoris.Disfagia (kesulitan menelan makanan) timbul saat makanan padat mungkin terjadi karena striktur atau keganasan yang berkembang dari Barnett’s esophagus. Odinofagia (rasa sakit pada waktu menelan makanan) bias timbul jika sudah terjadi ulserasi esofagus yang berat.
GERD dapat juga menimbulkan manifestasi gejala ekstra esofageal yang atipik dan sangat bervariasi mulai dari nyeri dada non-kardiak, suara serak, laringitis, batuk karena aspirasi sampai timbulnya bronkiektasis atau asma (Makmun 2009).
Selain itu, beberapa penyakit paru dapat menjadi faktor pilihan untuk timbulnya GERD karena timbulnya perubahan anatomis di daerah
gastroesophageal high pressures zone akibat penggunaan obat-obatan yang menurunkan tonus LES(lower esophageal spincter) misalnya teofilin.
Gejala GERD biasanya berjalan perlahan-lahan, sangat jarang terjadi episode akut atau keadaan yang bersifat mengancam nyawa.Oleh sebab itu, umumnya pasien dengan GERD memerlukan penatalaksanaan secara medik (Makmun 2009).
2.5 Diagnosis
Di samping anamnesis dan pemeriksaan fisik yang seksama, beberapa pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis GERD, yaitu:
1. Endoskopi
Dewasa ini endoskopi merupakan pemeriksaan pertama yang dipilih oleh evaluasi pasien dengan dugaan GERD.Namun harus diingat bahwa GERD tidak selalu disertai kerusakan mukosa yang dapat dilihat secara mikroskopik dan dalam keadaan ini merupakan biopsi.Endoskopi menetapkan tempat asal perdarahan, striktur, dan berguna pula untuk pengobatan (dilatasi endoskopi) (Makmun 2009).
Tabel 2.1. Klasifikasi Los Angeles Derajat
Kerusakan Gambaran Endoskopi
A Erosi kecil-kecil pada mukosa esofagus dengan diameter<5 mm B Erosi pada mukosa/lipatan mukosa dengan diameter >5mm tanpa
saling berhubungan
C Lesi yang konfluen tetapi tidak mengenai/ mengelilingi seluruh lumen
D Lesi mukosa esofagus yang bersifat sirkumferensi (mengelilingi seluruh lumenEsofagus)
2. Radiologi
Pemeriksaan ini kurang peka dan seringkali tidak menunjukkan kelainan, terutama pada kasus esofagitis ringan.Di samping itu hanya sekitar 25% pasien GERD menunjukkan refluks barium secara
spontan pada pemeriksaan fluoroskopi.Pada keadaan yang lebih berat, gambar radiologi dapat berupa penebalan dinding dan lipatan mukosa, tukak, atau penyempitan lumen (Makmun 2009).
3. Tes Provokatif
a. Tes Perfusi Asam (Bernstein) untuk mengevaluasi kepekaan mukosa esofagus terhadap asam. Pemeriksaan ini dengan menggunakan HCL 0,1% yang dialirkan ke esofagus. Tes Bernstein yang negatif tidak memiliki arti diagnostik dan tidak bisa menyingkirkan nyeri asal esofagus.Kepekaan tes perkusi asam untuk nyeri dada asal esofagus menurut kepustakaan berkisar antara 80-90% (Yusuf, 2009).
b. Tes Edrofonium. Tes farmakologis ini menggunakan obat endrofonium yang disuntikan intravena.Dengan dosis 80 µg/kg berat badan untuk menentukan adanya komponen nyeri motorik yang dapat dilihat dari rekaman gerak peristaltik esofagus secara manometrik untuk memastikan nyeri dada asal esofagus(Yusuf, 2009).
4. Pengukuran pH dan tekanan esofagus
Pengukuran pH pada esofagus bagian bawah dapat memastikan ada tidaknya RGE, pH dibawah 4 pada jarak 5 cm diatas SEB dianggap diagnostik untuk RGE. Cara lain untuk memastikan hubungan nyeri dada dengan RGE adalah menggunakan alat yang mencatat secara terus menerus selama 24 jam pH intra esofagus dan tekanan
manometrik esofagus. Selama rekaman pasien dapat memeberi tanda serangan dada yang dialaminya, sehingga dapat dilihat hubungan antara serangan dan pH esofagus/gangguan motorik esofagus.Dewasa ini tes tersebut dianggap sebagai gold standar untuk memastikan adanya GERD (Makmun 2009).
5. Tes Gastro-Esophageal Scintigraphy
Tes ini menggunakan bahan radio isotop untuk penilaian pengosongan esofagus dan sifatnya non invasif (Djajapranata, 2001).
6. Pemeriksaaan Esofagogram
Pemeriksaan ini dapat menemukan kelainan berupa penebalan lipatan mukosa esofagus, erosi, dan striktur (Makmun 2009).
7. Tes PPI
Diagnosis ini menggunakan PPI dosis ganda selama 1-2 minggu pada pasien yang diduga menderita GERD.Tes positif bila 75% keluhan hilang selama satu minggu.Tes ini mempunyai sensitivitas
75%(Yusuf, 2009).
8. Manometri esofagus
Tes ini untuk menilai pengobatan sebelum dan sesudah pemberian terapi pada pasien NERD.Pemeriksaan ini juga untuk menilai gangguan peristaltik/motilitas esofagus (Yusuf, 2009).
9. Histopatologi
Pemeriksaan untuk menilai adanya metaplasia, displasia atau keganasan. Tetapi bukan untuk memastikan NERD (Yusuf, 2009).
10. Kuesioner
Sistem skala FSSG dikembangkan di Jepang (Kusano dkk., 2004) dan banyak digunakan di berbagai negara di luar Jepang. FSSG terdiri dari 12 pertanyaan yang berhubungan dengan gejala-gejala yang tersering dialami oleh pasien, tidak hanya heartburn dan acid taste, tetapi juga gejala-gejala dispepsia seperti ’perut penuh’ dan ’merasa cepat kenyang’ (Bardhan dan Berghofer, 2007). Penelitian yang dilakukan oleh Ndraha di Rumah Sakit Koja Jakarta tahun 2010 menggunakan FSSG menunjukkan pasien GERD di RS tersebut memiliki mean FSSG yang tinggi, dimana gejala dismotiliti lebih dominan daripada refluks (Ndraha, 2010).
Kuesioner GERDQ, yang dikembangkan oleh Jones dkk., adalah termasuk kuesioner yang terbaru, yang diolah dari RDQ, Gastrointestinal Symptom Rating Scale (GSRS) dan Gastroesophageal Reflux Disease Impact Scale (GSIS).
GERDQ terdiri dari enam pertanyaan sederhana meliputi gejala refluks, dispepsia dan konsumsi obat untuk mengatasi gejala. Hasil penelitian tersebut
memperlihatkan bahwa GERDQ berpotensi sebagai alat bantu diagnostik GERD
bagi dokter umum dengan akurasi yang sama dengan diagnosis yang dibuat oleh gastroenterologist (Jones dkk, 2009).
Hasil studi yang dilakukan oleh berbagai institusi kedokteran dan rumah sakit di Jepang menemukan bahwa tidak ada perbedaan antara FSSG
dibandingkan dengan kuesioner QUEST (suatu kuesioner yang dikembangkan oleh Carlson dkk tahun 1998 dan banyak digunakan di Jepang) dalam hal
sensitivitas, spesifisitas dan akurasi pada dalam menegakkan diagnosis GERD, di mana ternyata skor FSSG merefleksikan keparahan gambaran endoskopi pasien-pasien tersebut (Danjo dkk, 2009).Menurut dr.Imelda Rey GERDQ lebih baik dibandingkan FSSG dalam hal sensitivitas, spesifisitas dan akurasi (berturut-turut sensitivitas,spesifisitas, akurasi dan nilai P FSSG vs GERDQ : 100%, 23,1%, 61,5%, 0,318 vs 100%, 73,8%, 86,9%, 0,001) (Buku abstrak, 2013).
2.6 Penatalaksanaan
1. Target penatalaksanaan GERD adalah (Makmun,2009):
a. Menyembuhkan lesi esofagus b. Menghilangkan keluhan c. Mencegah kekambuhan d. Memperbaiki kualitas hidup e. Mencegah timbulnya komplikasi
2. Beberapa langkah penatalaksanaan GERD terdiri dari (Makmun,2009):
a. Terapi konservatif
1) Meninggikan kepala sebanyak 15cm pada waktu tidur 2) Tidak makan 3 sampai 4 jam sebelum tidur
3) Hindari makanan yang memperburuk gejala refluks seperti kopi, coklat, bawang, minuman berkarbonat, alkohol dan produk tinggi lemak.
4) Berhenti merokok
5) Kurangi obat-obatan yang mempengaruhi lambung 6) Menggunakan antasida sesudah makan dan sebelum tidur
b. Terapi medikamentosa
Obat-obatan yang dapat digunakan dalam terapi medikamentosa GERD adalah:
1) Antasid
2) Antagonis reseptor H2
3) Obat-obatan prokinetik
4) Sukralfat (Aluminium hidroksida + sukrosa oktasulfat) 5) Penghambat Pompa Proton
c. Terapi Bedah
Terapi bedah merupakan terapi alternatif yang penting jika terapi medikamentosa gagal, atau pada pasien GERD dengan striktur berulang.Umumnya pembedahan yang dilakukan adalah fundoplikasi.
d. Terapi endoskopi
Terapi endoskopi pada pasien GERD, yaitu:
1) Penggunaan energi radiofrekuensi 2) Plikasi gastrik endoluminal
3) Implantasi endoskopis, yaitu dengan menyuntikkan zat implandi bawah mukosa esofagus bagian distal, sehingga lumen esofagus bagian distal menjadi lebih kecil.
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep
Gambar 3.1. Kerangka Konsep 3.2 Definisi Operasional
3.2.1 GERD
Definisi : Penyakit Refluks Gastroesofageal (GERD) adalah keadaan patologis sebagai akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus yang menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu di esofagus maupun ekstra-esofagus; seperti nyeri/rasa tidak enak di perut bagian atas/epigastrium atau retrosternal bagian bawah, rasa seperti terbakar (heartburn), kadang-kadang bercampur dengan gejala disfagia (kesulitan menelan makanan), mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah, termasuk juga keluhan yang jarang seperti asma, erosi gigi, gangguan tidur, angina non kardiak.
Cara Ukur :Pengukuran dilakukan dengan metode kuesioner berisi 6 pertanyaan meliputi gejala refluks, dispepsia dan konsumsi obat untuk mengatasi gejala-gejala tersebut.
Alat Ukur :GERDQ Questionnaire
Hasil Ukur :GERDQ dievaluasi dengan skor frekuensi gejala yang dinyatakan dalam hitungan hari (0 hari, 1 hari, 2-3 hari,4-7 hari). Cut-off skor adalah 8.
Skala :Nominal 3.2.2. Profil GERD
Definisi :Profil GERD ialah prevalensi dan faktor resiko yang ada pada mahasiswa.
Cara Ukur :
- Prevalensi mahasiswa yang positif menderita GERD pada tahun 2014 berdasarkan kuesioner.
- Faktor resiko yang ada pada mahasiswa ditanyakan di kuesioner Faktor Resiko GERD.
Alat Ukur:Kuesioner
Hasil Ukur :Karakteristik yang diderita mahasiswa.
Skala :Ordinal
Mahasiswa FK USU Tahun 2014
Profil GERD
Tabel 3.1. Definisi Operasional
Kuesioner 15-25 Interval
Pola makan
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif cross sectional.Dalam hal ini, yang akan dikaji merupakan prevalensi GERD di kalangan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
4.2 Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama bulan September – November 2014.
4.2.2 Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Jalan dr. Mansur, No.5 Medan 20155, Indonesia.
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi
Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Sumatera Utara,Medan stambuk 2011, 2012, 2013.Jumlah populasi pada penelitian ini adalah sebanyak 1534
mahasiswa/mahasiswi.
Kriteria inklusi:
1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. Mahasiswa yang mendatangani persetujuan pengisian kuesioner.
Kriteria esklusi :
1. Kuesioner yang tidak diisi dengan lengkap.
2. Mahasiswa yang memiliki gastritis.
4.3.2 Sampel Penelitian
Jumlah sampel yang akan digunakan akan dikira menggunakan formula.
n = 2
Keterangan :
n = besar sampel Zα² = 1.96
d = 0.10 (kesalahan absolut yang dapat ditoleransi) P = 0.06
4.4 Teknik Pengumpulan Data 4.4.1 Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang didapat secara langsung dari responden dengan cara diwawancara oleh peneliti dengan menggunakan kuesioner.
4.4.2 Instumen Penelitian
Instrumen yang telah digunakan adalah kuesioner (yang terdapat di lampiran) yang terdiri dari 16 pertanyaan.Pertanyaan dibuatberdasarkan faktor resiko yang akan diukur dan juga kuesioner GERDQiaitu untuk melihat profil gejalaGERD pada mahasiswa Fakultas Kedokteran USU tahun 2014.Informed Consent telah diberi bersamaan dengan kuesionertersebut yang akan menjelaskan tujuan dilakukan penelitian.
Pengisian kuesioner oleh mahasiswa telah dilakukan secaralangsung, sambil diperhatikan peneliti untuk memastikan tidak ada kecurangan yang berlaku.Data yang diperoleh telah dianalisa, setelah kuesioner dikembalikan oleh mahasiswa kepada peneliti.
4.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas.Uji validitas dan reliabilitas kuesioner dilakukan pada 20 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Uji validitas dinilai dengan menggunakan metode korelasi Pearson. Skor yang didapat dari setiap pertanyaan dikorelasikan dengan skor total variable yang diukur. Nilai tersebut kemudian dibandingkan dengan nila r tabel. Dalam aplikasi pelaksanaan, peneliti menggunakan program SPSS untuk mendapatkan data korelasi tersebut. Pertanyaan yang valid adalah pertanyaan yang memiliki nilai koefisien korelasi Pearson lebih besar dari r tabel.
Uji reliabilitas untuk seluruh pertanyaan dilakukan menggunakan metode Alpha Cronbach. Pertanyaan reliable merupakan pertanyaan yang memiliki nilai alpha lebih besar dari r tabel. Hasil uji validitas dan reliabilitas dapat dilihat pada tabel pada lampiran 7 pada penelitian ini.
Berdasarkan tabel di lampiran diketahui bahwa butir-butir pertanyaan untuk variabel faktor resiko dan gejala GERDadalah valid karena nilainya lebih besar dari r tabel (0,444) serta reliabel (memenuhi persyaratan). Dengan demikian kuesioner tersebut layak digunakan sebagai alat ukur pada penelitian ini.
4.5 Metode Analisis Data
Data dari setiap responden dimasukkan ke dalam computer oleh
peniliti.Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan program komputer.
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) Medan, yang berlokasi di Jalan dr.Mansyur No.5 Medan.
Fakultas Kedokteran USU dibuka pada tanggal 20 Agustus 1952 oleh yayasan Universitas Sumatera Utara, yang berlokasi di Kelurahan Padang Bulan,
Kecamatan Medan Baru. Kampus ini memiliki luas sekitar 122 Ha, dengan zona akademik seluas sekitar 100 Ha yang berada ditengahnya. Fakultas ini memiliki berbagai ruang kelas, ruang administrasi, ruang laboratorium, ruang skills lab, ruang seminar, perpustakaan, kedai mahasiswa, ruang PEMA, ruang POM, kantin, kamar mandi, dan mushola.
5.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden
Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Gejala GERD pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2014 Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
1 Laki-laki 128 47.4
2 Perempuan 142 52.6
Total 270 100.0
Dari tabel 5.1 dapat diketahui bahwa jenis kelamin responden gejala GERD mayoritas perempuan yaitu sebesar 142 orang (52,6%) dan laki-laki sebesar 128 orang (47,4%).
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Gejala GERD pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2014 Berdasarkan Umur
No Umur Frekuensi Persentase (%)
1 <21 Tahun 78 28.9
2 ≥21 Tahun 192 71.1
Total 270 100.0
Dari tabel 5.2 dapat diketahui bahwa mayoritas responden gejala GERD kelompok umur ≥21 tahun yaitu sebanyak 192 orang (71,1%) dan kelompok umur
<21 tahun sebanyak 78 orang (28,9%).
5.1.3. Faktor Risiko
Tabel 5.3. Jawaban Responden Berdasarkan Faktor Risiko
Pertanyaan Tidak Ya Jumlah
f % f % f %
1. Makan tepat pada waktu. 32 11,9% 238 88,1% 270 100%
2. Kebiasaan makan makanan yang
dibuat dengan saus tomat. 225 83,3 45 16,7 270 100%
3. Kebiasaan makan makanan
ringan seperti coklat. 206 76,3 64 23,7 270 100%
4. Kebiasaan minum minuman
berkarbonat. 106 39,3 164 60,7 270 100%
Berdasarkan butir-butir pertanyaan dari hasil wawancara dengan
responden berdasarkan kuesioner tentang gejala GERD yang berisi 10 pertanyaan, diperoleh hasil perhitungan faktor resiko sebagai berikut :
Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Faktor Risiko
No Faktor Risiko Frekuensi Persentase (%)
1 Tidak berisiko 163 60.4
2 Berisiko 107 39.6
Total 270 100.0
Dari tabel 5.4 dapat diketahui bahwa mahasiswa Universitas Sumatera Utara mayoritas tidak beresiko mengalami gejala GERD yaitu sebanyak 163 orang (60,4%) dan beresiko mengalami gejala GERD sebanyak 107 orang (39,6%).
5.1.4. Gejala GERD
Tabel 5.5. Jawaban Responden Berdasarkan Gejala GERD Pernyataan di bagian atas dari perut.
Keterangan :
Dikatakan gejala GERD positif apabila skor ≥8 dan Dikatakan gejala GERD negatif apabila skor <8 Diagnosa GERD berdasarkan gejala :
1. Skor gejala positif untuk pertanyaan 1,2 0 hari skor 0
1 hari skor 1 2-3 hari skor 2 4-7 hari skor 3
2. Skor gejala negatif untuk pertanyaan 3,4 0 hari skor 3
1 hari skor 2 2-3 hari skor 1 4-7 hari skor 0
3. Skor dampak GERD untuk pertanyaan 5,6 0 hari skor 0
1 hari skor 1 2-3 hari skor 2 4-7 hari skor 3
Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Gejala GERD
No Gejala GERD Frekuensi Persentase (%)
1 Negatif 196 72.6
2 Positif 74 27.4
Total 270 100.0
Dari tabel 5.6 dapat diketahui bahwa mahasiswa Universitas Sumatera Utara mayoritas tidak memiliki gejala GERD yaitu sebanyak 196 orang (72,6%) dan positif sebanyak 74 orang (27,4%).
Tabel 5.7. Jawaban Responden Berdasarkan Faktor Resiko Yang Mempunyai Gejala GERD
Pertanyaan Tidak Ya Jumlah
f % f % f %
1. Makan tepat pada waktu. 7 9,5 67 90,5 74 100%
2. Kebiasaan makan makanan yang
dibuat dengan saus tomat. 61 82,4 13 17,6 74 100%
3. Kebiasaan makan makanan
ringan seperti coklat. 60 81.1 14 18.9 74 100%
4. Kebiasaan minum minuman
berkarbonat. 28 37.8 46 62.2 74 100%
5. Kebiasaan minum kopi. 56 75.7 18 24.3 74 100%
Pertanyaan Tidak Ya Jumlah
Dari jawaban responden berdasarkan faktor resiko GERD di atas dapat diketahui bahwa responden lebih banyak mengkonsumsi minuman berkarbonat sebesar 62,2%, sering minum teh sebesar 64,9%, memiliki kebiasaan merokok sebesar 55,4%, ada kebiasaan minum alkohol sebesar 55,4%, dan ada gastritis sebesar 64,9%.
5.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian profil gejala GERD pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2014 menunjukkan bahwa
mahasiswa Universitas Sumatera Utara mayoritas tidak beresiko mengalami gejala GERD (60,4%) dan juga tidak memiliki gejala GERD (72,6%). Hal ini didukung penelitian Renaldi (2012), yang menyatakan prevalensi GERD di Asia rendah, namun menunjukkan tren yang meningkat, seperti di Hongkong,
prevalensi GERD dilaporkan gejala pertahun sebesar 35% dari populasi pada tahun 2003 berbanding 29,8% pada tahun 2002. Indonesia tidak ada data epidemiologi mengenai GERD. Data dari RSCM menunjukkan peningkatan kejadian GERD pada pasien yang menjalani endoskopi saluran cerna bagian atas yaitu dari 6% pada tahun 1997 menjadi 26% pada tahun 2002. Thailand
berdasarkan adanya gejala heartburn dan regurgitasi, GERD terjadi pada 7%
populasi dalam komunitas (Thai Motility Club, unpublished data). Dan Taiwan prevalensi dan insiden GERD di Taiwan relatif masih rendah yaitu 13% dan 2%.
Jenis kelamin responden mayoritas perempuan yaitu sebanyak 142 orang (52,6%) dan laki-laki sebanyak 128 orang (47,4%) pada kelompok umur ≥21 tahun yaitu sebanyak 192 orang (71,1%) dan kelompok umur <21 tahun sebanyak 78 orang (28,9%). Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa responden diatas umur 21 tahun lebih banyak mengalami gejala GERD. Penelitian ini sejalan dengan pendapat Zou (2011), dimana usia rata-rata pasien GERD 46,3 tahun, dengan rasio perbandingan jenis kelamin laki-laki dan perempuan 1:1. Zou menyatakan prevalensi esophagitis meningkat seiring dengan bertambannya usia.
Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunasekaran dkk (2008), dimana sebanyak 1.286 remaja berusia 14-18 tahun memiliki gejala esophagus dengan tingkat prevalensi sebesar 40%. Gunasekaran menyatakan, 18% dari remaja memiliki setidaknya satu gejala esofagus dan terjadi setidaknya sekali dalam satu minggu. Menurut Gunasekaran dari definisi, instrumen, dan
pengukuran gejala GERD yang bervariasi, menunjukkan bahwa gejala GERD sering terjadi pada remaja, dan dampaknya perlu eksplorasi lebih lanjut dan cepat.
Perbedaan ini disebabkan jumlah responden pada penelitian ini lebih kecil dibandingkan responden pada penelitian Gunasekaran. Penelitian ini didukung
oleh penelitian Jiann (2014), dimana dalam penelitiannya Jiann menyatakan bahwa remaja memiliki tingkat prevalensi kumulatif dan selama 3 bulan gejala GERD sebesar 20,5% dan 8,9%. Menurut Jiann studi GERD pada remaja berdasarkan populasi terdiri dari 6 siswa sekolah menengah Seattle, melaporkan prevalensi keseluruhan gejala GERD sebesar 6%.
Prevalensi gejala GERD pada penelitian ini lebih besar dialami pada wanita yaitu sebesar 52,6% dan laki-laki 47,4%. Menurut American College of Gastroenterology (2012) antara laki-laki dan perempuan tidak terdapat perbedaan insidensi yang begitu jelas, kecuali jika dihubungkan dengan kehamilan dan kemungkinan non-erosive reflux disease lebih terlihat pada wanita. Walaupun perbedaan jenis kelamin bukan menjadi faktor utama dalam perkembangan PRG, namun Barrett’s esophagus lebih sering terjadi pada laki-laki.Mahasiswa biasanya menghadapi GERD disebabkan oleh beberapa faktor yang terutama.Faktor yang paling sering adalah kebiasaan pola makan yang tidak teratur seperti makan makanan yang berlemak dalam kuantiti yang berlebihan dan juga kegemaran makanan ringan. Biasanya mahasiswa pria menghadapi GERD disebabkan oleh kebiasaan merokok.
Dari tabel 5.4 mayoritas responden tidak beresiko mengalami gejala GERD yaitu sebanyak 163 orang (60,4%) dan beresiko mengalami gejala GERD sebanyak 107 orang (39,6%). Responden beresiko GERD dalam penelitian ini memang lebih kecil dibandingkan tidak beresiko. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden tentang faktor resiko gejala GERD berdasarkan pola hidup menunjukkan bahwa responden memiliki kebiasaan makan tidak tepat pada waktunya, sering makan makanan yang dibuat dengan saus tomat, sering makan makanan ringan seperti coklat, mengkonsumsi minuman berkarbonat, minuman berkafein dan beralkohol, responden memiliki kebiasaan merokok, berbaring setelah makan. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang dapat menimbulkan
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Selain beberapa patofisilogi dan hubungan antara beberapa gangguan ini, GERD juga ditandai dengan terjadinya komorbiditas pada pasien yang identik dan oleh epidemiologi perilaku yang serupa diantara mereka (Makmun, 2009).
Penelitian ini didukung pendapat Gunasekaran (2008) yang menyatakan prevalensi GERD secara signifikan lebih tinggi pada perokok dibandingkan bukan perokok. Gunasekaran menemukan bahwa remaja yang pernah merokok memiliki 1,5-1,6 kali lipat kemungkinan lebih tinggi prevalensi kumulatif gejala GERD. Hal ini menunjukkan bahwa merokok lebih mungkin untuk menjadi penentu risiko daripada penanda risiko gejala GERD.
Penelitian ini didukung pendapat Gunasekaran (2008) yang menyatakan prevalensi GERD secara signifikan lebih tinggi pada perokok dibandingkan bukan perokok. Gunasekaran menemukan bahwa remaja yang pernah merokok memiliki 1,5-1,6 kali lipat kemungkinan lebih tinggi prevalensi kumulatif gejala GERD. Hal ini menunjukkan bahwa merokok lebih mungkin untuk menjadi penentu risiko daripada penanda risiko gejala GERD.