HASIL DAN PEMBAHASAN
12. Responden tahu ciri-ciri surat suara yang di anggap gugur
Seperti halnya surat suara yang dianggap sah maka terdapat pula ciri – ciri surat suara yang dianggap tidak sah dalam sebuah pemilihan umum. Tidak sedikit calon yang dirugikan dengan surat suara yang cacat sehingga dapat mmpengaruhi perolehan suara mereka. Misalnya seharusnya dicontreng tetapi dicoblos atau mencontrengnya tidak tepat sasaran. Dalam meberikan informasi kepada khalayak harian Jawa Pos memberitakan mengenai ciri – ciri surat suara yang dianggap tidak sah beserta gambar pembanding antara surat suara dan tidak sah. Maka bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat Surabaya terkait ciri – ciri surat suara yang dianggap tidak sah pasca membaca berita diharian Jawa Pos. Selengkapnya disajikan pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.16
Responden tahu ciri-ciri surat suara yang di anggap gugur
Keterangan Frekuensi Persentase (%)
Tahu 96 96%
Tidak Tahu 4 4%
Jumlah 100 100% Sumber : Data Kuesioner I.16
Hasil diatas menunjukkan sebagian besar responden, yaitu sebanyak 96% menjawab tahu dan sisanya 4% menyatakan tidak tahu terkait ciri – ciri surat suara yang dianggap gugur dalam pelaksanaan Pilwali Surabaya 2010. Kenyataan ini menggambarkan bahwa kebanyakan responden dalam penelitian ini mengetahui criteria suarat suara yang dianggap gugur pasca membaca berita diharian Jawa Pos. Hal ini disebabkan oleh rasa ingin tahu responden yang besar sehingga dalam menggunakan hak pilihnya tidak sia – sia yang dapat merugikan diri sendiri serta calon yang dipilihnya karena sudah tentu surat suara yang dianggap gugur akan mempengaruhi perolehan suara calon yang diunggulkannya. Namun sebagian responden yang lain menjelaskan mereka mengetahui hal tersebut melalui penyuluhan pihak penyelenggara Pilwali atau media lainnya.
4. 4 Pengetahuan Masyarakat Surabaya Mengenai Berita Pilwali Surabaya 2010 di Jawa Pos
Pengetahuan masyarakat Surabaya mengenai pemberitaan Pilwali
Surabaya 2010 di Jawa Pos diukur dengan total nilai dari keseluruhan pertanyaan dalam kuisioner yang diajukan kepada responden. Yaitu sejauh mana berita di
Jawa Pos mempengaruhi tingkat kognisi masyarakat Surabaya terkait Pilwali Surabaya 2010. Yang diperoleh skor tertinggi adalah 24 dan nilai terendah adalah 12. Perolehan dari perhitungan tersebut serta pengkategoriannya adalah sebagai berikut :
1. Skor tertinggi diperoleh dengan menjumlahkan skor tertinggi dari
aspek kognitif, yaitu 2 x 12 = 24.
2. Skor terendah diperoleh dengan menjumlahkan skor terendah dari
aspek kognitif, yaitu 1 x 12 = 12.
Maka perhitungan interval kelasnya adalah sebagai berikut :
Skor tertinggi - Skor terendah Range =
Jenjang yang diinginkan = 24 - 12
3 = 4
Jadi pengkategoriannya adalah :
1. Kategori Rendah jika skor yang diperoleh 12 - 16 2. Kategori Sedang jika skor yang diperoleh 17 - 20 3. Kategori Tinggi jika skor yang diperoleh 21 - 24
Kemudian untuk mengetahui jumlah dan prosentase responden yang mempunyai kategori pengetahuan rendah, sedang dan tinggi dapat dilihat pada tabel 4.21 berikut ini.
Tabel 4.17
Pengetahuan Masyarakat Surabaya Mengenai Berita Pilwali Surabaya 2010 di Jawa Pos
NO Keterangan Jumlah %
1 Rendah 0 0
2 Sedang 62 62
3 Tinggi 38 38
Total 100 100
Sumber : Data yang diolah pada lampiran
Dari tabel 4.17 diatas menunjukkan bahwa 62% responden mempunyai tingkat pengetahuan yang sedang, 38% responden mempunyai tingkat pengetahuan tinggi dan 0% responden terdapat pada kategori rendah. Hasil tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar responden yang dalam penelitian ini adalah masyarakat Surabaya dan baru menjadi pemula dalam Pilwali pengetahuannya dapat dikategorikan sedang terkait berita Pilwali Surabaya 2010 di harian Jawa Pos. Masyarakat mengetahui beberapa hal yang berhubungan dengan pelaksanaan Pilwali namun tidak secara keseluruhan mereka memahami tentang Pilwali Surabaya 2010.
Surat kabar Jawa Pos memberitakan seputar Pilwali Surabaya 2010 dalam rubrik khusus “Pilwali 2010” setiap hari sebagai upaya dalam memenuhi fungsinya sebagai media informasi. Isi berita yang disampaikan dengan gaya penulisan harian yang berlokasi di Surabaya ini mudah dimengerti oleh khalayak, tapi tidak semua khalayak khususnya yang berusia 17 dan 18 tahun dapat memahaminya. Pada usia tersebut sebagian besar khalayak baru lulus dari bangku pendidikan menengah atas dan baru menginjak pendidikan diperguruan tinggi,
terlebih lagi mereka baru pertama kali berpartisipasi dalam Pilwali (pemula). Hal inilah yang kemudian membuat mereka dapat menangkap stimulus yang muncul yaitu berita mengenai Pilwali Surabaya 2010 tetapi tidak memahami secara keseluruhan pelaksanaan dari Pilwali tersebut.
5. 1. Kesimpulan Hasil Penelitian
Berdasarkan pada bab sebelumnya, yaitu hasil pembahasan yang juga telah dijabarkan dengan penyajian data dalam bentuk tabel – tabel frekuensi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetahuan masyarakat Surabaya mengenai Pilwali Surabaya 2010 yang diberitakan oleh harian Jawa Pos terdapat pada kategori sedang. Harian Jawa Pos mempunyai rubric khusus “Pilwali 2010” yang terbit setiap hari dengan menginformasikan kepada khalayak mengenai pelaksaan Pilwali Surabaya 2010. Masyarakat Surabaya yang berusia 17 – 18 tahun dan baru berpartisipasi dalam Pilwali (pemula) mendapatkan pengetahuan (kognisi) seputar pelaksanaan Pilwali tetapi mereka tidak memahami secara kesuluruhan mengenai Pilwali Surabaya 2010. Hal ini disebabkan oleh kurangnya referensi (frame of reference) dan pengalaman (field of experience) seorang pemula terkait dengan pelaksanaan Pilwali.
Selain kurangnya pengalaman dan referensi, masyarakat yang berusia 17- 18 tahun kebanyakan baru lulus dari bangku pendidikan menengah atas dan baru akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Hal ini tentu saja dapat mempengaruhi respon mereka terhadap stimulus yang datang, dalam penelitian ini berita seputar Pilwali Surabaya 2010 di jawa Pos. Jadi berita di rubric “Pilwali 2010” Jawa Pos dapat menambah pengetahuan mereka tentang pelaksanaan Pilwali Surabaya 2010 selain mereka mengetahui seputar pelaksanaan Pilwali melalui media lain.
5. 2. Saran
Berdasarkan hasil diatas maka saran yang dapat disampaikan adalah :
1. Porsi berita mengenai mekanisme pemilu harus lebih diperhatikan selain
pemberitaannya yang harus berimbang tanpa menonjolkan salah satu pihak, mengingat pemilu merupakan kompetisi politik bagi setiap peserta pemilu.
2. Khalayak harus lebih selektif dengan setiap pemberitaan yang muncul
dimedia, jangan mudah terpengaruh dan hendaknya dapat membandingkan berita yang muncul dimedia lainnya.
Bungin, Burhan, 2006, Metode Penelitian Kuantitatif, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.
Effendy, 2000, Komunikasi Teori Dan Praktek. Bandung, PT. Citra Aditya Bhakti Effendy, Onong Uchana, 2003. Ilmu Komunikasi Teori dan
Praktek, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
Eriyanto, 1999, Metodologi Polling, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya
Gunarsa, Ny Singgih dan Singgih D. Gunarsa, 2007, Psikologi Remaja, Cetakan ke-16, Penerbit PT. Tunas Jaya Lestari, Jakarta
Hadi, Sutrisno, 1981, Metodologi Research :Penulisan Paper, Skripsi, Thesis dan Desertasi, Yayasan Penerbit UGM, Yogyakarta
Mc.Quail, 2005, Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar, edisi kedua
Rakhmat, Jalaluddin ,1999, Psikologi Komunikasi, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung. Rachmadi, 1993, Public Relations Dalam Teori 7 Praktek, PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Sugiharti, 2000, Komunikasi Massa, Penerbit Citra Media, Jakarta
Sutisna, 2003, Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Astrid, Susanto S., 2000. Filsafat Komunikasi, Bandung: PT. Binacipta .
Sumadiria, Haris, 2005, Jurnalistik Indonesia, Bandung, Simbiosa Rekatama Media