• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respons Hamka Terhadap Konsep Politik Barat Modern

Paradigma Hamka tentang integrasi negara dengan agama membawa konsekuensi pada penolakannya terhadap ide pemisahan antara keduanya (sekularisme). Di era pra kemerdekaan hubungan agama dan negara pernah menjadi tema perdebatan sengit di antara tokoh-tokoh pergerakan nasional di Indonesia. Suhelmi mencatat perdebatan tentang persoalan ini telah terjadi antara Soekarno dengan M Natsir dan A Hassan di tahun 1940-an. Polemik antara keduanya bermula dari artikel Soekarno, ‚Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara‛ dan ‚Saya Kurang Dinamis,‛ yang dimuat Pandji Islam antara Mei hingga Juli 1940.463 Dalam tulisan-tulisannya itu Soekarno mengadopsi gagasan yang muncul Eropa tentang pemisahan agama dan negara. Agama diposisikan sebagai aturan-aturan spiritual, sementara negara dan pemerintahan adalah masalah duniawi (sekular). Jika disatukan, tegas Soekarno, agama akan dimanfaatkan sebagai alat kekuasaan. Untuk menguatkan idenya itu Soekarno mengutip pendapat cendekiawan Turki Mahmud Essad Bey, Mustofa Kemal hingga sarjana Mesir Ali Abd al-Raziq.464

Gagasan Soekarno kontan ditolak oleh M Natsir. Menggunakan nama pena A Muchlis, Natsir menulis di media massa yang sama antara Juli hingga September

463 Ahmad Suhelmi, Polemik Negara Islam..., h. 79. Lihat keterangan edisi penerbitan artikel itu catatan akhir (end note) no 2 di halaman 135. Lihat juga Muhammad Ainun Najib, ‚NU, Soekarno, dan Staat Islam: Wacana Negara Islam dalam Berita Nahdlatoel Oelama (BNO)‛, Ahkam, vol. 5, no 1, Juli 2017, h. 167.

95

1940 untuk menanggapi tulisan-tulisan Soekarno itu. Bagi Natsir agama tidak bisa dipisahkan dari negara. Kenegaraan, menurutnya, merupakan bagian integral dari risalah Islam. Gambaran negatif tentang penyatuan agama dengan negara seperti yang ditulis Soekarno adalah hasil dari kesalahpahaman atas pemerintahan Islam. Lebih jauh Natsir menyatakan, negara merupakan alat untuk merealisasikan aturan-aturan Islam, karena banyak ajaran Islam seperti kewajiban zakat dan larangan zina tidak bisa diwujudkan tanpa adanya negara.465 Selain Natsir, tokoh lain yang menanggapi tulisan Soekarno tersebut adalah A Hassan. Tokoh Persatuan Islam (Persis) ini menganggap Soekarno tidak mengetahui latar belakang pemisahan politik dari agama yang terjadi di Barat. Menurutnya, Barat mengambil langkah seperti itu karena memang agama Kristen tidak memiliki aturan tentang politik.466

Bukan hanya kalangan modernis, kelompok tradisionalis juga memberikan reaksi. Melalui corong resminya, Berita Nahdlatoel Oelama (BNO), tanggapan Nahdlatul Ulama (NU) dimuat pada edisi 1 dan 15 Juni, 15 Agustus, 15 September 1940, serta 1 dan 15 Oktober 1940. Secara tegas NU menganggap tulisan-tulisan Soekarno mencerminkan kekurangpahamannya terhadap Islam, kekanak-kanakan

(t}ufayl), dan menimbulkan kekacauan dalam Islam.467 NU menilai Soekarno telah terkontaminasi oleh ide-ide Barat dan kurang akses pada kitab-kitab agama berbahasa Arab karena keterbatasannya dalam berbahasa Arab.468 Pendirian negara Islam, tegas NU, didasarkan pada totalitas Islam dalam segala aspek kehidupan manusia. Bagi NU Islam adalah ‚sekumpulan undang-undang dari Tuhan yang menyusun dan memimpin manusia menuju arah kebajikan dan kepentingannya di dalam perikehidupan dan perikeakhiratannya.‛469

Sekularisme berasal dari kata ‚saeculum‛ yang memiliki arti ganda. Makna pertama terkait dengan waktu (time) yang berarti zaman sekarang (now) atau saat ini (present). Makna kedua terkait dengan lokasi (location), yaitu dunia (world)

atau yang bersifat duniawi (worldly). Padanan kata saeculum adalah mundus. Meski demikian kedua kata ini memiliki titik tekan yang berbeda. Saeculum lebih cenderung ke makna waktu (time). Sementara mundus maknanya lebih berkonotasi pada ruang.470 Menurut Masykuri Abdillah, sekularisme merupakan ideologi di mana para pendukungnya mengecam segala bentuk supernaturalisme dan lembaga yang dikhususkan untuk itu, dengan mendukung prinsip-prinsip non-agama atau anti agama sebagai dasar bagi moralitas pribadi dan organisasi sosial.471 Ada dua

465 Ahmad Suhelmi, Polemik Negara Islam..., h. 87-90

466 Ahmad Suhelmi, Polemik Negara Islam..., h. 7-8

467 M Ainun Najib, ‚NU, Soekarno, dan…,‛ h. 171

468 M Ainun Najib, ‚NU, Soekarno, dan…,‛ h. 174

469 M Ainun Najib, ‚NU, Soekarno, dan…,‛ h. 175-176

470 Ahmad Khoirul Fata & Siti Mahmudah Noorhayati, ‚Sekularisme dan Tantangan Pemikiran Islam Kontemporer,‛ Madania, vol. 20, no 2, Desember 2016, h. 219. Lihat juga Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), h. 16.

471 Masykuri Abdillah, ‚Hubungan Agama Dan Negara Dalam Konteks Modernisasi Politik Di Era Reformasi,‛ Ahkam, vol. XIII, no. 2, Juli 2013, h. 248

96

bentuk sekularisme, yaitu Laicite atau assertive secularism yang secara aktif mendukung pengusiran agama dari negara dan kehidupan publik. Sebalik dari itu adalah sekularisme pasif.472

Sebagai sebentuk ideologi yang berupaya menjauhkan negara dan segala aspek kehidupan manusia dari pengaruh agama. Sementara proses menuju itu disebut sebagai sekularisasi. Dengan mengutip Peter L Berger, Abdillah menjelaskan bahwa sekularisasi merupakan ‚sebuah proses di mana sektor-sektor kehidupan dalam masyarakat dan budaya dilepaskan dari dominasi lembaga-lembaga dan simbol-simbol keagamaan‛.473 Proses ini meliputi tiga hal: Pertama, pengosongan dunia dari kepercayaan akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai dunia (Disenchantment of nature/ die Entzauberung der Welt). Kedua, desakralisasi kehidupan politik (desacralization of politics). Ketiga, penyingkiran kehidupan manusia dari kemutlakan nilai-nilai agama (deconsecration of values).474

Senada dengan itu, Hamka juga melihat adanya dua macam sekularisme, yaitu sekularisme lunak (moderat) dan sekularisme radikal. Sekularisme lunak merujuk kepada kelompok yang masih mengakui keberadaan agama, namun mereka memisahkannya dari kehidupan sehari-hari. Bagi mereka agama hanya terkait dengan hubungan antara pribadi dengan Tuhan. Sementara ekonomi, politik, kehakiman, dan negara adalah urusan masyarakat atau negara yang tidak boleh dicampuri oleh agama. Hamka menyebut kelompok ini sebagai mereka ‚yang menoleh ke Barat menurut faham demokrasi dan liberalisme‛.475

Sementara yang kedua bersikap lebih keras lagi. Inilah orang-orang yang berpaham Marxisme. Mereka memusuhi agama karena dianggap telah turut serta melanggengkan cengkeraman imperialisme-kapitalisme. Menurut mereka agama adalah racun yang menghancurkan semangat perlawanan kaum proletar. Agama dijadikan alat kaum kapitalis untuk meninabobokkan kaum proletar agar tidak bangkit melawan. Karena itu kaum Marxis menganggap agama sebagai candu bagi rakyat yang memberikan mimpi-mimpi indah di dalam derita kesengsaraan jasmani.476 Bahasan lebih lanjut tentang marxisme menurut Hamka akan diuraikan setelah bagian ini.

Menurut Hamka, kemunculan sekularisme tidak lepas dari akar sejarah peradaban Barat Kristen, terutama sebelum terjadi perpecahan antara Katolik dengan Protestan. Ketika itu, jelas Hamka, dengan mengatasnamakan Tuhan dan melaksanakan hukum Tuhan, Gereja Katolik memiliki kekuasaan pada pemerintahan duniawi sehingga para raja-raja harus meminta restu kepada Paus untuk menempati kursi singgasananya. Kekuasaan Gereja itu biasa disebut sebagai teokrasi.477

472 Erin K Wilson, After Secularism: Rethinking Religion in Global Politics, (New York: Palgrave MacMillan, 2012), h. 30-31

473 Masykuri Abdillah, ‚Hubungan Agama Dan...,‛ h. 248

474 AK Fata & SM Noorhayati, ‚Sekularisme dan Tantangan...,‛ h. 220

475 Hamka, Islam: Revolusi Ideologi..., h. 74

476 Hamka, Islam: Revolusi Ideologi..., h. 74

477 Hamka, ‚Pembahasan Darihal Intisasi Undang-undang Dasar ‘45,‛ dalam Panji Masyarakat, no 212, tahun XVIII, 1 Desember 1976, h. 19-20

97

Lebih dari itu, Hamka menjelaskan bahwa sekularisme Barat memiliki akar yang dalam hingga ke era Nabi Isa AS yang berdakwah mengajarkan penyucian jiwa kepada bangsa Yahudi yang hidup di bawah kekuasaan (jajahan) bangsa Romawi dengan sistem hukum dan pemerintahannya yang mapan.478 Di kalangan bangsa Yahudi sendiri telah berlaku aturan-aturan hukum sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Lama. Namun mereka menjalankannya secara kaku dan di aspek luarnya saja, tidak meresap ke dalam intinya. Mereka membaca yang tersurat, tidak masuk ke makna yang tersirat. Ini membuat sering terjadinya pertengkaran dalam persoalan kecil dan remeh temeh di antara mereka, sehingga melupakan persoalan inti yang lebih besar. Kondisi ini membuat Nabi Isa belum perlu masuk ke wilayah politik dan hukum pemerintahan. Perhatian utama Nabi Isa masih diarahkan ke perbaikan aspek dalam (batin) bangsa Yahudi yang tengah kering dan rusak.479

Ajaran Nabi Isa ini terus dilanjutkan oleh murid-muridnya. Mereka menyebar ke pelosok negeri hingga mampu masuk ke pusat kekuasaan Romawi. Persebaran yang massif membuat ajaran Kristiani akhirnya bisa diterima oleh penguasa Roma. Namun kristianitas tetap saja bergerak di wilayah rohani dan moral. Penguasa Romawi menerima Kristianitas hanya sekedar kepercayaan belaka. Itu pun sudah banyak dilakukan perubahan, khususnya di ajaran Trinitas (Hamka menyebutnya Trimurti). Kristianitas tidak turut campur di bidang politik pemerintahan. Sementara di bidang hukum Romawi mengambil dari khazanah hukum warisan Yunani dan Romawi sendiri. Hal inilah yang kemudian membentuk pandangan hidup Barat yang sekuler. Barat yang memposisikan ‚agama adalah hubungan masing-masing orang dengan Tuhannya.‛ Sementara hubungan antar manusia dan antar negara menjadi urusan manusia itu sendiri, dan agama dilarang ikut campur. Di bidang ini berlaku peraturan Romawi yang telah mapan tersebut. Kaidah yang berlaku adalah ‚Berikanlah kepada Allah hak Allah, dan kepada kaisar hak kaisar.‛480

Menurut Hamka, pemisahan urusan negara dari agama di dunia Kristen dengan berdasar kaidah tersebut sesungguhnya merupakan sebentuk kesalahpemahaman. Kaidah itu semula memang merupakan pernyataan Nabi Isa, namun bukan dimaksudkan untuk memisahkan antara keduanya. Hamka menjelaskan, sebenarnya Nabi Isa hendak berfokus pada perbaikan jiwa bangsa Yahudi terlebih dahulu. Setelah berhasil dibawa keluar dari Mesir ke Tanah Yang Dijanjikan oleh Nabi Musa, bangsa Yahudi mendirikan negara dengan berhukum

478 Hamka, Islam: Revolusi Ideologi..., h. 77

479 Hamka, Islam: Revolusi Ideologi..., h. 78-79. Meski demikian Hamka melihat sesungguhnya Nabi Isa datang bukan tanpa membawa syariat atau aturan-aturan kehidupan sama sekali. Kedatangan Isa adalah untuk menggenapkan ajaran nabi sebelumnya, Musa. Isa memerintahkan kepada pengikutnya untuk menjalankan aturan-aturan yang dibawa Nabi Musa. Dengan hati yang bersih dan penuh ketulusan. Dengan demikian, aturan-aturan yang diberlakukan zaman Isa adalah aturan-aturan Musa yang telah disempurnakan. Lihat Hamka, Studi Islam, h. 198-199

480 Hamka, Islam: Revolusi Ideologi..., h. 80-82. Lihat juga Hamka, Tafsir al-Azhar Jilid 2 (Jakarta: Gema Insani, 2015), h. 703-704.

98

pada Taurat. Seiring berjalannya waktu, jiwa bangsa Yahudi menjadi lemah. Mereka kehilangan energi dinamisnya. Di kemudian hari mereka ditaklukkan dan dijajah bangsa Romawi. Pada saat itulah Nabi Isa datang untuk kembali membangkitkan bangsa Yahudi dengan memperbaiki jiwa dan moralitas mereka terlebih dahulu. Karena di situlah terletak kekuatan dinamis bangsa Yahudi yang telah hilang tadi. Jadi, ungkap Hamka berkesimpulan, yang dilakukan Nabi Isa sesungguhnya adalah sebuah perlawanan terhadap bangsa Romawi, meski bersifat halus lembut.481

Di zaman pertengahan para pemimpin agama Kristen (Bapa-bapa Gereja) mulai terdorong untuk meluaskan otoritasnya. Bukan hanya di bidang kerohanian, namun juga di bidang politik. Di akhir abad keempat Kerajaan Romawi pecah jadi dua: Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel dan Romawi Barat di Roma. Pasang surut kekuasaan para kaisar memberi kesempatan bagi pimpinan Gereja untuk meraih kekuasaan politik. Gereja pun akhirnya memiliki kekuasaan, wilayah, dan tentara sendiri. Di era kekuasaan Gereja inilah Barat memasuki Era Kegelapan. Tugas Gereja adalah ‚mengendalikan jiwa rakyat banyak agar tunduk kepada kekuasaan dengan janji-janji ‘Kerajaan Surga’.‛ Inilah yang disebut Hamka sebagai zaman feodal. Di era ini Gereja menjadi pusat kebenaran. Mereka memosisikan dirinya sebagai ‚wakil Tuhan.‛ Semua rakyat harus taat kepada Bapa-bapa Gereja. Tidak boleh ada yang ingkar. Keingkaran pada Bapa Gereja sama dengan melawan Tuhan. Gereja pun menerapkan hukuman yang keras pada mereka yang ingkar.482

Kemunculan Aufklarung dan Revolusi Perancis menjadi era perlawanan terhadap kekuasaan Gereja. Pada akhirnya kekuasaan Gereja meredup dan kalah. Revolusi Perancis menjadi pintu gerbang kebebasan (liberalisme) dan universalisme. Ketika itu kepemilikan terhadap sains, modal, dan industri menjadi sumber kekuasaan. Sementara Gereja kembali tersudut di ruang gelap yang hanya mengurusi hubungan pribadi hamba dengan Tuhan.483 Hamka menjelaskan:

Sejak semula sudah kita ketahui bahwa timbulnya peradaban Eropa modern ialah setelah pemberontakan kaum borjuis terhadap Gereja. Tantangan terhadap agama menyebabkan teori pemisahan urusan kenegaraan dengan Gereja. Tetapi pemisahan ini bukan lagi semata pemisahan, bahkan dicampuri oleh tantangan dan kebencian. Sebab itu untuk selanjutnya menjadi faham hidup sekuler yang berakibatkan memisahkan segala yang berbau keagamaan dari kegiatan hidup.484

481 Hamka, Revolusi Agama (Sesudah Ditambah…), h. 121-122

482 Hamka, Islam: Revolusi Ideologi..., h. 83-84; Hamka, Tafsir al-Azhar Jilid 2, h. 704-705

483 Meski demikian, Hamka melihat, kaum agamawan Katolik kemudian menyadari ketertinggalannya dari para filosof dan saintis sekular. Mereka pun kemudian mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu sekular sehingga bisa menyejajarkan dirinya dengan mereka. Bahkan mereka lebih unggul karena bisa menyatukan ilmu-ilmu sekular itu dengan agamanya. Namun sayangnya, Hamka tidak menyebut contoh tokoh Katolik yang telah mencapai kemampuan ini. Lihat Hamka, Tafsir al-Azhar jilid 2, h. 33-34

484 Hamka, ‚Renungan Melihat Eropa‛, dalam Panji Masyarakat, no 202, tahun XVIII, 1 Juli 1976, h. 7

99

Pemisahan agama dan negara menurut tafsir Barat yang sekarang bukanlah satu undang-undang yang mutlak dari kehidupan. Itu hanyalah satu akibat dari insiden, karena salah mempergunakan kekuasaan.485

Meski telah terlanjur mengambil jalan sekularisme, namun Hamka melihat pengaruh agama di Barat tidak bisa hilang begitu saja. Ini tampak dari banyaknya negara Barat yang tetap mencantumkan nama Tuhan di mata uang mereka. Vatikan juga tetap memiliki pengaruh ke jemaatnya yang tersebar di seluruh dunia dan ke banyak negara-negara Barat. Karena itu Hamka menyimpulkan bahwa yang terjadi sesungguhnya bukan pemisahan agama dari negara, tapi pemisahan Gereja Katolik dari urusan pemerintahan. Namun sayangnya, justru yang diekspor ke dunia Islam adalah ‚pemisahan agama dari negara.‛486

Kekuasaan kaum feodal, raja, dan kaum Gereja yang surut itu pun berganti dengan kekuasaan kaum kapitalis.487 Di era ini terjadi kebangkitan liberalisme, kapitalisme, dan imperialisme yang memunculkan kolonialisasi ke penjuru dunia. Negeri-negeri Islam pun tidak luput sebagai sasaran kolonialisasi. Hamka melanjutkan penjelasannya:

Individualisme menimbulkan liberalisme. Liberalisme menimbulkan materialisme. Kapitalisme mesti menimbulkan imperialisme. Mengutamakan diri sendiri mesti menimbulkan keinginan kemajuan hidup diri sendiri. Kemajuan hidup sendiri mesti menimbulkan perbuatan kebendaan. Perbuatan kebendaan mesti menimbulkan pertumpukan modal. Modal yang telah tertumpuk, sendirinya menumbuhkan keinginan mencari pasaran, yaitu jajahan.‛488

Hamka menjelaskan, orang yang berpaham kebendaan (materialisme) akan memandang segala sesuatu dari keuntungan yang akan didapatkannya. Mereka menghargai manusia bukan karena kemanusiaannya, namun atas dasar tenaga yang bisa dimanfaatkan untuk keuntungannya. ‚Dinilainya manusia sekedar keuntungan yang akan didapatnya daripadanya,‛ ungkap Hamka.489

Selain faktor ekonomi, kolonialisasi juga menyimpan motivasi keagamaan. Penyebaran agama Kristen menjadi salah satu tujuan mereka. Lebih dari itu penjajahan terhadap negeri-negeri Muslim, termasuk di kepulauan Nusantara, ungkap Hamka, merupakan kelanjutan dari Perang Salib yang didorong oleh fanatisme agama.490 ‚Penjajahan negara-negara Barat ke negeri Timur, terutama kerajaan-kerajaan Kristen ke Dunia Islam, sejak pangkal abad ke enam belas, adalah lanjutan belaka dari Perang Salib itu,‛ simpul Hamka.491

Di sini Hamka melihat sikap mendua penjajah Barat. Di satu sisi, di negeri sendiri mereka tidak peduli pada agama. Bahkan cenderung meninggalkan dan

485 Hamka, Revolusi Agama (Sesudah ...), h. 124

486 Lihat Hamka, Studi Islam, h. 207-211

487 Hamka, Islam dan Demokrasi, h. 33

488 Hamka, Islam: Revolusi Ideologi..., h. 86-87

489 Hamka, ‚Tidak Semata-mata Benda,‛ dalam Pandji Masjarakat, no 16, tahun II, 1 Pebruari 1960, h. 4-5

490 Hamka, Keadilan Sosial Dalam..., h. 112; Hamka, Sedjarah Islam di Sumatera,

(Medan: Pustakan Nasional, 1950),h. 18.

491 Hamka, ‚Hari Depan Agama (III Habis),‛ dalam Pandji Masjarakat, no. 29, tahun II, 15 Agustus 1960, h. 4

100

memusuhinya. Namun di negara-negara jajahan mereka mendukung penyebaran agama Kristen ke tengah-tengah masyarakat jajahan.492 Hamka melihat agama hanya dijadikan sebagai alat penjajahan belaka, karena di Barat sendiri cahaya agama sedang redup.493 Hamka menyatakan, ‚berhenti Perang Salib pada lahir, tetapi tidak berhenti dalam batin. Zending dan missi lebih digiatkan dalam negeri Islam, padahal jelas sekali bahwa di negara-negara Barat sendiri, karena pengaruh sekuler, sudah lama agama tidak diperdulikan orang lagi.‛494

Penyebaran ajaran agama ke negeri-negeri jajahan bertujuan mengerdilkan kekuatan Islam yang dianggap sebagai penghalang bagi penjajahan. Hamka mengutip pidato Alfonso d’Albuquerque ketika hendak menyerang Malaka di tahun 1911: ‚Adalah suatu pemujaan yang sangat suci dari kita untuk Tuhan dengan mengusir dan mengikis habis orang Arab dari negeri ini, dan dengan menghembus padam pelita pengikut Muhammad sehingga tidak akan ada lagi cahayanya di sini buat selama-lamanya.‛495

Namun Hamka menemukan adanya hal positif dari kolonialisasi yang terjadi di kepulauan Indonesia. Hamka melihat, ketika Barat datang dengan kekuatan senjata, justru terjadi proses penguatan sentimen keislaman di tengah-tengah masyarakat Nusantara kala itu. Seandainya Barat datang dengan damai dan membawa kemajuan ilmu pengetahuannya, Hamka memperkirakan Islam sudah hancur di Nusantara ini. ‚Jika sekiranya agama Islam masih ada di sini, itu adalah hanya sebagai reaksi dari rasa permusuhan. Kaum Muslimin mendindingi dirinya bukanlah dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan perkembangan akal, hanyalah dengan taklid dan fanatik. Demikianlah keadaan kita kira-kira 300 tahun lamanya‛, ungkapnya.496

492 Hamka, ‚Ilmu dan Agama,‛ dalam Pandji Masjarakat, no 21, tahun II, 15 April 1960, h. 5

493 Hamka, Tafsir al-Azhar Jilid 2, h. 734. Hamka menyebut imperialisme Barat itu merupakan gabungan dari tiga hal, yaitu serbuan militer, serbuan zending-misi Kristen, dan serbuan menanam kapital. Lihat Hamka, Tafsir al-Azhar Jilid 2, h. 743. Meski cahaya agama di Barat tengah meredup namun Hamka masih melihat pengaruh agama dalam kehidupan publik (politik pemerintahan) di Amerika Serikat. Dalam deklarasi kemerdekaannya, pendiri Amerika menyebut nama Tuhan. Demikian juga di mata uang dan pelantikan presiden yang menyebut nama Tuhan. Pengajaran agama juga diberikan di akademi militer Amerika. Begitu pun pemelihan presiden yang masih mempertimbangkan asal usul agama sang capres: Protestan atau Katolik. Lihat Hamka, 4 Bulan di Amerika,

(Jakarta: Gema Insani, 2018), h. 96-99

494 Hamka, Pandangan Hidup Muslim, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 260

495 Hamka, ‚Tanggung dJawab Angkatan Muda Islam,‛ dalam Pandji Masjarakat, no 106, tahun XIII, 1 Juli 1972, h. 4

496 Hamka, Renungan Tasawuf, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002), h. 65. Selain faktor ini, faktor lain yang turut berperan mempertahankan Islam di Indonesia adalah ‚kesadaran bahwa nasib agama kita tidak boleh digantungkan kepada penjajah itu.‛ Kesadaran ini telah mendorong sejumlah pelajar Indonesia pergi ke Tanah Arab untuk belajar Islam langsung di sumbernya. Di antara mereka ada yang menetap di sana dan ada yang kembali. Dari mereka lah dipertahankan semangat dan keilmuan Islam di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang terjajah. Dari mereka juga disebarkan semangat

101

Di bawah cengkeraman kekuasaan kolonial, Islam memainkan peran penting bagi perjuangan merebut kemerdekaan. Islam, ujar Hamka, memberikan ruh bagi bangsa Indonesia untuk melawan kekuasaan kolonial Barat. Ruh inilah yang telah menjiwai perjuangan hingga mencapai kemerdekaan. Dalam pidatonya mewakili Fraksi Masyumi di Konstituante, Hamka menjelaskan bahwa semangat dan jiwa proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah Pancasila, tapi keimanan di hati rakyat. Pancasila, ujar Hamka, merupakan sesuatu yang baru dikenal oleh Bangsa Indonesia,

Itulah yang kami kenal, jiwa atau yang menjiwai proklamasi tanggal 17 Agustus, bukan Pancasila. Sungguh saudara ketua, Pancasila itu belum pernah dan tidak pernah dikenal, tidak populer dan belum pernah terdengar! Yang terdengar hanya sorak ‚Allahu Akbar‛. Dan api yang nyala di dalam dada ini sampai sekarang, saudara ketua, bukanlah Pancasila, tetapi ‚Allahu Akbar!‛.497

Kesimpulan Hamka ini senada dengan salah satu teori yang dikemukakan oleh Azyumardi Azra. Menurut Azra, salah satu faktor pendorong intensifikasi penyebaran Islam di Nusantara adalah identifikasi kaum kolonial sebagai orang kafir. Hal ini membuka jalan bagi Islam untuk tampil secara gagah sebagai satu-satunya wadah yang bisa memberikan identitas diri dan pemersatu bagi masyarakat pribumi yang beragam. Islam pun menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan kaum kolonial Barat. Ini ditandai dengan penggunaan simbol-simbol keislaman dalam berbagai perlawanan terhadap kolonial.498

Daya tahan ini mau tidak mau memaksa kaum kolonial untuk menerapkan strategi lain. Jalur kebudayaan pun diambil. Politik etis dan politik asosiasi diterapkan guna menarik warga pribumi ke dalam kebudayaan Barat. Melalui pendidikan, mereka berupaya menjauhkan warga pribumi dari agamanya.499

Dengan begitu, ujar Ahmad Baso, jika nanti akhirnya penjajah Barat harus keluar dari negeri jajahannya, setidaknya masih ada sekelompok pribumi yang tetap tinggal di negeri itu dan bisa melanjutkan warisan kolonial di sana.500

Yudi Latif mengakui, politik etis dan asosiasi memang sengaja dicipta untuk ‚bisa mengembangkan sebuah ikatan yang lestari antara negeri Hindia dan negeri Belanda.‛ Jalur pendidikan diambil sebagai strategi utama, selain juga strategi irigasi dan transmigrasi. Pada jalur pendidikan ini, Latif menulis, pemerintah

perlawanan terhadap penjajahan. Lihat Hamka, ‚Orang-orang Jang Kembali,‛ dalam Gema Islam, no 2, tahun I, 1 Pebruari 1962, h. 11

497 Hamka, ‚Islam Sebagai Dasar Negara,‛ dalam Yusran R (ed.), Debat Dasar Negara Islam dan Pancasila: Konstituante 1957, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2001), h. 100

498 Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara: sejarah Wacana dan Kekuasaan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 38

499 Hamka, Iman dan Amal Shaleh, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), h. 7. Hamka mengakui semula pendidikan Barat di negara-negara terjajah dimaksudkan untuk menciptakan suatu kelas dalam masyarakat yang digunakan untuk melancarkan kekuasaan kolonial tersebut. Namun kemudian tujuan itu dikembangkan dengan berupaya memisahkan masyarakat terjajah dari agamanya. Karena ‚apabila agama bangsa yang menjajah dengan bangsa yang dijajah masih berlainan, akhir kelaknya bangsa ini akan