Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 14 Agustus 2014 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 7,50% dan 5,75%. Kebijakan tersebut konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014 dan 4±1% pada 2015, serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.
Bank Indonesia menilai proses penyesuaian struktur perekonomian ke arah yang lebih seimbang masih terus berlangsung dengan ditopang oleh stabilitas makro ekonomi yang tetap terjaga. Hal ini tercermin dari permintaan domestik yang terkendali dan inflasi yang berada dalam tren menurun, meskipun defisit transaksi berjalan meningkat antara lain karena pola musiman triwulan II 2014.
Ke depan, masih terdapat sejumlah risiko dari eksternal dan domestik yang perlu diwaspadai yang dapat mengganggu tercapainya sasaran inflasi dan perbaikan kinerja transaksi berjalan. Untuk itu, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial serta kebijakan untuk memperkuat struktur perekonomian domestik dan pengelolaan Utang Luar Negeri (ULN), khususnya ULN korporasi. Bank Indonesia juga akan meningkatkan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan agar proses penyesuaian ekonomi dapat berjalan baik dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi yang sustainable ke depan.
L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r
|
43 Boks: Prospek Ekspor CPOEkspor CPO 2014 diperkirakan menghadapi permintaan yang lemah, sementara anjloknya ekspor pada April 2014 sesuai faktor musiman sebagai bulan lowest season. Namun penurunan tersebut lebih dalam karena gangguan
ekspor utamanya kenaikan bea keluar CPO. Dengan memperhatikan tren dan pola musiman ekspor CPO serta faktor permintaan, level ekspor CPO akan kembali meningkat setelah April 2014. Namun pertumbuhan keseluruhan tahun relatif stagnan, atau hanya tumbuh 1%. Informasi liaison perusahaan CPO berorientasi ekspor mengonfirmasi lemahnya ekspor tersebut.
Dalam jangka panjang kinerja ekspor CPO memiliki prospek yang baik.
Pertumbuhan permintaan dunia akan lebih didorong oleh permintaan biofuel seiring program energi hijau melalui peningkatan kandungan biodiesel dalam BBM. Indonesia, didukung potensi pemanfaatan lahan dan peningkatan produktivitas, masih akan mendominasi pasar ekspor ke depan.
Ekspor CPO pada April 2014 menurun tajam dan terjadi ke semua negara tujuan (Grafik 1). Ekspor terendah CPO selalu terjadi pada bulan April sesuai faktor musiman historis. Namun penurunannya lebih dalam diduga karena gangguan-gangguan proses ekspor. Tendensi simpangan musiman semakin membesar terutama pada bulan April (lowest season), berimpikasi pada volatilitas pertumbuhan ekspor yang membesar (Grafik 2). Pola musiman ekspor CPO tersebut bukan disebabkan oleh pola produksi. Hal ini terindikasi dari lowest season produksi CPO pada bulan Desember dan lowest season ekspor manufaktur pada bulan Februari. Ditengarai pola musiman ekspor CPO terkait dengan permasalahan logistik pada proses ekspor. Dalam hal ini, utamanya disebabkan kenaikan bea keluar CPO per 1 April 2014 menjadi sebesar 13,5% dari sebelumnya 10,5%.
L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r
|
44Grafik 3. Produksi, Konsumsi, dan Ekspor CPO
Produksi CPO lebih banyak ditujukan untuk ekspor dengan pasar yang semakin terdiversifikasi (Grafik 3). Rata-rata produksi CPO sejak 2011 sebesar 12,1% yoy. Namun, pertumbuhan ekspor CPO lebih rendah pada periode yang sama karena penggunaan domestik yang semakin meningkat. Sementara itu, pasar ekspor CPO semakin terdiversifikasi. Pasar CPO utama ke negara Emerging masih didominasi Tiongkok dan India, dengan peningkatan pangsa Afrika dan Asia lainnya (Grafik 4).
Grafik 4. Komposisi Negara Tujuan
Ekspor CPO
Grafik 5. Produksi dan Konsumsi
CPO Dunia
Indonesia merupakan produsen CPO terbesar dunia disusul Malaysia (Grafik 5). Pertumbuhan produksi Indonesia tergolong tinggi dan lebih stabil dibanding produsen utama lainnya. Masih bertumbuhnya lahan tanam dan masih besarnya gap lahan tanam dengan yang telah dapat dipanen mencerminkan potensi peningkatan produksi yang masih besar (Grafik 6). Lokasi utama produksi CPO di Sumatera dan
Kalimantan. Indonesia disusul Malaysia juga tercatat sebagai eksportir terbesar.
Ke depan, Indonesia masih terus mendominasi ekspor CPO dunia. Dari sisi konsumsi, konsumen utama CPO yaitu India, Tiongkok, EU, dan Indonesia (Grafik 7). Tiga negara pertama tersebut juga tercatat sebagai importir terbesar baik saat ini maupun ke depannya; sekaligus masih menjadi pasar ekspor Indonesia.
L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r
|
45 Grafik 6. Luas Tanam dan Luas Panen CPOGrafik 7. Eksportir dan Importir CPO Dunia
Permintaan CPO ke depan akan didorong oleh kebutuhan biofuel (Grafik 8). Semakin tingginya permintaan biofuel terkait program energi hijau tercermin pada pangsa penggunaan CPO untuk biodiesel di berbagai negara yang meningkat. Tren penggunaan biodiesel juga terjadi Indonesia dengan peningkatan penggunaan dalam BBM secara bertahap hingga 25% pada 2025. Pertumbuhan permintaan CPO dunia ke depan cenderung lebih rendah dari pertumbuhan saat ini (Grafik 9). Permintaan juga akan didominasi negara berkembang.
Grafik 8. Penggunaan CPO untuk Biodiesel
Grafik 9. Prakiraan Permintaan CPO Dunia
L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r
|
46 Grafik10. Prakiraan Level Ekspor CPOBerjalan
Tabel 1. Timetable Penggunaan Biodiesel Indonesia
US Departement of Agriculture (USDA) memperkirakan produksi CPO Indonesia tumbuh stabil pada 2014 di kisaran 8% (yoy). Namun dengan mempertimbangkan El Nino, Oil World memperkirakan pertumbuhan produksi CPO yang lebih rendah sebesar 5,6%. Rilis terbaru Biro Cuaca Australia memprakirakan tingkat kemungkinan El Nino yang semakin besar mencapai 70% atau dalam status Alert. Sementara itu, GAPKI memprediksi volume ekspor CPO 2014 stagnan atau tidak bertumbuh, karena lemahnya permintaan dan faktor kebijakan negara pengimpor; maupun kebijakan mandatory biofuel dalam negeri.
Dengan memperhatikan tren dan pola musiman ekspor CPO serta faktor permintaan ke depan, level ekspor CPO akan kembali meningkat setelah April 2014. Namun ekspor keseluruhan tahun 2014 relatif stagnan, hanya tumbuh sebesar 1%. Informasi liaison mengonfirmasi lemahnya pasar ekspor. Perusahaan CPO yang berorientasi ekspor memperkirakan penjualan 2014 tertahan karena lemahnya permintaan Tiongkok, India, dan Pakistan. Sebaliknya, perusahaan CPO yang berorientasi domestik memperkirakan penjualan yang meningkat.