• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kyai Haji Rahmadin, atau yang sering disapa Abah oleh masyarakat Kampung Sawah merupakan tokoh muslim serta tokoh masyarakat di Kampung Sawah ia memiliki Sekolah baik dari tingkat

17Wawancara dengan Jacob, Tokoh Umat Katolik Bekasi, pada 17 April 2016.

18Wawancara dengan Jacob, Tokoh Umat Katolik Bekasi, pada 17 April 2016.

SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA YASFI dan juga Masjid besar al-Jauhar.

Sekolah tersebut wakaf keluarga Kyai Haji Rahmadin memang berhadapan dengan gereja Katolik Servatius dan bersebelahan dengan gereja Pasundan.

Masyarakat Kampung Sawah merupakan bagian dari masyarakat Kota Bekasi. Masyarakat asli pribumi Kampung Sawah ialah masyarakat asli Betawi. Secara umum, masyarakat Betawi di identikkan (dianggap) dengan Muslim Betawi.Tetapi, di Kampung Sawah masyarakat asli Betawi tidak hanya beragama muslim. Melainkan, ada juga orang Betawi yang beragama Katolik. Menurut Rahmadin, adanya masyarakat Kampung Sawah merupakan sebuah kedamaian yang menciptakan kerukunan antar umat beragama di Kampung Sawah maupun Kota Bekasi.

Menurut Rahmadin budaya Betawi merupakan suatu etnis atau suku yang identik berbahasa Melayu, ada yang mengatakan untuk mengetahui identitas Betawi melalui busana/pakaian maupun logat atau dialek Melayu yang menjelaskan bahwa dirinya merupakan orang Betawi. Begitupun masyarakat Kampung Sawah yang sampai saat ini masih kental dengan warisan budaya orang tua terdahulu mereka. Sehingga masyarakat Kampung Sawah masih mengamalkan dan melestarikan budaya-budaya yang telah dititipkan ke anak dan cucu mereka baik dari pakaian, dialek maupun tradisi-tradisi keagamaan yang ada di Kampung Sawah.19

Pribumi Kampung Sawah perlu melestarikan Kebudayaan lokal Kampung Sawah terutama budaya Betawi maupun dalam bentuk nilai-nilai

19Wawancara dengan Rahmadin, Tokoh Umat Islam Bekasi, pada 24 April 2016.

keagamaan dan sosial masyarakat. Begitupun para tokoh agama sangat mengedepankan toleransi serta membedakan antara agama dan budaya agar tidak terjadi kerusuhan dalam bentuk agama sehingga dapat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan rukun dan damai demi mewujudkan toleransi kerukunan umat beragama di Kampung Sawah Kota Bekasi.20

Pada tahun 1811 ketika Belanda sedang dikuasai oleh Perancis dan sedang diperebutkan oleh Ingris. Perancis mengutus Mr. Herman Willem Deandels21ke Indonesia untuk dapat mengatur dan menjaga tanah yang ada di Indonesia agar tidak direbut oleh Ingris. Pemerintah Hindia Belanda tidak memiliki uang sehingga tanah yang ada di Jabodetabek dijual kepada orang kaya seperti Cina, Arab, Belanda dan juga Indonesia. Begitupun tanah yang ada di Kampung Sawah atau yang disebut juga dengan istilah

“tanah Partikulir,” tanah tersebut di jual kepada orang Belanda dan

dijadikan perkebunan oleh orang Belanda. Kampung Sawah merupakan daerah yang tidak berpenduduk, sehingga orang Belanda mendatangkan budak-budak dari luar daerah untuk dapat dipekerjakan di perkebunan tersebut. Budak-budak tidak hanya dipekerjakan sebagai petani tetapi para

20Wawancara dengan Rahmadin, Tokoh Umat Islam Bekasi, pada 24 April 2016.

21Adalah seorang Politikus Belanda yang merupakan Gubernur-Jendral Hindia-Belanda yang ke-36 memerintah antara thn 1808-1811.Pada masa itu Hindia-Belanda sedang dikuasai Perancis. Di Indonesia dia mempunyai tugas mempertahankan pulau jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris. Daendels membuat kebijakan-kebijakan yang membuat rakyat menderita, Daendels juga berbuat sewenang-wenang dan tindakannya tersebut menimbulkan kebencian rakyat. Seperti tindakannya dalam pembuatan jalan anyer-panarukan dengan sistem wajib kerja yang menyebabkan ribuan rakyat meninggal dunia, sistem kerja paksa ini biasa di sebut kerja rodi. Kemudian memberlakukan aturan kepada rakyat untuk menyerahkan sebagian dari hasil bumi sebagai pajak (contingenten).

budak ditawarkan oleh Kolonial Belanda apabila kalian ingin merdeka, maka kalian harus mengikuti ajaran agama kami yaitu Kristen.22

Pada sensus penduduk tahun 2000 yang tertulis mengenai suku bangsa bahwa yang membedakan masyakat Betawi, Sunda, Jawa dan lain-lain pada saat itu berupa pengakuan lisan bukan karena melalui ciri-ciri fisik tetapi mereka menyebut bahwasanya itu yang membedakan pada dirinya. Berbeda halnya ketika pada zaman Belanda tahun 1930, bahwa yang membedakan antara masyarakat Betawi, Sunda, Jawa dan lain-lain ialah melalui ciri-ciri fisik atau bentuk pada dirinya baik melalui pakaian atau bahasa mereka sehari-hari.23

Penduduk Kampung Sawah beberapa di antaranya merupakan keturunan Belanda, Cina, dan dari kawasan Timur Nusantara (wilayah Indonesia Timur) yang beranak pinak dan kawin campur, ditambah lagi dengan masyarakat etnik nusantara lainnya (Sunda, Jawa, Melayu, dan lain-lain.) Yang melahirkan masyarakat Betawi Kampung Sawah. Tidak mengherankan kalau kemudian agamanya pun unik, agak berbeda dari masayarakat Betawi lainnya yang mayoritas beragama Islam.

Masyarakat Betawi sangat toleran sehingga banyak aspek-aspek yang dapat di adopsi oleh agama yang ada di Indonesia. Begitupun umat Katolik Kampung Sawah yang masih menggunakan adat kebudayaan masyarakat Betawi. Pada umumnya masyarakat Betawi kental dengan

22Wawancara dengan Abd Chaer, Tokoh Sejarah Betawi Bekasi, pada 27 April 2016.

23Wawancara dengan Abd Chaer, Tokoh Sejarah Betawi Bekasi, pada 27 April 2016.

agama Islam yang menjadi sebuah warisan nenek moyang mereka sehingga menjadi mayoritas dikalangan masyarakat Betawi. Berbeda halnya dengan masyarakat Betawi di Kota Bekasi, Kota Bekasi belum di datangi Bangsa Arab. Bangsa Arab datang ke Indonesia dengan cara berdagang dan berdakwah di tanah Jakarta, sehingga dengan cara tersebut Bangsa Arab semakin menguasai serta mendirikan tempat tinggal dan mendirikan rumah ibadah seperti Masjid Sunda Kelapa yang menjadi sarana masyarakat Betawi pada khususnya di Kota Jakarta.24

Menurut penelitian Yasmine Zacky Shahabuddin seperti dikutip oleh Shahab (2002), keberadaan komunitas ini tidak lepas dari adanya seorang jawara dari Banten yang kawin dengan putri tuan tanah Belanda, pada peristiwa yang terjadi ratusan tahun lalu. Jawara ini masuk Kristen dan keturunannya berkembang di Kampung Sawah.25

Kampung sawah pada awalnya merupakan daerah berpenduduk artinya bahwa masyarakat asli pribumi Kampung Sawah yaitu masyarakat Betawi. Abdul Chair, adalah seorang peneliti dan juga pelaku budaya Betawi di Kota Bekasi. Ia berpendapat bahwa kehidupan masyarakat Kampung Sawah terhadap Katolik dan akulturasi budaya lokal. Jika kita memandangan masyarakat Kampung Sawah pada zaman dahulu mereka merupakan masyarakat asli Betawi Kampung Sawah yang beragama muslim, penyebaran Islam selain dari wilayah Banten dan banyak orang Betawi mempelajari agama Islam dari Banten seperti Syeikh Nawawi

al-24Wawancara dengan Abd Chaer, Tokoh Sejarah Betawi Bekasi, pada 27 April 2016.

25Alwi Shahab, Robin Hood Betawi (Jakarta, Penerbit Republika, 2002), h. 95.

Bantani. al-Bantani yang paling berpengaruh dimasyarakat Betawi dalam peyebaran agama Islam dan juga tokoh-tokoh agama dari masyarakat Betawi.26Sebab mayoritas orang Betawi yang sudah dewasa dan tua masih tetap menuntut ilmu pada seorang guru atau muallim. Karena masyarakat Betawi berpendirian menuntut ilmu harus dilakukan mulai dari ayunan sampai keliang lahat. Para ulama yang disebut Guru ini adalah orang-orang yang pernah menuntut ilmu agama di Mekkah, Madinah, atau tempat lain di Timur Tengah, dan tinggal belasan tahun disana. Menurut catatan Snouck Hurgronje,27 ia bertemu dengan Putra Betawi di kota Mekah, Syeikh Junaid Al-Batawi yang bermukin di Mekah sejak 1834, dan mengajar di Masjidil Haram. Di samping itu ada juga nama lain, seperti Syeikh Nawawi Al-Bantani dari Banten dan Syeikh Arsyad Al-Banjari dari Banjarmasin.28

Belanda hadir di Kampung Sawah bukan melalui dasar agama, tetapi melalui faktor ekonomi dan perdagangan. Sehingga cara Belanda menyebarkan agama Katolik di Kampung Sawah melalui faktor ekonomi yang memang pada saat itu banyak masyarakat dalam pencaharian sehari-hari yaitu bertani.

26Wawancara dengan Abdul Hair, Tokoh Masyarakat Betawi Bekasi, pada 3 Mei 2016.

27Snouck Hurgronje adalah sosok kontroversial khususnya bagi kaum Muslimin Indonesia, terutama kaum muslimin Aceh. Bagi penjajah Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia sarjana yang berhasil. Tapi bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding.

28Abdul Chaer, Betawi Tempo Doeloe; Menelusuri Kebudayaan Betawi (Jakarta, Komunitas Bambu, 2015), h. 20.

Belanda menetap di Kampung Sawah dan mengajak masyarakat Kampung Sawah untuk dapat bergabung ke dalam Agama Katolik dengan cara saling membantu masyarakat Pribumi yang membutuhkan pekerjaan pada saat itu.29

Masyarakat Kampung Sawah merupakan daerah yang dikuasai oleh orang Belanda pada zaman penjajah. Ketika itu masyarakat Kampung Sawah bekerja sebagai petani. Sebab, tanah tersebut merupakan tanah yang subur sehingga mudah untuk di jadikan sawah serta perkebunan. Para kolonial Belanda memanfaatkan kearifan lokal yang ada di Kampung Sawah untuk memajukan ekonomi umumnya pada saat itu. Pertanian menjadi sebuah ladang perkebunan Bangsa Belanda untuk dapat bertahan di Indonesia. Perkebunan tersebut di rawat dan di jaga oleh budak-budak dari luar daerah maupun penduduk asli pribumi Kampung Sawah. Para budak-budak tersebut di tawarkan oleh orang Belanda, jika ingin merdeka maka kamu harus pindah agama dari Protestan ke Katolik. Sehingga terjadilah sebuah akulturasi Katolik dengan Budaya Lokal Kampung Sawah, yang menjadikan sebuah keunikan kerukunan umat beragama sebagai daerah percontohan dengan daerah-daerah lain yang ada di Indonesia.

Bagi masyarakat Kampung Sawah mengadopsi kebudayaan tersebut merupakan akar kultural yang harus diselamatkan terutama tradisi Kebudayaan Betawi di Kampung Sawah. Sehingga sampai saat ini baik

29Wawancara dengan Abdul Hair, Tokoh Masyarakat Betawi Bekasi, pada 3 Mei 2016.

dari komunitas beragama Islam, Kristen dan yang lain masih melestarikan dan menyelamatkan kebudayaan Betawi.

42

Eksistensi agama dalam negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD RI Tahun 1945 sangat dihargai, baik sebelum maupun sesudah amandemen UUD RI Tahun 1945. Beberapa hal berbeda dalam jumlah pasalnya saja. Pasal 29 UUD RI Tahun 1945 ayat (1) dan (2) selengkapnya berbunyi; (1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Dalam pasal sebelumnya juga yakni Pasal 28 E UUD RI Tahun 1945 bahwa (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurur agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraannya, serta berhak kembali. (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dari sikap, sesuai dengan hati nuraninya.1

Selain secara jelas tertulis di dalam konstitusi, Indonesia juga telah meratifikasi ketentuan internasional lewat UU RI No. 12 Tahun 2005 tentang pengesahan International Convenant on Civil and Political Right (Konvenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik).

Sebagaimana dalam Pasal 18 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, keyakinan dan beragama. Hak ini

1Puslitbang Kehidupan Beragama, Kompilasi Kebijakan dan Peraturan Perundang-Undangan Kerukunan Umat Beragama (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Beragama, 2008), Cet.10 h. 16-17.

mencakup kebebasan untuk menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri, dan kebebasan, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di tempat umum atau tertutup, untuk menjalankan agama dan kepercayaannya dalam kegiatan ibadah, pentaatan, pengalaman, dan pengajaran. Ayat (2) menyebutkan bahwa tidak seorangpun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk menganut atau menetapkan agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya. Ayat (3) menyebutkan bahwa kebebasan menjalankan dan menentukan agama atau kepercayaan seseorang hanya dapat dibatasi oleh ketentuan berdasarkan hukum, kesehatan, atau moral masyarakat, atau hak-hak dan kebebasan mendasar orang lain. Di samping menjaga hak-hak-hak-hak asasi kebebasan beragama dan menjalankan agama dan kepercayaannya itu, yang demikian itu juga dibatasi oleh adanya ketentuan moral masyarakat.2

Secara etimologis, integrasi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris (Integrate; integration) yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi integrasi yang berarti menyatu-padukan; penggabungan atau penyatuan menjadi satu kesatuan yang utuh; pemaduan.

Integrasi adalah salah satu gejala dimana segala bentuk perbedaan di dalam struktur sosial bersama-sama melakukan peranan sesuai dengan

2Sihabudin Noor, Penelitian Manajemen Hubungan Antar Umat Beragama Di Kota Tangerang Selatan (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013), h. 1-2.

fungsinya masing-masing sehingga dalam kehidupan sosial terjadi keselarasan.3

Kerukunan umat beragama merupakan pilar penting dari kerukunan nasional. Sedangkan kerukunan nasional dapat tercipta apabila hubungan antar kelompok masyarakat terjalin secara harmonis. Oleh karena itu maka perlu upaya penciptaan dan pemeliharaan kondisi yang rukun di kalangan umat beragama secara terus–menerus, baik oleh pemerintah maupun berbagai komunitas dan kelompok dalam masyarakat termasuk kelompok keagamaan. Upaya demikian sangat diperlukan karena kelompok–

kelompok sosial termasuk kelompok dan ormas keagamaan dalam masyarakat memiliki kedudukan dan peran yang sangat sentral dalam mewujudkan kondisi di atas. Secara sosiologis, keberadaan kelompok sosial dalam kehidupan masyarakat menjadi sangat penting karena sebagian besar kegiatan manusia berlangsung di dalamnya.

Hidup dalam suasana dimana kerukunan tidak dapat dielakkan.

Pertama, kita hidup dalam masyarakat tertutup yang dihuni satu golongan pemeluk satu agama yang sama, tetapi dalam masyarakat modern, dimana komunikasi dan hidup bersama dengan golongan beragama lain tidak dapat ditolak demi kelestarian dan kemajuan masyarakat itu sendiri. Hidup dalam masyarakat pluralitas baik kepercayaan maupun kebudayaan. Keharusan untuk menciptakan masyarakat agama yang berjiwa kerukunan atas

3Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya:

Arkola, 1994), h.264.

desakan dari ajaran agama akan dikesampingkan, atau tidak dihiraukan, maka mau tidak mau kita dihadapkan kepada situasi lain.

Kita dituntut oleh situasi untuk bekerjasama dengan semua pemeluk agama untuk bersama-sama menjawab tantangan baru yang berukuran nasional dan internasional, antara lain ketidak adilan, terorisme internasional, kemiskinan struktural, sekularisme kiri. Kesemuanya tidak mungkin diatasi oleh satu golongan agama tertentu, tetapi membutuhkan konsolidasi dari segala kekuatan baik moral, spiritual maupun material dari semua umat beragama.4

Oleh karena itu perlunya peran dari berbagai elemen masyarakat maupun pemerintah untuk mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat beragama yang rukun untuk kemajuan suatu Daerah maupun Negara yang lebih tentram dan harmonis. Setiap orang selalu berusaha bagaimana dapat menciptakan suasana hidup rukun dimanapun mereka berada. Namun harus di sadari juga bahwa perdamaian atau kerukunan, ketentraman itu bukan sesuatu yang akan terjadi dengan sendirinya, tetapi kita sendiri yang harus berusaha untuk membina perdamaian, ketentraman, persatuan, kerukunan dalam lingkungan hidup kita sendiri, entah itu dalam rumah tangga, dalam antar tetangga, dalam suku bangsa, negara maupun dunia.5

4D. Hendropuspito, Sosiologi Agama (Yogyakarta: Kanisius, 2000), h. 170

5Bashori A. Hakim, Memelihara Harmonisasi Dari Bawah : Peran Kelompok Keagamaan Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2014), h. 1-2.

Berdirinya Paroki Kampung Sawah St. Servatius berawal dari pembabtisan 18 orang Kampung Sawah oleh Pastor Bernardus Schweitz.

Setahun setelah pembabtisan itu, Pastor Bernardus membeli rumah sederhana untuk dijadikan tempat ibadat walaupun pada saat itu masih tinggal di Jatinegara. Oleh karena itu Pastor Bernardus mengangkat Engku Natanel sebagai ketua stasi sekaligus guru agama bersama dengan Markus Ibrahim Kaiin.

Pada saat 1902-1904 Gereja Katolik dilarang menyelenggarakan kegiatan di Kampung Sawah. Namun pada tahun 1922 Rm. J. Van Der Loo, SJ mendirikan gereja baru yang dilengkapi sebuah menara di tanah persawahan, di lokasi gereja saat itu.6

Pada tahun 1935, saat itu gereja dipimpin oleh Pastor Oscar Cremers, OFM7yang tercatat sebagai pastor pertama yang tinggal pertama di Kampung Sawah. Pada tahun tersebut Pastor Oscar memberkati sebuah poliklinik yang bernama yang bernama Melania yang masih ada sampai saat ini. Pada tanggal 24 Oktober 1936, Pastor Oscar memberkati sekolah misi dengan nama Rooms Katholieke Vervolgschool.8 Pada tahun inilah tercatat lahirnya tradisi memberkati panen padi sebagai ungkapan rasa

6Haidlor Ali Ahmad, Dinamika Kehidupan Keagamaan di Era Reformasi (Jakarta, Maloho Jaya Abadi Press, 2010), h. 552.

7OFM (Ordo Fransiskan) atau Ordo saudara-saudara Dina Santo Fransiscus dari Asisi masuk Hindia Belanda untuk mendampingi Ordo Yesuit (SJ) yang sudah lebih dulu masuk dan melayani Batavia dan Jawa Barat. Pada masa itu, Paroki Santo Yosef Matraman diserahkan dari Yesuit kepada Fransiskan, maka dengan sendirinya pelayanan di Kampung Sawah juga diserahkan kepada Pastor yang berdomisili disana.

8Sekolah-sekolah yang berkembang selanjutnya didirikan oleh Pastor Oscar dan menjadi bagian dari Yayasan Odoricus Stichting yang melayani sekolah-sekolah di lingkungan kerja Vikariat Apostolik Batavia dan berkedudukan di Jakarta, dikelola bersama oleh Fransiskan dan Yesuit.

syukur umat yang dikemudian hari selalu dirayakan setiap tanggal 13 Mei sebagai tradisi “Sedekah Bumi”. Pagi hari atau keesokan harinya, diadakan

doa bersama yang dihadiri oleh tokoh-tokoh asli Kampung Sawah dari berbagai agama. Pada misa sore hari pukul lima sore, nyanyian pengiring Misa bernuansa Betawi. Pada acara ini umat asli Kampung Sawah akan mengenakan busana adat Betawi. Jika ada dana pada malam hari setelah misa diadakan pasar rakyat yang bernuansa Betawi.

Pada tanggal 23 September 1937, Vikaris Apolistik Djakarta, Monseigneur Petrus Willekens, SJ mengangkat stasi Kampung Sawah menjadi Paroki sendiri dan Gereja Kampung Sawah diberkati dengan nama Santo Antonius dari Padua. Paroki Kampung Sawah menjadi paroki kelima di Keuskupan Agung Jakarta setelah Katedral (1808), Matraman (1909), Kramat (1920), dan Theresia (1930).

Gereja Kampung Sawah sempat dirusak dan dibakar oleh pihak yang tidak dikenal pada tahun 1945. Pada tahun 1946 terkumpul lagi umat Katolik Kampung Sawah sebanyak 90 orang. Pada tahun 1949, Pastor P.F.

Soerjomoerdjito, Pr merehabilitas gereja dan pastoran.9

Tahun 1972-1973, para pastor Kampung Sawah tinggal di Cililitan sehingga Kampung Sawah menjadi stasi kembali. Sehingga pada tahun 1978, datanglah Suster Pauline, OSU yang menjadi kepala SMP Strada di Kampung Sawah. Kemudian Suster Paulin menggagas terbentuknya proyek Karang Kitri Kampung Sawah yang bertujuan untuk membantu

9Haidlor Ali Ahmad, Dinamika Kehidupan Keagamaan, h. 553.

warga yang tidak mampu. Pada tahun 1988, Aloysius Yus Noron, yang merupakan putra asli Kampung Sawah ditahbiskan sebagai imam asli Kampung Sawah pertama setelah 92 tahun pembabtisan yang pertama.

Sejak saat itu, seni budaya Betawi seperti pentas topeng, wayang kulit Betawi, pakaian adat Betawi, dan iringan musik tanjidor kerap digunakan oleh pastor-pastor selanjutnya dalam berbagai kegiatan di Gereja Kampung Sawah.

Pada tahun 1994, nama Paroki St. Antonius diganti menjadi St.

Servatius. Gereja Santo Servatius adalah Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ yang memberkati Gereja Santo Servatius Kampung Sawah. Pemberkataan Gereja diikuti oleh 4.294 umat paroki yang dimeriahkan oleh pesta rakyat yang dimeriahkan dengan musik tanjidor.10

Menurut Rosentina sebagai perwakilan pemerintah Kota Bekasi, ia menangani di bidang Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Bekasi. Ia berpendapat bahwa kehidupan kerukunan umat beragama di Kampung Sawah Kota Bekasi, menjadi sebuah cermin bagi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Kerukunan umat beragama di Kampung Sawah dapat terwujud dengan adanya masyarakat yang saling menghargai antar pemeluk agama.11

Bagi umat beragama, rumah ibadah merupakan tempat yang sakral bagi pemeluk agama dalam menjalankan kewajiban beribadah kepada

10Haidlor Ali Ahmad, Dinamika Kehidupan Keagamaan, h. 554.

11Wawancara dengan Rosentina, Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Bekasi, pada 2 Juni 2016.

Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi tempat aktivitas sosial masyarakat setempat. Kerukunan yang terjalin di Kampung Sawah, tidak hanya pada masyarakat Kampung Sawah saja. Tetapi sudah terlihat dari letak/jarak yang bersebelahan antara Masjid Fisabilillah dan Gereja Kristen Pasundan dan tidak jauh dari bangunan tersebut berdiri sebuah Gereja Santo Servatius. Ini merupakan sebuah wujud keindahan dan kedamaian tanpa batas di lingkungan masyarakat Kampung Sawah Kota Bekasi.

Kerukunan yang terjalin di masyarakat Kampung Sawah tidak saja terlihat dari letak bangunan rumah ibadah yang saling berdekatan antara Masjid Fisabilillah, Gereja Kristen Pasundan dan Gereja Santo Servatius.

Kerukunan tersebut juga di aplikasikan dalam beberapa keluarga yang berbeda dalam menganut sebuah agama.

Dalam kehidupan umat beragama tidak selamanya bisa berjalan dengan baik tanpa ada hambatan dan permasalahan dalam kehidupan beragama umumnya di Kota Bekasi. agama merupakan sesuatu yang sensitif bagi umat manusia di muka bumi ini. Masyarakat Kampung Sawah, dapat hidup berdampingan dengan baik disebabkan dengan adanya masyarakat yang saling menghargai. Setiap permasalahan yang ada di Kampung Sawah, selalu diselesaikan dengan cara musyawarah agar mendapatkan hasil yang baik tanpa harus menyakiti orang lain sehingga dapat mewujudkan kedamaian di Kampung Sawah, Kota Bekasi.12

12Wawancara dengan Rosentina, Bimas Katolik Kementerian Agama Kota Bekasi, pada 2 Juni 2016.

Budiman adalah tokoh umat Kristen Pasundan dan tokoh masyarakat Kampung Sawah. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Kampung Sawah menurutnya kerukunan antar masyarakat beragama merupakan wujud kedamaian yang tercermin di dalam kesatuan Pancasila. Sejak kecil ia bergaul dengan teman-teman di lingkungan masyarakat Kampung Sawah secara harmonis. Menurutnya, kerukunan sudah ada sejak (masa

Budiman adalah tokoh umat Kristen Pasundan dan tokoh masyarakat Kampung Sawah. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Kampung Sawah menurutnya kerukunan antar masyarakat beragama merupakan wujud kedamaian yang tercermin di dalam kesatuan Pancasila. Sejak kecil ia bergaul dengan teman-teman di lingkungan masyarakat Kampung Sawah secara harmonis. Menurutnya, kerukunan sudah ada sejak (masa