Mayoritas penduduk Kampung Sawah adalah Muslim.Ada Muslim tradisional atau yang disebut masyarakat Betawi sebagai ahlu sunnah wal jama’ah aswaja dan juga ada Muslim modern Muhammadiyah. Muslim
tradisional tetap mempertahankan tradisi mereka sampai saat ini. Tradisi yang berkaitan dengan tradisi daur hidup mungkin memiliki sedikit perbedaan dengan daerah lain, namun maksud dan tujuannya masih sama.
Ketika misalnya, mereka tidak mesti melaksanakan akikah, yaitu memotong kambing 1 ekor untuk menyambut bayi perempuan dan 2 ekor untuk menyambut kelahiran anak laki-laki. Dalam upacara itu selalu dibacakan Kitab Barjanzi yang dipimpin oleh Kyai atau Ustadz. Bayi diangkat dan diputarkan ke seluruh undangan untuk dipotong rambutnya.
Kitab Barjanzi tidak hanya dibacakan pada saat kelahiran seorang bayi,
10A. Widjaja, Manusia Indonesia: Individu Keluarga dan Masyarakat (Jakarta:
Akademik Pressindo, 1986), h.102.
tetapi dalam bentuk upacara selamatan yang lain pun sudah menjadi kebiasaan rutin masyarakat Betawi. Sehingga tidak hanya kegiatan hiburan saja tetapi tradisi rohani pun masih digunakan dan dipertahankan oleh masyarakat Betawi.
Karna muslim modernis (Muhammadiyah) pada masyarakat Komunitas Betawi tidak mempraktikan apa yang menjadi tradisi atau praktik keagamaan kaum Sunni. Ketika anak lahir mereka selamatan dengan akikah dan memotong kambing sesuai dengan ketentuan. Tidak ada Maulidan dan Karjanzi/Rawi, mereka lebih memilih silaturahmi dalam bentuk ceramah agama, ramah tamah dan kemudian menyantap makanan.
Kalangan Muslim modernis lebih simpel dalam melakukan upacara menyambut kelahiran bayi.11
Sementara itu, Umat Katolik Paroki12 Santo Servatius Kampung Sawah memiliki tradisi tahunan yaitu penggabungan keyakinan iman dan tradisi. Sedekah bumi misalya, merupakan acara tahunan yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu adalah seluruh acara yang menggabungkan iman dan tradisi.
Sejak 72 tahun lalu, upacara sedekah bumi pertama kali dilangsungkan di lingkungan Gereja. Pada perkembangan zaman para
11Wawancara dengan Arifin, Tokoh Umat Islam Bekasi, pada 7 Februari 2016.
12Paroki dalam Bahasa Inggris yaitu parish, adalah suatu tipe pembagian administratif. Paroki dalam Gereja Katolik Roma di Indonesia adalah wilayah Gereja dibawah Keuskupan. Proki dipimpin oleh seorang Pastor Kepala Paroki dan beberapa Pastor pembantu. Wilayah dibawah Paroki biasa disebut lingkungan, yang dikepalai oleh seorang kepala lingkungan.
Misionaris mengizinkan upacara sedekah bumi boleh dilakukan dihalaman rumah umat Katolik Servatius masing-masing.
Sedekah bumi merupakan bagian dari mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada umatnya dan disyukuri bersama dengan cara berbagi, sedekah bumi merupakan tradisi masyarakat Kampung Sawah khususnya umat Katolik Servatius. Dalam rangka sedekah bumi tidak hanya dihadiri umat Katolik Servatius tetapi dihadiri oleh tokoh-tokoh Masyarakat setempat, begitupun dalam hari Raya Besar Islam mereka saling menghargai.
Kampung Sawah pada awalnya masih dikelilingi sawah dan masyarakat sebagian besar berprofesi sebagai petani. Sedekah bumi identik dengan persembahan hasil panen, seperti padi dan sayur-sayuran. Ketika zaman mulai modern, representasi rasa syukur tetap terjaga meski masyarakat Kampung Sawah tak lagi bertani. Acara ini telah berlangsung selama puluhan tahun, sejak tahun 1996 dan diperingati pada setiap 13 Mei. Tradisi ini merupakan wujud ungkapan syukur, juga dikaitkan dengan hari perlindungan paroki tersebut, yakni Santo Servatius.13
Pada perkembangan selanjutnya, kegiatan sedekah bumi yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Sawah tidak hanya dilakukan oleh umat Katolik saja, tetapi Muslim, Protestan dan pemeluk agama lain melakukannya. Karena tradisi itu merupakan warisan dari Nenek Moyang
13Wawancara dengan Jacob, Tokoh Umat Katolik Bekasi, pada 14 Februari 2016.
mereka, sehingga bagi mereka adalah sebuah kewajiban untuk melestarikan kebudayaan asli masyarakat Kampung Sawah.14
14Wawancara dengan Jacob, Tokoh Umat Katolik Bekasi, pada 14 Februari 2016.
23
Akulturasi dalam kamus ilmiah popular diartikan sebagai proses percampuran dua kebudayaan atau lebih.1 Akulturasi atau acculturation atau culture contact diartikan oleh sarjana antropologi mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.2
Pengertian proses akulturasi dalam buku Komunikasi Antar budaya merupakan suatu proses yang interaktif berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan sosio-budaya yang baru.3
Budaya sebagai cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh kelompok orang dan diwariskan oleh generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur budaya yang rumit, termasuk sistem agama
1Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer Edisi Lengkap (Surabaya, Gitamedia Press, 2006), h. 21.
2Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta, Aksara Baru, 1980), h.
247-248.
3Deddy Mulyana, dan Jalaluddin Rakhmat, Komunikasi Antar Budaya (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 140.
dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian bangunan dan karyaseni.4
Kebudayaan secara sederhana banyak yang mengartikan sebuah seni, akan tetapi kebudayaan bukan sekedar sebuah seni, kebudayaan melebihi seni itu sendiri karena kebudayaan meliputi sebuah jaringan kerja dalam kehidupan antarmanusia. Dengan begitu, manusia merupakan aktor dari kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan merupakan suatu unit interpretasi, ingatan, dan makna yang ada di dalam manusia dan bukan sekedar dalam kata-kata. Ia meliputi kepercayaan, nilai-nilai, dan norma, semua ini merupakan langkah awal dimana kita merasa berbeda dalam sebuah wacana. Kebudayaan melibatkan karakteristik suatu kelompok manusia dan bukan sekedar pada individu.5
Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang manapun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang di anggap masyarakat lebih tinggi atau lebih diinginkan. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan, bagaimanapun sederhana kebudayaan setiap manusia adalah mahluk yang berbudaya.6
Para antropology mengatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan kompleks yang di dalamnya meliputi pengetahuan, seni moral, hukum, adat istiadat, dan setiap kemampuan atau kebiasaan yang dilakukan
4Stewart L. Tubbs dan Silvia Moss, Human Communication Konteks-Konteks Komunikasi (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 237.
5Alo Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya( Yogyakarta, LkiS, 2003), h. 11.
6T.O. Ihromi, Pokok-Pokok Antropologi Budaya (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2006), h. 18.
oleh seseorang sebagai anggota suatu masyarakat. Untuk mempermudah penjelasan kebudayaan yaitu dengan mendeskripsikan rincian pengetahuan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan setiap kemampuan atau kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat dari kebudayaan tertentu.7
Kebudayaan sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat, memungkinkan bagi para warga masyarakat tersebut untuk dapat saling berkomunikasi tanpa menghasilkan kesalapahaman. Karena dengan menggunakan kebudayaan yang sama sebagai acuan untuk bertindak maka masing-masing pelaku yang berkomunikasi tersebut dapat meramalkan apa yang diinginkan oleh pelaku yang dipahaminya. Begitu juga dengan menggunakan simbol-simbol dan tanda-tanda yang secara bersama-sama mereka pahami maknanya maka mereka juga tidak akan saling salah paham. Secara individual atau perorangan maka pengetahuan kebudayaan dan dipunyai oleh para pelaku tersebut dapat berbeda-beda atau beranekaragam.
Agama dalam sejarah kebudayaan manusia muncul dalam ragam bentuk yang unik. Agama tak hanya sebagai bentuk pedoman hidup dalam bermasyarakat (E. Durkheim), tetapi juga pengalaman dari individual terhadap yang sakral atau yang supranatural dibalik nilai-nilai hidup yang diyakini dalam kehidupan pribadi dan sosial.8
Aspek kehidupan bergama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan aspek budaya
7Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, h.10-11.
8Rusmin Tumanggor, Antropologi Agama (Ciputat: UIN Press, 2015), h. 11-12.
yang lain. Ekspresi religius ditemukan dalam budaya material, perilaku manusia, nilai moral, sistem keluarga, ekonomi, hukum, politik, pengobatan, sains, teknologi, seni, pemberontakan, perang dan lain sebagainya. Tidak ada aspek kebudayaan lain dari agama yang lebih luas pengaruh dan implikasinya dalam kehidupan manusia.9
Karena yang mempercayai yang gaib, mempercayai wahyu, mempercayai surga dan neraka, sekalipun semua itu bukan dari manusia, adalah manusia dan masyarakat, pada umumnya ahli antropologi menempatkan agama (religi) sabagai salah satu dari aspek-aspek kebudayaan (cultural universals) karena dia merupakan hasil dari pemahaman, rasa dan tindakan masyarakat yang bersangkutan dalam hubungan dengan yang gaib. Harsojo mengungkapkan sistem kepercayaan (religi) sebagai salah satu aspek kebudayaan di samping; (1) teknologi dan kebudayaan material, (2) sistem ekonomi dan mata pencaharian, (3) organisasi sosial, (4) sistem kepercayaan, dan (5) kesenian.
Koentjaraningrat juga menempatkan agama sebagai cultural universals keenam dari unsur kebudayaan yang dikemukakannya, yaitu: (1) bahasa, (2) sistem pengetahuan, (3) organisasi sosial, (4) sistem peralatan hidup dan teknologi, (5) sistem mata pencaharian, (6) sistem religi, dan (7) kesenian.
Agama membentuk dan mewarnai system-sistem budaya. Karena pengelompokan sistem atau aspek budaya ini hanya cara yang ditempuh
9Bustanuddin Agus, Agama dalam Kehidupan Manusia Pengantar Antropologi Agama (Jakarta: PT Raja Gravindo Persada, 2006), h.201.
oleh para ahli untuk menyistematiskan dan mengelompokkan cakupan kebudayaan yang amat luas, membahas hubungan agama dan kebudayaan.10