• Tidak ada hasil yang ditemukan

REALITAS PROBLEM KEBEBASAN BERAGAMA

C. RESPONS TOKOH GEREJA TERHADAP PENDIRIAN GEREJA

Dalam pembahasan ini, penulis mendapatkan data-data dari Ketua Panitia Pembangunan Gereja Santa Bernadet, yaitu Antonius Turmijo.

Dalam hasil penelitian penulis dengan Antonius Turmijo dan juga sebagai tokoh Katolik diakui oleh bahwa warga Sudimara Pinang mempunyai perasaan curiga yang telah tertanam tentang persyaratan mendirikan rumah ibadat yang telah terpenuhi semua. Tanda tangan, sebagai bukti tidak berkeberatan atau mendukung atas pendirian rumah ibadat Gereja Santa Bernadet, dianggap rekayasa oleh warga yang menolak didirikannya Gereja. Bahkan ada isyu yang berkembang pada masyarakat khususnya warga di Sudimara Pinang banwa setiap orang atau warga yang tanda tangan diberikan uang oleh Panitia Pembangunan Gereja agar warga mendukung pendirian Gereja. Jika memang tanda tangan itu dianggap rekayasa, Antonius Turmijo selaku Panitia Pembangunan Gereja siap untuk bertanggung jawab dan membuktikan bahwa tanda tangan itu asli dan bukan rekayasa. Jadi, ada beberapa isyu yang sudah tersebar di Sudimara Pinang , yang pertama adalah masalah tanda tangan yang sudah dijelaskan , kedua adalah masalah Kristeinsasi. Warga Sudimara Pinang khawatir tentang bantuan yang sudah kami berikan dan menjadi salah satu program Gereja, seperti pengobatan gratis, bantuan sosial, pendidikan di Sudimara Pinang ini adalah misi Kristenisasi.

Selaku Ketua Panitia Gereja, Antonius Turmijo merasa heran kepada sebagian warga Sudimara Pinang. Kami selaku uamt Katolik tidak pernah melakukan aksi

Kristenisasi, terbukti sampai saat ini tidak pernah dari warga Sudimara Pinang yang telah masuk Kristen atau Katolik.9

Antonius Turmijo berasumsi, bahwa aparat Pemerintah, dari mulai RT, RW, dan Kelurahan tidak ingin merekomendasi permohonan Kami (panitia pembanguan Gereja Santa Bernadet) dengan alasan telah diancam oleh sebagian warga Sudimara Pinang. Oleh karena itulah Kami panitia pembanunan Gereja Santa Bernadet) merasa kesulitan untuk mendapatkan izin dari aparat Pemerintah. Selain itu, Pemerintah dalam hal ini Kelurahanrahan, beralasan bahwa kasus ini adalah masalah warga Sudimara Pinang mayoritas memeluk agama Islam. Menuru Antonius Turmijo, masalah mayoritas adalah bukan alasan untuk tidak merekomendasi permohonan rencana pendirian Gereja Santa Bernadet, karena masalah mayoritas keagamaan tidak ada di peraturan pemerintah.

Sebagai warga Negara Indonesia yang taat hukum, Antonius Turmijo mengucapkan terimaksih kepada Pemerintah yang telah membuat Peraturan Pemerintah terkait persyaratan mendirikan rumah ibadat. Karena tidak semudah yang difikirkan, penuh perjuangan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat peraturan tersebut. Pada akhirnya, selaku Ketua Pembangunan Gereja Santa Bernadet yang berada di Kelurahan Sudimara Pinang, mengharapkan kepada warga Sudimara Pinang, Pemerintah segera merekomendasi permohonan rencana

9

pendirian Gereja Santa Bernadet. Karena tidak ada maksud apapun, selain untuk beribadat seperti umat-umat agama lain yang berada di Indonesia dan di dunia ini.10

Dari beberapa respon berbagai pihak yang terkait dengan problem rencana pendirian rumah ibadat Gereja Santa Bernadet di Kelurahan Sudimara Pinang, Kecamatan Pinang Kota Tangerang, kesimpulan sementara penulis adalah bahwa umat Katolik dalam hal ini Panitia Pembangunan Gereja Santa Bernadet akan terus memaksakan keinginannya yaitu mendirikan Gereja di lokasi Sudimara Pinang, walaupun telah banyak warga yang menolak, salah satu upaya Panitia Pembangunan Gereja Santa Bernadet untuk membangun Gereja Santasa Bernadet adalah salah, yaitu telah memberikan uang kepada sebagian warga Sudimara Pinang, dengan tujuan untuk mendukung rencana pendirian Gereja tersebut. Tindakan tersebut, penulis dapatkan dari hasil wawancara dengan berbagai pihak yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Warga Sudimara Pinang yang menolak rencana Pembangunan Gereja tersebut juga terus berupaya untuk melakukan aksi dan sikap penolakan terhadap rencana pembangunan Gereja di lokasi Sudimara Pinang. Tindakan ini dapat dibuktikan dengan diajukannya surat atau proposal penolakan yang diajukan oleh FOKUS (Forum Komunikasi Umat Islam Sudimara Pinang) kepada pihak Pemerintah.

10

A. Kesimpulan

Berdasrkan hasil uraian pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Kebebasan memeluk agama baik itu Islam, Budha, Hindu, Kristen, Katolik, Konghucu, dan aliran kepercayaan yang berada di Sudimara Pinang Kecamatan Pinang Kota Tangerang menunjukkan tidak terjadi masalah dan bebas memeluk agama apapun. Hanya saja selama kegiatan-kagiatan yang dilakukan umat beragama tersebut tidak menggangu kenyamanan, ketentraman warga. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh berbagai pihak yaitu Sekretaris Kelurahan, Ketua Pembangunan Gereja Santa Benadet, dan Tokoh Islam.

Hubungan keberagamaan antara Islam dan Katolik di Sudimara Pinang adalah semu, artinya jika terlihat dalam kehidupan bermasyarakat cukup baik , akan tetapi ada perasaan saling mencurigai dengan adanya isyu Kristenisasi yang sudah berkembang di masyarakat. Walaupun pernah terjadai indikasi-indikasi konflik, namun dapat segera selesai. Hal ini disebabkan karena hilangnya kepercayaan dan adanya sikap saling mencurigai antara umat Islam dan Katolik yang berada di Sudimara Pinang. Perbedaan pendapat yang didasarkan oleh pemahaman agama yang dianut juga menjadi salah satu penyebab kecurigaan.

Penolakan warga terhadap rencana pendirian gereja diawali setelah warga mengetahui bahwa tanah kosong yang dibeli oleh pihak Katolik akan dijadikan bangunan tempat ibadat (gereja santa bernadet). Pada awal proses pembelian tanah dengan luas tanah 6050 m2, pihak RW, dan Kelurahan tidak melakukan sosialisasi kepada warga terkait pendirian Gereja. Hal ini menyebabkan mayoritas warga Sudimara Pinang dan sekitarnya menolak, sehingga Ketua RW dan Kelurahan pada waktu itu dituntut dan diminta diberhentikan oleh warga. Hal ini pula yang menyebabkan permasalahan ini terus berlangsung.

Peran pemerintah (RW, Kelurahan) dalam mengambil kebijakan tampaknya agak sedikit timpang dan kurang tegas. Hal ini dikarenakan pemerintah merasa khawatir apabila rencana pendirian gereja tersebut diizinkan untuk dibangun akan mendapat ancaman dari warga yang menolak. Kebijakan seperti ini bila dibiarkan terus menerus maka akan merugikan piahak lain yang seharusnya memperoleh hak yang sama sebagai warga negara yang beragama.

Sampai dengan saat ini, pihak Katolik, dalam hal ini Panitia Pembangunan Gereja akan terus melakukan pendekatan, sosialaisai, pemahaman, kepada pihak yang bersangkutan agar rencananya dapat berhasil. Begitupun denngan warga yang menolak, akan terus menolak rencana pendirian di Sudimara Pinang gereja tersebut.

Dokumen terkait