• Tidak ada hasil yang ditemukan

Restorative Justice

Dalam dokumen PENGATURAN PERLINDUNGAN ANAK PELAKU TIND (Halaman 43-48)

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3. Restorative Justice

Tujuan-tujuan peradilan bagi anak terkait proposionalitas antara pelanggaran hukum dan pelanggar hukumnya perlu diperhatikan. Teori Keadilan oleh John Rawls yang menjelaskan teori keadilan sosial sebagai the difference principle dan the principle of fair equality of opportunity. Inti the difference principle jika dikaitkan dengan anak pelaku kejahatan, adalah bahwa perbedaan sosial dan ekonomis harus diperhatikan agar memberikan manfaat yang paling besar bagi mereka yang paling kurang beruntung. Faktor-faktor penyebab seorang anak melakukan tindak pidana harus

diperhatikan agar mampu memberi win-win solution dalam proses peradilan. Faktor-faktor tersebut dapat meliputi latar belakang ekonomi, keluarga, pendidikan, lingkungan dan keterlibatan orang lain terutama orang dewasa dalam tindak kejahatan yang dilakukan anak. Meskipun faktor-faktor tersebut juga harus berhubungan dengan tindak pidana sebagai contoh adalah latar belakang ekonomi akan mempengaruhi anak untuk mencuri atau latar belakang kehidupan dalam lingkungan lokalisasi akan mempengaruhi seorang anak untuk bertindak asusila.

Lebih lanjut John Rawls menegaskan bahwa maka program penegakan keadilan yang berdimensi kerakyatan haruslah memperhatikan dua prinsip keadilan, yaitu, pertama, memberi hak dan kesempatan yang sama atas kebebasan dasar yang paling luas seluas kebebasan yang sama bagi setiap orang. Kedua, mampu mengatur kembali kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi sehingga dapat memberi keuntungan yang bersifat timbal balik (reciprocal benefits) bagi setiap orang, baik mereka yang

berasal dari kelompok beruntung maupun tidak beruntung.65

Teori Keadilan oleh Aristoteles dan John Rawls harus diaplikasikan dalam setiap proses peradilan baik penangkapan, peyelidikan, penyidikan, pemeriksaan dan pemutusan. Hal tersebut sesuai dengan yang diamanatkan dalam Deklarasi Universal tentang Hak-Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights), Resolusi No. 217 A (III) tanggal 10 Desember 1948, menyatakan bahwa “Tak seorang pun boleh

65 John Rawls, A Theory of Justice, London : Oxford University Press, 1973, terjemahan oleh Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, Teori Keadilan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006.

dianiaya/diperlakukan secara kejam, ditangkap, ditahan atau dibuang secara sewenang-wenang. Setiap orang yang dituntut karena disangka melakukan suatu pelanggaran pidana harus dianggap tidak bersalah”.

Selain itu, the principle of fair equality of opportunity menunjukkan pada mereka yang paling kurang mempunyai peluang untuk mencapai prospek kesejahteraan, pendapat dan otoritas. Mereka inilah yang harus diberi perlindungan khusus.

Menurut standard Internasional Diversi dapat dilakukan pada setiap tahapan proses peradilan, mulai dari tahap penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di persidangan, dan pelaksanaan putusan hakim. Namun dalam ketentuan hukum di Indonesia, pelaksanaan Diversi hanya dimungkinkan ditingkat penyidikan artinya hanya merupakan kewenangan dari kepolisian, sementara di lembaga lain seperti Kejaksaan, Kehakiman, atau Lembaga pemasyarakatan belum ada aturan yang mengaturnya.

Restorative Justice berlandaskan pada prinsip due process, yang merupakan eksplorasi dan perbandingan antara pendekatan kesejahteraan dan pendekatan keadilan, yang sangat menghormati hak-hak hukum tersangka dan sangat memperhatikan kepentingan korban. Sasaran peradilan restoratif adalah mengharapkan berkurangnya jumlah anak yang ditangkap, ditahan dan divonis penjara serta menghapuskan stigma pada diri anak dan mengembalikan anak menjadi manusia yang normal sehingga dapat berguna di kemudian hari.

Restorative justice mengakui 3 (tiga) pemangku kepentingan dalam menentukan penyelesaian perkara anak, yaitu : (1) korban; (2) pelaku; (3) komunitas.

Khusus dalam hal tindakan pencegahan. menurut Chie Noyori-Corbett dan Sung Seek Moon, langkah-langkah pencegahan tindak kenakalan remaja dapat dilakukan melalui:

a. Parental Involvement

Semakin tinggi keterlibatan orang tua dalam hubungannya dengan anak, akan semakin rendah kemungkinan anak melakukan tindakan yang salah. Sebagai contohnya ketika dalam survey yang dilakukan di sekolah menengah atas di AS, ditemukan bahwa kemungkinan anak untuk menggunakan rokok ganja lebih kecil ketika orang tua terus memberikan peringatan yang kuat mengenai bahaya akan hal itu; dan

b. Extracurricular Activities

Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dapat membantu remaja- remaja untuk belajar mengelola dan mengunakan waktu diluar jam sekolah dengan lebih produktif. Hal ini akan memperkecil kemungkinan bagi mereka untuk melakukan tindakan-tindakan yang salah. 66

66

Chie Noyori-Corbett dan Sung Seek Moon, 2010, “Multifaceted Reality of Juvenile Delinquency: An Empirical Analysis of Structural Theories and Literature”, Springer Science+Business Media, LLC, hlm.247-250. (diunduh dari http://www.library.usyd.edu.au tanggal 8 Juni 2012)

Di dalam Penal Code Ethiopia, terdapat jenis tindakan yang diperuntukan bagi pelaku tindak pidana yaitu Tindakan Biasa (Ordinary Measures) dan Tindakan Penghukuman (Penalty Measures). Tindakan biasa meliputi tindakan-tindakan seperti penahanan di lembaga pemasyarakatan (admission to curative institutions), pendidikan terawasi (supervised education), teguran (reprimand) dan tahanan sekolah atau rumah (school/home arrest) sedangkan Tindakan penghukuman mencakup hukuman jasmani (corporal punishment).

China mengembangkan sebuah program yang disebut Bang-jiao.67

Program ini merupakan program rehabilitasi berbasis komunitas yang membantu, membimbing dan mengarahkan anak pelaku tindak pidana ke kehidupan normal seorang anak. Program ini melibatkan peran serta orang tua, keluarga, teman, tetangga dan polisi. Program ini mencakup anak pelaku tindak pidana ringan, anak yang mendapat pembebasan bersyarat maupun mantan narapidana anak.

Menurut perundang-undangan anak di Jepang, terdapat perbedaan prosedur penanganan bagi anak yang melakukan kejahatan disebut “Prosedur Perlindungan”. Prosedur ini sangat berbeda dengan “Prosedur Pidana” yang diberlakukan terhadap orang dewasa yang melakukan kejahatan. Karena penanganan anak dilandasi pada tujuan kesempatan untuk mencari tindakan yang paling cocok bagi perlindungan dan pembinaan

67 Lening Zhang, “Juvenile deliquency and justice in contemporary China : a critical review of the literature over 15 years”, Crime Law Soc Change, Springer, 2008, hlm. 156.

anak. Oleh karena itu, penanganan terhadap perkara anak, hakim

menentukan pilihan sebagai berikut:68

a. Tidak ada tindakan, dimana hakim karena alasan tertentu

menyelesaikan perkara terhadap anak tanpa ada tindakan apapun. Penanganan seperti ini terjadi karena hakim menganggap perbuatan yang dituduhkan tidak terbukti, atau dianggap kasusnya ringan;

b. Tindakan Perlindungan terdiri dari: (a) Menyerahkan anak kepada

Sekolah Pendidikan Anak; (b) Menyerahkan kepada Panti Pelatihan dan Latihan Anak; (c) Menyerahkan anak kepada masyarakat dengan pengawasan dan bimbingan oleh pekerja sosial ;

c. Menyerahkan kembali ke kejaksaan, merupakan perkara yang akan

ditangani dengan acara pidana yang sama sebagaimana perkara orang dewasa; dan

d. Menyerahkan ke Gubernur atau Ketua Pusat Bimbingan Anak

merupakan acara kesejahteraan.

Dalam dokumen PENGATURAN PERLINDUNGAN ANAK PELAKU TIND (Halaman 43-48)

Dokumen terkait