• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGATURAN PERLINDUNGAN ANAK PELAKU TIND

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGATURAN PERLINDUNGAN ANAK PELAKU TIND"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

PENGATURAN PERLINDUNGAN ANAK PELAKU TINDAK PIDANA

UNTUK MEWUJUDKAN RESTORATIVE JUSTICE DALAM SISTEM

PERADILAN ANAK DI INDONESIA

Oleh :

Yohanes Hermanto Sirait

Gerald Alditya Bunga

MAGISTER ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas

penyertaan dan perlindungan yang dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis

dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “PENGATURAN

PERLINDUNGAN ANAK PELAKU TINDAK PIDANA UNTUK

MEWUJUDKAN RESTORATIVE JUSTICE DALAM SISTEM

PERADILAN ANAK DI INDONESIA”.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu dengan kerendahan hati penulis memohon masukan dan kritik yang

membangun dari berbagai pihak untuk penyempurnaan penelitian ini. Semoga

penelitian ini bisa bermanfaat dan memberikan kontribusi pemikiran bagi

pengembangan hukum nasional.

Yogyakarta, Juni 2012

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

Judul ... 1

Kata Pengantar ... 2

Daftar Isi ... 3

Intisari ... 5

Abstract ... 6

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 7

B. Rumusan Masalah ... 13

C. Tujuan Penelitian ... 13

D. Manfaat Penelitian ... 13

E. Keaslian Penelitian ... 14

F. Tinajuan Pustaka ... 16

BAB II METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian ... 24

B. Jenis Penelitian ... 25

C. Prosedur Pelaksanaan ... 27

D. Analisis Data ... 28

(4)

B. Pengaturan Perlindungan Anak yang Seharusnya dalam Mewujudkan

Restorative Justice ... 37

1. Redefinisi terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana ... 38

2. Proses Perlindungan dan Peradilan Anak ... 42

3. Restorative Justice ... 43

4. Rancangan Undang Undang Sistem Peradilan Pidana Anak ... 48

BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN ... 55

B. SARAN ... 56

(5)

INTISARI

Penelitian ini ditujukan untuk menjawab permasalahan mengenai bagaimanakah pengaturan perlindungan anak pelaku tindak pidana dalam hukum nasional Indonesia dan bagaimanakah pengaturan perlindungan anak pelaku tindak pidana yang seharusnya untuk mewujudkan restorative justice dalam sistem peradilan anak di Indonesia.

Penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dan penelitian hukum kepustakaan. Penelitian ini mengkaji mengenai pengaturan internasional dan nasional mengenai perlindungan anak untuk mendapatkan suatu gambaran bagaimanakah seharusnya perlindungan terhadap anak pelaku tindak pidana dalam sistem peradilan di Indonesia guna mewujudkan restorative justice.

Penelitian ini menunjukan bahwa Peraturan nasional terkait perlindungan anak pelaku tindak pidana dan peradilan anak saat ini terutama yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 masih sangat normatif dalam artian isi dan konsep yang digagas masih belum terimplementasi dengan baik. Pengadilan lebih cenderung memutus seorang anak ditahan daripada menggunakan alternatif penyelesaian di luar pengadilan, hal ini terlihat dari sejumlah kasus yang dicatat oleh Komnas Anak. Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menjadi solusi terbaru dalam menjamin perlindungan anak pelaku tindak pidana di Indonesia dengan memuat banyak asas, prinsip, konsep dan pemikiran terkait perlindungan anak yang diamantkan dalam Konvensi Hak-hak Anak dan Pedoman-pedoman yang dikeluarkan PBB namun tidak diatur dalam UU Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.

(6)

ABSTRACT

This research is proposed to answer the question about how is the regulation on the protection of child criminals within the Indonesian national law and how is the regulation on the protection of child criminals that should be regulated to create restorative justice within the Indonesian juvenile justice system.

This is a normative juridical research. It examines the international and national regulation on the protection of children to get a picture of how the protection of children in the criminal justice system in Indonesia should be done to achieve restorative justice.

This study shows that the national regulations regarding the protection of child criminals and the juvenile justice today, mainly contained in Act Number 3 in the year of 1997 is still very normative in terms of content and concept that was initiated still not implemented properly. The court tends to decide that a child should be detained rather than using alternative settlement out of the court. It is seen from the number of cases registered by the National Commission on Children. The draft of the Act on the Criminal Justice System Children become the latest solutions in ensuring criminal juvenile protection in Indonesia by containing many principles, concepts and ideas related to the protection of children instructed in the Convention on the Rights of the Children and the guidelines issued by the United Nations which not regulated by the Act number 3 in the yearf 1997 on Juvenile Court.

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perlindungan anak merupakan suatu upaya untuk menciptakan kondisi

dimana anak dapat melaksanakan hak dan kewajibanya. Berdasarkan konsep

parents patriae, yaitu negara memberikan perhatian dan perlindungan kepada anak-anak sebagaimana layaknya orang tua kepada anak-anaknya, maka

penanganan anak-anak yang berhadapan dengan hukum juga harus dilakukan

demi kepentingan terbaik bagi anak serta berpijak pada nilai-nilai Pancasila.1

Kenyataannya, Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS Anak)

mencatat bahwa negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua telah

gagal dalam memberikan perlindungan, pemenuhan dan penghormatan hak anak

di Indonesia. Hal ini ditandai dengan meningkatnya berbagai bentuk pengabaian

dan pelanggaran hak anak di Indonesia yang terjadi sepanjang tahun 2011. Pada

tahun 2011, kasus yang diadukan ke KOMNAS Perlindungan Anak berjumlah

2.386 kasus. Angka ini meningkat 98% dari yang terjadi tahun 2010 yakni

sebanyak 1.234 kasus.2

Salah satu bentuk pelanggaran hak anak yang terjadi di Indonesia adalah

berkaitan dengan permasalahan anak yang berhadapan dengan hukum.3 Sepanjang

1 Nur Rochaeti, 2008, “Model Restorative Justice sebagai Alternatif Penanganan bagi Anak Delinkuen di Indonesia”, MMH Jilid 37 No. 4, Desember, hlm. 239.

2

Komisi Nasional Anak. 21-12-2011. Catatan Akhir Tahun 2011 Komisi Nasional Perlindungan

Anak. (diunduh dari www.komnasanak.com tanggal 29-1-2012)

3 Komisi Nasional Anak. Kompilasi Peraturan Perundang-Undangan Mengenai Anak

(8)

tahun 2011, KOMNAS Anak menerima 1.851 pengaduan anak yang berhadapan

dengan hukum (anak sebagai pelaku tindak pidana) yang diajukan ke pengadilan.4

Angka ini meningkat dibanding pengaduan pada tahun 2010, yakni 730

kasus. Hampir 52 persen dari angka tersebut adalah kasus pencurian diikuti

dengan kasus kekerasan, perkosaan, narkoba, perjudian, serta penganiayaan dan

hampir 89,8 persen kasus anak yang berhadapan dengan hukum berakhir pada

pemidanaan atau diputus pidana.

Meningkatknya data prosentase pemidanaan ini dibuktikan dan

diperkuat oleh data anak yang tersebar di 16 Lembaga Permasyarakatan (Lapas)

di Indonesia. Ditemukan 6.505 anak pelaku tindak pidana yang diajukan ke

pengadilan, dan 4.622 anak diantaranya saat ini mendekam di penjara. Jumlah ini

mungkin jauh lebih besar karena angka ini hanya bersumber dari laporan 29 Balai

Permasyarakatan (Bapas), sementara di Indonesia terdapat 62 Bapas. Dari laporan

tersebut, hanya kurang lebih 10 persen anak yang berhadapan dengan hukum

dikenakan hukuman tindakan yakni dikembalikan kepada negara (Kementerian

sosial) atau orangtua.5

Perlindungan khusus merupakan hak yang harus diberikan kepada anak.

Perlindungan khusus ini meliputi anak yang berkonflik dengan hukum dan anak

sedang terlibat dengan masalah hukum atau sebagai pelaku tindak pidana,sementara anak tersebut belum dianggap mampu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, mengingat usianya yang belum dewasa dan sedang bertumbuh, berkembang, sehingga berhak untuk dilindungi sesuai dengan Undang – undang. Yang dimaksud anak dalam hal ini adalah anak yang telah mencapai umur 8 tahun dan belum mencapai 18 tahun atau belum menikah.”

(9)

korban tindak pidana. Hal ini merupakan kewajiban dan tanggung jawab

pemerintah dan masyarakat.6

Perlindungan khusus bagi anak pelaku tindak pidana dilaksanakan melalui

tindakan-tindakan sebagai berikut :7

a. Perlakuan anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak

anak;

b. Penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini;

c. Penyediaan sarana dan prasarana khusus;

d. Penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik dengan

anak.;

e. Pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan

anak yang berhadapan dengan hukum (anak pelaku tindak pidana);

f. Pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang

tua atau keluarga; dan

g. Perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan

untuk menghindari labelisasi.

Anak-anak yang berada dalam tahanan sering menjadi korban kekerasan

oleh aparat maupun sesama tahanan, seperti dipukul, dirotan, dikerangkeng dan

bahkan menjadi sasaran penistaan seperti ditelanjangi di depan tahanan yang lain.

Anak dalam berbagai fasilitas penahanan secara khusus berisiko mengalami

kekerasan fisik dan seksual, terutama ketika pengawasnya adalah aparat laki-laki.8

Sebagai contoh, kasus di Polsek Sijunjung Sumatera Barat, 2 tahanan anak tewas

di dalam tahanan, yakni FS yang berusia 14 tahun dan BD yang berusia 17 tahun.9

6 Pasal 64 ayat (1) Undang – undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak 7 Pasal 64 ayat (2) Undang – undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

8 Laporan Indonesia sebagai negara pihak Konvensi Hak Anak kepada Komite Hak-Hak Anak PBB, sesuai pasal 44 konvensi, laporan periodik ketiga dan keempat negara pihak tahun 2007. hlm.28

9 Komisi Nasional Anak. 16-1-2012. “Hutang Nayawa Dibayar Nyawa”, Testimoni Keluarga

Tahanan Yang Meninggal Di Polsek Sijunjung. (diunduh dari www.komnasanak.com tanggal

(10)

Penangkapan, penahanan, atau pidana penjara anak yang seharusnya sebagai

upaya terakhir10 justru seringkali menjadi langkah awal yang dilakukan. Hal ini

diperparah oleh fakta bahwa dalam penahanan yang dilakukan, terdapat kasus

dimana tahanan anak dicampur dengan tahanan dewasa. Hal ini disebabkan karena

di Indonesia, hanya16 provinsi (masing-masing 1 lapas) yang memiliki LAPAS

anak.11

Indonesia sebagai salah satu negara pihak dalam Konvensi Hak Anak 1989

(KHA) seharusnya lebih menjamin perlindungan terhadap anak agar terpenuhi

dengan baik. Pasal 3 ayat (1) KHA meminta negara dan pemerintah, serta

badan-badan publik dan privat memastikan dampak terhadap anak-anak atas semua

tindakan mereka, yang tentunya menjamin bahwa prinsip the best interest of the

child menjadi pertimbangan utama, memberikan prioritas yang lebih baik bagi anak-anak dan membangun masyarakat yang ramah anak (child friendly-society).

Pasal 2 Declaration of the Rights of the Child pada tahun 1959 juga

menyatakan prinsip the best interest of the child sebagai paramount consideration

(pertimbangan tertinggi) yang berbunyi sebagai berikut: The child shall enjoy

special protection, and shall be given opportunities and facilities, by law and by other means, to enable him to develop physically in a healthy and normal manner

(11)

and in conditions of freedom and dignity. In the enacment of laws for this purpose, the best interests of the child shall be the paramount consideration.12

Menurut Lord McDermont dalam Muhammad Joni, “paramountcy means

more than that the child’s welfare is to be treated as the top item in a list of terms relevan to be matter in question…”(arti yang tertinggi lebih dimaksudkan bahwa kesejahtertaan anak diperlakukan sebagai materi tertinggi dari daftar arti yang

relevan dengan masalah).13 Dengan demikian, kepentingan kesejahteraan anak

adalah tujuan dan penikmat utama dalam setiap tindakan, kebijakan, dan atau

hukum yang dibuat oleh lembaga berwenang.

Menanggapi tidak efisiennya perlindungan anak terutama terkait anak

pelaku tindak pidana dalam sistem peradilan di Indonesia, wacana untuk

melakukan revisi terhadap Undang-undang No. 3 tahun 1997 tentang Pengadilan

Anak telah dilakukan. Diawali dengan ide mark up batas minimum usia anak yang

bisa diproses peradilan dari usia 8 tahun menjadi 12 tahun yang telah disepakati

dengan dikeluarkannya putusan Mahkamah Konstitusi No.1/PUU-VII tahun 2010

dan baru-baru ini usulan pembentukan sistem peradilan anak berdasarkan konsep

restoratve justice dan ide pemberlakuan diversi14 telah dilakukan dengan disahkannya Rancangan Undang-undang (RUU) Sistem Peradilan Pidana Anak

12

Anak-anak harus menikmati perlindungan khusus dan wajib diberikan kesempatan dan fasilitas melalui aturan hukum atau cara lain yang memungkinkan mereka untuk berkembang secara fisik dengan cara yang sehat dan normal dan dalam kondisi yang bebas dan bermartabat. Dalam penetapan hukum berdasarkan tujuan ini, kepentingan terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan tertinggi.

13 Muhammad Joni. Hak-Hak Anak Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dan Konvensi

PBB Tentang Hak Anak: Beberapa Isu Hukum Keluarga. Dipublikasikan oleh Komisi Nasional

Perlindungan Anak, dapat diakses di www.joni-tanamas.com. 14

(12)

oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). RUU ini merupakan pengganti

Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.

Restorative justice berangkat dari asumsi bahwa tanggapan atau reaksi terhadap perilaku delikuensi anak tidak akan efektif tanpa adanya kerjasama dan

keterlibatan dari korban, pelaku dan masyarakat. Prinsip yang menjadi dasar ialah

bahwa keadilan paling baik terlayani, apabila setiap pihak menerima perhatian

secara adil dan seimbang, aktif dilibatkan dalam proses peradilan dan memperoleh

keuntungan secara memadai dari interaksi mereka dalam sistem peradilan anak.15

Restorative Justice dengan Welfare Approach dianggap sebagai penghukuman modern yang lebih manusiawi untuk model penghukuman terhadap

anak. Prinsip restorative justice merupakan hasil eksplorasi dan perbandingan

antara welfare approach dengan justice approach yang digagas oleh John

Braithwaite yang dikenal sebagai reintegrative shaming karena model ini

menggeser nilai filsafati penanganan anak: (a) dari penghukuman menuju ke

rekonsiliasi; (b) dari pembalasan terhadap pelaku menuju ke penyembuhan

korban; (c) dari pengasingan dan kekerasan menuju ke peransertaan dan

kekerabatan masyarakat keseluruhan; dan (d) dari destruktif yang negatif menuju

ke perbaikan, pemberian maaf yang sarat dengan limpahan kasih.16

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan sebuah

penelitian yang berjudul Pengaturan Perlindungan Anak Pelaku Tindak Pidana

15 Paulus Hadisuprapto, 2006, “Peradilan Restoratif : Model Peradilan Anak Indonesia Masa

Depan”, Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Badan Penerbit

Universitas Diponegoro, Semarang, hlm. 32.

16 Paulus Hadisuprapto, 2003, Pemberian Malu Reintegratif Sebagai Sarana Non Penal

Penanggulangan Perilaku Delinkuensi Anak (Studi Kasus di Semarang dan Surakarta) Disertasi

(13)

Untuk Mewujudkan Restorative Justice Dalam Sistem Peradilan Anak di

Indonesia.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, maka untuk mencapai target

dan hasil yang optimal dalam penelitian ini, penulis merumuskan beberapa

permasalahan yang menjadi substansi pembahasan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengaturan perlindungan anak pelaku tindak pidana

dalam hukum nasional Indonesia?

2. Bagaimanakah pengaturan perlindungan anak pelaku tindak pidana

yang seharusnya untuk mewujudkan restorative justice dalam sistem

peradilan anak di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Adapun Tujuan dari Penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengaturan perlindungan anak pelaku tindak

pidana dalam hukum nasional;

2. Untuk mengetahui pengaturan perlindungan anak pelaku tindak

pidana yang seharusnya untuk mewujudkan restorative justice dalam

sistem peradilan anak di Indonesia.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari Penelitian ini adalah :

1. Dalam lingkup ilmu pengetahuan, hasil penelitian ini diharapkan

dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan dan pengajian ilmu

(14)

berkaitan dengan perlindungan terhadap anak pelaku tindak pidana

dalam sistem peradilan anak di Indonesia;

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan bagi

pemerintah dalam membentuk peraturan perundang-undangan yang

berlandaskan restorative justice dalam sistem peradilan anak di

Indonesia.

E. Keaslian Penelitian

Penelusuran terhadap penelitian dan karya-karya ilmiah yang relevan

dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini telah dilakukan.

Berdasarkan hasil penelusuran dan telaah terhadap pustaka ada beberapa tulisan

dan atau hasil penelitian yang penting dan secara khusus membahas mengenai

perlindungan anak. Tulisan-tulisan dan penelitian-penelitian tersebut sedikit

banyak telah memberikan kontribusi dan masukan bagi penelitian ini untuk

melihat lebih dalam mengenai perlindungan anak terhadap anak pelaku tindak

pidana.

Penelitian oleh Muhammad Joni yang berjudul “Hak-Hak Anak dalam

Undang-Undang Perlindungan Anak dan Konvensi PBB tentang Hak-Hak

Anak”17 merupakan sebuah penelitian yang secara umum membahas dan

menggambarkan hak-hak anak yang diatur dalam Konvensi Hak Anak yang

diharmonisasi oleh Indonesia ke dalam Undang-undang Perlindungan Anak.

Penelitian ini tidak secara khusus membahas mengenai perlindungan terhadap

anak pelaku tindak pidana sehingga berbeda cakupan dan common goal dengan

17 Muhammad Joni, Hak-hak Anak dalam UU Perlindungan Anak dan Konvensi PBB tentang

Hak-hak Anak : Beberapa Isu Hukum Keluarga, Komisi Nasional Perlindungan Anak, dapat

(15)

tulisan dalam penelitian penulis yang secara khusus mengkaji perlindungan anak

yang terjerat tindak pidana dalam sistem peradilan anak di Indonesia. Meskipun

demikian tulisan ini memberikan beberapa masukan kepada penulis untuk melihat

lebih jauh perkembangan prinsip-prinsip yang termuat dalam KHA dalam upaya

menjamin perlindungan terhadap anak.

Tulisan oleh Novie Amalie Nugraheni yang berjudul “Sistem Pemidanaan

Edukatif Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana”,18 merupakan sebuah

tesis yang membahas mengenai sistem pemidanaan edukatif terhadap terpidana

anak dengan membuat sebuah formulasi sistem pemidanaan anak di Indonesia

yang didasarkan pada keadilan restoratif. Tulisan ini berbeda dengan penelitian

penulis karena tulisan ini mengkaji pada sistem pemidanaan edukatif yang artinya

tulisan ini fokus pada perlindungan bagi anak yang sudah dipidana dengan

putusan hakim yang tetap sementara tulisan penulis mencoba mengkaji

perlindungan bagi anak pelaku tindak pidana sebelum putusan hakim diambil dan

setelah putusan hakim diambil.

Beberapa tulisan atau penelitian lain yang memberikan pemahaman

mengenai perlindungan anak terpidana dalam sistem peradilan di Indonesia

seperti tulisan tentang “Perlindungan Hukum Hak-hak Anak dan Implementasinya

di Indonesia pada Era Otonomi Daerah”19 dan “Model Restoratif Justice sebagai

Alternatif Penanganan bagi Anak Delinkuen di Indonesia”20, menjadi bahan

18 Novie Amalia N, 2009, Sistem Pemidanaan Edukatif terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana, Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang.

19

Absori, “Perlindungan Hukum Hak-hak Anak dan Implementasinya di Indonesia pada Era Otonomi Daerah”, Jurisprudence Vol. 2, No. 1 Tahun 2005, hlm. 78-88.

(16)

hukum yang penting untuk melihat praktik negara dalam menjamin perlindungan

anak terpidana.

F. Tinjauan Pustaka

1. Definisi Anak

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi manusia

menjabarkan pengertian tentang anak yaitu setiap manusia yang berusia di

bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah termasuk anak yang

masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.

Sementara itu, batasan usia bagi seseorang untuk digolongkan sebagai

“anak” sebenarnya sangat variatif dan tergantung pada situasi dan kondisi

yang dihadapi. Misalnya untuk keperluan ritual keagamaan, usia 13 tahun

telah dapat dikatakan dewasa namun untuk berbagai keperluan lain,

misalnya menjadi pemilih dalam Pemilu, menjadi saksi di Pengadilan, atau

melangsungkan perkawinan batas usianya pun bermacam-macam.

Kenyataannya, batas usia kedewasaan ini hanyalah alat sosial yang

digunakan oleh masyarakat untuk menetapkan masa transisi menuju

kedewasaan dan tidak berhubungan dengan batas usia tertentu.

Definisi anak menurut hukum internasional sesuai dengan Konvensi

Hak Anak Pasal 1 KHA adalah setiap manusia yang berusia dibawah 18

tahun kecuali Undang-Undang yang diterapkan untuk kasus mereka dalam

hal ini “usia kedewasaan” ditetapkan pada usia yang lebih awal. Penetapan

(17)

“anak” yang digunakan dalam ILO Worst Forms of Child Labour

Convention 182.

Soerjano Soekanto memberikan batasan usia remaja sebagai berikut :

“...yang dapat mencakup anak-anak muda-mudi adalah berkisar antara usia

13 tahun sampai usia 18 tahun “21.

Sedangkan dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang

Peradilan Anak yang kemudian direvisi berdasarkan Putusan Mahkamah

Konstitusi No. 1/PUU-VIII Tahun 2010, yang dimaksud dengan anak

adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 12 tahun

dan belum mencapai 18 tahun atau belum pernah menikah. Sementara batas

umur anak untuk dapat diajukan ke pengadilan ditetapkan antara 12 sampai

18 tahun, dan selanjutnya untuk dapat dipidana minimal berumur 12 tahun.

Meskipun batasan umur dari 8 tahun kemudian berubah menjadi 12

tahun telah menunjukan tren positif namun batasan umur tersebut masih

belum sesuai dengan yang dianjurkan oleh Pasal 1 Konvensi Hak Anak,

walapun pasal tersebut juga mengakui kemungkinan adanya perbedaan atau

variasi dalam penentuan batas usia kedewasaan di dalam peraturan

perundangan masing-masing negara peserta namun idealnya negara peserta

memperlakukan standar yang ditetapkan dalam Standar Konvensi Hak Anak

sebagai standar terendah atau setidaknya mendekati batasan yang ditetapkan

Konvensi Hak Anak yaitu 18 tahun. Sebagai perbandingan, negara-negara di

(18)

Eropa menetapkan batas usia minimal tanggung jawab pidana yaitu Jerman

(14 tahun), Italia (17 Tahun) dan Belgia (18 Tahun)

Terkait usia minimum seorang anak dikategorikan anak nakal, Ms.

Maharukh Adenwalla dalam tulisanya yang berjudul Child Protection and

Juvenile Justice System : for Juvenile in Conflict with Law22 berpendapat bahwa anak-anak baik laki-laki maupun perempuan yang berusia 18 tahun

ke bawah harus memperoleh perlindungan dari peraturan mengenai

peradilan anak. Apapun alasannya, standar maksimal seorang anak dapat

dipidana harus ditingkatkan dan sangat penting apabila standar tersebut

mendekati batasan usia yang tertuang dalam KHA yaitu 18 tahun.

2. Tindak Pidana oleh Anak

Terkait dengan tindak pidana oleh anak, Olivia Sembiring, dalam

tulisanya yang berjudul Perlindungan Hukum Terhadap Anak yang

Berkonflik dengan Hukum, mendefenisikan Juvenile Delinquency sebagai

perilaku jahat (dursila) atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda yang

merupakan gejala sakit (patalogis) secara sosial kepada anak-anak dan

remaja yang disebabkan oleh bentuk tingkah laku yang menyimpang23.

Differential Assosiation Theory yang dikemukakan oleh E. Sutherland dan Donald Cressey pada dasarnya melandaskan diri pada proses belajar,

kejahatan seperti juga perilaku pada umumnya sesuatu yang dipelajari.

22

Ms. Maharukh Adenwalla, 2006, Child Protection and Juvenile Justice System : for Juvenile in

Conflict with Law, CHILDLINE India Foundation, Mumbai, hlm. 17.

23 Olivia Sembiring, 2006, “Perlindungan Hukum terhadap Anak yang Berkonflik dengan

(19)

Teori ini menjelaskan bagaimana proses terjadinya perilaku kejahatan oleh

anak dipengaruhi faktor-faktor di luar keinginan anak.

Differential Association diartikan sebagai “the contens of the patterns presented in association”. Ini tidak berarti bahwa hanya pergaulan dengan penjahat yang akan menyebabkan perilaku kriminal, akan tetapi yang

terpenting adalah isi dari proses komunikasi dari orang lain. Kemudian,

pada tahun 1947 Edwin H. Sutherland menyajikan versi kedua dari teori

Differential Association yang menekankan bahwa semua tingkah laku itu dipelajari, perilaku kejahatan bukan merupakan suatu warisan (inheritance)

melainkan perilaku yang dipelajari oleh anak secara negatif dari dari orang

lain dan lingkungan sekitar.24 Asumsi yang melandasi teori ini adalah a

criminal act occurs when a situation appropriate for it, as defined by the person, is present. Asumsi ini erat hubunganya dengan asumsi yang ada bahwa “kejahatan terjadi bukan karena niat pelaku tetapi karena adanya

kesempatan”. Asumsi ini dijelaskan oleh Crime Oppurtunity Theory yang

berpendapat bahwa kesempatan adalah akar dari kejahatan25.

Teori Differential Assosiation erat hubunganya dengan Teori Mazhab

Perancis yang dipelopori oleh A. Lacassagne, yang mengemukakan bahwa

keadaan sosial sekeliling atau lingkungan merupakan suatu pembenihan

untuk kejahatan, kuman adalah si penjahat, suatu unsur yang baru

mempunyai arti apabila menemukan pembenihan yang membuatnya

(20)

berkembang26. Mazhab Perancis juga dinyatakan oleh G. Tarde yang

mengemukakan bahwa kejahatan bukan suatu gejala yang antropologis tapi

sosiologis, yang seperti masyarakat-masyarakat lainya dikuasai oleh

peniruan27.

3. Pengadilan Anak

Pengadilan Anak adalah pelaksana kekuasaan kehakiman yang berada

di lingkungan peradilan umum. Sidang Pengadilan Anak yang selanjutnya

disebut Sidang Anak, bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan

menyelesaikan perkara anak sebagaimana ditentukan dalam UU No. 3 tahun

1997 tentang Pengadilan Anak.

Juvenile Justice System adalah segala unsur sistem peradilan pidana yang terkait di dalam penanganan kasus-kasus kenakalan anak. Pertama,

polisi sebagai institusi formal ketika anak nakal pertama kali bersentuhan

dengan sistem peradilan, yang juga akan menentukan apakah anak akan

dibebaskan atau diproses lebih lanjut. Kedua, jaksa dan lembaga

pembebasan bersyarat yang juga akan menentukan apakah anak akan

dibebaskan atau diproses ke pengadilan anak. Ketiga, Pengadilan Anak,

tahapan ketika anak akan ditempatkan dalam pilihan-pilihan, mulai dari

dibebaskan sampai dimasukkan dalam institusi penghukuman.28 Ada 2 (dua)

kategori perilaku anak yang membuat ia berhadapan dengan hukum, yaitu:

26

Bonger, 1962, Pengantar tentang Kriminologi, Terjemahan oleh Koesnoen, PT. Pembangunan Jakarta, Jakarta, hlm. 100.

27 Ibid, hlm. 101.

28 Robert C. Trajanowicz dan Marry Morash, 1992, Juvenile Delinquency : Concepts and Control,

(21)

a. Status Offender adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa tidak dianggap sebagai kejahatan,

seperti tidak menurut, membolos sekolah atau kabur dari rumah ;

dan

b. Juvenile Delinquency adalah perilaku kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa dianggap kejahatan atau pelanggaran

hukum

Nur Rochaeti dalam tulisanya tentang Model Restorative Justice

sebagai Alternatif Penanganan bagi Anak Delinkuen di Indonesia29

menyatakan bahwa penegakan hukum melalui sistem peradilan saat ini

masih didominasi oleh cara berfikir positivis yang beranggapan bahwa

penyelesaian kasus tindak pidana hanya bersandarkan pada peraturan

perundang-undangan. Hal ini dinilai sangat berlawanan dengan pemahaman

bahwa hukum hanya merupakan sarana / upaya terakhir (ultimum

remidium).

Terdapat banyak anak yang menderita akibat pemenjaraan anak,

terutama mereka yang ditempatkan di penjara dewasa.

a. Efek Psikologis

Kartini Hartono dalam tulisanya yang berjudul Psikologi Anak

(Psikologi Perkembangan) menyatakan bahwa dampak yang ditimbulkan dari pemenjaraan anak ini tidak hanya terbatas pada dampak fisik saja.

Melainkan terdapat juga dampak psikologis yang kadang justru terasa lebih

(22)

berat. Anak-anak yang hidup di penjara akan selalu mempunyai pengalaman

masa kecil yang buruk, hidupnya akan selalu terbayang kekerasan dan ini

akan berakibat buruk bila ia sudah dewasa nantinya. Karena watak dan

pribadi seorang dewasa tidak dapat tidak selalu dipengaruhi oleh

pengalaman-pengalaman masa lalu, khususnya pengalaman pada masa

kanak-kanak.30 Jadi pengalaman masa kanak-kanak akan sangat

berpengaruh bagi perkembangan dewasa nantinya.

b. Kematian dan Cedera Fisik

Cedera fisik khususnya disebabkan karena kehidupan yang keras di

penjara, perkelaian antara terpidana, penyiksaan yang dilakukan oleh sipir

penjara maupun sesama terpidana yang berakibat bekas luka, mutilasi, patah

tulang bahkan cacat permanen.

c. Masalah Perkembangan yang Lain

Karena terpidana anak lebih banyak menghabiskan waktunya dalam

penjara maka kesempatan mereka untuk sekolah yang layak juga tidak ada.

Selain karena terbatasnya ruang gerak, pendidikan mereka juga lebih

dibatasi pada keenganan untuk belajar yang diakbitkan oleh lingkungan

yang keras.

Kesulitan menempatkan diri dalam masyarakat, akan menyebabkan

kenakalan remaja dan masalah disiplin. Banyak dari mantan terpidana anak

yang menjadi terpidana dewasa karena mereka tidak mampu berbaur dengan

masyarakat dan ditolak oleh lingkungannya.

(23)

Namun patut disayangkan, bahwa sampai sekarang negara ini belum

membuat suatu aturan perundangan nasional yang khusus mengatur

mengenai perlindungan anak. Aturan perundangan yang ada saat ini, yang

berkaitan dengan anak, masih tersebar diberbagai peraturan, belum bersifat

komprehensif dan eksklusif mengatur soal anak. Misalnya, pembatasan usia

yang pantas untuk menghadapi proses peradilan dipandang dari sisi

psikologi maupun fisik anak yang sesuai dengan Konvensi Hak Anak

sehingga perundang-undangan yang ada diharapkan mampu melindungi

anak yang terlibat tindak pidana dari bahaya-bahaya yang mungkin terjadi

baik secara psikologi maupun fisik.

4. Perlindungan Hukum bagi Anak

Perlindungan hukum bagi anak dapat diartikan sebagai upaya

perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak

(fundamental rights and freedoms of children) serta berbagai kepentingan

yang berhubungan dengan kesejahteraan anak. Jadi masalah perlindungan

(24)

BAB II

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian merupakan sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk

memperkuat, membina serta mengembangkan ilmu pengetahuan31. Penelitian

merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi,

yang dilakukan secara metodologis, sistematis dan konsisten. Metodologis berarti

sesuai dengan metode atau cara tertentu; sistematis adalah berdasarkan suatu

sistem, sedangkan konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan

dengan suatu kerangka tertentu32.

Penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dan penelitian hukum

kepustakaan yaitu sebuah penelitian yang bertujuan untuk meneliti perkembangan

peraturan hukum baik berupa asas-asas hukum, kaidah-kaidah hukum maupun

sistematika hukum dengan cara meneliti bahan pustaka33. Dalam hal ini yang akan

diteliti adalah peraturan hukum terkait dengan perlindungan anak terutama anak

pelaku tindak pidana dan peradilan anak. Peraturan tersebut berupa perjanjian

internasional yang diratifikasi oleh Indonesia yaitu KHA, peraturan

perundang-undangan hasil ratifikasi, Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak dan Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan

Anak.

31

Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, cet. 3., Jakarta : UI Press, hlm. 3. 32 Ibid.,hlm. 42.

(25)

Berdasarkan tujuannya, penelitian ini merupakan penelitian hukum

eksplikatif yaitu penelitian hukum yang bertujuan untuk menjelaskan kebenaran

hukum hubungan antara variabel yang dipermasalahkan34.

Hubungan itu dapat merupakan hubungan sebab-akibat, hubungan kolerasi,

hubungan perbandingan atau hubungan pemenuhan suatu persyaratan yang telah

ditentukan.

B. Jenis Penelitian

1. Bahan Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan

kepustakaan. Bahan kepustakaan ini lazimnya dinamakan data sekunder35. Data

sekunder diperoleh dari bahan-bahan hukum yang terdiri atas:

a. Bahan hukum primer36 yaitu bahan hukum yang bersifat mengikat

berupa peraturan perundang-undangan, perjanjian internasional dalam

bentuk traktat dan konvensi seperti :

1) Konvensi mengenai Hak-hak Anak ( Convention on the Right of

the Child );

2) The UN Guidelines for the Prevention of Juvenile Delinquency (The Riyadh Guidelines);

3) The UN Standard Minimum Rules for the Administration of Juvenile Justice (The Beijing Rules);

34 F. Sugeng Istanto, 2007, Penelitian Hukum, CV. Ganda, Cetakan ke-1, Yogyakarta, hlm. 48. 35 Soerjono Soekanto.,op.cit., hlm, 12

(26)

4) The UN Rules for the Protection of Juvenile Deprived of Their Liberty;

5) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan

Anak;

6) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak;

7) Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana

Anak ;

b. Bahan hukum sekunder37 yaitu bahan yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum primer, seperti hasil ilmiah para sarjana, hasil

penelitian, buku-buku, koran, majalah, dokumen-dokumen terkait,

internet dan makalah yang dalam penelitian ini menggunakan

literature yang berhubungan dengan perlindungan anak;

c. Bahan hukum tersier38 yakni bahan hukum yang bersifat menunjang

bahan hukum primer dan sekunder yang berupa Black’s Law

Dictionary, Kamus Besar Bahasa Indonesia.

2. Alat Penelitian

Dalam penelitian ini alat yang digunakan yaitu studi dokumen atau studi

pustaka dengan cara mempelajari literatur-literatur berupa konvensi internasional,

peraturan perundang-undangan, teori-teori perlindungan hak asasi manusia, jurnal,

37 Ibid.

(27)

artikel, hasil survei serta dokumen lain yang berkaitan dengan masalah yang

diteliti.39

C. Prosedur Pelaksana

Langkah dalam penelitian ini dilakukukan melalui tiga tahapan penelitian

yaitu:40

1) Tahap Persiapan

Tahap ini dimulai dengan mencari topik penelitian, mengumpulkan

bahan-bahan kepustakaan, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan dan

pengajuan usulan penelitian dan konsultasi dengan dosen pembimbing

penelitian.

2) Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan penelitian kepustakaan dilakukan

pengumpulan data kajian terhadap data sekunder. Data tersebut meliputi

bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.

Setelah semua bahan terkumpul, kemudian dilakukan pengolahan data

dengan cara mensistematisir data yang telah dikumpul, mengeksplikasi dan

mengevaluasi data yang telah disistematisasikan dan berdasarkan eksplikasi

dan evaluasi tersebut, ditarik suatu kesimpulan yang akan menjawab setiap

permasalahan yang diteliti.

3) Tahap Penyajian Hasil Penelitian

Pada tahap penyajian, seluruh data yang sudah diolah dan dianalisis

kemudian disusun dalam bentuk laporan awal yang dilanjutkan dengan

39 Ibid.,hlm. 21.

(28)

konsultasi dengan dosen pembimbing penelitian. Setelah dikonsultasikan

dan dilakukan perbaikan maka dilakukan penyusunan laporan akhir.

D. Analisis Data

Dalam penulisan ini, data sekunder dari penelitian kepustakaan dipilih dan

disusun secara sistematis untuk mendapatkan analisis data. Sesuai dengan bahan

atau materi penelitian, metode penelitian hukum yang dipilih dan alat serta

prosedur pelaksanaan penelitian, maka analisis data yang dipilih peneliti dalam

penelitian ini adalah menggunakan pendekatan undang-undang (statute

approach). Penelitian ini menelaah peraturan perundang-undangan serta literatur-literatur, baik dalam bentuk buku maupun jurnal yang berkaitan dengan

(29)

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pengaturan dalam Hukum Nasional Indonesia

Konvensi Hak-Hak Anak (KHA) telah disetujui oleh Persatuan

Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1989 dan telah diratifikasi oleh lebih dari 150 negara di

dunia. Indonesia telah meratifikasi KHA melalui Keputusan Presiden No. 36

tahun 1990. Selain itu Indonesia juga telah meratifikasi Konvensi Menentang

Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak

Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia, melalui Undang-Undang

Nomor 5 Tahun 1998.

Indonesia melakukan reservasi terhadap beberapa pasal dalam KHA yaitu

Pasal 1, Pasal 14, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 21, Pasal 22 dan Pasal 29.41 Dengan

adanya reservasi yang dilakukan terhadap beberapa pasal tersebut maka Indonesia

tidak terikat secara yuridis untuk mengimplementasikan ketentuan-ketentuan

tersebut. Meskipun demikian dalam faktanya, Indonesia mengadopsi ketentuan

yang kurang lebih sama dengan yang diatur dalam pasal-pasal tersebut di atas.

Dalam hukum nasional, harmonisasi hukum42 secara khusus dilakukan

melalui Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak43 dan

41 Diakses di http://www.ohchr.org/english/countries/ratification/11.htm

(30)

Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak. Tujuan utama

harmonisasi hukum tersebut adalah adalah untuk mencari keseragaman atau titik

temu dari prinsip-prinsip yang bersifat fundamental dari berbagai sistem hukum

yang ada.44 Keseragaman tersebut dapat dilihat pada isi setiap

perundang-undangan yang ada terkait perlindungan anak terutama anak pelaku tindak pidana.

Harmonisasi mengandung makna ganda yaitu pertama, Indonesia memiliki

kewajiban untuk menyusun peraturan perundang-undangan yang baru, yang

belum dimiliki Indonesia yang berlandaskan pada prinsip-prinsip perlindungan

anak. Kedua, Indonesia juga harus melakukan revisi atas berbagai ketentuan

dalam peraturan yang ada namun tidak sesuai atau bertentangan dengan

norma-norma hukum internasional khususnya ketentuan dalam KHA, termasuk standar

pengaturan yang dikembangkan oleh oleh PBB. Di luar konsekuensi itu, Indonesia

memiliki right to regulate sesuai dengan kepentingannya untuk membuat aturan

nasional terkait perlindungan anak dan peradilan anak.

Undang-undang No. 23 Tahun 2002 mewajibkan negara khususnya pada

perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum yang

dilaksanakan melalui perlakuan secara manusiawi sesuai hak-hak anak,

penyediaan petugas pendamping khusus sejak dini, penyediaan sarana dan

prasarana khusus, penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik

43 Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dibentuk sebuah komisi yang bernama Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Komisi ini bertugas melakukan sosialisasi seluruh peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi, dan pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. Komisi serupa juga dapat dibentuk di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang bernama Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID).

(31)

bagi anak, pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan

anak yang berhadapan dengan hukum, jaminan untuk mempertahankan hubungan

dengan orang tua atau keluarga dan perlindungan dari pemberitaan media masa

yang berlebihan dan labelisasi dalam masyarakat.

Untuk proses penuntutan anak yang berkonflik dengan hukum, Indonesia

mengundangkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.

Dalam undang-undang ini diatur bahwa pemeriksaan terhadap anak harus dalam

suasana kekeluargaan, setiap anak berhak didampingi oleh penasehat hukum,

tempat tahanan harus terpisah dari tahanan orang dewasa, penahanan dilakukan

setelah sungguh-sungguh mempertimbangkan kepentingan anak dan atau

kepentingan masyarakat, hukuman yang diberikan tidak harus dipenjara/ditahan

melainkan bisa berupa hukuman tindakan dengan mengembalikan anak ke orang

tua atau walinya.

Pada prakteknya, implementasi undang-undang ini masih jauh dari harapan.

Diversi hanya terdapat dalam proses penyidikan, artinya setelah proses penyidikan

berakhir maka anak pelaku tindak pidana harus melewati serangkaian proses

hukum yang lebih tinggi yang tidak memungkinkan adanya diversi lagi.

Meskipun hakim memeriksa perkara dalam keadaan sidang tertutup namun

putusan pengadilan perkara akan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.

Apabila putusan hakim adalah bersalah dan penahanan tentu hal ini akan

mempengaruhi jiwa anak yang dipidana di hadapan khalayak umum. Disini,

labelisasi juga mulai terjadi saat khalayak umum mengetahui bahwa anak yang

(32)

Berdasarkan Pasal 23, pidana yang dapat dijatuhkan kepada anak nakal ialah

pidana pokok dan pidana tambahan. Pidana pokok yang dapat dijatuhkan kepada

anak nakal ialah (a) Pidana penjara ; (b) Pidana kurungan ; (c) Pidana denda atau

(d) Pidana pengawasan. Sedangkan pidana tambahan berupa perampasan

barang-barang tertentu dan/atau pembayaran ganti rugi.

Sementara itu, dalam Pasal 24, Tindakan yang dapat dijatuhkan kepada anak

nakal ialah (a) Mengembalikan kepada orang tua, wali atau orang tua asuh ; (b)

Menyerahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan dan latihan

kerja atau ; (c) Menyerahkan kepada Departemen Sosial atau Organisasi Sosial

Kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan, pembinaan dan latihan

kerja.

Indonesia menjamin kemerdekaan dan kehormatan atas harkat dan martabat

setiap manusia, termasuk anak yang berkonflik dengan hukum. Jaminan ini

dipertegas pada Pasal 66 ayat (1) Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 tentang

Hak Asasi Manusia yang menyatakan bahwa “Setiap anak berhak untuk tidak

dijadikan sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak

manusiawi”.

Selanjutnya ayat (3) menyatakan bahwa “Setiap anak berhak untuk tidak

dirampas kebebasannya secara melawan hukum”. Pada ayat (4) dinyatakan bahwa

“Penangkapan, penahanan, atau pidana penjara anak hanya boleh dilakukan sesuai

dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilaksanakan sebagai upaya

terakhir”. Ayat (5) menyatakan bahwa “Setiap anak yang dirampas kebebasannya

(33)

kebutuhan pengembangan pribadi sesuai dengan usianya dan harus dipisahkan

dari orang dewasa, kecuali demi kepentingannya”. Ayat (6) menyatakan bahwa

“Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak memperoleh bantuan hukum

atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang

berlaku”. Ayat (7) menyatakan bahwa “Setiap anak yang dirampas kebebasannya

berhak untuk membela diri dan memperoleh keadilan di depan Pengadilan Anak

yang obyektif dan tidak memihak dalam sidang yang tertutup untuk umum”.

Sejalan dengan hal tersebut di atas pada Pasal 16 ayat (2) Undang-undang

Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa “Setiap anak

berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum”. Ayat (3)

menyatakan “Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya

dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan

sebagai upaya terakhir”. Selanjutnya Pasal 17 ayat (1) menegaskan bahwa “Setiap

anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk (1) mendapatkan perlakuan

secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa; (2)

memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap

tahapan upaya hukum yang berlaku; dan (3) membela diri dan memperoleh

keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang

tertutup untuk umum”.

Indonesia menjamin hak anak untuk tidak dijatuhi hukuman mati atau

penjara seumur hidup. Hal ini sebagaimana diamanatkan pada Pasal 66 ayat (2)

(34)

menyatakan “Hukuman mati atau hukuman seumur hidup tidak dapat dijatuhkan

untuk pelaku tindak pidana yang masih anak”.

Implementasi UU No. 3 tahun 1997 saat ini cenderung membekaskan

stigma pada diri anak. Stigmanisasi pada anak sangat merugikan masa depan

perkembangan jiwa anak dan menjadi faktor kriminogen terjadinya delikuensi

anak.45

Stigmatisasi hakikatnya merupakan pemberian label (labelisasi) atau cap

jahat kepada anak pelaku tindak pidana. Stigmatisasi ini tidak sedikit terjadi,

mengingat kultur masyarakat yang tidak begitu bersahabat dengan mantan

narapidana. Stigmatisasi oleh masyarakat justru seringkali menjadi hukuman

sosial yang jauh lebih berat ketimbang pidana yang diberikan oleh lembaga

pengadilan, sebab stigmatisasi biasanya berlangsung dalam waktu yang cukup

lama dan tidak jarang membawa pada tindak kekerasan.

Selain itu narapidana anak juga akan mengalami dehumanisasi yaitu

pengasingan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap mantan narapidana anak.

Penolakan tersebeut ditujukan kepada seorang mantan narapidana baik secara

psikis maupun secara sosiologis. Secara psikis terjadi dengan adanya tindak

kekerasan sementara sosiologis terjadi melalui cacian dan hinaan.

Kecenderungan-kecenderungan itu terjadi karena UU No. 3 tahun 1997

secara substantif cacat hukum.46 Selain itu, tidak ada ketentuan mengenai diversi

di dalamnya, kurangnya pengetahuan tentang anak yang dimiliki oleh penegak

45

Paulus Hadisuprapto, 2006, “Peradilan Restoratif : Model Peradilan Anak Indonesia Masa

Depan”, Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Badan Penerbit

(35)

hukum dimana tidak banyak penegak hukum yang belajar mengenai psikologi

anak, serta keterbatasan prasana dan sarana tempat penahanan anak.

Penyelenggaraan peradilan anak juga masih didominasi oleh pendekatan

terapeutik yaitu suatu pendekatan yang dijiwai model peradilan anak secara

perorangan dimana keterlibatan pihak di luar pengadilan jarang diadakan.47

Menanggapi tidak efesiennya perlindungan anak pelaku tindak pidana

dalam UU. No 3 tahun 1997, DPR telah mengesahkan RUU tentang Sistem

Peradilan Pidana Anak.

Dengan disahkannya RUU tersebut, beberapa kekurangan dalam UU No. 3

tahun 1997 telah diatasi. Ada beberapa hal penting yang diatur dalam RUU ini,

antara lain: (1) batasan usia pertanggungjawaban anak (12-18 tahun), serta batasan

usia anak yang bisa dikenakan penahanan (14-18 tahun) ; (2) dimuat asas-asas

utama perlindungan anak seperi asas perlindungan,48 keadilan,49 non

diskriminasi,50 kepentingan terbaik anak,51 penghargaan terhadap pendapat

anak,52 kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak,53 pembinaan dan

47

Ibid.

48 Yang dimaksud dengan ”pelindungan” meliputi kegiatan yang bersifat langsung dan tidak langsung dari tindakan yang membahayakan Anak secara fisik dan/atau psikis. Penjelasan Atas Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

49

Yang dimaksud dengan “keadilan” adalah bahwa setiap penyelesaian perkara Anak harus mencerminkan rasa keadilan bagi Anak. Ibid.

50 Yang dimaksud dengan ”nondiskriminasi” adalah tidak adanya perlakuan yang berbeda didasarkan pada suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum Anak, urutan kelahiran Anak, serta kondisi fisik dan/atau mental. Ibid.

51

Yang dimaksud dengan ”kepentingan terbaik bagi Anak” adalah segala pengambilan keputusan harus selalu mempertimbangkan kelangsungan hidup dan tumbuh kembang Anak. Ibid.

52

Yang dimaksud dengan ”penghargaan terhadap pendapat Anak” adalah penghormatan atas hak Anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan, terutama jika menyangkut hal yang memengaruhi kehidupan Anak. Ibid.

(36)

pembimbingan anak,54 proporsional,55 perampasan kemerdekaan dan pemidanaan

sebagai upaya terakhir56 dan penghindaran pembalasan57 ; (3) tindak pidana yang

ancaman pidananya di bawah tujuh tahun bisa didiversi atau diselesaikan di luar

proses hukum, sedangkan tindak pidana yang ancamannya di atas tujuh tahun

tidak bisa didiversi ; (4) syarat, tata cara, dan jangka waktu penangkapan ; (5)

syarat, tata cara, dan jangka waktu penahanan ; (6) jenis pemidanaan, dan

tindakan ; (7) kewajiban untuk tidak mempublikasi perkara anak ; (8) pengaturan

sanksi pidana dan sanksi administratif terhadap petugas dan aparat yang tidak

menjalankan tugas pokok dan fungsi serta kewenangan yang diatur dalam UU ;

dan (9)jangka waktu persiapan infrastruktur selama lima tahun sejak UU

diberlakukan.

Semua poin materi di atas merupakan perbaikan terhadap pengaturan dalam

UU No. 3 tahun 1997. Perbaikan terhadap materi-materi difokuskan untuk lebih

menjamin perlindungan bagi anak pelaku tindak pidana yang diwujudkan dalam

bentuk restorative justice.

54 Yang dimaksud dengan ”pembinaan” adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, pelatihan keterampilan, profesional, serta kesehatan jasmani dan rohani Anak baik di dalam maupun di luar proses peradilan pidana. Sedangkan yang dimaksud dengan ”pembimbingan” adalah pemberian tuntunan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, pelatihan keterampilan, profesional, serta kesehatan jasmani dan rohani klien pemasyarakatan. Ibid.

55 Yang dimaksud dengan ”proporsional” adalah segala perlakuan terhadap Anak harus memperhatikan batas keperluan, umur, dan kondisi Anak. Ibid.

56 Yang dimaksud dengan “perampasan kemerdekaan merupakan upaya terakhir” adalah pada dasarnya Anak tidak dapat dirampas kemerdekaannya, kecuali terpaksa guna kepentingan penyelesaian perkara. Ibid.

(37)

B. Pengaturan Perlindungan Anak yang Seharusnya dalam Mewujudkan

Restorative Justice

Dalam kaitannya dengan perlindungan anak pelaku tindak pidana dan

peradilan anak, perjanjian internasional terutama KHA dan Beijing Rules sebagai

bagian dari hukum internasional dapat dipahami kontektualitasnya melalui

pengertian dari fungsi sosial hukum internasional (the social function of

international law).58 Teori ini memandang bahwa hukum internasional adalah sebuah sistem hukum yang terbentuk dan berkembang dari, ke dan untuk

masyarakat internasional tanpa memandang perbedaan suku, agama dan ras untuk

mewujudkan kepentingan bersama umat manusia berdasarkan prinsip-prinsip

hukum internasional. Terkait dengan perlindungan anak pelaku tindak pidana,

teori ini erat kaitanya dengan prinsip non diskriminasi (non-discrimination) yang

tertuang dalam Pasal 2 KHA.59

Perlakuan berbeda terhadap anak pelaku kejahatan harus dipahami juga

sebagai tindakan pengabaian terhadap hak-hak anak. Meskipun anak tersebut

terbukti telah melanggar hukum pidana nasional negara terkait seperti Indonesia

namun hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk melanggar hak-hak mereka.

58

Philips Alot, “The Concept of International Law”, 10 European Journal of International Law, 1999, hlm. 31-50.

59 Pasal 2 Konvensi Hak Anak, ayat 1 menyatakan bahwa : “Negara-negara peserta akan

menghormati dan menjamin hak hak yang diterapkan dalam konvensi ini bagi setiap anak yang berada dalam wilayah hukum mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik atau pandangan-pandangan lain, asal-usul kebangsaan, etnik atau sosial, status kepemilikan, cacat atau tidak, kelahiran atau status lainnya baik dari si anak sendiri atau dari orang tua atau walinya yang sah”. Kemudian

ayat 2 menyatakan bahwa : “Negara-negara peserta akan mengambil semua langkah yang perlu

(38)

Seorang anak meskipun mereka menyandang status anak, jika mereka

melakukan tindak kejahatan tetap saja harus diproses secara hukum. Namun

berdasarkan Undang-undang tentang Perlindungan Anak, proses penyelesaian

tindak pidana oleh anak secara hukum harus dilakukan sesuai dengan ketentuan

perundang-undangan.

Penegakan hukum terhadap anak harus dimaksudkan untuk mencari

keadilan kepada korban maupun anak sebagai pelaku tindak pidana. Teori-teori

Hukum Alam sejak Socrates hingga Francois Geny tetap mempertahankan

keadilan sebagai unsur utama penegakan hukum. Teori Hukum Alam

mengutamakan the search for justice.60

Upaya pengkajian mengenai perlindungan anak seharusnya dilakukan

dengan merumuskan ulang ketentuan dan sistem peradilan anak di Indonesia.

Upaya-upaya tersebut meliputi definisi ulang terhadap batasan umur anak dapat

dipidana, proses peradilan bagi anak dan model pembinaan yang relevan bagi

anak.

1. Redefinisi terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana

Perubahan terhadap batas usia pertanggungjawaban tindak pidana di

Indonesia yang sebelumnya 8 tahun menjadi 12 tahun merupakan suatu

kemajuan yang dilakukan oleh pemerintah.

Namun, merujuk pada United Nation Standard Minimum Rules For

The Administration of Juvenile Justice (Beijing Rules), usia pertanggunjawaban tindak pidana tidak boleh terlalu rendah. Dalam KHA

(39)

batas usia yaitu 18 tahun, artinya Indonesia masih belum memaksimalkan

potensi perlindungan yang ada. Mendasarkan pada fakta bahwa banyak

negara yang menggunakan batas minimum usia 12 tahun tidak cukup

menjadi alasan menggunakan batas minimum yang sama. Faktor fisik,

intelektual, mental dan kondisi-kondisi lainnya tentu berpengaruh terhadap

kemampuan seorang anak untuk mempertanggunjawabkan tindak pidana

yang dilakukan. Pertimbangan kedewasaan emosional, mental dan

intelektual tidak boleh diabaikan.

Di dalam hukum nasional Etiopia, terdapat the Ethiopian Penal Code

of 1957 (KHUP Etiopia Tahun 1957) yang mengatur mengenai hukum

pidana di Etiopia. Di dalam Penal Code tersebut ditetapkan batasan umur

untuk dapat dipidana adalah 9 tahun. Anak yang berumur diantara 9-15

tahun diperlakukan sebagai anak di bawah umur, sedangkan anak yang

berumur diantara 15-18 tahun sudah dapat diperlakukan sebagaimana orang

dewasa meskipun masih terdapat peringanan-peringanan (mitigation) yang

menjadi pertimbangan oleh hakim.

Di Cina, rataan usia anak yang bisa dihadapkan ke peradilan anak

berkisar antara 14-18 Tahun. Sebelum tahun 1996, di China, pelaku

kejahatan yang berusia 16-18 tahun bisa dijatuhi hukuman mati, tapi setelah

tahun 1996 pelaku kejahatan yang di bawah usia 18 tahun tidak bisa dijatuhi

hukuman mati lagi.61

(40)

Di Hamburg dan Budapest rataan usia anak yang terhitung melakukan

juvenile crime berkisar antara usia 14-17 Tahun, di Praha rataan usia yang masuk dalam kategori juvenile delinquents berkisar pada usia 15-17 tahun,

dan di Krakow, rataan usianya berkisar antara 13-16 tahun.62

Di Yugoslavia, terhadap seorang anak yang belum berusia 14 tahun

pada saat tindak pidana dilakukan tidak dapat dikenakan tindak pidana,

tindakan edukatif (educative measure), maupun tindakan keamanan

(security measure) terhadap anak tersebut. Badan perwalian akan

mengambil tindakan-tindakan tertentu yang diperlukan sesuai dengan

kewenanganannya. Pidana penjara hanya dapat dijatuhkan kepada anak

senior yang mampu bertanggungjawab yang usianya berkisar antara 16-18

tahun dan hanya pada tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara

lebih dari 5 tahun. Seorang dewasa juga dapat diadili untuk tindak pidana

yang dilakukan oleh anak senior apabila pada saat melakukan tindak pidana

tersebut usianya belum mencapai 21 tahun.63 Dengan demikian dapat dilihat

bahwa ancaman pidana kepada anak di Yugoslavia hanya dapat diajukan

kepada anak senior yang berusia diantara 16-18 tahun, atau kepada mereka

yang belum berusia 21 tahun.

Di Jepang, pengaturan pemidanaan anak diatur dalam Undang-undang

Anak nomor 168 Tahun 1948. Berdasarkan Pasal 2, yang dikategorikan

62 Frank Neubacher,dkk, 1999, “Juvenile Delinquency in Central European Cities: A Comparison of Registration and Processing Structures In The 1990s”, European Journal on Criminal Policy

and Research, 7,4 (533), hlm.535. http://www.library.usyd.edu.au (diunduh tanggal 8 Juni 2012)

63

______, “Pengaturan Sanksi Pidana Anak Dibeberapa Negara Serta Perlindungan Hukum

Terhadap Hak-Hak Anak”, [online]. Diakses di http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29981/3/Chapter%20II.pdf (diakses tanggal 21

(41)

sebagai “Anak” (Shoonem) adalah mereka yang berumur kurang dari 20

(dua puluh) tahun. Adapun seorang anak yang digolongkan sebagi pelaku

kenakalan yang dapat diajukan kepengadilan diklasifikasikan ke dalam tiga

kriteria, yaitu:

a. Anak pelaku kejahatan (juvenile offender), yaitu anak yang sudah

berumur diatas 14 (empat belas) tahun sampai 20 (dua puluh) tahun

yang melakukan tindak pidana.

b. Anak pelanggar hukum (children offender) yaitu anak yang belum

mencapai umur 14 (empat belas) tahun yang melakukan tindak pidana.

c. Anak pre-delikuen (pre-delinquent juvenile) yaitu anak yang

mempunyai salah satu kecenderungan sifat, serta dapat dipandang

akan melakukan kejahatan atau perbuatan pelanggaran hukum.

Sifat/sikap yang cenderung dimiliki anak predelinquen, antara lain: (a)

tidak menaati pengawasan dan bimbingan orang tua ; (b)

meninggalkan rumah tanpa alasan yang sah ; (c) bergaul dengan

orang-orang pelaku tidak bermoral atau sering mengunjunggi

tempat-tempat yang tidak pantas bagi anak ; dan (d) melakukan perbuatan

yang merugikan diri sendiri atau orang lain

Perbedaan antara anak pelaku kejahatan dan anak pelaku pelanggaran

hukum terletak pada batas usia sebelum 14 (empat belas) tahun dan setalah

14 (empat belas) tahun. Hal tersebut didasarkan kepada ketentuan tentang

(42)

seseorang yang belum mencapai usia 14 tahun dianggap belum mampu

bertanggungjawab.64

Dari beberapa batasan umur yang dimiliki oleh beberapa negara di

atas. Indonesia seharusnya belajar untuk memanfaatkan right to regulate

yang dimiliki. Batasan minimal anak yang dapat dipidana tidak boleh

didasari hanya pada kebanyakan negara menggunakan batasan minimal

yang sama. Indonesia juga tidak boleh meniru negara-negara tertentu tanpa

melihat situasi dan kondisi anak di Indonesia.

Batas minimum 12 tahun yang diatur dalam RUU Sistem Peradilan

Pidana Anak memang bukan batas minimal usia yang terlalu rendah tetapi

juga tidak terlalu tinggi. Anak Indonesia yang berumur 12 tahun berbeda

secara fisik dan mental dengan Anak Amerika atau Anak negara-negara

Eropa. Secara mental Anak Indonesia juga tidak bisa disamakan dengan

Anak yang berasal dari negara lain.

2. Proses Perlindungan dan Peradilan Anak

Seperti disebutkan sebelumnya, proses perlindungan dan peradilan

anak masih sangat didominasi oleh pengadilan dan penegak hukum semata.

Aturan hukum yang ada tidak cukup memberikan peran kepada entitas di

luar penegak hukum untuk terlibat dalam proses penyelesaian masalah

tindakan pidana yang dilakukan oleh seorang anak.

64

______, “Pengaturan Sanksi Pidana Anak Dibeberapa Negara Serta Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Anak”, [online]

(43)

Terkait perlindungan privasi seperti yang tertera dalam prinsip umum

Beijing Rules, juga harus diperhatikan oleh aparat penegak hukum khususnya hakim. Dengan dilakukannya sidang secara terbuka walaupun

dalam Undang-Undang Peradilan Anak pada Pasal 8 ayat (1) disebutkan

bahwa Hakim memeriksa anak dalam sidang tertutup, namun pada ayat (2)

dijelaskan jika dalam hal tertentu sidang juga dapat dilakukan secara

terbuka. Hal ini tentu saja akan merugikan anak, karena dengan

terpubikasinya kasus tersebut akan membuat anak menjadi semakin merasa

terpojokkan.

Hal ini diperparah dengan keseringan dan kecenderungan media masa

untuk memberitakan kasus-kasus terkait anak secara berlebihan. Di satu sisi

tujuannya untuk menunjukan ketidakadilan pengadilan kepada anak pelaku

tidak pidana namun di sisi lain tindakan tersebut justru mengawali dan

memungkinkan proses labelisasi terjadi.

3. Restorative Justice

Tujuan-tujuan peradilan bagi anak terkait proposionalitas antara

pelanggaran hukum dan pelanggar hukumnya perlu diperhatikan. Teori

Keadilan oleh John Rawls yang menjelaskan teori keadilan sosial sebagai

the difference principle dan the principle of fair equality of opportunity. Inti the difference principle jika dikaitkan dengan anak pelaku kejahatan, adalah bahwa perbedaan sosial dan ekonomis harus diperhatikan agar memberikan

manfaat yang paling besar bagi mereka yang paling kurang beruntung.

(44)

diperhatikan agar mampu memberi win-win solution dalam proses peradilan.

Faktor-faktor tersebut dapat meliputi latar belakang ekonomi, keluarga,

pendidikan, lingkungan dan keterlibatan orang lain terutama orang dewasa

dalam tindak kejahatan yang dilakukan anak. Meskipun faktor-faktor

tersebut juga harus berhubungan dengan tindak pidana sebagai contoh

adalah latar belakang ekonomi akan mempengaruhi anak untuk mencuri

atau latar belakang kehidupan dalam lingkungan lokalisasi akan

mempengaruhi seorang anak untuk bertindak asusila.

Lebih lanjut John Rawls menegaskan bahwa maka program

penegakan keadilan yang berdimensi kerakyatan haruslah memperhatikan

dua prinsip keadilan, yaitu, pertama, memberi hak dan kesempatan yang

sama atas kebebasan dasar yang paling luas seluas kebebasan yang sama

bagi setiap orang. Kedua, mampu mengatur kembali kesenjangan sosial

ekonomi yang terjadi sehingga dapat memberi keuntungan yang bersifat

timbal balik (reciprocal benefits) bagi setiap orang, baik mereka yang

berasal dari kelompok beruntung maupun tidak beruntung.65

Teori Keadilan oleh Aristoteles dan John Rawls harus diaplikasikan

dalam setiap proses peradilan baik penangkapan, peyelidikan, penyidikan,

pemeriksaan dan pemutusan. Hal tersebut sesuai dengan yang diamanatkan

dalam Deklarasi Universal tentang Hak-Hak Asasi Manusia (Universal

Declaration of Human Rights), Resolusi No. 217 A (III) tanggal 10

Desember 1948, menyatakan bahwa “Tak seorang pun boleh

(45)

dianiaya/diperlakukan secara kejam, ditangkap, ditahan atau dibuang secara

sewenang-wenang. Setiap orang yang dituntut karena disangka melakukan

suatu pelanggaran pidana harus dianggap tidak bersalah”.

Selain itu, the principle of fair equality of opportunity menunjukkan

pada mereka yang paling kurang mempunyai peluang untuk mencapai

prospek kesejahteraan, pendapat dan otoritas. Mereka inilah yang harus

diberi perlindungan khusus.

Menurut standard Internasional Diversi dapat dilakukan pada setiap

tahapan proses peradilan, mulai dari tahap penyidikan, penuntutan,

pemeriksaan di persidangan, dan pelaksanaan putusan hakim. Namun dalam

ketentuan hukum di Indonesia, pelaksanaan Diversi hanya dimungkinkan

ditingkat penyidikan artinya hanya merupakan kewenangan dari kepolisian,

sementara di lembaga lain seperti Kejaksaan, Kehakiman, atau Lembaga

pemasyarakatan belum ada aturan yang mengaturnya.

Restorative Justice berlandaskan pada prinsip due process, yang merupakan eksplorasi dan perbandingan antara pendekatan kesejahteraan

dan pendekatan keadilan, yang sangat menghormati hak-hak hukum

tersangka dan sangat memperhatikan kepentingan korban. Sasaran peradilan

restoratif adalah mengharapkan berkurangnya jumlah anak yang ditangkap,

ditahan dan divonis penjara serta menghapuskan stigma pada diri anak dan

mengembalikan anak menjadi manusia yang normal sehingga dapat berguna

(46)

Restorative justice mengakui 3 (tiga) pemangku kepentingan dalam menentukan penyelesaian perkara anak, yaitu : (1) korban; (2) pelaku; (3)

komunitas.

Khusus dalam hal tindakan pencegahan. menurut Chie Noyori-Corbett

dan Sung Seek Moon, langkah-langkah pencegahan tindak kenakalan

remaja dapat dilakukan melalui:

a. Parental Involvement

Semakin tinggi keterlibatan orang tua dalam hubungannya

dengan anak, akan semakin rendah kemungkinan anak melakukan

tindakan yang salah. Sebagai contohnya ketika dalam survey yang

dilakukan di sekolah menengah atas di AS, ditemukan bahwa

kemungkinan anak untuk menggunakan rokok ganja lebih kecil ketika

orang tua terus memberikan peringatan yang kuat mengenai bahaya

akan hal itu; dan

b. Extracurricular Activities

Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dapat membantu

remaja-remaja untuk belajar mengelola dan mengunakan waktu diluar jam

sekolah dengan lebih produktif. Hal ini akan memperkecil

kemungkinan bagi mereka untuk melakukan tindakan-tindakan yang

salah. 66

66

(47)

Di dalam Penal Code Ethiopia, terdapat jenis tindakan yang

diperuntukan bagi pelaku tindak pidana yaitu Tindakan Biasa (Ordinary

Measures) dan Tindakan Penghukuman (Penalty Measures). Tindakan biasa meliputi tindakan-tindakan seperti penahanan di lembaga pemasyarakatan

(admission to curative institutions), pendidikan terawasi (supervised

education), teguran (reprimand) dan tahanan sekolah atau rumah (school/home arrest) sedangkan Tindakan penghukuman mencakup

hukuman jasmani (corporal punishment).

China mengembangkan sebuah program yang disebut Bang-jiao.67

Program ini merupakan program rehabilitasi berbasis komunitas yang

membantu, membimbing dan mengarahkan anak pelaku tindak pidana ke

kehidupan normal seorang anak. Program ini melibatkan peran serta orang

tua, keluarga, teman, tetangga dan polisi. Program ini mencakup anak

pelaku tindak pidana ringan, anak yang mendapat pembebasan bersyarat

maupun mantan narapidana anak.

Menurut perundang-undangan anak di Jepang, terdapat perbedaan

prosedur penanganan bagi anak yang melakukan kejahatan disebut

“Prosedur Perlindungan”. Prosedur ini sangat berbeda dengan “Prosedur

Pidana” yang diberlakukan terhadap orang dewasa yang melakukan

kejahatan. Karena penanganan anak dilandasi pada tujuan kesempatan untuk

mencari tindakan yang paling cocok bagi perlindungan dan pembinaan

Referensi

Dokumen terkait

Kepala Seksi Bina Satuan Linmas atau Kepala Seksi Bina Potensi Masyarakat membuat nota dinas dan konsep surat pemberitahuan Pembinaan dan Pemberdayaan Satuan Linmas atau

Penelitian lain mengenai bioplastik pati yang pernah dilakukan adalah (Riza et al ., 2013) dengan judul “Sintesa Plastik Biodegradable dari Pati Sagu dengan Gliserol dan

Berdasarkan analisis yang dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pergantian manajemen, opini audit dan kesulitan keuangan ( financial distress ) tidak

Kurangnya aktivitas karena perilaku sedentari menyebabkan individu yang sering menggunakan smartphone berada dalam posisi yang statis sehingga mengalami forward

Rekapitulasi Nilai Perdagangan Saham Berdasarkan Tipe Investor

Beberapa tahun kemudian Desa Parakan mendapat bantuan dari pihak PERKIMSIH (Dinas Permukiman Bersih) berupa pembangunan tempat pembuangan sampah sementara (TPS) setelah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter peduli lingkungan di SMA Negeri 1 Bringin melalui implementasi Hi-Pori memiliki rata-rata sebesar 75%

Uji yang dilakukan di labotatorium adalah uji Mekanika Tanah dengan mengambil sampel tanah di lokasi saluran, uji yang dilakukan adalah uji sifat fisik tanah dan uji kuat