• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Pengertian Retribusi Daerah

Nurlan (2008 : 35-36), retribusi daerah yang diatur oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009, adalah retribusi daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang diterbitkan/dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Kepentingan individu atau kelompok. Mursyidi (2009: 135) retribusi daerah dipungut oleh pemerintah daerah karena memberikan izin atau pelayanan kepada orang pribadi atau badan usaha

Retribusi daerah menurut Undang-Undang No. 34 Tahun 2000 tentang pajak dan Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

2. Unsur Retribusi Daerah

Ada empat unsur yang melekat pada pengertian retribusi (Richard dan Wirawan, 2004:6)

a. Pungutan retribusi harus berdasarkan undang-undang.

b. Sifat pemungutannya dapat dipaksakan.

c. Digunakan untuk pengeluaran bagi masyarakat umum.

d. Kontra-prestasi (imbalan) langsung dapat dirasakan 3. Objek Retribusi Daerah

Yang menjadi objek retribusi daerah adalah : a. Retribusi Jasa Umum

Objek Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang diberikan atau disediakan oleh pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan. Jenis-Jenis retribusi jasa umum yaitu:

1) Retribusi pelayanan Kesehatan

2) Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan

3) Retribusi penggantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil

4) Retribusi pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat;

5) Retribusi pelayanan parker ditepi jalan umum;

6) Retribusi pelayanan pasar;

7) Retribusi pengujian kendaraan bermotor;

8) Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran;

9) Retribusi penggantian biaya cetak peta;

10) Retribusi penyediaan dan atau penyedotan kakus;

11) Retribusi pengolahan limbah cair;

12) Retribusi pelayanan tera/tera ulang;

13) Retribusi pelayanan pendidikan; dan

14) Retribusi pengendalian menara telekomunikasi.

b. Retribusi Jasa Usaha

Objek retribusi jasa usaha adalah pelayanan yang

disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi : (1) pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal; (2) pelayanan pemerintah daerah sepanjang belum disediakan secara memadai oleh pihak swasta.

Jenis-Jenis retribusi jasa usaha yaitu : 1. Retribusi pemakaian kekayaan daerah 2. Retribusi pasar grosir dan pertokoan 3. Retribusi tempat pelelangan

4. Retribusi terminal

5. Retribusi tempat khusus parker 6. Retribusi tempat penginapan 7. Retribusi rumah potong hewan 8. Retribusi pelayanan kepelabuhanan 9. Retribusi tempat rekreasi dan olahraga 10. Retribusi penyeberangan di air

c. Perizinan Tertentu

Objek retribusi perizinan tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh pemerintah daerah kepada orang pribadi atau badan yang di maksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan, Jenis retribusi perizinan tertentu adalah:

1. Retribusi izin mendirikan bangunan

2. Retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol 3. Retrubusi izin gangguan

4. Retribusi izin trayek

5. Retribusi izin usaha perikanan.

d. Prinsip dan Dan Sasaran Penetapan Tarif Retribusi

Prinsip dan Sasaran penetapan Retribusi adalah sebagai berikut:

1) Retribusi Jasa Umum, ditetapkan dengan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan, efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut.

Biaya yang dimaksud meliputi biaya operasi dan pemeliharaan, biaya bunga, dan biaya modal.

2) Retribusi Jasa Usaha, didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak, yaitu keuntungan yang diperoleh ketika pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi sesuai harga pasar.

3) Retribusi Perizinan Tertentu, didasarkan pada tujuan guna menutup sebagian atau seluruh biaya penyelanggaraan pemberian izin yang bersangkutan.

e. Tata cara pemungutan retribusi

Tata cara pelaksanaan pemungutan Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah. Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) atau dokumen lain berupa karcis, kupon, dan

kartu langganan. Jika Anda tidak membayar tepat waktu atau Anda tidak membayar, Anda akan dikenakan sanksi administratif berupa bunga bulanan sebesar 2% (2%) untuk setiap pungutan yang belum dibayar dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Retribusi Daerah (STRD).

Penagihan Retribusi terutang setelah didahului dengan surat teguran.

E. Hubungan Antara Variabel

1. Hubungan/Keterkaitan Pajak Daerah Terhadap Pendapatan Asli Daerah

Pajak Daerah menurut (Darwin, 2010:68) merupakan iuran pajak yang dilakukan oleh seseorang atau badan kepada pemerintah tanpa balas jasa, yang dapat dipaksakan berdasarkan Undang-undang Nomor 28 tahun 2009. Pajak daerah merupakan sumber penerimaan daerah yang mempunyai peranan penting berasal dari pendapatan asli daerah (PAD).

Hal ini dikarenakan semakin besar jumlah penerimaan pajak daerah maka akan semaki besar jumlah pendapatan asli daerah. Karena pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah, setiap peningkatan pajak daerah akan mempengaruhi peningkatan pada PAD.

2. Hubungan/Ketertaikan Retribusi Daerah Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD

Retribusi Daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 menjelaskan bahwa pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh

pemerintah daerah untuk kepentingan pribadi atau badan. Retribusi daerah sebagaimana halnya dengan pajak daerah merupakan salah satu pendapatan asli daerah, menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunaan daerahuntuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan masyarakat. Daerah diberi peluang dalam menggali potensi sumber-sumber keuangannya dengan menetapkan jenis retribusi. Retribusi daerah mempunyai peranan yang sangat besar terhadap pelaksanaan otonomi daerah untuk merealisasi pendapatan asli daerah. Semakin besar jumlah penerimaan retribusi daerah maka akan semakin besar pula jumlah penerimaan pendapatan asli daerah.

F. Tinjauan Empiris

Penelitian yang dilakukan oleh Rati Pundingsing (2020), Analisis Kontribusi Penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah Terhadap Pendapatan asli Daerah Kabupaten Toraja Utara, dimana peneliti bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh sistem pemungutan pajak daerah terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemungutan pajak daerah yang dilakukan pemerintah Kabupaten Toraja Utara belum menunjukkan hasil yang memuaskan, banyak wajib pajak yang susah membayar pajak, begitupun dengan kontribusi pajak daerah menunjukkan bahwa Kabupaten Toraja Utara belum dapat menjalankan otonomi daerah secara konsekuen karena masih tergantung dari penerimaan lain diluar penerimaan PAD.

Syermi S.E Mintalangi dan Lady Diana Latjandu (2019) meneliti tentang Retribusi Daerah Terhadap PAD di Kabupaten Talaud. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi pajak dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Talaud. Hasil penelitian kontribusi pajak daerah terhadap PAD pada tahun 2016-2018 dengan kriteria kontribusi sedang pada tahun 2017 cukup baik, kontribusi retribusi daerah terhadap PAD Kabupaten Kepulauan Talaud pada tahun 2016-2018 pada tahun 2016 dengan kriteria kontribusi cukup baik, tahun 2017 sedang dan 2018 sudah baik.

Randi Maikel Mohede, Debby Ch. Rotinsulu, dan Steeva.Y.L.Tumangkang (2020), Analisis Kontribusi Serta Prediksi Pajak Dan Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Di Kabupaten Kepulauaan Sangihe. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar kontribusi pajak dan retribusi daerah terhadap PAD pada tahun-tahun yang akan datang. Hasil penelitian, Jumlah Pendapatan Kontribusi Pajak dan Retribusi Daerah terus meningkat hal ini menunjukan bahwa prediksi pendapatan kontribusi pajak dan retribusi daerah untuk 5 tahun yang akan datang akan mengalami kenaikan setiap tahunnya.

Komang Arayagus Wiguna, dan I Ketut Jati (2019) dengan judul penelitian Pengaruh Pajak Daerah, dan Lain-Lain PAD yang Sah Terhadap Kinerja Keuangan Daerah, menggunakan metode pedekatan kuantitatifdengan teknik anlisis regresi liniear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, baik pajak daerah, retribusi daerah, maupun lain-lain pendapatan asli daerah yang sah tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan daerah pada Pemerintah Provinsi Bali.

Puja Rizqy Ramadhan (2019) judul penelitian Pengaruh Pajak Daerah Dan Retribusi Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten/Kota Di Kabupaten Sumatera Utara, menggunakan metode pendekatan penelitian asiosiatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa pajakdaerah berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, demikian juga halnya dengan retribusi daerah yang berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Adapun pajak daerah dan retribusi berpengaruh secara simultan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

Lawe Anasta, dan Nengsih (2019) dengan judul penelitian Peranan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (Pada Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kausal. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisa pengaruh peranan Pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah di Jawa Barat tahun 2013-2017. Serta untuk mengetahui seberapa besar perkembangan peningkatan pendapatan asli daerah di Jawa Barat tahun 2013-2017. Hasil menunjukkan bahwa pajak dan retribusi daerah memiliki pengaruh signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten/kota di Jawa Barat menunjukkan hubungan yang positif.

Wulan Purnama Sari dan Miftahul Jannah (2019), judul penelitian Analisis Pengaruh Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Terhadap Pendapatan Asli Daerah (Studi Kasus Pada Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Sintang Tahun 2010-2017). Hasil penelitian secara simultan menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan Antara variabel pajak daerah dan retribusi daerah secara simultan terhadap variabel PAD. Secara Parsial menujukkan

variabel pajak daerah berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah sedangkan retribusi daerah berpengaruh negative dan tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah.

Ananda Isnaini Rahmawati (2020) Analisis Pengaruh Pajak dan Retribusi Terhadap PAD Kota Magelang, menggunakan metode pendekatan kuantitatif.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah di Kota Magelang berpengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan asli daerah. Hal ini menunjukkan bahwa pajak daerah dan retribusi daerah memberikan sumbangan yang cukup besar dalam peningkatan pendapatan asli daerah.

Vivi Anggraini, Kusni Hidayat, Tri Lestari (2017). Pengaruh Penerimaan Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Dan Laba BUMD Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya, menggunakan metode penelitian kuantitatif.

Hasil penelitian secara statistic pajak daerah, retribusi daerah, dan laba BUMD berpengaruh baik secara simultan maupun secara parsial terhadap PAD Kota Surabaya.

Yusmalina, Lasita, dan Fauzan Haqiqi (2020) Pengaruh Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Terhadap PAD Pada Bapenda Kab. Karimun 2016-2018.

Hasil penelitian menujukkan bahwa pada tahun 2016-2018 pajak, retribusi daerah memiliki pengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Badan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Karimun.

Table 2.1 : Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 Rati Pundingsing menujukkan hasil yang memuaskan. Banyak

Kontribusi pajak daerah terhadap PAD pada tahun 2016 dan 2018 dengan kriteria kontribusi sedang pada tahun 2017 cukup baik.

3 Randi Maikel Serta Prediksi Pajak Dan Daerah Terhadap Kontribusi Pajak dan Retribusi Daerah terus meningkat hal ini menunjukan bahwa prediksi pendapatan kontribusi pajak dan retribusi daerah untuk 5 tahun yang akan dating akan mengalami kenaikan setiap tahunnya.

4 Komang Aryagus pajak daerah, retribusi daerah, maupun lain-lain pendapatan asli daerah yang sah tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan daerah pada provinsi Bali.

5 Puja Rizqy

Ramadhan (2019)

Pengaruh Pajak Daerah Dan Retribusi Terhadap Pendapatan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

Demikian Juga halnya dengan retribusi daerah dan retribusi daerah berpengaruh secara simultan terhadap pendaptan asli daerah (PAD) Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

6 Lawe Anasta dan Nengsih (2019)

Peranan Pajak Dearah Dan Retribusi Daerah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

Terhadap Peningkatan Pendapatan Asli

Daerah (Pada

Kabupaten dan Kota di Jawa Barat variabel pajak daerah dan retribusi daerah secara simultan terhadap variabel PAD.

Secara Parsial menujukkan variabel

pajak daerah

berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah sedangkan retribusi daerah dan retribusi daerah di Kota Magelang berpengaruh

positif terhadap peningkatan

pendapatan asli daerah.

Hal ini menunjukkan bahwa pajak daerah dan retribusi daerah Hidayati, Tri Lestari (2017)

Pengaruh Penerimaan Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Dan Laba BUMD Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Surabaya

Hasil secara statistik pajak daerah, retribusi daerah, dan laba BUMD berpengaruh baik secara simultan maupun secara parsial terhadap PAD Kota Surabaya.

Pajak daerah menjadi penerimaan yang paling Daerah Dan Retribusi Daerah Terhadap PAD pajak, retribusi daerah berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah

(PAD) Badan

Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Karimun.

G. Kerangka Konseptual

Pajak Dearah merupakan sumber penerimaan daerah yang mempunyai peranan penting yang berasal dari pendapatan asli daerah (PAD) dikarenakan semakin besar jumlah penerimaan pajak daerah maka akan semakin besar jumlah pendapatan asli daerah. Begitupun dengan Retribusi daerah merupakan salah satu pendapatan asli daerah (PAD) menjadi salah satusumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerahuntuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan masyarakat.

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai sumber pendapatan daerah berguna untuk membiayai penyelenggaraan dan pembangunaan daerah.

Dalam rangka bertujuan untuk pembangunan ekonomi, pemerintah harus menggali dan meningkatkan potensi sumber pendapatan daerah Kabupaten Soppeng. Pemerintah mempunyai hak ataui kekuatan politik dalam mengatur pajak dan kewajiban sebagai pendapatan daerah, dan pemerintah menerima pajak dan kewajiban untuk memajukan pembangunan ekonomi daerah.

Berdasarkan uraian diatas, dibuatlah kerangka konseptual sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual PAJAK DAERAH

(X1) PENDAPATAN ASLI

DAERAH (PAD) RETRIBUSI DAERAH (Y)

(X2)

H. HIPOTESIS

Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam suatu penelitian yang harus diuji secara empiris terhadap penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya tentang permasalahan tersebut. Berdasarkan penelitian terdahulu, maka hipotesis yang ingin diajukan untuk diteliti adalah:

1. Pengaruh Pajak Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Soppeng

Pajak daerah menurut UU No. 34 Tahun 2000 tentang pajak dan Retribusi Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Puja Rizqy Ramadhan (2019) berkaitan dengan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap peningkatan Pendapatan Asli Deaerah (PAD) menunjukkan hasil bahwa pajak daerah dan retribusi daerah berpengaruh secara simultan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

Sementara penelitian Ananda Isnaini Rahmawati (2020) berkaitan dengan analisis pengaruh pajak dan retribusi terhadap PAD.

Menunjukkan hasil bahwa pajak dan retribusi daerah berpengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang diajukan adalah:

𝐇𝟏 Pajak Daerah Berpengaruh Positif Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)

2. Pengaruh Retribusi Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Soppeng

Retribusi daerah menurut Undang-Undang No. 34 Tahun 2000 tentang pajak dan Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Lawe Anasta, dan Nengsih (2019) berkaitan dengan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Menunjukkan bahwa pajak daerah dan retribusi daerah berpengaruh signifikan dan positif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten/Kota di Jawa Barat.

Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang diajukan adalah:

𝐇𝟐 : Retribusi Daerah berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD)

32 A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif kausal yang bertujuan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antar variabel.

Penelitian kuantitatif dilakukan dalam penelitian inferensi (untuk menguji hipotesis) dan mengandalkan kesimpulan hasil sehubungan dengan probabilitas sehingga bkesalahan dalam menolak hipotesis nihil. Metode kuantitatif digunakan untuk menentukan pentingnya perbedaan kelompok atau hubungan antara variabel yang diselidiki.

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penulis memilih Kabupaten Soppeng sebagai tempat atau objek penelitian dengan menetapkan data Retribusi, Pajak Daerah dan Pendapatan Asli Daerah yang diperoleh dari Badan Pengelolaan Keuangan Dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Soppeng yang berlokasi di Jl.

Salotungo No. 3, 90812 Watansoppeng Sulawesi Selatan. Waktu penelitian dilakukan selama 2 bulan mulai juli sampai dengan agustus 2021.

C. Populasi Dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian akan ditarik

kesimpulannya. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh data time series (data deretan waktu) penerimaan pajak daerah, retribusi daerah, dan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Soppeng selama periode 2016-2020.

2. Sampel

Soetriono dan Hanafie (2007:175) menjelaskan sampel adalah anggota populasi yang dianggap dapat mewakili. Agar dapat menggambarkan secara tepat variabel yang diteliti, maka peneliti mengambil semua populasi sebagai sampelnya. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode sampling jenuh. Metode sampling jenuh atau istilah lainnya sensus merupakan teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2008:122). Berdasarkan teknik pengambilan sampel tersebut, maka kriteria sampel ditentukan atas:

1. Data penerimaan pajak daerah periode 2016-2020 (data tahunan, 5 tahun).

2. Data penerimaaan retribusi daerah periode 2016-2020(data tahunan, 5 tahun).

3. Laporan pada poin a dan b adalah laporan yang telah diperiksa BPK.

4. Opini laporan minimal wajar dengan pengecualian.

D. Definisi Operasional Variabel 1. Pendapatan Asli Daerah (Y)

Pendapatan Asli Daerah (PAD) dipungut secara sah melalui pajak daerah, iuran anggota daerah, hasil pengolahan aset daerah, dan dana dari pendapatan PAD lain yang sah, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Indikator untuk mengukur pendapatan daerah dalam penelitian ini:

a. Total pemasukan pajak daerah selama 60 (enam puluh) bulan Januari 2016 sampai dengan Desember 2020 berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Keuangan Dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Soppeng.

b. Total pemasukan retribusi daerah selama 60 (enam puluh) bulan Januari 2016 sampai dengan Desember 2020 berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Keuangan Dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Soppeng.

2. Pajak Daerah (X1)

Pajak daerah adalah iuran wajib kepada suatu daerah yang terutang oleh orang perseorangan atau badan hukum menurut undang-undang tanpa imbalan langsung dan digunakan untuk keperluan daerah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Indikator untuk mengukur pajak daerah dalam penelitian ini:

a. Total pemasukan pajak restoran b. Total Pemasukan pajak hotel c. Total Pemasukan pajak hiburan d. Total Pemasukan pajak reklame

e. Total Pemasukan pajak parker f. Total Pemasukan pajak air tanah

g. Total Pemasukan pajak penerangan jalan

c. Total Pemasukan pajak bumu dan bangunan selama 60 (enam puluh) bulan Januari 2016 sampai dengan Desember 2020 berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Keuangan Dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Soppeng.

Seluruh Indikator diatas diambil sebagai data penerimaan pajak daerah Kabupaten Soppeng selama 4 tahun mulai dari 2016-2020.

3. Retribusi Daerah (X2)

Retribusi Daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Indikator yang dapat diambil dalam mengukur retribusi daerah dalam penelitian ini:

a. Total pemasukan retribusi jasa umum b. Total pemasukan retribusi jasa usaha

c. Total pemasukan retribusi perizinan tertentu selama 60 (enam puluh) bulan Januari 2016 sampai dengan Desember 2020 berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Keuangan DanPendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Soppeng.

Seluruh Indikator diatas diambil sebagai data penerimaan retribusi daerah Kabupaten Soppeng selama 4 tahun mulai dari 2016-2020.

E. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang didapatkan peneliti secara tidak langsung atau melalui media perantara yakni: data laporan yang telah tersedia yang dapat mendukung penelitian pada tahun 2016-2020. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data komentar) yang dipublikasikan (Indriantoro dan Supomo, 1999:147)

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yaitu data yang diukur dalam skala numberik (angka). Data dalam penelitian ini berasal dari data sekunder yang diperoleh dari data bulanan pajak daerah dan retribusi daerah.

F. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dipakai atau digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa data time series periode tahun 2016-2020. Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh dari peneliti dari subjek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data dokumetasi atau data laporan yang telah tersedia. Data yang dipergunakan meliputi: data Pajak Daerah, data Retribusi Daerah dan Pendapatan Asli Daerah. Data-data ini diperoleh dari Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kabupaten Soppeng.

G. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis inferensi, yaitu analisis regresi berganda untuk mengetahui pengaruh pajak

daerah dan daerah terhadap pendapatan asli daerah di Kabupaten Soppeng yang dinyatakan dengan fungsi sebagai berikut:

Untuk mengetahui koefisien regresi, diperoleh persamaan sebagai berikut:

Y = β0 + β1X1 + β2X2+ e Dimana:

Y = Pendapatan Asli Daerah

X1 = Pajak Daerah

X2 = Retribusi Daerah

β0 = Konstanta

1. Uji Asumsi Klasik

Dalam menggunakan regresi, ada beberapa asumsi dasar yang dapat menghasilkan estimasi liner terbaik dari model regresi yang diperoleh dari metode kuadrat terkecil. Adapun asumsi-asumsi dasar itu dikenal sebagai asumsi klasik, yaitu sebagai berikut:

a. Uji normalisasi data

Uji normalisasi atau normalitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi titik valid untuk jumlah sampel kecil. Pada

Uji normalisasi atau normalitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi titik valid untuk jumlah sampel kecil. Pada

Dokumen terkait