pemegang saham atas investasi yang dilakukannya. Return saham dapat
berupa deviden ataucapital gain. Deviden merupakan bagian dari laba ditahan
perusahan yang dibagikan kepada pemegang saham atas saham yang
dimilikinya. Pemegang saham akan menerima deviden secara periodik yang
ditetapkan pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Capital gain
akan diterima oleh pemegang saham apabila saham yang dimiliki dijual di atas
harga pembelian.
Besar atau kecilnya jumlah return saham yang akan diterima oleh
pemegang saham bergantung pada kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan
yang baik akan berimbas pada tingginya laba yang dihasilkan oleh
perusahaan. Semakin tinggi laba maka semakin tinggi pulareturnsaham yang
akan diperoleh pemegang saham. Pada penelitian ini kinerja perusahaan
diproksi denganReturn on Assets(ROA).
ROA merupakan salah satu jenis rasio keuangan yang banyak
digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan. Menurut Dodd dan Chen
sebelumya menunjukkan pengukuran kinerja yang lebih baik. Di sisi lain
ROA lebih merepresentasikan kepentinganstakeholders(Sudiyatno, 2010).
Selain melakukan analisis terhadap faktor - faktor internal perusahaan,
investor juga harus memperhatikan faktor - faktor eksternal. Salah satu faktor
eksternal perusahaan yang kemungkinan dapat mempengaruhi return saham
investor dan kinerja perusahaan adalah kondisi ekonomi makro. Ekonomi
makro menunjukkan keadaan perekonomian secara keseluruhan, baik dari segi
perusahaan, pemerintah, ekspor, impor maupun kondisi sosial masyarakat.
Kestabilan ekonomi makro diperlukan perusahaan agar dapat bersaing di pasar
yang sangat cepat perubahannya (Goeltom, 2007:14).
Menurut Sudiyatno (2010) faktor ekonomi makro yang paling penting
adalah tingkat bunga. Hal ini dikarenakan ketidakstabilan tingkat bunga dapat
mempengaruhi biaya operasi perusahaan secara keseluruhan. Tinggi atau
rendahnya biaya dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan dan hal ini
akan berimbas pada tinggi atau rendahnya return saham yang diterima oleh
pemegang saham. Berdasarkan penjelasan tersebut, tampak bahwa terdapat
kemungkinan adanya pengaruh tidak langsung antara tingkat suku bunga dan
returnsaham.
Hasil penelitian Purnomo (2003) menyatakan bahwa tingkat suku
bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham. Hasil
tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fuadi (2009) dan
Subalno (2009). Hasil penelitian mereka mendukung bahwa tingkat suku
berbeda diperoleh Suardani (2009) yang menyatakan bahwa tingkat suku
bunga berpengaruh positif dan signifikan terhadapreturnsaham.
Di sisi lain Subalno (2009) juga menyatakan bahwa ROA berpengaruh
positif dan signifikan terhadap return saham. Hasil tersebut sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ulupui (2005) yang juga menyatakan bahwa
ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Namun
Wibowo (2005) menunjukkan hasil yang berbeda. Hasil penelitian beliau
menyatakan bahwa ROA tidak berpengaruh signifikan terhadapreturnsaham.
Hasil penelitian Sudiyatno (2010) menemukan bahwa tingkat bunga
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan, sedangkan
kinerja perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai
perusahaan. Dalam hal ini beliau menempatkan kinerja perusahaan (ROA)
sebagai variabel intervening. Sudiyatno (2010) menemukan bahwa ROA
berhasil memediasi pengaruh tingkat suku bunga terhadap nilai perusahaan.
Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Suardani (2009). Namun dalam
penelitiannya beliau memproksi kinerja perusahaan dengan Return on Equity
(ROE). Beliau menemukan bahwa tingkat suku bunga berpengaruh negatif
dan tidak signifikan terhadap ROE, sedangkan ROE berpengaruh positif dan
signifikan terhadap return saham. Penelitian yang dilakukan oleh Suardani
(2009) menemukan bahwa ROE tidak berhasil memediasi pengaruh tingkat
suku bunga terhadapreturnsaham.
Berdasarkan hasil penelitian - penelitian terdahulu, tampak bahwa
mengindikasikan bahwa masih terdapat permasalahan berkaitan dengan
variabel ekonomi makro, kinerja perusahaan, dan returnsaham. Oleh karena
itu perlu untuk dilakukan penelitian kembali mengenai variabel - variabel
tersebut. Di dalam penelitian ini, peneliti menempatkan variabel kinerja
perusahaan yang diproksi dengan ROA sebagai variabel intervening. Selain
itu, penelitian mengenai kinerja perusahaan, ekonomi makro, dan return
saham sangat bermanfaat bagi investor dan manajemen perusahaan dalam
proses pembuatan keputusan investasi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Apakah kinerja perusahaan memediasi pengaruh tingkat suku bunga terhadap
returnsaham?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui apakah kinerja perusahaan memediasi pengaruh tingkat
suku bunga terhadapreturnsaham.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian yang baik adalah penelitian yang memberikan manfaat kepada
1. Bagi manajemen
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu para manajemen
dalam mengambil keputusan yang tepat terutama berkaitan dengan
investasi dan pendanaan.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan
kebijakan dalam rangka peningkatan kinerja perusahaan.
2. Bagi investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu para investor untuk
mengambil keputusan yang tepat ketika berinvestasi di pasar modal.
3. Bagi akademisi
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti
selanjutnya yang akan melakukan penelitian tentang pengaruh tingkat suku
bunga dan kinerja perusahaan terhadapreturnsaham.
E. Sistematika Penulisan
Bab I: Pendahuluan
Dalam bab I akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah
yang menunjukkan mengapa penelitian ini penting dan perlu
diteliti, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
Bab II: Landasan Teori
Dalam bab II akan dikaji teori - teori pendukung yang relevan
untuk merumuskan hipotesis penelitian.
Bab III: Metode Penelitian
Dalam bab III akan diuraikan mengenai jenis penelitian, populasi
dan sampel penelitian, data dan teknik pengumpulan data, definisi
operasional variabel, dan teknik analisis data yang akan digunakan
untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
Bab IV: Analisis Data dan Pembahasan
Dalam bab V akan diuraikan mengenai deskripsi data, hasil dari
pengujian hipotesis menggunakan data yang telah diolah sesuai
dengan model empiris yang sudah ditetapkan, dan pembahasan
mengenai hasil pengujian tersebut.
Bab V: Penutup
Dalam bab V akan diuraikan mengenai kesimpulan penelitian,
7 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan media komunikasi dan pertanggungjawaban antara perusahaan dan para pemiliknya atau pihak lainnya (Suwardjono, 2003: 65). Pada bagian kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan PSAK paragraf 07 dijelaskan bahwa laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Di samping itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut misalnya, informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga.
Berdasarkan kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan PSAK paragraf 12 tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Contoh keputusan ekonomi yang harus diambil para pemakai adalah keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan, keputusan untuk mengangkat kembali, atau
keputusan untuk mengganti manajemen. Dalam hal ini yang dimaksud pemakai adalah pemakai laporan keuangan. Pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga - lembaganya, dan masyarakat.
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, catatan atas laporan keuangan, skedul, dan informasi tambahan. Namun pada bab ini hanya akan dijelaskan mengenai laporan keuangan yang utama. Menurut Bodie dkk (2006: 284-287) terdapat tiga laporan keuangan utama yaitu:
1. Laporan laba rugi, merupakan ringkasan profitabilitas suatu perusahaan selama periode tertentu, misalnya satu tahun. Laporan ini menyajikan pendapatan yang diperoleh selama satu periode operasi, beban - beban yang terjadi selama periode yang sama, serta laba atau keuntungan bersih perusahaan yang merupakan selisih pendapatan dan beban.
2. Neraca, merupakan “potret” kondisi keuangan perusahaan pada titik waktu tertentu. Neraca merupakan daftar aktiva dan kewajiban perusahaan pada titik waktu tertentu. Selisih antara aktiva dan kewajiban merupakan kekayaan bersih perusahaan yang sering disebut juga ekuitas pemegang saham.
3. Laporan arus kas, merupakan rincian arus kas yang diterima dari aktivas operasi, investasi, dan pendanaan perusahaan. Laporan arus kas menjadi bukti kesehatan perusahaan. Jika perusahaan tidak dapat membayar deviden dan mempertahankan produktivitasnya menggunakan kas dari operasi, maka ini merupakan peringatan serius bahwa perusahaan tidak dapat mempertahankan pembayaran deviden pada tingkat yang sekarang dalam jangka panjang.
B. Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan media yang sangat penting untuk memperoleh informasi mengenai posisi keuangan dan kinerja perusahaan pada periode yang bersangkutan. Data yang terdapat dalam laporan keuangan akan lebih memiliki arti apabila data tersebut diperbandingkan antara dua periode atau lebih. Kegiatan membandingkan data laporan keuangan antara dua periode atau lebih ini disebut dengan analisis laporan keuangan.
Dalam menganalisis dan menilai posisi keuangan dan potensi atas kemajuan perusahaan, faktor yang paling penting untuk diketahui oleh yang berkepentingan, adalah sebagai berikut (Raharjaputra, 2009: 194-195):
1. Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi atau saat ditagih. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban tersebut disebut dalam keadaan “likuid”, sebaliknya bagi perusahaan yang tidak mampu memenuhi kewajibannya disebut “ilikuid”.
2. Solvabilitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi, baik kewajiban jangka pendek, maupun kewajiban jangka panjangnya.
3. Rentabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menciptakan laba atau keuntungan. Modal perusahaan pada dasarnya diperoleh dari modal sendiri (equity) dan modal dari luar (short and term liabilities).
Kemampuan perusahaan dalam menciptakan laba adalah tuntutan para pemodal tersebut untuk memperoleh deviden, bunga kupon obligasi, ataupun kewajiban perusahaan lainnya.
4. Stabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menjalankan usahanya dengan stabil, yaitu dengan mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga dan pokok atas utang - utangnya, membayar deviden dan kewajiban internal perusahaan.
Beberapa lembaga dan investor memiliki keinginan untuk memperoleh hasil dari analisis laporan keuangan yang disajikan perusahaan, walaupun memiliki kepentingan yang berbeda. Hal yang paling penting adalah manajemen perusahaan harus memahami harapan dan keinginan dari para kreditur dan pemegang saham agar mampu menarik dan mempertahankan dana perusahaan yang telah atau akan diberikan. Lembaga dan investor tersebut, antara lain kreditur jangka panjang, kreditur jangka pendek, pemegang saham, dan manajemen perusahaan (Raharjaputra, 2009: 195).
1. Kreditur Jangka Panjang
Kreditur jangka panjang memerlukan analis tambahan atas kemampuan perusahaan dalam menciptakan keuntungan dan arus kas di masa datang, hal ini untuk memperkirakan sejauh mana perusahaan mampu membayar bunga kupon secara periodik dan pokok pinjaman saat jatuh tempo. Analisis laporan keuangan dari perusahaan yang akan diberikan bantuan dana atau pinjaman merupakan salah satu alat penting bagi kreditur jangka panjang, khususnya mengetahui proyeksi keuangan di masa datang (Raharjaputra, 2009: 196). Contoh kreditur jangka panjang adalah pemegang obligasi perusahaaan dan perusahaan pengelola dana pensiun.
2. Kreditur Jangka Pendek
Kreditur jangka pendek adalah lembaga atau perusahaan yang memberikan dana jangka pendek, seperti bank atau pemasok barang / jasa kepada perusahaan dengan pembayaran nontunai atau secara kredit kepada perusahaan yang dianggap memiliki kemampuan likuiditas atau mampu membayar kewajibannya saat jatuh tempo (Raharjaputra, 2009: 195). 3. Pemegang Saham
Pemegang saham (stockholders) tertarik kepada perusahaan karena
likuiditas, solvabilitas, keuntungan masa depan, termasuk arus kas dalam jangka panjang. Para pemegang saham adalah pemilik perusahaan yang dipengaruhi langsung oleh keuntungan (profit) dan risiko (risk)
4. Manajemen Perusahaan
Manajemen adalah eksekutif perusahaan yang sangat mengenal sasaran dan tujuan perusahaan dan bertanggung jawab untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Tanggung jawab lainnya adalah manajemen harus mampu menjaga likuiditas perusahaan agar mampu memenuhi tuntutan para kreditur dan pemegang saham (Raharjaputra, 2009: 196).
C. Kinerja perusahaan
Kinerja perusahaan merupakan suatu tingkat prestasi yang berhasil dicapai oleh perusahaan. Pada umumnya kinerja sebuah perusahaan dikaitkan dengan kondisi keuangan perusahaan. Baik atau buruknya kondisi keuangan perusahaan tercermin dalam laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen. Oleh sebab itu untuk menilai kinerja suatu perusahaan dibutuhkan informasi di dalam laporan keuangan.
Kinerja perusahaan merupakan salah satu faktor penentu tinggi atau rendahreturnyang akan diterima oleh pemegang saham. Semakin baik kinerja
sebuah perusahaan maka kemungkinan semakin tinggi pula return saham
perusahaan tersebut. Kinerja perusahaan yang baik biasanya ditunjukkan dengan tingginya rasio yang mengukur tingkat profitabilitas perusahaan.
Berdasarkan kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan PSAK paragaraf 17 informasi kinerja perusahaan, terutama profitabilitas, diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan. Informasi fluktuasi
kinerja adalah penting dalam hubungan ini. Informasi kinerja bermanfaat utnuk memprediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. Di samping itu, informasi tersebut juga berguna dalam perumusan pertimbangan tentang efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya.
Pada umumnya kinerja perusahaan diukur dengan menggunakan rasio keuangan. Melalui rasio keuangan data akuntansi yang terdapat dalam laporan keuangan disajikan kembali dalam hubungan waktu. Rasio keuangan membantu kita untuk mengidentifikasikan beberapa kelemahan dan kekuatan keuangan perusahaan. Rasio tersebut memberikan dua cara bagaimana membuat perbandingan dan data keuangan perusahaan yang berarti (Keown dkk, 2008: 74):
1. Meneliti rasio antar waktu untuk meneliti arah pergerakannya. 2. Membandingkan rasio perusahaan dengan rasio perusahaan lainnya. D. Rasio Keuangan
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti) (Harahap, 2007: 297). Melalui rasio pemakai laporan keuangan dapat membandingkan dua perusahaan yang berbeda atau suatu perusahaan dengan batas - batas waktu yang berbeda. Hal ini dikarenakan dengan menggunakan rasio keuangan dapat mengurangi banyaknya informasi relevan pada serangkaian indikator keuangan yang
terbatas dan untuk meniadakan pengaruh ukuran besarnya perusahaan (size
company) sehingga perbandingan antar perusahaan pada skala yang berbeda
dapat dilakukan (Kodrat dan Kurniawan, 2010: 231). Terdapat hal yang harus diperhatikan ketika membandingkan rasio suatu perusahaan dengan perusahaan yaitu berkaitan dengan sistem akuntansi yang digunakan oleh perusahaan yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan ketika membandingkan dua perusahaan dengan sistem akuntansi yang berbeda maka akan memberikan hasil analisis yang bias.
Penggunaan analisis rasio keuangan ini sangat bervariasi dan tergantung oleh pihak yang memerlukan (Sartono, 2008: 113). Pemegang saham preferen dan obligasi akan lebih menitikberatkan pada aliran kas jangka panjang. Pemilik (pemegang saham) dan calon investor akan melihat dari segi profitabilitas dan risiko. Oleh karena perbedaan kepentingan tersebut maka dikembangkan empat kelompok rasio keuangan (Sartono, 2008: 114):
1. Rasio likuiditas, yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial yang berjangka pendek tepat pada waktunya.
2. Rasio aktivitas, menunjukkan sejauh mana efisiensi perusahaan dalam menggunakan aset untuk memperoleh penjualan.
3. Financial leverage ratio, menunjukkan kapasitas perusahaan untuk
4. Rasio profitabilitas, dapat mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba baik dalam hubungannya dengan penjualan, aset, maupun laba bagi modal sendiri.
Berdasarkan keempat rasio tersebut rasio profitabilitas merupakan rasio yang berkaitan langsung dengan kinerja perusahaan. Return on Asset
(ROA) merupakan salah satu rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas perusahaan. Dengan demikian bagi investor jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan analisis profitabilitas ini misalnya bagi pemegang saham akan melihat keuntungan yang benar - benar akan diterima dalam bentuk deviden (Sartono, 2008: 122). ROA menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pula kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva perusahaan.
Penggunaan ROA sebagai alat pengukur prestasi atau kinerja manajer pusat investasi akan diperoleh hasil penilaian yang baik karena ROA mempunyai beberapa kelebihan, yaitu (Munawir, 2006: 91):
1. ROA dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang menyeluruh, yang sensitif terhadap hal yang mempengaruhi keadaan keuangan perusahaan. 2. ROA dapat memperbandingkan posisi perusahaan dengan rasio industri
sehingga dapat diketahui apakah perusahaan berada di bawah, sama atau di atas rata - rata industri. Hal ini merupakan salah satu langkah dalam perencanaan strategis.
3. ROA dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing - masing produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
4. ROA dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan - tindakan yang dilakukan oleh setiap divisinya dan pemanfaatan akuntansi divisinya. 5. Selain berguna untuk kepentingan kontrol, ROA juga berguna untuk
kepentingan perencanaan.
Namun metode ROA juga memiliki beberapa kelemahan yaitu (Munawir, 2006: 94):
1. ROA sebagai pengukur divisi sangat dipengaruhi oleh metode depresiasi aktiva tetap.
2. ROA mengandung distorsi yang cukup besar terutama dalam kondisi inflasi. ROA akan cenderung tinggi akibat penyesuaian (kenaikan) harga jual, sementara itu beberapa komponen biaya masih dinilai dengan harga distorsi.
ROA dihitung dengan membagi laba setelah pajak yang diperoleh perusahaan dengan aktiva yang diinvestasikan untuk memperoleh laba tersebut. Secara matematis ROA dapat dirumuskan sebagai berikut (Sartono, 2008: 123):
a TotalAktiv EAT hPajak LabaSetela ROA ( )
E. Tingkat Suku Bunga
Pada umumnya untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan akan melakukan pinjaman kepada para pemilik modal (investor). Ketika perusahaan melakukan pinjaman perusahaan akan dibebani oleh biaya bunga.
Besarnya biaya bunga bergantung pada tingkat suku bunga umum. Menurut Fuadi (2009) tingkat suku bunga atau interest rate merupakan rasio
pengembalian sejumlah investasi sebagai bentuk imbalan yang diberikan kepada investor.
Besarnya tingkat suku bunga di pasar modal ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran. Gambar 2.1 menunjukkan bagaimana penawaran dan permintaan berinteraksi untuk menentukan tingkat suku bunga dalam dua pasar modal. Pasar A mencerminkan pasar dengan sekuritas berisiko rendah, sedangkan pasar B mencerminkan sekuritas yang berisiko tinggi. Tingkat suku bunga di pasar A adalah 10% dan tingkat bunga di pasar B adalah 12%. Perusahaan dengan kemampuan kreditnya di pasar A akan memperoleh dana dengan biaya sebesar 10%, dan pemilik modal yang ingin berinvestasi dengan risiko rendah akan memperoleh return sebesar 10%. Perusahaan yang
melakukan kredit di pasar B akan mengeluarkan biaya yang lebih tinggi yaitu sebesar 12%, dan para pemilik modal (investor) yang menyukai sekuritas dengan risiko tinggi akan menerima return yang lebih tinggi yaitu sebesar
12%. Namun mereka juga mengakui bahwa kemungkinan jumlah sebenarnya yang akan mereka peroleh dapat saja menjadi lebih rendah.
Jika permintaan akan dana menurun maka kurva permintaan D1 akan bergeser ke kiri (turun) yang ditunjukkan oleh kurva permintaan D2. Menurunnya permintaan dana menyebabkan turunnya keseimbangan pasar tingkat suku bunga keangka 8%. Hal sebaliknya akan terjadi apabila seandainya Bank Sentral memperketat kredit. Kurva penawaran (S1) akan
Pasar A: Sekuritas beresiko rendah Pasar B: Sekuritas beresiko tinggi
Tingkat Suku Bunga, k (%)
Tingkat Suku Bunga, k (%) 0 10 8 12 0 D1 D2 S1 S1 D1
bergeser ke kiri (naik), sehingga menyebabkan tingkat suku bunga naik dan menurunkan jumlah pinjaman di dalam perekonomian.
Gambar 2.1 Tingkat Suku Bunga sebagai Fungsi dari Permintaan dan Penawaran untuk Pendanaan
Sumber: Brigham dan Joel. F. Houston, 2006: 169
Naik turunnya tingkat suku bunga akan berpengaruh baik pada kinerja perusahaan maupun pada harga saham. Perubahan tingkat suku bunga dapat mempengaruhi harga saham melalui tiga cara yaitu (Fuadi, 2009):
1. Perubahan suku bunga mempengaruhi kondisi perusahaan secara umum dan profitabilitas perusahaan yakni deviden dan harga saham biasa.
2. Perubahan suku bunga mempengaruhi hubungan antara perolehan dari obligasi dan perolehan deviden dari saham - saham dan oleh karena itu terdapat daya tarik yang relatif antara saham dan obligasi.
3. Perubahan suku bunga mempengaruhi psikologi para investor sehubungan dengan investasi kekayaan sehingga mempengaruhi harga saham.
Menurut Ang (1997; 19.1) apabila suku bunga naik maka akan memberikan pengaruh negatif terhadap pasar ekuitas. Kenaikan tingkat bunga
pinjaman memiliki dampak negatif terhadap setiap emiten, karena akan meningkatkan beban bunga kredit dan menurunkan laba bersih (Samsul, 2006; 201). Menurunnya laba bersih akan mengakibatkan laba per saham juga menurun dan akhirnya akan berakibat turunnya harga saham di pasar. Apabila pemegang saham menjual saham mereka dalam keadaan harga saham rendah maka pemegang saham akan menderita rugi (capital loss).
Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Negara (2001: 176). Beliau berpendapat bahwa semakin tinggi tingkat bunga maka akan semakin besar beban biaya operasional perusahaan. Keadaan ini akan mempengaruhi kinerja dan juga cash flow perusahaan. Semakin tinggi biaya maka semakin rendah
profitabilitas perusahaan dan ini berimbas pada rendahnya deviden.
Sudiyatno (2010) mengungkapkan bahwa penurunan tingkat bunga juga berpotensi untuk menurunkan harga bahan kebutuhan pokok untuk industri, sehingga harga pokok produksi juga rendah. Bagi perusahaan, hal ini sangat positif pengaruhnya karena perusahaan dapat menjual produknya dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Akibatnya, penjualan perusahaan meningkat, dan dengan demikian laba perusahaan juga naik. Naiknya laba perusahaan dapat dipakai sebagai ukuran atau signal bahwa