viii ABSTRAK
Analisis Peran Kinerja Perusahaan Dalam Pengaruh Tingkat Suku Bunga TerhadapReturnSaham
Studi Empiris:
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2006 -2010
Krispina Titis Sari A.G 082114047
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kinerja perusahaan memediasi pengaruh tingkat suku bunga terhadapreturn saham. Dasar teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah teori yang menyebutkan bahwa besarnya tingkat suku bunga dapat mempengaruhi kinerja perusahaan dan kinerja perusahaan berpengaruh terhadapreturnyang akan diperoleh pemegang saham.
Penelitian ini merupakan studi empiris terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Teknik analisis data menggunakan metode analisis jalur (path analysis) dengan menempatkan kinerja perusahaan sebagai variabel intervening. Kinerja perusahaan diproksi dengan Return on Assets (ROA). Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang aktif memperdagangkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Sampel penelitian dipilih menggunakan metode purposive sampling. Data yang digunakan merupakan data panel, yaitu gabungan data cross section dan data time series periode 2006 sampai dengan 2010.
ix
ABSTRACT
The Analysis of the Role of the Financial Performance on the Effect of Interest Rate on the Share Return
Empirical Study:
Manufacturing Companies Listed in Indonesia Stock Exchange From the Period of 2006 to 2010
Krispina Titis Sari A.G 082114047
The purpose of this research was to examine whether financial performance mediating the effect of the interest rate on the share return. The theoretical of this research was theory mentioning interest rate can effect the financial performance and the financial performance can affect on the share return.
This research was empirical study on the manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange (BEI). The data analysis techniques used was path analysis method with financial performance as intervening variable. The financial performance was measured by Return on Assets (ROA). This study used the samples of the manufacturing companies, whose stock were actively traded in Indonesia Stock Exchange. The sample of the research was taken by purposive sampling method. The data used was panel data, containing the cross section data and time series data from the period of 2006 to 2010.
i
ANALISIS PERAN KINERJA PERUSAHAAN DALAM PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA TERHADAPRETURNSAHAM
Studi Empiris:
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2006 -2010
Skripsi
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Program Studi Akuntansi
Disusun oleh:
Nama : Krispina Titis Sari A.G NIM : 082114047
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
HALAMAN MOTTO
Saya tidak patah semangat karena setiap usaha yang salah adalah satu langkah maju (Thomas Alva Edison).
Kehidupan adalah proses, dan proses kehidupan setiap orang adalah berbeda. Hargai dan cintai kehidupan mu dan kehidupan orang lain. Maka kehidupan mu akan lebih memiliki arti.
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk
Allah Bapa Yang Maha Kuasa
Ayah saya Sigit Widaryanto, SE dan Ibu saya Sukemi Lestari
Kakak - kakak saya K. Titis Kurniawati, SE dan K. Titis Kurniawan, S.Pd
Adik - adik saya G. Titis Widaryanto dan P. Titis Widaryantoko
viii ABSTRAK
Analisis Peran Kinerja Perusahaan Dalam Pengaruh Tingkat Suku Bunga TerhadapReturnSaham
Studi Empiris:
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2006 -2010
Krispina Titis Sari A.G 082114047
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kinerja perusahaan memediasi pengaruh tingkat suku bunga terhadapreturn saham. Dasar teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah teori yang menyebutkan bahwa besarnya tingkat suku bunga dapat mempengaruhi kinerja perusahaan dan kinerja perusahaan berpengaruh terhadapreturnyang akan diperoleh pemegang saham.
Penelitian ini merupakan studi empiris terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Teknik analisis data menggunakan metode analisis jalur (path analysis) dengan menempatkan kinerja perusahaan sebagai variabel intervening. Kinerja perusahaan diproksi dengan Return on Assets (ROA). Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang aktif memperdagangkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Sampel penelitian dipilih menggunakan metode purposive sampling. Data yang digunakan merupakan data panel, yaitu gabungan data cross section dan data time series periode 2006 sampai dengan 2010.
ix
ABSTRACT
The Analysis of the Role of the Financial Performance on the Effect of Interest Rate on the Share Return
Empirical Study:
Manufacturing Companies Listed in Indonesia Stock Exchange From the Period of 2006 to 2010
Krispina Titis Sari A.G 082114047
The purpose of this research was to examine whether financial performance mediating the effect of the interest rate on the share return. The theoretical of this research was theory mentioning interest rate can effect the financial performance and the financial performance can affect on the share return.
This research was empirical study on the manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange (BEI). The data analysis techniques used was path analysis method with financial performance as intervening variable. The financial performance was measured by Return on Assets (ROA). This study used the samples of the manufacturing companies, whose stock were actively traded in Indonesia Stock Exchange. The sample of the research was taken by purposive sampling method. The data used was panel data, containing the cross section data and time series data from the period of 2006 to 2010.
x
KATA PENGANTAR
Penulis memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmat dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul“Analisis Peran Kinerja Perusahaan Dalam Pengaruh Tingkat Suku Bunga Terhadap Return Saham”. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi, Program Studi Akuntansi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa selesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Ir. P. Wiryono P., S.J. selaku rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menimba
ilmu di Universitas Sanata Dharma.
2. Drs. YP. Supardiyono, M. Si., Akt., QIA selaku dosen pembimbing yang telah berkenan meluangkan waktu untuk membimbing penulis dalam proses
penyelesaian penulisan skripsi.
3. Seluruh dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma yang telah
mendidik dan memberikan banyak ilmu selama saya kuliah di Universitas Sanata Dharma.
4. Ignatius Aryono, SE yang telah banyak membantu dalam proses penyelesaian
xii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS………..vii
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian... 4
D. Manfaat Penelitian... 4
E. Sistematika Penelitian ... 5
II. LANDASAN TEORI ... 7
A. Laporan Keuangan... 7
B. Analisis Laporan Keuangan ... 9
C. Kinerja Perusahaan ... 12
D. Rasio Keuangan... 13
E. Tingkat Suku Bunga ... 16
F. Saham ... 19
G. ReturnSaham ... 21
H. Tingkat Suku Bunga, Kinerja Perusahaan, danReturnSaham ... 23
III. METODE PENELITIAN ... 27
A. Jenis Penelitian ... 27
B. Populasi dan Sampel Penelitian... 27
C. Data dan Teknik Pengumpulan Data ... 27
D. Variabel Penelitian ... 28
E. Teknik Analisis Data ... 30
1. Analisis Jalur (Path Analysis) ... 30
2. Pengujian Hipotesis Mediasi ... 31
xiii
A. Deskripsi Data ... 35
B. Analisis Data ... 40
1. Analisis Jalur (Path Analysis) ... 40
2. UjiGoodness-fit Model... 41
3. Pengujian Hipotesis Mediasi ... 42
C. Pembahasan Hasil Penelitian... 44
V. PENUTUP ... 49
A. Kesimpulan... 49
B. Keterbatasan Penelitian ... 49
C. Saran ... 50
DAFTAR PUSTAKA ... 51
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Tingkat Suku Bunga sebagai Fungsi dari Permintaan dan
Penawaran untuk Pendanaan... 18
Gambar 2.2 Penentuan Harga Pasar Saham... 20
Gambar 2.3 Hubungan Tingkat Suku Bunga, Kinerja Perusahaan, danReturn Saham... 24
Gambar 3.1 Model Analisis Jalur ... 30
Gambar 3.2 Model Pengujian Hipotesis Mediasi ... 33
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Proses Pemilihan Sampel Penelitian ... 35
Tabel 4.2 Daftar Perusahaan Sampel ... 36
Tabel 4.3 Hasil Perhitungan ROA Tahun 2006-2010... 37
Tabel 4.4 Data Tingkat Suku Bunga (BIRate) Tahun 2006-2010 ... 38
Tabel 4.5 Hasil PerhitunganReturnSaham Tahun 2006-2010 ... 38
Tabel 4.6 Hasil R-Square... 42
Tabel 4.7 Hasil Uji Tahap Pertama ... 43
1 BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu tujuan utama investor menanamkan saham pada suatu
perusahaan adalah untuk memperolehreturnsaham yang sebesar - besarnya di
masa datang. Return saham merupakan keuntungan yang akan diperoleh
pemegang saham atas investasi yang dilakukannya. Return saham dapat
berupa deviden ataucapital gain. Deviden merupakan bagian dari laba ditahan
perusahan yang dibagikan kepada pemegang saham atas saham yang
dimilikinya. Pemegang saham akan menerima deviden secara periodik yang
ditetapkan pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Capital gain
akan diterima oleh pemegang saham apabila saham yang dimiliki dijual di atas
harga pembelian.
Besar atau kecilnya jumlah return saham yang akan diterima oleh
pemegang saham bergantung pada kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan
yang baik akan berimbas pada tingginya laba yang dihasilkan oleh
perusahaan. Semakin tinggi laba maka semakin tinggi pulareturnsaham yang
akan diperoleh pemegang saham. Pada penelitian ini kinerja perusahaan
diproksi denganReturn on Assets(ROA).
ROA merupakan salah satu jenis rasio keuangan yang banyak
digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan. Menurut Dodd dan Chen
sebelumya menunjukkan pengukuran kinerja yang lebih baik. Di sisi lain
ROA lebih merepresentasikan kepentinganstakeholders(Sudiyatno, 2010).
Selain melakukan analisis terhadap faktor - faktor internal perusahaan,
investor juga harus memperhatikan faktor - faktor eksternal. Salah satu faktor
eksternal perusahaan yang kemungkinan dapat mempengaruhi return saham
investor dan kinerja perusahaan adalah kondisi ekonomi makro. Ekonomi
makro menunjukkan keadaan perekonomian secara keseluruhan, baik dari segi
perusahaan, pemerintah, ekspor, impor maupun kondisi sosial masyarakat.
Kestabilan ekonomi makro diperlukan perusahaan agar dapat bersaing di pasar
yang sangat cepat perubahannya (Goeltom, 2007:14).
Menurut Sudiyatno (2010) faktor ekonomi makro yang paling penting
adalah tingkat bunga. Hal ini dikarenakan ketidakstabilan tingkat bunga dapat
mempengaruhi biaya operasi perusahaan secara keseluruhan. Tinggi atau
rendahnya biaya dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan dan hal ini
akan berimbas pada tinggi atau rendahnya return saham yang diterima oleh
pemegang saham. Berdasarkan penjelasan tersebut, tampak bahwa terdapat
kemungkinan adanya pengaruh tidak langsung antara tingkat suku bunga dan
returnsaham.
Hasil penelitian Purnomo (2003) menyatakan bahwa tingkat suku
bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham. Hasil
tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fuadi (2009) dan
Subalno (2009). Hasil penelitian mereka mendukung bahwa tingkat suku
berbeda diperoleh Suardani (2009) yang menyatakan bahwa tingkat suku
bunga berpengaruh positif dan signifikan terhadapreturnsaham.
Di sisi lain Subalno (2009) juga menyatakan bahwa ROA berpengaruh
positif dan signifikan terhadap return saham. Hasil tersebut sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ulupui (2005) yang juga menyatakan bahwa
ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Namun
Wibowo (2005) menunjukkan hasil yang berbeda. Hasil penelitian beliau
menyatakan bahwa ROA tidak berpengaruh signifikan terhadapreturnsaham.
Hasil penelitian Sudiyatno (2010) menemukan bahwa tingkat bunga
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan, sedangkan
kinerja perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai
perusahaan. Dalam hal ini beliau menempatkan kinerja perusahaan (ROA)
sebagai variabel intervening. Sudiyatno (2010) menemukan bahwa ROA
berhasil memediasi pengaruh tingkat suku bunga terhadap nilai perusahaan.
Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Suardani (2009). Namun dalam
penelitiannya beliau memproksi kinerja perusahaan dengan Return on Equity
(ROE). Beliau menemukan bahwa tingkat suku bunga berpengaruh negatif
dan tidak signifikan terhadap ROE, sedangkan ROE berpengaruh positif dan
signifikan terhadap return saham. Penelitian yang dilakukan oleh Suardani
(2009) menemukan bahwa ROE tidak berhasil memediasi pengaruh tingkat
suku bunga terhadapreturnsaham.
Berdasarkan hasil penelitian - penelitian terdahulu, tampak bahwa
mengindikasikan bahwa masih terdapat permasalahan berkaitan dengan
variabel ekonomi makro, kinerja perusahaan, dan returnsaham. Oleh karena
itu perlu untuk dilakukan penelitian kembali mengenai variabel - variabel
tersebut. Di dalam penelitian ini, peneliti menempatkan variabel kinerja
perusahaan yang diproksi dengan ROA sebagai variabel intervening. Selain
itu, penelitian mengenai kinerja perusahaan, ekonomi makro, dan return
saham sangat bermanfaat bagi investor dan manajemen perusahaan dalam
proses pembuatan keputusan investasi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Apakah kinerja perusahaan memediasi pengaruh tingkat suku bunga terhadap
returnsaham?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui apakah kinerja perusahaan memediasi pengaruh tingkat
suku bunga terhadapreturnsaham.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian yang baik adalah penelitian yang memberikan manfaat kepada
1. Bagi manajemen
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu para manajemen
dalam mengambil keputusan yang tepat terutama berkaitan dengan
investasi dan pendanaan.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan
kebijakan dalam rangka peningkatan kinerja perusahaan.
2. Bagi investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu para investor untuk
mengambil keputusan yang tepat ketika berinvestasi di pasar modal.
3. Bagi akademisi
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti
selanjutnya yang akan melakukan penelitian tentang pengaruh tingkat suku
bunga dan kinerja perusahaan terhadapreturnsaham.
E. Sistematika Penulisan
Bab I: Pendahuluan
Dalam bab I akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah
yang menunjukkan mengapa penelitian ini penting dan perlu
diteliti, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
Bab II: Landasan Teori
Dalam bab II akan dikaji teori - teori pendukung yang relevan
untuk merumuskan hipotesis penelitian.
Bab III: Metode Penelitian
Dalam bab III akan diuraikan mengenai jenis penelitian, populasi
dan sampel penelitian, data dan teknik pengumpulan data, definisi
operasional variabel, dan teknik analisis data yang akan digunakan
untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
Bab IV: Analisis Data dan Pembahasan
Dalam bab V akan diuraikan mengenai deskripsi data, hasil dari
pengujian hipotesis menggunakan data yang telah diolah sesuai
dengan model empiris yang sudah ditetapkan, dan pembahasan
mengenai hasil pengujian tersebut.
Bab V: Penutup
Dalam bab V akan diuraikan mengenai kesimpulan penelitian,
7 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan media komunikasi dan
pertanggungjawaban antara perusahaan dan para pemiliknya atau pihak
lainnya (Suwardjono, 2003: 65). Pada bagian kerangka dasar penyusunan dan
penyajian laporan keuangan PSAK paragraf 07 dijelaskan bahwa laporan
keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan
perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara
misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan
laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari
laporan keuangan. Di samping itu juga termasuk skedul dan informasi
tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut misalnya, informasi
keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan
harga.
Berdasarkan kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan
keuangan PSAK paragraf 12 tujuan laporan keuangan adalah menyediakan
informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi
keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam
pengambilan keputusan ekonomi. Contoh keputusan ekonomi yang harus
diambil para pemakai adalah keputusan untuk menahan atau menjual investasi
keputusan untuk mengganti manajemen. Dalam hal ini yang dimaksud
pemakai adalah pemakai laporan keuangan. Pemakai laporan keuangan
meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi
pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta
lembaga - lembaganya, dan masyarakat.
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa laporan keuangan yang lengkap
biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan,
catatan atas laporan keuangan, skedul, dan informasi tambahan. Namun pada
bab ini hanya akan dijelaskan mengenai laporan keuangan yang utama.
Menurut Bodie dkk (2006: 284-287) terdapat tiga laporan keuangan utama
yaitu:
1. Laporan laba rugi, merupakan ringkasan profitabilitas suatu perusahaan
selama periode tertentu, misalnya satu tahun. Laporan ini menyajikan
pendapatan yang diperoleh selama satu periode operasi, beban - beban
yang terjadi selama periode yang sama, serta laba atau keuntungan bersih
perusahaan yang merupakan selisih pendapatan dan beban.
2. Neraca, merupakan “potret” kondisi keuangan perusahaan pada titik
waktu tertentu. Neraca merupakan daftar aktiva dan kewajiban perusahaan
pada titik waktu tertentu. Selisih antara aktiva dan kewajiban merupakan
kekayaan bersih perusahaan yang sering disebut juga ekuitas pemegang
3. Laporan arus kas, merupakan rincian arus kas yang diterima dari aktivas
operasi, investasi, dan pendanaan perusahaan. Laporan arus kas menjadi
bukti kesehatan perusahaan. Jika perusahaan tidak dapat membayar
deviden dan mempertahankan produktivitasnya menggunakan kas dari
operasi, maka ini merupakan peringatan serius bahwa perusahaan tidak
dapat mempertahankan pembayaran deviden pada tingkat yang sekarang
dalam jangka panjang.
B. Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan media yang sangat penting untuk
memperoleh informasi mengenai posisi keuangan dan kinerja perusahaan
pada periode yang bersangkutan. Data yang terdapat dalam laporan keuangan
akan lebih memiliki arti apabila data tersebut diperbandingkan antara dua
periode atau lebih. Kegiatan membandingkan data laporan keuangan antara
dua periode atau lebih ini disebut dengan analisis laporan keuangan.
Dalam menganalisis dan menilai posisi keuangan dan potensi atas
kemajuan perusahaan, faktor yang paling penting untuk diketahui oleh yang
berkepentingan, adalah sebagai berikut (Raharjaputra, 2009: 194-195):
1. Likuiditas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi
kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi atau saat ditagih.
Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban tersebut disebut dalam
keadaan “likuid”, sebaliknya bagi perusahaan yang tidak mampu
2. Solvabilitas menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi
kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi, baik
kewajiban jangka pendek, maupun kewajiban jangka panjangnya.
3. Rentabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menciptakan
laba atau keuntungan. Modal perusahaan pada dasarnya diperoleh dari
modal sendiri (equity) dan modal dari luar (short and term liabilities).
Kemampuan perusahaan dalam menciptakan laba adalah tuntutan para
pemodal tersebut untuk memperoleh deviden, bunga kupon obligasi,
ataupun kewajiban perusahaan lainnya.
4. Stabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menjalankan
usahanya dengan stabil, yaitu dengan mengukur kemampuan perusahaan
untuk membayar beban bunga dan pokok atas utang - utangnya,
membayar deviden dan kewajiban internal perusahaan.
Beberapa lembaga dan investor memiliki keinginan untuk memperoleh
hasil dari analisis laporan keuangan yang disajikan perusahaan, walaupun
memiliki kepentingan yang berbeda. Hal yang paling penting adalah
manajemen perusahaan harus memahami harapan dan keinginan dari para
kreditur dan pemegang saham agar mampu menarik dan mempertahankan
dana perusahaan yang telah atau akan diberikan. Lembaga dan investor
tersebut, antara lain kreditur jangka panjang, kreditur jangka pendek,
1. Kreditur Jangka Panjang
Kreditur jangka panjang memerlukan analis tambahan atas
kemampuan perusahaan dalam menciptakan keuntungan dan arus kas di
masa datang, hal ini untuk memperkirakan sejauh mana perusahaan
mampu membayar bunga kupon secara periodik dan pokok pinjaman saat
jatuh tempo. Analisis laporan keuangan dari perusahaan yang akan
diberikan bantuan dana atau pinjaman merupakan salah satu alat penting
bagi kreditur jangka panjang, khususnya mengetahui proyeksi keuangan di
masa datang (Raharjaputra, 2009: 196). Contoh kreditur jangka panjang
adalah pemegang obligasi perusahaaan dan perusahaan pengelola dana
pensiun.
2. Kreditur Jangka Pendek
Kreditur jangka pendek adalah lembaga atau perusahaan yang
memberikan dana jangka pendek, seperti bank atau pemasok barang / jasa
kepada perusahaan dengan pembayaran nontunai atau secara kredit kepada
perusahaan yang dianggap memiliki kemampuan likuiditas atau mampu
membayar kewajibannya saat jatuh tempo (Raharjaputra, 2009: 195).
3. Pemegang Saham
Pemegang saham (stockholders) tertarik kepada perusahaan karena
likuiditas, solvabilitas, keuntungan masa depan, termasuk arus kas dalam
jangka panjang. Para pemegang saham adalah pemilik perusahaan yang
dipengaruhi langsung oleh keuntungan (profit) dan risiko (risk)
4. Manajemen Perusahaan
Manajemen adalah eksekutif perusahaan yang sangat mengenal sasaran
dan tujuan perusahaan dan bertanggung jawab untuk memaksimalkan nilai
perusahaan. Tanggung jawab lainnya adalah manajemen harus mampu
menjaga likuiditas perusahaan agar mampu memenuhi tuntutan para
kreditur dan pemegang saham (Raharjaputra, 2009: 196).
C. Kinerja perusahaan
Kinerja perusahaan merupakan suatu tingkat prestasi yang berhasil
dicapai oleh perusahaan. Pada umumnya kinerja sebuah perusahaan dikaitkan
dengan kondisi keuangan perusahaan. Baik atau buruknya kondisi keuangan
perusahaan tercermin dalam laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen.
Oleh sebab itu untuk menilai kinerja suatu perusahaan dibutuhkan informasi di
dalam laporan keuangan.
Kinerja perusahaan merupakan salah satu faktor penentu tinggi atau
rendahreturnyang akan diterima oleh pemegang saham. Semakin baik kinerja
sebuah perusahaan maka kemungkinan semakin tinggi pula return saham
perusahaan tersebut. Kinerja perusahaan yang baik biasanya ditunjukkan
dengan tingginya rasio yang mengukur tingkat profitabilitas perusahaan.
Berdasarkan kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan
keuangan PSAK paragaraf 17 informasi kinerja perusahaan, terutama
profitabilitas, diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya
kinerja adalah penting dalam hubungan ini. Informasi kinerja bermanfaat
utnuk memprediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari
sumber daya yang ada. Di samping itu, informasi tersebut juga berguna dalam
perumusan pertimbangan tentang efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan
tambahan sumber daya.
Pada umumnya kinerja perusahaan diukur dengan menggunakan rasio
keuangan. Melalui rasio keuangan data akuntansi yang terdapat dalam laporan
keuangan disajikan kembali dalam hubungan waktu. Rasio keuangan
membantu kita untuk mengidentifikasikan beberapa kelemahan dan kekuatan
keuangan perusahaan. Rasio tersebut memberikan dua cara bagaimana
membuat perbandingan dan data keuangan perusahaan yang berarti (Keown
dkk, 2008: 74):
1. Meneliti rasio antar waktu untuk meneliti arah pergerakannya.
2. Membandingkan rasio perusahaan dengan rasio perusahaan lainnya.
D. Rasio Keuangan
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan
dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai
hubungan yang relevan dan signifikan (berarti) (Harahap, 2007: 297). Melalui
rasio pemakai laporan keuangan dapat membandingkan dua perusahaan yang
berbeda atau suatu perusahaan dengan batas - batas waktu yang berbeda. Hal
ini dikarenakan dengan menggunakan rasio keuangan dapat mengurangi
terbatas dan untuk meniadakan pengaruh ukuran besarnya perusahaan (size
company) sehingga perbandingan antar perusahaan pada skala yang berbeda
dapat dilakukan (Kodrat dan Kurniawan, 2010: 231). Terdapat hal yang harus
diperhatikan ketika membandingkan rasio suatu perusahaan dengan
perusahaan yaitu berkaitan dengan sistem akuntansi yang digunakan oleh
perusahaan yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan ketika membandingkan
dua perusahaan dengan sistem akuntansi yang berbeda maka akan
memberikan hasil analisis yang bias.
Penggunaan analisis rasio keuangan ini sangat bervariasi dan
tergantung oleh pihak yang memerlukan (Sartono, 2008: 113). Pemegang
saham preferen dan obligasi akan lebih menitikberatkan pada aliran kas jangka
panjang. Pemilik (pemegang saham) dan calon investor akan melihat dari segi
profitabilitas dan risiko. Oleh karena perbedaan kepentingan tersebut maka
dikembangkan empat kelompok rasio keuangan (Sartono, 2008: 114):
1. Rasio likuiditas, yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban finansial yang berjangka pendek tepat pada
waktunya.
2. Rasio aktivitas, menunjukkan sejauh mana efisiensi perusahaan dalam
menggunakan aset untuk memperoleh penjualan.
3. Financial leverage ratio, menunjukkan kapasitas perusahaan untuk
4. Rasio profitabilitas, dapat mengukur seberapa besar kemampuan
perusahaan memperoleh laba baik dalam hubungannya dengan penjualan,
aset, maupun laba bagi modal sendiri.
Berdasarkan keempat rasio tersebut rasio profitabilitas merupakan
rasio yang berkaitan langsung dengan kinerja perusahaan. Return on Asset
(ROA) merupakan salah satu rasio keuangan yang dapat digunakan untuk
mengukur tingkat profitabilitas perusahaan. Dengan demikian bagi investor
jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan analisis profitabilitas ini
misalnya bagi pemegang saham akan melihat keuntungan yang benar - benar
akan diterima dalam bentuk deviden (Sartono, 2008: 122). ROA menunjukkan
kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan.
Semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pula kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba dari aktiva perusahaan.
Penggunaan ROA sebagai alat pengukur prestasi atau kinerja manajer
pusat investasi akan diperoleh hasil penilaian yang baik karena ROA
mempunyai beberapa kelebihan, yaitu (Munawir, 2006: 91):
1. ROA dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang menyeluruh, yang
sensitif terhadap hal yang mempengaruhi keadaan keuangan perusahaan.
2. ROA dapat memperbandingkan posisi perusahaan dengan rasio industri
sehingga dapat diketahui apakah perusahaan berada di bawah, sama atau
di atas rata - rata industri. Hal ini merupakan salah satu langkah dalam
3. ROA dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing - masing
produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
4. ROA dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan - tindakan yang
dilakukan oleh setiap divisinya dan pemanfaatan akuntansi divisinya.
5. Selain berguna untuk kepentingan kontrol, ROA juga berguna untuk
kepentingan perencanaan.
Namun metode ROA juga memiliki beberapa kelemahan yaitu (Munawir,
2006: 94):
1. ROA sebagai pengukur divisi sangat dipengaruhi oleh metode depresiasi
aktiva tetap.
2. ROA mengandung distorsi yang cukup besar terutama dalam kondisi
inflasi. ROA akan cenderung tinggi akibat penyesuaian (kenaikan) harga
jual, sementara itu beberapa komponen biaya masih dinilai dengan harga
distorsi.
ROA dihitung dengan membagi laba setelah pajak yang diperoleh perusahaan
dengan aktiva yang diinvestasikan untuk memperoleh laba tersebut. Secara
matematis ROA dapat dirumuskan sebagai berikut (Sartono, 2008: 123):
a TotalAktiv
EAT hPajak LabaSetela
ROA ( )
E. Tingkat Suku Bunga
Pada umumnya untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan
akan melakukan pinjaman kepada para pemilik modal (investor). Ketika
Besarnya biaya bunga bergantung pada tingkat suku bunga umum. Menurut
Fuadi (2009) tingkat suku bunga atau interest rate merupakan rasio
pengembalian sejumlah investasi sebagai bentuk imbalan yang diberikan
kepada investor.
Besarnya tingkat suku bunga di pasar modal ditentukan oleh hukum
permintaan dan penawaran. Gambar 2.1 menunjukkan bagaimana penawaran
dan permintaan berinteraksi untuk menentukan tingkat suku bunga dalam dua
pasar modal. Pasar A mencerminkan pasar dengan sekuritas berisiko rendah,
sedangkan pasar B mencerminkan sekuritas yang berisiko tinggi. Tingkat suku
bunga di pasar A adalah 10% dan tingkat bunga di pasar B adalah 12%.
Perusahaan dengan kemampuan kreditnya di pasar A akan memperoleh dana
dengan biaya sebesar 10%, dan pemilik modal yang ingin berinvestasi dengan
risiko rendah akan memperoleh return sebesar 10%. Perusahaan yang
melakukan kredit di pasar B akan mengeluarkan biaya yang lebih tinggi yaitu
sebesar 12%, dan para pemilik modal (investor) yang menyukai sekuritas
dengan risiko tinggi akan menerima return yang lebih tinggi yaitu sebesar
12%. Namun mereka juga mengakui bahwa kemungkinan jumlah sebenarnya
yang akan mereka peroleh dapat saja menjadi lebih rendah.
Jika permintaan akan dana menurun maka kurva permintaan D1 akan
bergeser ke kiri (turun) yang ditunjukkan oleh kurva permintaan D2.
Menurunnya permintaan dana menyebabkan turunnya keseimbangan pasar
tingkat suku bunga keangka 8%. Hal sebaliknya akan terjadi apabila
Pasar A: Sekuritas beresiko rendah Pasar B: Sekuritas beresiko tinggi
menurunkan jumlah pinjaman di dalam perekonomian.
Gambar 2.1 Tingkat Suku Bunga sebagai Fungsi dari Permintaan dan Penawaran untuk Pendanaan
Sumber: Brigham dan Joel. F. Houston, 2006: 169
Naik turunnya tingkat suku bunga akan berpengaruh baik pada kinerja
perusahaan maupun pada harga saham. Perubahan tingkat suku bunga dapat
mempengaruhi harga saham melalui tiga cara yaitu (Fuadi, 2009):
1. Perubahan suku bunga mempengaruhi kondisi perusahaan secara umum
dan profitabilitas perusahaan yakni deviden dan harga saham biasa.
2. Perubahan suku bunga mempengaruhi hubungan antara perolehan dari
obligasi dan perolehan deviden dari saham - saham dan oleh karena itu
terdapat daya tarik yang relatif antara saham dan obligasi.
3. Perubahan suku bunga mempengaruhi psikologi para investor sehubungan
dengan investasi kekayaan sehingga mempengaruhi harga saham.
Menurut Ang (1997; 19.1) apabila suku bunga naik maka akan
pinjaman memiliki dampak negatif terhadap setiap emiten, karena akan
meningkatkan beban bunga kredit dan menurunkan laba bersih (Samsul, 2006;
201). Menurunnya laba bersih akan mengakibatkan laba per saham juga
menurun dan akhirnya akan berakibat turunnya harga saham di pasar. Apabila
pemegang saham menjual saham mereka dalam keadaan harga saham rendah
maka pemegang saham akan menderita rugi (capital loss).
Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Negara (2001: 176). Beliau
berpendapat bahwa semakin tinggi tingkat bunga maka akan semakin besar
beban biaya operasional perusahaan. Keadaan ini akan mempengaruhi kinerja
dan juga cash flow perusahaan. Semakin tinggi biaya maka semakin rendah
profitabilitas perusahaan dan ini berimbas pada rendahnya deviden.
Sudiyatno (2010) mengungkapkan bahwa penurunan tingkat bunga
juga berpotensi untuk menurunkan harga bahan kebutuhan pokok untuk
industri, sehingga harga pokok produksi juga rendah. Bagi perusahaan, hal ini
sangat positif pengaruhnya karena perusahaan dapat menjual produknya
dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Akibatnya, penjualan
perusahaan meningkat, dan dengan demikian laba perusahaan juga naik.
Naiknya laba perusahaan dapat dipakai sebagai ukuran atau signal bahwa
kinerja perusahaan baik, sehingga investor tertarik untuk melakukan investasi.
F. Saham
Terdapat banyak cara yang dapat dilakukan oleh manajemen untuk
memperoleh tambahan modal bagi perusahaan. Salah satu cara tersebut adalah
merupakan salah satu jenis surat berharga yang diperjualbelikan di pasar
modal. Pasar modal merupakan suatu sarana di mana surat - surat berharga
jangka panjang diperjualbelikan. Fungsi utama pasar modal adalah untuk
menciptakan harga pasar dan tingkat keuntungan yang wajar secara kontinyu.
Pada dasarnya harga saham ditentukan oleh interaksi antara
permintaan dan penawaran seperti tampak dalam gambar 2.2. Harga mula
-mula adalah Po, untuk sejumlah saham Qo yang ditunjukkan oleh pertemuan
antara penawaran dan permintaan. Jika terjadi perubahan persepsi investor
secara menyeluruh, kurva permintaan akan bergeser ke atas atau ke bawah.
Kurva permintaan tidak akan mengalami perubahan apabila terjadi
peningkatan permintaan. Kenaikan permintaan akan mengakibatkan harga
saham naik tetapi masih pada kurva yang sama (Sartono, 2008: 40).
Gambar 2.2 Penentuan Harga Pasar Saham Sumber: Sartono, 2008: 41
Berdasarkan gambar tersebut tampak bahwa pergeseran ke atas kurva
permintaan mengakibatkan harga saham meningkat dan permintaan saham
juga semakin besar. Pergeseran semacam itu bisa terjadi karena tingkat
Pasar modal yang kompetitif tercipta karena adanya kekuatan permintaan dan
penawaran secara kontinyu sehingga harga pasar saham menyesuaikan secara
cepat dengan setiap perubahan informasi. Tidak ada investor yang secara
individu mampu mempengaruhi harga pasar saham, sehingga investor tidak
dapat memperoleh keuntungan secara konsisten (Sartono, 2008: 41).
G. ReturnSaham
Menurut Hartono (2008: 195) return merupakan hasil yang diperoleh
dari investasi. Berdasarkan pengertian tersebut return saham dapat
didefinisikan sebagai hasil yang akan diperoleh pemegang saham atas
investasi saham yang dilakukan. Return saham terdiri dari yield dan capital
gain (loss). Sehingga rumus untuk menghitung return saham dalam bentuk
persamaan adalah:
Return = Capital Gain (Loss) + Yield
1. Capital Gain(Loss)
Capital gain atau capital loss merupakan selisih dari harga
investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu (Hartono, 2008:
196):
Capital Gain (Loss) =
Apabila ketika menjual saham harga saham lebih tinggi daripada harga
pembelian saham maka pemegang saham akan menerima capital gain.
Apabila ketika menjual saham harga saham lebih rendah daripada harga
pembelian saham maka pemegang saham akan menderitacapital loss.
2. Deviden
Di dalam saham, yield adalah persentase deviden terhadap harga
saham periode sebelumnya. Dengan demikian, return saham dapat juga
dinyatakan sebagai berikut:
lembarnya, makayieldadalah sebesar Dt/Pt-1danreturndapat dinyatakan:
Return saham
Keterangan:
Dt = deviden per lembar saham yang dibagikan pada periode sekarang
Pt = harga per lembar saham pada periode sekarang
Pt-1 = harga per lembar saham pada periode yang lalu
Deviden merupakan pembayaran tunai yang diberikan kepada
pemegang saham yang berasal dari rekening laba ditahan perusahaan.
Keputusan apakah pemegang saham akan menerima deviden atau tidak
ditentukan ketika Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Apabila
perusahaan memilih membagikan deviden, maka akan mengurangi laba
ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana internal. Apabila
sebaliknya perusahaan memilih untuk tidak membagikan deviden maka
akan menambah sumber dana internal perusahaan.
Modigliani-Miller (MM) berpendapat bahwa apabila perusahaan
membagikan deviden maka hal ini akan diimbangi dengan penurunan
harga saham perusahaan. Menurut MM pengaruh pembayaran deviden
terhadap kemakmuran pemegang saham akan diimbangi dengan jumlah
yang sama dengan cara pembelanjaan atau pemenuhan dana yang lain.
Dalam kondisi keputusan yang given, maka apabila perusahaan
membagikan deviden kepada pemegang saham, perusahaan harus
mengeluarkan saham baru sebagai pengganti sejumlah pembayaran
deviden tersebut. Dengan demikian kenaikan pendapatan dari pembayaran
deviden akan diimbangi dengan penurunan harga saham sebagai akibat
penjualan saham baru (Sartono, 2008: 282). MM membuktikan
pendapatnya secara matematis dengan berbagai asumsi (Sartono, 2008:
282):
1. Pasar modal yang sempurna di mana semua investor bersikap rasional.
2. Tidak ada pajak perseorangan dan pajak penghasilan perusahaan.
3. Tidak ada biaya emisi atauflotation costdan biaya transaksi.
4. Kebijakan deviden tidak berpengaruh terhadap biaya modal sendiri
perusahaan.
5. Informasi tersedia untuk setiap individu terutama yang menyangkut
tentang kesempatan investasi.
H. Tingkat Suku Bunga, Kinerja Perusahaan, danReturnSaham
Seorang pemegang saham akan menerimareturnketika dia melakukan
dapat mempengaruhi besar kecilnya return yang akan diterima oleh
shareholders. Faktor - faktor tersebut dapat berasal dari faktor eksternal
maupun internal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar
perusahaan, dalam hal ini adalah kondisi ekonomi makro. Faktor internal
adalah faktor yang berasal dari dalam perusahaan, dalam hal ini adalah kinerja
perusahaan.
Di dalam penelitian ini kinerja perusahaan diposisikan sebagai variabel
yang memediasi tingkat suku bunga denganreturn saham. Terdapat beberapa
teori yang mendukung hal ini. Menurut Samsul (2006: 201) faktor makro
mempengaruhi kinerja perusahaan dan perubahan kinerja perusahaan secara
fundamental mempengaruhi harga saham di pasar. Menurut Sudiyatno (2010)
faktor ekonomi makro yang paling penting adalah tingkat bunga. Hal ini
dikarenakan ketidakstabilan tingkat bunga dapat mempengaruhi biaya operasi
perusahaan secara keseluruhan. Hubungan antara tingkat suku bunga, kinerja
perusahaan, danreturnsaham digambarkan pada gambar 2.3 berikut.
Gambar 2.3 Hubungan Tingkat Suku Bunga, Kinerja Perusahaan, dan
ReturnSaham
Negara (2001: 176) dan Sudiyatno (2010) memberikan penjelasan
yang lebih spesifik mengenai hubungan tingkat suku bunga, kinerja
perusahaan, danreturn saham. Pada intinya mereka berdua sependapat bahwa Kinerja Perusahaan
(ROA)
ReturnSaham Tingkat Suku
besarnya tingkat suku bunga dapat mempengaruhi kinerja perusahaan dan
kinerja perusahaan berpengaruh terhadap return yang akan diperoleh
pemegang saham. Apabila tingkat suku bunga rendah maka harga pokok
produksi juga akan rendah sehingga penjualan dapat meningkat.
Meningkatnya penjualan otomatis akan menyebabkan meningkatnya laba.
Meningkatnya laba dapat menjadi sinyal bahwa kinerja perusahaan dalam
kondisi yang baik. Ketika laba perusahaan meningkat maka terdapat
kemungkinan perusahaan akan membagikan deviden dan harga saham
perusahaan juga akan meningkat. Apabila harga saham meningkat maka
kemungkinan pemegang saham akan memperolehcapital gain.
Pada penelitian ini kinerja perusahaan diproksi dengan Return on
Assets (ROA). Menurut Sudiyatno (2010) ROA masih dianggap sebagai
indikator kinerja perusahaan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan
indikator lainnya. Dalam hal ini yang dimaksud sebagai indikator lainnya
adalah EVA (Economic Value Added), ROE (Return on Equity), Residual
Income, dan MVA (Market Value Added).
ROA merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan analis untuk
menilai baik atau tidaknya kinerja perusahaan. Baik atau tidaknya kinerja
perusahaan akan mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
pemasukan bagi perusahaan (laba). Hal ini juga akan berimplikasi pada
kemampuan perusahaan dalam meningkatkan kesejahteraan pemegang saham
Berdasarkan penjelasan - penjelasan di atas terdapat kemungkinan
adanya pengaruh berjenjang antara tingkat suku bunga, kinerja perusahaan,
danreturnsaham. Oleh karena itu hipotesis yang diturunkan dalam penelitian
ini adalah:
H1 : Kinerja perusahaan memediasi pengaruh tingkat suku bunga terhadap
27 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan studi empiris terhadap perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Studi empiris merupakan studi yang
bertujuan untuk memperoleh informasi suatu obyek tertentu dalam kurun
waktu tertentu.
B. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di BEI. Sampel
penelitian dipilih menggunakan metode purposive sampling, yaitu sampel
dipilih menggunakan kriteria yang telah ditentukan. Adapun kriteria
perusahaan yang dijadikan sampel adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan yang bergerak di industri manufaktur.
2. Aktif memperdagangkan sahamnya di BEI selama periode 2005 - 2011.
3. Menerbitkan laporan keuangan secara lengkap berturut - turut dari periode
2006 - 2011.
4. Membagikan deviden berturut - turut dari periode 2006 - 2010.
5. Masa berakhir tahun fiskal perusahaan adalah bulan Desember.
C. Data dan Teknik Pengumpulan Data
1. Data Penelitian
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :
a. Data mengenai keuangan perusahaan berturut - turut dari periode 2006
b. Data mengenai harga penutupan saham perusahaan (closing price)
berturut - turut dari periode 2005 - 2010.
c. Data mengenai deviden yang dibagikan perusahaan berturut - turut dari
periode 2006 - 2010.
d. Data tingkat suku bunga BI berturut - turut dari periode 2006 - 2010.
2. Teknik Pengumpulan Data
Sumber dari data yang digunakan merupakan sumber data sekunder.
Sumber data tersebut adalah:
a. Publikasi perbankan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) atau
Badan Pusat Statistik (BPS).
b. Publikasi - publikasi perusahaan yang relevan dengan penelitian, yaitu
laporan tahunan (annual report) perusahaan dan ICMD.
Data diperoleh melalui pojok BEI Universitas Sanata Dharma dan dari
situs internet BPS, BI, dan BEI.
D. Variabel Penelitian
1. Variabel Tingkat Suku Bunga
Dalam penelitian ini variabel tingkat suku bunga diposisikan sebagai
variabel independen. Berdasarkan teori investasi tingkat bunga adalah
penggerak investasi, artinya para pelaku pasar memandang tingkat bunga
adalah yang paling penting, karena tingkat bunga dapat menggambarkan
pendapatan sekaligus biaya (Sudiyatno, 2010). Kestabilan tingkat bunga
dapat mempengaruhi biaya operasional perusahaan secara keseluruhan
suku bunga BI (SBI). SBI merupakan acuan dari tingkat suku bunga
umum baik tingkat suku bunga deposito maupun tingkat suku bunga kredit
(Sudiyatno, 2010). Informasi mengenai besarnya tingkat suku bunga dari
tahun 2005 - 2010 diperoleh dengan mengunduhnya di situs
www.bps.go.id.
2. Variabel Kinerja Perusahaan
Dalam penelitian ini variabel kinerja perusahaan diposisikan
sebagai variabel mediasi (intervening). Kinerja perusahaan merupakan
suatu tingkat pencapaian prestasi perusahaan yang diukur dalam bentuk
hasil kerja. Kinerja suatu perusahaan dapat tercermin dari laba yang
diperoleh perusahaan. Dalam penelitian ini kinerja perusahaan diproksi
oleh Return on Asset (ROA). ROA merupakan rasio keuangan yang
mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset - aset
yang mereka miliki. Secara matematis ROA dihitung dengan rumus:
Laba Setelah Pajak
Total Aktiva ROA =
3. VariabelReturnSaham
Dalam penelitian ini variabel return saham yang diposisikan
sebagai variabel dependen.Returnsaham merupakan tingkat pengembalian
yang diharapkan akan diperoleh pemegang saham setelah mereka
berinvestasi pada suatu perusahaan. Pemegang saham dapat menerima
return saham dalam dua bentuk yaitu dalam bentuk deviden dan capital
p2 p3
p1
mengukur return saham. Sehingga secara matematis return saham dapat
dirumuskan sebagai berikut:
Return Saham
Keterangan:
Dt = deviden per lembar saham yang dibagikan pada periode sekarang
Pt = harga per lembar saham pada periode sekarang
Pt-1 = harga per lembar saham pada periode yang lalu
E. Teknik Analisis Data
1. Analisis Jalur (Path Analysis)
Untuk menguji pengaruh variabel intervening digunakan metode
analisis jalur (Path Analysis). Analisis jalur merupakan perluasan dari
analisis regresi linier berganda, atau analisis jalur adalah penggunaan
analisis regresi untuk menaksir hubungan kausalitas antar variabel (model
casual) yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan teori. Analisis jalur
sendiri tidak dapat menentukan hubungan sebab akibat dan juga tidak
dapat digunakan sebagai substitusi bagi peneliti untuk melihat hubungan
kausalitas antar variabel (Ghozali, 2011; 249). Model analisis jalur pada
penelitian ini digambarkan pada gambar 3.1 berikut:
Gambar 3.1 Model Analisis Jalur
Berdasarkan gambar model jalur diajukan hubungan berdasarkan
teori bahwa X mempunyai pengaruh langsung terhadap Y (p1). Namun
demikian X juga mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap Y yaitu
dari X ke M (p2) baru kemudian ke Y (p3). Total pengaruh X ke Y sama
dengan pengaruh langsung X ke Y (p1) ditambah pengaruh tidak langsung
yaitu koefisienpathdari X ke M (p2) dikalikan dengan koefisien pathdari
M ke Y.
Pengaruh langsung X ke Y = p1
Pengaruh tidak langsung X ke M ke Y = p2 x p3
Total pengaruh = p1 + (p2 x p3)
Metode ini membutuhkan dua persamaan regresi yang menunjukkan
hubungan yang dihipotesiskan. Dalam hal ini dua persamaan regresi tanpa
konstanta tersebut adalah:
M = p2 X + e1 (1)
Y = p1 X + p3 M + e2 (2)
2. Pengujian Hipotesis Mediasi
Terdapat dua tahap yang harus dilakukan dalam pengujian mediasi. Tahap
pertama adalah menguji pengaruh langsung tingkat suku bunga terhadap
returnsaham. Apabila pengaruh yang ditimbulkan adalah signifikan maka
pengujian dapat dilanjutkan pada tahap ke dua. Tahap kedua adalah
menguji pengaruh tidak langsung tingkat bunga terhadap return saham
a. Uji t (uji parsial)
Uji t (uji parsial) digunakan untuk menguji pengaruh langsung
tingkat bunga terhadap return saham. Dasar pengambilan keputusan
uji t adalah dengan membandingkan t statistik dengan t tabel:
1) Jika t statistik < t tabel, maka pengaruh tingkat suku bunga
terhadapreturnsaham tidak signifikan.
2) Jika t statistik > t tabel, maka pengaruh tingkat suku bunga
terhadapreturnsaham signifikan.
Ketentuan tingkat keyakinan yang digunakan peneliti adalah 95%
dengan df (derajat kebebasan) = n-1-kserta uji dua sisi (two tail).
b. Uji Mediasi
Uji Mediasi digunakan untuk menguji hipotesis mediasi.
Pengujian ini dilakukan dengan cara menguji kekuatan pengaruh tidak
langsung variabel independen (tingkat suku bunga) ke variabel
dependen (returnsaham) lewat variabel mediasi (kinerja perusahaan).
Analisis jalur untuk pengujian mediasi dapat digambarkan dalam
sig Variabel setengah mediasi (Ha diterima)
Variabel mediasi penuh (Ha diterima)
Bukan variabel mediasi (Ha ditolak)
Bukan variabel mediasi (Ha ditolak)
Gambar 3.2 Model Pengujian Hipotesis Mediasi
Dasar pengambilan keputusan uji t adalah dengan
a. Jika t statistik < t tabel, maka pengaruh tidak signifikan.
b. Jika t statistik > t tabel, maka pengaruh signifikan.
Apabila Ho diterima atau Ha ditolak maka kesimpulan dari
hasil penelitian adalah sebagai berikut:
Ha : Kinerja perusahaan tidak memediasi pengaruh tingkat suku
bunga terhadapreturnsaham
Apabila Ho ditolak atau Ha diterima maka kesimpulan dari
hasil penelitian adalah sebagai berikut:
Ha : Kinerja perusahaan memediasi pengaruh tingkat suku bunga
terhadapreturnsaham
Ketentuan tingkat keyakinan yang digunakan peneliti adalah 95%
35 BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini menggunakan sampel
perusahaan manufaktur yang aktif memperdagangkan sahamnya di BEI.
Sampel penelitian dipilih dari populasi berdasarkan metode purposive
sampling. Purposive sampling merupakan metode pemilihan sampel dimana
sampel dipilih menggunakan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh
peneliti. Jumlah perusahaan yang berhasil dipilih sebagai sampel penelitian
adalah 13 perusahaan manufaktur. Proses pemilihan sampel tersebut
dijelaskan sebagai berikut:
Tabel 4.1 Proses Pemilihan Sampel Penelitian
Kriteria Sampel Jumlah
1. Perusahaan yang aktif memperdagangkan sahamnya di BEI selama periode 2005 sampai dengan 2011
410
2. Perusahaan yang tidak bergerak di industri manufaktur (258) 3. Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangan
secara lengkap berturut - turut selama periode 2006 sampai dengan 2011
(23)
4. Perusahaan yang tidak membagikan deviden berturut -turut selama periode 2006 sampai dengan 2010
(116)
5. Perusahaan yang masa berakhir tahun fiskalnya tidak bulan Desember
(0)
Jumlah sampel akhir 13
Tabel 4.2 Daftar Perusahaan Sampel
Sumber: Data sekunder dari tahun 2006 - 2010, diolah
1. Kinerja Perusahaan Periode 2006 - 2010
Pada penelitian iniReturn on Assets (ROA) merupakan proksi dari
variabel kinerja perusahaan. Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa
rasio ROA dapat memberikan gambaran baik atau tidaknya kinerja
perusahaan pada suatu periode. ROA masing - masing perusahaan dihitung
dengan rumus laba setelah pajak dibagi dengan total aktiva. Pada tabel 4.3
tampak bahwa besarnya rasio ROA beberapa perusahaan sangat fluktuatif
dari tahun ke tahunnya kecuali perusahaan dengan kode INTP dan GGRM.
Rasio ROA INTP dan GGRM selalu mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun selama periode 2006 - 2010. Perusahaan yang memiliki rasio ROA
relatif lebih kecil setiap tahunnya adalah perusahaan dengan kode MTDL.
Perusahaan yang memiliki rasio ROA relatif lebih besar setiap tahunnya
adalah perusahaan dengan kode MERK. ROA perusahaan MLBI
mengalami peningkatan pesat dari tahun 2008 - 2010.
No Kode Nama Perusahaan
1 AKRA PT AKR Corporindo Tbk 2 MYOR PT Mayora Indah Tbk
3 INTP PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 4 BRAM PT Indo Kordsa Tbk
5 CLPI PT. Colorpak Indonesia Tbk 6 FAST PT Fastfood Indonesia Tbk 7 IKBI PT Sumi Indo Kabel Tbk 8 GGRM PT Gudang Garam Tbk 9 MERK PT Merck Tbk
10 MTDL PT Metrodata Electronics Tbk 11 TURI PT Tunas Ridean Tbk 12 UNTR PT United Tractors Tbk
Tabel 4.3 Hasil Perhitungan ROA Tahun 2006 - 2010
Kode Perusahaan ROA
2006 2007 2008 2009 2010
AKRA 0,0538 0,0546 0,0431 0,0454 0,0406 MYOR 0,0605 0,0750 0,0671 0,1146 0,1100 INTP 0,0618 0,0976 0,1547 0,2069 0,2102 BRAM 0,0118 0,0251 0,0568 0,0533 0,0898 CLPI 0,0601 0,0595 0,0772 0,1415 0,1018 FAST 0,1426 0,1622 0,1592 0,1748 0,1618 IKBI 0,0746 0,1307 0,1541 0,0498 0,0083 GGRM 0,0464 0,0607 0,0781 0,1269 0,1349 MERK 0,3039 0,2689 0,264 0,3387 0,2735 MTDL 0,0283 0,0249 0,0233 0,0094 0,0328 TURI 0,0078 0,0567 0,0684 0,1753 0,1281 UNTR 0,0827 0,1148 0,1165 0,1564 0,1304 MLBI 0,1213 0,1350 0,2359 0,3424 0,3896 Sumber: Data sekunder dari tahun 2006 - 2010, diolah
2. Tingkat Suku Bunga (BIRate) Periode 2006 - 2010
Tingkat suku bunga yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tingkat suku bunga BI (BI rate). BI rate merupakan tingkat suku bunga
yang dijadikan acuan dari tingkat suku bunga umum baik tingkat suku
bunga deposito maupun tingkat suku bunga kredit. Berdasarkan data yang
diperoleh dari www.bps.go.id rata - rata tingkat suku bunga pada tahun
2005 adalah 12,75. Pada tahun 2006 dan 2007 suku bunga terus
mengalami penurunan dan mengalami peningkatan kembali pada tahun
2008. Pada tahun 2009 suku bunga kembali menurun dan tahun 2010 suku
bunga tetap stabil diangka 6,5. Tabel 4.4 menyajikan rata - rata suku
Tabel 4.4 Data Tingkat Suku Bunga (BIRate) Tahun 2006 - 2010
Sumber: Data sekunder dari tahun 2006 - 2010, diolah
3. ReturnSaham Periode 2006 - 2010
Return saham terdiri dari yield dan capital gain (loss). Tabel 4.5
menampilkan keadaan return saham masing - masing perusahaan sampel
dari tahun 2006 - 2010.
Tabel 4.5 Hasil PerhitunganReturnSaham Tahun 2006 - 2010
Kode Perusahaan
ReturnSaham
2006 2007 2008 2009 2010
AKRA 0,8851 -0,4866 -0,4630 0,6597 0,6218 MYOR 1,0183 0,1049 -0,3200 3,0351 1,4111 INTP 0,6338 0,4313 -0,4341 2,0109 0,1807 BRAM 1,0638 0,0058 -0,0195 -0,1250 0,7414 CLPI 1,4296 0,5561 0,0921 0,0242 -0,7754 FAST 0,5417 0,3709 0,2886 0,7042 0,8554 IKBI 0,9558 0,4451 -0,4783 2,4900 -0,2506 GGRM -0,0815 -0,1422 -0,4706 2,0353 2,2390 MERK 0,7284 0,3700 -0,2219 1,2912 0,3067 MTDL 0,1786 1,3375 -0,5989 0,2394 0,4598 TURI 0,0309 0,7659 -0,3613 1,3493 -0,6609 UNTR 0,8177 0,6962 -0,5670 2,6273 0,5632 MLBI 0,1528 0,0655 0,1727 2,6495 -0,7244 Sumber: Data sekunder dari tahun 2006 - 2010, diolah
Pada tahun 2007 secara rata - rata return saham perusahaan mengalami
penurunan apabila dibandingkan dengan tahun 2006. Apabila
diperhatikan secara seksama, penurunan tersebut sangat ekstrim
Penurunan nilai return saham ini disebabkan oleh beberapa faktor antara
lain menurunnya harga saham, tidak meningkatnya harga saham, atau
menurunnya jumlah deviden yang dibagikan oleh perusahaan.
Pada tahun 2008 rata - rata return saham perusahaan negatif. Hal
ini disebabkan pada tahun tersebut rata - rata harga saham perusahaan
sampel mengalami penurunan yang cukup signifikan. Turunnya harga
saham sampai menyebabkan beberapa pemegang saham mengalami
kerugian (capital loss).
Pada tahun 2009 hampir seluruh keadaan keuangan perusahaan
mengalami perbaikan. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai
return saham perusahaan - perusahaan tersebut. Hampir seluruh harga
saham perusahaan mengalami peningkatan yang cukup besar. Deviden
yang dibagikan perusahaan pada tahun 2009 juga lebih besar apabila
dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pada tahun 2010 seperti mengulang kejadian pada tahun 2007.
Rata - rata return saham perusahaan sampel mengalami penurunan. Seperti
yang terjadi pada tahun 2007, penurunan ini terjadi akibat beberapa fakor.
Beberapa faktor tersebut antara lain menurunnya harga saham, tidak
meningkatnya harga saham, atau menurunnya jumlah deviden yang
B. Analisis Data
1. Analisis Jalur (Path Analysis)
Analisis jalur digunakan untuk menguji adanya pengaruh variabel
intervening atau mediasi. Pada dasarnya analisis jalur merupakan
perluasan dari analisis regresi berganda. Terdapat dua bentuk model
persamaan regresi yang digunakan untuk menunjukkan pengaruh tingkat
suku bunga terhadap return saham ketika dimediasi oleh kinerja
perusahaan, yaitu:
KP = -0,24917TB +e ………(1)
RS = -0,334801TB + 0,032877KP +e ………(2)
Model analisis jalur pada penelitian ini digambarkan pada gambar 4.1.
Gambar 4.1 Hasil Analisis Jalur Sumber:OutputPLS 2012, diolah
Model analisis jalur secara matematis menjadi model regresistandardized
(tanpa konstanta) karena kita ingin membandingkan berbagai jalur
(Ghozali, 2011: 63). Besarnya koefisien pengaruh langsung dan tidak
langsung dapat dihitung sebagai berikut:
Pengaruh langsung TB ke RS = -0,334801 0.000
0.062
0.113
TB
KP
RS Tingkat Bunga
ROA
Return Saham
-0,334801
Pengaruh tidak langsung
TB ke KP ke RS = -0,24917 x 0,032877
Total pengaruh = -0,334801 + (-0,24917 x 0,032877)
= -0,334801 – 0,00819
= -0,342991
Keterangan:
TB : Tingkat Suku Bunga
KP : Kinerja Perusahaan
RS :ReturnSaham
Berdasarkan perhitungan di atas tampak bahwa ternyata koefisien
pengaruh tidak langsung lebih besar dari pada pengaruh langsung. Tinggi
atau rendahnya tingkat suku bunga akan berpengaruh pada kualitas kinerja
perusahaan dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap return saham
yang akan diperoleh para pemegang saham.
2. UjiGoodness-fit Model
Uji goodness-fit model dilakukan untuk mengevaluasi model
struktural. Uji ini dilakukan dengan melihat nilai R-square output PLS.
Berdasarkan tabel 4.6 nilai R2 variabel kinerja perusahaan adalah 0,062
yang dapat diinterpretasikan bahwa variabilitas konstruk kinerja
perusahaan yang dapat dijelaskan oleh variabilitas konstruk tingkat suku
bunga sebesar 6,2% sedangkan 93,8% dijelaskan oleh variabel lain di luar
yang diteliti. Nilai R2 variabel return saham adalah 0,113 yang dapat
dijelaskan oleh variabilitas konstruk tingkat suku bunga dan kinerja
perusahaan sebesar 11,3% sedangkan 88,7% dijelaskan oleh variabel lain
yang diteliti.
Tabel 4.6 Hasil R-Square
Nama Variabel RSquare
Kinerja Perusahaan 0,062085
ReturnSaham 0,113106
Suku Bunga
Sumber:OutputPLS 2012, diolah
3. Pengujian Hipotesis Mediasi
a. Pengujian Pengaruh Langsung
Tahap pertama sebelum pengujian mediasi adalah menguji
pengaruh langsung tingkat suku bunga terhadap return saham.
Pengaruh tersebut signifikan apabila nilai t statistik lebih besar dari
nilai t tabel. Penelitian ini merupakan uji dua sisi (two tail) dengan
tingkat kesalahan 5% sehingga nilai t tabel pada penelitian ini adalah
2,00.
Tabel 4.7 merupakan hasil dari pengujian tahap pertama. Pada
tabel path coefficient tampak bahwa nilai t statistik 3,231932 lebih
besar dari 2,00 (nilai t tabel). Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat
suku bunga berpengaruh signifikan terhadap return saham. Seperti
yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya apabila pengaruh tingkat
suku bunga terhadap return saham signifikan maka dapat dilakukan
Tabel 4.7 Hasil Uji Tahap Pertama
-0,334801 0,103592 3,231932 2,00 Signifikan
Sumber:OutputPLS 2012, diolah
b. Pengujian Pengaruh Tidak Langsung
Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah kinerja
perusahaan memediasi pengaruh tingkat suku bunga terhadap return
saham. Pengujian hipotesis menggunakan metode path analysis.
Hipotesis akan diterima apabila pengaruh Tingkat Suku Bunga (TB)
terhadap kinerja perusahaan (ROA) signifikan, dan pengaruh kinerja
perusahaan (ROA) terhadap return saham (RS) juga signifikan.
Pengaruh tersebut dikatakan signifikan apabila nilai t statistik lebih
besar dari nilai t tabel. Penelitian ini merupakan uji dua sisi (two tail)
dengan tingkat kesalahan 5% sehingga nilai t tabel pada penelitian ini
adalah 2,00.
Tabel 4.8 merupakan hasil dari pengujian hipotesis dengan
menggunakan metode path analysis. Pada pengujian efek mediasi,
output parameter uji signifikansi dilihat pada tabel Total Effect tidak
pada tabel koefisien, karena pada efek mediasi tidak hanya dilakukan
pengujian efek langsung variabel independen ke variabel dependen,
tetapi juga hubungan tidak langsung antara variabel independen
dengan variabel dependen (indirect effect) melalui variabel mediasi
statistik pengaruh TB terhadap ROA lebih besar dari 2,00, dan
pengaruh ROA terhadap return saham lebih kecil dari 2,00. Hal
tersebut menunjukkan bahwa pengaruh tingkat suku bunga terhadap
kinerja perusahaan signifikan, akan tetapi pengaruh kinerja perusahaan
terhadap return saham tidak signifikan. Berdasarkan hasil tersebut
dapat disimpulkan bahwa penelitian ini tidak berhasil menolak Ho.
Tabel 4.8 Hasil Uji Hipotesis Mediasi
Variable Name Original
0,032877 0,154673 0,21256 2,00 Tidak Signifikan
Suku Bunga -> Kinerja Perusahaan
-0,249169 0,119508 2,08495 2,00 Signifikan
Suku Bunga -> ReturnSaham
-0,334801 0,113344 2,95386 2,00 Signifikan
Sumber:OutputPLS 2012, diolah
C. Pembahasan Hasil Penelitian
a. Pengaruh Tingkat Suku Bunga terhadapReturnSaham
Hasil pengolahan data dan pengujian secara statistik menunjukkan
nilai koefisien regresi untuk variabel tingkat suku bunga adalah -0,334801
dengan nilai t statistik 3,231932. Nilai t statistik 3,231932 lebih besar
daripada nilai t tabel (2,00) yang menunjukkan bahwa pengaruh tingkat
suku bunga terhadapreturn saham signifikan. Temuan ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Purnomo (2003), Fuadi (2009), dan
Subalno (2009). Ketiga peneliti tersebut menyimpulkan bahwa tingkat
Tingkat suku bunga yang tinggi dapat menyebabkan biaya
operasional perusahaan meningkat. Keadaan ini akan berdampak pada
rendahnya laba yang akan diperoleh perusahaan dan return saham yang
akan diperoleh para pemegang saham. Bagi para pemilik modal keadaan
ini bukan merupakan waktu yang tepat untuk menanamkan saham mereka.
Oleh karena itu ketika tingkat suku bunga tinggi para pemilik modal
cenderung lebih memilih untuk menjual saham mereka.
Tingkat bunga rendah akan mendorong masyarakat untuk melirik
investasi saham. Hal ini logis karena tingkat suku bunga rendah akan
memicu ekspansi sektor riil akibatnya output meningkat demikian pula
pendapatan perusahaan. Peningkatan output dan pendapatan perusahaan
akan menaikan penerimaan dari modal yang ditanamkan atau deviden.
Oleh karena itu minat investor untuk menanamkan uangnya di pasar modal
sangat bergantung pada ekspektasi terhadap tingkat bunga (Negara, 2001:
176).
b. Pengaruh Berjenjang antara Tingkat Suku Bunga, Kinerja Perusahaan, dan
ReturnSaham
Hasil pengolahan data dan pengujian mediasi secara statistik pada tabel
4.8 menunjukkan beberapa hal, yaitu:
1) Pengaruh tingkat suku bunga terhadapreturnsaham signifikan dengan
nilai t statistik 2,95386.
2) Pengaruh tingkat suku bunga terhadap kinerja perusahaan signifikan