• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODOLOGI PENELITIAN

4.3. Revealed Comparatif Advantages (RCA)

Indeks RCA dihitung berdasarkan rumus total ekspor ikan tuna kode HS tertentu suatu negara pada tahun ke-t dibandingkan dengan total ekspor seluruh komoditas perkanan negara tersebut pada tahun yang sama, lalu langkah

terakhirnya adalah membandingkan nilai tersebut dengan nilai total ekspor ikan tuna kode HS tertentu di dunia yang dibandingkan dengan total ekspor perikanan dunia pada tahun tersebut.

Indeks RCA suatu komoditas dapat menggambarkan keunggulan komparatif komoditas di suatu negara di pasar internasional. Indeks RCA yang nilainya lebih dari satu, menunjukkan bahwa komoditas tuna dari negara tersebut memiliki keunggulan komparatif dan daya saing yang tinggi. Jika indeks RCA sama dengan 1 (satu), berarti daya saing komoditas tersebut sama dengan negara lain, sedangkan komoditas yang mempunyai indeks RCA kurang dari satu berarti komoditas tersebut tidak mempunyai daya saing di pasar internasional dibandingkan dengan negara-negara pesaing.

Nilai indeks RCA sepuluh negara pengekspor ikan tuna segar terbesar dapat dilihat pada Tabel 6 dan contoh perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 2. Tabel 6. Indeks RCA Ikan Tuna Segar Indonesia dan Negara Pesaing

NO. NEGARA INDEKS RCA

2006 2007 2008 2009 2010 1. Kroasia 48,46 38,55 50,25 72,85 44,66 2. Malta 40,79 68,36 66,50 109,90 115,35 3. Tunisia 23,85 21,99 35,55 48,08 19,96 4. Turki 17,01 13,05 32,45 38,79 16,03 5. Indonesia 4,56 4,61 5,13 8,18 5,65 6. Australia 3,85 3,89 4,02 11,41 4,88 7. Spanyol 3,78 4,20 4,71 3,40 2,68 8. Jepang 1,80 1,34 1,54 2,76 1,40 9. USA 0,59 0,62 0,52 0,75 0,63 10. Equador 0,02 0,04 0,09 0,23 0,13

Sumber : Uncomtrade, 2011, diolah

Pada tahun 2006 – 2010 tuna segar Indonesia Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang sangat baik dengan indeks RCA sebesar 4,56 – 8,18. Namun demikian, bila dibandingkan dengan negara pesaing seperti Kroasia,

Malta, Tunisia dan Turki daya saing produk ikan tuna segar Indonesia masih lebih rendah dan Indonesia hanya mampu menduduki posisi kelima. Daya saing ikan tuna segar Indonesia sangat tinggi khususnya untuk jenis ikan tuna bersirip kuning atau yellowfin tunas (HS 030232), tuna skipjack atau stripe-bellied bonito (HS 030233) dan ikan tuna lainnya seperti cakalang, sirip kuning, albacore (HS 030239). Indonesia tidak mengekspor ikan tuna segar dari jenis ikan tuna bermata besar, ikan tuna bersirip biru dan ikan tuna bersirip biru selatan.

Sementara itu, tuna segar Kroasia memiliki keunggulan komparatif yang lebih baik dibandingkan dengan negara pengekspor tuna segar lainnya dengan indeks RCA antara 38,55 – 72,85. Jenis tuna yang memiliki daya saing cukup tinggi di Kroasia adalah jenis ikan tuna bermata besar (HS 030235) dan untuk jenis ini ekspor dari negara pesaing sangat kecil. Pesaing Kroasia untuk jenis ini adalah Malta, Tunisia dan Turki. Tingginya daya saing tuna segar Kroasia juga disebabkan karena tuna merupakan komoditas utama perikanan yang diekspor dan nilai ekspor komoditas tuna segar mencapai 31% dari total ekspor perikanan Kroasia. Selain mengekspor tuna bermata besar, Kroasia juga mengekspor tuna untuk jenis tuna albacore atau tuna bersirip biru panjang (HS 030231) dan ikan tuna segar lainnya seperti cakalang (HS 030239).

Seperti halnya Kroasia, pada tahun 2006 – 2010, ikan tuna segar Malta, Tunisia dan Turki memiliki keunggulan komparatif yang sangat baik dengan indeks RCA berturut-turut berkisar antara 40,79 – 115,35 (Malta), 19,96 – 48,08 (Tunisia) dan 13,05 – 38,79 (Turki). Jenis tuna dari ketiga negara tersebut yang memiliki keunggulan komparatif sangat tinggi adalah untuk jenis ikan tuna bermata besar (030235).

Besar kecilnya indeks RCA suatu komoditas juga dipengauhi oleh besarnya nilai ekspor komoditas perikanan suatu negara. Semakin besar nilai ekspor komoditas perikanan suatu negara menyebabkan semakin kecilnya nilai indeks RCA suatu komoditas. Oleh karena itu, sangat penting untuk melihat pangsa pasar suatu negara untuk melihat besarnya daya saing negara tersebut kuat atau lemah. Dilihat dari pangsa pasar ikan tuna segar di pasar internasional, Indonesia menduduki peringkat I dengan pangsa pasar sebesar 16,86% dari total

ekspor dunia. Sementara itu, Malta, Spanyol, Kroasia dan Turki menduduki posisi ke 2, 3, 4, dn 5 dengan pangsa pasar berturut-turut 15,28%, 9,60%, 6,52% dan 6,25%.

Nilai indeks RCA sepuluh negara pengekspor Ikan Tuna Beku dapat dilihat pada Tabel 7 dan contoh perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 3.

Tabel 7. Indeks RCA Ikan Tuna Beku Indonesia dan Negara Pesaing

NO. NEGARA INDEKS RCA

2006 2007 2008 2009 2010 1. Kolombia 8,83 11,36 10,37 21,14 10,82 2. Rep. Korea 6,65 6,93 4,99 9,94 6,16 3. Philipina 2,68 4,40 3,78 5,88 4,32 4. Spanyol 2,02 2,17 2,28 4,11 2,19 5. Perancis 2,85 2,09 3,42 3,97 2,18 6. Jepang 1,47 2,30 1,85 2,28 1,52 7. Australia 1,18 1,23 1,14 3,28 1,27 8. Mexico 0,19 1,34 1,29 1,10 2,25 9. Indonesia 0,49 0,89 0,73 1,43 0,93 10. China 0,03 0,07 0,05 0,15 0,22

Sumber : Uncomtrade, 2011, diolah

Pada tahun 2005 – 2010, nilai indeks RCA untuk tuna beku Indonesia adalah sebesar 0,49 – 1,43, sehingga untuk produk tuna beku Indonesia belum mempunyai keungulan komparatif dibandingkan negara pengekspor lainnya, kecuali untuk tahun 2009. Pada tahun 2009, indeks RCA untuk tuna beku Indonesia mengalami peningkatan menjadi 1,43. Indonesia hanya menduduki peringkat ke-9 untuk indeks RCA di antara negara pengekspor. Pada tahun 2010, nilai ekspor tuna beku Indonesia masih lebih besar dibandingkan dengan Australia dan Kolumbia, yaitu mencapai 86.478 US$ atau hanya sebesar 3,11% dari total nilai ekspor produk perikanan Indonesia sebesar 2.778.800 US$.

Rendahnya indeks RCA ikan tuna beku Indonesia menujukkan bahwa Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif untuk tuna beku sehingga daya

saingnya rendah. Hal tersebut disebabkan karena rendahnya nilai ekspor ikan tuna beku karena untuk jenis-jenis ikan tuna tertentu seperti tuna bersirip kuning atau yellowfin tunas, tuna skipjack atau stripe-bellied bonito dan ikan tuna lainnya seperti cakalang, sirip kuning, albacore yang lebih banyak diekspor dalam bentuk segar.

Rendahnya daya saing tuna beku Indonesia juga dapat dilihat dari rendahnya penguasaan pangsa pasar di pasar internasional. Indonesia hanya menduduki posisi ke 8 dengan pangsa pasar sebesar 5,21% dari total ekspor ikan tuna beku dunia. Seperti halnya dengan ikan tuna segar, jenis ikan tuna beku Indonesia yang diekspor adalah dari jenis tuna bersirip kuning atau yellowfin tunas (HS 030232), tuna skipjack atau stripe-bellied bonito (HS 030233) dan ikan tuna lainnya seperti cakalang, sirip kuning, albacore (HS 030239). Indonesia tidak mengekspor ikan tuna beku dari jenis ikan tuna bermata besar, ikan tuna bersirip biru dan ikan tuna bersirip biru selatan.

Kolombia dan Philipina, memiliki daya saing yang cukup baik dengan indeks RCA pada tahun 2006 -2010 sebesar masing-masing antara 8,83 – 21,14 dan 2,68 – 5,88. Namun demikian, untuk pangsa pasar kedua negara tersebut hanya menduduki peringkat 7 dan 10 dengan pangsa pasar masing-masing sebesar 5,80% dan 3,78% dari total ekspor ikan tuna beku dunia. Hal ini disebabkan karena ekspor tuna beku Kolombia dan Philipina memberikan kontibusi yang besar terhadap total ekspor produk perikanan di kedua negara tersebut.

Pada tahun 2010, ekspor tuna beku Kolumbia sebesar 62.657 US$ atau sebesar 34,77% dari total nilai ekspor produk perikanan negara tersebut sebesar 180.193 US$. Sedangkan, nilai ekspor tuna beku Philipina sebesar 96.221 US$ atau sebesar 13,87% dari nilai total ekspor produk perikanan negara tersebut sebesar 693.602 US$.

Pada tahun 2006 – 2010, nilai indeks RCA ikan tuna beku untuk negara Spanyol 2,02 – 4,11 atau berada diurutan ke 4 di antara negara-negara pengekspor tuna beku. Namun demikian, Spanyol merupakan negara pengekspor ikan tuna beku nomor satu di dunia dengan pangsa pasar sebesar 14,18%. Nilai RCA yang lebih rendah dibandingkan dengan kolombia, Rep. Korea dan Philiphina

disebabkan karena nilai total ekspor produk perikanan Spanyol cukup besar. Nilai ekspor produk tuna beku Spanyol pada tahun 2010 sebesar 235.193 US$ atau sebesar 7,05 % dari nilai total ekspor produk perikanan negara tersebut sebesar 3.337.172 US$.

Ekspor ikan tuna beku Republik Korea menduduki peringkat ke 2 dilihat dari indeks RCA maupun dari pangsa pasarnya. Pada tahun 2010, pangsa pasar ikan tuna beku Korea mencapai 20,47% dari total ekspor dunia.

Dalam perdagangan internasional, ikan tuna olahan hanya dikategorikan dalam satu jenis yaitu ikan diolah atau diawetkan dari ikan tuna skipjack dan bonito dalam kemasan kedap udara atau kemasan lainnya dengan kode HS 160414. Nilai indeks RCA sepuluh negara pengekspor Ikan Tuna Olahan terbesar dapat dilihat pada Tabel 8 dan contoh perhitungan pada Lampiran 4.

Tabel 8. Indeks RCA Ikan Tuna Olahan Indonesia dan Negara Pesaing

NO. NEGARA INDEKS RCA

2006 2007 2008 2009 2010 1. Mauritius 16,64 17,20 14,25 24,75 16,02 2. El Salvador 16,28 18,56 16,47 26,07 17,94 3. Thailand 5,90 5,64 5,63 9,12 5,77 4. Philipina 4,94 5,60 7,64 14,30 7,34 5. Italia 3,15 3,44 3,03 5,82 3,21 6. Spanyol 2,66 2,50 2,44 4,19 2,66 7. Indonesia 1,52 1,59 1,25 2,68 1,48 8. Ekuador 0,54 0,55 0,53 0,70 0,39 9. Belanda 0,17 0,18 0,31 1,44 0,61 10. China 0,10 0,15 0,19 0,27 0,20

Sumber : Uncomtrade, 2011 diolah

Indeks RCA untuk tuna olahan Indonesia dari tahun 2006 – 2010 berkisar antara 1,25 – 2,68, sehingga dapat dikatakan bahwa ikan tuna olahan Indonesia memiliki daya saing yang cukup baik. Namun demikian, bila dibandingkan dengan negara-negara pesaing, keunggulan komparatif tuna olahan Indonesia masih jauh lebih rendah. Indonesia hanya menduduki peringkat ke 7 dilihat dari

indeks RCA tuna olahan. Dari sisi penguasaan pasar dan dilihat dari besarnya nilai ekspor tuna olahan, Indonesia menduduki peringkat ke 6 dengan pangsa pasar sebesar 4,63%. Meskipun Mauritius memiliki indeks RCA paling tinggi dibanding negara pengekspor lainnya, namun dari sisi penguasaan pasar Mauritius hanya mampu menduduki posisi ke 4. Nilai RCA yang tinggi disebabkan total nilai ekspor produk perikanan Mauritius sangat kecil atau dapat dikatakan bahwa ekspor produk perikanan Mauritius sebagian berasal dari tuna olahan. Nilai ekspor tuna olahan Mauritius sebesar 203 ribu US$ atau sebesar 74,76% dari total ekspor perikanan Mauritius sebesar 334 ribu US$.

Seperti halnya Mauritus, indeks RCA untuk tuna olahan El Salvador berkisar antara 16,28 – 26,07 sehingga dapat dikatakan bahwa tuna olahan El Salvador memiliki keunggulan comparatif yang sangat tinggi. Namun demikian, sebenarnya dari sisi penguasaan pasar El Salvador hanya mampu menduduki posisi ke 10 dengan pangsa pasar hanya sebesar 1,62. Tingginya indeks RCA tuna olahan El Salvador disebabkan oleh rendahnya total nilai ekspor perikanan negara tersebut, atau dapat dikatakan tuna olahan merupakan komoditas yang mempunyai sumbangan yang besar terhadap nilai ekspor perikanan El Salvador atau sebesar 81,47% dari total ekspor produk perikanan El Salvador.

Meskipun Indeks RCA tuna olahan Thailand lebih kecil dari Mauritius dan El Savador, namun dalam hal penguasaan pasar Thailand adalah merupakan negara pengekspor tuna olahan terkuat di dunia. Thailand mampu menguasai pasar dunia dengan pangsa pasar sebesar 46,75% . Strategi Thailand untuk menjadi penguasa nomor satu di dunia sangat bagus dan Thailand dengan prinsipnya sebagai kitchen of the world.

Pangsa pasar terbesar kedua setelah Thailand adalah Spanyol dengan pangsa pasar sebesar 10,01%, kemudian diikuti oleh Equador, Mauritius dan Philiphina dengan pangsa pasar masing masing 8,03%, 6,04 % dan 5,75%.

Rendahnya indeks RCA tuna olahan Indonesia dibandingkan dengan negara pengekspor ikan tuna olahan yang disebabkan oleh rendahnya nilai ekspor tuna olahan. Rend9ahnya nilai RCA Indonesia disebabkan karena sebagian tuna tersebut diekspor dalam bentuk segar dan beku. Jaminan bahan baku terrrhadap

industri pengolahan tuna, juga merupakan salah satu kendala ekspor tuna olahan. Berdasarkan penghitungan RCA tuna segar, tuna beku dan tuna olahan, ternyata daya saing tuna segar Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan dengan tuna beku dan tuna olahan. Hal ini disebabkan oleh besarnya nilai ekspor tuna segar dibandingkan dengan tuna beku dan olahan. Hal tersebut berarti Indonesia masih lebih banyak mengekspor tuna segar. Perbandingan RCA untuk tuna segar, beku dan olahan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Indeks RCA Tuna Segar, Tuna Beku dan Tuna Olahan Indonesia

NO. NEGARA INDEKS RCA

2006 2007 2008 2009 2010

1. Tuna Segar 4,56 4,61 5,13 8,18 5,65

2. Tuna Beku 0,49 0,89 0,73 1,43 0,93

3. Tuna Olahan 1,52 1,59 1,25 2,68 1,48

Sementara untuk produk tuna beku, meskipun masih memiliki indeks RCA lebih dari satu yang artinya Indonesia mempunyai daya komparatif yang cukup baik, namun dibanding negara-negara pesaing keunggulan komparatif tuna beku Indonesia masih jaug berada di bawah. Ketersedian dan keterjaminan bahan baku untuk pengolahan tuna juga menjadi salah satu kendala dalam peningkatan ekspor ikan tuna olahan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan daya saing tuna olahan Indonesia perlu dilakukan analisa terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing tuna olahan di pasar internasional dan dibandingkan dengan negara-negara pesaing.

Dokumen terkait