BAB III EKSISTENSI SUMATERA TIMUR
3.2 Revolusi Sosial di Sumatera Timur Maret 1946
Menurut Mochtar Lubis, revolusi itu seperti banjir, dan sekarang tidak seorang pun dapat mengendalikannya. Apapun yang kita lakukan, ia mengikuti jalannya sendiri, tanpa menghiraukan kita yang menciptakannya. Revolusi sosial adalah suatu revolusi untuk mengubah struktur masyarakat kolonial atau feodal kepada suatu susunan masyarakat atas dasar Undang-Undang Dasar 1945.
Pada tanggal 25 Agustus 1945, dr. Mansoer yang pada saat itu menjadi Ketua Shu Shangi Kai Sumatera Timur mengadakan sebuah pertemuan yang melibatkan raja-raja, sultan-sultan dan para pamongpraja yang terkemuka di kediamannya di sudut Jalan Raja / Jalan Amalium. Pertemuan ini diadakan untuk mengatur cara-cara dalam menyambut kedatangan Belanda kembali. Dalam pertemuan tersebut telah dibentuk comittee van ontvangat (panitia penyambutan kedatangan Belanda) yang diketuai oleh Sulthan Langkat dan dr. Mansoer sebagai wakil ketuanya. Selanjutnya, fakta-fakta yang tidak diumumkan secara resmi tersebut tersebar luas di masyarakat. Hal ini lah yang menjadi desas-desus dan akhirnya setelah semakin jauh dari dari tempat asal kejadian, maka semakin berbeda pula isinya.33
Sebenarnya, berita akan adanya suatu panitia untuk menyambut kedatangan Belanda yang dilakukan oleh bangsawan ini hanya sebatas isu. Alasan pertemuan yang diadakan di kediaman dr. Mansoer 25 Agustus 1945 sebenarnya untuk membicarakan masalah perihal mengenai kepentingan untuk mencegah tindakan
33 Biro Sejarah PRIMA, Medan Area Mengisi Proklamasi, Medan: Badan Musyawarah Pejuang Republik Indonesia, 1976, hal. 94-116.
balas dendam dan mengadukan “kolabultor – kolabulator” kepada Sekutu yang akan mendarat. Kelompok ini mengedarkan suatu pengumuman yang menyerukan kepada penduduk agar tetap tenang. Selain itu, sebuah panitia yang dipimpin oleh Sultan Langkat dan dr. Mansoer telah dibentuk. Panitia ini dibentuk guna menjelaskan kepada Sekutu mengapa setiap orang merasa perlu bekerja sama dengan Jepang.
Hal inilah yang menimbulkan kesan seolah-olah pihak kerajaan telah membentuk sebuah committee van ontvangst. Namun, pada kenyataannya pertemuan ini bukan semata diadakan untuk kepentingan bangsawan. Pertemuan tersebut mengundang mengundang kelompok–kelompok diluar bangsawan (tokoh pergerakan) itu sendiri tetapi yang hadir hanya diantaranya seperti Xarim M. S dan Mr. Joesoef. Namun, kepercayaan kepada adanya committee van ontvangst yang samar-samar tersebut menjadi tuduhan yang sering terdengar terhadap kerajaan.34
Awal Febuari 1946, diadakan sebuah pertemuan antara Gubernur Sumatera T. M. Hasan dan stafnya dengan para sultan, raja, dan sibayak di seluruh Sumatera Timur. Pertemuan ini untuk mempererat hubungan dan memperbincangkan posisi swapraja dalam pemerintahan Republik Indonesia. Dalam konferensi tersebut, T. M. Hasan berkata:
“………. Pemerintah Negara Rebublik Indonesia telah menegaskan politiknya terhadap daerah istimewa yaitu Negara Republik Indonesia mengakui daerah “zelfbestuur”.
Di jaman Belanda kedudukan raja-raja terikat sekali; Belanda yang melakukan pemerintahan, sedang raja-raja digunakan sebagai perkakas kaum penjajah dan kaum kapitalis.
Dalam zaman Indonesia merdeka ini, raja-raja mesti menjadi pemimpin bangsanya kembali. Pemerintahan otokrasi raja-raja yang ditanamkan oleh Belanda harus ditukar menjadi pemerintahan demokrasi dan raja-raja hendaknya bersiap memimpin rakyat. Raja-raja berhak menjadi pemimpin Negara Republik Indonesia!
Sultan-sultan dan raja-raja akan memerinta sesuai dengan kemauan dewan itu. Dewan tersebut membuat undang- undang, raja-raja mengerjakan keputusan dari Badan Perwakilan tersebut………. ”35
Dilain pihak, Sultan Kerajaan Negara Langkat selaku wakil kerajaan-kerajaan menerangkan:
“………. Telah menjadi kewajiban bagi kami sultan-sultan dan raja-raja untuk menyesuikan pemerintahan dalam daerah kerajaan-kerajaan Sumatera Timur dengan susunan demokrasi. Kami bersama-sama berdiri teguh dibelakang presiden dan pemerintah Republik Indonesia dan turut menegakkan serta memperkokoh Republik Indonesia, yaitu dengan pemerintahan kedaulaan rakyat. Pada hari ini kami akan memperbincangkan badan-badan Perwakilan Rakyat untuk Daerah Instimewa Sumatera Timur dan rancangan yang kami buat itu dalam sedikit waktu kami persembahkan pada pemerintah untuk diperiksa dan dipertimbangkan. Dengan perantara Gubernur kami sultan-sultan dan raja-raja memohon dengan hormat agar disampaikan janji setia kami kepada PYM Presiden dan Pemerintah Agung………”36
Sultan-sultan Sumatera Timur belum menyatakan kesediaannya meletakkan haknya sebagai swapraja, yang diakui oleh Undang-Undang Dasar dan Pemerintah Republik Indonesia. Namun, dalam pertemuan yang disebutkan diatas kalangan
35 A. H. Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid II, Bandung: DISJARAH- AD dan Angkasa Bandung, 1977, hal. 595.
sultan telah menyanggupi pelaksanaan kedaulatan rakyat dan siap melaksanakan sistem pemerintahan yang berdemokrasi. Namun, kecurigaan-kecurigaan tetap ada dari kaum repubiliken, ditambah lagi dengan terdengarnya committee van ontvangst.
Tanggal 1 Maret 1946, tidak ada tanda-tanda akan terjadi revolusi sosial. Pada saat itu, masih ada pertemuan makan di Hotel Wi Yap, di mana hadir antara lain Datuk Jamil, Tengku Busu dari Indrapura, Tengku Hafaz, Raja Kaliamsyah dari Simalungun, Raja Silima Huta, dan Mahadi. Selanjutnya, tepat tanggal 3 Maret terjadi revolusi sosial di Sumatera Timur.37
Pada pukul 00.00 tanggal 3 Maret beralih ke tanggal 4 Maret 1946 telah terjadi sebuah peristiwa yang dikenal dengan nama revolusi sosial di Sumatera Timur. Raja-raja atau sultan-sultan dikabarkan menjadi korban pembunuhan, demikian pula keluarga-keluarga mereka. Harta mereka pun ikut dirampas. Berikut komunike dr. M. Amir selaku Wakil Gubernur Sumatera:
1. Dengan tiba-tiba rakyat seluruh Sumatera Timur telah bertindak menegakkan keadilan dan membanteras kelaziman di daerah masing-masing, gerakan ini merupakan satu revolusi sosial yang maha hebat.
2. Tindakan rakyat untuk menyapu bersih segala musuh Negara Republik di dalam negeri ini saya terima dengan perasaan syukur, awal segala tindakan dilakukan dengan perhitungan laba-rugi dan dilakukan dengan dasar keprimanusiaan supaya korban revolusi sosial ini adalah sedikit mungkin.
37Ibid, hal. 598.
3. Kepada rakyat (warga negara) Sumatera Timur saya mohonkan supaya saudara- saudara tinggal aman dan tenteram dan meneruskan pekerjaan masing-masing supaya roda Republik berputar terus. Saya yakin bahwa segala orang yang tidak bersalah atau berdosa terhadap tanah air tidak akan mendapat gangguan apa-apa. 4. Kepada bangsa-bangsa asing yang menjadi tamu di negeri ini, saya harapkan
supaya jangan mencampuri revolusi sosial penduduk Sumatera Timur ini dan mengambil sikap netral terhadap gerakan itu dan loyal terhadap Negara Republik Indonesia.
5. Dalam keadaan yang genting ini perlu diambil tindakan yang luar biasa yaitu akan diubah susunan pemerintahan dan cara pemerintahan, dengan radikal, undang- undang yang selaras dengan keinginan (kedaulatan rakyat). Berhubung dengan hal itu pemerintah Sumatera Timur buat sementara waktu mulai hari ini dijalankan oleh sdr. M. Yunus Nasution (selama ini asisten residen) dengan bantuan dari badan perwakilan dari Komite Nasional Pusat dan dari voklsfront. Pemerintahan diluar Medan akan diatur umumnya menurut dasar keadilan rakyat. Saya telah angkat Mr. Luat Siregar jadi juru damai (pacificator) untuk seluruh Sumatera Timur dengan volmacht yang seluas-luasnya.
Saya harap Komite Nasional disegala tempat berusaha segiat-giatnya bekerja bersama-sama dengan saudara juru damai ini dan mengemukakan segala keinginan rakyat kepada beliau itu.
6. Sebelumnya pemerintahan baru di seluruh Sumatera Timur dibentuk maka buat sementara waktu pemerintahan dan penjagaan keamanan di luar medan diselenggarakan oleh Negara Republik Indonesia dan Persatuan Perjuangan.
Menurut Saragih Ras38, sekitar delapan hari sebelum revolusi sosial dimulai, ia telah menerima instruksi rahasia dari pimpinan Markas Agung Medan yang ketika itu datang untuk mengadakan pertemuan di Simalungun Club di Pematang Siantar. Pemimpin tersebut, Sarwono yang didampingi sekretaris Zainal Baharuddin, mengemukakan bahwa raja-raja dan kaki tangan kolonial sudah jelas akan menjadi penghalang kemerdekaan.39
Menurut NIP Xarim40 ada tiga motif mendasari instruksi dalam melakukan revolusi sosial di Sumatera Timur, yaitu:
1. Untuk melemahkan setiap dukungan yang potensial terhadap Belanda; 2. Untuk mengumpulkan harta kekayaan untuk dana (komunis);
3. Untuk menambah geloranya dukungan rakyat.41
Dibeberapa daerah di Sumatera Timur telah terjadi revolusi sosial yang ditunjukkan oleh rakyat kepada orang-orang atau golongan yang dianggap berkhianat
38 A. E. Saragih Ras merupakan putera perbapaan Tiga Ras di Pane. Hal ini mendapat pendidikan seadanya dan magang di Kantor Kerajaan Pane. Dia berhenti pada tahun 1923, masuk dunia dalam dunia kejahatan untuk beberapa tahun, kemudian menjadi supir taksi (1927-1930). Pada tahun 1931 menggantikan ayahnya sebagai kepala di kampungnya, tetapi rupanya Raja Pane menolaknya menurunkan diri, dan menjadi salah seorang pertama dari sedikit masuk Gerindo pada tahun 1938 dan F-kikan pada tahun 1942. Oleh kerenanya, wajar dia diserahkan Kenkokutai di Simalungun dan kemudian penerusnya, Barisan Harimau Liar. Pasukannya pada mulanya tidak begito menonjol, sampai pasukan ini mengumpulkan harta kekayaannya dalam “revolusi sosial”. Sesudah tahun 1949, Saragih Ras banyak berada dalam penjara Republik dan perkaranya tidak pernah dibawa ke sidang pengadilan. A. E. Saragih Ras merupakan salah seorang pemimpin revolusi sosial untuk bagian Kabupaten Simalungun sekaligus menjadi pemimpin Barisan Harimau Liar, Anthony Reid, op. cit, hal. 307.
39 Prabudi Said, Sejarah Harian Waspada Dan 50 Tahun Peristiwa Halaman Satu, Medan: Prakarsa Abadi Press, 1995, hal.110 a-110 b.
40 NIP Xarim (Nip Masydulhaq Xarim) merupakan salah satu pendiri TKR Sumatera Timur yang berfungsi sebagai Kepala Jawatan persenjataan, Komandan TRI “B”, Komandan Resimen Laskar Medan Area, Komandan Bataliyon B dan wakil Komandan Brigade Langkat Area, lihat Muhammad TWH, Perjuangan Rakyat Sumatera Dalam Gambar: YKP/Yayasan Pelestarian Fakta Perjuangan, 1991.
bagi Bangsa Indonesia maupun yang menghalangi pertumbuhan NRI. Awalnya kerusuhan tersebut terjadi di Sunggal (Deli), Kabanjahe (Karo), Tanjung Balai (Asahan), dan Pematang Siantar (Simalungun). Tidak sedikit bangsawan yang ditangkap, ditahan dan disingkirkan oleh voklsfront. Berikut gambaran revolusi sosial di berbagai daerah Sumatera Timur:
1. Langkat
Revolusi sosial melanda Langkat dimulai pada tanggal 4 Maret 1946 dengan korban sebanyak 37 orang bangsawan. Amir Hamzah, seorang pelopor Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 juga menjadi salah satu korban dalam revolusi sosial di Langkat. Tanggal 7 Maret 1946, Amir Hamzah ditangkap dan diangkut dengan sebuah mobil pick-up dari istana Binjai kemudian dibawa ke perkebunan Kuala Begumit. Selanjutnya, tanggal 20 Maret 1946, Amir Hamzah dipancung oleh Iyang Wijaya dengan alasan Amir Hamzah adalah seorang pengkhianat bangsa. Tanggal 6 Maret, kaum republiken menangkap bangsawan-bangsawan Langkat diantaranya: a. Tengku Pangeran Kamil
b. Tengku Ibrahim gelar Tengku Maharaja c. Datuk Jamil, Sekretaris Sultan
d. Tengku Bagi dari Bahorok dan lain-lain.
Pada tanggal 8 Maret 1946, pemuda volksfront mengepung istana Langkat. Selanjutnya, tanggal 9 Maret 1946, diputuskan aliran listrik istana. Hal ini membuat istana menjadi gelap sehingga pemuda volksfront bebas membuat gaduh.
2. Simalungun
Revolusi sosial di Simalungun dipimpin oleh Saragih Ras. Tidak berbeda dengan daerah lain, Revolusi sosial di Simalungun juga terjadi pembunuhan dan perampokan keluarga kesultanan. Raja Pane, Raja Raya, Tengku Halmet, Tengku Husin, Sutan Namora, Tengku Aziz, Tengku Husin, Tengku Nur, Wan Bachtin, Orang Kaya Syahbandar, O. K. Nur, O. K. Ahmad, O. K. Musa, Sohor, dan Tengku Anif.
3. Binjai
Di Binjai juga terjadi perkosaan terhadap seorang wanita Bangsawan tawanan istana yang dilakukan oleh Usman Lubis dan juga di vonis hukum mati, namun ia sempat melarikan diri ke Perkebunan Kuala Namu (Deli Serdang) dan disana ia dilindungi oleh pasukan Napindo. Di tahun 1949 ia mati juga karena sakit paru-paru.
Banyak korban peristiwa Revolusi Sosial 1946 di Binjai yang sebenarnya berjuang untuk mempertahankan Republik, tetapi mereka sewaktu mengundurkan diri pada Agresi Pertama. Adapun yang menjadi korban dalam revolusi sosial di Binjai, yaitu:
1. Tengku Don, Komandan Pesindo Kanan Binjai. 2. Tengku Kamil, Wakil Komandan.
3. Tengku Taufik.
5. Sekitar 40 orang lagi anggota pasukan dan rakyat ikut mengungsi ke Simalungun.
4. Kesultanan Asahan
Gerakan revolusi sosial di Asahan dipimpin oleh Harris Fadilah, Usman Manurung, Rakutta Sembiring dan lain-lain, telah melaksanakan pembunuhan massal (baik laki-laki dan perempuan) dari kalangan bangsawan dan tokoh-tokoh Melayu sehingga mendekati korban 400 orang. Ketua KNI Asahan, Abdullah Eteng sempat ditahan, bahkan wakil NRI di Asahan, T. Moesa ikut dibunuh.
Daerah Asahan terutama di Kota Tanjung Balai merupakan daerah yang terkena revolusi sosial 1946 paling dahsyat. Keadaan Kota Tanjung Balai pada saat itu sangat mencekam. Sasaran kaum pemuda adalah T. Moesa. T. Moesa beserta isterinya disergap pada tanggal 3 Maret 1946. Dikediaman T. Moesa, setelah beliau diamankan, volksfront dijadikan markas dan sebagai tempat pengumuman nama- nama kaum bangsawan yang akan dibunuh.
Raja Maimunah (seorang guru Sekolah Rakyat) menjahit bendera Belanda dilokasi lain dan setelah terjadinya pembunuhan para bangsawan, meletakkan bendera tersebut dirumah T. Moesa dan berteriak-teriak kepada masyarakat ramai bahwa dia menemukan bendera Belanda dirumah T. Moesa. Hal tersebut semakin membuat rakyat marah kepada kaum bangsawan dan menimbulkan opini bahwa kaum bangsawan dan menimbulkan opini bahwa kaum bangsawan pro Belanda.
Esok harinya tanggal 4 Maret 1946 semua Aristrokat Melayu yang pria dikota Tanjung Balai ditangkap dan dibunuh. Beberapa hari kemudian sudah ditemukan 140 mayat dikota tersebut beberapa penghulu dan pegawai didikan Belanda serta seluruh kelas “Tengku”. Anak laki-laki usia 16 tahun keatas dibunuh.
Setelah didata baru ditemukan sekitar 71 orang dari 140 orang (versi Anthony Reid, Australia) yang terbunuh di pihak keluarga sultan, belum termasuk dari rakyat biasa. Belakangan ini baru diketahui bahwa para korban dibunuh ke Mesjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai oleh para sanak saudara pada tanggal 11 & 12 Mei 2002. Dalam revolusi sosial di Asahan, tiga orang putera Tengku Mohammad Adil meninggal, diantaranya: Tengku Moesa, Tengku Bahari, Tengku Nazar.42
Sebelum peristiwa revolusi sosial ini terjadi, Kesultanan Deli telah memberitahu keluarga Asahan agar segera mengasingkan diri ke Kota Medan karena berita bahwa akan ada semacam grakan revolusi. Tetapi pihak Asahan tidak menanggapi peringatan tersebut karena situasi di Kota Tanjung Balai biasa-biasa saja.
dr. Mansoer dan T. M. Noer selamat dari revolusi sosial dikarenakan mereka tidak berada di Kota Tanjung Balai pada waktu revolusi sosial tersebut. Seandainya mereka ada disana, mereka akan dijadikan target pembunuhan. Setelah mendengar ada gerakan revolusi sosial secara serentak di Sumatera Timur, dr. Mansoer melalui seorang kurir (orang India) memerintahkan kepada sanak saudara yang selamat agar
42 Tengku Moesa, Tengku Bahari, Tengku Nazar merupakan saudara-saudara dr. Mansoer yang meninggal dalam revolusi sosial.
segera mengungsi ke Kota Medan dan meninggalkan Kota Tanjung Balai pada tahun 1947.43
5. Labuhan Batu
Revolusi sosial di Labuhan Batu dipimpin oleh oknum-oknum dari Pesindo dan PKI. Wakil pemerintah NRI untuk Labuhan Batu, Tengku Hasnan dibunuh bersama Sekretaris Komite Nasional Indonesia (KNI). Seluruh raja-raja Kualah, Panai, Bilah, dan Kota Pinang dibunuh di dekat titi Gunting Saga di Rantau Prapat dibunuh juga Raden Sukarman dan seorang pembantunya. Di Kualah, raja dan puteranya Tengku Bedarul Kamal, Tengku Harun, dan Tengku Sulung Yahya dibunuh. Di Bilah, pembantaian dilaksanakan atas perintah Wiryono dari PKI (kepala kantor pos) dan Bahrum Nahar. Sultan Bilah dan putera-puteranya Tengku Harun dan menantunya Tengku Sri Muda juga dibunuh.
Di Kota Pinang pun terjadi hal yang sama. Raja beserta putera-puteranya Tengku Abdul Hamid, Tengku Besar, Tengku Maun dan Tengku Monel juga dibunuh. Pada tanggal 10 Maret ditangkap lagi putera Sultan Bilah dan Tengku Murad. Semua korban dibunuh secara tragis.44
Berhubung dengan revolusi sosial yang terjadi di Sumatera Timur, Komandan Divisi TRI telah mengeluarkan maklumat sebagai berikut:
43Bustamam , T. Ferry, Bunga Rampai Kesultanan Asahan, Medan: Tanpa Penerbit, 2003, hal. 70-76.
44 Lukman Sinar, Konsep Sejarah Kabupaten Daerah Tingkat II Deli Serdang, Medan: Pemerintah Daerah Tingkat II Deli Serdang 1986/1897, Tanpa tahun terbit, hal. 279.
Kita Komandan Dipisi Tentara Republik Indonesia daerah Sumatera Timur mempermaklumkan:
1. Mulai pada hari Selasa tanggal 5 Maret 1946, terhitung dari mulai pukul 12 tengah hari (Sumatera), Pemerintahan Raja dari Negara Republik Indonesia dalam daerah Sumatera Timur, diluar (terkecuali) Kota Medan, dipegang oleh Tentara Republik Indonesia Divisi Sumatera Timur.
2. Diminta kepada segenap lapisan rakyat dan penduduk, berlaku aman dan tentram dan bekerja seperti biasa.45
Hingga tanggal 6 Maret 1946, revolusi sosial di Sumatera Timur masih berlangsung. Wakil Pemerintah Mr. Luat Siregar dan M. Junus Nasution46 telah memulai perjalanan berkeliling untuk mengamankan dan menyusun badan-badan pemerintahan. Pada saat itu, diadakan pertemuan dengan anggota volksfront yang ada di Medan dengan pegawai-pegawai tinggi NRI, anggota-anggota Markas Dipisi TRI dan pimpinan pasukan-pasukan yang lain untuk melakukan koordinasi. Pihak Sekutu dan Jepang sudah diminta supaya mereka jangan mencampuri revolusi sosial di Sumatera Timur.
Sebelumnya, tanggal 5 Maret diadakan sebuah rapat antara volksfront dengan KNI dan wakil Kerajaan Langkat yang dihadiri oleh M. Junus Nasution. Dalam rapat tersebut diambil keputusan untuk menghapuskan daerah-daerah istimewa Langkat.
45 Osman Raliby, Documenta Historica, Jakarta: Bulan Bintang, 1953, hal. 268.
46 M. Junus Nasution merupakan anggota Komite Nasional Sumatera Timur sekaligus Residen Sumatera Timur.
Selanjutnya tanggal 7 Maret, beribu-ribu rakyat berkumpul di dekat Mesjid Raya Medan dan mendesak Komite Nasional wilayah Deli untuk menghapuskan wilayah istimewa Deli. Akhirnya, rapat yang dihadiri M. Junus Nasution tersebut berhasil menghapuskan wilayah istimewa Deli.
Tidak berbeda dengan yang terjadi di Langkat dan Deli. Tepat tanggal 8 Maret juga dilakukan penghapusan daerah istimewa Tanah Karo atas kehendak rakyat. Daerah istimewa Bilah dan Panai juga ikut dihapuskan dalam revolusi sosial di Sumatera Timur.47
3.3 Perkembangan Politik di Sumatera Timur Setelah Revolusi Sosial
Pada tanggal 31 Juli 1947, penduduk asli Sumatera Timur yang dipimpin oleh Djomat Purba mengadakan demonstrasi di Medan dan meminta melalui Dr. J. J. van de Velde agar daerah Sumatera Timur diakui sebagai suatu kesatuan ketatanegaraan sesuai dengan Perjanjian Linggarjati.48 Demonstrasi tersebut menghasilkan sebuah panitia Komite Daerah Istimewa Sumatera Timur (Komite DIST) yang diketuai oleh dr. Mansoer, Raja Kaliamsyah Sinaga, Djomat Purba, Ngerajai Sembiring Meliala, Tengku Bahar, Mr. Djaidin Purba, Raja Silimakuta, Madja Purba, Anak Raja Pane, dan Orang Kaya Ramli.
Selanjutnya, tanggal 2 Oktober 1947, Letnan Gubernur Jendral H. J. van Mook, tiba di Medan dan mengadakan pertemuan dengan Komite DIST Pertemuan
47 Ibid, hal. 270-271.
tersebut dihadiri oleh dr. Mansoer, Tan Wee Beng, Tan Bun Jin, Manusiwa, Djomat Purba, O. K. Ramli, F. Rotty, T. Hafas, Sayuti, Lalisang, T. Mr. Dzulkarnain, Datuk Hafiz Haberham, H. F. Sitompul, Abdul Wahab, Dr. Nainggolan, Raja Kaliamsyah Sinaga, F. L. Tobing, Mr. Djaidin Purba, G. Forch, Van Gelder, dan Mr. Tan Tjeng Bie.49
Dari pertemuan tersebut, diambil kesimpulan bahwa tidak dikehendaki dipulihkannya kembali pemerintahan swapraja atau kerajaan-kerajaan bumiputera di Sumatera Timur dan tercapai kata sepakat bahwa segera akan dibentuk status “Daerah Istimewa Sumatera Timur”. Selanjutnya, tanggal 8 Oktober 1947, dikeluarkan besluit
Letnan Gubernur Jenderal H. J. van Mook, yaitu staatssblad No. 217 tahun 1947 yang mengatakan bahwa DIST diubah menjadi Dewan Sementara Sumatera Timur yang akan merancang statuen (UUD). Hal ini berdasarkan surat besluit yang dikeluarkan oleh Letnan Gubernur Jenderal Dr. H. J. van Mook pada 8 Oktober 1947, yang berisi beberapa hal sebagai berikut:
1. Komite DIST akan bekerja erat dengan pemerintah, akan diubah menjadi Dewan Sumatera setelah ditambah dengan wakil-wakil dari golongan atau kepentingan yang belum cukup diwakili didalamnya.
2. Dewan ini mempunyai kewajiban istimewa dengan bekerjasama dengan Recomba
Sumatera Timur.
49Ibid, hal. 565-566.
3. Tentang kedudukan zelfbestuur akan diadakan keputusan lanjut setelah dengan jalan pemilihan yang teratur telah diperoleh suatu Persetujuan yang penuh dengan wakil-wakil rakyat.
4. Dewan ini selama menanti keputusaan dalam hal-hal yang tersebut diatas akan menjalankan kewajiban-kewajiban zelfbestuur dan Recomba secaralangsung akan bekerjasama dengan Dewan berkenaan dengan masalah-masalah yang mengenai dalam, antaralain penjaminan keamanan didalam daerah tersebut.
5. Untuk sementara alat-alat yang diperlukan untuk pekerjaan itu akan disediakan oleh pemerintah dan akan diperbuat perkiraannya kelak.
Pada 17 November 1947, anggota Dewan Sementara TM. Bahar duduk dalam delegasi Belanda. Dari tanggal 15-17 November 1947, Dewan Sementera Sumatera Timur mengadakan sidang untuk membicarakan beberapa hal, yaitu:
1. Statuen Sumatera Timur.
2. Aturan tentang susunan ketatanegaraan. 3. Pemilihan Ketua DIST.
4. Pembentukan suatu komisi untuk mempelajari soal pemilihan.
Pada tanggal 3 Desember 1947, Dewan Sementara Sumatera Timur megeluarkan sebuah mosi menyatakan persetujuan penuh atas tujuan Komite Indonesia Serikat. Dewan mendesak kepada Pemerintah Hindia Belanda di Jakarta, agar pembicaraan tentang aturan ketatanegaraan Sumatera Timur segera diadakan.