BAB II KAJIAN PUSTAKA
L. Reward dan Punishment dan Hasil Belajar Fiqih
Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh
pengetahuan atau hal baru yang dirasa belum diketahui. Suatu pembelajaran
akan menghasilkan hasil belajar yang optimal apabila proses pembelajarnya berjalan dengan efektif dan produktif. Proses pembelajaran yang efektif dan
produktif yaitu apabila pihak guru dan siswa mampu saling berinteraksi
dengan baik, sebab dengan adanya interaksi antara guru dan murid dapat
menguntungkan kedua belah pihak, terutama pada saat proses pembelajaran
dan pemahaman materi. Proses belajar dapat dikatakan efektif bila pesrta
didik aktif (intelektual, emosional, sosial) mengikuti kegiatan belajar, berani
mengemukakan pendapat, bersemangat, kritis dan kooperatif
(Arifin,2009:303). Selain itu guru harus memiliki kekreatifan dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran yang komunikatif, agar proses
pembelajaran tidak membosankan dan tidak hanya sekedar mentransfer ilmu
kepada siswa saja, melainkan melibatkan siswa untuk aktif atau terlibat
dalam kegiatan belajar mengajar tersebut. Selain itu perilaku positif dan
perilaku negatif yang diperlihatkan oleh guru-guru juga ikut menentukan
sebagian besar efektivitas diri mereka dalam proses belajar mengajar dan
pada akhirnya menentukan dampak yang mereka berikan pada hasil belajar
siswa (baik prestasi maupun tingkah laku) (Stronge, 2007:145).
Dengan demikian, siswa akan lebih mudah dalam memahami mata
termasuk bagi guru fiqih. Dalam proses pembelajaran tentu ada hal positif
yang diharapkan baik oleh guru, siswa ataupun wali murid, diantaranya ialah
hasil belajar yang optimal. Hasil belajar meliputi tiga aspek, diantaranya
yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Begitu juga dengan jenis atau
bentuk hasil belajar, bisa berupa nilai atau tingkah laku. Berkaitan dengan hal tersebut, guru memiliki wewenang untuk tidak sekedar mengajar namun juga
mendidik dan mengarahkan siswanya untuk menerapkan hasil belajarnya
dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam proses pembelajaran tentu ada kegagalan dan keberhasilannya.
Kegagalan belajar siswa tidak sepenuhnya menjadi kesalahan siswa itu
sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut, sebagai seorang guru selain digugu
dan ditiru, guru juga dituntut adanya pemahaman karakter terhadap peserta
didik untuk mempermudah guru dalam penilaian dan pengamatan baik
berupa angka atau bentuk respon. Hal tersebut berlaku untuk semua guru
mata pelajaran, termasuk guru mata pelajaran fiqih. Pelajaran agama
termasuk mata pelajaran fiqih cenderung dianggap mudah oleh sebagian
besar siswa. Akan tetapi banyak siswa yang meremehkan pelajaran ini dan
siswa cenderung bosan pada waktu pelajaran fiqih, terlebih guru mata
pelajaran yang masih menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran.
Untuk mengurangi kejenuhan atau sikap menganganggap mudah terhadap
mata pelajran tertentu, guru dituntut agar memiliki alternatif untuk
memancing atau menarik perhatian siswa agar lebih fokus lagi dalam
siswa dalam mnegikuti suatu mata pelajaran bisa lebih optimal.
Untuk mengoptimalkan proses dan hasil belajar, hendaknya seorang
guru berpijak pada hasil identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan
faktor-faktor pendukung keberhasilan (Arifin, 2009). Upaya optimalisasi
proses dan hasil belajar dapat dilakukan dengan merancang dan mengajukan berbagai alternatif solusi sesuai hasil identifikasi faktor-faktor penyebab
kegagalan dan pendukung keberhasulan. Upaya tersebut dapat berupa
perbaikan untuk menghilangkan kegagalan dan bisa juga berupa pemantapan
atau reinforcement (penguat) atas keberhasilan yang telah dicapai (Arifin, 2009). Dengan kata lain, yaitu dengan memberikan respon positif untuk hal
yang benar. Sebab dengan adanya suatu stimulus dan respon, diharapkan
siswa mampu lebih terbuka dalam kegiatan belajar mengajar atau adanya
perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik. Untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran yang komunikatif, guru harus memiliki beberapa strategi yang
bisa membuat siswa tidak jenuh dan dapat mengikuti pembelajaran dengan
baik/aktif, untuk meraih hasil belajar yang optimal. Salah satu diantaranya
yaitu dengan menerapkan strategi pembelajaran reward dan punishment.
Dalam proses pembelajaran dikenal dengan istilah reward dan
punishment. Yaitu suatu strategi pembelajaran yang menggunakan konsep pemberian hadiah (penghargaan) dan hukuman. Pemberian hadiah tidak
semata-mata memberikan sesuatu kepada siswa, namun atas dasar alasan dan
tujuan tertentu, misalnya karena siswa tersebut melakukan suatu perbuatan
dengan tujuan agar siswa mengulangi hal positif tersebut. Sebab dengan
adanya reward seseorang akan cenderung mengulangi perilaku positifnya. Sebab pada dasarnya setiap manusia diciptakan dengan sifat positif
masing-masing yang melekat dalam pribadinya (Turner, 2008:29). Ketika
guru menghadapi siswa yang berkelakuan kurang sesuai dengan aturan, jangan langsung diberi komentar negatif terlebih dahulu, sebab akan
berakibat pada kondisi psikis siswa tersebut, terlebih lagi kondisi psikis
antara satu siswa dengan siswa lainnya berbeda-beda. Ketika ditegur dengan
halus namun tidak menunjukkan perubahan, maka guru berhak mengambil
satu langkah tindakan lebih lanjt, dengan memberinya hukuman. Misalkan
dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran fiqih, selalu ada anak yang
telat masuk karena menganggap enteng guru dan pelajaran tersebut, dalam
hal ini siswa perlu ditegur. Namun ketika dengan teguran tetap saja tidak
berhasil, guru bisa menindak lanjuti dengan memberinya hukuman tidak
boleh masuk atau mengikuti pelajaran tersebut selama pembelajaran
berlangsung. Hal tersebutdengan tujuan agar siswa tersebut jera dengan
sikapnya yang seenaknya dan tidak mengulangi kesalahannya tersebut. Sebab
bukti menunjukkan, bahwa menberi hukuman atas perilaku siswa yang tak
pantas lebih efektif dari pada tidak menghukum (Psikologi Belajar,
2013:221).
Jadi melalui penelitian ini diharapkan dapat diketahui adanya
hubungan antara alat pendamping pembelajaran reward dan punishment
Fiqih merupakan salah satu pelajaran agama yang dibutuhkan sebagai acuan
mukalaf dalam kehidupan sehari-hari untuk memperbaiki atau
mempertahankan perilaku yang positif yang mana tidak lepas dari berbagai
BAB III
HASIL PENELITIAN