Menurut Soekadji (dalam Nursalim 2013 :157) prosedur Self-reward digunakan untuk memperkuat atau untuk meningkatkan rspons
yang diharapkan. Bila suatu stimulus(benda atau kejadian) dihadirkan sebagai akibat atau konsekuensi suatu perilaku dan bila karenanya perilaku tersebut dapat meningkat atau terpelihara, maka peristiwa tersebut disebut self-reward (pengukuhan). Seperti dalam prosedur lain,pengukuhan dapat menggunakan berbagai bentuk perangsang benda, makanan, simbolis verbal, aktivitas fisik maupun imajinasi. Perangsang yang terbaik ialah yang wajar dan bersifat intrinsik, seperti senyuman puas terhadap keberhasilan sendiri,perasaan puas,atau mempertegak diri dengan rasa kebanggaan.
Sedangkan menurut Heffernan dan Richads (dalam Cormier, 1985: 45), penghargaan diri adalah mampu menguji diri sendiri secara tersembunyi atau memberikan hal-hal yang positif kepada diri sendiri atas peningkatan yang dirasakan berhubungan dengan perubahan diri.
Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa penghargaan diri dapat diberikan setelah ada perubahan diri kearah yang positif dan adanya penghargaan diri memberikan pengaruh yang baik pada diri sendiri.
Menurut Soekadji (dalam Nursalim 2013 :157) menyatakan bahwa agar penerapan self reward yang efektif, perlu dipertimbangkan syarat-syarat sebagai berikut yaitu ; (1) menyajikan pengukuhan seketika, (2) memilih pengukuhan yang tepat, (3) memilih kualitas pengukuhan, (4) mengatur kondisi situasional, (5) menentukan kuantitas pengukuh, (6) mengatur jadwal pengukuh.
Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa Self-reward digunakan untuk memperkuat atau menambah respons yang diinginkan, Self-reward berfungsi mempercepat target tingkah laku.
Nursalim (2013 : 157) mengemukakan ada 4 komponen yang merupakan bagian integral dari prosedur self-reward yang efektif:
1. Pemilihan hadiah yang memadai/cocok: a. Hadiah bersifat mendidik
b. Gunakan hadiah yang terjangkau c. Gunakan beberapa hadiah
d. Gunakan berbagai macam jenis (verbal, material, mutakhir, potensial, dsb).
e. Tukar hadiah bila tidak cocok 2. Pengadaan hadiah
a. Konseli sendiri yang menentukan kelayakan respons yang ditargetkan.
b. Tentukan sendiri seberapa banyak yang akan dilakukan dalam hubungan dengan hadiah yang telah dipilih.
3. Pengaturan waktu self-reward
a. Hadiah harus diberikan sesudahnya,bukan sebeum tingkah laku.
b. Hadiah harus disegerakan.
c. Hadiah harus mengikuti perubahan,bukan janji-janji. 4. Rencana untuk mempertahankan pengubahan diri
a. Cari bantuan orang lain untuk sharing atau menyalurkan hadiah
b. Tinjauan data dengan konselor
Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa agar siswa dapat berperilaku disiplin diperlukan hadiah yang memiliki sifat mendidik dan mampu mendorong atau memotivasi siswa agar berperilaku disiplin terhadap tata tertib sekolah. Hadiah diberikan setelah siswa melakukan perubahan perilaku disiplin yang disepakati.
c. Pengertian Konseling Kelompok
Konseling kelompok merupakan suatu proses yang melibatkan konselor dalam hubungan dengan sejumlah konseli pada waktu yang sama, jumlahnya dapat bervariasi antara 8 sampai 12 orang. Konseling kelompok adalah suatu proses interpersonal yang dinamis yang menitikberatkan (memusatkan) pada kesadaran berpikir dan tingkah laku, melibatkan fungsi terapeutik, berorientasi pada kenyataan, adanya rasa saling mempercayai, ada pengertian, penerimaan dan bantuan.
Menurut Latipun (dalam Handoko, 2014: 28) bahwa faktor yang mendasar penyelenggaraan konseling kelompok adalah bahwa proses pem-belajaran dalam bentuk pengubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku termasuk dalam hal pemecahan masalah dapat terjadi melalui proses kelompok. Dalam suatu kelompok, anggotanya dapat memberi umpan balik
yang diperlukan untuk membantu mengatasi masalah anggota yang lain, dan anggota satu dengan lainnya saling memberi dan menerima.
Pendapat tersebut dapat diimaknai bahwa dalam konseling kelompok anggota kelompok saling memberi umpan balik yang diperlukan untuk membantu mengatasi masalah anggota yang lain sehingga memudahkan pemecahan masalah.
Menurut Mungin (2005: 33) menjelaskan bahwa ― kegiatan konseling kelompok merupakan hubungan antar pribadi yang menekan pada proses berpikir secara sadar, perasaan-perasaan, dan perilaku anggota kelompok untuk meningkatkan kesadaran diri akan pertumbuhan dan perkembangan individu yang sehat‖ .
Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa melalui konseling kelompok, individu menjadi sadar akan kelebihan dan kelemahannya, mengenali keterampilan, keahlian dan pengetahuan serta menghargai nilai dan tindakannya sesuai dengan tugas-tugas perkembangan.
Pelaksanaan konseling kelompok memerlukan dinamika kelompok untuk mencapai interaksi sosial yang intensif. Hal ini sesuai pendapat Prayitno (1985: 53) yang menyatakan bahwaperan dinamika kelompok dan suasana kelompok diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan keterampilan sosial pada umumnya, meningkatkan kemampuan pengendalian diri, tenggang rasa atau tepo sliro.
Dengan kelompok yang terdiri dari remaja yang mengalami masalah disiplin terhadap tata tertib sekolah menjadi media untuk sharing atau tukar pikiran antar anggota kelompok mengenai permasalahan yang mereka hadapi. Sehingga mereka mampu menyelesaikan permasalahan yang di-alaminya. Selain itu untuk membuat tiap anggota kelompok mampu menjadi mandiri dalam mengatur diri, maka diberikan pengelolaan diri (Linn & Hodge, 1982).
Beberapa rumusan para ahli tersebut dapat dimaknai bahwa pengertian konseling kelompok adalah suatu kegiatan konseling yang dilaksanakan dalam suasana kelompok melalui pengembangan pemahaman,
sikap, keyakinan dan perilaku konseli yang tepat melalui dinamika kelompok.
d. Tujuan dan Asas Layanan Konseling Kelompok
Kesuksesan layanan konseling kelompok sangat dipengaruhi oleh keberhasilan tujuan yang akan dicapai dalam layanan konseling kelompok yang diselenggarakan. Menurut Mungin (2005: 2—4), ―tujuan umum layanan bimbingan dan konseling kelompok adalah berkembangnya sosialisasi siswa, khususnya kemampuan komunikasi peserta layanan. Disamping itu juga dimaksudkan untuk mengentaskan masalah konseli dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Adapun tujuan khusus konseling kelompok pada dasarnya terletak pada pembahasan masalah pribadi individu peserta kegiatan layanan‖. Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa konseling kelompok mempunyai tujuan yang praktis dan dinamis dalam membantu mengembangkan potensi siswa untuk memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri, mengambil keputusan diri, merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab baik itu dibidang pribadi, sosial, belajar, karir secara mandiri untuk menjadi insan produktif, inovatif, mandiri, kreatif, dan efektif.
Salah satu strategi untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam konseling kelompok, adalah dengan memperhatikan asas-asas di dalamnya. Mungin (2005: 6—8) menjelaskan mengenai asas-asas konseling kelompok meliputi asas kerahasiaan, asas keterbukaan, asas kesukarelaan dan asas kenormatifan. Asas-asas tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Asas kerahasiaan
Asas kerahasiaan artinya anggota kelompok harus menyimpan dan merahasikan data, keterangan, informasi, masalah yang dibicarakan dalam konseling kelompok.
2) Asas keterbukaan
Asas keterbukaan artinya semua peserta bebas dan terbuka mengeluarkan pendapat, ide saran, dan perasaan yang dirasakan dan dipikirkan.
3) Asas kesukarelaan
Asas kesukarelaan artinya semua peserta dapat menampilkan diri secara spontan tanpa dipaksa oleh teman yang lain atau konselor atau pemimpin kelompok.
4) Asas kenormatifan
Asas kenormatifan artinya semua yang dibicarakan dan yang dilakukan dalam konseling kelompok tidak boleh bertentangan dengan norma-norma dan peraturan yang berlaku.
e. Tahap-tahap Kegiatan Konseling kelompok
Konseling kelompok dalam pelaksanaannya melalui beberapa tahap. Pelaksanaan penelitian konseling kelompok dengan teknik self-management untuk meningkatkan disiplin terhadap tata tertib sekolah , mengacu pada tahap-tahap konseling kelompok yang dikemukakan oleh Mungin (2005: 18) meliputi empat tahap yaitu pembentukan, peralihan, tahap kegiatan, tahap pengakhiran, evaluasi dan tindak lanjut. Tahap-tahap konseling kelompok tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Tahap Permulaaan/Pelibatan diri
Mungin (2005: 19) menjelaskan tahap permulaan merupakan tahap pengenalan dan penjajakan, para peserta diharapkan dapat membangun hubungan secara terbuka, mampu menyampaikan harapan, keinginan dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing anggota. Penampilan Konselor atau pemimpin kelompok pada tahap permulaan hendaknya benar-benar bisa meyakinkan anggota kelompok sebagai orang yang bisa dan bersedia membantu anggota kelompok mencapai tujuan yang diharapkan.
Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dalam tahap pembentukan menurut Mungin (2005: 18) :
a. Menerima secara terbuka dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan kesediaan anggota kelompok untuk melaksanakan kegiatan.
b. Berdoa secara bersama, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
c. Konselor menjelaskan pengertian konseling kelompok (disesuaikan dengan kegiatan apa yang direncanakan).
d. Menjelaskan tujuan bimbingan kelompok atau konseling kelompok.
e. Menjelaskan tata cara pelaksanaan konseling kelompok.
f. Menjelaskan asas-asas dalam konseling kelompok yaitu asas kerahasiaan, kesukarelaan, kegiatan, keterbukaan, kenormatifan.
g. Melaksanakan perkenalan dilanjutkan dengan permainan pengakraban.
Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa tahap permulaan merupakan tahap yang penting untuk menciptakan hubungan yang kondusif untuk pencapaian tujuan kelompok yang telah direncanakan.Tahap permulaan menuntut konselor mampu meyakinkan anggota kelompok untuk saling terbuka dalam mengungkapkan masalah yang dihadapi dan menumbuhkan dinamika kelompok untuk mencapai tujuan masingmasing anggota kelompok.
2) Tahap Peralihan atau Transisi
Menurut Mungin (2005: 21) tahap transisi adalah suatu tahap setelah proses pembentukan dan sebelum tahap kerja kelompok. Dalam konseling kelompok yang diperkirakan berakhir 6 –10 sesi, tahap transisi terjadi pada sesi kedua atau ketiga dan biasanya berlangsung satu sampai tiga pertemuan. Menurut Mungin (2005 : 24) tahap peralihan dapat dilaksanakan melalui langkah-langkah :
a. Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya.
b. Menawarkan sambil mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya (tahap ketiga). c. Mambahas suasana yang terjadi.
d. Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota
e. Kalau dipandang perlu, kembali ke beberapa aspek tahap pertama (tahap pembentukan).
Berdasarkan pendapat diatas dapat dimaknai bahwa tahap transisi merupakan perpindahan antara tahap pembentukan dengan tahap
kegiatan. Pada tahap transisi konselor harus mampu mendorong anggota kelompok secara sukarela membuka diri untuk mengikuti kegiatan kelompok. Penampilan konselor atau pemimpin kelompok yang menggambarkan sikap yang tulus, hormat, hangat dan empati akan sangat membantu mencairkan suasana menuju tahap kegiatan.
3) Tahap Kegiatan
Menurut Mungin (2005: 25) tahapan kegiatan merupakan tahap inti dari proses suatu kelompok dan merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Tahapan kegiatan selalu dianggap sebagai tahapan yang selalu produktif dalam perkembangan kelompok yang bersifat membangun (contructivenature) dan dengan pencapaian hasil yang baik (achievementofresults) selama tahapan kerja hubungan anggota kelompok lebih bebas dan lebih menyenangkan. Tahap kegiatan diwujudkan dengan kegiatan-kegiatan seperti berikut:
a. Setiap anggota kelompok mengemukakan masalah pribadi yang perlu mendapat bantuan kelompok untuk pengentasannya.
b. Kelompok memilih masalah mana yang hendak dibahas dan dientaskan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.
c. Konseli (anggota kelompok yang masalahnya dibahas) memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai masalah yang dialaminya.
d. Seluruh anggota kelompok aktif membahas masalah konseli melalui berbagai cara, seperti: bertanya, menjelaskan, mengkritisi, memberi contoh, mengemukakan pengalaman pribadi, menyarankan.
e. Konseli setiap kali diberi kesempatan untuk merespon tentang apa-apa yang ditampilkan oleh rekan-rekan sesama anggota kelompok.
f. Kegiatan selingan di isi dengan permainan yang bersifat humor dan edukatif.
Pendapat tersebut dimaknai bahwa tahap kegiatan merupakan tahap terpenting dalam kegiatan konseling kelompok dikarenakan anggota kelompok saling mengungkapkan masalah yang dihadapi dan melalui dinamika kelompok yang ada maka anggota kelompok saling memberikan saran penyelesaian masalah yang dibahas. Kegiatan tersebut adalah
kegiatan inti dalam peningkatan perilaku disiplin terhadap tata tertib sekolah. Masing-masing anggota saling mengungkapkan masalah disiplin yang dialami dan pemimpin kelompok membimbing anggota saling memberikan penyelesaian masalah melalui dinamika kelompok yang terjalin.
4) Tahap Pengakhiran
Menurut Mungin (2005: 27) tahap pengakhiran secara keseluruhan merupakan akhir dari serangkaian pertemuan kelompok. Keseluruhan pengalaman yang diperoleh anggota memerlukan perhatian khusus dari pimpinan kelompok, terutama ketika kelompok hendak dibubarkan. Pembubaran kelompok secara keseluruhan idealnya dilakukan setelah tujuan kelompok tercapai. Sebagai tahap penutup dari kegiatan konseling kelompok. Tugas konselor atau pemimpin kelompok dalam tahap ini adalah sebagai berikut:
a. Mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri.
b. Konselor atau pemimpin kelompok dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan hasil-hasil kegiatan.
c. Membahas kegiatan lanjutan. d. Mengemukakan pesan dan harapan e. Doa penutup
Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa tahap pengakhiran merupakan tahap akhir dalam konseling kelompok setelah tujuan kelompok telah tercapai. Tahap pengakhiran dilakukan melalui pembubaran kelompok dan membahas tindak lanjut layanan konseling kelompok jika masih diperlukan.
f. Kelebihan dan Kelemahan Konseling Kelompok
Winkel (2012: 594-595) menunjukkan beberapa kelebihan konseling kelompok yaitu terpenuhinya beberapa kebutuhan, konseli merasa lebih mudah membicarakan persolan mendesak yang dialami, dan memudahkan konselor dalam menjalankan peran sebagai pemimpin kelompok. Kelebihan konseling kelompok dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Terpenuhinya beberapa kebutuhan.
Kelebihan konseling kelompok adalah dapat memenuhi beberapa kebutuhan antara lain kebutuhan untuk menyesuaikan diri dapat diterima oleh teman sebaya, kebutuhan untuk bertukar pikiran dan perasaan, kebutuhan menemukan nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan; dan kebutuhan untuk menjadi lebih independen serta lebih mandiri. Selain itu konseli dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan dalam mengemukakan pendapat.
2. Konseli merasa lebih mudah membicarakan persolan mendesak yang dialami.
Kelebihan konseling kelompok antara lain adalah konseli merasa lebih mudah membicarakan persolan mendesak yang dialami. Suasana konseling kelompok membuat konseli merasa lebih mudah membicarakan persoalan mendesak yang dihadapi daripada dalam konseling individual, konseli lebih rela menerima sumbangan pikiran dari seorang rekan konseli atau dari konselor yang memimpin kelompok itu daripada dalam konseling individual, konseli lebih bersedia membuka isi hatinya bila menyaksikan bahwa banyak rekannya tidak malu-malu untuk berbicara secara jujur dan terbuka, lebih terbuka terhadap tuntutan mengatur tingkah lakunya supaya terbina hubungan sosial yang lebih baik, dan merasa lebih bergembira dalam hidup karena menghayati suasana kebersamaan dan persatuan yang lebih memuaskan bagi mereka daripada komunikasi dengan anggota keluarganya sendiri.
3. Memudahkan konselor dalam menjalankan peran sebagai pemimpin kelompok.
Bagi konselor manfaat dari konseling kelompok antara lain terdapat kesempatan untuk mengobservasi perilaku para konseli yang sedang berinteraksi satu sama lain, membuktikan diri sebagai orang yang bersedia melibatkan diri dengan ikut berbicara sebagai partisipan dalam diskusi dan bukan sebagai orang yang ingin berkuasa, meyakinkan para
konseli akan kegunaan layanan konseling dapat melayani lebih banyak orang daripada melalui konseling secara individual.
Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa konseling kelompok memiliki keuntungan diantaranya adalah mampu memberikan rasa percaya dan perasaan nyaman kepada konseli untuk mengungkapkan masalah displin terhadap tata tertib sekolah yang dihadapi secara lebih jujur dan terbuka dibandingkan dalam kegiatan konseling individual, konseli belajar untuk memiliki sikap empati dan saling menghargai dalam proses penyelesaian masalah disiplin terhadap tata tertib sekolah melalui dinamika kelompok dan konseli mengembangkan kemampuan hubungan interpersonal melalui kegiatan kelompok. Terciptanya dinamika kelompok memudahkan anggota kelompok saling bertukar pendapat dan pikiran mengenai masalah disiplin terhadap tata tertib sekolah dan saling memotivasi agar anggota kelompok dapat berperilaku disiplin terhadap tata tertib sekolah sehingga tujuan kegiatan konseling kelompok dengan teknik self-management dapat tercapai.
Winkel (2012: 593-595) menunjukkan beberapa kelemahan konseling kelompok, yaitu suasana dalam kelompok boleh jadi dirasakan oleh anggota kelompok sebagai paksaan moral untuk membuka isi hatinya seperti banyak teman yang lain, persoalan pribadi anggota kelompok kurang mendapatkan perhatian, konselor sulit memberikan perhatian penuh pada masing-masing konseli dalam kelompok, siswa mengalami kesulitan untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya bila hadir seseorang yang dipandang sebagai pemegang otoritas. Kelemahan konseling kelompok tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Suasana dalam kelompok boleh jadi dirasakan oleh anggota kelompok sebagai paksaan moral untuk membuka isi hatinya seperti banyak teman yang lain.
Kelemahan konseling kelompok yaitu suasana dalam kelompok boleh jadi dirasakan oleh sebagian anggota kelompok sebagai paksaan moral untuk membuka isi hatinya seperti banyak teman yang lain;
padahal konseli belum siap atau belum bersedia untuk terbuka dan jujur khususnya jika hal yang akan dikatakan terasa memalukan bagi diri konseli.
2. Persoalan pribadi anggota kelompok kurang mendapatkan perhatian. Kelemahan konseling kelompok yaitu adanya persoalan pribadi anggota kelompok mungkin kurang mendapat perhatian dan tanggapan sebagaimana mestinya, karena perhatian kelompok terfokus pada suatu masalah umum atau karena perhatian kelompok terpusat pada persoalan pribadi konseli yang lain dan akibatnya ada konseli yang tidak merasa puas dengan kegiatan konseling kelompok.
3. Konselor sulit memberikan perhatian penuh pada masing-masing konseli dalam kelompok.
Kelemahan konseling kelompok bagi konselor adalah lebih sulit memberikan perhatian penuh pada masing-masing konseli dalam kelompok, karena perhatiannya mau tak mau terbagi atas beberapa anggota kelompok yang menuntut diberi porsi perhatian yang wajar. 4. Siswa mengalami kesulitan untuk mengungkapkan perasaan dan
pikirannya bila hadir seseorang yang dipandang sebagai pemegang otoritas.
Kelemahan konseling kelompok adalah terdapat konseli yang selalu mengalami kesulitan untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara terbuka (self-assertiveness) bila hadir seseorang yang secara spontan dipandang sebagai pemegang otoritas (authority figure).
Pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa konseling kelompok memiliki kelemahan diantaranya adalah tidak semua masalah konseli bisa diselesaikan sesuai dengan keinginan sehingga dapat menimbulkan perasaan kurang puas pada diri konseli, jika pengungkapan masalah tidak berdasarkan kesadaran sendiri maka akan timbul perasaan terpaksa pada diri konseli dan kesulitan bagi konselor untuk membagi perhatian pada seluruh konseli.
Berdasarkan kedua pendapat mengenai kelebihan dan kelemahan konseling kelompok dalam mengatasi masalah yang dialami konseli tersebut, penelitian mengenai konseling kelompok dengan teknik self-management untuk meningkatkan disiplin terhadap tata tertib sekolah memandang konseling kelompok merupakan pendekatan yang efektif ungtuk mengentaskan masalah konseli yang memiliki perilaku tidak disipin terhadap tata tertib sekolah. Peningkatan perilaku tidak disiplin menjadi perilaku disiplin terhadap tata tertib sekolah dapat dilakukan dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang terjadi dalam suasana konseling kelompok. Anggota kelompok akan saling mengungkapkan masalah disiplin yang dialami dan saling memberikan saran pemecahan masalah sehingga terbentuk dinamika kelompok yang baik,berkembangkan keterampilan hubungan interpersonal dan kemampuan pemecahan masalah.
3. Konseling Kelompok dengan Teknik Self Management untuk