• Tidak ada hasil yang ditemukan

Secara bahasa, riba bermakna tambahan, tumbuh, atau membesar. Definisi riba yang banyak digunakan dalam literatur ekonomi syariah adalah definisi yang dirumuskan oleh imam Sarakhsi dalam Mabsut juz XII, hlm. 109 sebagai berikut.

“Riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya padanan (iwad) yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut.”

Riba adalah bentuk transaksi yang dilarang dalam Islam dan bersinggungan langsung dengan praktik perbankan konvensional. Pada akhir tahun 2003, MUI secara resmi menfatwakan haramnya bunga bank konvensional. Para ahli rakyu (ijtihad) dari kalangan Syiah berpendapat bahwa alasan riba diharamkan oleh Allah Swt. dan Nabi Muhammad saw. adalah agar orang tidak berhenti berbuat kebajikan. Hal ini karena ketika diperkenankan untuk mengambil bunga atas pinjaman, seseorang tidak berbuat makruf lagi atas transaksi pinjam-meminjam dan sejenisnya, padahal qard bertujuan menjalin hubungan yang erat dan kebajikan antarmanusia (Ja’far Ash-Shadiq dari kalangan Syiah).

Larangan riba dalam sejarah Islam dilakukan secara bertahap. Pola ini juga terjadi pada fase pelarangan khamar (minuman yang memabukkan) yang juga bertahap. Adanya tahapan ini memberikan makna bahwa perubahan kepada sesuatu yang baik tidak bisa diharapkan terjadi dengan serta-merta. Untuk itu dituntut kesabaran dan ketepatan strategi dalam melakukan perubahan. Fase pertama pelarangan riba dimulai dengan turunnya firman Allah Swt. dalam Q.S. Ar- Rum ayat 39 dengan terjemahan sebagai berikut.

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (Q.S. Ar-Rum: 39)

Ayat ini dinamakan dengan ayat Makkiyah karena diturunkan Allah Swt. ketika Rasulullah saw. masih di Mekah. Melalui ayat ini, Allah membandingkan riba dengan zakat dan menyatakan bahwa harta yang dibayarkan untuk riba tidak memiliki manfaat di sisi Allah Swt., sementara harta yang dibayarkan untuk zakat memiliki manfaat yang berlipat. Penekanan ayat ini lebih pada menggugah pemahaman dan kesadaran kognitif manusia tentang tidak bergunanya riba di sisi Allah Swt.

Fase kedua dan berikutnya terjadi setelah Rasulullah hijrah ke Madinah. Fase kedua ditandai ketika Allah Swt. mengabarkan kepada umat Islam melalui Alquran larangan riba yang diberlakukan pada umat terdahulu, yaitu kaum Yahudi melalui Q.S. An-Nisa ayat 160–161 dengan terjemahan sebagai berikut.

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”

Halawani (2015) menyatakan bahwa terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama, apakah pada saat itu Riba sudah dinyatakan dilarang atau belum. Satu pendapat menyatakan bahwa ayat tersebut tidak hanya menceritakan tentang larangan riba pada kaum Yahudi, melainkan juga pemberlakuan riba pada umat Islam. Adapun sebagian lagi menyatakan bahwa ayat itu hanya mengisahkan hukum larangan riba yang pernah diberlakukan pada kaum Yahudi.

Fase ketiga adalah ketika diturunkannya Q.S. Ali-Imran ayat 130 yang melarang orang yang beriman memakan riba yang berlipat.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Ali- Imran: 130)

Fase ini dianggap sebagai fase mulai diharamkannya riba pada umat Islam. Akan tetapi, pengharaman riba pada fase ini baru bersifat sebagian, yaitu pada riba yang berlipat.

Fase keempat adalah fase di mana riba diharamkan secara keseluruhan tanpa membedakan besar tambahan yang diberlakukan dalam riba tersebut. Hal ini tertuang pada Q.S. Al-Baqarah ayat 275–276 dengan terjemahan sebagai berikut.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa yang datang kepadanya peringatan dari Allah. Lalu ia berhenti maka baginya adalah apa yang telah berlalu dan urusannya adalah kepada Allah dan barang siapa yang kembali lagi, maka mereka adalah penghuni neraka yang kekal di dalamnya.

Allah akan menghapus riba dan melipatgandakan sedekah dan Allah tidak suka kepada orang-orang kafir lagi pendosa.”

Dan Q.S. Al-Baqarah ayat 278–279 dengan terjemahan sebagai berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa-sisa riba (yang belum dipungut), jika kamu orang- orang yang beriman. Jika kamu tidak mengerjakan ( meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan rasul- Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu. Kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”

Pada Q.S. Al-Baqarah ayat 278–279 cukup jelas disebutkan bahwa larangan riba tidak memperhatikan besar kecilnya tambahan yang diberlakukan. Dengan demikian, baik yang berlipat maupun yang tidak berlipat juga diharamkan oleh Allah Swt.

Adapun sumber hukum yang diacu dalam menentukan kriteria riba adalah hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Samit yang terdapat dalam Abu Daud hadis 3343 dan dalam At Tirmidzi hadis 2819 dengan bunyi sebagai berikut.

“Emas dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung gandum dengan tepung gandum dalam ukuran yang sama, kurma dengan kurma dalam ukuran yang sama, garam dengan garam dalam ukuran yang sama. Jika seseorang memberi lebih atau meminta lebih, ia telah berhubungan dengan riba. Tetapi tidak diharamkan penjualan emas dengan perak dan perak dengan emas dalam berat yang tidak sama.

Pembayaran dilakukan pada saat itu juga dan janganlah menjual jika dibayar belakangan.

Dan tidak diharamkan menjual gandum dengan tepung gandum dan tepung gandum (dengan gandum) dalam ukuran yang berbeda, pembayaran dilakukan pada saat itu. Jika pembayaran dilakukan kemudian, janganlah menjualnya.”

Acuan lain yang dijadikan sebagai dasar membedakan riba dengan yang tidak riba adalah hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut.

“Jangan kamu bertransaksi satu dinar dengan dua dinar; satu dirham dengan dua dirham;

satu sha’ dengan dua sha’ karena aku khawatir akan terjadinya riba. Seorang bertanya:

Wahai Rasul, bagaimana jika seseorang menjual seekor kuda dengan beberapa ekor kuda dan seekor unta dengan beberapa ekor unta? Jawab Nabi saw.: Tidak mengapa, asal dilakukan dengan tangan ke tangan (langsung).” (HR.Muslim)

Dari kedua hadis Nabi tersebut, disimpulkan bahwa riba timbul dalam transaksi utang piutang dan transaksi jual beli barang ribawi. Riba dalam transaksi utang piutang terbagi atas dua kategori, yaitu riba qardh dan riba jahiliyyah. Riba qardh adalah kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berutang, sedang riba jahiliyyah adalah riba yang timbul karena peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan.

Adapun riba dalam transaksi jual beli terbagi dua, yaitu riba fadhl dan riba nasi’ah. Riba fadhl adalah riba yang timbul karena pertukaran antarbarang ribawi yang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda. Riba nasi’ah adalah riba yang timbul karena penangguhan penyerahan atau penerimaan barang yang dipertukarkan dengan jenis barang lainnya.

Berdasarkan hadis tersebut, juga disimpulkan bahwa hukum riba berlaku pada transaksi antarbarang ribawi dengan jenis yang sama. Barang ribawi dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu kelompok mata uang dan kelompok makanan pokok.

1. Kelompok mata uang dapat dibagi dalam beberapa jenis, yaitu jenis emas dan perak secara khusus, baik dalam bentuk mata uang maupun dalam bentuk lainnya. Contoh riba fadhl dalam hal ini adalah jika A yang sedang membutuhkan uang pecahan bersedia membeli 10 lembar uang Rp10.000 dengan membayar sebesar Rp102.000 kepada B. Kelebihan Rp2.000 untuk B dapat dikatakan sebagai riba fadhl yang dilarang sebagaimana dilarangnya transaksi seperti ini pada emas di zaman Rasulullah. Adapun contoh riba nasi’ah dalam mata uang adalah jual beli mata uang asing yang penyerahannya tidak dilakukan dalam waktu bersamaan. Sebagai contoh, A membeli 100 yen Jepang pada B yang mana A menerima uang Yen tersebut saat itu juga, sedangkan penyerahan uang rupiah dilakukan beberapa hari, Minggu, atau bulan kemudian. Transaksi ini juga dilarang karena adanya penundaan waktu bisa menyebabkan perbedaan harga pasar dalam jual beli mata uang, sehingga dapat mengakibatkan salah satu pihak menjadi diuntungkan dan pihak lain dirugikan.

2. Kelompok bahan makanan pokok seperti beras, gandum, dan jagung serta bahan makanan tambahan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Contoh riba fadhl pada kelompok bahan makanan pokok adalah peminjaman 10 kg beras oleh si A kepada si B, dengan persyaratan pengembalian lebih dari 10 kg kepada si B di kemudian hari. Adapun contoh riba nasi’ah pada bahan makanan pokok adalah penjualan 10 kg beras milik Y dengan 20 kg biji jagung milik Z. Riba nasi’ah dalam transaksi ini terjadi jika salah satu pihak telah menerima barang diinginkannya, sedang pihak lainnya belum menerima karena adanya penundaan waktu penyerahan. Adanya penundaan tersebut berpotensi dirugikannya salah satu pihak karena adanya perubahan nilai tukar barang.

Dalam dokumen Direktur Direktorat Perbankan Syariah (Halaman 66-69)

Dokumen terkait