• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktur Direktorat Perbankan Syariah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Direktur Direktorat Perbankan Syariah"

Copied!
388
0
0

Teks penuh

(1)

EDISI 2

UK 1.5 cm

(2)

Yaya, Rizal

Martawireja, Aji Erlangga Abdurahim, Ahim

Akuntansi Perbankan Syariah/Rizal Yaya, Aji Erlangga Martawireja, Ahim Abdurahim

—Jakarta: Salemba Empat, 2018—Cetakan Kelima 1 jil., 388 hlm., 19 × 26 cm

ISBN 978-979-061-460-4

1. Akuntansi 2. Akuntansi Perbankan Syariah

I. Judul II. Rizal Yaya, Aji Erlangga Martawireja, Ahim Abdurahim Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronis maupun mekanis, termasuk tidak terbatas pada memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penerbit.

UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA

1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yang meliputi penerjemahan dan pengadaptasian Ciptaan untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yang meliputi penerbitan, penggandaan dalam segala bentuknya, dan pendistribusian Ciptaan untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

3. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada poin kedua di atas yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer Edisi 2

Rizal Yaya, Aji Erlangga Martawireja, Ahim Abdurahim Manajer Penerbitan dan Produksi: Novietha Indra Sallama Supervisor Editor: Ema Sri Suharsi

Copy Editor: Rosidah

Tata Letak: Dedy Juni Asmara, Reza Kemal Wijoyo Desain Sampul: Deka Hasbiy

Hak Cipta © 2014 Penerbit Salemba Empat Jln. Raya Lenteng Agung No. 101

Jagakarsa, Jakarta Selatan 12610 Telp. : (021) 781 8616 Faks. : (021) 781 8486

Website : http://www.penerbitsalemba.com E-mail : [email protected]

UK 1.5 cm

000.0.00

(3)

Rizal Yaya, S.E., M.Sc., Ph.D., Ak., C.A., lulus S-1 dari program studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (FE UGM) tahun 1997, lulus S-2 di Program Master of Science in Accounting, International Islamic University Malaysia (IIUM) tahun 2003, dan memperoleh gelar Doktor di bidang Akuntansi dari University of Aberdeen, United Kingdom, pada tahun 2013. Saat ini, Beliau mengampu mata kuliah Akuntansi Bank Syariah dan Akuntansi Manajemen Sektor Publik.

Pernah menjadi dosen tamu di program studi S1 Manajemen Universitas Airlangga, program studi Akuntansi Universitas Islam Indonesia, dan program studi Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Beliau aktif menulis artikel di harian Republika dan berbagai jurnal ilmiah serta menjadi narasumber dalam beberapa seminar dan pelatihan tentang Akuntansi Perbankan Syariah. Beliau juga pernah tampil sebagai pembicara di 5 konferensi Internasional, 3 kali di Malaysia, dan 2 kali di Indonesia. Tulisannya tentang “The Emerging Issues on the Objectives and Characteristics of Islamic Accounting” telah dimuat di International Journal, Malaysian Accounting Review, edisi Juni 2005.

(4)

Aji Erlangga Martawireja, S.E., M.Si., Ak., lulus S-1 di program studi Akuntansi FE UGM tahun 2000. Lulus Magister Sains Pusat Studi Timur Tengah dan Islam—Ekonomi dan Keuangan Syariah, Pascasarjana, Universitas Indonesia tahun 2007. Saat ini, beliau menjabat sebagai Kepala Bagian—Bagian Laporan Eksternal dan Rekonsiliasi Kantor Pusat, Divisi Akuntansi PT Bank Syariah Mandiri. Beliau pernah menjabat sebagai Staf Auditor Kantor Akuntan Publik Prasetio, Utomo, & Co., Andersen tahun 1999, Senior Staff—Cost & Budgetary Controller, Capital Managers Asia Pte. Ltd. (Grup Bakrie), Jakarta tahun 2002–2003, Financial Controller, PT Global-Net Capital, Jakarta tahun 2003–2004, Kepala Seksi—Seksi Laporan Eksternal Kantor Pusat Divisi Operasi & Akuntansi tahun 2004–2006, Jakarta. Beliau juga pernah mengikuti pelatihan Islamic Banking & Finance diselenggarakan oleh Red Money Institute, Kuala Lumpur.

Dr. Ahim Abdurahim, S.E., M.Si., Ak., C.A., SAS., lahir di Kuningan, 26 November 1970. Telah menyelesaikan studi Diploma 3 dan S-1 di YKPN tahun 1993 dan 1995 serta Magister Sains UGM tahun 1999 dan S-3 di Universitas Brawijaya, Malang pada tahun 2016. Memperoleh gelar bersertifikat akuntansi syariah (SAS) pada tahun 2010. Tahun 1996 mengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan sejak itu mendalami dan mengajar mata kuliah ekonomi Islam.

Mulai tahun 2004, penulis mengajar akuntansi perbankan syariah hingga sekarang. Beliau juga telah mengikuti pelatihan akuntansi dan perbankan syariah, menjadi pengurus IAEI dan MES cabang Yogyakarta. Sebagai Direktur Dana Pensiun Muhamamdiyah dari tahun 2000–2006 dan 2006–2011, secara intens berinteraksi dengan para praktisi BPRS dan Bank Umum Syariah. Pernah menulis buku Dalil-dalil Naqli Seri Ekonomi Islam.

(5)

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas semua anugerah dan hidayah-Nya, sehingga dengan izin dan kasih sayang-Nya kita dapat terus berkarya dalam bidang keahlian kita masing-masing. Shalawat dan salam kita sampaikan bagi manusia paripurna Rasulullaah Muhammad saw., yang dengan kesabarannya telah mempertemukan hati kita dengan cahaya Illahi, yang kemudian memberikan semangat untuk selalu menebarkan kebaikan dan manfaat.

Saya menyambut baik sekaligus bangga atas diterbitkannya buku ini.

Buku ini menjadi salah satu pelita di tengah terbatasnya literatur keilmuan tentang operasional perbankan syariah, khususnya terkait akuntansi perbankan syariah yang mengiringi pesatnya perkembangan industri perbankan Syariah di Indonesia. Sdr. Rizal Yaya, Sdr. Aji Erlangga Martawireja, dan Sdr. Ahim Abdurahim merupakan sedikit dari ilmuwan yang menyadari keterbatasan tersebut, dan dengan kesadarannya telah memberikan sumbangsih nyata untuk umat dengan menerbitkan buku yang berjudul Akuntansi Perbankan Syariah:

Teori dan Praktik Kontemporer.

Buku ini mengulas akuntansi syariah secara lengkap, mulai dari sejarah perkembangan akuntansi syariah, pengembangan perbankan syariah, sistem operasional bank syariah, hingga cara perhitungan bagi hasil yang disertai ilustrasi transaksi riil. Hal ini menjadikan buku ini unik sekaligus menarik.

Begitu pula, muatan mengenai akuntansi syariah yang menjadi materi utama dalam buku ini telah disajikan secara komprehensif dengan mengacu pada

RAMZI A. ZUHDI

Direktur Direktorat Perbankan Syariah

(6)

PSAK terakhir maupun acuan akuntansi lainnya, seperti AAOIFI dan sebagainya. Singkat kata, muatan buku ini begitu lengkap sehingga layak untuk dijadikan acuan oleh para akademisi maupun praktisi.

Dengan hadirnya buku Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer ini, kami berharap pemahaman para stakeholder perbankan syariah mengenai akuntansi perbankan syariah dapat lebih meluas dan mendalam, di samping akan mendorong semua pihak untuk lebih berkontribusi dalam pengembangan industri perbankan syariah.

Billahit taufiq wal hidayah, wassalaamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Jakarta, Agustus 2009

Ramzi A. Zuhdi

Direktur Pengawasan Bank Syariah BI (periode 2007–2010)

(7)

Saya menyambut baik terbitnya buku yang berjudul Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer, yang ditulis oleh Rizal Yaya, Aji Erlangga Martawireja, dan Ahim Abdurrahim. Terbitnya buku ini sangat penting dan tepat waktu karena saat ini perbankan Indonesia banyak membuka bank syariah dalam bentuk Usaha Unit Syariah (UUS) dan Badan Usaha Syariah (BUS), baik melalui spin off maupun konversi bank konvensional menjadi BUS. Dengan makin banyaknya bank syariah, maka sudah barang tentu SDM yang terlibat dengan bank syariah ini perlu ditingkatkan. Mereka inilah yang memerlukan pengetahuan tentang produk dan tata cara pencatatan dan pelaporan akuntansi syariah.

Sebagai buku baru, saya yakin buku ini ditulis lebih baik dari buku-buku yang sudah ada. Buku ini mengacu pada peraturan-peraturan baru, seperti PSAK Syariah dan berbagai ketentuan regulator yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia maupun Dewan Syariah Nasional. Isinya cukup luas, komprehensif, serta mencakup teori dan praktik perbankan syariah yang kita kenal. Penulisnya adalah orang-orang yang memang ahli dalam bidangnya, dan bukan saja memiliki latar belakang akademis, tapi juga pengalaman praktik di lapangan.

Modal kombinasi teori dan praktik ini tentu akan menjadi keuntungan tambahan dalam menuliskan pengetahuannya dalam bentuk buku yang Anda pegang ini.

Kepada para penulis, saya mengucapkan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Buku seperti ini masih tergolong langka dan sangat dibutuhkan masyarakat. Makin banyak buku, walaupun membahas topik yang sama, pasti lebih baik dibandingkan hanya sedikit buku yang diterbitkan. Kepada penulis saya menganjurkan untuk terus berkarya, masih banyak animo masyarakat yang harus dipenuhi, terutama kehausan akan

PROF. Dr. SOFYAN SYAFRI HARAHAP *

Pakar Akuntansi Syariah

(8)

pengetahuan dalam bidang ekonomi, keuangan, perbankan, dan akuntansi syariah ini. Saya meyakinkan bahwa buku ini layak dan sangat perlu dibaca, baik oleh akademisi maupun paktisi.

Sekali lagi selamat dan semoga Allah SWT memberikan limpahan rahmatnya kepada ketiga penulis atas sumbangsihnya dalam mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan langka ini kepada khalayak ramai.

Jakarta, 23 Oktober 2009

Prof. Dr. Sofyan S. Harahap

*Sambutan ini ditulis oleh Alm. Prof. Dr. Sofyan S. Harahap ketika beliau menjadi Guru Besar Ekonomi dan Pakar Ekonomi Syariah Universitas Trisakti.

(9)

Studi tentang akuntansi syariah pada industri perbankan telah berkembang tidak hanya pada perguruan tinggi berbasis Islam, melainkan juga pada perguruan tinggi umum yang memandang ini sebagai bidang ilmu yang penting untuk mendukung karier lulusannya di industri perbankan syariah. Akan tetapi, kendati telah banyak perguruan tinggi yang menawarkan mata kuliah ini, literatur yang digunakan masih terbatas. Hampir semua buku yang tersedia memiliki keterbatasan dalam lingkup tema yang dibahas, aspek kekinian konsep dan praktik di lapangan serta aspek keterpaduan ilustrasi kasus yang dibahas. Keterbatasan tersebut sering kali mengakibatkan dosen pengajar mata kuliah ini mengalami kesulitan dalam menyampaikan perkuliahan secara komprehensif dan kontekstual.

Kebutuhan akan adanya buku ajar di bidang akuntansi perbankan syariah yang dapat memberikan gambaran komprehensif dan terkini dari sisi teori dan praktiknya telah mendorong penulis untuk menulis buku ajar ini.

Penulisan buku ajar dengan judul Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer ini merupakan refleksi dari pengalaman penulis dalam mengajar mata kuliah Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah I (Perbankan Syariah) sejak tahun 2004 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan follow-up dari observasi yang penulis lakukan di Kantor Cabang Yogyakarta Bank Muamalat Indonesia selama dua bulan pada akhir tahun 2006 serta interaksi dengan pimpinan dan staf Departemen Akuntansi Bank Syariah Mandiri selama beberapa bulan di awal tahun 2009. Edisi pertama buku ini dibuat berdasarkan pada PSAK 101 sampai 106 tahun 2007. Adapun pada edisi kedua ini, revisi dilakukan untuk mengakomodasi PSAK yang terbaru dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah (PAPSI) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada pertengahan tahun 2013.

(10)

Materi yang disajikan dalam buku ajar ini diarahkan untuk dapat mengakomodasi kebutuhan pembelajaran akuntansi perbankan syariah oleh dosen di perguruan tinggi di Indonesia dan praktisi pemula di bidang akuntansi perbankan syariah. Dalam hal ini, sistematika penulisannya diarahkan pada penguasaan konsep-konsep dasar akuntansi syariah serta alternatif kebijakan akuntansi yang dipilih bank syariah. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan baik dari sisi pengetahuan dan kemampuan akuntansi para mahasiswa, materi pada buku ajar ini dilengkapi dengan ilustrasi kasus beserta varian transaksi yang mungkin timbul dalam suatu siklus akuntansi. Ilustrasi kasus selanjutnya diikuti dengan konsep dan teknis akuntansi dalam hal pengakuan dan pengukuran transaksi serta penyajian dan pengungkapan informasi dalam laporan keuangan.

Terselesaikannya buku ini tidak terlepas dari bantuan yang diberikan berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada pengurus Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) atas segala fasilitas yang disediakan, kolega dosen UMY atas dorongan motivasi yang diberikan, para mahasiswa mata kuliah Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah FE-UMY atas kritik, saran, dan keterlibatannya dalam uji coba penerapan dan pengembangan draf buku ajar ini, pimpinan dan staf Kantor Cabang Yogyakarta Bank Muamalat Indonesia, terutama Bapak Ahmad Junaedi, SE. dan Kantor Pusat Bank Syariah Mandiri atas diperbolehkannya penulis melakukan observasi lapangan tentang praktik akuntansi di perbankan, rekan-rekan pemerhati akuntansi syariah dan praktisi di berbagai bank syariah yang telah memberikan berbagai informasi, saran dan komentar terhadap berbagai hal yang penulis perlukan, Bapak Sri Yanto S.E., Akt.,—yang pada saat penyusunan buku ini menjabat sebagai Direktur Teknis Ikatan Akuntan Indonesia—atas masukannya yang sangat penting terkait konsep PSAK yang terbaru, Bapak Prof. Dr. H. Syamsul Anwar M.A., ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, atas komentar dan masukan yang berarti terhadap aspek syariah yang terdapat dalam buku ini, dan keluarga penulis atas kasih sayang, perhatian, dan pengertian yang diberikan kepada penulis selama proses pembuatan buku ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas buku ini. Apabila ada masukan untuk perbaikan redaksi, substansi, metodologi, maupun sistematika penyajian buku ini dapat disampaikan melalui alamat email: rizalyaya1@

gmail.com.

Yogyakarta, Januari 2014 Penulis

(11)

TENTANG PENULIS iii SAMBUTAN RAMZI A. ZUHDI v SAMBUTAN PROF. DR. SOFYAN SYAFRI HARAHAP vii

PRAKATA ix

DAFTAR ISI xi DAFTAR TABEL xix

DAFTAR FIGUR xxi

DAFTAR KASUS xxiii

BAB1 SEJARAH PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH 1 Pendahuluan 1 Pengaruh Islam terhadap Perkembangan Akuntansi 2

Praktik Akuntansi Pemerintahan Islam 3

Hubungan Peradaban Islam dengan Buku Pacioli 4 Berbagai Pendekatan dalam Mengembangkan Akuntansi Syariah 6 Referensi 10

Soal-Soal Latihan 11

Lembar Jawaban 12

BAB 2 PERKEMBANGAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH 15 Pendahuluan 15 Sejarah Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah 16

(12)

Lembaga Keuangan Syariah Modern 16 Lembaga-Lembaga Pendukung Bank Syariah di Tingkat Internasional 18 Lembaga-Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia 22 Bank Syariah dan Perkembangannya di Indonesia 25 Institusi Pendukung Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia 27 Master Plan dan Roadmap Perbankan Syariah Indonesia 29 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah 30

Referensi 31

Soal-Soal Latihan 31

Lembar Jawaban 33

BAB 3 PRINSIP DASAR BANK SYARIAH 35

Pendahuluan 35

Definisi Lembaga Keuangan Syariah 36

Larangan terhadap Transaksi yang Mengandung Barang atau Jasa

yang Diharamkan 38

Larangan terhadap Transaksi yang Diharamkan Sistem dan Prosedur

Perolehan Keuntungannya 38

Larangan terhadap Transaksi yang Tidak Sah Akadnya 45

Referensi 47

Soal-Soal Latihan 47

Lembar Jawaban 48

BAB 4 SISTEM OPERASIONAL BANK SYARIAH 51 Pendahuluan 51 Definisi, Asas, dan Tujuan Bank Syariah 52

Fungsi Bank Syariah 52

Sistem Operasional Bank Syariah 54

Prinsip-Prinsip dalam Penghimpunan Dana Bank Syariah 56

Prinsip Penyaluran Dana Bank Syariah 59

Prinsip-Prinsip dalam Pelaksanaan Fungsi Jasa Keuangan Perbankan 62 Referensi 65

Soal-Soal Latihan 65

Lampiran 66

Lembar Jawaban 71

(13)

BAB 5 KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN LAPORAN

KEUANGAN SYARIAH 75

Pendahuluan 75

Perkembangan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah–Ikatan Akuntan Indonesia 76 Tujuan dan Peranan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian

Laporan Keuangan Syariah 77

Aspek yang Terkait dengan Transaksi Syariah dan Pemakai Laporan

Keuangan Syariah 78

Tujuan Laporan Keuangan 80

Asumsi Dasar 81

Karakteristik Kualitatif Informasi Keuangan Syariah 82

Unsur-Unsur Laporan Keuangan 83

Pengakuan dan Pengukuran Unsur-Unsur Laporan Keuangan 90

Catatan atas Laporan Keuangan 92

Referensi 93

Soal-Soal Latihan 93

Lembar Jawaban 95

BAB 6 AKUNTANSI PENGHIMPUNAN DANA 99

Pendahuluan 99

Ketentuan Syariah 100

Tabungan 100

Giro 103

Deposito Mudharabah 106

Penyajian Transaksi Penghimpunan Dana 108 Pengungkapan Transaksi Penghimpunan Dana 108 Referensi 109

Soal-Soal Latihan 109

Lembar Jawaban 111

BAB 7 AKUNTANSI TRANSAKSI PEMBIAYAAN MUDHARABAH 115 Pendahuluan 115

Definisi dan Penggunaan 116

Ketentuan Syar’i, Rukun Transaksi, dan Pengawasan Syariah

Transaksi Mudharabah 116

(14)

Alur Transaksi Mudharabah 122 Cakupan Standar Akuntansi Mudharabah bagi Bank Syariah 123 Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Mudharabah 123 Penyajian Transaksi Mudharabah dalam Laporan Keuangan 134

Pengungkapan Transaksi Mudharabah 134

Referensi 135

Soal-Soal Latihan 135

Lembar Jawaban 137

BAB 8 AKUNTANSI TRANSAKSI PEMBIAYAAN MUSYARAKAH 141 Pendahuluan 141

Definisi dan Penggunaan 142

Ketentuan Syar’i, Rukun Transaksi, dan Pengawasan Syariah Transaksi Musyarakah 142

Alur Transaksi Musyarakah 146

Cakupan Standar Akuntansi Transaksi Musyarakah bagi Bank Syariah

(Mitra Pasif) 147

Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Musyarakah 147

Penyajian Transaksi Musyarakah 159

Pengungkapan Transaksi Musyarakah 159

Referensi 161

Soal-Soal Latihan 161

Lembar Jawaban 164

BAB 9 AKUNTANSI TRANSAKSI MURABAHAH 167

Pendahuluan 167

Definisi dan Penggunaan Murabahah 168

Ketentuan Syar’i, Rukun Transaksi, dan Pengawasan Syariah Transaksi Murabahah 168

Alur Transaksi Murabahah 172

Cakupan Standar Akuntansi Murabahah 174

Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Murabahah 174 Penyajian Transaksi Murabahah di Laporan Keuangan 196

Pengungkapan Transaksi Murabahah 197

Referensi 198

Soal-Soal Latihan 198

(15)

Lampiran 202

Lembar Jawaban 206

BAB 10 AKUNTANSI TRANSAKSI SALAM DAN SALAM PARALEL 213

Pendahuluan 213

Definisi dan Penggunaan Transaksi Salam dan Salam Paralel 214 Ketentuan Syar’i, Rukun Transaksi, dan Pengawasan Syariah Transaksi

Salam dan Salam Paralel 215

Alur Transaksi Salam dan Salam Paralel 217 Cakupan Standar Akuntansi Salam dan Salam Paralel 218 Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Salam bagi Bank Syariah 218

Penyajian 226

Pengungkapan 226

Referensi 227

Soal-Soal Latihan 227

Lembar Jawaban 229

BAB 11 AKUNTANSI TRANSAKSI ISTISHNA’ DAN ISTISHNA’ PARALEL 233

Pendahuluan 233

Definisi dan Penggunaan 234

Ketentuan Syar’i, Rukun Transaksi, dan Pengawasan Syariah Transaksi

Istishna’ dan Istishna’ Paralel 234

Alur Transaksi Istishna’ dan Istishna’ Paralel 236 Cakupan Standar Akuntansi Istishna’ Paralel 238 Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Istishna’ 238

Penyajian 252

Pengungkapan 252

Referensi 253

Soal-Soal Latihan 253

Lembar Jawaban 256

BAB 12 AKUNTANSI TRANSAKSI IJARAH DAN IJARAH MUNTAHIYA

BIT TAMLIK 261

Pendahuluan 261

Definisi dan Penggunaan 262

Ketentuan Syar’i, Rukun Transaksi, dan Pengawasan Syariah Transaksi

(16)

Ijarah dan Transaksi IMBT 262

Alur Transaksi Ijarah dan IMBT 265

Cakupan Standar Akuntansi Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik 266 Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Ijarah bagi Bank Syariah 267 Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi IMBT bagi Bank Syariah 275 Penyajian Transaksi Ijarah atas Aset Berwujud 279 Pengungkapan Transaksi Ijarah atas Aset Berwujud 279 Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Ijarah untuk Multijasa 280 Penyajian Transaksi Ijarah atas Jasa 282 Pengungkapan Transaksi Ijarah atas Jasa 282

Referensi 283

Soal-Soal Latihan 283

Lembar Jawaban 286

BAB 13 AKUNTANSI TRANSAKSI DANA ZAKAT, DANA KEBAJIKAN,

DAN PINJAMAN QARDH 291

Pendahuluan 291

Dana Zakat 292

Pengungkapan Dana Zakat 295

Dana Kebajikan 296

Pengungkapan Dana Kebajikan 299

Pinjaman Qardh 299

Referensi 309

Soal-Soal Latihan 309

Lembar Jawaban 311

BAB 14 AKUNTANSI KAS, PENEMPATAN PADA BANK INDONESIA, KLIRING,

DAN PAJAK 315

Pendahuluan 315

Akuntansi Kas 316

Akuntansi Penempatan pada Bank Indonesia dan Kliring 321

Akuntansi Pajak 323

Referensi 326

Soal-Soal Latihan 326

Lembar Jawaban 328

(17)

BAB 15 PERHITUNGAN BAGI HASIL 333

Pendahuluan 333

Tahapan Perhitungan Bagi Hasil 334

Menentukan Prinsip Perhitungan Bagi Hasil 334 Menghitung Jumlah Pendapatan yang Dibagi Hasil 338 Menentukan Hak Bagi Hasil untuk Bank dan Nasabah 342

Referensi 345

Soal-Soal Latihan 345

Lembar Jawaban 348

DAFTAR PUSTAKA D-1

GLOSARIUM G-1

INDEKS I-1

(18)
(19)

Tabel 2.1 Pendirian Bank Islam di Dunia: Dari Mit Ghamr Bank di Mesir Hingga

Bank Muamalat di Indonesia 17

Tabel 2.2 Instrumen Keuangan Syariah Global (Jan 2001–Des 2010) 20

Tabel 2.3 Daftar Standar yang Dihasilkan IFSB 21

Tabel 2.4 Emisi Sukuk oleh Pasar Modal di Indonesia hingga Juni 2015 24 Tabel 2.5 Pangsa Perbankan Syariah terhadap Total Bank

(Posisi November 2016) 25

Tabel 2.6 Jumlah Kantor dan Pegawai Perbankan Syariah di Indonesia

(Posisi November 2016) 26

Tabel 2.7 Daftar Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah di Indonesia

(Posisi November 2016) 26

Tabel 2.8 Struktur Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang

Perbankan Syariah 30

Tabel 5.1 Format Neraca Bank Syariah PT Bank Syariah “X” Laporan Posisi

Keuangan (Neraca) per 31 Desember 20X2 dan 20X1 84 Tabel 5.2 Format Laporan Laba Rugi Bank Syariah PT Bank Syariah “X” Laporan

Laba Rugi Periode 1 Januari s.d. 31 Desember 20X2 dan 20X1 86

Tabel 9.1 Jadwal Pembayaran Murabahah PT HANIYA 177

Tabel 9.2 Jadwal dan Realisasi Pembayaran Angsuran Murabahah PT HANIYA 184

(20)

Tabel 15.1 Prinsip Bagi Hasil 335 Tabel 15.2 Data Sumber Dana, Penyaluran Dana, dan Pendapatan 337 Tabel 15.3 Perhitungan Pendapatan yang Akan Dibagi Hasil Berdasarkan Sumber

Dana Pihak Ketiga dari Sumber Dana Mudharabah 339 Tabel 15.4 Perhitungan Pendapatan yang Akan Dibagi Hasil Berdasarkan Sumber

Dana Pihak Ketiga dari Sumber Dana Mudharabah dan Wadiah 340 Tabel 15.5 Perhitungan Pendapatan yang Akan Dibagi Hasil Berdasarkan Seluruh

Sumber Dana 341

Table 15.6 Tabel Kelompok Sumber Dana dan Nisbah Bagi Hasil 342 Tabel 15.7 Tabel Distribusi Bagi Hasil kepada Nasabah dan Bank 343 Tabel 15.8 Tabel Equivalent Rate atas Bagi Hasil untuk Nasaba 344

(21)

Figur 4.1 Sistem Operasional Bank Syariah 54

Figur 5.1 Bangun Prinsip Akuntansi Syariah 77

Figur 7.1 Skema Mudharabah Musytarakah 117

Figur 7.2 Alur Transaksi Mudharabah 122

Figur 8.1 Alur Transaksi Musyarakah 146

Figur 9.1 Alur Transaksi Murabahah (dengan Pesanan) 173

Figur 10.1 Alur Transaksi Salam Paralel 218

Figur 11.1 Alur Transaksi Istishna’ Paralel 237

Figur 12.1 Alur Transaksi Ijarah dan IMBT 266

Figur 13.1 Alur Transaksi Pinjaman Qardh 303

Figur 15.1 Tahapan Perhitungan Bagi Hasil Pendapatan 334 Figur 15.2 Perbedaan Prinsip Bagi Hasil Revenue Sharing dan Profit Sharing 336

(22)
(23)

Kasus 6.1 Transaksi Penambahan Saldo Rekening Tabungan Mudharabah 101 Kasus 6.2 Transaksi Pengurangan Saldo Rekening Tabungan Mudharabah 102 Kasus 6.3 Transaksi Penambahan Saldo Rekening Giro Wadiah 104 Kasus 6.4 Transaksi Pengurangan Saldo Rekening Giro Wadiah 105

Kasus 6.5 Transaksi Terkait Deposito Mudharabah 107

Kasus 7.1 Transaksi Pembiayaan Mudharabah 123

Kasus 7.2 Transaksi Pembiayaan Mudharabah—Kasus Bermasalah 130

Kasus 8.1 Transaksi Pembiayaan Musyarakah 147

Kasus 8.2 Transaksi Pembiayaan Musyarakah Menurun—Kasus Bermasalah 156

Kasus 9.1 Transaksi Jual Beli Murabahah 175

Kasus 9.2 Transaksi LC dengan Akad Wakalah Wal Murabahah 194

Kasus 10.1 Transaksi Salam 219

Kasus 11.1 Transaksi Istishna’ 239

Kasus 11.2 Istishna’ dengan Pembayaran Tangguh 248

Kasus 12.1 Transaksi Ijarah 267

Kasus 12.2 Transaksi Ijarah dengan Skema Sewa atas Sewa 273

Kasus 12.3 Transaksi IMBT 275

(24)

Kasus 12.4 Transaksi Ijarah untuk Multijasa 280 Kasus 13.1 Transaksi Terkait Penghimpunan dan Penyaluran Dana Zakat 292 Kasus 13.2 Transaksi Terkait Penghimpunan dan Penyaluran Dana Kebajikan 297 Kasus 13.3 Pinjaman Qardh dengan Sumber Dana Intern 304

Kasus 14.1 Transaksi Kas Kecil 317

Kasus 14.2 Transaksi Penempatan pada Bank Indonesia 321 Kasus 14.3 Transaksi Penempatan pada SBI Syariah/FASBIS 322

Kasus 14.4 Transaksi Kliring 323

Kasus 14.5 Transaksi Pajak 324

(25)

Pendahuluan

SEJARAH

PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH

Bab 1 menjelaskan tentang pengaruh Islam terhadap perkembangan akuntansi pada masa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wassalam (saw.), masa kekhalifahan, dan masa sekarang. Dijelaskan bahwa perintah Allah Subhanahu wa taala (Swt.) yang disampaikan melalui Nabi untuk mencatat transaksi yang bersifat tidak tunai dan kewajiban umat Islam membayar zakat berimplikasi terhadap munculnya kebutuhan umat Islam untuk mengembangkan dan menerapkan akuntansi.

Praktik akuntansi tersebut makin berkembang seiring dengan berkembangnya wilayah kekuasaan pemerintahan Islam pada masa kekhalifahan. Beberapa bukti bahkan menunjukkan bahwa buku akuntansi yang dikarang oleh Luca Pacioli, yang dikenal sebagai bapak akuntansi modern, merujuk pada praktik akuntansi yang diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat Islam pada saat itu.

Bagian akhir bab ini membahas tentang berbagai pendekatan yang digunakan oleh para pakar akuntansi syariah dalam memformulasikan bentuk akuntansi syariah yang dipandang pembaca tepat untuk masyarakat Muslim saat ini. Relevansi bab ini adalah sebagai landasan untuk memahami dasar pemikiran yang digunakan oleh berbagai pakar dalam mengembangkan teori dan praktik akuntansi syariah.

Setelah membaca Bab 1 ini, pembaca diharapkan dapat memahami pengaruh Islam terhadap perkembangan akuntansi, praktik akuntansi pada masa pemerintahan Islam, hubungan peradaban Islam dengan buku karangan Luca Pacioli, dan berbagai pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan akuntansi syariah. Pembaca juga bisa mengembangkan penalarannya dengan mengevaluasi kelebihan dan kekurangan masing-masing pendekatan dalam pengembangan akuntansi syariah dan mencoba memilih pendekatan yang dipandang paling tepat untuk masyarakat saat ini.

1

(26)

Pengaruh Islam terhadap Perkembangan Akuntansi

Sebelum berdirinya pemerintahan Islam, peradaban didominasi oleh dua bangsa besar yang memiliki wilayah yang luas, yaitu bangsa Romawi dan bangsa Persia. Sebagian besar daerah di Timur Tengah saat Nabi Muhammad saw. lahir berada dalam jajahan dan menggunakan bahasa negara jajahan seperti Syam (sekarang meliputi Siria, Lebanon, Yordania, Palestina, dan Israel) yang dijajah oleh Romawi, sedangkan Irak dijajah oleh Persia. Adapun perdagangan bangsa Arab Mekkah terbatas ke Yaman pada musim dingin dan Syam pada musim panas.

Pada saat itu, akuntansi telah digunakan dalam bentuk perhitungan barang dagangan oleh para pedagang sejak mulai berdagang sampai pulang kembali (Adnan dan Labatjo, 2006).

Perhitungan dilakukan untuk mengetahui perubahan-perubahan, dan untung atau rugi. Selain itu, menurut Syahatah (2001), orang-orang Yahudi, yang saat itu banyak melakukan perdagangan, menetap dan juga telah memakai akuntansi untuk transaksi utang-piutang mereka.

Praktik akuntansi pada masa Rasulullah mulai berkembang setelah ada perintah Allah melalui Alquran untuk mencatat transaksi yang bersifat tidak tunai (Alquran 2:282) dan untuk membayar zakat (Alquran 2:110, 177; 9:18, 71; 22:78; 58:13). Melalui Alquran surah Al-Baqarah ayat 282 yang sebagian artinya berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekannya, maka hendaklah walinya mendiktekan dengan jujur....”

Dalam hal ini perintah Allah Swt. untuk mencatat transaksi yang bersifat tidak tunai telah mendorong setiap individu untuk senantiasa menggunakan dokumen ataupun bukti transaksi.

Adapun perintah Allah untuk membayar zakat telah mendorong umat Islam saat itu untuk mencatat dan menilai aset yang dimilikinya. Perintah tersebut didasarkan pada Alquran antara lain surah Al-Baqarah ayat 110 yang artinya:

“Dan laksanakanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Baqarah : 110).

Secara operasional, pembayaran zakat diuraikan Nabi Muhammad saw. dalam berbagai macam hadis antara lain yang diriwayatkan oleh Bukhari.

“Dari Salim Ibnu Abdullah, dari ayahnya r.a., bahwa Nabi sallallahu alaihi wassalam bersabda: Tanaman yang disiram dengan air hujan atau dengan sumber air atau dengan pengisapan air dari tanah, zakatnya sepersepuluh, dan tanaman yang disiram dengan tenaga manusia, zakatnya seperduapuluh.”

Dengan demikian, agar zakat bisa dibayar dengan jumlah yang benar, seorang wajib zakat perlu melakukan pencatatan dan perhitungan terhadap hasil usahanya yang diwajibkan untuk

(27)

membayar zakat. Kewajiban membayar zakat tidak saja pada hasil pertanian, peternakan, ataupun pertambangan. Dalam satu riwayat, dilaporkan oleh Abu Ubaid, bahwa Maimun bin Mihran, ulama tabiin, berkata:

“Apabila sudah tiba temponya kau berzakat, hitunglah berapa jumlah uang kontan yang ada padamu dan barang yang ada, hitung berapa nilai barang itu, begitu juga piutang yang ada pada orang yang mampu, kemudian keluarkanlah utangmu sendiri, barulah dikeluarkan zakat darinya”.

Cara perhitungan zakat dalam riwayat di atas, telah menjadi salah satu pendekatan dalam menghitung besarnya zakat perniagaan suatu usaha dagang. Jika dicermati lebih lanjut, prinsip-prinsip perhitungan zakat perniagaan tersebut amatlah mirip dengan konsep net current asset dalam akuntansi yang kita gunakan sekarang, yaitu selisih antara aset lancar dengan liabilitas lancar.

Berkembangnya praktik pencatatan dan penilaian aset, merupakan konsekuensi logis dari ketentuan pembayaran zakat yang besarnya dihitung berdasarkan persentase tertentu dari aset yang dimiliki seseorang yang telah memenuhi kriteria nisab dan haul. Dijelaskan dalam kitab- kitab fikih bahwa nisab dan haul adalah kriteria yang ditetapkan atas wajib tidaknya seseorang membayar zakat. Nisab merupakan kriteria yang didasarkan atas batas minimal nilai kekayaan yang dikenakan kewajiban zakat, sedang haul merupakan kriteria yang didasarkan atas jangka waktu yang dipenuhi hingga kewajiban zakat timbul pada pembayar zakat (muzaki). Dalam bahasan kajian fikih zakat, jangka waktu yang mesti dipenuhi untuk zakat harta adalah satu tahun, periodisasi yang sama dengan periodisasi pelaporan akuntansi saat ini.

Secara tidak langsung Alquran juga berperan dalam perkembangan akuntansi modern melalui kajian yang dilakukan oleh al-Khawarizmi terhadap hukum waris yang ditetapkan oleh Allah Swt. dalam Alquran. As-Sirjani (2011, hal 345–349) mengulas bahwa kajian yang dilakukan oleh al-Khawarizmi yang dituangkan dalam buku berjudul Al-Jabar wal Muqabalah tersebut telah menjadi dasar pengembangan ilmu baru saat itu, yang sampai sekarang dikenal dengan nama aljabar atau algebra. Kajian yang dilakukan oleh al-Khawarizmi bersama ilmuwan Muslim lainnya, juga berhasil menemukan fungsi angka nol seperti yang kita gunakan sekarang.

Dua penemuan oleh ilmuan Muslim tersebut telah memungkinkan akuntansi diterapkan untuk beragam transaksi yang jauh lebih kompleks dibanding apa yang dipraktikkan sebelum datangnya peradaban Islam.

Praktik Akuntansi Pemerintahan Islam

Kewajiban zakat berdampak pada didirikannya institusi Baitulmal oleh Nabi Muhammad saw. yang berfungsi sebagai lembaga penyimpan zakat beserta pendapatan lain yang diterima oleh negara.

Hawari (1989) dalam Zaid (2001) mengungkapkan bahwa pemerintahan Rasulullah memiliki 42 pejabat yang digaji yang terspesialisasi dalam peran dan tugas tersendiri. Adnan dan Labatjo (2006) memandang bahwa praktik akuntansi pada lembaga Baitulmal di zaman Rasulullah baru berada pada tahap penyiapan personal yang menangani fungsi-fungsi lembaga keuangan negara.

Pada masa tersebut, harta kekayaan yang diperoleh negara langsung didistribusikan setelah harta tersebut diperoleh. Dengan demikian, tidak terlalu diperlukan pelaporan atas penerimaan dan pengeluaran Baitulmal. Hal sama berlanjut pada masa Khalifah Abu Bakar as Siddik.

(28)

Perkembangan pemerintahan Islam hingga meliputi Timur Tengah, Afrika, dan Asia di zaman Khalifah Umar bin Khatab telah meningkatkan penerimaan negara secara signifikan.

Dengan demikian, kekayaan negara yang disimpan di Baitulmal juga makin besar. Para sahabat merekomendasikan perlunya pencatatan untuk pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran negara. Selanjutnya, Khalifah Umar bin Khatab mendirikan unit khusus yang bernama Diwan (dari kata dawwana = tulisan) yang bertugas membuat laporan keuangan Baitulmal sebagai bentuk akuntabilitas Khalifah atas dana Baitulmal yang menjadi tanggung jawabnya (Zaid, 2001).

Selanjutnya, reliabilitas laporan keuangan pemerintahan dikembangkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz (681−720 M) berupa praktik pengeluaran bukti penerimaan uang. Kemudian, Khalifah Al Waleed bin Abdul Malik (705−715 M) mengenalkan catatan dan register yang terjilid dan tidak terpisah seperti sebelumnya (Lasyin, 1973, dalam Zaid, 2001).

Evolusi perkembangan pengelolaan buku akuntansi mencapai tingkat tertinggi pada masa Daulah Abbasiah. Akuntansi diklasifikasikan pada beberapa spesialisasi, antara lain akuntansi peternakan, akuntansi pertanian, akuntansi bendahara, akuntansi konstruksi, akuntansi mata uang, dan pemeriksaan buku (auditing) (Zaid, 2001). Pada masa itu, sistem pembukuan telah menggunakan model buku besar, yang meliputi sebagai berikut.

1. Jaridah Al-Kharaj (mirip receivable subsidiary ledger), merupakan pembukuan pemerintah terhadap piutang pada individu atas zakat tanah, hasil pertanian, serta hewan ternak yang belum dibayar dan cicilan yang telah dibayar (Lasyin, 1973, dalam Zaid, 2001). Piutang dicatat di satu kolom dan cicilan pembayaran di kolom yang lain.

2. Jaridah An-Nafaqat (jurnal pengeluaran), merupakan pembukuan yang digunakan untuk mencatat pengeluaran negara.

3. Jaridah Al-Mal (jurnal dana), merupakan pembukuan yang digunakan untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran dana zakat.

4. Jaridah Al-Musadareen, merupakan pembukuan yang digunakan untuk mencatat penerimaan denda atau sita dari individu yang tidak sesuai syariah, termasuk dari pejabat yang korup.

Adapun untuk pelaporan, telah dikembangkan berbagai laporan akuntansi, antara lain sebagai berikut.

1. Al-Khitmah, menunjukkan total pendapatan dan pengeluaran yang dibuat setiap bulan (Bin Jafar, 1981, dalam Zaid, 2001).

2. Al-Khitmah Al-Jame’ah, laporan keuangan komprehensif yang berisikan gabungan antara laporan laba rugi dan neraca (pendapatan, pengeluaran, surplus dan defisit, belanja untuk aset lancar maupun aset tetap) yang dilaporkan di akhir tahun. Dalam perhitungan dan penerimaan zakat, utang zakat diklasifikasikan dalam laporan keuangan menjadi tiga kategori, yaitu collectable debts, doubtful debts, dan uncollectable debts (Lasyin, dalam Zaid, 2001).

Hubungan Peradaban Islam dengan Buku Pacioli

Pada tahun 1494, seseorang berkebangsaan Italia bernama Luca Pacioli, menerbitkan buku dengan judul Summa de Arithmetica Geometria, Proportioni et Proportionalita (Segala Sesuatu

(29)

tentang Aritmetika, Geometri, dan Proporsi). Buku tersebut terbagi atas lima bagian yang banyak membahas tentang ilmu matematika. Salah satu bab di dalamnya membahas tentang pembukuan yang menekankan pada sistem pencatatan yang terjadi di Venice lebih dari 200 tahun sebelumnya dan masih digunakan pada masa itu, dan dikenal dengan nama metode Venice (Adnan dan Labatjo, 2006).

Melalui buku tersebut, Pacioli dianggap sebagai orang pertama yang menggagas sistem tata buku berpasangan (double entry bookkeeping), sebuah sistem baru dan dianggap sebagai revolusi dalam seni pencatatan dalam bidang ekonomi dan bisnis. Hendriksen (2000) menyatakan bahwa jurnal yang dibuat Pacioli sudah mirip dengan yang digunakan sekarang. Debit dicatat di sebelah kiri (disebut dengan istilah deve dare atau debere) dan kredit di sisi kanan (disebut dengan istilah deve avare atau creed). Dalam berbagai literatur, Pacioli kemudian disebut sebagai

“Bapak Akuntansi”.

Adnan dan Labatjo (2006) menyatakan bahwa buku Summa de Arithmetica yang dibuat Pacioli menimbulkan banyak pertentangan di kalangan peneliti yang meneliti tentang sejarah akuntansi. Have (1976) dalam Zaid (2001) beranggapan bahwa perkembangan akuntansi sebagaimana ditulis oleh Pacioli tidaklah terjadi di Republik Italia kuno. Menurut Have dalam Zaid (2001), yang terjadi adalah Italia mengetahui tentang akuntansi dan ilmu itu sampai pada mereka dari bangsa lain. Zaid (2001) menyatakan bahwa bab dalam buku Pacioli tentang akuntansi hanyalah bagian dari apa yang ada pada saat itu, yang beredar di antara para guru dan murid sekolah aritmetika dan perdagangan. Dengan demikian, Pacioli bukanlah penemu, melainkan pencatat terhadap apa yang beredar saat itu (Zaid, 2001). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Belkaoui (2000), bahwa Pacioli bukanlah penemu double entry bookkeeping, melainkan hanya menjelaskan apa yang telah dipraktikkan pada masa itu.

Keraguan terhadap buku Pacioli cukup beralasan mengingat sejak abad ke-8 M, Bangsa Arab berlayar sepanjang pantai Arabia dan India dan berhenti di Italia untuk menjual barang dagangan yang mewah yang tidak diproduksi oleh Eropa (Have, 1976, dalam Zaid, 2001).

Wolf (1912) dalam Zaid (2001) mengemukakan bahwa pada akhir abad ke-15, Eropa sedang terhenti perkembangannya dan tidak dapat diharapkan adanya kemajuan yang berarti dalam metode akuntansi. Sementara itu, Heaps (1895) dalam Zaid (2001) mengemukakan bahwa bookkeeping pastilah dipraktikkan pertama kali oleh para pedagang dan ia beranggapan bahwa mereka berasal dari Mesir. Ball (1960) dalam Zaid (2001) menyatakan bahwa buku Pacioli didasarkan pada tulisan Leonardo of Pisa, orang Eropa pertama yang menerjemahkan buku Aljabar yang ditulis dalam bahasa Arab, yang berisikan dasar-dasar bookkeeping.

Dalam berbagai referensi, Leonardo diceritakan mengikuti ayahnya yang berdagang ke kota pelabuhan Béjaïa di Aljazair dan disuruh belajar ilmu hitung kepada pakar yang ada di sana (http://www.maths.surrey.ac.uk/hosted-sites/R.Knott/Fibonacci/fibBio.html). Leonardo kemudian berkunjung dan belajar matematika di berbagai pusat pengetahuan kekhalifahan Islam saat itu seperti Mesir, Sirya, Sisilia (saat dalam kekuasaan Muslim) dan berinteraksi dengan karya-karya Al-Khawarizmi (https://www.britannica.com/biography/Leonardo-Pisano).Leonardo kemudian menulis buku berjudul Liber Abaci, yang membantu bangsa Eropa mengenal fungsi angka nol dan buku Practica Geometriae tentang praktik geometri yang keduanya dipelajari dari ilmuan Muslim selama perjalanannya berinteraksi dengan masyarakat di wilayah kekhalifahan Islam.

Dalam sejarah Islam, lebih satu abad sebelum buku Pacioli diterbitkan, telah ada manuskrip tentang akuntansi yang ditulis oleh Abdullah bin Muhammad bin Kiyah Al Mazindarani

(30)

dengan judul Risalah Falakiyah Kitab As Siyaqaat pada tahun 1363 M.1 Beberapa kaidah dalam manuskrip tersebut yang terkait dengan praktik double entry adalah sebagai berikut.

1. Harus mencatat pemasukan di halaman sebelah kanan dengan mencatat sumber-sumber pemasukan tersebut.

2. Harus mencatat pengeluaran di halaman sebelah kiri dan menjelaskan pengeluaran- pengeluaran tersebut.

Zaid (2001) menyatakan bahwa apa yang terdapat dalam manuskrip Mazindarani tersebut telah menggambarkan praktik double entry bookkeeping masyarakat Muslim saat itu.

Pandangan ini dikuatkan oleh pendapat Littleton dan Yame (1978) dalam Triyuwono (2006) yang menduga bahwa double entry bookkeeping berasal dari Spanyol dengan alasan bahwa kebudayaan dan teknologi Spanyol pada abad pertengahan tersebut jauh lebih unggul dibanding dengan peradaban Italia dan negara Eropa lainnya. Sementara pada waktu itu, Spanyol adalah negara Muslim serta merupakan pusat kebudayaan dan teknologi di Eropa.

Beberapa ahli sejarah Barat menyimpulkan bahwa masyarakat yang dimaksud oleh Pacioli dalam bukunya adalah masyarakat dan bahkan pemerintah Italia (Zaid, 2001). Pendapat ini oleh Zaid (2001) dipandang bertentangan dengan fakta terkait mengenai tidak operasionalnya angka Romawi untuk digunakan dalam praktik akuntansi yang sedemikian maju. Sementara, masyarakat Muslim pada waktu itu telah mengembangkan penggunaan angka nol, yang kemudian disebut dalam dunia akademik sebagai angka Arab, untuk mengembangkan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu bidang ilmu yang menonjol pada waktu itu adalah ilmu matematika, terutama bidang aljabar (algebra) yang ditemukan dan dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim yang sangat berkaitan dengan teknik double entry bookkeeping. Pengembangan bidang ilmu tersebut sangatlah mungkin terkait dengan kebutuhan masyarakat Muslim yang telah berkembang maju peradabannya pada waktu itu. Dengan demikian, masyarakat yang dimaksud sangatlah mungkin masyarakat Muslim, termasuk masyarakat di berbagai daerah di Eropa yang terimbas oleh kemajuan yang dicapai oleh peradaban Islam saat itu.

Berbagai Pendekatan dalam Mengembangkan Akuntansi Syariah

Buku Pacioli menemukan momentumnya untuk berkembang luas seiring dengan berkembangnya penemuan mesin cetak dan revolusi industri di Eropa (Adnan dan Labatjo, 2006). Selanjutnya, perkembangan akuntansi banyak terjadi di Eropa dan dipengaruhi oleh ideologi kapitalis yang menggunakan akuntansi sebagai instrumen utama bagi pemilik modal dalam memonitor perkembangan modal usahanya. Sebaliknya, seiring dengan terjadinya kemunduran dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi di masyarakat Muslim, masyarakat Muslim cenderung menjadi pemakai atas akuntansi yang dikembangkan oleh masyarakat Eropa yang telah diwarnai oleh ideologi kapitalis dengan ciri pemisahan antara agama dengan kehidupan dunia atau bisnis.

Kondisi ini menjelang akhir abad ke-20 dipandang kurang tepat bagi para pakar akuntansi yang mengkaji akuntansi dalam perspektif Islam. Hal ini terkait dengan pinsip “kafah” dalam ajaran

1 Manuskrip tulisan Al Mazindarani ini, menurut Zaid (2001), masih disimpan di perpustakaan Sultan Sulaiman Al Qanuni di Istanbul Turki di bagian manuskrip nomor 2756 dengan menggunakan bahasa yang populer pada masa Daulah Utsmaniyah.

(31)

Islam yang mewajibkan penganutnya untuk menerapkan prinsip dan ajaran Islam dalam seluruh sendi kehidupannya, termasuk dalam aktivitas bisnis maupun profesi yang dijalani. Secara umum dalam ajaran Islam, setiap orang boleh melakukan apa pun, kecuali yang dinyatakan dilarang.2 Akan tetapi, banyak di antara larangan tersebut merupakan sesuatu yang biasa dipraktikkan dalam bisnis konvensional.3 Selain itu, Islam memiliki beberapa transaksi maupun kejadian ekonomi unik yang tidak biasa diterapkan dalam bisnis konvensional, antara lain transaksi pembayaran zakat, transaksi usaha yang menggunakan skema bagi hasil, skema sewa, dan lain sebagainya.

Atas dasar itu, muncullah kajian dan pemikiran untuk mengembangkan akuntansi dalam perspektif Islam atau biasa disebut dengan Islamic Accounting dalam bahasa Inggris dan Akuntansi Syariah dalam bahasa Indonesia. Hameed (2000) menyatakan bahwa ada tiga pendekatan yang berkembang di kalangan pakar akuntansi dalam perspektif Islam dalam merumuskan bentuk akuntansi syariah, yaitu pendekatan induktif berbasis akuntansi kontemporer, pendekatan deduktif dari sumber ajaran Islam, dan pendekatan hybrid.

Pendekatan Induktif Berbasis Akuntansi Kontemporer

Pendekatan induktif berbasis akuntansi kontemporer biasa disingkat dengan pendekatan induktif. Berdasarkan Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution—

AAOIFI (2003), pendekatan ini menggunakan tujuan akuntansi keuangan Barat yang sesuai dengan organisasi bisnis orang Islam dan mengeluarkan bagian yang bertentangan dengan ketentuan syariah. Argumen yang mendukung pendekatan ini menyatakan bahwa pendekatan ini dapat diterapkan dan relevan dengan institusi yang memerlukannya (Rashid, 1987). Selain itu, pendekatan ini sesuai dengan prinsip ibaha (mubah) yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terkait dengan bidang muamalah (aktivitas duniawi) boleh dilakukan sepanjang tidak ada larangan yang menyatakannya (Abdelgader, 1994). Oleh karena akuntansi merupakan sesuatu yang bersifat muamalah, maka akuntansi yang dikembangkan oleh masyarakat kapitalis merupakan hal yang juga boleh digunakan di masyarakat Islam sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Adapun argumen yang menentang pendekatan ini menyatakan bahwa ini tidak bisa diterapkan pada masyarakat yang kehidupannya wajib berlandaskan pada wahyu (Gambling dan Karim, 1991) dan dipandang merusak karena mengandung asumsi yang tidak Islami (Anwar, 1987).

Pendekatan induktif dipelopori oleh AAOIFI dan diikuti oleh organisasi profesi akuntan di berbagai negara, termasuk Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Tujuan akuntansi syariah berdasarkan pendekatan ini adalah untuk pengambilan keputusan (decision usefulness) dan memelihara kekayaan institusi (stewardship). Tujuan decision usefulness dalam pendekatan ini dinyatakan dalam AAOIFI dalam SFA nomor 1 paragraf 25:

“. . . to assist users of these reports in making decisions.”

Hal yang sama juga dinyatakan oleh IAI dalam KDPP-LKS (Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Lembaga Keuangan Syariah) tahun 2007 paragraf 30:

2 Pembahasan lebih detail tentang transaksi yang dilarang dalam ajaran Islam dapat dilihat pada Bab 3 buku ini.

3 Istilah bisnis konvensional mengacu pada praktik bisnis yang memisahkan antara kepentingan bisnis dengan kepentingan agama.

(32)

“. . . menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu entitas syariah yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.”

Adapun tujuan stewardship yang dinyatakan oleh AAOIFI dalam SFA nomor 1 paragraf 33−34:

“ . . . to contribute to the safeguarding of the assets and to the enhancement of the managerial &

productive capabilities of the institutions.”

Demikian pula oleh IAI dalam KDPP-LKS paragraf 30:

“. . . untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab entitas syariah terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya pada tingkat keuntungan yang layak.”

Mirza dan Baydoun (2000) menyatakan bahwa kedua tujuan ini merupakan sesuatu yang harus menjadi fokus perhatian akuntan dalam institusi Islam.

Pendekatan Deduktif dari Sumber Ajaran Islam

Pendekatan ini diawali dengan menentukan tujuan berdasarkan prinsip ajaran Islam yang terdapat dalam Alquran dan Sunah. Kemudian, tujuan yang sudah ditentukan tersebut digunakan untuk mengembangkan akuntansi kontemporer. Argumen yang mendukung pendekatan ini menyatakan bahwa pendekatan ini akan meminimalisasi pengaruh pemikiran sekuler terhadap tujuan dan akuntansi yang dikembangkan (Karim, 1995). Adapun argumen yang menentang menyatakan bahwa pendekatan ini sulit dikembangkan dalam bentuk praktisnya (Rashid, 1987).

Pendekatan deduktif dipelopori oleh beberapa pemikir akuntansi syariah, antara lain Iwan Triyuwono, Akhyar Adnan, Gaffikin, dan beberapa pemikir lainnya. Adnan dan Gaffikin (1997) serta Triyuwono (2000) berpandangan bahwa tujuan akuntansi syariah adalah pemenuhan kewajiban zakat (pertanggungjawaban melalui zakat).

“Overal accountability will be better operationalized if it is directed towards the fulfillment of the zakat obligation.” (Adnan dan Gaffikin, 1997)

Lebih lanjut, Triyuwono (2000) menyatakan bahwa penggunaan akuntansi berorientasi zakat akan menghasilkan organisasi yang lebih Islami.

“The use of zakat oriented accounting would result in a more Islamic organization.”

(Triyuwono, 2000)

Salah satu implikasi penggunaan zakat sebagai tujuan adalah akuntansi syariah harus menerapkan current cost. Akan tetapi, pendekatan deduktif sejauh ini masih pada tahap kajian dan belum teraplikasikan pada perusahaan.

(33)

Pendekatan Hybrid

Pendekatan ini didasarkan pada prinsip syariah yang sesuai dengan ajaran Islam dan persoalan masyarakat yang akuntansi syariah mungkin dapat bantu menyelesaikannya (Hameed, 2000).

Argumen yang mendukung pendekatan ini menyatakan bahwa suatu metodologi Islam harus memperhatikan relevansinya dengan masalah masyarakat yang telah diidentifikasi dan dianalisis dari sudut pandang Islam (Faruqi, 1982).

Penerapan pendekatan hybrid dipelopori oleh pemikir akuntansi syariah seperti Shahul Hameed dan cukup banyak lulusan International Islamic University di Malaysia tempat beliau mengajar. Tujuan akuntansi syariah dalam pendekatan ini menurut Hameed (2000) adalah mewujudkan pertanggungjawaban Islam.

“It is a dual accountability, Accountability to Allah as the Real Owner of universe (Primary Accountability), and accountability to the investor or owner as written in the contract (secondary accountability).”

Akuntabilitas primer diwujudkan dalam bentuk manusia menaati ketentuan Allah (Alquran dan Sunah), sedang akuntabilitas sekunder diwujudkan dalam bentuk manajer mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan aktivitas sosio-ekonomi yang berkaitan dengan masalah ekonomi, sosial, lingkungan, dan syariah compliance kepada investor.

Pendekatan hybrid secara parsial telah diterapkan di lingkungan beberapa perusahaan konvensional. Hal ini dapat dilihat dari laporan keuangan dan non-keuangan perusahaan maupun disclosure perusahaan yang memperhatikan tidak hanya masalah ekonomi, melainkan juga masalah sosial dan lingkungan. Pendekatan hybrid mengapresiasi perkembangan akuntansi sosial dan lingkungan di Eropa dalam tiga dekade terakhir, dan menganggap itu perlu diaplikasikan dalam akuntansi syariah (Hameed dan Yaya, 2005; Yaya dan Hameed, 2006).

Di Eropa, saat ini sudah terdapat lembaga yang peduli dalam mengembangkan isu lingkungan dan sosial seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan ACCA. GRI bergerak dalam mengkaji dan membuat standar pelaporan perusahaan dengan konsep triple bottom line (ekonomi, sosial, dan lingkungan) (lihat www.globalreporting.org). ACCA, organisasi profesi akuntan di Inggris, banyak mendorong pengungkapan lebih luas hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan hidup.

Aspek selanjutnya yang perlu dilakukan oleh pemikir akuntansi dalam perspektif Islam adalah mengembangkan triple bottom line menjadi four bottom line (ekonomi, sosial, lingkungan, dan kesesuaian syariah) (Yaya dan Hameed, 2006). Saat ini kajian pendekatan hybrid dikembangkan dengan menjadikan pencapaian Maqasid Asy-Syariah sebagai hal utama untuk diperhatikan dalam laporan organisasi. Ini mencakup lima hal yang perlu dijaga dan dikembangkan oleh organisasi yaitu agama, jiwa, akal, harta, dan nasab keturunan.

(34)

Referensi

Al-Faruqi, Ismail Rajhi. 1982. Islamization of Knowledge. Washington: IIIT.

AAOIFI. 2003. “Accounting and Auditing and Governance Standards for Islamic Financial Institutions”.

Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions. Manama: AAOIFI.

Abdelgader, A.E. 1994. “Accounting Postulates and Principles from an Islamic Perspective”. Review of Islamic Economics 3, 2, hlm. 1–18.

Adnan, M.A. dan Gaffikin. 1997. The Shariah, Islamic Banks, and Accounting Concepts and Practices.

Proceedings of the International Conference 1: Accounting Commerce and Finance: The Islamic Perspective. Sydney.

Adnan, Muhammad Akhyar, dan Labatjo, Irma H. 2006. Sejarah Akuntansi dalam Perspektif Islam:

Benarkah Luca Pacioli Bapak Akuntansi Modern? Yogyakarta: Matan.

Anwar, Muhammad. 1987. “Islamic Economic Methodology”. Paper of the Seminar on Islamic Economics.

Washington.

As-Sirjani, R. 2011. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Belkaoui, Ahmed Riahi. 2000. Accounting Theory. London: Thomson Learning.

Gambling, Trevor dan Karim, R.A.A. 1991. Business and Accounting Ethics in Islam. London: Mansell Publishing, Ltd.

Hameed, Shahul. 2000. “The need for Islamic Accounting: Perception of Its Objectives and Characteristics by Malaysia Accountants and Academics”. Ph.D. Thesis. University of Dundee.

Hameed, Shahul dan Yaya, Rizal. 2005. “The Emerging Issues on the Objectives and Characteristics of Islamic Accounting for Islamic Business Organizations”. Malaysian Accounting Review 4, 1, hlm.

75–92.

Mirza, M dan Baydoun, N. 2000. “Accounting Policy in a Riba Free Environment”. Accounting, Commerce, and Finance: The Islamic Perspective Journal 4, 1, hlm. 30–40.

Rashid, S. 1987. “Islamic Economics: a Historic-Inductive Approach”. Paper of the Seminar on Islamic Economics. Washington.

Syahatah, Husein. 2001. Pokok-pokok Pikiran Akuntansi Islam. Diterjemahkan oleh Khusnul Fatarib.

Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.

Triyuwono, Iwan. 1997. “Akuntansi Syariah dan Koperasi: Mencari Bentuk dalam Bingkai Metafora Amanah”. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia 4, 1, hlm. 1–34.

Triyuwono, Iwan. 2000. “Akuntansi Syariah: Implementasi Nilai Keadilan dalam Format Metafora Amanah”. Jurnal Akuntansi & Auditing Indonesia 4, 1, hlm. 1–34.

Triyuwono, Iwan. 2006. Perspektif, Metodologi, dan Teori Akuntansi Syariah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Yaya, Rizal dan Hameed, Shahul. 2006. “The Emerging Issues on the Objectives and Characteristics of Islamic Accounting its impact on Indonesia Islamic Accounting Development”. Proceeding International Joint Seminar on Muslim Countries and Development. Yogjakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Zaid, Omar Abdullah. 2004. Akuntansi Syariah: Kerangka Dasar & Sejarah Keuangan dalam Masyarakat Islam. Diterjemahkan oleh M. Syafii Antonio dan Sofyan S. Harahap. Jakarta: LPFE Trisakti.

(35)

Soal-Soal Latihan

1. Bacalah terjemahan dan tafsir Alquran surah Al-Baqarah ayat 282, dan identifikasilah makna yang terkandung di dalamnya terkait dengan bidang ilmu akuntansi.

2. Jelaskan pengaruh perintah Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 282 terhadap perkembangan praktik akuntansi dalam masyarakat Muslim di zaman Nabi Muhammad saw.

3. Jelaskan praktik akuntansi pada masa Nabi Muhammad saw. dan pada masa kekhalifahan.

4. Jelaskan keterkaitan buku karangan Luca Pacioli yang berjudul Summa de Arithmetica Geometria, Proportioni et Proportionalita dengan peradaban Muslim.

5. Berikanlah tiga argumen yang disampaikan oleh sejarawan akuntansi syariah yang menunjukkan bahwa akuntansi modern telah lebih dahulu dikembangkan oleh masyarakat Muslim.

6. Jelaskan tiga jenis pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan akuntansi syariah.

7. Identifikasilah kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada masing-masing pendekatan yang ada dalam mengembangkan akuntansi syariah.

8. Berikan pendapat tentang pendekatan yang menurut Anda tepat untuk dikembangkan pada saat sekarang.

9. Jelaskan pandangan beberapa pakar yang mengkritisi permasalahan yang terdapat pada akuntansi konvensional sehingga perlu dikembangkan akuntansi alternatif.

10. Jelaskan berbagai tawaran akuntansi sebagai alternatif terhadap praktik akuntansi konvensional yang berkembang saat ini, selain akuntansi dalam perspektif syariah.

11. Jelaskan yang dimaksud akuntabilitas primer dan akuntabilitas sekunder serta implikasinya terhadap akuntansi syariah.

12. Salah satu bentuk pendekatan deduktif adalah menjadikan zakat sebagai dasar pengembangan akuntansi syariah. Jelaskan implikasi dijadikannya zakat sebagai dasar dalam pengembangan akuntansi syariah.

13. Jelaskan permasalahan yang mungkin timbul dalam penggunaan akuntansi konvensional sebagai dasar pengembangan akuntansi syariah.

14. Beberapa sejarawan akuntansi syariah menyatakan bahwa konsep double entry accounting telah diterapkan oleh masyarakat Muslim pada abad pertengahan. Evaluasilah bukti-bukti yang diajukan oleh para sejarawan tersebut dan berikan penilaian Anda apakah setuju atau tidak setuju dengan pendapat tersebut.

15. Ajaran Islam sangat kondusif dengan penggunaan dan pengembangan akuntansi dalam kehidupan manusia. Berikan argumentasi Anda guna mendukung pendapat tersebut.

(36)

LEMBAR JAWABAN

Jawaban Soal Teori

1. ...

...

...

...

2. ...

...

...

...

3. ...

...

...

...

4. ...

...

...

...

5. ...

...

...

...

6. ...

...

...

...

7. ...

...

...

...

8. ...

...

...

...

9. ...

...

...

...

10. ...

...

...

...

(37)

11. ...

...

...

...

12. ...

...

...

...

13. ...

...

...

...

14. ...

...

...

...

15. ...

...

...

...

Tanggal Evaluasi : ...

Paraf Dosen : Nilai :

Komentar Dosen :

...

...

...

...

...

(38)
(39)

Pendahuluan

PERKEMBANGAN LEMBAGA KEUANGAN

SYARIAH

Bab 2 menjelaskan tentang perkembangan lembaga keuangan syariah secara umum dan bank secara khusus. Dijelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad saw., satu-satunya lembaga keuangan yang ada dan ditangani langsung oleh Nabi adalah Baitulmal. Lembaga tersebut di masa kekhalifahan berkembang tidak saja sebagai lembaga penyimpan zakat, pajak, dan harta kekayaan negara, melainkan juga sebagai lembaga yang memiliki fungsi fiskal dan moneter.

Barulah kemudian pada awal tahun 1960-an, di Mesir didirikan bank dengan prinsip bagi hasil yang menarik perhatian banyak negara, termasuk Organisasi Konferensi Islam yang mendirikan bank sejenis yang selanjutnya disebut dengan bank syariah atau Islamic bank.

Perkembangan bank syariah di Indonesia juga diikuti oleh perkembangan lembaga syariah lainnya, seperti lembaga zakat, Baitulmal wat Tamwil (BMT), asuransi syariah, dan sebagainya. Di tingkat internasional, keberadaan bank syariah didukung oleh berbagai lembaga lain dalam hal di antaranya sistem akuntansi dan audit, tata kelola, dan pengembangan pasar uang. Relevansi bab ini adalah sebagai landasan untuk memahami lingkungan sekitar bank syariah yang banyak berinteraksi dengan lembaga lain, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Setelah mempelajari Bab 2, pembaca diharapkan dapat memahami perkembangan lembaga keuangan syariah pada masa Nabi Muhammad saw., kekhalifahan, dan masa sekarang. Pembaca juga bisa mengembangkan penalarannya sekiranya berada dalam posisi sebagai pengelola bank syariah yang perlu secara cermat mengenali dan mengidentifikasi semua mitra kerja yang sudah ada maupun yang potensial untuk pengembangan bank syariah.

2

(40)

Sejarah Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah

Alquran sebagai sumber hukum dalam agama Islam cukup banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan keuangan. Akan tetapi, Alquran tidak secara spesifik berbicara tentang bentuk lembaga keuangan. Pembahasan Alquran lebih berkaitan dengan akhlak/etika yang berkaitan dengan masalah keuangan, antara lain menjaga kepercayaan (amanah), keadilan (‘adalah), kedermawanan (ikhsan), perintah menjauhi yang haram dan menegakkan yang baik (amar ma’ruf nahi mungkar), dan teguran (tawsiah). Lembaga keuangan syariah yang berwujud dalam sebuah institusi adalah ketika Rasulullah Muhammad saw. mendirikan Baitulmal, saat pemerintahan Islam dibentuk di Madinah. Baitulmal di zaman Rasulullah merupakan lembaga penyimpanan kekayaan negara. Pada saat itu, Baitulmal memiliki fungsi menerima pendapatan dan mengeluarkan pembelanjaan negara.

Pada masa Khulafaurrasyidin, Baitulmal berkembang dalam hal jumlah kekayaan yang dikelola dan fungsi yang dijalankan. Lembaga ini kemudian dikembangkan secara administrasi dan dibentuk dewan-dewan untuk ketertiban administrasi. Selanjutnya, mulai Dinasti Abasiyah, fungsi Baitulmal bertambah dengan mengeluarkan kebijakan moneter. Hingga pada saat runtuhnya Dinasti Usmaniyah di Turki, nama Baitulmal tidak muncul lagi sebagai pusat pengaturan fiskal dan moneter negara.

Lembaga Keuangan Syariah Modern

Pada tahun 1963, di desa Mit Ghamr, salah satu daerah di wilayah Mesir, dibentuk sebuah lembaga keuangan pedesaan yang bernama Mit Ghamr Savings Bank atau biasa disebut Mit Ghamr Bank yang dipelopori oleh seorang ekonom bernama Dr. Ahmad El Najjar. Lembaga keuangan tersebut ternyata sangat sukses, baik dalam penghimpunan modal dari masyarakat berupa tabungan, uang titipan dan zakat, sadaqah, dan infak, maupun dalam memberikan modal kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah, terutama di bidang perdagangan dan industri. Dalam operasinya, Mit Ghamr Bank tidak membebankan bunga pada peminjam maupun membayar bunga kepada penabung. Bank ini melakukan investasi secara langsung maupun dalam bentuk kemitraan dengan pihak lain dan selanjutnya membagi keuntungan dengan para penabung.

Keberhasilan Mit Ghamr Bank menginspirasi banyak pihak untuk melakukan hal yang sama, antara lain sebagai berikut.

1. Pemerintah Mesir di bawah pemerintahan Gamal Abdul Naser membentuk Naser Social Investment dengan basis perkotaan pada tahun 1972.

2. Masyarakat cendekiawan dan profesional di Filipina membentuk Bank Amanah pada tahun 1973.

3. Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang beranggotakan pemerintah berbagai negara berpenduduk Muslim mendirikan Islamic Development Bank (IDB) pada tahun 1973 dan mulai beroperasi tahun 1975 dengan kantor pusat di Jeddah.

Setelah IDB beroperasi, berbagai bank syariah tumbuh dan berkembang di berbagai negara termasuk di Indonesia dengan pendirian Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992. Berikut

(41)

adalah tabel sejarah pendirian bank syariah di berbagai negara hingga didirikannya Bank Muamalat Indonesia sebagai bank syariah pertama di Indonesia.

Tabel 2.1 Pendirian Bank Islam di Dunia: Dari Mit Ghamr Bank di Mesir Hingga Bank Muamalat di Indonesia

Tahun Nama Bank Islam

1963 The Mit Ghamr Bank

1973 Islamic Development Bank, Jeddah Philippine Amanah Bank

1975

Dubai Islamic Bank, Dubai Faisal Islamic Bank, Egypt Faisal Islamic Bank, Sudan 1977 Kuwait Finance House, Kuwait 1978 Jordan Islamic Bank, Jordan

Islamic Finance House Universal Holding, Luxemburg 1979 Bahrain Islamic Bank, Bahrain

Iran lslamic Bank

1980 Islamic International Bank, Cairo

1981

Dar-AI-Mal Al-Islami, Switzerland Islamic Finance House, England Jordan Finance House, Jordan Islamic Bank Of Western Sudan, Sudan 1982 Islamic Bank Bangladesh, Bangladesh

Kibris Islamic Investment House, Jordan

1983

Qatar Islamic Bank, Qatar Tadamon Islamic Bank, Sudan Faisal Islamic Bank, Bahrain Bank Islam, Malaysia Faisal Islamic Bank, Senegal Islamic Bank International, Denmark Faisal Islamic Bank, Niger

Sudan Islamic Bank, Sudan Bank Al Baraka Al Sudani, Sudan

1984

AI-Baraka Bank, Bahrain Islamic Finance House, Jordan Bait At Tamwil Al Saudi Al Tunisi

Al Baraka Turkish Finance lnstitution, Turkey 1985 Al Baraka Islamic Bank, Mauritania

1992 Bank Muamalat Indonesia

(42)

Keberadaan IDB banyak membantu perkembangan bank syariah di berbagai negara. Selain mendapat dukungan dari IDB, berbagai lembaga internasional telah didirikan dalam rangka memperkuat keberadaan sistem perbankan syariah. Beberapa lembaga tingkat internasional tersebut adalah AAOIFI, IFSB, dan IIFM. Pada bagian berikut akan dibahas peran dan perkembangan masing-masing lembaga tersebut, termasuk IDB.

Lembaga-Lembaga Pendukung Bank Syariah di Tingkat Internasional

Islamic Development Bank

Islamic Development Bank (IDB) merupakan sebuah lembaga keuangan internasional yang didirikan berdasarkan deklarasi hasil konferensi menteri-menteri keuangan negara-negara Muslim di Jeddah pada bulan Desember 1973. Bank tersebut diresmikan pada bulan Juli 1975 dan mulai beroperasi pada bulan Oktober 1975. IDB didirikan dengan tujuan mendorong kemajuan pembangunan ekonomi dan sosial negara-negara anggota dan komunitas Muslim secara bersama-sama berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam. Hingga tahun 2009, keanggotaan IDB terdiri dari 56 negara. IDB berpusat di Jeddah, Arab Saudi, dan memiliki dua kantor regional yang bertempat di Maroko dan Kuala Lumpur. Selain kantor regional, IDB memiliki kantor representatif di sebelas negara anggota, termasuk di Indonesia.

Dukungan IDB yang paling besar terhadap perkembangan perbankan syariah adalah dalam bentuk memfasilitasi berbagai riset dan pengembangan (R&D) dalam bidang ekonomi, keuangan, dan perbankan Islam. Khusus untuk mendukung riset tersebut, IDB mendirikan lembaga bernama Islamic Research and Training Institute (IRTI). Hasil-hasil riset lembaga ini telah diseminarkan dan dibukukan serta banyak dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan perbankan syariah di berbagai negara. Dukungan lain yang dilakukan oleh IDB terhadap perbankan syariah adalah dalam bentuk penyertaan modal maupun kepemilikan saham pada bank syariah. Bank Muamalat Indonesia (BMI), misalnya, sebanyak 16,02% komposisi sahamnya dimiliki oleh IDB. Keikutsertaan IDB dalam kepemilikan saham di BMI sejak tahun 1999 sangat banyak membantu perkembangan bank tersebut hingga dapat keluar dari krisis keuangan yang sempat memengaruhi kinerja keuangan perusahaan.

Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution

Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI) merupakan lembaga internasional yang bersifat otonom dan non-profit yang menyiapkan berbagai standar akuntansi, audit, tata kelola (governance), etika, dan syariah bagi lembaga-lembaga keuangan Islam. AAOIFI didirikan berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani oleh beberapa lembaga keuangan Islam pada tanggal 26 Februari 1990 di Aljazair dan resmi didirikan pada tanggal 27 Maret 1991 di Bahrain. Pendirian lembaga tersebut dilatarbelakangi oleh tidak memadainya standar akuntansi internasional yang ada selama ini dalam memenuhi kebutuhan lembaga- lembaga keuangan syariah dunia.

Hingga tahun 2009, AAOIFI telah menerbitkan 23 standar akuntansi, 5 standar audit, 6 standar tata kelola, 2 standar kode etik, dan 30 standar syariah. Standar yang disusun oleh

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menganalisa data penelitian digunakan uji statistik Chi Square dengan program SPSS versi 21.00 dengan hasil uji yang menyatakan tidak ada pengaruh

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang meliputi: 1) perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi; 2) faktor

Dalam memastikan sadar (melek) al-Quran dapat diterapkan kepada setiap murid Islam, Kementerian Pendidikan Malaysia melalui Jabatan Pendidikan Islam dan Moral (JAPIM) telah

Dilihat dari segi teknis perlakuan dengan padat penebaran 2 ekor/liter merupakan perlakuan yang paling efisien, karena memiliki laju pertumbuhan pertumbuhan bobot harian,

Sirkulasi sangat berkaitan dengan pergerakan, pergerakan pejalan kaki, pergerakan kendaraan dan aktivitas masyarakat yang merupakan pendukung aktivitas diruang wisata, Hal

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dekokta benalu teh ( Scurulla atropurpurea ) pada dosis terapi, MATC, dan LC50 terhadap kelengkungan tulang

hand rail dapat dilihat pada Tabel 5 s.d. Jadi biaya pengobatan pekerja akibat kecelakaan yang diakibatkan oleh lantai plat dan hand rail lebih besar daripada biaya

Dalam proses komunikasi penyandang tuna rungu di GERKATIN Serang menggunakan bahasa isyarat BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia). Mereka menggangap penggunaan bahasa