• Tidak ada hasil yang ditemukan

Riba Versus Bunga : Samakah ?

ZAKAT DAN PERMASALAHANNYA

C. Riba Versus Bunga : Samakah ?

Persoalan bunga bank merupakan topik yang sering diperdebatkan. Pertanyaannya adalah apakah bunga bank sama dengan riba ? Seperti yang telah disebut di muka, ulama telah sepakat bahwa riba hukumnya haram. Namun apakah riba sama dengan bunga bank, para ulama tampaknya berbeda pendapat. Bagi yang menyatakan sama, tentu akan menyatakan bunga bank itu haram. Bagi kelompok yang menyatakan berbeda tentu akan menyatakan bahwa bunga bank tidak haram. Perbedaan dalam memandang hukum bunga bank bukan isu baru. Sejak lama topik ini menjadi perdebatan dikalangan pakar hukum Islam Indonesia. Namun tetap saja tidak menemukan jalan keluar yang bisa diterima semua pihak.

Salah seorang pemikir ekonomi Islam yang cukup produktif, Umar Chapra telah menyelesaikan perdebatan ini dengan menyatakan, secara teknis riba (bunga) mengacu pada premi yang harus dibayar peminjam kepada pemberi pinjaman bersama pinjaman pokok sebagai syarat untuk memperoleh pinjaman lain atau untuk penangguhan. Sejalan dengan hal ini,

7

Syafi`I Antonio, op.cit, h. 63-64. Lihat Mu`amalat Institut, op.cit, h. 11-12 8

Etika Bisnis Islam

138

riba mempunyai pengertian yang sama yaitu sebagai bunga sesuai dengan konsensus ulama fikih.9

Kendati Chapra telah memberikan kesimpulan bahwa bunga sama dengan riba, namun tetap saja ada yang tidak sependapat. Untuk menyebut salah satu diantaranya adalah Muhammad Abduh. Baginya riba yang diharamkan hanyalah riba yang ad`aafan muda`aafah (berlipat ganda). Abduh membolehkan menyimpan uang di Bank dan mengambil bunganya. Dasarnya menurut Abduh adalah Pertama, maslahat mursalah. Kedua, Tabungan di bank bisa mendorong perkembangan ekonomi. Ketiga, Tabungan di bank disamakan dengan konsep kerjasama dalam Islam (mudarabah dan

musyarakah). 10

Dalam bentuknya yang agak berbeda paling tidak ada tiga alasan mengapa sebagian ulama menyatakan bahwa bunga bank tidak haram.

Pertama, pertimbangan darurat. Kedua, Yang dilarang oleh al-Qur’an adalah bunga yang berlipat ganda (tinggi). Ketiga, Bank sebagai lembaga tidak termasuk dalam katagori mukallaf, jadi bank tidak terkena khitab ayat-ayat Allah maupun hadis nabi.

Muhammad Syafi’i Antonio dalam bukunya Bank Syari’ah :Wacana

Ulama dan Cendikiawan telah membantah argumen-argumen tersebut

Menurutnya menjadikan darurat sebagai alasan pembenaran riba tidak tepat. Dalam Ushul fiqh yang disebut darurat adalah suatu keadaan emergency dimana jika seseorang tidak segera melakukan tindakan cepat, maka akan

9 Ibid.,

10

Khoiruddin Nasution, Riba Dan Poligami : Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh , (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996), h. 59-60

Etika Bisnis Islam

139

membawanya kejurang kehancuran atau kematian. Jika demikian pertanyaannya adalah, apakah jika tidak menabung atau meminjam uang ke bank akan menjadikan perekonomian hancur sehingga manusia akan mengalami kesengsaraan.11

Beberapa waktu yang lalu, Prof.Ali Yafi ketua MUI pernah menyatakan bolehnya mengambil bunga yang rendah karena pada waktu itu tidak ada bank yang tidak menggunakan sistem bunga. Padahal masyarakat perlu rasa aman untuk menitipkan uangnya. Namun sejak berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) tahun 1992 alasan untuk menyebut darurat itu menjadi

hilang. Tegasnya saat ini terlebih lagi setelah berdirinya Bank Syari’ah Mandiri

(1999), BNI Syari`ah, Danamon Syari`ah, BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syari`ah) dan bank-bank Islam lainnya, alasan darurat tidak lagi dapat dibenarkan.

Mengenai alasan bunga yang berlipat ganda saja yang diharamkan, sedangkan tingkat suku bunga bank yang rendah tidak dipandang riba, didasarkan pada argumentasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Memahami ayat 130 surah Ali–Imran yang telah disebut, tidak dapat dipisahkan dari ayat riba lainnya. Ayat terakhir tentang riba telah menegaskan bahwa tambahan terlepas besar atau kecil tetap dilarang. Dengan demikian tidak ada satu ruangpun yang membedakan antara riba (usury) dengan bunga

(interest) karena keduanya sama-sama merepresentasekan tambahan atau

peningkatan dari pokok modal yang ada.12

11

Syafi`i Antonio, op.cit., h. 12

Mustaq Ahmad, Etika Bisnis Dalam Islam, (Jakarta: Al-Kaustar, 2000), h.128 . Lihat lebih luas, Ziaul Haque, Riba: The Moral Economy of Usury, Intrest and Profit (Kuala Lumpur: S.Abdul Majeed & Co, 1995).

Etika Bisnis Islam

140

Kemudian kata “berlipat ganda” pada ayat 130 surah ali imran dalam

ilmu tata bahasa Arab (nahu) disebut hal yang menggambarkan sifat riba bukan sebagai syarat. Maksud bukan syarat adalah, apabila terjadi pelipat- gandaan yang besar baru disebut riba. Jika kecil tidak termasuk riba.

Berkenaan dengan hal ini Yusuf al-Qardhawi juga mengomentari persoalan adh`afan mudha`afah dengan menyatakan, “ Orang yang memiliki kemampuan memahami cita rasa bahasa Arab yang tinggi dan memahami retorikanya, sangat memaklumi bahwa sifat riba yang disebutkan dalam ayat ini dengan kata adh`afan mudha`afah adalah dalam konteks menerangkan kondisi objektif dan sekaligus mengecamnya. Mereka (orang-orang Mekah) telah sampai pada tingkat ini dengan cara melipatgandakan uang yang berlebihan. Pola berlipat ganda ini tidak dianggap sebagai kreteria (syarat) dalam pelarangan riba. Dalam arti yang tidak berlipat ganda menjadi boleh.13

Selanjutnya menurut al-Qardhawi, manakah yang disebut riba kecil dan mana riba yang berlipat ganda. Jika dipahami struktur tata bahasa Arab kata

adh`af itu sendiri jamak, paling sedikitnya tiga. Maka jika tiga dilipatgandakan walau sekali menjadi enam. Bisa jadi riba yang berlipat ganda itu mencapai 600 %. Adakah yang membenarkan hal ini, kata al-Qardhawi ?.14 Tegasnya

kata adh`afan mudha`afah bukan syarat bagi pengharaman riba.

Alasan ketiga yang menyebut bank bukan taklif juga keliru. Dalam tradisi hukum, perseroan atau badan hukum sering disebut sebagai juridical personality atau sakhsiyah hukmiyah dan dipandang sah serta dapat mewakili individu-individu secara keseluruhan. Ditinjau dari sisi mudharat dan manfaat, perusahan dapat menimbulkan kemudharatan yang lebih besar dari

13

Yusuf al-Qardhawi, Bunga Bank Haram, (Jakarta : Akbar Media Eka Sarana, 2001), h.74-75 14

Etika Bisnis Islam

141

perorangan. Bank yang menggunakan sistem bunga dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar dibanding rentenir.

Dengan demikian ketika Allah mengharamkan riba melalui ayat- ayatnya, yang dituju bukan hanya individu-individu saja melainkan institusi yang melaksanakan praktek riba. Sampai di sini, pakar ekonomi Islam kontemporer berkesimpulan bahwa bunga bank terlepas dari tinggi rendahnya suku bunga yang diterapkan tetap haram.

Mendiskusikan riba dari sisi hukum, akan diwarnai dengan perbedaan pendapat. Untuk itu adalah menarik untuk melihat sisi lain mengapa al-

Qur’an melarang praktek riba, atau dengan kata lain apa motivasi al-Qur’an ketika melarang riba ?

Pada intinya riba sangat bertentangan secara langsung dengan semangat kooperatif yang ada dalam ajaran Islam. Orang yang kaya, seharusnya memberikan hak-hak orang miskin dengan membayar zakat dan memberi sedekah sebagai tambahan dari zakat tersebut. Islam tidak mengizinkan kaum muslimin untuk menjadikan kekayaannya sebagai alat untuk menghisap darah orang-orang miskin. Maulana Maududi-seperti yang dikutip Mustaq Ahmad- menjelaskan kejahatan-kejahatan riba sebagai berikut:

1. Riba akan meningkatkan rasa tamak, menimbulkan rasa kikir yang berlebihan dan mementingkan diri sendiri, keras hati dan menjadi pemuja uang.

2. Riba akan menimbulkan kebencian, permusuhan dan bukan sikap simpati dan koorporasi.

3. Riba mendorong terjadinya penimbunan dan akumulasi kekayaan dan akan menghambat adanya investasi langsung dalam perdagangan. Jika ia melakukan investasipun, maka itu akan

Etika Bisnis Islam

142

dilakukan demi kepentingan dirinya sendiri tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat.

4. Riba akan mencegah terjadinya sirkulasi kekayaan karena kekayaan itu hanya berada di dalam tangan pemilik-pemilik modal.15

Dr..Muh Zuhri dalam Disertasinya yang berjudul: Riba dalam Al-Qur’an

Dan Masalah Perbankan (Sebuah Tilikan Antisipatif) menyimpulkan, Riba dalam

al-Qur’an dilarang disebabkan karena:

1. Riba menjadikan pelakunya kesetanan, tidak dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk.

2. Riba merupakan transaksi utang piutang dengan pertambahan yang dijanjikan di depan dan ini merupakan praktek kezaliman.

3. Riba dalam al-Qur’an yang selalu dihadapkan dengan zakat, infaq, sadaqah memberikan isyarat bahwa riba dapat menjauhkan persaudaraan bahkan dapat menimbulkan permusuhan.16

Umer Chapra setelah membahas persoalan Riba sampai pada sebuah kesimpulan:

Alasan pokok mengapa al-Qur’an memberi penjelasan larangan riba yang cukup keras, adalah karena Islam ingin menegakkan sistem ekonomi yang didalamnya semua bentuk eksploitasi dibatasi. Ketidakadilan yang terjadi dalam bentuk, penyandang dana yang dijamin memperoleh keuntungan tanpa melakukan sesuatu atau ikut menanggung risiko, sementara pengusaha, meskipun telah melakukan kerja keras, tidak

15

Ibid., , h.133-134

16

Etika Bisnis Islam

143

mempunyai jaminan serupa. Islam ingin menegakkan keadilan di atara pengusaha dan pemilik modal.17

Jauh sebelumnya, Imam al-Razi seorang Mufassir telah memberikan peringatan yang cukup keras tentang dampak negatif yang ditimbulkan Riba. Setidaknya ada empat keburukan riba.18

1. Merampas Kekayaan Orang lain.

Transaksi yang melibatkan bunga sama halnya dengan merampas harta orang lain. Dalam transaksi satu rupiah di tukar dengan dua rupiah, baik secara kredit ataupun tunai. Salah satu pihak menerima kelebihan tanpa mengeluarkan apa-apa. Jenis transaksi ini tidak adil dan sewenang-wenang dan peminjam menjadi tereksploitasi.

2. Merusak Moralitas.

Hati nurani merupakan cerminan jiwa yang paling murni dan utuh. Ketulusan seseorang akan runtuh bila egoisme pembungaan uang sudah merasuk ke dalam hatinya.Dia menjadi sangat tega untuk merampas apa saja yang dimiliki sipeminjam untuk mengembalikan bayaran bunga yang mungkin sudah berlipat-lipat dari pokok pinjaman. 3. Melahirkan Benih Kebencian dan Permusuhan.

Bila egoisme dan perampasan harta si peminjam sudah dihalalkan, maka tidak mustahil akan timbul benih kebencian dan permusuhan antara si kaya dengan si miskin, si pemilik modak dengan si peminjam. 4. Yang Kaya Semakin Kaya, Yang Miskin Semakin Miskin

Pada saat resesi ekonomi dan tigh money policy atau kebijakan uang ketat, si kaya akan memperoleh suku bunga yang cukup tinggi

17

Umer Chapra, op.cit, h.36`

Etika Bisnis Islam

144

Sementara biaya modal menjadi sangat mahal, si miskin menjadi tidak mampu meminjam dan tidak dapat berusaha, akibatnya dia akan semakin jauh tertinggal .

Dalam tinjauan ekonomi, para pakar menyebut bahwa riba banyak mengandung kerugian. Anwar Iqbal menyatakan bahwasanya riba adalah sumber segala bentuk kejahatan ekonomi, dan dia amat bertanggungjawab dalam melahirkan konsentrasi kekayaan pada satu tangan. Sistem bunga yang menjadikan penambahan dan akumulasi kekayaan tanpa usaha dan keringat akan melahirkan kebencian dan permusuhan.19

Syekh Mahmud Ahmad menyatakan bahwa sistem bunga adalah berbanding terbalik dengan keputusan investasi, dan sepanjang sistem bunga mendominasi sistem perekonomian maka pengangguran akan muncul. Qutub menyatakan bahwa praktek riba akan menimbulkan matinya kesadaran moralitas pelaku bisnis. 20

Dilihat dari uraian terdahulu, jelaslah larangan al-Qur’an terhadap praktek riba karena aktivitas ini hanya menguntungkan sebelah pihak dan merugikan pihak lain, terutama orang yang ekonominya lemah. Dalam perjanjian itu mereka tidak punya pilihan lain kecuali harus menerima perjanjian berat sebelah tersebut. Tegasnya riba (bunga bank) mengandung unsur eksploitasi manusia terhadap manusia lain sesuatu yang sangat bertentangan dengan perinsip ekonomi Islam yaitu ta`awun dan win-win solution.

18

Syafi`i Antonio, op.cit, hlm.114-115. Lihat juga Adiwarman A Karim, loc.cit., 19

Anwar Iqbal Quraisy, Economic and Social System of Islam, (Lahore : Islamic Book Service, 1979). h. 8

20

Etika Bisnis Islam

145 D. Rangkuman

1. Secara bahasa riba berarti tambahan (ziyadah) sedangkan secara istilah riba berarti sebagai pengambilan tambahan dalam transaksi jual beli atau hutang piutang secara batil atau bertentangan dengan prinsip mu`amalat Islam.

2. Pada dasarnya riba terdiri dari dua jenis, riba fadl dan riba nasi’ah. Yang dimaksud dengan riba fadl adalah pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk barang jenis ribawi. Sedangkan riba

nasi’ah adalah melebihkan pembayaran atas utang kepada pemilik

modal ketika waktu yang telah disepakati jatuh tempo.

3. Nilai penting dari haramnya riba dalam Islam karena sistem ini melahirkan kezaliman dalam bentuk eksploitasi manusia atas manusia lainnya.

E. Pertanyaan.

1. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan riba dan apakah riba sama dengan bunga bank ?

2. Uraikan strategi al-Qur’an ketika mengharamkan riba pada masyarakat Mekah.

Etika Bisnis Islam

BAB XIII

PERBANKAN SYARI`AH

Dalam Islam uang dipandang sebagai alat tukar dan bukan sebagai komoditas. Al-Ghazali mengatakan bahwa uang tidak mempunyai harga, tetapi merefleksikan harga semua barang. Dalam istilah ekonomi klasik dikatakan uang tidak memberi kegunaan langsung (direct utility function), hanya apabila uang itu digunakan untuk membeli barang maka barang itu akan mempunyai kegunaan.1

Uang juga dipandang sebagai modal untuk itu tidak boleh dibiarkan

“idle”. Dengan demikian uang harus digunakan sebagai alat investasi yang produktif untuk kemakmuran masyarakat di muka bumi dengan meningkatkan produksi dan kesempatan kerja.2

Diciptakannya uang adalah dalam rangka menghapuskan ketidakadilan yang ditimbulkan oleh sistem tukar menukar yang populer disebut dengan

barter. Barter adalah sistem tukar menukar antara barang dengan barang, atau dengan kata lain, sistem tukar menukar secara in-natura. 3 Dalam kaca mata ekonomi Islam, barter ini dipandang sebagai salah satu bentuk riba fadl. Sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan tentang riba, riba fadl adalah pertukaran antar barang dengan kadar atau takaran yang berbeda. Disini terkandung makna adanya ketidakadilan karena barang yang satu mungkin lebih besar kadarnya dengan barang yang dipertukarkan.

Dalam upaya untuk menciptakan keadilan ekonomi diciptakanlah uang yang merupakan alat tukar sekaligus pada perkembangan berikutnya menjadi ukuran nilai terhadap sesuatu.4

Setidaknya uang dapat digunakan dalam dua bentuk. Pertama, Transaksi

yaitu menggunakan uang (membelanjakan) untuk membeli sesuatu yang

1Adiwarman A Karim, “sistem Ekonomi Syari`ah : Sebuah Solusi Meningkatkan ekonomi Umat, Makalah, pada seminar Ekonomi Islam, 12 November 2000 di Garuda Plaza Medan. Lihat juga, „Uang Ibarat Cermin” dalam, Panji Masyarakat, No.32 Tahun 11. 25 November 1998.

2Mulya E Siregar, “Peran dan perospek Perbankan Syari`ah Dalam Perekonomian Syari`ah”, makalah, Seminar Nasional Sosialisasi dan Aktualisasi Ekonomi Syari`ah, FKEBI dan FE.UISU., tanggal 3 April 2000 di Medan, h.3. Lihat juga, BMI, Kertas Keraja Sosialisai Perbankan Syari`ah, BI.Cab.Medan, tanggal 17 April 2000 , Medan, h.5

3

Suherman Rosyidi, Pengantar Kepada Teori Ekonomi , (Jakarta: Rajawali Pers, 1999), h.67 4

memang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari. Kedua, Saving, yaitu digunakan dengan cara menyimpan atau dibelikan barang untuk investasi.5

Ketika peradaban manusia belum maju, kegiatan saving dilakukan dengan cara yang biasa disebut dengan celengan. Bisa juga penyimpanan uang dilakukan dengan menitipkannya pada orang lain. Ini pernah dialami nabi Muhammad SAW. Disebabkan nabi dipandang sebagai orang yang terpercaya

(al-amin, trustworthy), maka banyak orang yang menitipkan uang dan hartanya kepada nabi, dan beliau menunjuk Ali untuk mengembalikan uang dan harta tersebut kepada pemiliknya apabila masanya telah sampai.

Tampaknya manusia baru menggunakan jasa perbankan sebagai lembaga profesional yang berperan sebagai mediator (intermediary institution) antara pihak yang mengalami deficit spending unit dengan surplus spending unit

untuk pertama kalinya pada tahun 1157, kemudian bank yang secara resmi menggunakan Deposito adalah di Bercelona pada tahun 1401.

Sebenarnya jauh sebelumnya orang Italia sudah mengenal kata Banco

yang artinya bangku atau counter. Kata tersebut dipopulerkan karena segala aktivitas pertukaran uang orang Italia menggunakan bangku dan counter. Namun perkembangan aktivitas ini mengalami hambatan sampai zaman

Renaissance.6

Padanan kata Bank dalam bahasa Arab adalah masrif yang artinya tempat pertukaran (exchange), yaitu pertukaran dan penjualan mata uang dengan mata uang lainnya. Kata masrif sendiri sebenarnya merupakan nama sebuah tempat dilakukannya transaksi pertukaran dan penjualan tersebut. Dalam bahasa Indonesia bank diartikan sebagai lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang.Sedangkan perbankan dijelaskan sebagai segala sesuatu mengenai bank.7

A. Pengertian

5

Paling tidak ada empat pokok fungsi uang. Pertama, uang sebagai alat tukar. Kedua, Satuan hitung, ketiga, Penimbun kekayaan, Keempat, Standar Pencicilan hutang. Lihat, Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta : Rajawali Pers, 2000), h.17-18

6

Mu`amalat Institut, op.cit,., h.14. Lihat juga, Kasmir, op.cit, h.28-29

7

Depertemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 90

Menurut UU Perbankan No.7 tahun 1998 dijelaskan yang dimaksud dengan perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. (Pasal 1 ayat 1). Sedangkan yang disebut dengan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.(ayat 2).8

Berkaitan dengan fungsi bank, paling tidak ada dua fungsi yang cukup mendasar, yaitu fungsi perantara (intermediaton role) dan fungsi transmisi (transimision role). Fungsi perantara adalah penyediaan kemudahan untuk aliran dana dari mereka yang mempunyai dana nganggur atau kelebihan dana selaku penabung (saver) atau pemberi pinjaman (lender) kepada mereka yang memerlukan atau kekurangan dana untuk memenuhi berbagai kekurangan untuk berbagai kepentingan peminjam (borrower). Sedangkan fungsi transmisi berkaitan dengan peranan bank dalam hal lintas pembayaran dan peredaran uang dengan menciptakan instrumen keuangan seperti penciptaan uang kartal, uang giral dan lain-lain.9

Berangkat dari pengertian di atas maka perbankan Syari`ah dapat dipahami dalam makna di atas. Jelasnya Bank Syari`ah adalah bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha penghimpunan dan penyaluran dana yang menggunakan sistem dan operasi berdasarkan syari`ah Islam.10

Adapun yang menjadi prinsip bank Islam adalah, larangan riba, mengutamakan dan mempromosikan perdagangan dan jual beli, keadilan, kebersamaan dan tolong menolong. Sedangkan yang menjadi ciri-ciri bank Islam, 1), Keuntungan dan beban biaya yang disepakati tidak kaku. 2), Beban biaya tersebut hanya dikenakan sampai batas waktu kontrak. 3). Penggunaan persentase untuk perhitungan keuntungan dan biaya administrasi selalu dihindarkan. 4). Bank Islam tidak mengenal keuntungan pasti (fixed return). 5).

8

Lebih luas masalah ini dapat dilihat pada, Achjar Iljas, “Sistem Perbankan Syari`ah dalam UU No. 10/1998 Tentang Perbankan „ dalam, Ekonomi dan Bank Syari`ah Pada Millenium ketiga: Belajar dari Pengalaman Sumatera Utara,Azhari Akmal Tarigan (ed), (Medan: IAIN.Pers dan FKEBI-IAIN.SU, 2002). Khususnya pada bab II

9

Ketut Rindjin, Pengantar Perbankan Dan Lembaga Keuangan Bukan Bank, (Jakarta : Gramedia, 2000) H. 16-17

10

Uang dari jenis yang sama tidak dapat dipertukarkan dengan kelebihan tertentu.11

Adapun tujuan bank Islam adalah:

1. Memenuhi kebutuhan jasa perbankan bagi masyarakat yang tidak dapat menerima konsep bunga. Dengan ditetapkannya sistem perbankan Syari`ah yang berdampingan dengan sistem perbankan konvensional, mobilisasi dana masyarakat dapat dilakukan secara lebih luas terutama dari segmnen yang selama ini belum dapat tersentuh oleh perbankan konvensional yang menerapkan sistem bunga.

2. Membuka peluang pembiayaan bagi pengembangan usaha

berdasarkan prinsip kemitraan. Dalam prinsip ini, konsep yang diterapkan adalah hubungan investor yang harmonis (mutual investor relationship). Sementara dalam bank konvensional, konsep yang diterapkan adalah hubungan debitur dan kreditur (debtor to creditor relationship).

3. Memenuhi kebutuhan akan produk dan jasa perbankan yang memiliki keunggulan komparatif berupa peniadaan pembebanan bunga berkesinambungan (perpetual interest effect), membatasi kegiatan spekulasi yang tidak produktif (unproductive speculation), dan

pembiayaan ditujukan kepada usaha-usaha yang lebih

memperhatikan unsur moral.12