• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II Deskripsi Naskah dan Ringkasan Isi

B. Ringkasan Isi

Pupuh 1: Sinom, 9 bait.

Wiralodra adalah keturunan dari Nyi Rarakelar dan Jaka Kuat Pajajaran. Awalnya, pasangan itu berputra Mangkuyuda Mataram, berputra Wiraseca, berputra Kartawangsa Mataram, berputra Adipati Luwano Bagelen, berputra Gagak Pernala, berputra Raden Gagak Kumitir (h. 01) Bagelen, Gagak Wirawijaya Tanggelen, Gagak Pringga Hadipura, dan Wira Handaka Karangjati.

Kemudian Gagak Kumitir berputra Wirahandaka Kedu, berputra Wirahandaka, berputra Gagak Singalodra. Gagak Singalodra berputra lima orang; Wangsanegara, Wangsayuda, Wiralodra, Tanujaya, dan Tanujiwa.

Gagak Singalodra menjadi penguasa di Bagelen, sedangkan putranya, yaitu Wiralodra, pergi dari Bagelen karena merasa prihatin. Ia pergi meninggalkan rumah, lebih senang melakukan tapabrata. Wiralodra suka bertafakur di atas gunung yang sunyi, ia dapat tidur di atas tanah tanpa alas (h. 02) guna memohon kemurahan dan anugerah Allah S.W.T. Ia berusaha menyatukan kehendak dirinya dengan Allah S.W.T dengan cara syari’at, tarekat, hakekat, dan ma’rifat agar dapat mencapai ihsan. Tiada yang lain yang ditujunya ialah mengheningkan cipta dan rasa kepada Hyang Maha Tunggal agar lahir batinnya disatukan.

Ia bertapabrata dengan cara menjauhi makan dan tidur selama tiga tahun.

Suatu ketika, lenyaplah pandangan atas wujud dirinya karena kenampakan cahaya terang bende (canang)rang. Hal itu terjadi pada malam Jumat.

Wiralodra melihat cahaya itu datang dengan cepat dari atas langit arah timur.

Cahaya sinar yang bende (canang)rang itu merupakan cahaya Andaru yang menerangi bumi tempat di mana ia bertafakur. Hal itu sebagai pertanda akan dikabulkannya permohonan Wiralodra oleh Allah S.W.T.

Pupuh 2: Kinanti, 70 bait

Setelah itu, kemudian terdengarlah suara tanpa rupa: “Eh Wiralodra, (h.

03) jika hidupmu ingin mulia hingga keturunanmu kelak, maka tebanglah hutan. Pergilah kamu ke wilayah barat, di sana ada hutan besar yang bernama hutan Cimanuk. Kelak hutan itu akan menjadi negara untuk anak cucumu sampai dengan keturunan yang ketujuh. Oleh karena itu segeralah kamu pergi ke sana.”

Wiralodra terbangun dari tidurnya, selanjutnya ia pun segera pulang guna menceritakan mimpinya itu kepada orangtuanya, Adipati Singalodra.

Semuanya diceritakan, kemudian Adipati Singalodra mengizinkan Wiralodra untuk pergi ke wilayah barat umtuk membuka hutan. Kemudian Wiralodra berpamitan dengan mencium telapak kaki ayah dan ibunya (h. 04).

Wiralodra meninggalkan Bagelen dengan diiringi oleh Ki Tinggil.

Dari Bagelen, mereka berdua berjalan ke selatan menuju kaki gunung lalu memasuki hutan lebat. Sudah tiga tahun berada di dalam hutan, tetapi belum menemukan petunjuk dari Hyang Maha Widi tentang letak hutan Cimanuk.

Ia meneruskan perjalanan hingga menemui sunagi besar, Citarum. Mereka berdua duduk-duduk dipinggiran sungai dan tiba-tiba datang banjir bandang, keduanya menaik ke tanggul yang lebih tinggi. Wiralodra dan Ki Tingil tidak dapat meneruskan perjalanan (h. 05). Saat beristirahat untuk menyenangkan hati, tiba-tiba ada seorang kakek yang menghampirinya. Si kakek tua itu sebenarnya ialah Ki Buyut Sidum.

Wiralodra bahagia melihat ada kakek tua yang menghampirinya, karena berharap akan memperoleh petunjuknya. Lalu kepada sang kakek, Wiralodra menceritakan perjalanannya selama tiga tahun mencari hutan Cimanuk (h.

06). Sang kakek menjelaskan bahwa Kali Cimanuk yang cari telah terlewati karena Sungai Citarum berada di wilayah Karawang. Berdasarkan petunjuk akhirnya Wiralodra dan Ki Tinggil meneruskan perjalanan ke arah timur (h. 07). Kemudian, mereka berangkat menuju arah utara, kemudian ke arah timur. Dalam perjalanan itu, mereka meninggalkan makan dan minum, dan sampailah di Pasir Kucing yang letaknya di sebelah utara timur hutan siluman.

Di tempat itu, ada mata air yang mengalir. Di situ mereka beristirahat untuk menyegarkan badan. Setelah dirasakan cukup, lalu melanjutkan perjalanan ke arah timur dan bertemu dengan orang yang sedang meladang di tengah hutan (h. 08). Orang itu bernama Wirosetro yang dulunya berasal wilayah timur, kelak ia akan menurunkan Dalem Pegaden.

Wiralodra dan Wirosetro saling berjabatan tangan, kemudian Raden Wirosetro bertanya pada Wiralodra dan Wiralodra dan Wirosetro menjelaskan bahwa dirinya berasal dari Bagelen sedang mencari Kali Cimanuk.

Wirosetro bahagia atas penjelasan Wiralodra dan mereka berdua berpelukan erat. Wirosetro senang dapat bertemu dengan saudara. Wirosetro menjelaskan bahwa dirnya masih misan Raden Wiralodra; karena masih satu trah, Wirosetro itu putra dari Adipati Wirakusuma Banyuurip.

Kemudian Wirosetro mengajak tamunya ke rumah untuk dijamu dengan berbagai macam makanan. Mereka berdua sangat suka cita karena di samping bisa bertemu saudara, juga karena telah bertahun-tahun lamanya belum makan nasi, (h. 09) sebab selama di perjalanan hanyalah makan dedaunan.

Ki Tinggil memohon supaya lebih lama tinggal di rumah Raden Wirosetro dengan maksud untuk menumpang menggemukkan badan kembali. Daging yang telah lama pergi meninggalkanya supaya bisa kembali lagi. Sebab selama ini Ki Tinggil terlihat buncit, besar perutnya seperti orang busung lapar.

Wirosetro dan Wiralodra tertawa lebar mendengar lelucon Ki Tinggil.

Raden Wiralodra pun merasa telah mendapat anugerah yang besar karena telah bertemu dengan saudara tuanya, Wirosetro. Wirosetro juga merasa bersyukur, sebab selama tinggal di tengah hutan itu, sangatlah jarang bisa bertemu dengan orang. Oleh karena itu Raden Wirosetro merasa sangat senang (h. 10).

Raden Wiralodra dan Ki Tinggil bertamu di sana sebulan lamanya, kemudian memohon izin kepada Wirosetro untuk melanjutkan perjalanannya.

Ia akan Kali Cimanuk yang telah diwangsitkan oleh Hyang Sukma kepadanya.

Kemudian mereka saling berjabatan tangan, sebelum berpisah. Wirosetro berharap di lain waktu supaya bisa bertemu lagi dengan Wiralodra di Pegaden.

Kemudian mereka berdua berangkat menuju ke arah timur (h. 11) memasuki hutan belantara dan tiba-tiba menemui sungai besar yang membujur, mereka pun sangat berlega hati.

Raden Wiralodra menduga bahwa itulah Kali Cimanuk, tetapi ia sendiri merasa ragu sebab tiada menemukan pedukuhan atau satu orang pun untuk bertanya tentang Kali yang berada di depannya itu. Kemudian mereka berdua berjalan ke arah utara menelusuri pinggiran sungai yang penuh semak belukar hingga mencapai sebulan lamanya.

Syahdan, Ki Sidum demi melihat perjalanan kedua orang itu, merasa sangat kasihan. Lalu, Ki Sidum menciptakan sebuah hamparan kebun yang luas nan indah ditanami berbagai macam palawija seperti kara, cabe, terong, cipir, ubi, sagu, gandum, jagung, varia gajah berwarna putih, ketimun, emes, kacang, kol, lobak, dan kubis. (h. 12) Kebun itu terlihat begitu luas

dan pemandangannya menyejukan mata, sementara itu Ki Tinggil datang dari sebelah timur perkebunan tersebut. Rumahnya terletak di pinggiran Kali dengan dikelilingi bunga Sri Gading. Kemudian mereka berdua segera mendekati seseorang yang sedang duduk di rumah itu, terlihat si kakek sedang membuat alat penangkap ikan di sungai. Wiralodra bertanya tentang perkebunan yang subur makmur dan sungai besar di depannya (h. 13).

Dengan marah-marah, Ki Sidum menjelaskan bahwa sungai itu disebut Sungai Pamanukan, perkebunan ini adalah miliknya. Ia tinggal bersama Kaki Tani Malih Warni. Raden Wiralodra terdiam dan merasa menyesal atas sikap tuan rumah yang sungguh tidak sopan, ditanya dengan baik-baik malah balik bertanya dengan membentak-bentak. Tetapi mungkin sudah menjadi adat kebiasaannya, maklumlah si kakek itu karena orang dusun yang tidak tahu tata karma. Oleh karena itu haruslah kita memakluminya apalagi si kakek itu termasuk penghuni hutan.

Raden Wiralodra mendekati Ki Sidum dan berkata, “Duh Kyai, tolonglah hamba, hamba berdua berasal dari tempat yang jauh, yaitu negeri Bagelen, dengan tujuan hendak mencari Kali Cimanuk, hamba baru saja melihat sungai ini. Apakah sungai ini yang dinamakan Cimanuk? Hamba bermaksud ikut bersama kyai untuk berkebun di sini. (h. 14) Hamba akan patuh kepada kyai, asalkan hamba diberikan tempat di sini untuk menemani tuan.”

Kakek Malih Warna menjawab bengis, “Aku tidak akan menolongmu, sebab aku sendiri banyak sanak saudara. Sebaiknya kamu berdua segera mampus! Aku tak sudi melihatmu lagi!”

Mendengar jawaban itu Raden Wiralodra amarahnya memuncak.

Mukanya pun berubah menjadi merah padam. Kemudian Raden Wiralodra memaksa si kakek itu agar menyerahkan perkebunan miliknya, karena ia tidak bisa diajak damai lagi. Kemudian kakek tua itu berdiri di kursinya, suaranya pun semakin keras berkata sambil berkacak pinggang (h. 15) dan menghadrik Wiralodra. Mendengar hardikan itu, Wiralodra menubruk kakek tua, lalu keduanya bergumul hebat saling dorong-mendorong. Di perkebunan itu, keduanya saling mengadu kesaktian. Pada saat lengah si kakek tua dapat ditangkapnya. Raden Wiralodra tak segan segera membantingkan. Namun ajaib si kakek itu mendadak menghilang. Demikian juga dengan perkebunan yang subur itu turut musnah, kemudian terdengarlah suara tanpa rupa, “Hei cucuku Wiralodra, jika belum tahu kepadaku, akulah yang bernama Buyut Sidum. Ini bukanlah Sungai Cimanuk. Sudah menjadi kehendak Hyang Widi, kelak tempat ini akan menjadi desa. Aku berinama desa Pamanukan dan sungai itu adalah Sungai Cipunegara. Maka segeralah kamu berdua menyebrangi Kali ini, kelak jika kamu bertemu dengan Kijang Kencana bermata intan, maka kejarlah kijang itu. Kelak tempat menghilangnya kijang itu, di sanalah Sungai

Cimanuk. Kelak jika kamu membabad hutan, ingatlah akan pesanku. Agar kamu sambil bertapa tidak tidur, (h. 16) pastilah kelak keturunanmu mulia.”

Mereka berdua kemudian menyebrangi Sungai Cipunegara, lalu berjalan dengan dipercepat. Sedangkang yang menjadi patokan adalah matahari. Jika pagi hari sudah barang tentu terbit dari arah timur dan sorenya terbenam di arah barat. Begitu memasuki hutan besar mereka berdua dihadang oleh seekor harimau yang sangat besar. Badan Kyai Tinggil jadi gemetaran karena takut akan kebuasan harimau itu. Segera ia meminta pertolongan kepada Raden Wiralodra. Harimau besar itu secepat kilat menyerang dan Wiralodra meliukan badan menghindari terkaman mautnya. Dengan gerakan ringan secepat kilat telapak tangannya memukul sang harimau, tetapi begitu terjatuh binatang itu musnah entah kemana. Tiba-tiba munculah ular yang sangat besar dan menyerangnya. Segera saja Raden Wiralodra melepaskan senjata pusaka Cakra Udaksana Kiai Tambu (h. 17) Namun, tiba-tiba ular besar itu pun musnah. Sekarang di hadapan mereka berdua terbentanglah sungai besar. Melihat kejadian aneh itu Wiralodra dan Kyai Tinggil merasa bingun dan aneh. Segera ia menyiapkan Cakra Udaksana Kiai Tambu, kemudian dilepaskanya ke arah sungai besar itu, berikutnya sungai besar itu pun musnah dari pandangan mereka. Tiba-tiba saja terlihat seorang wanita yang cantik jelita menghampiri mereka.

Pupuh 3: Sinom, 71 bait

Wanita itu bernama Nyai Rarawana. Ia meminta agar Wiralodra menuruti dirnya agar yang menjadi tujuannya bisa dibantu olehnya, baik tujuan kekayaan atau kedigjayaan, asal Wiralodra mau menikahinya (h. 18).

Melihat itu, Ki Tinggil mengingatkan kepada Wiralodra bahwa meraka berdua berada ditengah-tengah hutan dan harus berhati-hati serta waspada. Kemudian Wiralodra mengatakan kepada Rarawana bahwasanya tidaklah pantas seorang wanita berada di tengah hutan seorang diri dan dirinya, Wiralodra, belum ingin menikah. Mendengar itu Nyi Rarawana segera menjawab bahwa janganlah Wiralodra membuang kesempatan yang bagus. Kemudian Nyi Rarawana memaksa bahkan mengancam jika tidak mau menuruti keinginannya pastilah Wiralodra akan mati karena harus bertarung dengan dirinya (h. 19).

Nyi Rarawana merintangi perjalanan, sedangkan Wiraloda berusaha menghindar. Nyi Rarawana menangkapnya, Wiraloda dikibaskannya hingga ia jatuh terlentang. Akhirnya kedua orang itu tak terelakan lagi saling mengadu kedigjayaan. mereka bertarung, saling menyerang dan menangkap perangnya sambil berlari-larian ke arah timur. Rarawana segera menyerang dengan senjata rantainya, sedangkang Wiralodra memasangkan dadanya.

Secepat kilat senjata rantai meluncur tepat menghujam dadanya, namun ia

tak bergeming sedikitpun, tetap tegar berdiri. Nyi Rarawana terheran-heran.

Ia baru melihat ada satria tampan dan sakti mandraguna, kemudian ia pun menyuruh lawanya agar balas menyerang (h. 20). Segera Wiraloda keluarkan pusaka Cakra dan tepat mengenai Nyi Rarawana. Namun ajaib, begitu Cakra tepat mengenai badannya ia pun menghilang dan tiba-tiba munculah Kijang Kencana bermata intan.

Badanya terlihat memancarkan cahaya berkilauan, maka keduanya pun tidak samar lagi. Kijang inilah yang telah diwangsitkan oleh Ki Buyut Sidum, kemudian mereka pun bersiap mengejarnya kemanapun arah larinya Kijang Kencana itu. Mereka mengejar larinya Kijang Kencana, ketika ditangkap selalu saja dapat meloloskan diri. Namun ketika mereka tertinggal jauh, maka kijang itupun menunggunya seolah menuntun gerak langkah mereka. Siang malam selalu mengikuti kemana arah larinya. Suatu ketika, Kijang Kencana telah jauh kearah timur, sampai-sampai mereka tak melihatnya lagi hingga Kijang Kencana yang mereka kejar itupun telah menghilang dan di depan mereka terlihat membujur sebuah sungai yang airnya mengalir deras (h. 21).

Karena kelelahan merekapun akhirnya beristirahat dan tidur di bawah pohon Kiara yang sangat tinggi dan besar. Tiba-tiba terdengarlah suara tanpa rupa,

“Hai Kacung Wiralodra, inilah sungai Cimanuk yang kamu cari, telah menjadi anugerah untukmu. Ini sudah menjadi kehendak Hyang Maha Agung. Kacung Wiralodra, kamu kelak akan memperoleh kemuliaan sampai kepada anak cucumu.”

Mendengar suara itu kemudian mereka berdua terbangun. Mereka sangat bersenang hati karena telah mendapatkan kabar dari suara tanpa rupa yang telah didengarnya dengan jelas melalui mimpi. Kemudian Ki Tinggil mempersilakan Wiralodra untuk memilih lokasi yang akan ditempati, kemudian Wiralodra pun mencari tempat yang dimaksudkan dari pohon Kiara yang besar itu maju ke arah utara di tepi sungai (h. 22). Di sanalah ditemukan tempat yang luas dan pemandangannya bagus. Kemudian ditempat itu Ki Tinggil membuat rumah untuk ditinggali. Wiralodra mulai bertapa untuk mengawali membabad (menebang) hutan sungai Cimanuk. Sementara itu, akibat kedatangan Wiralodra, binatang penghuni hutan Cimanuk seperti harimau, banteng, badak, dan lain-lain melarikan diri, bubar dari tempat mereka berdua, dikarenaken membawa pribawa hawa panas. Demikian juga dengan peri, iblis, dan setan prayangan ikut membubarkan diri.

Adalah Raja Budipaksa, Patih Bujangrawis, para prajurit wadyabala siluman semua berkumpul, serta tak ketinggalan para senapati. Ki Gedeng Muara Cimanuk sangat marah karena wadyabalanya telah bubar melarikan diri, akibat ulah Wiralodra yang sedang menebang hutan dan menimbulkan hama panas bagi bangsa mereka. Akhirnya mereka bersama-sama menyerbu

Wiralodra (h. 23). Para Ki Gedeng Muara itu mengeroyok Wiralodra, mereka itu datang bersama wadyabalanya masing-masing dari berbagai tempat; Ki Gedeng Girimuka, Ki Gedeng Wongkang Bajulrawis, Ki Gedeng Cemara Giribajul, dan Tempalong Badha Wangkara. Dalam sekejap, suasana pertempuran melawan siluman itupun menjadi ramai. Ki Tinggil melihat Wiralodra dikeroyok oleh para siluman, maka segera ia membaca Doa Srabad Sulaiman dan Ayat Kursi.

Dari Negara Siluman, Ratu Tunjung Bang mengutus hulubalang Langlang Jagat yang bernama Kala Cungkring (h. 24) menegur Raden Werdinata Ratu Siluman Pulomas serta memberikan peringatan agar jangan mengganggu Wiralodra lagi, karena Wiralodra masih merupakan keturunan dari Majapahit.

Maka sebaiknya ikut menjaga dan diakui sebagai saudara, sebab Raden Wiralodra. Segera Raden Werdinata mendatangi tempat peperangan anatar Wiralodra dengan para Ki Gedeng Muara. Perang tanding itupun segera dihentikan dan Raja Pulomas itu memohon maaf kepada Wiralodra karena wadyabalanya telah salah paham. Wiralodra tiba-tiba terkejut melihat kedatangan seorang satria yang mengenal namanya, lebih lanjut kemudian Raden Werdinata menjelaskan bahwa dirinya adalah raja dari Pulomas.

Akhirnya Wiralodra pun mengucapkan terima kasih atas kedatangannya itu sehingga pertempuran pun berhenti dan suasana menjadi aman kembali.

Kemudian mereka berduapun akhirnya saling mengakui sebagai saudara hingga sampai kepada anak cucunya. Raden Wiralodra menjelaskan bahwa dirinya membabad hutan Kali Cimanuk itu sebenarnya ingin membuat jasa untuk anak cucunya kelak atas dasar wangsit dari Hyang Maha Luhur.

Setelah itu, Wiralodra babad hutan lagi, Ki Tinggil menjadi juru masak serta menanam berbagai macam palawija seperti ubi, jagung, kara, cipir, gandum, jewawut, dan (h. 25) terigu. Sehingga tidak kekurangan bahan pangan. Ki Tinggil merasa suka cita karena sekarang ia tidak akan kekurangan ataupun kelaparan lagi karena hasil palawija melimpah tidak termakan lagi.

Perkebunan itu menjadi terkenal ke luar wilayah karena memang tanahnya yang subur. Akhirnya banyak orang yang berdatangan untuk ikut membangun rumah tinggal serta bercocok tanam dengan berbagai macam palawija. Dari berbagai negara banyak orang berdatangan sehingga Ki Tinggil diangkat menjadi Lurah Padukuhan Cimanuk. Telah berlangsung selama tiga tahun dalam menata membangun padukuhan itu, akhirnya masyarakatnya tiada yang kekurangan makan.

Pada suatu ketika Wiralodra merasa kangen kepada orang tuanya.

Padukuhan Cimanuk dititipkan kepada Ki Lurah Tinggil untuk sementara waktu. Jika ada pendatang yang ingin ikut bersama di padukuhan agar

diterima dengan baik (h. 26). Setelah bepesan begitu, Wiralodra berangkat menuju Negara Bagelen. Di Bagelen, Wiralodra langsung ke pedalem untuk menghadap kepada rama-ibundanya. Kebetulan kedua orang tuanya sedang duduk-duduk di pedaleman serta disanding oleh ketiga saudaranya. Mereka terkejut melihat secara tiba-tiba Raden Wiralodra muncul, segera dipeluknya disambut dengan tangisan sedih bercampur bahagia.

Kemudian Wiralodra menceritakan perjalanannya bersama-sama Ki Tinggil selama 3 tahun keluar masuk hutan serta tidak menemukan nasi.

Sungguh suatu perjalanan yang penuh kesengsaraan. Rama-ibundanya mendengarkan sambil mencucurkan air mata yang deras karena merasa sangat kasihan kepada keduanya itu. Akhirnya keluarlah doa yang tulus dari kanjeng rama-ibunda, “Duh putraku, semoga kamu mendapatkan anugerah dari Hyang Widi, semoga apa yang putraku cita-citakan mulus mendapat kemuliaan, (h.

27) dan juga kemulian utuk Ki Tinggil yang menunggu padukuhan.”

Kemudian Kanjeng Rama menyuruh Wangsanegara, Wangsayuda, Tanujiwa, dan Tanujaya agar belajar ilmu ketatanegaraan agar kelak mereka dapat mengatur Negara. Ilmu itu nanti dapat diterapkan jika kelak padukuhan yang baru telah menjadi negara yang terus berkembang.

Sementara itu, Ki Tinggil telah banyak menerima para pendatang dari berbagai penjuru yang ingin ikut bergabung di padukuhan. Pada saat itu terhitung sampai sejumlah 500 orang. Ki Tinggil sangat girang sekali karena sekarang setiap hari dikelilingi oleh kawulabala. Suatu hari ia memerintahkan Ki Bayantaka, Ki Jayantaka, Ki Surantaka, Ki Wanasara, (h. 28) Ki Puspahita, dan Ki Pulaha agar memulai untuk membuat jalan-jalan yang besar dan ditata sebagaimana layaknya sebuah negara. Perlu juga dibangunkan pos penjagaan pada setiap ujung gang, sehingga wargapun merasa aman dan tentram. Setiap hari pun penduduk semakin bertambah, para pendatang itu pada membuat rumah secara bergotong royong.

Pada suatu waktu, Nyi Endang Darma bersama Ki Tana dan Nyi Tan bertamu ke rumah Ki Tinggil. Maksud kedatangannya ingin ikut membuat rumah di wilayah Ki Tinggil, (h. 29) sebab ia merasa cocok melihat daerah yang baru itu serta berkeiningan untuk ikut membuka kebun ataupun menggarap peswahan. Ki Tinggil menyambutnya dengan ramah serta mempersilakan kepada tamunya untuk memilih wilayah yang akan ditempati sesuka hatinya.

Setelah berpamitan, Nyi Endang Darma disertai Ki Tana dan Nyi Tani pergi mencari lokasi yang akan dijadikan tempat tinggal serta perkebunannya (h.

30). Yang mengerjakan semua itu adalah murid-muridnya. Nyi Endang Darma sendiri mengajarkan ilmu kejayaan, kekebalan, dan kesaktian. Sehingga banyak murid yang menunggu-menunggu kedatangan musuh ingin mencoba

kemampuannya. Perguruan Nyi Endang Darma terkenal sampai ke negara lain.

Pada suatu hari Pangeran Palembang telah mendengar berita, bahwa ada seorang wanita yang mengajarkan ilmu kadigjayaan dan kesaktian yang sama dengan dirinya. Ia menjadi tersinggung dan sangat marah karena merasa tersaingi. Oleh karena itu merasa dihina ia segera memerintahkan kepada 24 orang murid-muridnya agar bersiap-siap untuk pergi ke Pulau Jawa dengan maksud untuk menangkap seseorang yang dianggapnya telah berbuat lancang itu.

Singkat cerita mereka pergi berlayar dan telah mendarat di muara Kali Cimanuk dan rombongan dari Palembang telah tiba di padepokan Nyi Endang Darma (h. 31). Nyi Endang Darma terkejut melihat banyak tamu yang berdatangan secara tiba-tiba. Melihat Nyi Endang Darma, Pangeran Guru merasa heran, wanita secantik ini tingkah polahnya seperti laki-laki yang ingin menjadi lananging jagat.

Selanjutnya Nyi Endang bertegur sapa, menanyakan nama serta asal-usul tamunya itu dan menanyakan maksud tujuan kedatangannya ke padukuhan Cimanuk (h. 32). Pangeran Guru menjawab: “Akulah yang mengajarkan ilmu kedigjayaan dan kesaktian kepada para pangeran di negeri Palembang. Namaku adalah Pangeran Guru, masih merupakan trah dari Sultan Aria Dillah. Yang mengiring ini adalah murid-muridku, yang sengaja akan memeriksamu karena telah mengajarkan ilmu yang menyamai dengan ilmu yang aku ajarkan. Oleh karena itu, janganlah mengingkari bahwa Nyai telah melancangi aku yang telah tersohor ke manca negara dan para pangeran banyak yang tunduk serta berguru kepadaku. Tetapi tiba-tiba Nyi Endang telah berbuat sembrono karena

Selanjutnya Nyi Endang bertegur sapa, menanyakan nama serta asal-usul tamunya itu dan menanyakan maksud tujuan kedatangannya ke padukuhan Cimanuk (h. 32). Pangeran Guru menjawab: “Akulah yang mengajarkan ilmu kedigjayaan dan kesaktian kepada para pangeran di negeri Palembang. Namaku adalah Pangeran Guru, masih merupakan trah dari Sultan Aria Dillah. Yang mengiring ini adalah murid-muridku, yang sengaja akan memeriksamu karena telah mengajarkan ilmu yang menyamai dengan ilmu yang aku ajarkan. Oleh karena itu, janganlah mengingkari bahwa Nyai telah melancangi aku yang telah tersohor ke manca negara dan para pangeran banyak yang tunduk serta berguru kepadaku. Tetapi tiba-tiba Nyi Endang telah berbuat sembrono karena

Dokumen terkait