• Tidak ada hasil yang ditemukan

Risiko-Risiko yang Dihadapi Perseroan Terkait dengan Kegiatan Usaha Anak Perusahaan

PROSES DAN HASIL SISTEM MANAJEMEN RISIKO PERSEROAN

PENGELOLAAN RISIKO YANG TERINTEGRASI DI PERSEROAN DAN ANAK USAHA A. Risiko di Tingkat Perseroan

B. Risiko-Risiko yang Dihadapi Perseroan Terkait dengan Kegiatan Usaha Anak Perusahaan

Mengingat bahwa kelangsungan usaha Perseroan dipengaruhi oleh eksposur risiko yang timbul baik secara langsung dari kegiatan usahanya maupun secara tidak langsung dari kegiatan usaha anak, maka untuk mengelola eksposur risiko tersebut, Perseroan wajib menerapkan manajemen risiko secara konsolidasi. Penerapan manajemen risiko secara konsolidasi dilakukan Perseroan dengan mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha baik Perseroan dan perusahaan anak. Berikut ini adalah pemaparan identifikasi risiko yang lebih spesifik terkait pada kegiatan usaha Perseroan dan anak usaha di bidang manufaktur dan infrastruktur yaitu: PT Bakrie Autoparts (BA), PT Bakrie Building Industries (BBI), PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN), PT Bakrie Metal Industries (BMI), dan PT Bakrie Pipe Industries (BPI).

KLASIFIKASI

RISIKO DAFTAR RISIKO MITIGASI RISIKO

Risiko

1

Strategis

Risiko kurangnya inovasi atas desain dan pengembangan produk.

Melakukan riset pasar dan peer review secara berkala untuk dapat responsif menangkap peluang yang ada

Risiko tidak dapat menekan pricing/marjin. Melakukan perencanaan atas biaya-biaya pendukung produksi dengan tepat

Risiko tidak memiliki kekuatan bersaing dengan kompetitor.

Melakukan benchmarking secara periodik dengan membuat riset dan perencanaan pasar

Risiko kurangnya perencanaan SDM berdasarkan bakat dan suksesi.

Melakukan perencanaan SDM dengan tepat dan melakukan succession plan terhadap pengambil keputusan dan ahli-ahli di masing-masing industri.

Risiko penurunan reputasi Perseroan dan anak usaha di mata pemangku kepentingan akibat tidak terlaksananya kegiatan Perseroan berdasarkan prinsip-prinsip GCG.

Pengelolaan whistleblowing system; sosialisasi penerapan GRC (governance, risk management, compliance) hingga ke anak usaha, self-assessment GCG, asistensi yang dilakukan Perseroan hingga ke anak usaha; konsep RCSA.

Risiko kalah tender.

Menggandeng perusahaan lain; menambah sumber daya manusia yang ahli di bidangnya; memperbaiki internal control kondisi keuangan; memperbaiki bisnis perusahaan.

Risiko ketidakpuasan pemegang saham Melakukan survey pemegang saham termasuk pelanggan.

Risiko pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas perusahaan.

Mematuhi AMDAL dan lebih responsif terhadap kondisi dan keluhan dari pihak eksternal.

Risiko

2

Pasar

Risiko volatilitas harga komoditas atau bahan baku.

Melakukan pemantauan pergerakan harga komoditas terkait; melakukan perencanaan pembelian bahan baku di waktu yang tepat; melakukan PPIC yang efektif.

Risiko ketidakstabilan suku bunga

dan kurs mata uang asing. Melakukan pemantauan pergerakan kurs mata uang asing, suku bunga dan pasar modal; secara berkala mempertimbangkan dan mengkaji kemungkinan adanya proses lindung nilai (hedging) terhadap faktor-faktor risiko tertentu jika hal tersebut dinilai lebih menguntungkan Perusahaan.

Risiko timbulnya gejolak pasar modal.

Risiko

3

Likuiditas

Risiko terjadi pembengkakan biaya produksi

(cost overrun) yang mengganggu cash flow. Melakukan perencanaan keuangan yang terperinci dan menyeluruh.

Risiko pendapatan tidak tercapai (termasuk pendapatan Perseroan) karena kurangnya modal kerja.

Melakukan sinergi dengan anak usaha lain dan Perseroan dalam rangka pemanfaatan sumber daya

Risiko kekurangan kas untuk aktivitas operasi. Melakukan monitoring dan internal control terhadap arus kas; kajian kebijakan dan prosedur terkait.

Risiko

4

Insolvensi

Force majeure. Asuransi.

Risiko terjadi pembengkakan biaya produksi (cost overrun) yang menimbulkan kerugian besar.

Melakukan perencanaan utang dengan baik dan pengkajian terhadap perjanjian kredit dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya; mewujudkan praktik GCG secara internal dan juga eksternal melalui keterbukaan informasi kepada Pemangku Kepentingan; melakukan terobosan baru ataupun aksi korporasi yang berhubungan langsung dengan aktivitas investasi secara riil; penyelesaian beban utang yang telah jatuh tempo dan mendapatkan sumber pendanaan baru untuk membiayai proyek-proyek investasi di bidang infrastruktur dan lainnya.

Risiko ketidakmampuan pembayaran atas kewajiban yang besar.

Risiko

5

Kredit

Risiko perpanjangan fasilitas kredit Bank (denda).

Melakukan perencanaan utang dengan baik dan pengkajian terhadap perjanjian kredit dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya

Risiko pembayaran kewajiban ke Bank terlambat/gagal.

Risiko terjadi keterlambatan pembayaran pajak. Melakukan perencanaan pembayaran pajak secara berkala.

Risiko

6

Kesenjangan

Risiko keterlambatan penerimaan pembayaran dari pelanggan.

Melakukan sinergi dengan perusahaan pembiayaan/Bank dan/

atau supplier vendor untuk melakukan vendor financing dan kredit modal kerja; melakukan perencanaan keuangan proyek yang efektif; melakukan sinergi aliansi strategis dengan perusahaan lain yang andal untuk melakukan investasi.

Risiko tidak adanya modal kerja untuk pengerjaan proyek.

Risiko tidak cukupnya jumlah pinjaman untuk membiayai proyek.

Risiko tidak tersedianya pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan investasi.

KLASIFIKASI

RISIKO DAFTAR RISIKO MITIGASI RISIKO

Risiko

7

Operasional

Risiko terjadi kerusakan pada konstruksi. Pemeliharaan yang dilakukan secara periodik.

Risiko banyak produk cacat. Memperkuat QC dan penelaahan proses produksi sesuai dengan SOP.

Risiko mogok kerja/unjuk rasa.

Melakukan pengawasan kebijakan dan prosedur terkait dengan SDM; melakukan koordinasi dengan pihak terkait SDM; melakukan pengetatan supervisi; sosialisasi HC & OS (Human Capital & Office Support) dan penyelesaiannya.

Risiko kesalahan desain dan teknologi.

Melakukan kajian yang mendalam dan perencanaan proyek dengan pihak terkait, sehubungan dengan penyusunan desain dan pemanfaatan teknologi.

Risiko kajian hukum yang diberikan kurang tepat, tidak mengatasi permasalahan dan tidak mendukung pengembangan bisnis Perseroan.

Melakukan kajian ulang untuk setiap kajian hukum baik internal maupun eksternal.

Risiko implementasi Teknologi Informasi (IT) tidak berjalan sesuai dengan roadmap yang ada dan tidak terstruktur

Dibentuk tim implementasi IT sesuai dengan master plan.

Risiko kesalahan dalam pembelian material (salah spesifikasi).

RFQ yang diterima sudah dipastikan oleh buyer sudah lengkap dan benar serta spesifik dan detail;

pembuatan PO sesuai dengan PO dari user.

Risiko sub kontraktor yang tidak sesuai dengan spesifikasi.

Melakukan kajian dan implementasi kebijakan dan prosedur pengadaan barang dan jasa.

Risiko jenjang karir yang tidak berjalan dengan baik.

Melakukan perencanaan karir dan succession plan dengan baik mengacu pada Bakrie Leadership Journey Matrix; mutasi dan rotasi sesuai dengan minat dan bakat karyawan; program pelatihan.

Risiko tingginya kecelakaan kerja. Sosialisasi HSE secara berkala dan supervisi yang ketat dari tim HSE.

Risiko terjadinya fraud dan penyalahgunaan wewenang.

Implementasi whistleblowing system; penandatanganan dokumen kebijakan perilaku bisnis, kode etik dan pakta integritas; implementasi internal control.

Risiko kegagalan produksi karena sumber listrik padam.

Melakukan pertukaran daya dengan genset; menjaga kondisi genset supaya selalu siap pakai.

Risiko kosongnya stok suku cadang dan raw material. Implementasi sistem ERP.

Risiko mesin rusak dan over-capacity

akibat aktivitas produksi. Melakukan program pemeliharaan mesin yang terjadwal dengan baik.

Risiko pengoperasian tidak tepat waktu.

Koordinasi dengan pihak terkait, supervisi yang ketat dan tepat waktu terhadap kerangka waktu yang telah dibuat pada saat perencanaan.

Risiko wan prestasi oleh pihak yang terkait. Melakukan pengkajian yang menyeluruh dan mendalam.

EVALUASI YANG DILAKUK AN PERSEROAN ATAS