• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISIKO-RISIKO LIMBAH DAN KEGIATAN PENAMBANGAN (MM3)

Dalam dokumen MENINGKATKAN KUALITAS, MENGGAPAI KEJAYAAN (Halaman 161-164)

Penambangan bijih timah di darat dan di laut berpotensi menimbulkan dampak-dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya, yang berasal dari material limbah yang spesifik dan merupakan bagian integral dari proses penambangan. Terdapat bagian-bagian dari tanah dan dalam bumi yang harus kami kupas dan olah untuk mendapatkan bijih timah yang terkandung di dalamnya.

Sementara itu, sisanya yang tidak bermanfaat lagi untuk proses-proses pengolahan selanjutnya dianggap sebagai limbah.

Dalam kegiatan penambangan darat yang termasuk dalam kategori tambang semprot, yaitu tambang besar (TB) dan tambang skala kecil (TSK), fungsi fisis dan kimiawi dari tanah di lokasi pertambangan mengalami perubahan akibat pengupasan dan penempatan tanah tertutup (overburden) yang kami lakukan. Dari segi fisis, fungsi tanah terpengaruh karena terjadi perubahan struktur dan tekstur tanah, yang terutama diakibatkan oleh turunnya kadar tanah liat. Sementara dari segi kimiawi, dua aspek yang mengalami perubahan di tanah adalah kadar bahan organik (C-organik) dan kapasitas tukar kation (KTK).

Kadar C-organik tanah mengalami penurunan karena terjadinya pengupasan lapisan permukaan tanah dan bahan-bahan organik tanah. Seiring dengan berlangsungnya suksesi vegetasi secara alami, kadar C-organik tanah akan kembali meningkat, meskipun sulit untuk mencapai kondisinya yang semula sebelum penambangan dilakukan.

Berkurangnya jumlah liat dan humus secara drastis dari dalam tanah juga mempengaruhi kemampuan tanah untuk menyimpan nutrien dan air. Oleh karena itu, kapasitas tukar kation, yang mengukur kapasitas retensi nutrien dari tanah, juga menjadi terpengaruh dan nilainya akan turun.

Sementara itu, kegiatan TSK yang dampaknya terhadap bentuk bentang alam—dalam hal ini topografi dan morfologi lahan—cukup substansial adalah pembukaan lahan, pengupasan dan penempatan overburden,

penambangan, serta pembuangan sisa penambangan (tailing) dan oversized grizzly.

Karena kegiatan penambangan yang kami lakukan, bentuk lahan yang semula pada umumnya rata dan landai, menjadi bervariasi bentuk topografi dan morfologinya. Hal ini disebabkan oleh adanya penumpukan overburden dan oversized grizzly, terhamparnya tailing, serta terbentuknya lubang-lubang penambangan atau kolong. Kami berupaya untuk mengatasi sebagian besar dari permasalahan yang ditimbulkan ini dengan melakukan reklamasi lahan pascatambang, setelah tambang kami tidak beroperasi di lokasi itu lagi.

Selain itu, banyaknya jumlah kolong di wilayah-wilayah penambangan, baik yang dikelola oleh kami maupun yang dioperasikan oleh pelaku tambang inkonvensional, menimbulkan masalah kesehatan masyarakat. Kolong-kolong tersebut dengan mudah digenangi oleh air hujan sehingga menjadi kubangan, dan berpotensi dijadikan tempat oleh nyamuk untuk bersarang dan bertelur.

Sebagian dari nyamuk ini merupakan nyamuk Anopheles yang merupakan vektor penyakit malaria. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya angka kesakitan dan kematian akibat malaria di daerah-daerah dekat wilayah pertambangan.

Dari kegiatan penambangan laut yang dilakukan oleh kapal keruk (KK) dan kapal isap produksi (KIP), risiko yang ditimbulkan adalah dampak-dampak kegiatan penambangan terhadap ekosistem laut.

Kegiatan penambangan di laut menghasilkan berbagai partikulat yang sulit terlarut di dalam air laut, dan dengan demikian meningkatkan angka total suspended solid (TSS) dari air laut, yang disebarkan ke berbagai wilayah oleh arus laut. Tingginya angka TSS akan meningkatkan kekeruhan air laut dan mempersulit fitoplankton, yaitu organisme yang melakukan fotosintesis di laut, untuk menyerap cahaya matahari yang semakin sulit masuk akibat

terhalang oleh partikulat di dalam air. Sulitnya fitoplankton melakukan proses fotosintesis akan berdampak pada kurangnya jumlah nutrien di dalam air laut, yang

berpengaruh terhadap stabilitas jaring-jaring makanan di seluruh lautan.

Risiko lainnya adalah kerusakan terumbu karang, yang hanya akan terjadi secara langsung apabila KK dan KIP beroperasi tepat pada daerah di mana terdapat tutupan

terumbu karang. Kerusakan ekosistem terumbu karang akan sangat besar pengaruhnya terhadap daya dukung laut terhadap keanekaragaman hayati di dalamnya, yang mencakup segala jenis ikan karang yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dijadikan sumber bahan pangan berprotein tinggi. Risiko ini kami hindari sepenuhnya dengan memastikan bahwa daerah-daerah di mana kapal-kapal kami beroperasi bebas terumbu karang.

Tumpahan bahan bakar minyak dan juga oli ikut

mencemari lingkungan, dan sebagaimana telah diketahui dari insiden-insiden tumpahan dan kebocoran minyak di berbagai tempat di dunia sepanjang sejarah, dampak dari peristiwa ini tidak boleh diremehkan. Senyawa-senyawa hidrokarbon yang terdapat dalam oli dan bahan bakar minyak sangat sulit diurai secara alamiah, sehingga tersimpan untuk waktu yang sangat lama di laut. Senyawa-senyawa ini beracun bagi makhluk hidup dan cenderung untuk terserap dan terakumulasi oleh ikan dan makhluk laut lainnya di sepanjang rantai makanan.

Meskipun pengoperasian KK dan KIP tentunya menghasilkan limbah B3 termasuk oli bekas, gemuk, dan ceceran bahan bakar, namun kami memitigasi risiko ini dengan sangat tegas dengan cara menjalankan berbagai standar untuk penyimpanan, pengolahan, dan pembuangan limbah B3 di laut.

Setelah itu, dari kegiatan pencucian bijih timah dan pembuangan lumpur dan pasir, dampak lingkungan yang potensial adalah hilangnya kandungan liat dan berbagai basa akibat dilakukan pemisahan fraksi tanah kasar (kerikil dan pasir) dengan tanah halus (debu dan liat). Liat (koloid anorganik) dan bahan organik merupakan komponen penentu sifat kimiawi tanah, khususnya KTK. Oleh karena itu, pencucian secara otomatis menurunkan nilai KTK tanah.

Pada akhirnya, dari kegiatan peleburan bijih timah dan pemurnian menjadi logam timah, dihasilkan material sampingan berupa terak timah tahap kedua (terak II atau slag II), yang tidak digunakan lagi dalam proses produksi.

Terak II ini masih mengandung timah, namun karena konsentrasinya yang sangat kecil (kurang dari 1,7%), maka belum ekonomis untuk diolah lebih lanjut. Pada tahun 2010, dihasilkan sebanyak 18.679 ton terak II, yang kemudian disimpan di Unit Metalurgi Mentok. Proses penyimpanan serta pengangkutan terak II diawasi dengan ketat dan dipastikan sesuai dengan SOP.

PENGELOLAAN LINGKUNGAN

10

INISIATIf dAN PRAKTIK

Dalam dokumen MENINGKATKAN KUALITAS, MENGGAPAI KEJAYAAN (Halaman 161-164)

Dokumen terkait