Investasi pada saham mengandung risiko yang perlu diperhatikan oleh calon investor. Sebelum berinvestasi pada saham, calon investor harus memperhatikan bahwa dalam menjalankan kegiatan usahanya, usaha Perseroan dipengaruhi oleh beberapa faktor, setiap pelaku industri tidak terlepas dari risiko, demikian pula kegiatan usaha yang dijalankan oleh Perseroan juga tidak terlepas dari berbagai tantangan dan risiko. Risiko-risiko yang material yang dihadapi Perseroan yang dapat mempengaruhi usaha Perseroan telah disusun berdasarkan bobot dari dampak masing-masing risiko terhadap kinerja keuangan Perseroan dan penyusunan tingkat risiko tersebut dimulai dari risiko utama Perseroan, yaitu sebagai berikut:
1. Risiko Persaingan Usaha
Kegiatan usaha Perseroan di bidang pembangunan dan pengelolaan Kawasan Industri secara umum menghadapi persaingan baik dari pengembang properti lokal maupun internasional/regional yang berkenaan dengan faktor-faktor seperti lokasi, fasilitas dan sarana prasarana pendukung, infrastruktur, pelayanan dan harga. Dalam pengembangan kawasan industri di wilayah Bekasi, Perseroan harus bersaing dengan beberapa pengembang yang bergerak di industri yang sama yaitu PT Kawasan Industri Jababeka Tbk, PT Lippo Cikarang Tbk dan Kawasan Industri East Jakarta Industrial Park (EJIP) (Sumber: www.hki-industrialestate.com, Februari 2012). Tingginya tingkat persaingan yang ada antara para pengembang kawasan industri dapat menyebabkan kelangkaan persediaan tanah yang dapat diakuisisi oleh para pengelola kawasan industri, sehingga dapat mengakibatkan kemungkinan peningkatan harga perolehan tanah.
Kegagalan Perseroan dalam mengantisipasi dan/atau mencermati persaingan usaha di sekitarnya akan mengakibatkan beralihnya konsumen ke pesaing yang lebih kompetitif baik dari segi lokasi, harga, kelengkapan sarana dan prasarana, maupun kualitas pelayanan sehingga memungkinkan berkurangnya permintaan atas produk Perseroan, yaitu penjualan kawasan industri maupun komersial. Hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, hasil usaha, kinerja keuangan dan prospek usaha Perseroan.
2. Risiko Keterlambatan Penyelesaian Pematangan Lahan
Keterlambatan penyelesaian pematangan lahan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain (i) lambatnya pengembangan lahan yang meliputi pembelian tanah dan (ii) lambatnya pengembangan infrastruktur. Selain itu kondisi cuaca, bencana alam, penundaan pada ketersediaan bahan bangunan, kenaikan biaya pematangan dan kontruksi infrastrukur serta ketergantungan pada kontraktor pihak ketiga juga mempengaruhi penyelesaian pematangan lahan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan Perseroan tidak dapat menjamin bahwa pematangan lahan-lahan, baik yang sedang dikembangkan maupun yang akan dikembangkan, dapat berhasil diselesaikan tanpa mengalami keterlambatan. Apabila hal ini terjadi, maka dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, operasional, likuiditas dan prospek usaha Perseroan.
3. Risiko Berkurangnya Lahan yang Berlokasi Feasible dan Strategis
Kesinambungan penjualan kawasan industri milik Perseroan bergantung kepada kemampuan untuk mendapatkan bidang tanah yang sesuai dan membebaskan tanah pada lokasi yang telah diberikan izin kepada Perseroan, serta kemampuan Perseroan untuk mendapatkan izin-izin baru untuk mendapatkan tambahan tanah. Apabila di masa depan, Perseroan tidak berhasil memperoleh lahan baru yang feasible dan strategis atau tidak berhasil memperoleh izin-izin lokasi baru untuk membeli tanah dalam kawasan yang sudah berizin, maka di kemudian hari dapat terjadi keadaan dimana Perseroan akan kehabisan lahan untuk dijual/dikembangkan. Kegagalan Perseroan dalam memperoleh tanah pada lokasi yang sesuai dengan rencana Perseroan dan strategis dapat mempengaruhi rencana ekspansi bisnis Perseroan di masa depan sehingga dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja keuangan dan prospek usaha Perseroan.
4. Risiko Kenaikan Tingkat Suku Bunga
Tingginya tingkat suku bunga umumnya akan mempengaruhi industri properti baik kawasan industri, perumahan/pemukiman, properti komersial dan ritel. Peningkatan suku bunga dapat mempersulit Perseroan untuk memperoleh pendanaan baru yang digunakan untuk pengembangan usahanya yang meliputi modal kerja dan belanja modal, dan dapat mengakibatkan peningkatan beban bunga yang lebih mahal atas pinjaman baru maupun pinjaman yang sudah ada dari bank maupun lembaga keuangan lainnya. Selain itu, peningkatan suku bunga ini, juga dapat mempersulit konsumen untuk memperoleh kredit dan pendanaan keuangan, sehingga dapat berdampak negatif terhadap permintaan properti yang dijual Perseroan. Setiap peningkatan suku bunga dan setiap penurunan ekonomi atau kepercayaan konsumen dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil usaha, kinerja keuangan dan prospek usaha Perseroan.
5. Risiko Bencana Alam
Bencana alam yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia seperti gempa bumi maupun banjir, tidak menutup kemungkinan untuk dapat terjadi kembali di wilayah Indonesia di masa yang akan datang dan tidak dapat dikendalikan oleh Perseroan. Apabila terjadi bencana alam yang terjadi dalam kawasan industri Perseroan, hal tersebut dapat memberikan dampak/kerusakan yang material, bagi pemilik bangunan maupun Perseroan dan Anak Perusahaan, antara lain kerusakan pada infrastrukur seperti jalan, jembatan, fasilitas pengolahan air bersih dan pengolahan air limbah, dan sarana dan prasarana lainya yang mendukung kegiatan usaha Perseroan. Apabila hal ini terjadi, dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, operasional, kinerja keuangan dan prospek usaha Perseroan.
6. Risiko Dampak Lingkungan
Sebagai suatu perusahaan yang mengelola kawasan komersial yang terintegrasi, Perseroan dihadapkan pada masalah limbah, baik cair maupun padat, yang dihasilkan oleh kawasan tersebut baik atas lahan yang ada saat ini, lahan yang sedang dikembangkan dan juga pada lahan-lahan yang diperoleh di masa datang. Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah mengenai lingkungan hidup yang berlaku mewajibkan Perseroan dan Anak Perusahaan serta penghuni kawasan industri untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang terkait dengan perlindungan lingkungan hidup dimana kelalaian dalam menaati peraturan-peraturan tersebut dapat mengakibatkan dikenakannya sanksi pidana dan sanksi administratif yang mungkin cukup material.
Terdapat juga risiko dimana kondisi lingkungan, kewajiban atau masalah kepatuhan Perseroan terhadap lingkungan hidup akan muncul di kemudian hari akibat adanya perubahan atau penetapan peraturan tambahan yang akan mengharuskan Perseroan untuk mengeluarkan biaya tambahan sehubungan dengan masalah lingkungan hidup. Apabila Perseroan dan Anak perusahaan tidak dapat mentaati peraturan tersebut maka Perseroan dan Anak Perusahaan akan dikenakan sanksi, sehingga Perseroan dan Anak Perusahaan diharuskan untuk mengeluarkan biaya tambahan. Hal ini dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, laba bersih, kinerja keuangan dan prospek usaha Perseroan.
7. Risiko Gugatan Hukum
Perseroan membebaskan tanah dari penduduk setempat atau dari pihak-pihak lain berdasarkan Surat Izin Lokasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah. Dalam proses perolehan hak atas tanah tersebut terdapat kemungkinan adanya sengketa mengenai keabsahan hak kepemilikan atau penguasaan tanah. Jika terjadi sengketa, hal tersebut dapat menunda dan/atau menghentikan proses pembelian tanah oleh kedua pihak serta dapat mengakibatkan tertundanya atau gagalnya perolehan Hak Guna Bangunan atas tanah bersangkutan. Perolehan atas tanah ini tidak menutup kemungkinan timbulnya gugatan hukum. Hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja keuangan dan prospek usaha Perseroan.
8. Risiko Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Mata Uang Asing
Perubahan pada nilai tukar dapat mempengaruhi usaha Perseroan di masa mendatang. Sebagian besar pendapatan Perseroan, dilakukan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat, yang merupakan mata uang fungsional Perseroan, sedangkan sebagian besar beban usaha Perseroan adalah dalam mata uang Rupiah. Sampai dengan Prospektus ini diterbitkan, Perseroan tidak memiliki hutang bank/ jangka panjang dalam mata uang selain Rupiah, termasuk Dolar Amerika Serikat, untuk mendanai peroleh lahan-lahan lebih lanjut, kecuali utang usaha kepada pihak berelasi. Penguatan nilai Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat atau mata uang negara lainya yang relevan dapat memberikan dampak negatif terhadap kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan karena menyebabkan kerugian kurs atas pendapatan dalam Dolar Amerika Serikat, mengingat Perseroan tidak melakukan transaksi lindung nilai. Apabila hal ini terjadi, perubahan nilai tukar ini dapat memberikan dampak negatif terhadap kondisi keuangan, hasil usaha, kinerja keuangan, dan prospek usaha Perseroan.
9. Risiko Perubahan Kebijakan Peraturan Pemerintah
Seperti halnya semua industri, kegiatan usaha Perseroan dipengaruhi oleh perubahan kebijakan Pemerintah Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemerintah dapat menerbitkan dan menerapkan kebijakan baru yang dapat mempengaruhi perolehan lahan dalam rangka pengembangan kawasan industri. Risiko yang dihadapi Perseroan yang berkaitan dengan kebijakan/Peraturan Pemerintah antara lain kemungkinan perubahan kebijakan tata kota dan tata ruang (zoning), tuntutan Pemerintah terkait dengan standar bangunan, Peraturan Pemerintah terkait dengan rasio sarana prasarana dengan luasan kawasan pemukiman dan komersial, perubahan persyaratan pemberian izin- izin, serta penerapan dan pengenaan tarif pajak. Apabila kebijakan/peraturan tersebut diterapkan, maka dapat menyebabkan berkurangnya nilai ekonomis suatu lahan, peningkatan biaya pengelolaan untuk menjamin kesesuaian lahan Perseroan dengan kebijakan/Peraturan Pemerintah dan berkurangnya jumlah lahan yang akan dijual, sehingga dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja keuangan dan prospek usaha Perseroan.
10. Risiko Kondisi Sosial, Politik dan Keamanan
Kondisi sosial, politik dan keamanan di dalam negeri, dapat mempengaruhi stabilitas usaha di segala bidang termasuk bidang properti dimana memburuknya kondisi tersebut juga merupakan faktor di luar kendali Perseroan. Kerusuhan atau gejolak sosial serta adanya ancaman terorisme, dapat mengakibatkan ketidakstabilan politik. Selain itu, mogok tenaga kerja dan unjuk rasa dapat mengganggu iklim investasi di Indonesia. Iklim industri dan investasi yang kurang menguntungkan dapat mengakibatkan berkurangnya konsumen atau penyewa lahan Perseroan. Gangguan-gangguan ini dapat menyebabkan ketidakpastian yang secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan dampak kepada perekonomian Indonesia yang pada akhirnya dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, operasional, kinerja keuangan dan prospek usaha Perseroan.
Manajemen Perseroan menyatakan bahwa semua risiko usaha material yang diketahui saat ini dalam melaksanakan kegiatan usaha telah diungkapkan dalam Prospektus ini.